Psikodimensia: Kajian Ilmiah Psikologi
Not a member yet
190 research outputs found
Sort by
BURNOUT DITINJAU DARI EMPLOYEE ENGAGEMENT PADA KARYAWAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara employee
engagement dengan burnout. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini
adalah terdapat hubungan negatif antara employee engagement dengan
burnout pada karyawan PT BPR Restu Group. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah dengan cara penelitian kuantitatif dan dengan
menggunakan skala burnout dan employee engagement. Penelitian ini
menggunakan teknik analisis korelasi product moment. Hasil nilai rxy= -
0,671 (
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI SIKAP TERHADAP LARANGAN MEROKOK PADA MAHASISWA
Konsumsi tembakau atau rokok memiliki dampak negatif bagi kesehatan
baik bagi yang mengonsumsi secara langsung (perokok aktif) maupun
secara tidak langsung (perokok pasif). Berbagai gerakan yang mendukung
mengenai pengurangan rokok telah dilakukan oleh berbagai lembaga di
dunia, salah satunya Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata.
Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan tujuan memberikan
gambaran mengenai faktor-faktor yang memengaruhi sikap mahasiswa
terhadap larangan merokok. Penelitian ini menggunakan 100 orang sampel
yang tersebar dari tahun angkatan 2012 hingga 2015. Analisis data yang
digunakan adalah metode statistik nonparametrik terhadap delapan variabel
penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang
signifikan memengaruhi sikap mahasiswa terhadap larangan merokok
adalah behavioral belief, jenis kelamin, orang lain yang dianggap penting,
status merokok dan niat untuk berhenti merokok. Sedangkan, kebudayaan
dan media massa tidak memengaruhi secara signifikan
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI SIKAP TERHADAP LARANGAN MEROKOK PADA MAHASISWA
baik bagi yang mengonsumsi secara langsung (perokok aktif) maupun
secara tidak langsung (perokok pasif). Berbagai gerakan yang mendukung
mengenai pengurangan rokok telah dilakukan oleh berbagai lembaga di
dunia, salah satunya Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata.
Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan tujuan memberikan
gambaran mengenai faktor-faktor yang memengaruhi sikap mahasiswa
terhadap larangan merokok. Penelitian ini menggunakan 100 orang sampel
yang tersebar dari tahun angkatan 2012 hingga 2015. Analisis data yang
digunakan adalah metode statistik nonparametrik terhadap delapan variabel
penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang
signifikan memengaruhi sikap mahasiswa terhadap larangan merokok
adalah behavioral belief, jenis kelamin, orang lain yang dianggap penting,
status merokok dan niat untuk berhenti merokok. Sedangkan, kebudayaan
dan media massa tidak memengaruhi secara signifikan
KEPATUHAN PENGOBATAN PADA PASIEN KANKER
Tantangan pengobatan kanker ialah kepatuhan pasien dalam mematuhi semua
saran dokter. Hasil berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan pasien dalam
mengonsumsi obat lanjutan kanker sangat rendah. Penelitian dilakukan untuk
mengetahui bagaimana gambaran kepatuhan pasien kanker dalam mengonsumsi
obatnya. Penelitian ini bermanfaat sebagai tambahan literatur dalam bidang psikologi
kesehatan serta acuan informasi bagi keluarga, ataupun para medis mengenai kepatuhan
pengobatan pasien kanker serta hal-hal yang memengaruhinya. Subjek dalam penelitian
ini ialah pasien kanker yang menjalani pengobatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kepatuhan pasien sangat dipengaruhi oleh faktor dalam diri subjek yaitu keyakinan
akan kesembuhan, menyusul faktor lain adalah berkurangnya gejala, dan faktor sosialekonomi
seperti jarak, biaya, fasilitas pengobatan serta hubungan dengan profesional
kesehatan
Hubungan Dukungan Orangtua dan Harga diri dengan Harapan sebagai Variabel Mediator
Harga diri dirasa memiliki peranan yang penting pada perkembangan remaja, remaja yang memiliki harga diri akan memiliki keyakinan diri sehingga merasa dihargai dalam lingkungan sosialnya. Orangtua memiliki tanggung jawab yang besar dalam memenuhi kebutuhan harga diri anak, tidak hanya dukungan orangtua tetapi harapan juga dianggap mampu membentuk harga diri remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan orangtua dan harga diri dengan harapan sebagai variabel mediator. Subjek penelitian adalah remaja berkisar 12-15 tahun di SMP Kartika IV-8 Kota Malang sebanyak 50 subjek. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan Rosenberg Self Esteem Scale untuk mengukur harga diri, Parents as Social Context Questionnaire (PASCQ) Child Report untuk mengukur dukungan orangtua, dan Hope Scale for Children untuk mengukur harapan pada anak. Metode analisis menggunakan analisis regresi berganda dengan uji sobel untuk menguji hasil mediasi. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh langsung antara dukungan orangtua dan harga diri pada remaja dengan signifikan B=0,693;
Hubungan antara Kepuasan Pernikahan dengan Kecemasan terhadap Menopause pada Individu yang Berada dalam Tahap Usia Menjelang Menopause
Meski menopause merupakan siklus alami, namun ternyata tidak semua perempuan dapat menerima hal ini dengan baik. Terdapat perempuan yang merasa cemas terhadap menopause. Intensitas kecemasan yang sedang, bahkan tinggi dapat menyebabkan depresi dan mengurangi kualitas hidup perempuan. Kecemasan, termasuk kecemasan terhadap menopause, jika tidak diatasi dan tidak dikendalikan dapat menimbulkan gangguan psikosomatis hingga depresi berat yang dapat menurunkan kualitas hidup perempuan. Untuk mengantisipasi terjadi hal tersebut, perlu dilakukan upaya pengembangan intervensi yang dapat memimalisir, mengantisipasi, dan menghilangkan kecemasan. Salah satu caranya adalah dengan mengidentifikasikan faktor-faktor apa saja yang berkorelasi dengan kecemasan terhadap menopause.
Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara kepuasan pernikahan dengan kecemasan terhadap menopause pada individu yang berada dalam tahap usia menjelang menopause. Penelitian ini melibatkan 100 orang perempuan yang masih menikah dan memilikisuami, serta berada dalam tahap usia menjelang menopause (40 – 48 tahun). Pemilihan partisipan dilakukan dengan teknik sampling yakni accidental sampling. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah ENRICH Marital Satisfaction (Fowers & Olson, 1993) dan alat ukur kecemasan terhadap menopause yang dikembangkan sendiri peneliti. Uji korelasi Pearson Product Moments pada variable kepuasan pernikahan dengan kecemasan terhadap menopause menghasilkan hubungan negatif yang signifikan diantara keduanya (r = -0,774; p < 0,05). Hal ini memiliki arti semakin tinggi kepuasan pernikahan, maka semakin rendah tingkat kecemasan terhadap menopause yang dirasakan partisipan. Sebaliknya, semakin rendah kepuasan pernikahan, maka semakin tinggi tingkat kecemasan terhadap menopause. Dengan demikian, kecemasan terhadap menopause dapat dikendalikan melalui pernikahan atau interaksi antara suami dan istri yang memuaskan. Peningkatan kualitas pernikahan menjadi sesuatu yang penting bagi pasutri pada usia paruh baya
PENGARUH CELEBRITY ENDORSER TERHADAP EFEKTIVITAS IKLAN
Salah satu tantangan baru bagi perusahaan saat ini adalah membuat iklan yang efektif.
Salah satu cara yang umum untuk meningkatkan efektivitas iklan adalah dengan menggunakan
artis sebagai duta produk sering disebut celebrity endorser. Hipotesis penelitian yang diajukan
adalah ada pengaruh celebrity endorser terhadap efektivitas iklan. Penelitian ini dilakukan
pada 54 mahasiswa angkatan 2013 Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata
dengan metode eksperimen two independent group design. Pengukuran efektivitas iklan
menggunakan skala yang berdasarkan metode AIDA (Attention, Interest, Desire, dan Action).
Melalui penelitian didapati hasil yang sangat signifikan (t0 = 3.047, p rata-rata kelompok kontrol (35.63). Hasil ini menunjukkan bahwa iklan dengan
celebrity endorser lebih efektif daripada iklan tanpa celebrity endorser. Berdasarkan pada
hasil ini nampak bahwa menggunakan selebriti sebagai endorser akan efektif meningkatkan
pengenala masyarakat terhadap iklan yang ditampilkan
Psychological Contract Sebagai Alternatif dalam Meninjau Pemenuhan Harapan Akademik di Perguruan Tinggi
Abstract
Higher education, as an institution that generates the nation's next future leader, is no longer burdened with merely providing knowledge alone. Human resource competitiveness was being one of higher education responsibility to complete, to achieve a great quality of their graduates. Hope that emerged from the students on the fulfillment of obligations towards their university becomes something that can not be separated from the quality of the graduates. Psychological contract as a concept that can explain it, has not been widely studied in a higher education setting especially in Indonesia. The number of measuring instruments has its version on some theoretical models raises curiosity as to what is actually appropriate. Through the method of literature review, it was carried out a critical discussion of the components in the measurement of psychological contract at higher education institutions. The exposure in understanding the dynamics of inter-dimensional and determine the appropriate model based on the characteristics of each academic institution. At least, measurement of psychological contract used in higher education setting should be both of promissory (transactional) and non-promissory (relational) dimension. Surely, it always needs to adjust to the conditions and situations relevantly in each institution. Therefore, it would be possible to bring various indicators in each of dimension
LAYANAN CYBERCOUNSELING. SEBUAH ALTERNATIF UNTUK MEMBANTU MENYELESAIKAN MASALAH
Pada saat individu memiliki masalah dan tidak bisa menyelesaikannya sendiri maka dibutuhkan bantuan orang lain yang diantaranya melalui konseling. Model konseling tradisional dengan tatap muka hingga saat ini masih efektif dipakai disamping dalam perkembangannya muncul berbagai bentuk layanan konseling yang lain. Cybercounseling sebagai sebuah sarana pemberian bantuan konseling yang dilakukan dengan sambungan internet cukup membantu menyelesaikan masalah. Disiapkan web e-konseling dengan fasilitas layanan konseling melalui e-mail dan chat. Dilengkapi dengan keterangan kapan email akan dibalas dan waktu chat yang memungkinkan. Setelah web e-konseling dievaluasi oleh dua konselor senior dan enam belas orang yang berada pada fase dewasa awal, selanjutnya direvisi. Kemudian diujicobakan pada 25 orang dewasa untuk mendapat layanan psikologis melalui cybercounseling selama 6 bulan. Setelahnya dilakukan evaluasi. Hasil evaluasi menyebutkan bahwa 20 orang merasa puas dengan dengan layanan cybercounseling karena efektif waktu tidak perlu meluangkan waktu bertemu konselor, dapat mengekspresikan perasaan tanpa malu karena tidak berhadapan langsung dengan konselor, tidak merasa diadili. Sementara 5 orang lainnya merasa cybercounseling tidak efektif karena dalam proses konseling sambungan internet putus sambung hingga proses konseling terganggu, saat ingin konseling harus menunggu jadual chat, waktu repon e-mail dari psikolog/konselor dianggap terlalu lama, psikolog/konselor dianggap tidak memahami secara mendalam apa yang dirasakan. Untuk mengatasi ketidakpuasan pada layanan cybercounseling, konseling tradisional tatap muka dilakukan dan pemberian dukungan melalui sms (short message service
STUDI DESKRIPTIF IDENTIFIKASI KEBUTUHAN PSIKOLOGIS ANAK BERBAKAT DI KELAS AKSELERASI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan-kebutuhan psikologi anak berbakat di kelas akselerasi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan Purposive Sampling dengan total subjek sebanyak 20 orang terdiri dari 14 orang perempuan dan 6 orang laki-laki. Penelitian ini dilaksanakan di SMA N 3 Semarang. Untuk mengungkap kebutuhan-kebutuhan psikologis digunakan tes EPPS (Edwards Personal Preference Schedule) sebagai metode utama dan wawancara sebagai metode pendukung. Hasil penelitian menunjukkan lima kebutuhan tertinggi dan lima kebutuhan terendah. Lima kebutuhan tertinggi yaitu kebutuhan akan penonjolan diri (need of exhibition), kebutuhan penyesuian diri (need of intraception), kebutuhan berprestasi (need of achievement), kebutuhan menguasai (need of dominance), kebutuhan akan perubahan (need of change). Selanjutnya lima kebutuhan terendah yaitu kebutuhan keteraturan (need of order), kebutuhan kemandirian (need of autonomy), kebutuhan diperhatikan (need of succorance), kebutuhan heteroseksual (need of heterosexuality), kebutuhan menghormati (need of deference)