Psikodimensia: Kajian Ilmiah Psikologi
Not a member yet
190 research outputs found
Sort by
The Use of Gagne’s Model in Introducing Geometric Shapes to Intellectual Disability Children with Hearing Loss
Intellectual disability children with hearing loss, due to limitations in intellectual and hearing functions, had difficulty understanding geometric shapes. Therefore, an effective learning model was needed to teach these concepts. This study aimed to introduce geometric shapes (circles, squares, and triangles) to intellectual disability children with hearing loss. The hypothesis proposed was that using Gagne’s model would affect the ability to recognize geometric shapes, specifically circles, squares, and triangles, in intellectual disability children with hearing loss. This study was a single-subject research study with an A-B-A design. The measuring instrument used in this study was a checklist method filled in by the researcher. The participant was a 5-year-11-month-old girl diagnosed with mild intellectual disability and hearing loss, who attended an inclusive playgroup. The research procedure lasted for 21 sessions, consisting of three baseline sessions, 15 intervention sessions, and three maintenance sessions. The data analysis technique in this study used descriptive techniques from graphs. The results of this study indicated that Gagne’s model method was effective in introducing geometric shapes. Based on these results, the hypothesis was accepted, indicating that using Gagne’s model influenced the ability of intellectual disability children with hearing loss to recognize geometric shapes. The implication of this study was that Gagne’s model could be applied to intellectual disability children with hearing loss to teach geometric shapes effectively
Pengembangan Instrumen Ukur Persepsi Guru terhadap Sumber Daya di Sekolah Inklusi Kota Yogyakarta
Inklusivitas dalam pendidikan menjadi penting karena berkaitan dengan hak semua individu untuk mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas, khususnya untuk kelompok rentan seperti disabilitas. Guru sebagai stakeholder harus memiliki sumber daya yang cukup, baik sumber daya secara fisik maupun personal untuk menunjang kegiatan pembelajaran di sekolah. Mengingat pentingnya persepsi guru terhadap sumber daya dalam pendidikan inklusif, diperlukan instrumen pengukuran yang valid dan reliabel untuk menilai aspek ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengadaptasi instrumen Teacher Version of Perception of Resource Questionnaire (PRQ-T) ke dalam bahasa Indonesia. Partisipan dalam penelitian ini adalah guru yang mengajar di sekolah inklusi di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan jumlah 18 partisipan untuk uji keterbacaan dan 107 partisipan untuk field testing. Pengambilan data dilakukan secara langsung menggunakan lembar kuesioner. Metode pengembangan skala dilakukan dengan adaptasi meliputi: 1) persiapan, 2) forward translation, 3) sintesis, 4) back-translation, 5) back-translation review, 6) cognitive debriefing, 7) finalisasi, 8) field testing, dan 9) uji psikometrik. Hasil uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk ditemukan bahwa data partisipan tidak normal (p0,001) sehingga perlu dilakukan CFA menggunakan estimator Diagonally Weighted Least Squares (DWLS). Hasilnya menunjukkan PRQ-T versi bahasa Indonesia memiliki model yang fit untuk model 2 faktor (CFI= 1,000; TLI= 1,002; SRMR=0,078; RMSEA= 0,000)
The Journey To Recovery of Individuals Undergoing Rehabilitation: A Phenomenological Study
Live experiences in phenomenological research denote an individual's first-hand engagement and direct experiences. Meaning-making experiences, in which individuals have a deep understanding and make their experiences significant by adding purpose and value to life. This study aimed to discuss the experiences of individuals undergoing rehabilitation and meaning-making through their journey to recovery. This phenomenological study used interviews as a qualitative method to gather data. An in-depth thematic analysis of the data was conducted. The findings revealed that four (4) superordinate themes emerged through thematic analysis: ambivalence in undergoing treatment, gradual changes in oneself, transformational experiences, and personal growth while receiving treatment. Low motivation, misconception, and adjustment to the new environment marked the experience of newly admitted drug dependents during the first phase of rehabilitation. Individuals receiving treatment have gradually experienced increases in motivation; development of healthy coping skills and strategies; and changes in their physical, behavioral, and psychological states. Understanding the participants' life events concerning receiving therapy was the essence of meaning making. Hence, this study concludes that the interventions and activities offered during recovery are meant to help people re-establish a new, healthy, and addiction-free life
Peran Moderasi Resiliensi: Apakah Self-Compassion Memengaruhi Subjective Well-Being Pada Remaja Panti Asuhan?
Remaja yang tinggal di panti asuhan menghadapi tantangan besar karena hidup terpisah dari orangtua, yang kerap memicu perasaan kesepian, penolakan, dan rendah diri. Hal ini dapat berdampak pada rendahnya subjective well-being Untuk mengatasi hal tersebut, remaja perlu memiliki self-compassion dan resiliensi agar mampu bangkit dan berdamai dengan pengalaman hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran moderasi resiliensi dalam hubungan antara self-compassion dengan subjective well-being pada remaja panti asuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Partisipan penelitian adalah 93 remaja yang tinggal di panti asuhan (12-21 tahun). Instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa: Satisfaction with Life Scale (α = 0,742); Scale of Possitive and Negative Experience (α = 0,970); Connor- Davidson Resilience Scale (α = 0,86); dan Skala Self-Compassion (α = 0,788). Analisis data menggunakan metode regresi moderasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa self-compassion berpengaruh positif signifikan terhadap subjective well-being (β = 0,6747, p 0,001), demikian pula resiliensi (β = 0,7878, p 0,001). Namun, interaksi antara self-compassion dan resiliensi tidak signifikan (β = −0,0135, p = 0,244), sehingga resiliensi tidak memoderasi hubungan tersebut. Berdasarkan temuan ini, diharapkan pihak-pihak terkait dapat merancang program intervensi psikologis untuk meningkatkan self-compassion, resiliensi, dan subjective well-being pada remaja panti asuhan guna mendukung kesejahteraan yang optimal
Hubungan Flexiblility Work Arrangement dengan Work Life Balance Pada Mahasiswa Gen Z
Perkembangan dunia kerja modern menghadirkan urgensi tercapainya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, terutama bagi mahasiswa Generasi Z yang menjalankan peran ganda sebagai pekerja paruh waktu. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara work life balance dan flexibility work arrangement pada mahasiwa Generasi Z dengan status pekerja paruh waktu di Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik random sampling, melibatkan 110 mahasiswa. Hasil analisis data menunjukkan koefisien korelasi (rxy) sebesar 0.208 dengan taraf signifikansi p = (0.050), yang menunjukkan adanya hubungan positif yang lemah namun signifikan antara kedua variabel. Flexible work arrangement hanya berkontribusi 4,3% terhadap work life balance, menunjukkan bahwa fleksibilitas kerja bukan faktor utama dalam mencapai keseimbangan kehidupan kerja-pribadi bagi mahasiswa Generasi Z yang bekerja paruh waktu. Temuan ini memberikan implikasi praktis bagi pengembangan kebijakan pengelolaan work life balance pada mahasiswa Generasi Z
Gambaran Mother-Grandmother Co-parenting pada Ibu Bekerja yang Memiliki Anak Early Childhood
Ibu bekerja memiliki waktu yang terbatas dengan anaknya, sehingga ketidakhadiran ibu karena bekerja menyebabkan ibu tidak dapat melakukan pengasuhan secara optimal. Hal ini menyebabkan sebagian ibu bekerja yang memiliki anak early childhood memilih melakukan pengasuhan bersama dengan nenek (mother-grandmother co-parenting) dalam membantu ibu mengatasi tugas pengasuhan dan mendukung perkembangan anak tetap optimal meski ibu bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran mother-grandmother co-parenting pada ibu bekerja yang memiki anak early childhood. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala Mother-grandmother Co-Parenting yang dianalisis menggunakan analisis statistik dekriptif. Partisipan pada penelitian ini adalah ibu bekerja yang memiliki anak early childhood sebanyak 384 orang. Pengambilan partisipan dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 371 (96.6%) ibu bekerja yang memiliki anak early childhood berada pada kategori mother-grandmother co-parenting yang tinggi. Hal ini menunjukkan adanya kualitas mother-grandmother co-parenting yang baik pada ibu bekerja yang memiliki anak early childhood. Kualitas mother–grandmother co-parenting lebih tinggi ditemukan pada nenek dari pihak ibu dibandingkan pihak ayah
Kekerasan dalam Pola Asuh: Studi Korelasional Tentang Parental Corporal Punishment dan Perilaku Agresif Remaja SMA di Jakarta
Kekerasan fisik dalam bentuk hukuman tubuh atau corporal punishment sering digunakan oleh orang tua sebagai metode disiplin untuk anak. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 1.659 kasus pelanggaran perlindungan anak terkait kekerasan fisik dan/atau psikis pada tahun 2023. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara parental corporal punishment terhadap perilaku agresif remaja SMA di Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif dengan desain korelasional, melibatkan 375 partisipan berusia 15-19 tahun dari berbagai wilayah di Jakarta, dan penelitian ini mengaplikasikan uji Normalitas Shapiro-Wilk serta Korelasi Spearman untuk menganalisis hubungan antara parental corporal punishment dan tingkat agresi remaja. Uji korelasi Spearman tersebut menunjukkan hasil bahwa parental corporal punishment berpengaruh terhadap tingkat agresivitas remaja dengan korelasi positif yang sangat signifikan yaitu rho=0.25. Selain itu, penelitian juga menunjukkan korelasi positif antara parental corporal punishment dengan keempat dimensi agresi lainnya. Hal ini menandakan jika semakin tinggi tingkat parental corporal punishment yang diterima, maka semakin tinggi pula tingkat agresi yang ditunjukkan
Trauma Masa Anak dan Kecenderungan Kreativitas Jahat: Mengungkap Peran Resiliensi pada Mahasiswa
Individu yang memiliki kecenderungan kreativitas jahat dapat membahayakan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitarnya. Individu yang cenderung memiliki kreativitas jahat dipengaruhi adanya trauma masa anak yang tidak terselesaikan. Resiliensi dianggap sebagai faktor protektif trauma masa anak dan kreativitas jahat, namun penelitian yang berfokus resiliensi dalam hubungan antara trauma masa anak dan kreativitas jahat pada mahasiswa belum banyak mendapat perhatian di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini mengungkap peran resiliensi terhadap hubungan antara trauma masa anak dan kreativitas jahat. Hipotesis penelitian ini adalah resiliensi memoderasi hubungan antara trauma masa anak dan kecenderungan kreativitas jahat pada mahasiswa. Subjek penelitian terdiri dari 157 mahasiswa usia 18-26 tahun yang menyelesaikan Childhood Trauma Questionnaire-Short Form (CTQ-SF), Malevolent Creativity Behavioral Scale (MCBS), dan Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC). Pengujian hipotesis dilakukan dengan moderasi PROCESS Hayes Model 1. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara trauma masa anak dan kreativitas jahat dengan resiliensi (β=0,264;p0,05); trauma masa anak dengan kreativitas jahat berhubungan positif (β=0,253;p0,01); trauma masa anak dengan resiliensi berhubungan negatif (β=-0,135;p0,01), sedangkan resiliensi dengan kreativitas jahat tidak memiliki hubungan (β=-0,135;p0,05). Hipotesis penelitian ini tidak terbukti bahwa resiliensi tidak memoderasi hubungan antara trauma masa anak dengan kecenderungan kreativitas jahat pada mahasiswa
Memahami Kompleksitas Cinta: Dinamika Relasi Toxic Pada Perempuan Jawa
Fenomena relasi toxic seringkali menjerat perempuan. Alasan perempuan bertahan dan kesulitan untuk mengakhiri hubungan toxic, yakni atas dasar cinta serta adanya nilai-nilai budaya yang diinternalisasi. Untuk itu penelitian ini bertujuan memahami bagaimana pemaknaan cinta pada perempuan Jawa yang mengalami relasi toxic. Penelitian ini bertujuan memahami secara mendalam pemaknaan cinta pada perempuan Jawa yang mengalami relasi toxic. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi. Penelitian ini melibatkan tiga partisipan perempuan Jawa yang mengalami relasi toxic. Teknik pengorganisasian dan analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Descriptive Phenomenological Analysis (DPA) dengan menggunakan analisis tematik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan Jawa mengalami konflik emosional dalam memaknai cinta, menghadapi dilema moral, berjuang melawan ekspektasi sosial, menunjukkan sikap empati dan pengertian, serta menjalani proses pemaafan dalam upaya rekonsiliasi hubungan. Selain itu, sikap kesabaran juga menjadi aspek penting dalam memahami makna cinta perempuan Jawa yang menjerat dalam relasi toxic
Mixed Methods Study of Physical and Affective Self-Concept among Filipino Adolescents with Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS)
Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) is a rare hereditary condition that impact millions of women of reproductive age. Menstrual irregularities, hirsutism, acne, alopecia, obesity, and infertility are all symptoms of PCOS, which is caused by higher-than-normal androgen levels. Furthermore, menstrual irregularity is a prevalent symptom of PCOS and is frequently the first clinical manifestation in adolescents. This study identified the constructs of physical and affective self-concept to increasingly impact adolescents with PCOS as the negative implications of these clinical manifestations affect their perception and belief toward themselves which changes their self-concept or views about their physical self. Also, it impacts their affective self-concept that influences their feeling toward themselves. In this study, the Mindfulness Based Stress Reduction Program (MBSR) was facilitated online to increase the levels of Physical and Affective Self- Concept among sixteen adolescents who were diagnosed with polycystic ovarian syndrome using sequential explanatory mixed method research design. Multidimensional Self-Concept Scale (MSCS) and individual interviews were incorporated in gathering the data. Results clearly proved that the physical and affective self-concept scores significantly differed before and after the facilitation of the MBSR as an intervention. This study confirmed that MBSR enhances the adolescents with PCOS' physical and affective self-concept. Themes that were generated before and after MBSR facilitation were analyzed using the thematic analysis which further established finding to address the dearth of studies about this topic and as a basis for the efficacy of MBSR