KRITIS : Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin
Not a member yet
27 research outputs found
Sort by
Migrasi Dan Keselamatan Insan: Kajian Kes Pemerdagangan Kanak-Kanak Di Thailand
oai:ojs.unhas:article/1Abstract : Non-military threats appear to have dominated the world’s political agenda, mainly consisting of human trafficking, drug trafficking, foreign migrants smuggling and others. Today, the human trafficking issue has turned into the exploitative form such as commercial sex, especially with regards to victimizing children. This phenomenon has extended to almost every corner in the world. This study is carried out in order to comprehend the development and growth of sex industries exploiting children in Thailand, which pose a threat to Thailand’s human security apparatus. Child sex exploitation in Thailand is associated with the presence of organized crime groups, which pose a threat to personal security, community security, and health security within the human security segments, thus threatening human security as a whole. This study has three main objectives, first; to identify the factors that facilitate the sex industry in Thailand, particularly those stemmed within Thailand’s communities and the South East Asian region in general. Second, to identify the role of organized crime groups luring children into sex industries which also pose a threat to Thailand’s human security. Third, to comprehensively analyse the human security threat in the personal, community and health dimensions, initiated by the booming child sex industries in Thailand. The study employs primary data collection methods such as interviews with Thai people, who once lived in the locations where sexual exploitation of children were held, an interview with the government official who’s in charge of the Malaysia-Thailand border surveillance activities, and also the method of observation which is a field work visit to Thailand’s sex destination ‘hot spot’. Secondary data was collected from a range of selected printed document and research publications such as books, journals and PhD theses. The result shows that organized crime groups are taking advantage of the social and economic pressure among Thai people. As a strategy these groups attract their interest and offer them a benefit, facilitating the growth of the commercial sex industry in Thailand. The phenomenon of Child Sex in Thailand is threatening human security in terms of personal, community and health security. Children are victims of exploitation, sexual violence and infectious diseases such as STI, STD, HIV and AIDS.Key words : child sex exploitation, human security, national security, organized crimes group, human trafficking.Abstrak : Ancaman bukan ketenteraan dilihat semakin mendominasi agenda politik dunia antaranya termasuklah isu pemerdaganggan orang, pengedaran dadah, penyeludupan migran asing dan sebaginya. Isu pemerdaganggan orang pada hari ini dilihat daripada sudut eksploitasi seperti seks komersial, terutamanya yang berlaku di kalangan kanak-kanak di mana merupakan suatu fenomena global yang wujud hampir di setiap negara di seluruh dunia. Kajian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimanakah industri seks yang mengeksploitasi kanak-kanak di Thailand berkembang dan mengancam keselamatan insan di negara tersebut. Eksploitasi seks kanak-kanak di Thailand melibatkan kumpulan jenayah terancang dan ini mengancam keselamatan personal, komuniti dan kesihatan justeru ianya mengancam keselamatan insan. Tiga objektif utama kajian ini adalah untuk mengenalpasti faktor-faktor yang menyebabkan industri seks kanak-kanak tumbuh berkembang dalam komuniti masyarakat terutamanya negara Thai dan umumnya dirantau Asia Tenggara. Kedua, untuk mengenalpasti peranan sindiket jenayah terancang dalam mempengaruhi keselamatan insan yang wujud disebabkan oleh industri eksploitasi seks kanak-kanak di negara Thai. Ketiga, untuk menganalisa ancaman keselamatan insan dalam aspek personal, komuniti dan kesihatan yang dibawa oleh industri seks komersial kanak-kanak di negara Thailand. Kajian ini menggunakan kaedah pengumpulan data primer iaitu temubual bersama masyarakat Thai yang pernah tinggal lokasi-lokasi eksploitasi seks komersial kanak-kanak berlangsung, temubual pegawai kerajaan yang menjaga sempadan negara Malaysia- Thailand dan juga kaedah pemerhatian ‘lokasi panas’ di Thailand. Selain itu pengumpulan data sekunder turut dilakukan melalui dokumen dan penyelidikan bercetak terpilih seperti penerbitan bahan buku-buku berkaitan, jurnal dan tesis Ph.D. Dapatan kajian mendapati sindiket jenayah terancang mengambil kesempatan diatas tekanan ekonomi dan sosial yang berlaku dikalangan masyarakat Thai sebagai strategi untuk mereka mendapatkan keuntungan dan menjadi nadi penting kepada pertumbuhan industri seks komersial di Thailand. Eksploitasi seks komersial kanak-kanak di Thailand adalah merupakan suatu fenomena yang mengancam keselamatan insan dari sudut personal, komuniti dan kesihatan, Kanak-kanak merupakan mangsa eksploitasi yang dilihat menjadi mangsa kepada kekejaman seksual serta ancaman penyakit berjangkit seperti STI, STD, HIV dan AIDS. Kata kunci : eksploitasi seks kanak-kanak, keselamatan insan, keselamatan negara, kumpulan jenayah terancang, pemerdagangan orang
Memudarnya Nilai-Nilai Lokal pada Komunitas Nelayan Pulau-Pulau Kecil (Kasus Pulau Barrang Lompo Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan)
Abstrak : Nilai-nilai lokal merupakan sesuatu yang dihargai dan hormati dalam suatu masyarakat atau komunitas. Selama nilai-nilai dalam masyarakat masih hormati oleh komunitasnya maka nilai itu akan tetap bertahan (eksis) dan bahkan dapat bertambah. Namun nilai-nilai dalam masyarakat atau komunitas dapat berubah, bergeser, pudar atau bahkan hilang sama sekali karena adanya tekanan dari luar (penetrasi pasar miswalnya) dan boleh jadi juga karena tekanan dari dalam komunitas itu sendiri. Tulisan ini mencoba menjawab permasalahan sebagai fokus kajian yaitu; bagaimana proses memudarnya nilai-nilai lokal pada komunitas nelayan pulau-pulau kecil. Dia merupakan extraksi dari bagian disertasi yang berjudul Kapital Sosial, Negara dan Pasar pada Komunitas Nelayan Pulau-pulau Kecil (Studi Kasus di Pulau Barrang Lompo Makassar-Provinsi Sulawesi Selatan). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan pengamatan terbatas dari 12 orang informan yang ditentukan secara snowball sampling, kemudian dianalisis secara kualitatif yang diperkuat oleh data kuantitatif untuk menjelaskan fokus kajian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penetrasi pasar berupa derasnya arus barang, jasa dan orang masuk ke pulau dan komersialisasi hasil laut pada komunitas nelayan pulau-pulau kecil dalam kurun waktu 10 Tahun terkahir (pasca penetrasi pasar) telah menyebabkan nilai-nilai lokal yang selama ini di anut dan dipatuhi oleh komunitas menjadi bergeser dan memudar. Pada sisi yang lain stok nilai-nilai pada komunitas nelayan pulau-pulau kecil tersebut juga menjadi bertambah. Kata kunci : Memudar, penetrasi pasar, komersialisasi, komunitas lokal dan Kepercayaan. Abstract : Local values is something that is appreciated and respected in a society or community. During values in society are still respected by the community, the value of it will remain (exist) and may even increase. However, the values in the society or community may change, shift, fade or even disappear altogether because of pressure from the outside (miswalnya market penetration) and perhaps also because of pressure from within the community itself. This paper attempts to answer the question as the focus of the study, namely; how the process of waning local values in the fishing community of small islands. He is the extraction of part of the dissertation entitled Social Capital, State and Market at Fishermen Community of Small Islands (Case Study Island Lompo Barrang Makassar South Sulawesi). Data were collected through interviews and limited observations of 12 informants were determined by snowball sampling, and then analyzed qualitatively reinforced by quantitative data to explain the focus of the study. The results showed that the market penetration in the form of swift flow of goods, services and people into the island and commercialization of marine products in the fishing community of small islands within the last 10 years (after the penetration of the market) has led to local values that have embraced and followed by the community be shifted and faded. On the other hand the stock values in the fishing community of small islands also be increased.Key words : Diminished, market penetration, commercialization, local communities and Trust
Karakteristik Gaya Kepemimpinan Biro Administrasi Universitas Hasanuddin Makassar
Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik gaya kepemimpinan Biro administrasi Universitas Hasanuddin. Manfaat dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran serta referensi bagi peneliti lainnya yang akan mengkaji pada bidang yang sama. Di samping itu pengaplikasian ilmu pengetahuan di bidang ilmu Administrasi, khususnya peningkatan Manajemen Sumber Daya Manusia serta dapat memperluas pemahaman tentang pentingnya gaya kepemimpinan terhadap peningkatan kinerja pegawai. Metode penelitian menghitung populasi dengan menggunakan rumus Sloving dalam Sugiyono 2007, pengambilan data dengan kuesioner, interview dan data sekunder. Pengolahan data dengan menggunakan Skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 3 gaya kepemimpinan pada Biro Administrasi Universitas Hasanuddin yaitu Direktif, Suportif, partisipatif dan Orientasi prestasi masih dikategorikan baik. Kata kunci : Gaya Kepemimpinan, Biro Administrasi, Universitas Hasanuddin Abstract : This study aims to determine the characteristics of leadership style Hasanuddin University Administration Bureau of the results of this study are expected to be the study materials and reference for other researchers who will study in the same plane. Besides that, the application of science in the field of administration, in particular the increase in Human Resource Management and can broaden the understanding of the importance of leadership style on performance improvement research employee. Calculate method the population using the formula Sugiyono sloving in 2007, to collect data by questionnaires, interviews and secondary data. Data using Likert Scale. The results showed that the three styles of leadership at Hasanuddin University Academic Bureau that directive, Support, participative and achievement orientation is still considered good. Key words : Leadership Style, Administration Bureau, Hasanuddin Universit
Pendekatan Konstruktif Asean – Myanmar : Sorotan Kajian Lepas
Abstract : Myanmar (Burma) as a member of the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) became the centre of regional attention when the United States (US) and the European Union (EU) imposed economic sanctions on the country. Myanmar’s membership is said to be hampering image and credibility of ASEAN. In addition, the Rohingya’s human rights issue has also affected Myanmar’s relations with regional Islamic states. However, ASEAN accepts Myanmar’s membership hoping its political system will be more social oriented and more democratic. In this light, this article poses a question. Has ASEAN’s constructive approach successfully democratized Myanmar? ASEAN utilizes the constructive approach towards Myanmar rather than isolating it in order to pave way for Myanmar’s democratization. This study employs library research and secondary data from other sources. The literature review shows that even though Myanmar’s political system is yet to be fully democratized, ASEAN’s constructive approach has indeed brought Myanmar closer to be more democratic compared to its more socialist system earlier on. The election and the release of Aung San Suu Kyi, the chairperson of the National League for Democracy (NLD) and main opposition leader in Myanmar in 2010, are the indicators of this progress. It is with the hope that this literature review will contribute to the accumulation of knowledge in the field of democracy research, democratization, and the role of ASEAN in the discipline of International Relations. Key words : ASEAN, democracy, Myanmar, constructive approach, SPDCAbstrak : Keahlian Myanmar (Burma) dalam Persatuan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) pada tahun 1997 menjadi isu dalam hubungan serantau kerana Amerika Syarikat dan Kesatuan Eropah telah mengenakan sekatan ekonomi terhadapnya. Hal ini kerana, keahliannya menjejaskan kredibiliti dan imej ASEAN. Malah isu diskriminasi hak asasi kaum Rohingya di Myanmar turut memberi kesan terhadap hubungan antara Myanmar dengan negara Islam serantau. Namun, ASEAN menerima keahlian Myanmar dengan tujuan ianya akan dapat mensosialisasikan sistem politik negara tersebut ke arah yang lebih demokratik. Persoalannya, sejauh manakah pendekatan konstruktif ASEAN berjaya dalam usahanya menjadikan Myanmar sebuah negara demokrasi. ASEAN menggunapakai pendekatan konstruktif berhubung dengan kes Myanmar daripada meminggirkannya, kerana dengan ini memberi ruang pada Myanmar untuk lebih dekat dengan ’demokrasi’. Penyelidikan ini menggunakan kaedah kajian kepustakaan dan bersumberkan data sekunder. Sorotan kajian menunjukkan walaupun Myanmar masih belum menjadi negara yang mengamalkan sistem politik demokrasi, namun pendekatan konstruktif yang diambil oleh ASEAN berjaya membawa negara tersebut ke arah yang lebih ’demokratik’ berbanding sebelumnya yang bersifat sosialis. Pilihan Raya Kecil dan pembebasan Aung San Suu Kyi, Pengerusi Parti Liga Demokratik Kebangsaan (NLD) iaitu parti demokratik paling dominan di Myanmar pada tahun 2010, menunjukkan perubahan tersebut. Adalah diharapkan sorotan kajian ini dapat menyumbang ke arah pengumpulan khazanah ilmu terutamanya dalam bidang kajian demokrasi dan pendemokrasian serta kajian ASEAN dalam disiplin Hubungan Antarabangsa. Kata kunci : ASEAN, demokrasi, Myanmar, pendekatan konstruktif, SPD
Historical and Cultural Factors in Indonesian Civil-Military Relations
Abstrak : Perdebatan teoretis dalam bidang hubungan sipil-militer telah didominasi oleh teori pemisahan yang mengakui perbedaan antara lembaga sipil dan militer, dan interaksi antara mereka harus dipertahankan sebagai dalam bentuk yang sipil memegang kontrol atas militer. Namun, Rebecca Schiff mengusulkan teori konkordansi sebagai alternatif yang menunjukkan suatu bentuk integrasi antara militer dan masyarakat. Teori konkordansi digunakan sebagai model analisis untuk mengatasi faktor-faktor sejarah dan budaya dalam hubungan sipil-militer Indonesia. Penelitian ini menggunakan empat aspek konkordansi sebagai instrumen untuk mengukur apa tingkat kesepakatan dapat dicapai antara militer, elit politik, dan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun faktor sejarah dan budaya telah memainkan peran penting dalam membentuk hubungan sipil-militer di Indonesia, mereka gagal untuk membangun hubungan sipil-militer baik yang didasarkan pada gagasan supremasi sipil. Kata kunci: teori konkordansi, hubungan sipil-militer, faktor sejarah dan budaya, supremasi sipil.Kata kunci : Teori konkordansi, hubungan sipil-militer, faktor sejarah dan budaya, supremasi sipil.Abstract : The theoretical debate in area of civil-military relations has been dominated by separation theories which recognize the distinction between civilian and military institutions, and the interaction between them should be maintained as in a form that civilian holds control over the military. However, Rebecca Schiff proposes the concordance theory as an alternative that suggests a form of integration between the military and society. This theory of concordance is used as a model of analysis for addressing historical and cultural factors in Indonesian civil-military relations. The study uses the four aspects of concordance as instruments to measure on what level of agreement can be achieved among the military, political elites, and society. The result shows that although historical and cultural factors have played important roles in shaping civil-military relations in Indonesia, they fail to build good civil-military relations which is based on the idea of civilian supremacy.Key words : The concordance theory, civil-military relations, historical and cultural factors, civilian supremacy
Konstruksi Sosial Masyarakat Terhadap Waria
Abstrak : Waria adalah kaum marjinal yang mendapat tekanan secara struktur dan kultur. Waria sering dikucilkan bahkan mendapat perlakuan diskriminatif. Melakukan kajian tentang sikap masyarakat terhadap waria menjadi sangat penting melihat fenomena ini. Kajian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai sikap masyarakat terhadap waria dilihat dari aspek pengetahuan, perasaan, dan sikap terhadap waria menurut kecenderungan perilaku dan harapan-harapan masyarakat. Penulisan ini menggunakan metode deskriptif dengan studi wacana yang bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan berbagai sikap masyarakat terhadap waria. Hasil analisis menunjukkan bahwa dominan masyarakat tidak mengetahui tentang apa dan bagaimana waria itu. Selanjutnya dominan masyarkat merasa bahwa nilai yang dianutnya bertentangan dengan keberdaan waria di tengah-tengah masyarakat. Dan yang kebih ekstrim adalah bahwa masyarakat cenderung menjauhi waria kecuali jika memiliki kepentingan yang terkait dengan keberadaan dari seorang waria tersebut. Hal yang demikian itulah yang kemudian mengkonstruksi pemikiran masyarakat mengenai waria yang lebih cenderung memberi label negatif terhadap kaum waria. Kata Kunci : Waria, Sikap, Konstruksi Sosial dan Masyarakat Abstract : Transvestites are marginalized, under pressure in the structure and culture. Transvestites are often ostracized even got a discriminatory treatment. Conduct a study on public attitudes towards transgender becomes very important seeing this phenomenon. This study aimed to get a picture of public attitudes towards transgender seen from the aspect of knowledge, feelings, and attitudes towards transsexuals according to the tendency of behavior and expectations of society. The writing is descriptive method with the study of discourse that aims to describe, summarize the various attitudes towards transsexuals. The analysis showed that the dominant society does not know about what and how transvestites. Furthermore, the dominant community feel that contrary to the values espoused keberdaan transvestites in the midst of society. And the kebih extreme is that people tend to stay away from transvestites unless it has the benefit associated with the presence of a transvestite. It is thus that are then construct thinking about transsexual people are more likely to give a negative label to transgender. Key words : Transvestite, Attitude, Social Konstruction and Societ
Kultivasi Nilai-Nilai Budaya Toraja Orang Tua Dan Anak Melalui Komunikasi Keluarga Di Kota Makassar “Cultivation Cultural Values Toraja Parents And Children Through Family Communication In Makassar City”
Abstrak : Komunikasi keluarga merupakan bagian komunikasi interpersonal yang melibatkan pertukaran pesan baik secara verbal dan non verbal antara orang tua dan anak dalam menanamkan atau mengkultivasi anak terhadap nilai-nilai budaya orang tuanya. Tujuan penelitian ini adalah mengkategorisasi kultivasi nilai-nilai budaya Toraja orang tua dan anak melalui komunikasi keluarga. Tipe penelitian menggunakan penelitian deskriptif kualitatif dengan mengkaji secara mendalam kultivasi nilai-nilai budaya Toraja. Hasil penelitian menemukan pola kultivasi pertama, orang tua dan anak aktif dan berpartisipasi dalam mempelajari nilai- nilai budaya Toraja. Kedua, orang tua yang aktif dan memiliki partisipasi yang tinggi dalam mengajarkan nilai-nilai budaya Toraja pada anak-anak mereka. Ketiga, anak yang lebih proaktif dan berpartisipasi dalam mempelajari nilai-nilai budaya Toraja, dari tetangga sesama Etnik Toraja, teman bermain, dan teman-teman di sekolah yang juga memiliki etnik sama.Kata kunci : Komunikasi Interpersonal, Komunikasi Keluarga, Kultivasi, Nilai Budaya TorajaAbstract : Family communication is part of interpersonal communication that involves the exchange of messages, both verbal and non-verbal between parents and children in instilling or cultivate the child to cultural values of their parents. The purpose of this study was categorizing cultivation cultural values Toraja parents and children through family communication. This type of research uses qualitative descriptive study to examine in depth the cultivation of cultural values Toraja. The study found a pattern of cultivation first, parents and children of active and participatory in learning cultural values Toraja. Second, parents are active and have a high participation in the teaching of cultural values Toraja on their children. Third, children are more proactive and participatory in learning cultural values Toraja, Toraja ethnic fellow neighbors, playmates and friends at school who also have the same ethnicity.Key words : Interpersonal Communication, Family Communication, Cultivation, Cultural Values Toraj