JURNAL LPPM BIDANG SAINS DAN TEKNOLOGI
Not a member yet
140 research outputs found
Sort by
KELOMPOK TANI TOMAT DALAM PENERAPAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU DI DESA KAKASKASEN I DAN KAKASKASEN III UNTUK MEMANTAPKAN PRODUKSI DAN MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI
Tomat merupakan salah satu komoditi yang diusahakan oleh petani di desa kakaskasen I dan kakaskasen III. Namun produksi tomat di desa tersebut berfluktuasi dan rendah disebabkan oleh serangan hama dan penyakit tumbuhan. Menurut pengakuan petani di desa tersebut, apabila serangan hama berat maka akan menyebabkan gagal panen sehingga petani mengalami kerugian. Untuk menyelamatkan produksi tomat, petani melakukan pengendalian hama dengan penyemprotan insektisida secara terjadwal sebanyak 2 kali seminggu dengan mencampur beberapa jenis insektisida, karena hama mulai resisten dengan hanya menyemprot satu jenis insektisida saja. Hal tersebut menimbulkan biaya produksi yang tinggi untuk pengadaan insektisida sedangkan hasil produksi yang didapatkan kurang baik karena serangan hama pada tanaman tomat relatif masih tinggi. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan cara untuk merakit satu metode yang kompatibel yang disebut sebagai “Pengendalian Hama Terpaduâ€(PHT). Tujuan program ini yaitu yaitu adanya transfer ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengendalian hama. Konsep pengendalian hama terpadu yang akan ditransfer adalah isolasi dan perbanyakan jamur antagonis Trichoderma koningii, penggunaan perangkap berperekat kuning (Yellow Sticky Trap atau YST), penggunaan pestisida nabati yang berasal dari ekstrak Derris elliptica, dan pemakaian Mulsa Plastik Hitam Perak. Metode yang dilakukan yakni penyuluhan, demonstrasi, dan penanaman tomat selama satu musim tanam dengan perbandingan perlakuan PHT dan Non PHT. Target dari kegiatan ini memberikan motivasi kepada petani agar mampu mengubah kebiasaan ketergantungan menggunakan insektisida sintetik sehingga pencemaran lingkungan dapat ditekan dan produksi tanaman dapat meningkat. Luaran dari kegiatan ini yaitu 1) Petani mampu mengisolasi dan memperbanyak Trichoderma koningii, 2) Petani mampu membuat dan mengaplikasikan ekstrak tanaman Derris elliptica; 3) Petani mampu membuat Perangkap Berperekat Kuning; 4) Petani mampu menggunakan mulsa plastik hitam perak
PENGENDALIAN HAMA KEONG EMAS (Pomacea canaliculata Lamarck) PADA TANAMAN PADI SAWAH DENGAN MENGGUNAKAN EKSTRAK BUAH BITUNG (Barringtonia asiatica L.)T EX
The study aimed to determine the effect of seed extract Bitung , B. asiatica against golden snail mortality. The experiment was conducted in the village of popontolen, subdistrict Tumpaan, Minahasa Selatan Regency. The duration of less than four months of the study, which lasted from August until November 2013. Research using experimental methods with Complete Randomized Design (CRD) consisting of four treatments and three replications. The treatment used is the concentration of seed extract Bitung 0% (control), 10%, 20% and 30%. Observations death snails performed 6, 12, 24, 30, 42, 54 and 66 hours after application.Symptoms begin with snails death marked the release of mucus from the surface of the body and the body slowly over time regardless of the shells. The observation of 12 hours after the application has been found dead snails in the treatment of Bitung seed extract with all concentration was control is 5.00%, 5% treatment is 18.33%, 10% treatment is 48.33%, 15% treatment is 66.67% and 20 % treatment is 78.33%. The extract concentration 15% was ideal concentration of Bitung Seed to kill the golden Snail because had deadly golden snails above 50%. Therefore the use of Bitung seed extract with a concentration of 15% can already be used to control snails in rice plants
IDENTIFIKASI KANDUNGAN MERKURI PADA SISTEM AKUIFER BEBAS HIDROGEOLOGI DESA BUYAT
Penelitian dilakukan untuk mengetahui apakah ada sumber kontaminan logam berat merkuri selain dari tailling teluk buyat, yang menjadikan merkuri bisa terkonsumsi oleh masyarakat desa buyat, yaitu dari sumber air yang ada di desa buyat misalnya sumur sumur penduduk, danau atau sungai. Dalam menjelaskan hal ini diperlukan pengambilan sampel dari sumber sumber air yang ada di desa buyat serta identifikasi model sistem akuifer bebas yang ada di desa buyat. Selanjutnya dilakukan pengamatan dan pemetaan geologi di lapangan, pengambilan sampel air dan material lepas di desa buyat dan survey geolistrik untuk dapat mengetahui penampang dan potongan lapisan batuan bawah permukaan. Hasil yang didapat dianalisa untuk menghasilkan model dari sistem akuifer dan konsep model geologi daerah buyat. Konsep model geologi menunjukan indikasi kuat terdapat sesar, graben dan lapisan pasir pada lapisan paling bawah di lintasan geolistrik daerah penelitian. Sumber air yang berasal dari sumur-sumur penduduk, mata air di sungai dan danau buyat tidak terdeteksi adanya kandungan logam berat merkuri. Logam berat merkuri terdeteksi di area eks pertambangan PT.New Mount Minahasa Raya masih dibawah ambang yang dijinkan. Sistem hidrogeologi dan kandungan merkuri di desa Buyat dapat memberikan informasi positif dan pencerdasan ilmiah bagi masyarakat yang hidup didaerah sekitar eks tambang rakyat atau tambang PT. Newmont Minahasa Raya
MANGROVE DAN PENGEMBANGAN SILVOFISHERY DI WILAYAH PESISIR DESA ARAKAN KECAMATAN TATAPAAN KABUPATEN MINAHASA SELATAN SEBAGAI IPTEK BAGI MASRAKAT
Tujuan kegiatan pengabdian pada masyarakat di Desa Arakan Kecamatan Tatapaan Kabupaten Minahasa Selatan adalah untuk memberikan Iptek bagi Masyarakat (IbM) untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Silvofishery adalah sistem pertambakan teknologi tradisional yang menggabungkan antara usaha perikanan dengan penanaman mangrove, yang diikuti konsep pengenalan sistem pengelolaan dengan meminimalkan input dan mengurangi dampak terhadap lingkungan. Konstruksi tambak di Desa Arakan pada pengabdian pada masyarakat ini lebih memilih silvofishery model komplangan daripada model empang parit karena model komplangan lebih ramah lingkungan. Pemahaman mangrove yang diberikan dalam pembelajaran pada masyarakat meliputi definisi dan ruang lingkup mangrove, komponen mangrove, cara pengenalan mangrove dan jenis-jenis tanaman mangrove. Masyarakat nelayan dan pesisir Desa Arakan yang mengikuti kegiatan penanaman mangrove diberikan panduan mengacu pada Lampiran 1 Peraturan Menteri Kehutanan P.03/MENHUT.V/2004 tertanggal 22 Juli 2004 pada Bagian Keempat tentang Pedoman Pembuatan Rehabilitasi Hutan Mangrove, Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan
JENIS DAN PADAT POPULASI HAMA PADA TANAMAN PERANGKAP Collard DI SAYURAN KUBIS
Kubis (Brassica oleracea var.capitata L.f.alba DC) merupakan salah satu sayuran yang sangat digemari masyarakat di Sulawesi Utara. Rendahnya produksi kubis di Sulawesi Utara disebabkan sistem bercocok tanam yang masih bersifat konvensional dan tingkat serangan hama yang cukup tinggi.Penggunaan tanaman perangkap (trap corp) untuk mengendalikan hama secara kultur teknis pada dasarnya masih jarang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati tingkat efektifitas tanaman collard sebagai tanaman perangkap hama pada pertanaman sayuran kubis. Metode yang dilakukan yakni melalui pengamatan jenis dan padat populasi hama pada tanaman perangkap collard dengan perbandingan jenis dan padat populasi hama pada tanaman kubis. Pengamatan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) didasarkan pada pedoman pengendalian hama terpadu (PHT) hortikultura yaitu secara sistematis pada tanaman kubis 1, 5, 10, 15 dan seterusnya dan pada tanaman perangkapnya. Waktu pengamatan dilakukan pada 14 HST, 21 HST, dan seterusnya dengan interval waktu seminggu sekali sebanyak 7 kali pengamatan.Jenis dan padat populasi hama pada tanaman perangkap Collard lebih rendah dibandingkan pada tanaman kubis. Ditemui ada 4 jenis hama yang ada pada tanaman perangkap Collard yakni Aphis sp, Liriomyza brassicae, Crocidolomia binotalis, Plutella xylostella dengan rataan padat populasi terbanyak yakni Aphis sp dan Liriomyza brassicae sebanyak 3,40 dan 2,30. Sementara pada tanaman kubis ditemukan sebanyak 7 jenis hama yakni Aphis sp, Liriomyza brassicae, Plutella xylostella, Chrysodeixis chalcites, Crocidolomia binotalis, Grylotalpa sp, Spodoptera sp dengan rataan padat populasi terbanyak Aphis sp dan Crocidolomia binotalis sebanyak 249,68 dan 8,21. Hal ini menunjukan bahwa tanaman Collard bukan merupakan tanaman perangkap yang efektif untuk digunakan pada tanaman kubis karena baik jumlah jenis yang terperangkap maupun padat populasinya lebih rendah daripada tanaman kubis sebagai tanaman yang dibudidaya
FESES TERNAK SAPI SEBAGAI PENGHASIL BIOGAS (BEEF CATTLE FECES AS PRODUCING BIOGAS)
Tujuan penelitian adalah mengkaji pemanfaatan feses ternak sapi sebagai biogas. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif. Variabel penelitian yang diamati adalah volume gas dengan data pendukung pH. Hasil penelitian selama 35 hari menunjukkan bahwa total volume biogas yang diperoleh adalah 129.396,26 ml dan nilai rata-rata pH berkisar antara 6,0-7,0. Gas yang dihasilkan dalam penelitian ini selanjutnya dilakukan pengujian. Hasil yang diperoleh bahwa gas dapat menyala dengan konstan dan berwarna biru terang. Selanjutnya biogas diaplikasikan untuk memasak selama 18 menit. Dari hasil pengujian untuk mendidihkan air sebanyak 2 liter, membutuhkan waktu 15 menit dan gas yang dipakai sebanyak 95.066,64 ml. Selanjutnya, untuk memasak satu butir telur membutuhkan waktu memasak selama 3 menit dan gas yang dipakai sebanyak 17.164,81 ml. Kesimpulan pada penelitian ini bahwa pemanfaataan feses ternak sapi dapat menghasilkan biogas sebanyak 129396,26 ml, untuk memasak yang terpakai 112.231,45 ml dengan waktu memasak 18 menit dan dapat menggantikan sumber energi konvensional seperti minyak tanah dan kayu bakar
ANALISIS PEMASARAN DAGING KAMBING DI PASAR BERSEHATI DAN PASAR PINASUNGKULAN KOTA MANADO
Tujuan penelitian adalah untuk: pertama, menganalisis berapa besar biaya operasional yang dipergunakan dalam pemasaran daging kambing di Pasar Bersehati dan Pasar Pinasungkulan Kota Manado, kedua, untuk menganalisis berapa besar keuntungan yang diterima pedagang daging kambing di Pasar Bersehati dan Pasar Pinasungkulan Kota Manado. Dari hasil penelitian diketahui bahwa Penerimaaan Rp. 416.000,- per hari sampai dengan Rp. 5.400.000,- per hari, sedangkan per bulan bervariasi dari Rp. 12.500.000,- sampai dengan Rp. 167.500.000,- . Rata-rata besarnya keuntungan pedagang daging kambing di Pasar Bersehati dan Pasar Pinasungkulan Manado yaitu Rp. 1.500.000,- per hari dengan rata-rata volume penjualan 172 Kg per hari atau rata-rata per bulan sebesar Rp. 45.204.500,- dengan rata-rata volume penjualan sebesar 5.170 Kg/bulan. Adapun perbedaan besarnya keuntungan masingmasing pedagang daging kambing tersebut dikarenakan adanya perbedaan jumlah atau volume yang dipasarkan oleh masing masing pedagang dan dipengaruhi oleh harga beli dan harga jual serta selera konsumen yang memilih daging yang berbeda harganya lebih ekonomis, dan juga dipengaruhi oleh ada tidaknya hari-hari raya. Dengan demikian disimpulkan bahwa Biaya terbesar dalam aktifitas pemasaran adalah pembelian ternak yaitu sebesar 92,75% daripada biaya lainnya. Besarnya keuntungan Rata-rata, rentabilitas pedagang adalah 56,31% dibandingkan SBBI atau Suku Bunga Bank Indonesia adalah 8%
KONDISI EKOLOGI MANGROVE PULAU BUNAKEN KOTA MANADO PROVINSI SULAWESI UTARA
Kajian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ekologi ekosistem mangrove Pulau Bunaken. Pengukuran kondisi fisik dan kimia perairan ekosistem mangrove dilakukan pada masing-masing titik pengamatan. Variabel yang diukur adalah suhu, salinitas pH, DO, TSS, kekeruhan, NO3, dan PO4. Hasil ini akan menggambarkan kualitas air pada ekosistem mangrove, sedangkan pengambilan data vegetasi mangrove menggunakan metode pada Point-Centered Quarter Method (PCQM). Pulau Bunaken memiliki lima jenis mangrove yaitu Soneratia alba, Avicennia marina, Xylocarpus granatum, Rhizophora apiculata, dan Bruguiera gymnorrhiza, yang terbagi dalam empat family yaitu Sonneratiaceae, Avicenniaceae, Meliaceae, dan Rhizophoraceae. Indeks nilai penting mangrove tertinggi pada Kelurahan Alungbanua terlihat pada jenis Rhizophora apiculata , dan yang terendah adalah jenis Avicennia marina. Untuk Kelurahan Bunaken jenis Bruguiera gymnorrhiza dan yang terendah adalah jenis Rhizophora apiculata. Kondisi perairan ekosistem mangrove pulau Bunaken dalam keadaan yang baik, sesuai dengan baku mutu, dan mampu mendukung kelangsungan hidup biota yang berasosiasi didalamnya. Penelitian selanjutnya diharapkan mampu untuk mengkaji kondisi ekologi lainnya seperti kondisi geomorfologi, sedimen, dan zonasi pada ekosistem mangrove
STUDI TEKNIK PENANGANAN IKAN MAS (CYPRINUS CARPIO-L) HIDUP DALAM WADAH TANPA AIR
Ikan mas merupakan salah satu sumber protein hewani yang digemari oleh masyarakat.Berbagai upaya telah dilakukan pada usaha budidaya ikan mas untuk peningkatan produktivitasnya, diantaranya adalah pemasaran ikan. Pemasaran ikan biasanya dilakukan dalam keadaan ikan hidup. Pemasaran atau pengangkutan ikan dalam keadaan hidup merupakan salah satu mata rantai dalam usaha perikanan. Pada dasarnya, ada dua metode transportasi ikan hidup, yaitu sistem basah atau dengan menggunakan air sebagai media dan sistem kering atau menggunakan media tanpa air. Sistem basah dianggap tidak praktis dan tidak efisien karena memiliki banyak kelemahan baik dalam volume maupun biaya sehingga diperlukan cara yang lebih praktis dan efisien yaitu penanganan sistem kering. Pada transportasi ikan hidup dengan sistem kering perlu dilakukan proses penanganan atau pemingsanan terlebih dahulu. Metode pemingsanan ikan dapat dilakukan dengan cara menggunakan zat anestesi atau dapat juga menggunakan penurunan suhu. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh tingkat mortalitas terendah dengan metode pemingsanan, penyimpanan dan penyadaran kembali yang standar.Metodologi yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 2 perlakuan yaitu perlakuan metode pemingsanan yang terdiri atas 2 taraf (pemingsanan dengan suhu ±8°C, pemingsanan dengan suhu ±8°C + minyak cengkeh konsentrasi 0,02%) dan perlakuan lama penyimpanan yang terdiri atas 5 taraf (0, 2, 4, 6, 8 jam) dengan menganalisis keragamannya menggunakan perhitungan annova dan teknik laboratorium. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 2 kali. Variabel yang diamati meliputi waktu kecepatan pingsan, kondisi fisiologis saat proses pemingsanan, waktu penyadaran kembali dan tingkat mortalitas ikan.Hasil penelitian menunjukkan waktu dan suhu pemingsanan yang optimum dengan penyimpanan terlama 6 jam didapat waktu 11,03 menit dengan suhu 8°C dengan media penyimpanan yang tepat digunakan adalah media sekam padi. Waktu penyadaran yang optimal dengan penyimpanan terlama 6 jam didapat waktu 11,27 menit pada suhu 8°C. Berdasarkan metode pemingsanan, penyimpanan dan penyadaran kembali, tingkat mortalitas terendah yaitu 45,85% didapat dengan menggunakan metode pemingsanan menggunakan suhu 8°C dengan penyimpanan terlama 6 jam.____________________________________________________________________________
RESPONS RUMPUT Brachiaria humidicola cv. Tully dan Pennisetum purpureum cv. Mott TERHADAP PEMUPUKAN UNSUR HARA MAKRO N, P, K
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk NPK terhadap Potensi Produksi Rumput Brachiaria .humidicola cv. Tully dan Penisetum purpureum cv. Mott. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah model experimental dengan menggunakan Rancangan Acak kelompok (RAK) dengan pola Faktorial. Faktor A jenis rumput : a1 = Rumput B. humidicola cv. Trully ; a2 = Rumput P. purpureum cv. Mott. Faktor B jenis pupuk b1 = Pupuk tunggal N (Urea) ; b2 = Pupuk kombinasi NP (Urea + TSP) ; b3 = pupuk kombinasi NPK (Urea + TSP + KCl). Dosis pupuk yang digunakan Urea= 150 kg/ha, TSP = 75 kg/ha, KCl = 75 kg/ha, sehingga terdapat 6 kombinasi perlakuan dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Jumlah keseluruhan satuan percobaan adalah 24 satuan percobaan. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan, yang terletak di desa Talawaan Bantik Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara. Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis rumput, jenis pupuk dan interaksi jenis rumput dan jenis pupuk memberikan hasil yang berbeda sangat nyata (P<0.01) terhadap potensi produksi segar, potensi produksi bahan kering dan potensi produksi protein. Potensi produksi segar, potensi bahan kering, dan potensi produksi protein rumput B sangat nyata (P<0,01) lebih tinggi dari rumput A. Potensi produksi segar, produksi bahan kering, produksi protein rumput yang diberikan pupuk NPK sangat nyata lebih tinggi (P<0.01) dari rumput yang diberikan pupuk NP dan N secara tunggal.Pemberian pupuk NPK menghasilkan potensi produksi segar, potensi produksi bahan kering dan potensi produksi protein masing-masing 53,15%, 40,48%, dan 77,26% lebih tinggi dibandingkan pemberian pupuk N secara tunggal. Rumput B yang diberikan pupuk NPK menghasilkan potensi produksi segar, potensi produksi bahan kering dan potensi produksi protein yang paling tinggi