Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
Not a member yet
859 research outputs found
Sort by
SINTESIS BAHAN MAGNETIK PSEUDO BROOKITE Fe2TiO5 BERBASIS SUMBER DAYA MINERAL LOKAL
SINTESIS BAHAN MAGNETIK PSEUDO BROOKITE Fe2TiO5 BERBASIS SUMBER DAYA MINERAL LOKAL. Telah dilakukan sintesis dan karakterisasi bahan magnet pseudobrookite Fe2TiO5 dari sumber daya alam lokal pasir besi. Mineral pasir besi diperoleh dari pesisir pantai Banten. Pasir besi ini dipreparasi dengan teknik mechanical milling untuk memperoleh ukuran partikel yang kecil. Kemudian pasir besi hasil milling dilakukan leaching dan seperator magnetic untuk menghilangkan pengotor-pengotor non magnetik. Hasil pemisahan dengan separator magnetic ditambahkan TiO2 sesuai kaidah stoikiometri untuk dibuat bahan magnet pseudobrookite Fe2TiO5. Sintesis pseudobrookite Fe2TiO5 menggunakan metode reaksi padatan melalui proses mechanical milling dan di sintering pada suhu 1.000 oC selama 5 jam. Hasil refinement dari pola difraksi sinar-X menunjukkan bahwa telah terbentuk bahan magnet pseudobrookite Fe2TiO5 dengan struktur kristal orthorombik (grup ruang C m c m), parameter kisi a = 3,7233(5) Å; b = 9,774(1) Å dan c = 9,968(1) Å, α = β = γ = 90o, volume unit sel sebesar V = 362,8(1) Å3 dan kerapatan atomik sebesar ρ = 4,178 g.cm-3. Hasil pengukuran sifat magnetik menunjukkan bahwa pseudobrookite Fe2TiO5 hasil sintesis bersifat soft magnet dengan medan koersivitas dan magnetisasi remanen berturut-turut adalah 461 Oe dan 0,2 emu/g. Disimpulkan bahwa telah berhasil dibuat bahan magnet pseudobrookite Fe2TiO5 dari bahan baku sumber daya alam lokal pasir bes
EFFECT OF NCO/OH RATIO AND MOLD SYSTEM ON PHYSICAL AND MECHANICAL PROPERTIES OF RIGID POLYURETHANE FOAM BASED ON PALM OIL
EFFECT OF NCO/OH RATIO AND MOLD SYSTEM ON PHYSICAL AND MECHANICAL PROPERTIES OF RIGID POLYURETHANE FOAM BASED ON PALM OIL. A new kind of rigid polyurethane foam (RPUF) was synthesized from palm oil based polyol. Hydroxy methoxy polyol was prepared from epoxidation and hydroxylation process, and called as hydroxyl methoxy glycerolmonostearate (HMGMS) polyol. Synthesis process of rigid polyurethane foam was conducted by reaction between HMGMS polyol and methylene diphenyldiisocyanate (MDI) via one shoot process in the presence of additive i.e. ethylene glycol (chain extender), silicon glycol (surfactant), dimethylcyclohexylamine (amine catalyst), stannous octoate (organometalic catalyst) and water as blowing agent. In this work, we investigated the effect of NCO/OH ratio (1.8 ; 2.0 ; 2.2 ; 2.4) and mold system (closed mold and open mold) on the physical and mechanical properties of rigid polyurethane foam. The physical and mechanical properties of rigid foam were conducted by determining the bulk density, dimensional stability, degree of water absorption and compressive strength. It was found out that NCO/OH ratio and mold type were important variables in making RPUF. Key words
PILARISASI DAN KARAKTERISASI MONTMORILLONIT
PILARISASI DAN KARAKTERISASI MONTMORILLONIT. Telah dilakukan pilarisasi montmorillonit dengan Cr2O3 dengan metode interkalasi dan karakterisasinya baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Sintesis lempung terpilar dilakukan melalui dua tahap yaitu tahap pembuatan agent pemilar berupa oligomer kation chrom dan pemilaran montmorillonit. Pembuatan oligomer dilakukan dengan melarutkan garam Cr(NO3)3. 9H2O dalam air terdemineralisasi selama 36 jam dengan pemanasan pada suhu 95oC sambil diaduk dengan pengaduk magnet. Pemilaran lempung dilakukan dengan melarutkan Na-montmorillonit ke dalam larutan campuran air terdemineralisasi dan aseton, selanjutnya mencampurkan suspensi tersebut ke dalam larutan oligomer sambil diaduk dengan pengaduk magnet pada suhu pemanasan 40 oC selama 24 jam. Campuran disaring kemudian padatan yang diperoleh dikeringkan dan selanjutnya dikarakteristik menggunakan spektrofotometer inframerah, difraksi sinar-X, analisis adsorpsi gas dan analisis pengaktifan neutron. Analisis yang sama juga dilakukan pada Na-montmorillonit yang digunakan sebagai pembanding. Tahap selanjutnya adalah uji keasaman permukaan yang dilakukan secara kualitatif yaitu dengan metode spektrofotometer infra merah dan secara kuantitatif dengan metode gravimetri yaitu dengan mengadsorbsikan amoniak ke dalam montmorillonit terpilar Cr2O3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pilarisasi Na-montmorillonit dengan Cr2O3 membentuk montmorillonit terpilar Cr2O3 dengan tinggi pilar sebesar 5,95Å, Pilarisasi juga mengakibatkan kenaikan luas permukaan spesifik dari dari 90,0587 m2/g (Na-montmorillonit) menjadi 170,471 m2/g (montmorillonit terpilar) dan volume total pori dari 60,9264 x 10-3 cm3/g (Na-montmorillonit) menjadi 92,6631 x 10-3 cm3/g (montmorillonit terpilar Cr2O3). Keasaman permukaan montmorillonit meningkat dari 0,6673 mmol/g (Na-Montmorillonit) menjadi 2,6965 mmol/g (montmorillonit terpilar Cr2O3)
PENGARUH SUHU KALSINASI TERHADAP KEMAMPUAN ADSORPSI TOKSIN PADA KAOLIN UNTUK PENYAKIT DIAR
PENGARUH SUHU KALSINASI TERHADAP KEMAMPUAN ADSORPSI TOKSIN PADA KAOLIN UNTUK PENYAKIT DIARE. Telah dilakukan sintesis dan karakterisasi kaolin sebagai bahan adsorpsi toksin untuk penyakit diare. Kemampuan adsorpsi merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan efektivitas adsorben. Setiap adsorben memiliki kekuatan yang berbeda tergantung kemampuan adsorpsinya. Kaolin dikalsinasi pada suhu 400 °C, 600 °C, dan 800 °C. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari perubahan karakter kaolin setelah kalsinasi terhadap kemampuan adsorpsinya. Karakterisasi sampel meliputi analisis fasa, uji densitas, uji porositas, dan uji adsorpsi terhadap logamtimbal sebagaimedia toksin.Disimpulkan bahwa kaolin yang memiliki tingkat kemampuan adsorpsi tertinggi adalah kaolin yang dikalsinasi pada suhu 400 °C dengan karakteristikmengandung fasa kaolinite, derajat kristalinitas sebesar 76,59%, memiliki densitas sebesar 2,6275 g/mL, porositas optimum sebesar 75 %, dan kemampuan adsorpsi terhadap logam timbal sebesar 99,7325%. Kemampuan adsorpsi kaolin yang dikalsinasi pada suhu 400 °C jauh lebih baik dibandingkan dengan bahan kaolin tanpa kalsinasi. Sehingga diharapkan dapat lebih efektif digunakan untuk menyebuhkan diare
PENYERAPAN TIMBAL OLEH JERAMI TERMODIFIKASI SECARA SONIKASI
PENYERAPAN TIMBAL OLEH JERAMI TERMODIFIKASI SECARA SONIKASI.Telah dilakukan percobaan penyerapan logam berat Pb oleh jerami yang termodifikasi secara sonikasi. Modifikasi jerami secara sonikasi dilakukan dengan mengunakan alat ultrasonik jenis cleaning bath. Penyerapan logam berat Pb oleh jerami dilakukan secara catu dengan beberapa parameter, diantaranya pH larutan umpan (1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7), waktu kontak (5, 10, 15, 20, 25, dan 30 menit) , ukuran jerami (20, 40, 60, dan 80 mesh), perbandingan Pb terhadap jerami ( 0,25/0,5; 0,5/0,5; 0,75/0,5; dan 1,0/0,5 mg/g ). Penentuan struktur mikro jerami dilakukan dengan menggunakan alat Scanning Electron Microscope (SEM) dan analisis logam berat Pb dilakukan dengan mengunanan alat Spectrofotometer UV-VIS DMS 100. Dari hasil percobaan penyerapan logam berat Pb oleh jerami yang termodifikasi secara sonikasi dapat disimpulkan bahwa jerami yang dimodifikasi secara sonikasi layak dimanfaatkan sebagai bahan penyerap terhadap logam berat Pb. Dari percobaan diperoleh efisiensi penyerapan 94 % untuk larutan Pb 10 mg/L sebanyak 50 mL , pH larutan 5 dan waktu kontak 20 menit dan jumlah jerami 0,5 g. Bila dibandingan dengan modifikasi secara kimia, modifikasi secara sonikasi lebih menguntungkan karena jerami hasil sonikasi tidak mengalami kerusakan atau pembelahan serat, ikatan dengan logam Pb lebih kuat dan tidak memerlukan bahan kimia
ELASTOMER TERMOPLASTIK SEBAGAIADITIF PENINGKAT VISKOSITAS PELUMAS MINERAL
ELASTOMER TERMOPLASTIK SEBAGAIADITIF PENINGKAT VISKOSITAS PELUMAS MINERAL. Penggunaan elastomer termoplastik (ETP) sebagai aditif peningkat viskositas minyak mineral berindeks viskositas tinggi (HVI) telah dilakukan. Sebagai bahan elastomer termoplastik digunakan kopolimer radiasi lateks karet alam-metil metakrilat (LKA-MMA). Bahan ETP dilarutkan dalamminyak lumas dasar HVI dengan variasi suhu dan pelarut. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelarutan langsung memerlukan suhu 80 oC dan waktu 12 jam. Penggunaan xilena sebagai pelarut antara, mengefisienkan metode pelarutan karena tidak diperlukan pemanasan dan waktu pelarutan lebih pendek. Koefisien viskositas kinematik dan indeks viskositas dari minyak lumas mineral yang mengandung xilena tidak berbeda secara signifikan dibandingkan minyak lumas yang tidak menggunakan xilena sebagai pelarut antara. Maksimum pelarutan ETP pada minyak lumas mineral adalah 10 % tanpa pelarut antara
EFEK PENAMBAHAN DOSIS ION Ar+ TERHADAP PROSES PENUMBUHAN CARBON NANOTUBE DARI NANOKOMPOSIT Fe-C
EFEK PENAMBAHAN DOSIS ION Ar+ TERHADAP PROSES PENUMBUHAN CARBON NANOTUBE DARI NANOKOMPOSIT Fe-C. Telah dilakukan penelitian efek dosis ion Ar+ terhadap proses penumbuhan Carbon Nanotube (CNT) dari nanokomposit Fe-C dengan teknik implantasi ion. Kompaksi Fe-C sebagai target pembuatan lapisan tipis nanokomposit Fe-C tersusun atas serbuk nanokomposit Fe-C, yang dipersiapkan melalui proses milling dengan teknik High Energy Milling (HEM) selama 50 jam. Morfologi serbuk Fe-C hasil miling diamati dengan Scanning Electron Microscope (SEM) guna mengetahui ukuran partikel serbuk. Selanjutnya, serbuk Fe-C hasil milling dikompaksi untuk menjadi target DC-Sputtering. Lapisan tipis Fe-C/Si yang terbentuk diimplant ion Ar+ dengan gas Argon sebagai sumber ion pada dosis 5 x 1015 ion/cm2 hingga 1 x 1017 ion/cm2. Selanjutnya, lapisan tipis Fe-C diidentifikasi fasanya dengan XRD, dan diamati penampang lintangnya dengan SEM. Hasil XRD setelah implant menunjukkan puncak intensitas difraksi turun seiring dengan peningkatan dosis ion Ar+. Hasil SEM menunjukkan ukuran partikel serbuk Fe-C dalam sekala nano. Selain itu hasil SEM juga memperlihatkan permukaan lapisan tipis tidak rata, ketidakrataan ini semakin jelas seiring dengan naiknya dosis, serta ditunjukkan pembentukan CNT di permukaan lapisan tipis Fe-C
SISTEM ELECTRON SPIN RESONANCE(ESR)MENGGUNAKAN FREKUENSI DAN MEDAN MAGNET PULSA TINGGI
SISTEM ELECTRON SPIN RESONANCE(ESR)MENGGUNAKAN FREKUENSI DAN MEDAN MAGNET PULSA TINGGI. Sistem Electron Spin Resonance (ESR) menggunakan frekuensi dan medan magnet pulsa tinggi telah dikontruksi. Sistem ini dilengkapi medan magnetik pulsa dengan intensitas maksimum sampai 35 T, sumber radiasi gyrotron dalam rentang frekuensi-frekuensi pengukuran yang lebar dan suhu pengukuran antara 4,2 K hingga 80 K. Pulsa mempunyai bentuk sinusoidal dengan durasi 2,5 ms. Kapabilitas sistem ESR didemontrasikan dengan pengukuran spektrum ESR dari kristal tunggal MnF2 pada suhu 4,2 K. Frekuensi gap medan nol ditentukan oleh analisis dari mode-mode resonansi garis spektrum. Nilai frekuensi gap hasil percobaan bersesuaian dengan nilai yang dihasilkan dari penelitian sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa sistem ESR dapat digunakan untuk penelitian lebih lanjut dalambidang fisika material
PENELITIAN PASTA EMULSI MINASOL M, PERTASOL CA DAN PERTASOL CB PADA PENCAPAN KAIN SELULOSA DENGAN ZAT WARNA PIGMEN
PENELITIAN PASTA EMULSI MINASOL M, PERTASOL CA DAN PERTASOL CB PADA PENCAPAN KAIN SELULOSA DENGAN ZAT WARNA PIGMEN. Zat warna pigmen adalah zat warna yang tidak larut dalam air bersifat hidrofobik. Pasta emulsi Minasol M, Pertasol CA dan Pertasol CB yang terbuat dari campuran minyak, air dan emulgator diharapkan cocok sebagai media pencapan zat warna pigmen pada kain selulosa, karena zat warna pigmen dapat terdispersi dengan baik pada minyak dalam pasta emulsi.Untuk mengetahui karakteristik hasil pencapan dan metode pencapan yang cocok, telah dilakukan percobaan proses pencapan zat warna pigmen dengan metode pemanas awetan (curing) dengan tahapan proses sebagai berikut, pengeringan pendahuluan pada suhu 100 oC, waktu 2 menit, selanjutnya pemanas awetan variasi : suhu 100 oC, 110 oC, 120 oC, 130 oC, 140 oC, 150 oC dan waktu 2 menit, 3 menit, 4 menit. Pada komposisi emulsi terbaik pada percobaan terdahulu yaitu perbandingan antara emulgator/air/ minyak adalah pasta emulsi Minasol M 45/ 355/600 g/kg pasta, Pertasol CA 30/ 370/ 600 g/kg pasta, sedangkan Pertasol CB 40/360/600 g/kg pasta, sebagai pembanding minyak tanah 40/ 360/ 600 g/kg pasta, Hasil percobaan diuji terhadap viskositas pasta cap, ketuaan warna (K/S), ketajaman motif, kekakuan kain, kekuatan tarik kain dan ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan gosokan. Hasil pengujian percobaan pasta cap emulsi Minasol M, Pertasol Ca,Pertasol CB dan minyak tanah, nilai viskositas berturut-turut 94 Poise, 85 Poise, 85 Poise dan 80 Poise. Ketajaman motif memberikan nilai 1 sangat baik. Makin tinggi suhu dan waktu sampai batas tertentu nilai K/S lebih tinggi, nilai kekakuan kain menurun dan tidak berpengaruh pada kekuatan tarik kain, maupun ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan gosokan. Kondisi terbaik percobaan: penggunaan pasta cap emulsi Minasol M pada suhu pemanas awetan 130 oC, waktu 3 menit. Pertasol CA pada suhu pemanas awetan 120 oC, waktu 3 menit, Pertasol CB pada suhu pemanas awetan 120 oC, waktu 3 menit. Sebagai pembanding minyak tanah pada suhu pemanas awetan 130 oC, waktu 3 menit. Hasil percobaan pencapan dengan pasta cap emulsi Pertasol CA dan Pertasol CB mendekati minyak tana
PENGARUH PENGGILINGAN TERHADAP PADATAN NIMODIPIN.
PENGARUH PENGGILINGAN TERHADAP PADATAN NIMODIPIN. Energi mekanik melalui penggilingan dapat menyebabkan transformasi polimorfik dan kerusakan kristal pada suatu padatan kristalin sehingga akan mempengaruhi sifat fisikokimianya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh penggilingan terhadap padatan nimodipin. Penggilingan dilakukan dengan alat Retsch RM100 mortar grinder selama 15 menit, 30 menit, 60 menit dan 120 menit. Karakterisasi padatan hasil penggilingan dilakukan menggunakan difraksi sinar-X serbuk, Differential Scanning Calorimeter (DSC), Scanning ElectronMicroscope (SEM) dan spektrometer Fourier Transform-Infrared (FT-IR). Difraktogramsinar-X serbuk padatan nimodipin hasil penggilingan menunjukkan puncak-puncak yang identik dengan nimodipin sebelum penggilingan.Termogram DSC nimodipin menunjukkan puncak endotermik pada suhu 124,2 oC. Titik lebur dan entalpi nimodipin akibat penggilinganmengalami sedikit pergeseran ke arah yang lebih rendah denganmeningkatnya waktu penggilingan. Fotomikrograf SEMmenunjukkan terjadinya amorfisasi dan agregasi partikel. Spektrum FT-IR tidak menunjukkan adanya pergeseran bilangan gelombang. Data-data tersebut menegaskan bahwa energi mekanik akibat proses penggilingan sampai 120 menit tidak menyebabkan transformasi polimorfik pada padatan nimodipin