Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
Not a member yet
859 research outputs found
Sort by
EFFECTS OF CURING TEMPERATURE AND ATMOSPHERE ON THE PROPERTIES OF ISOTROPIC BONDED NdFeB MAGNETS.
EFFECTS OF CURING TEMPERATURE AND ATMOSPHERE ON THE PROPERTIES OF ISOTROPIC BONDED NdFeB MAGNETS. The purpose of this paper was to synthesize the isotropic bonded NdFeB magnets at varying curing temperature and atmosphere, and to clarify their properties. For the aforesaid objective, the NdFeB powder was mixed with polyacrylate binder (3wt%) and compacted by hydraulic pressure with a compressive pressure of 30 MPa. The specimens were then separately cured at 100, 150, 180 and 200°C for 1 h in air and vacuum. The effects of curing temperature in air and vacuum on the bulk density and magnetic properties of isotropic bonded NdFeB magnets were studied. The results indicated that the bulk density and fluxmagnet density of bonded NdFeB magnets decreased with increase in curing temperature. This seems to be due to the binder vaporization and oxidation of element of NdFeB magnet. The bulk density of specimens cured in air was higher than that in vacuum for all temperatures. On the contrary, the magnetic flux density showed the opposite behavior. The optimum magnetic properties were achieved at curing temperature of 100oC for 1 h in vacuumwith Br = 6,61 kG, HCJ = 8,841 kOe, and BHmax = 9,01 MGOe
Pengaruh Variasi Konsentrasi Hidrolisis Asam Sulfat Terhadap Sifat Me-kanik Plastik Selulosa Teregenerasi dari Kapas Limbah Tekstil dengan Pelarut NaOH/Urea
Selulosa merupakan polimer alami dengan ketersediaan yang paling melimpah yang berpotensi untuk direkayasa menjadi suatu plastik biodegradable. Selulosa teregenerasi merupakan suatu material yang dibentuk dengan cara melarutkan selulosa dalam suatu palarut tertentu dan dicetak. Dalam penelitian ini, kapas limbah dari industri tekstil digunakan sebagai sumber selulosa. Kapas pada dasarnya memiliki kandungan selulosa yang sangat tinggi, yakni sekitar 86-98%. Selulosa diekstrak dari kapas limbah dengan hidrolisis asam sulfat dengan konsentrasi divariasikan pada 0,5; 1; 1,5; dan 0,5 M dengan temperatur 100°C selama 2 jam. Selulosa teregenerasi dibuat dengan melarutkan selulosa pada larutan NaOH 7%/Urea 12% dan dibentuk dengan metode solution casting. Berat molekul selulosa diukur dengan metode berat molekul rerata viskositas dengan viskometer Ubbelohde. Karakterisasi yang dilakukan menunjukkan peningkatan konsentrasi asam sulfat yang digunakan menyebabkan penurunan berat molekul selulosa yang terekstraksi. Berat molekul selulosa yang digunakan akan turut berpengaruh terhadap sifat mekanik dari plastik yang dihasilkan. Sifat optimum selulosa teregenerasi yang dihasilkan diperoleh dari selulosa dengan berat molekul 2.73 x 104 g/mol dari hasil hidrolisis 0,5 M, yang dimana memiliki kekuatan tarik, persen elongasi dan modulus masing-masing sebesar 49,24 MPa; 0.92 %; dan 11.39 GPa dengan densitas sebesar 1.53 g/cm3
PEMBUATAN METIL ESTER SULFONAT DARI REFINED BLEACHED DEODORIZED STEARIN MINYAK SAWIT MENGGUNAKAN OLEUM
PEMBUATAN METIL ESTER SULFONAT DARI REFINED BLEACHED DEODORIZED STEARIN MINYAK SAWIT MENGGUNAKAN OLEUM. Telah dilakukan proses pembuatan metil ester sulfonat dengan menggunakan oleum sebagai sumber SO3. Beberapa variabel proses seperti suhu dan perbandingan mol antara SO3 dan metil ester telah dilakukan untuk mendapatkan kondisi optimal untuk proses sulfonasi yang menggunakan reaktor falling film. Kondisi proses yang optimal diperoleh pada suhu antara 80 0C hingga 90 0C. Perbandingan mol reaktan 1,2 menghasilkan kandungan bahan aktif sebesar 93%. Metil ester sulfonat yang diperoleh dengan bilangan iod 1,15, tegangan permukaan 29 dyne/cm dan 180 klett sebagai indikasi warna
PULP TERIRADIASI SEBAGAI BAHAN RAYON VISKO SAYANG RAMAH LINGKUNGAN.
PULP TERIRADIASI SEBAGAI BAHAN RAYON VISKO SAYANG RAMAH LINGKUNGAN. Telah dilakukan penelitian pembuatan rayon viskosa ramah lingkungan dengan teknik iradiasi. Tujuan penelitian ini adalah membuat serat rayon dari pulp yang di iradiasi, agar proses xantasi mempergunakan larutan CS2 dengan konsentrasinya yang lebih rendah. Pulp yang digunakan bentuk lembaran dan iradiasi menggunakan mesin berkas elektron 2 MeV dengan dosis 3 kGy, 5 kGy, 10 kGy, 15 kGy dan 20 kGy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pulp yang diiradiasi dapat dibuat rayon viskosa dengan konsentrasi larutan xantasi CS2 sebesar 20%(v/v) dan 25%(v/v). Dosis iradiasi sampai dengan 10 kGy menghasilkan serat rayon yangmemenuhi rayon standar dengan bertambahnya dosis iradiasi dari 3 kGy sampai 10 kGy akan menurunkan sifat fisik serat rayon yang dihasilkan. Dosis iradiasi terbaik untuk pembuatan serat rayon adalah pulp yang di iradiasi dengan dosis 5 kGy
PENGARUH VARIASI PEPTIZERS TERHADAP VISKOSITAS DAN SIFAT FISIK KOMPON KARET
PENGARUH VARIASI PEPTIZERS TERHADAP VISKOSITAS DAN SIFAT FISIK KOMPON KARET. Karet alam memiliki sifat liat, kering dan sulit dicampur dengan bahan lain tanpa proses mastikasi, untuk mempermudah proses tersebut digunakan peptizer. Peptizer merupakan bahan bantu proses yang digunakan untuk mempercepat proses mastikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh peptizers baik kimia dan fisika terhadap pemrosesan dan sifat fisik dari kompon karet. Peptizers kimia yang digunakan adalah aktiplast 8 dengan variasi komposisi 0; 0,01; 0,03; 0,05 dan 0,07 part per hundred rubber (phr), sedangkan peptizers fisika yang digunakan adalah processing oil dengan variasi 0; 1,5; 1,9; 2,3 dan 2,7. Kedua peptizers yang digunakan menunjukan kecenderungan yang sama yaitu semakin tinggi phr maka viskositas kompon karet semakin menurun, namun sifat fisiknya tidak terpengaruh
PREPARASI DAN KARAKTERISASI HIDROKSIAPATIT BERPORI DARI TULANG IKAN
PREPARASI DAN KARAKTERISASI HIDROKSIAPATIT BERPORI DARI TULANG IKAN. Telah dilakukan pembuatan hidroksiapatit (HAp) berpori dengan bahan dasar limbah tulang ikan dan sebagai bahan porogen kitosan dengan metode kalsinasi pada suhu 1.100 °C selama 5 jam. Analisis termogravimetri dilakukan dengan Simultan Thermal Analyzer (STA), identifikasi fasa dilakukan dengan X-Ray Diffractometer (XRD), analisis strukturmikro dengan Scanning Electron Microscope (SEM). Analisis termogravimetri menunjukkan puncak penurunan berat pada suhu 365,6 °C dan setelah suhu 500 °C tidak terjadi penurunan berat lagi. Identifikasi fasa menunjukkan adanya fasa hidroksiapatit pada tulang ikan mentah dan tulang ikan setelah dikalsinasi pada 1.100 °C selama 5 jam. Hasil SEM menunjukkan strukturmikro berpori antar partikel pada tulang ikan mentah dan setelah kalsinasi 1.100 °C selama 5 jam dengan ukuran partikel sebesar 0,1 μm hingga 1,0 μm. Setelah penambahan kitosan, pori antar partikel yang terbentuk lebih merata dan jelas
MONITORING KESTABILAN DISPERSI MULTI WALL CARBON NANOTUBE DALAM SURFAKTAN HEXADECYLTRIMETHYL AMMONIUM BROMIDE
MONITORING KESTABILAN DISPERSI MULTI WALL CARBON NANOTUBE DALAM SURFAKTAN HEXADECYLTRIMETHYL AMMONIUM BROMIDE. Kestabilan dispersi Multi Wall Carbon Cano Tube (MWCNT) dalam larutan yang mengandung Hexadecyl trimethyl Ammonium Bromide (CTAB) diamati dengan UV spektrofotometer. Dispersi MWCNT dalam larutan CTAB dengan rasio massa 1: 2 dibuat dengan bantuan ultrasonic vibracell pada amplitude 60% dengan variasi waktu sonikasi 60menit, 90menit dan 120 menit. Pengaruh waktu sonikasi dan waktu penyimpanan terhadap kestabilan dispersi diamati dengan mengukur absorbansi dispersi dengan UV spektrofotometer. Perubahan morfologi MWCNT akibat gelombang ultrasonik yang ditimbulkan oleh ultrasonic vibracell diamati dengan Scanning/ Transmission Electron Microscope (S/TEM). Meningkatnya waktu sonikasi menyebabkan laju dispersi MWCNT meningkat ditunjukan dengan berkurangnya diameter dan panjang MWCNT. Penambahan surfaktan CTAB yang berlebihan dalam larutan menyebabkan proses sonikasi menjadi tidak efektif. Kestabilan dispersi MWCNT dapat bertahan selama 20 hari
PYROELECTRIC PROPERTIES OF LEAD ZIRCONIUM TITANATE (PbZr0.525Ti0.475O3) METAL-FERROELECTRIC-METAL CAPACITOR AND ITS APPLICATION FOR IR SENSOR
PYROELECTRIC PROPERTIES OF LEAD ZIRCONIUM TITANATE (PbZr0.525Ti0.475O3) METAL-FERROELECTRIC-METAL CAPACITOR AND ITS APPLICATION FOR IR SENSOR. Thin films lead zirconium titanate (PbZr0.525Ti0.475O3) prepared on Pt(200)/SiO2/Si(100) substrates using chemical solution deposition (CSD) method for 0.5 M solution have been investigated. The films were grown by spin coating at 2500, 3000, 3500 rpm for 30 seconds, and then annealing at 750oC for 3 hours. X-ray diffraction (XRD), pyroelectric properties observation were employed to characterize the grown films. The film shows tetragonal structure with lattice constants are a = b = 4.141 Å, c = 3.828 Å. The voltage responsivity (rv) measured at chopper frequency of 2000 Hz and at wavelength of 947 nm are between 32.7-44.9 μV/W. Meanwhile, the pyroelectric coefficient (p) are in the range of 5.01 x 10-4-6.88 x 10-4 C/m2K for PZT thin films. These results show that PZT thin films are suitable for use as a pyroelectric IR sensor
PENGARUH BEBERAPA JENIS DYE ORGANIK TERHADAP EFISIENSI SEL SURYA DYE SENSITIZED SOLAR CELL
PENGARUH BEBERAPA JENIS DYE ORGANIK TERHADAP EFISIENSI SEL SURYA DYE SENSITIZED SOLAR CELL. Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh beberapa jenis dye organik, yaitu; dye dari kelopak bunga rosella, kulit buah manggis dan daging buah terung belanda terhadap efisiensi sel surya Dye Sensitized Solar Cell (DSC). DSC dibuat dengan menggunakan lapisan tipis TiO2 yang di sintesis dari prekursor TiCl4 dan methanol dengan penambahan CTAB. Lapisan TiO2 dianalisis menggunakan X-Ray Diffractometer (XRD) dan Scanning Electron Microscope (SEM), dimana diperoleh fase dominan adalah anatase dengan ukuran kristal rata-rata 29,15 nm. Karakteristik I-V menunjukkan bahwa efisiensi pada penggunaan cahaya 300 lux terhadap dye dari kelopak bunga rosella, kulit buah manggis dan daging buah terung belanda berturut-turut adalah 1,67; 2,65; dan 1,12
PENGARUH ILUMINASI LASER PADA FILM CAMPURAN EMAS-FULLERENE (AUC60) DALAM ANALISIS SPECTROSKOPI RAMAN
PENGARUH ILUMINASI LASER PADA FILM CAMPURAN EMAS-FULLERENE (AUC60) DALAM ANALISIS SPECTROSKOPI RAMAN. Analisis Raman secara rinci pada campuran antara emas danfullerene (C60) telah dilakukan dengan cara mengubah intensitas laser secara sistematik untuk mempelajari pengaruh agitasi termal pada campuran. Analisis pergeseran Raman menunjukkan bahwa perubahan secara sistematik daya laser menyebabkan pergeseran dan penyempitan puncak Raman. Kenaikan daya laser dari 0,5 miliwatt ke 3 miliwatt akan menyebabkan pergeseran-penurunan frekuensi Raman. Besarnya pergeseran frekuensi Raman kira-kira 2 cm" dan 5,4 cm", masing-masing untuk mode Ag(2) dan Hg(8). Penurunan pergeseran yang diamati berkaitan dengan beberapa macam interaksi antara atom Au dan molekul C60, seperti Au dan C60 ,,softly bound'' yang peka pada suhu sehingga kemungkinan terjadi difusi Au dalam campuran, Nano-kristal Au menunjukkan sifat kimia yang bergantung ukuran (tergantung jumlah atom Au) dan hal penting dari nano-Au adalah kemungkinan penggunaan untuk penandaan DNA, dan posisi-sensitif spektroskopi Raman memberikan kita kesempatan untuk menganalisis reaksi bio-kimia dalam ruang topologi. Kenaikan daya iluminasi menyebabkan pergeseran frekswensi teramati. Iluminasi 0,5 miliwatt dipilih sebagai satu kondisi moderat