Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
Not a member yet
859 research outputs found
Sort by
THE APPLICATION OF BENTONE AS NANOFILLER IN POLYPROPYLENE NANOCOMPOSITES
THE APPLICATION OF BENTONE AS NANOFILLER IN POLYPROPYLENE NANOCOMPOSITES. For the last two decades, thermoplastic polymer based nanocomposites have been developed because of their superior properties. The benefits of these materials are light weight, high stiffness, and good resistance. With an addition of a small amount of filler, some properties improved significantly. This paper presents the tensile and flexural properties of a polypropylene with a dispersion of commercial Bentone clay in the matrix. Bentone polypropylene nanocomposites were successfully prepared by a melt intercalation method. The melting process was initiated by the addition of a modifier and an initiator. Bentone polypropylene nanocomposites with the variation of bentone contents were then analyzed. A pattern of clay morphology typically found in polypropylene based nanocomposites was observed using an X-Ray diffraction and a transmission electron microscope. These findings showed that an intercalated structure was formed. Furthermore, the value of tensile and flexural modulus as well as the value of tensile strength increased by an addition of 1 wt% bentone
PENGARUH TEKNIK BEKU LELEH DAN DOSIS IRADIASI GAMMA PADA PELEPASAN RESORSINOL DARI MATRIKS HIDROGEL POLIVINIL ALKOHOL
PENGARUH TEKNIK BEKU LELEH DAN DOSIS IRADIASI GAMMA PADA PELEPASAN RESORSINOL DARI MATRIKS HIDROGEL POLIVINIL ALKOHOL. Hidrogel adalah polimer dengan struktur tiga dimensi memungkinkan zat bioaktif terimobilisasi di dalam matriksnya dan dimanfaatkan sebagai sistem obat lepas terkendali. Telah dilakukan imobilisasi resorsinol dalam hidrogel Poli Vinil Alkohol (PVA) dengan teknik kombinasi beku leleh (1 siklus hingga 3 siklus) dan iradiasi gamma (10 kGy hingga 30 kGy). Hidrogel dikarakterisasi dengan spektrofotometer Fourier Transform-Infra Red (FT-IR). Fraksi gel dan daya serap air ditentukan secara gravimetri, dan pelepasan resorsinol diukur dengan spektrofotomer Ultraviolet- Visible (UV-Vis). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa dengan meningkatnya siklus beku leleh hingga 3 siklus dan dosis iradiasi 30 kGy meningkatkan fraksi gel 95 %. Sebaliknya kemampuan daya serap air menurun dari 600 % ke 200 %, pola penurunan ini (kondisi yang sama) sesuai dengan penurunan kemampuan release resorsinol dari 88% ke 59 %. Proses sistem beku leleh dan iradiasi selayaknya dapat dipertimbangkan sebagai salah satu sistem imobilisasi obat terkendali
TEKNOLOGI EKSTRAKSI FLUIDA SUPERKRITIS DAN MASERASI PADA ZINGIBER OFFICINALLE ROSCOE : AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN KANDUNGAN FITOKIMIA
TEKNOLOGI EKSTRAKSI FLUIDA SUPERKRITIS DAN MASERASI PADA ZINGIBER OFFICINALLE ROSCOE : AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN KANDUNGAN FITOKIMIA. Proses ekstraksi Zingiber officinale Roscoe denganmetode fluida superkritis dan metodemaserasi sebagai pembanding telah dilakukan. Ekstraksi CO2 superkritis dilakukan pada kondisi proses tekanan 12-16 MPa, suhu 20-40 oC, waktu ekstraksi 2-6 jam dan laju alir fluida CO2 superkritis 5,5 mL/menit. Pengaruh proses ekstraksi terhadap rendemen, aktivitas antioksi dan dan kandungan fitokimia dari Zingiber officinale Rosc telah diteliti. Hasil penelitian ekstrak kasar jahe menunjukkan bahwa rendemen tertinggi 2,99 mg/g diperoleh pada suhu 40 oC, tekanan 16 MPa dan waktu ekstraksi 6 jam, dengan kandungan fenol total 72,73 mg GEA/g ekstrak, flavonoid total 0,90 % (b/b) dan aktivitas antioksidan sebesar 63,66 μg/mL. Hasil ekstrak kasar jahe dengan metode maserasi dihasilkan rendemen 3,10 mg/g, dengan kandungan phenol total 76,68 mg GEA/g ekstrak, flavonoid total 1,18 % (b/b) dan aktivitas antioksidan sebesar 122,85 μg/mL
KARAKTERISTIK FLUKS MEDAN MAGNET INDUKSI PADA RANGKAIAN SUPERCONDUCTING FAULT CURRENT LIMITER SKALA LABORATORIUM.
KARAKTERISTIK FLUKS MEDAN MAGNET INDUKSI PADA RANGKAIAN SUPERCONDUCTING FAULT CURRENT LIMITER SKALA LABORATORIUM. Pembuatan model rangkaian superconducting fault current limiter skala laboratorium (SFCL) telah dilakukan. SFCL ini merupakan pembatas arus gagal yang berfungsi sebagai pengaman jaringan listrik. Rangkaian SFCL ini adalah sebuah transformator yang tersusun dari lilitan primer berupa gulungan kawat tembaga (Cu) dan lilitan sekunder berupa ring superkonduktor suhu tinggi YBa2CU2O7-x (STT). Ring STT ini memiliki suhu transisi kritis To = 92 K dan arus kritis Ic = 3,61 A. Pengujian rangkaian SFCL ini didukung oleh simulasi yang menggunakan software ANSYS versi 5.4. lmpedansi pada rangkaian SFCL terdiri dari impedansi beban dan trafo. Hasil pengujian SFCL menunjukkan bahwa pada kondisi sebelum gagal (fault), fluks medan magnet induksi yang dibangkitkan oleh kumparan primer dapat dihilangkan oleh fluks medan magnet induksi dari ring superkonduktor sehingga impedansi pada trafo menjadi nol. Pada kondisi setelah gagal (fault), sifat superkonduktifitas dari ring hilang akibat medan magnet induksi yang dibangkitkan oleh kumparan primer sehingga impedansi pada trafo menjadi sangat besar. Dapat ditarik kesimpulan bahwa rangkaian SFCL ini akan berjalan normal apabila resultan dari medan magnet induksi pada inti besi (trafo) sama dengan nol
PEMANFAATAN COCODIESEL BERBAHAN BAKU KELAPA SEBAGAI BAHAN BAKAR MESIN DIESEL STATIONER
PEMANFAATAN COCODIESEL BERBAHAN BAKU KELAPA SEBAGAI BAHAN BAKAR MESIN DIESEL STATIONER. Bahan baku minyak nabati penghasil biodiesel sangat potensial dan melimpah di Indonesia dalam segi jumlah maupun jenisnya, salah satunya adalah kelapa. Minyak nabati saat ini sedang menjadi pusat perhatian pemerintah dan masyarakat karena mempunyai kandungan minyak yang tinggi dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif mesin diesel yang ramah lingkungan. Dalam pemanfaatannya agar layak digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel, minyak nabati harus diubah menjadi senyawa ester. karena senyawa ester tersebut memiliki kemiripan sifat fisika dengan minyak disel mineral (seperti solar). Pada tulisan ini akan diuraikan uji ketahan mesin menggunakan senyawa ester yang berasal dari minyak kelapa (cocodiesel atau coco methyl ester) yang berlangsung selama 100 jam. Mesin diesel yang digunakan adalah Mitsubishi silinder tunggal dengan daya 27 HP. Mesin dihubungkan dengan generator listrik yang dibebani dengan pemanas (heater). Variabel waktu operasi adalah 0 jam, 50 jam dan 100 jam, dengan parameter yang diuji meliputi konsumsi bahan bakar, output daya generator, opasitas, suhu gas buang dan kondisi pelumas dipantau selama pengujian . Setelah mencapai 100 jam, mesin dibongkar untuk diperiksa keausan/kerusakan komponen mesin dan deposit menggunakan metode metrology-rating. Konsumsi bahan bakar cocodiesel spesifik terendah dicapai pada waktu mesin beroperasi 100 jam dan pada beban 10kW(0,417 kg/kw.jam) dan tertinggi dicapai ketika mesin beroperasi 0 jam (awal) dengan beban 3 kW(1,029 kg/kW.jam). Opasitas (kepekatan asap) yang tertinggi adalah 13,2 % (0 jam pada beban 10 kW) dan terendah adalah 1,3 % (100 jam pada beban 3 kW). Kondisi pelumas mesin menunjukkan bahwa pada saat 50 jam operasi kekentalan pelumas telah menurun tajam dan mencapai batas minimalnya (12 cSt), kemudian kekentalan mencapai kestabilan hingga mesin beroperasi pada 100 jam. Penurunan ini disebakan oleh kelarutan cocodiesel sebanyak 3,5 % pada 50 jam dan 6 % pada 100 jam operasi. Deposit dan sludge yang terbentuk pada ruang bakar dan valve relatif sedikit setelah mesin beroperasi 100 jam. Keausan komponen piston, ring liner dan valve yang terlihat secara visual hampir tidak ada. Fungsi nosel dalam penyemprotan bahan bakar juga masih relatif normal (tidak ada kebocoran, kualitas atomisasi masih bagus dan deposit sedikit)
PENGARUH KADAR AIR DAN JENIS TANAH TERHADAP PENYEDIAAN ARUS SISTEM IMPRESSED CURRENT CATHODIC PROTECTION UNTUK PROTEKSI KOROSI PIPA BAJA
PENGARUH KADAR AIR DAN JENIS TANAH TERHADAP PENYEDIAAN ARUS SISTEM IMPRESSED CURRENT CATHODIC PROTECTION UNTUK PROTEKSI KOROSI PIPA BAJA. Faktor lingkungan yang menjadi salah satu indikator utama terhadap korosi pada tanah adalah resistivitas dan kadar air tanah. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis pengaruh resistivitas dan kadar air tanah terhadap kebutuhan arus proteksi sistem ICCP pada material pipa API 5L Grade B sebagai katoda yang yang diberi variasi coating (coating seluruhnya, tanpa coating dan cacat gores berbentuk persegi dengan luas 500 mm2). Variasi kadar air adalah 0%(kondisi kering) dan 25%. Anoda menggunakan grafit, rectifiernya sebagai penyearah arus dan elektroda referensi Cu/CuSO4 sebagai elektroda acuan. Pengukuran arus proteksi ini dilakukan selama 7 hari dengan pengambilan data setiap hari. Dari hasil penelitian terlihat bahwa dengan bertambahnya kadar air dalam tanah akan menyebabkan nilai resistivitas tanah menurun, karena bertambahnya jumlah air dalam tanah akan mempermudah aliran arus. Nilai resistivitas tanah yang semakin tinggi akan membutuhkan arus proteksi yang rendah karena pada tanah dengan nilai resistivitas tinggi memiliki tahanan yang tinggi (lemah menghantar listrik atau bersifat isolator). Sedangkan dengan kadar air tanah yang tinggi nilai arus proteksi semakin meningkat karena air mempermudah ionisasi elektron dalam tanah sehingga mempermudah aliran aru
KOPOLIMERISASI CANGKOK POLI(KALIUMAKRILAT)- GELATIN HASIL IRADIASI GAMMA
KOPOLIMERISASI CANGKOK POLI(KALIUMAKRILAT)-GELATIN HASIL IRADIASI GAMMA. Hidrogel Super Absorben (HSA) merupakan polimer yang dapat menyerap air dalam jumlah yang relatif besar (± 1000 kali berat kering) dan salah satu baku penting khususnya untuk popok bayi/dewasa. Satu seri HSA dibuat dari asam akrilat yang telah dinetralkan sebagian dengan KOH, lalu dicangkokan (grafting) dengan gelatin pada konsentrasi 1% hingga 4 %(b/v,%) dan diiradiasi menggunakan sinar gamma pada dosis tunggal 10 kGy (laju dosis 2,5 kGy/jam). Terjadi cangkok gelatin pada polimer diukur menggunakan Fourier Transform Infra Red (FT-IR) dan morfologi diobservasi menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM). Fraksi gel dan kemampuan hidrogel dalam mempertahankan air yang diserap (rasio swelling) dan Equilibrium Degree of Swelling (EDS) hidrogel ditentukan dengan metode gravimetri. Hasil evaluasi menggunakan SEM, morfologi permukaan HSA hasil iradiasi menunjukkan terjadi cangkok polimer (kalium akrilat) pada molekul gelatin dan hasil pengukuran spektrum FT-IR menunjukkan gugus karboksilat (COOH) yang bereaksi dengan gelatin.Meningkatnya konsentrasi gelatin hingga 4 %, rasio swelling, fraksi dan EDS hidrogel juga mengalami peningkatan. Hidrogel HSApoli (kaliumakrilat-g-gelatin dapat dipertimbangkan sebagai bahanmaterial kandidat biodegradable hidrogel untuk aplikasi di biang kesehatan/farmasi
PENGARUH HOLDINGTIME PROSES ANNEALING TERHADAP STRUKTURMIKRODAN MORFOLOGI LAPISAN TIPIS BARIUM ZIRKONIUM TITANATE
PENGARUH HOLDINGTIME PROSES ANNEALING TERHADAP STRUKTURMIKRODAN MORFOLOGI LAPISAN TIPIS BARIUM ZIRKONIUM TITANATE. Penumbuhan lapisan tipis Barium Zirconium Titanate (BZT)menggunakan metode Chemical Solution Deposition (CSD) yang disiapkan dengan spin coater telah berhasil ditumbuhkan di atas substrat Si. Variasi holding time proses annealing dilakukan untuk melihat struktur mikro (tingkat kekristalan) menggunakan X-Ray Diffraction (XRD) dan morfologi (ukuran butir) menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM) dari lapisan tipis BZT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi holding timemengakibatkan berubahnya tingkat kekristalan, ketebalan dan ukuran butir lapisan BZT. Tingkat kekristalan makin tinggi seiring dengan bertambahnya holding time yang ditandai dengan makin besarnya intensitas. Tingkat kekristalan tertinggi pada holding time 4 jam yaitu sebesar 80%. Ketebalan lapisan makin tipis seiring dengan bertambahnya holding time. Lapisan tipis BZT dengan holding time 4 jam adalah yang paling tipis yaitu sebesar 570 nm. Ukuran butir bertambah besar seiring dengan bertambahnya holding time karena adanya proses difusi antar butir
SYNTHESIS AND CHARACTERIZATION OF SUPERABSORBENT POLYMER COMPOSITES BASED ON ACRYLIC ACID, ACRYLAMIDE AND BENTONITE
SYNTHESIS AND CHARACTERIZATION OF SUPERABSORBENT POLYMER COMPOSITES BASED ON ACRYLIC ACID, ACRYLAMIDE AND BENTONITE. Superabsorbent polymer (SAP) is a hydrogel material which is capable of absorbing and or storing liquid up to a hundred times of its dry weight. SAP was synthesized from monomers of acrylic acid and acrylamide. Beside that a superabsorbent polymer composite (SAPC) was also made by grafting the SAP with bentonite. The polymerization processes were carried out using a chemical method of a ammonium persulphate (APS) as chemical initiator and N,N-methylene bisacrylamide (MBA) as crosslink forming materials at temperature of 70 oC in the 500 mL round flask. The homogeneity of the mixture was achieved by an adjustable magnetic stirrer. The result of polymer formed was identified using a FT-IR spectroscopy and the characteristic of absorption was studied using demineral water and 0.9 % NaCl solution. The maximum absorption capacity obtained from SAP is 339 g/g in water and 65 g/g in NaCl solution, while the maximum absorption rate obtained from SPAc is 19.43 g/min in water and 7.3 g/min in NaCl solution. It is interesting to note the absorption characteristic of SAP and SAPc above, the SAP is better in capacity of absorption while the SAPC is better in the rate of absorption. This phenomenon is supported by the result of morphology identification of SEM that shows the micro porous structure of SAP is bigger in number but smaller in pore sizes, while the micro porous structure of SAPC is smaller in number but bigger pore sizes
PEMBENTUKAN KOKRISTALANTARAKALSIUM ATORVASTATIN DENGAN ISONIKOTINAMID DAN KARAKTERISASINYA
PEMBENTUKAN KOKRISTALANTARAKALSIUM ATORVASTATIN DENGAN ISONIKOTINAMID DAN KARAKTERISASINYA. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kelarutan dan laju pelarutan atorvastatin dengan menggunakan metode kokristalisasi. Proses kokristalisasi dilakukan dengan metode solvent evaporation, solvent-drop grinding pada atorvastatin dan koformer (isonikotinamid) masing-masing dengan perbandingan 1:1 (satu mol atorvastatin dengan satu mol isonikotinamid digerus selama 15 menit sambil ditambahkan beberapa tetes metanol. Penambahan methanol berfungsi untuk mempercepat pembentukan kokristal. Kokristal dikarakterisasi menggunakan difraktometer sinar-x,mikroskop polarisasi, Scanning Electron Microscope (SEM), spektrometer infra merah dan Differential Scanning Calorimeter (DSC). Difraktogram dari kokristal menunjukkan intensitas puncak yang lebih rendah dibandingkan atorvastatin standar yang menunjukan telah terbentuk habit kristal baru. Hasil spektrometer infra merah, menunjukkan tidak adanya interaksi kimiawi dan perubahan struktur saat dimodifikasi menjadi kokristal. Thermogram DSC menunjukkan adanya perubahan titik leleh berbeda yang menandai adanya bentuk kristalin baru. Demikian juga pengamatan di bawah mikroskop polarisasi dan SEM menunjukkan bentuk kristal yang relatif baru dibandingkan dengan atorvastatin murninya. Hasil uji kelarutan dan laju pelarutan kokristal atorvastatin-isonikotinamida menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan kelarutan dan laju pelarutan atorvastatin sendiri