Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
Not a member yet
    859 research outputs found

    POTENSI BAHAN LOKAL DALAM PENGEMBANGAN MATERIAL MAGNET UNTUK INDUSTRI DI INDONESIA

    No full text
    POTENSI BAHAN LOKAL DALAM PENGEMBANGAN MATERIAL MAGNET UNTUK INDUSTRI DI INDONESIA. Besi, cobalt, Nike] dan rare earth antara lain adalah bahan yang berperan penting dalam industri logam, listrik, elektronik, keramik termasuk industri magnet. Logam-logam ini tersedia luas di tanah air dalam bentuk mineral. Sebagian besar dari sumber ini belum mendapatkan sentuhan eksplorasi yang komprehensif sehingga kurang memiliki nilai tambah dan cenderung di eksploitasi apa adanya. Sebenarnya, besi, kobalt, nikel dan logam tanah jarang adalah material utama dalam industri material magnet. Besi misalnya, baik dalam bentuk senyawa oksidanya maupun dalam bentuk logam murni dapat digunakan untuk pembuatan magnet keramik yang aplikasinya masih mendominasi produk—produk berbagai industri. Demikian juga logam tanah jarang seperti Sm, Nd, Dy dan Pr bersama dengan besi dan cobalt dapat digunakan untuk pembuatan magnet permanen yang memiliki energi ultra tinggi. Dalam makalah ini dibicarakan tentang proses teknologi penggunaan bahan lokal yang berpotensial untuk aplikasi material magnetik. Dua proses utama masing-masing proses konvensional powder metallurgy dan rapid solidfication yang kini masih menjadi dominasi proses dalam industri magnet dibicarakan detail. Sifat sifat kemagnetan yang diperoleh dari kedua proses dibicarakan dalam kaitan perbandingan nilai plus dan minusnya. Teknologi proses perolehan material untuk industri magnet dari mineral alam juga dibicarakan

    SINTESIS LiPO3 SEBAGAI BASIS GELAS UNTUK PEMBUATAN KONDUKTOR SUPERIONIK

    Get PDF
    SINTESIS LiPO3 SEBAGAI BASIS GELAS UNTUK PEMBUATAN KONDUKTOR SUPERIONIK. Telah disintesis bahan LiPO3 sebagai bahan gelas baru untuk konduktor superionik. Karakterisasi yang dilakukan pada bahan gelas ini adalah pengukuran struktur kristal menggunakan X-Ray Diffractometer, sifat termal dengan Differential Thermal Analysis - Thermal Gravimetric Analysis (DTA-TGA), dan pengukuran konduktivitas ionik menggunakan Impedance Spectroscopy (LCRmeter). Pola difraksi sinar-x LiPO3 pada suhu ruang menunjukkan satu puncak lebar yang menandakan gelas LiPO3 bersifat amorf. Analisis dengan DTA menunjukkan suhu gelas transisi, Tg, terjadi pada sekitar suhu 327,4 oC. Sementara suhu kristalisasi (Tx) terjadi pada suhu 496,5 oC dan suhu melting (Tm) pada 645,6 oC. Termogram TGA menunjukkan kestabilan termal hingga pemanasan 700 oC dan tidak terjadi dekomposisi. Data konduktivitas DC LiPO3 adalah 2 x 10-8 S/cm, mirip dengan data konduktivitas DC AgPO3. Hasil ini menunjukkan LiPO3 adalah gelas yang bersifat isolator. Disimpulkan bahwa LiPO3 dapat digunakan sebagai basis gelas untuk pembuatan konduktor superionik

    STUDI KARAKTERISTIK FEROMAGNETIK MODEL HEISENBERG SPIN 1/2 ID MENGGUNAKAN ANSATZ BETHE I

    No full text
    STUDI KARAKTERISTIK FEROMAGNETIK MODEL HEISENBERG SPIN 1/2 ID MENGGUNAKAN ANSATZ BETHE I. Secara teoritik studi tentang spin 1/2 feromagnetik model Heisenberg telah diamati dengan menggunakan Ansatz Bethe I. Pada dasamya kami mencoba memprediksi secara kuantitatif dinamika dari dua spin yang bertetangga. Di sini kami melihat karakteristik dari energi dispersi dari dua magnon dalam keadaan terikat

    MAGNETIC PROPERTIES OF THE TWO-LEG ZIG-ZAG LADDER IN QUANTUM SPIN SYSTEM NH4CuCl3

    No full text
    MAGNETIC PROPERTIES OF THE TWO-LEG ZIG-ZAG LADDER IN QUANTUM SPIN SYSTEM NH4CuCl3. Numerical analysis of the two-leg zig-zag ladder as a single chain with next-nearest neighbour interactions has been formulated by Cabra (1999) with the following Hamiltonian: Other formulation for two leg zig-zag ladder with dimmerized chains and coupling between the chains is as follow : From these formulations, we study the closing of the gap at zero magnetization by means of the fine—tuning mechanism and disappreance of the 1/2 plateau (gap) at finite by alternating dimerization of the chains along the rungs. We also described NH4CuCl3 under high magnetic fields in a two-leg system

    VARIASI BASA PADA PEMBENTUKAN NANO PARTIKEL MAGNETIK OKSIDA BESI

    Get PDF
    VARIASI BASA PADA PEMBENTUKAN NANO PARTIKEL MAGNETIK OKSIDA BESI. Nanopartikel magnetik oksida besi dapat terbentuk dalam proses presipitasi campuran garam Fe(II)/Fe(III) oleh basa. Dalam penelitian ini variasi jenis basa yang digunakan adalah NaOH, NH3 dan TMAOH (Tetramethyl Ammonium Hydroxide).Magnetisasi saturasi,Ms, tertinggi diperoleh pada oksida besi hasil presipitasi dengan basa TMAOH yaitu 82,2 emu/g, dengan fraksi massa Fe3O4 79,43 %, dan ukuran butir 12,52 nm. Ukuran butiran terkecil diperoleh pada oksida besi hasil presipitasi dengan basa NaOH yaitu 9,34 nm dengan magnetisasi saturasi, Ms, 73,8 emu/g

    EFEKTIFITAS FOTOKATALIS TiO2 YANGDIKOMPOSITKAN DENGAN KARBONAKTIF DAN PRECIPITATED CALCIUM CARBONAT DALAM MENURUNKAN CHROM DARI LIMBAH INDUSTRI ELEKTROPLATING

    Get PDF
    EFEKTIFITAS FOTOKATALIS TiO2 YANGDIKOMPOSITKAN DENGAN KARBONAKTIF DAN PRECIPITATED CALCIUM CARBONAT DALAM MENURUNKAN CHROM DARI LIMBAH INDUSTRI ELEKTROPLATING. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas penurunan logam chrom (Cr) yang berasal dari limbah cair industri elektroplating, menggunakan fotokatalisis TiO2 yang dikompositkan dengan material karbon aktif dan Precipitated Calcium Carbonat (PCC). Percobaan dilakukan dalam sebuah reaktor batch yang dilengkapi dengan sejumlah lampu ultra violet dan pengaduk magnetik. Katalis, adsorban dan nanokomposit diuji aktivitasnya menggunakan 100 mg/L Cr (VI) yang berasal dari limbah elektroplating. Pengujian dilakukan dengan cara penambahan TiO2 , adsorban PCC dan karbon aktif, TiO2-PCC dan TiO2-karbon aktif terhadap reduksi Cr (VI). Penurunan Cr (VI) dianalisis dengan menggunakan Atomic Absorbent Spectrophotometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reduksi Cr (VI) dengan menggunakan TiO2 sebesar 66 %dicapai setelah 150 menit, sedangkan dengan menggunakan adsorban sebesar 56 %dan 36 %untuk karbon aktif dan PCC masing-masing pada menit ke 90 dan ke 120. Penggunaan nanokomposit TiO2-karbon aktif 100 % Cr (VI) tereduksi sempurna pada menit ke 150 sedangkan penggunaan nanokomposit TiO2-PCC Cr (VI) membutuhkan waktu lebih lama untuk tereduksi sekitar 95 % yaitu dicapai pada menit ke 300. Dari hasil uji aktivitas katalis menggunakan air limbah Cr (VI), diketahui bahwa penggunaan karbon aktif dan PCC yang dikompositkan dengan TiO2 dapat meningkatkan aktivitas katalis, namun penggunaan karbon aktif lebih efektif dibanding PCC

    STATUS PENELITIAN BAHAN GIANT MAGNETORESISTANCE PADUAN LOGAM TANAH JARANG DI P3IB BATAN

    No full text
    STATUS PENELITIAN BAHAN GIANT MAGNETORESISTANCE PADUAN LOGAM TANAH JARANG DI P3IB BATAN. Penelitian bahan Giant Magnetoresistance (GMR) - suatu bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai sensor magnetik maupun perekam data magnetik- berbasis Logam Tanah Jarang(LTJ) di P3IB-BATAN telah dimulai sejak tahun 1998 dengan objek studi paduan (Sm,La)Mn2Ge2. Dari studi tersebut telah berhasil disintesis suatu paduan yang memiliki rasio Magneto-Resistance (MR) meneapai 66% pada suhu ruang setelah perlakuan sintering. Diketahui bahwa ukuran butiran, densitas cuplikan mempengaruhi rasio Magnetoresistance (MR) bahan. Selanjutnya studi dilakukan melalui program Riset Unggulan Terpadu Vl yang berakhir tahun 2001 pada paduan (Sm,Y)Mn2Ge2 dan (Sm,Gd)Mn2Ge2 dalam bentuk pelet dan film tipis. Dari studi tersebut diketahui bahwa pengaruh ukuran butiran pada cuplikan pelet mampu meningkatkan harga rasio MR sebesar 45%. Pada cuplikan pelet harga rasio MR yang besar diduga berkaitan dengan roughness/kekasaran dari pennukaan sehingga kontribusi bulkscattering menjadi sangat dominan. Studi simulasi dengan model magnetic granular pada berbagai paduan ini. menunjukkan hal tersebut. Sedangkan pada cuplikan film tipis dimana faktor , roughness sangat berkurang diketahui peranan under layer Ag dan Cu serta proses sintering yang berkaitan dengan ukuran butiran pada tingkat mikro bahkan nanometer temyata dapat mengoptimalkan harga rasio Magnetoresistance (MR) sampai rasio MR sekitar 6%. Pengukuran sifat GMR dilakukan dengan peralatan four point probe sampai dengan medan magnet luar 2 Tesla

    KARAKTERISTIK PENYUSUTAN RAPAT ARUS KRITIS YBa2Cu3O7-x DALAM LINGKUNGAN MEDAN MAGNET

    Get PDF
    KARAKTERISTIK PENYUSUTAN RAPAT ARUS KRITIS YBa2Cu3O7-x DALAM LINGKUNGAN MEDAN MAGNET. Karakteristik penyusutan rapat arus kritis (Jc) superkonduktor YBa2Cu3O7-x hasil proses pelelehan telah diteliti. Penghitungan Jc sampel dilakukan dengan mengukur bahan menggunakan Superconducting Quantum Interference Device (SQUID) dalam rentang medan magnet luar (H) dari 0 kOe sampai dengan 20 kOe pada suhu 5 K dan 77 K. Suhu transisi kritis Tc cuplikan adalah 90,3 K dan dari kurva fitting diperoleh Jc0 pada suhu 5 K dan 77 K berturut-turut adalah 4,0 x 104 A.cm-2 dan 3,3 x 104 A.cm-2. Konstanta a pada suhu 5 K dan 77 K berturut-turut adalah 3,5 dan 1. Rapat gaya pinning maksimum (Fpmaks) cuplikan pada suhu 5 K dan 77 K berturut-turut adalah 4,2 × 108 N.m-3 dan 2,1 × 108 N.m-3. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Jc bahan berkurang seiring dengan meningkatnya medan magnet luar H. Karakteristik penyusutan Jc terhadap medan magnet ini secara umum bersesuaian dengan fenomena flux creep berdasarkan model J. Horvat dan kawan-kawan. Faktor-faktor terpenting dalam memahami karakteristik penyusutan Jc ini adalah antara lain adanya energi bebas Gibbs, rapat gaya Lorentz, flux creep dalam vortex, arus vortex dan suhu yang diterapkan

    KEMAGNETAN HOLMIUM(III)OKSIDA DALAM MICROSPHERE POLILAKTAT

    Get PDF
    KEMAGNETAN HOLMIUM(III)OKSIDA DALAM MICROSPHERE POLILAKTAT. Kemagnetan holmium (III) oksida (Ho2O3) yang terkungkung dalam microsphere berbasis polimer biodegrable polilaktat (PLA) telah diuji menggunakan Vibrating Sample Magnetometer (VSM). Pengungkungan Ho2O3 dalam microsphere PLA dilakukan dengan metode penguapan pelarut dalam air. Microsphere dengan komposisi kandungan Ho2O3 terhadap PLA 0 ~ 20% berat dipersiapkan sebagai sampel uji. Bentuk dan ukuran microsphere dikonfirmasi menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM). Ukuran rata-rata microsphere PLA berisi Ho2O3 sekitar 30 μm. Keberadaan dan kandungan Ho2O3 dalam microsphere dapat dipastikan berdasarkan kurva histeresis hasil pengukuran VSM yang menunjukkan struktur paramagnetik. Respon kemagnetan Ho2O3 dalam microspheremeningkat seiring dengan peningkatan komposisinya. Persentase kemagnetan Ho2O3 dalam microsphere terhadap Ho2O3 murni sebanding dengan komposisinya, hal ini menunjukkan kemagnetan Ho2O3 tidak dipengaruhi oleh PLA sebagai pengungkungny

    KINERJA PROTEKSI ANODIK BAJA ASTM A 516-60 DAN JIS G 3131-SPHC DALAM ASAM SULFAT PEKAT.

    No full text
    KINERJA PROTEKSI ANODIK BAJA ASTM A 516-60 DAN JIS G 3131-SPHC DALAM ASAM SULFAT PEKAT. Salah satu cara untuk melindungi haja karbon dari serangan korosi asam sulfat adalah proteksi anodik. Pada penelitian ini ditekankan untuk mengkaji dan meneliti efek proteksi anodik yang dipercepat dengan metoda polarisasi potensial. Material yang diteliti adalah baja ASTM A 516-60 dan baja JIS G 3131—SPHC dalam larutan pekat H2S04. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa potensial proteksi untuk baja ASTM A 516-60 yang baik masing-masing pada 236 — 436 mV untuk 75%, 276-476 mV untuk 80%, 264-514 mV untuk 85%, 285-485 mV untuk 90%, dan 231-431 mV untuk 97% H2SO4., sedangkan untuk baja JIS G 3131-SPHC masing-masing pada 303-503 mV untuk 75%, 290-490 mV untuk 80%, 269-516 mV untuk 85%, 264-514 mV untuk 90%, dan 287-487 mV untuk 97% H2S04

    726

    full texts

    859

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇