Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
Not a member yet
859 research outputs found
Sort by
MATERIAL MAGNETIK BARIUM HEKSAFERIT TIPE-M UNTUK MATERIAL ANTI RADAR PADA FREKUENSI S-BAND
MATERIAL MAGNETIK BARIUM HEKSA FERITTIPE-M UNTUK MATERIAL ANTI RADAR PADA FREKUENSI S-BAND.Dalam makalah ini dibahas preparasi dan evaluasi karakteristik senyawa material penyerap (absorber) gelombang mikro dengan komposisi BaFe12-2x MnxTixO19 (x = 0,0 hingga 1,5) yang diperoleh melalui proses subsitusi senyawa dasar barium heksaferit (BaO.6Fe2O3) melalui alur pemaduan mekanik (mechanical alloying). Pembentukan fasa material penyerap diawali dengan substitusi ion Mn dan ion Ti terhadap ion Fe dalam komponen material Fe2O3 pada suhu 1.300 oC. Material hasil substitusi dipadukan secara mekanik dengan komponen BaCO3 untuk membentuk fasa heksaferit tipe-M setelah reaksi padat. Identifikasi puncak difraksi sinar-X dari material hasil pemaduan mekanik ini menunjukkan secara meyakinkan bahwa telah terbentuk material fasa tunggal BaFe12-2x MnxTixO19. Evaluasi material mencakup ukuran rata-rata butir dan karakteristik serapan gelombang mikro pada rentang frekuensi 1 GHz hingga 6 GHz. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa terjadi serapan gelombang pada frekuensi ~ 2.000MHz dan ~ 3.500MHz dengan koefisien refleksi yang relatif tinggi pada rentang frekuensi yang tersedia. Keberadaan ion Mn dan ion Ti mampu memperlebar frekuensi serapan terutama pada daerah 3.500 MHz
PENGEMBANGAN ELASTOMER TERMOPLASTIK BERBASIS KARET ALAM DENGAN POLIETILEN DAN POLIPROPILEN UNTUK BAHAN INDUSTRI
PENGEMBANGAN ELASTOMER TERMOPLASTIK BERBASIS KARET ALAM DENGAN POLIETILEN DAN POLIPROPILEN UNTUK BAHAN INDUSTRI.Telah dilakukan penelitian pengembangan elastomer termoplastik (ETP) berbasis karet alam untuk penggunaan industri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk dapat mengembangkan produk ETP yang telah dihasilkan dari karet alam menjadi bahan yang unggul dan dapat diterima oleh industri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan proses blending antara ETP berbasis karet alam dengan polietilen (PE) dan ETP dengan polipropilen (PP). Proses blending dilakukan pada suhu 160 oC untuk PE dan 200 oC untuk PP, waktu 10 menit dan putaran 30 rpm. Variasi komposisi PE dan PP yang digunakan adalah 40 % berat, 50 % berat, 60 % berat dan 70 % berat. Karakterisasi cuplikan yang dilakukan meliputi sifat mekanik, sifat fisik dan strukturmikro. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa uji mekanik campuran ETP dengan PE dan ETP dengan PP semakin meningkat sebanding dengan kenaikan kandungan PE maupun PP. Campuran ETP dengan PP mempunyai sifat mekanik, fisik dan termal yang lebih baik dibandingkan campuran ETP dengan PE. Suhu degradasi campuran ETP dengan PE dan campuran ETP dengan PP masing-masing sebesar 400 oC dan 500 oC
THE MICROSTRUCTURES OF HYDROXYAPATITE POWDER FROM PRECIPITATION METHOD IN DIFFERENT SOLUTION
THE MICROSTRUCTURES OF HYDROXYAPATITE POWDER FROM PRECIPITATION METHOD IN DIFFERENT SOLUTION. Biomaterial is conceptually defined as a bioactive material which can undergo chemical reactions in the body only at its surface and the surface reactions lead to bonding of the tissues at the interface. From the requirements point of view, one of the prospective biomaterials is hydroxyapatite sometimes called hydroxylapatite (HA) with a chemical formula of Ca10(PO4)6(OH)2. In the present study we used calcium hydroxide and phosphoric acid as the Ca2+ and PO4 3- source, while water and synthetic body fluid (SBF) solutions as parameter. Microstructure characterization of the synthesized HA powders was performed using Scanning/Scanning Transmission Electron Microscopy (SEM/STEM) and Fourier Transformed Infra Red (FT-IR) Spectrometry. From the micrographs, it shows that the HApowder from water solution has a rounded shape and the diameter of about 100 nm. The other HA powder using SBF solution shows needle like shape and the elongation is about 50-100 nm. Different powder drying method applied in the HA synthesizing exhibit difference micrographs especially for HA from SBF
KARBURASI BAJA ST 40 DENGAN TEKNIK SPUTTERING
KARBURASI BAJA ST 40 DENGAN TEKNIK SPUTTERING. Telah dilakukan karburasi baja ST 40 dengan teknik sputtering. Karburasi bertujuan untuk memperbaiki sifat-sifat mekanik permukaan khususnya peningkatan kekerasan permukaan. Dalam proses karburasi dengan teknik sputtering, material yang dikarburasi ditempatkan dalam reaktor plasma dengan tekanan rendah (vakum) dan gas argon dialirkan ke dalam reaktor plasma serta diplasmakan dengan tegangan DC untuk men-sputter sumber karbon dari grafit. Atom- atom karbon dari grafit yang ter-sputter dideposisikan pada baja sehingga terjadi proses karburasi. Karburasi dilakukan dengan variasi suhu dan waktu untuk mendapatkan hasil yang optimal. Hasil karburasi didapatkan kekerasan maksimum sebesar 919, 65 KHN atau dengan persentase kenaikan kekerasan sebesar 365 % dari kekerasan awal (197,54 KHN) yang dicapai pada waktu karburasi 3 jam dan suhu 300 0C. Kedalaman karburasi didasarkan pada pengujian kekerasan mikro penampang melintang didapatkan antara 100 µm sampai dengan 150 µm
PENGEMBANGAN MODEL MATEMATIKA PERPINDAHAN PANAS PADA KENTANG SELAMA PROSES PEMASAKAN
PENGEMBANGAN MODEL MATEMATIKA PERPINDAHAN PANAS PADA KENTANG SELAMA PROSES PEMASAKAN. Produk/bahan pertanian tidak semuanya dapat langsung dikonsumsi, oleh karena itu agar produk tersebut dapat dikonsumsi, maka perlu perlakuan pemasakan. Teknologi pemasakan melibatkan pengetahuan perpindahan panas dan perubahan fisikawi dan kimiawi produk/bahan akibat pemanasan. Pada pemanasan produk/bahan pangan sering dijumpai masalah yang berkaitan dengan pengontrolan suhu dalam menghasilkan keluaran yang optimal. Faktor yang paling penting dalam pengolahan bahan makanan adalah kenaikan suhu yang dikenakan pada bahan dan lamanya proses pemanasan. Lama pemanasan dan suhu pemanas akan merubah sifat bahan dari mentah menjadi matang, dimana untuk perubahan tersebut diperlukan sejumlah panas yang besarnya berbeda-beda tergantung dari produknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model matematika perpindahan panas pada produk pertanian berbentuk bola pejal selama proses pemasakan tanpa mempertimbangkan panas/energi yang diperlukan untuk merubah sifat fisik dan kimiawi bahan, serta menguji validitas dan kepekaan model. Bahan yang digunakan kentang, diasumsikan berbentuk bola, perambatan panas hanya terjadi pada arah radial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh perpindahan panas konveksi pada permukaan lebih besar daripada pengaruh perpindahan panas konduksi dalam bahan. Laju perubahan suhu bahan dipengaruhi oleh suhu media. Dari uji validitas model diperoleh hasil bahwa model perambatan panas konduksi satu dimensi dengan kondisi batas konveksi dan salah satu sisinya diisolasi, serta suhu awal konstan, dapat memprediksi dengan baik distribusi suhu pada berbagai posisi dalam kentang. Sedangkan dari uji kepekaan model, variabel masukan yang peka terhadap perubahan suhu bahan secara berurutan adalah suhu media pemasak, diameter bahan, dan suhu awal bahan
PENGARUH KANDUNGAN Co TERHADAP SIFAT OPTIK FILM TIPIS TiO2-Co YANG DITUMBUHKAN DENGAN METODE MOCVD
PENGARUH KANDUNGAN Co TERHADAP SIFAT OPTIK FILM TIPIS TiO2-Co YANG DITUMBUHKAN DENGAN METODE MOCVD. Film tipis TiO2-Co telah ditumbuhkan di atas substrat Si (100) tipe-n dengan metode metalorganic Chemical Vapor Deposition (MOCVD), menggunakan Titanium (IV) isopropoxide (Ti(OCH(CH3)2)4 dan tris (2,2,6,6-tetra methyl-3, 5-heptanedionato) cobalt (III) [Co(TMHD)3), masing-masing dengan kemurnian 99,99% dan 99% sebagai prekursor metal organik. Tetrahydrofuron (THF) digunakan sebagai pelarut bahan prekursor. Sifat optik dari filmtipis TiO2-Co sebagai fungsi dari kandungan Co telah diinvestigasi menggunakan metode spektroskopi reflektansi pada rentang 200 nm hingga 2400 nm. Hasil karakterisasi secara optik menunjukkan bahwa bertambahnya konsentrasi Co akan menurunkan energi band-gap (Eg) dan indek bias (n) dari film tipis TiO2-Co tersebut. Kurva histeresis yang diperoleh melalui pengukuran VSMmemiliki nilai koersivitas dan saturasi magnetik, masing-masing sebesar 100 Oe dan 280 emu/cm3. Sehingga dapat disimpulkan bahwa film tipis yang dihasilkan pada penelitian ini bersifat soft ferromagnetic, yang sangat potensial untuk diaplikasikan dalam teknologi spintronik
PENGARUH UKURAN BUTIR TERHADAP RASIO MAGNETORESISTANCE PADA PADUAN La0,67Ca0,33Mn0,93Ti0,07O3
PENGARUH UKURAN BUTIR TERHADAP RASIO MAGNETORESISTANCE PADA PADUAN La0,67Ca0,33Mn0,93Ti0,07O3. Telah dilakukan sintesis dan karakterisasi Giant Magnetoresistance pada paduan La0,67Ca0,33Mn0,93Ti0,07O3. Sintesis bahan La0,67Ca0,33Mn0,93Ti0,07O3 menggunakan metode reaksi padatan (solid state method) dari oksida-oksida penyusun La2O3, CaCO3, MnO2, dan TiO2 dengan perbandingan stokiometri unsur La : Ca : Mn : Ti = 0,67 : 0,33 : 0,97 : 0,07. Campuran ini dimilling selama 12 jam dan dilakukan proses pemanasan pada suhu 1350 oC selama 6 jam. Bahan ini kemudian dimilling kembali dengan variasi milling 5 jam, 10 jam, 15 jam, 20 jam dan 25 jam dan dilakukan proses pemanasan ulang pada suhu 1100 oC selama 24 jam. Hasil pengukuran dengan difraksi sinar-X (XRD) menunjukkan bahwa sintesis bahan La0,67Ca0,33Mn0,93Ti0,07O3 memiliki fasa tunggal (single phase) dengan struktur kristal ortorombik, space group Pnma (I-62) dan parameter kisi a = 5,474(2) b = 7,727(3) dan c = 5,477(2). Hasil pengukuran menggunakan EDAX menunjukkan bahwa bahan inimemiliki kualitas yang cukup baik dengan komposisi unsur La : Ca : Mn : Ti : O = 15,13 % : 8,28 % : 18,18 % : 1,58 % : 56,33 %. Hasil foto dengan Scanning Electron Microscope (SEM) menunjukkan bahwa butir-butir kristal berbentuk bulat-bulat hampir homogen di seluruh permukaan sampel dengan ukuran butiran sekitar 1000 nm hingga 4000 nm, 250 nm hingga 2000 nm, 250 nm hingga 1000 nm, 250 nm hingga 500 nm, 100 nm hingga 250 nm berturut-turut untuk milling 5 jam, 10 jam, 15 jam, 20 jam, 25 jam. Pada sampel La0,67Ca0,33Mn0,93Ti0,07O3 ini memiliki rasio magnetoresistance cukup besar dengan rasio dρ/ρ sebesar 14,7 %, 18,0 %,24,5 %, 30,8 % 35,2 % dan 44,6%. Telah diperoleh paduan giant magnetoresistance La0,67Ca0,33Mn0,93Ti0,07O3 dengan kualitas yang cukup baik dan ukuran butir sangat mempengaruhi besarnya rasio magnetoresistance hingga 3 kali lipat dari sebelumnya. Peningkatan rasio magnetoresistance pada paduan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan paduan ini untuk aplikasi selanjutnya terutama pada sifat sensitivitasnya
EFEK TERMAL DAN BAHAN PENGGANDENG (COUPLING AGENT) SILANE TERHADAP KESTABILAN MEKANIK BAHAN KOMPOSIT POLIESTER DENGAN PENGISI PARTIKULIT SiC
EFEK TERMAL DAN BAHAN PENGGANDENG (COUPLING AGENT) SILANE TERHADAP KESTABILAN MEKANIK BAHAN KOMPOSIT POLIESTER DENGAN PENGISI PARTIKULIT SiC. Telah dilakukan pembuatan dan kajian kestabilan mekanik bahan komposit poliester dengan pengisi partikulit SiC (dengan dan tanpa pelapisan Silane) dengan variasi konsentrasi 2,5%v/v, 5,0%v/v, 7,5%v/v, 1,0%v/v dan 12,5 %v/v. Kestabilan mekanik dilakukan pada suhu 30 oC, 60 oC, 90 oC dan 150 oC untuk komposisi SiC 7,5%v/v. Hasil menunjukkan peningkatan ikatan adesi antar muka (interface) matriks poliester dengan pengisi partikulit SiC oleh bahan penggandeng (coupling agent) silane dapat meningkatkan nilai tensile strength dan modulus elastisitas untuk konsentrasi SiC hingga 7,5%v/v silane sebagai bahan penggandeng dapatmeningkatkan nilai tensile strength (σ), sebesar 2,11 MPa dan nilai modulus elastisitas (E) sebesar 0,60 MPa dari bahan komposit poliester dengan partikulit SiC (7,5 %v/v). Bahan komposit tersebut telah mengalami perbaikan ikatan adesi antar muka dengan bahan silane mengalami penurunan nilai tensile strength yang lebih kecil pada suhu pemanasan antara 30 oC hingga 150 oC dibanding dengan pengisi SiC tanpa silane. Hal ini menunjukkan komposit poliester dengan SiC (7,5 %v/v) + silane mempunyai kestabilan mekanik yang lebih baik pada perlakuan pemanasan
DEVELOPMENT OF MATERIALS PROCESSING USING MAGNETIC FIELD
DEVELOPMENT OF MATERIALS PROCESSING USING MAGNETIC FIELD. The magnetism, the well-known physical phenomena, has been applied for developing the magnetic materials and devices. To improve the performance of the magnetic materials is obviously important issue in engineering until now. Since the cryogen-free superconducting magnets enable us to impose the relatively high magnetic field such as 10T in the room temperature bore with diameter from 50 mm to 300 mm for weeks, different attempts using the magnetism have been proposed for developing materials processing. The responses of the paramagnetic and the diamagnetic materials to the high magnetic field are often detectable. The high magnetic field has potential to control the micro structure of the ferromagnetic, the paramagnetic and the diamagnetic materials. Therefore, electromagnetic processing of materials (EPM) using the high magnetic field has been realized as a unique technique for controlling the microstructure. The high magnetic field was used to achieve the crystallographically aligned structure, to produce the regular structure in which one phase is regularly aligned in the matrix, to develop the containerless processes by the magnetic levitation and so on. In this paper, the principle of EPM is briefly explained. Then, some applications of the high magnetic field to the materials processing are presented; (1) the crystallographically aligned structure of the Bi-Mn system and (2) the regular structure formation in the Al-In monotectic alloys
APLIKASI MAGNETIK KOPLING DENGAN TEGANGAN INJEKSI DC TERKONTROL MENGGUNAKAN MIKROKONTROLER AT89S51 SEBAGAI PENGATUR KECEPATAN MOTOR INDUKSI SATU FASA
APLIKASI MAGNETIK KOPLING DENGAN TEGANGAN INJEKSI DC TERKONTROL MENGGUNAKAN MIKROKONTROLER AT89S51 SEBAGAI PENGATUR KECEPATAN MOTOR INDUKSI SATU FASA. Motor merupakan alat yang sangat diperlukan untuk menggerakkan berbagai peralatan baik yang sifatnya ringan maupun berat, dengan kecepatan tinggi atau rendah sesuai dengan yang kita kehendaki. Banyak kontrol yang digunakan untuk mengendalikan kecepatan motor listrik. Namun biasanya menghadapi berbagai masalah diantaranya harga dari alat kontrolnya mahal, perawatannya susah, membutuhkan kondisi ruang yang dingin, selain itu untuk motor induksi hanya memiliki range kecepatan yang cukup kecil sehingga untukmendapatkan range kecepatan yang lebar perlu cara lain untuk mengontrolnya. Untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan kontrol kecepatan motor menggunakan magnetik kopling. Prinsip pengaturan motor ini adalah dengan kopling magnet yang diletakkan pada output poros motor. Output poros motor diberi kopel yang tidak menyambung satu dengan yang lain kemudian dikopling dengan magnet listrik yang dikendalikan menggunakan tegangan dc penyearah terkontrol (rectifier terkontrol) sehingga kecepatan output tersebut dapat dikendalikan dengan mengatur besar kecilnya kekuatan magnet. Penyearah terkontrol yang digunakan dengan kendali SCR (Silicon Controlled Rectifier) yang diatur dengan sudut picu. Pemicuan yang digunakan adalah denganmenggunakan deteksi fasa (Zero Crossing Detector) untukmeng-on-kan thyristor yaitu tegangan anoda lebih besar dari katoda, sehingga besarnya tegangan keluaran akan dapat dikontrol sesuai besarnya sudut picu dengan mikrokontroler AT89S51. Alat ini dibuat dengan sistem open loop, kecepatan output poros kopel ke motor diambil dengan sensor kecepatan (optocoupler) untuk ditampilkan dalamseven segment kecepatan (tachometer) berbasis mikrokontroler AT89S51 sebagai tampilan nilai kecepatan yang dikontrol