Repositori Universitas Alma Ata Yogyakarta
Not a member yet
3932 research outputs found
Sort by
STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PENANAMAN NILAI KARAKTER RELIGIUS DI SD IT BINA ANAK ISLAM KRAPYAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi guru Pendidikan Agama Islam
(PAI) dalam menanamkan nilai-nilai karakter religius pada siswa di SD IT Bina
Anak Islam Krapyak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan
metode pengumpulan data melalui wawancara dengan guru PAI, kepala sekolah,
dan siswa kelas lima, serta observasi terhadap kegiatan pembelajaran dan aktivitas
keagamaan di sekolah, dan dokumentasi program religius.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI menerapkan strategi sistematis yang
mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Aspek kognitif diwujudkan
melalui pemberian pemahaman ajaran Islam secara mendalam melalui penjelasan
dan diskusi interaktif. Aspek afektif ditanamkan melalui keteladanan dan dukungan
emosional, sedangkan aspek psikomotorik diaplikasikan dalam bentuk praktik
ibadah dan kegiatan keagamaan lainnya. Peran guru PAI sangat krusial, tidak hanya
sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing spiritual dan moral. Faktor-faktor
pendukung keberhasilan strategi ini meliputi kualitas pribadi guru, metode
pembelajaran yang partisipatif, serta dukungan lingkungan sekolah dan orang tua.
Adapun faktor penghambat yang diidentifikasi antara lain kurangnya konsistensi
penanaman nilai religius di lingkungan keluarga, pengaruh negatif dari lingkungan
luar, serta perilaku menyimpang siswa seperti bullying dan kekerasan seksual.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan penanaman nilai karakter religius
sangat dipengaruhi oleh keteladanan guru, penggunaan metode pembelajaran yang
interaktif, serta keterlibatan aktif seluruh elemen sekolah dan keluarga dalam
menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan karakter religius siswa
secara berkelanjutan
Kata Kunci : Pendidikan Agama Islam dan Nilai Karakter Religiu
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. O G1P0A0Ah0 DENGAN FAKTOR RESIKO TINGGI USIA >35 TAHUN DI PUSKESMAS KOKAP I
Latar Belakang : Kehamilan risiko tinggi merupakan kondisi yang dapat
membahayakan keselamatan ibu dan anak. Penyebabnya usia 35
tahun, anak lebih dari 4, jarak persalinan kurang dari 2 tahun, tinggi badan <145
cm, memiliki riwayat penyakit dari keluarga seperti hipertensi, diabetes, kelainan
bentuk tubuh. AKI di Indonesia banyak disebabkan oleh komplikasi pada masa
kehamilan, persalinan, dan nifas.
Tujuan : Memberikan asuhan komperehensif kepada Ny. O usia 36 tahun
G1P0A0Ah0 dengan faktor resiko tinggi usia > 35 tahun dan Obesitas, dari
kehamilan, persalinan, nifas, BBL, dan keluarga berencana.
Metode Penelitian : Penelitian menggunakan observasional deskriptif dengan
pendekatan studi kasus. Subyek penelitian Ny. O usia 36 tahun G1P0A0 dengan
Obesitas, Usia >35 tahun, dan Suspek DKP. Dilakukan di Puskesmas Kokap I dan
RSU Queen Latifa Kulon Progo. Asuhan dilakukan sejak UK 31
minggu sampai
KB. Peneliti memberikan asuhan menggunakan instrument buku KIA, lembar
observasi, dan buku saku.
Hasil : Asuhan dilakukan dari hamil UK 31
+4
minggu, kehamilan 5x kunjungan,
persalinan 1x, nifas 3x dan BBL 2x, dan Keluarga Berancana 1x. Pemeriksaan
kehamilan pada UK 31
+4
minggu dengan letak lintang. Persalinan dilakukan sectio
caesarea atas indikasi Suspek DKP, BB bayi baru lahir 3055 gr, PB 46 cm, telah
terpasang KB IUD post SC, masa nifas post SC dan tidak terdapat komplikasi.
Kesimpulan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan komperehansif pada Ny. O,
pada kehamilan ibu mengalami obesitas, persalinan SC indikasi DKP, nifas post
SC, BBL normal, dan ibu memutuskan menggunakan KB IUD post plasenta.
Kata Kunci : usia >35 tahun, resiko tinggi, asuhan komperehensif, Obesitas
+
ANALISIS KINERJA TATA KELOLA TEKNOLOGI INFORMASI PADA PERPUSTAKAAN KOTA YOGYAKARTA MENGGUNAKAN FRAMEWORK COBIT 5.0
Pemanfaatan teknologi informasi dalam organisasi, termasuk lembaga pemerintahan sangat penting
untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan. Perpustakaan Kota Yogyakarta menggunakan
teknologi informasi dalam berbagai aspek operasionalnya, sehingga diperlukan analisis tata kelola
teknologi informasi untuk memastikan optimalisasi pemanfaatannya. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis kinerja tata kelola teknologi informasi pada Perpustakaan Kota Yogyakarta
menggunakan Framework COBIT 5.0 dengan fokus pada domain Deliver, Service and Support
(DSS) dan Monitor, Evaluate and Assess (MEA). Metode penelitian yang digunakan adalah metode
deskriptif kualitatif, dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi serta kuesioner.
Analisis dilakukan untuk mengukur tingkat kapabilitas (Capability level) dari domain DSS dan
MEA serta mengidentifikasi kesenjangan (GAP) antara kondisi saat ini (as is) dan kondisi yang
diharapkan (to be). Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat dari lima domain berada pada level
4 atau 3, dengan GAP sebesar 1 level dari target yang diharapkan. DSS01, MEA02 dan MEA03
menunjukkan proses yang berjalan cukup konsisten, namun masih diperlukan peningkatan dalam
hal inovasi, dokumentasi dan audit kepatuhan. Sementara itu, domain DSS02 dan MEA01 masih
membutuhkan perbaikan dalam dokumentasi serta prosedur evaluasi insiden dan kinerja sistem.
Penelitian ini memberikan rekomendasi strategis yang bertujuan memperkuat tata kelola teknologi
informasi pada Perpustakaan Kota Yogyakarta secara berkelanjutan di masa yang akan datang.
Kata kunci: Tata kelola teknologi informasi, COBIT 5.0, Capability level, Process Assessment
Model, GAP
PERSEPSI MAHASISWA PROGRAM STUDI GIZI DI YOGYAKARTA TERHADAP PELAYANAN GIZI BERBASIS GEN
Latar Belakang : Penyakit Tidak Menular (PTM) menjadi penyebab utama
kematian global, dan pelayanan gizi berbasis gen melalui pendekatan nutrigenetik
berpotensi menurunkan risikonya. Namun, pemahaman mahasiswa gizi di
Yogyakarta terhadap pendekatan ini masih terbatas.
Tujuan : Untuk mengetahui persepsi mahasiswa gizi terhadap pelayanan gizi
berbasis gen di Yogyakarta.
Metode : Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan
fenomenologi deskriptif. Informan dipilih secara purposive sampling, terdiri dari
mahasiswa gizi di Yogyakarta dan dosen yang berpengalaman di bidang
nutrigenetik. Data dikumpulkan melalui Focus Group Discussion (FGD) dan
wawancara mendalam, lalu dianalisis secara deskriptif kualitatif.
Hasil : mahasiswa gizi memiliki pemahaman positif terhadap konsep dan manfaat
Pelayanan Gizi Berbasis Genetik (PGBG), khususnya dalam aspek personalisasi
diet dan pencegahan penyakit. Namun, implementasi praktiknya masih terbatas
karena berbagai tantangan, seperti kesiapan profesional, keterbatasan fasilitas,
tingginya biaya, serta rendahnya literasi baik di kalangan mahasiswa maupun
masyarakat. Untuk mendukung penerapan PGBG di masa depan, diperlukan
reformasi kurikulum, pelatihan praktis, peningkatan literasi, serta penguatan
infrastruktur. Selain itu, terdapat harapan besar agar PGBG menjadi lebih
terjangkau, akurat, dan dikenal luas, yang hanya dapat dicapai melalui edukasi yang
berkelanjutan, riset mendalam, dan kolaborasi lintas disiplin dalam pendidikan
gizi.
Kesimpulan : Mahasiswa gizi menunjukkan pemahaman awal yang baik terhadap
PGBG, namun penerapannya masih terbatas. Tantangan utama mencakup
keterbatasan fasilitas, literasi, biaya, dan kesiapan tenaga profesional. Diperlukan
penguatan kurikulum, pelatihan praktis, serta dukungan riset dan kolaborasi lintas
disiplin untuk mendorong implementasi PGBG yang efektif dan berkelanjutan.
Kata Kunci: Persepsi, Mahasiswa Gizi, Pelayanan Gizi Berbasis Ge
PENGARUH KANGOROO MOTHER CARE (KMC) TERHADAP SUHU TUBUH BAYI DENGAN BBLR (BERAT BADAN LAHIR RENDAH) RUANG PERISTI RSUD dr. TJITROWARDOJO PURWOREJO
Latar Belakang: Neonatus merupakan periode awal kehidupan manusia dari usia 0 hari sampai
28 hari. Bayi BBLR (berat badan lahir rendah) rentan mengalami hipotermia karena pindah dari
lingkungan hangat intrauterin ke lingkungan luar yang lebih dingin dan memiliki lapisan lemak
subkutan yang tipis, sehingga suhu tubuh mudah turun dari 2–3°C. Untuk menjaga kehangatan, bayi
BBLR biasanya dirawat dalam inkubator, diberi selimut, dipakaikan topi, dan diberikan perawatan
metode Kangaroo Mother Care (KMC), yaitu kontak kulit langsung ibu dan bayi yang membantu
mempertahankan suhu tubuh dan mendukung keberhasilan menyusui serta peningkatan berat badan
bayi.Tujuan: Untuk dapat mengetahui gambaran penerapan pemberian kangoroo mother care (KMC)
terhadap kestabilan suhu tubuh bayi dengan BBLR (berat badan lahir rendah). Metode: Karya tulis ilmiah
ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus asuhan keperawatan anak
menggunakan rancangan pengukuran suhu pre dan post pelaksanaan KMC. Hasil: Karya tulis ilmiah
ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kestabilan suhu tubuh pada responden sebelum dan
sesudah diberikan tidakan kmc, dengan mean pada bayi 1 yaitu dari suhu 36,23°C.
Sedangkan pada bayi 2 dengan mean suhu tubuh sebelum tindakan yaitu 36,27°C menjadi 36,56°C.
Kesimpulan: dapat diambil kesimpulan bahwa adanya pengaruh sebelum dan setelah pemberian KMC
terhadap suhu tubuh bayi BBLR.
Kata Kunci: BBLR, Kangoroo Mother Car
PENGARUH INOVASI, PROMOSI DAN SERTIFIKASI HALAL TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN KONSUMEN PADA UMKM ALUN-ALUN KIDUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (Studi Kasus Pengunjung Alun-Alun Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta)
PENERAPAN PEMBERIAN PISANG AMBON TERHADAP ANAK AN.M DENGAN DIARE CAIR AKUT DI RUANG DAHLIA RSUD TJITROWARDOJO, PURWERJO
Latar Belakang: Diare cair akut (DCA) merupakan kondisi klinis yang ditandai dengan
pengeluaran tinja yang cair dan sering dalam waktu kurang dari 14 hari. Kondisi ini umumnya
disebabkan oleh infeksi saluran pencernaan yang diakibatkan oleh virus, bakteri, atau parasit.
Diare akut merupakan masalah kesehatan utama pada anak-anak, terutama di negara
berkembang, karena dapat menyebabkan dehidrasi berat, gangguan elektrolit, hingga kematian
jika tidak ditangani secara tepat. Masalah keperawatan yang timbul antara lain hipovolemia,
defisit nutrisi, dan gangguan integritas kulit.Tujuan: Untuk mengetahui gambaran penerapan
intervensi nonfarmakologis berupa pemberian pisang ambon terhadap anak dengan diare cair
akut. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus
pada anak yang mengalami diare cair akut. Intervensi yang diberikan berupa terapi
nonfarmakologis yaitu pemberian pisang ambon sebanyak 100 gram (±1 buah) dua kali sehari
selama tiga hari berturut-turut. Pisang ambon dipilih karena kandungan pektin, kalium, dan
seratnya dapat membantu memperbaiki konsistensi feses, mengurangi frekuensi diare, serta
menyeimbangkan elektrolit tubuh secara alami. Evaluasi dilakukan terhadap frekuensi dan
konsistensi buang air besar (BAB) sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Hasil menunjukkan
adanya perbaikan signifikan setelah intervensi. Sebelum terapi, frekuensi BAB anak >9 kali per
hari dengan konsistensi cair. Setelah tiga hari pemberian pisang ambon, frekuensi BAB
menurun menjadi 5 kali per hari, dan konsistensi feses membaik menjadi lembek hingga
hampir padat. Kesimpulan: Terapi nonfarmakologis berupa pemberian pisang ambon secara
teratur terbukti memberikan pengaruh positif terhadap perbaikan gejala diare cair akut pada
anak, ditandai dengan penurunan frekuensi BAB dan perubahan konsistensi feses menjadi lebih
baik.
Kata Kunci: diare cair akut, terapi nonfarmakologis, pisang ambo
PENERAPAN NESTING TERHADAP HIPOTERMIA PADA BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI RUANG PERINATOLOGI RSUD WATES KULON PROGO YOGYAKARTA
Latar Belakang: Berat badan lahir rendah (BBLR) adalah kondisi dimana bayi dengan berat kurang dari 2.500 gram. Bayi berat lahir rendah akan beresiko mengalami hipotermia karena sedikitnya cadangan lemak di bawah kulit dan belum matangnya pusat pengaturan suhu di otak. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran penerapan nesting terhadap hipotermia pada bayi berat badan lahir rendah (BBLR).
Metode: Karya tulis ilmiah ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Dalam penelitian ini menggunakan dua kasus bayi dengan BBLR yang dirawat di inkubator serta tidak memakai ventilator. Instrument yang digunakan dalam studi kasus ini yaitu inkubator, kain, dan termometer. Penerapan nesting dilakukan selama kurang lebih I jam dengan pengukuran suhu dilakukan sesudah menyusui dan sebelum menyusui. Hasil Karya tulis ilmiah ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan suhu tubuh setelah diberikan nesting selama kurang lebih I jam. Pada bayi I dan bayi II sebelum diberikan nesting rata-rata suhu tubuh dibawah rentang normal (35,9°C-36,5°C) sedangkan setelah diberikan nesting rata-rata suhu tubuh di rentang normal (36,5°C-36,8°C). Kesimpulan Berdasarkan hasil studi asuhan keperawatan pada bayi 1 dan bayi II dengan hipotermia dapat diambil kesimpulan bahwa adanya perubahan suhu sebelum dan sesudah di berikan nesting. Hal ini membuktikan bahwa adanya perubahan suhu tubuh dibawah rentang normal menjadi normal. Bagi perawat yang sudah terlatih, untuk melanjutkan penggunaan nesting di ruangan agar pemulihan dan kestabilan suhu serta tanda vital bayi BBLR bisa di laksanakan dengan tepat dan cepat.
Kata kunci: BBLR, Nesting. Hipotermi
PENERAPAN MOBILISASI DINI UNTUK MENINGKATKAN MOBILITAS FISIK PADA PASIEN POST SECTIO CAESAREA DI RUANG KANA RSUD WONOSARI
Latar belakang: Sectio Caesarea (SC) merupakan tindakan pembedahan mayor yang dapat menyebabkan nyeri, keterbatasan mobilitas, dan keterlambatan pemulihan fisik. Mobilisasi dini merupakan intervensi yang direkomendasikan dalam perawatan post SC yang dilakukan dalam waktu 6-12 jam untuk mempercepat pemulihan dan meningkatkan kemampuan gerak pasien. Tujuan studi kasus ini yaitu untuk mendeskripsikan penerapan mobilisasi dini terhadap peningkatan mobilitas fisik pada pasien post SC di Ruang Kana RSUD Wonosari.
Metode penelitian ini menggunakan metode studi kasus deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan. Subjek terdiri dari 3 pasien post SC di RSUD Wonosari yang mengalami gangguan mobilitas fisik. Pengambilan data dilakukan melalui observasi langsung menggunkan lembar observasi mobilisasi dini, SOP mobilisasi dini dan evaluasi int vensi selama 3 hari.
Hasil penerapan mobilisasi dini menunjukan peningkatan mobilitas fisik pada ketiga pasien, hari pertama pasien mampu melakukan gerakan pasif, miring kanan kiri, Pada hari kedua duduk dengan bantuan dan mulai latihan jalan, hari ketiga semua pasien sudah dapat berjalan secara mandiri. Hal ini terdapat peningkatan rentang gerak dan penurunan nyeri pada ketiga pasien.
Kesimpulan hasil penerapan mobilisasi dini pada pasien post SC didapatkan bahwa intervensi mobilisasi dini efektif dalam meningkatkan mobilitas fisik pasien secara bertahap yang di tandai dengan kemampuan klien mengubah posisi dari miring kanan-kiri, duduk di tempat tidur, berdiri dengan bantuan hingga berjalan secara mandiri dalam waktu tiga hari setelah operasi.
Kata kunci: mobilisai dini, mobilitas fisik, post sectio caesare