Institut Teknologi Nasional Malang Repository
Not a member yet
13381 research outputs found
Sort by
ARAHAN MITIGASI BENCANA LONGSOR PADA KAWASAN PERMUKIMAN DI SEMPADAN SUNGAI METRO RW10 KELURAHAN TAMNJUNGREJO KECAMATAN SUKUN KOTA MALANG
Longsor bisa terjadi akibat hujan deras yang berkepanjangan, khusus
nya didaerah tebing yang tidak adanya bangunan penahan. Seperti terjadi di
RT 06, RW.10 kelurahan Tanjungrejo, kecamatan Sukun, kota Malang, hujan
deras yang terjadi sepanjang siang hingga malam mengebabkan longsor
akibatnya minimal 10 Hunian di lokasi ini yang rusak karena longsor. ini
bertujuan untuk merumuskan arahan mitigasi bencana longsor pada kawasan
permukiman di sempadan Sungai Metro, RW 10, Kelurahan Tanjungrejo.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara observarsi, wawancara dan
kuesioner, dokumentasi, dengan analisa data meliputi descriptive analysis,
analytical hierarchy process (AHP), skoring, owerlay dan analisis
Komparatif.
Hasil penelitian menunjukan bawah resiko bencana longsor terbagi atas
tingkat risiko tinggi, risiko sedang dan resiko rendah pada RW 10 dengan
beberapa arahan meliputi Penyediaan, pemilihan dan penetapan lokasi baru
untuk relokasi masyarakat yang terdampak bencana longsor, tembok penahan
tanah (tpt) adalah suatu bangunan yang berfungsi untuk menstabilkan kondisi
tanah tertentu yang pada umumnya dipasang pada daerah tebing, membuat
papan informasi yang ditempatkan pada titik titik atau area rawan longsor
sepanjang pesisir sungai serta rekonstruksi struktur dan konstruksi bangunan
di RW 10
ANALISIS PENGARUH KECEPATAN MOTOR (RPM) DAN PEMOTONGAN TERHADAP EFISIENSI HASIL PERAJANGAN KETELA (Kg) MENGGUNAKAN BANTUAN TUAS PENDORONG
Saat ini, untuk menyelesaikan masalah yang terkait pada proses perajangan ketela bmengunakan motor fasa, kendalanya adalah kecepatan dan waktu untuk mendukung perajangan, karena peningkatan kecepatan dapat mengurangi waktu total yang diperlukan untuk perajangan, namun hal ini juga dapat berpotensi ketidakteraturan dalam bentuk irisan ketela dan resiko kerusakan pada alat perajang maka dari itu penambahan box pengatur kecepatan untuk menekan kerusakan alat dan hasil dari proses perajangan Pengaruh tuas pendorong dalam perajangan ketela bisa membantu menghasilkan potongan yang lebih teratur dan seragam karena memberikan kontrol yang baik selama proses pemotongan hal ini memungkinkan proses perajangan lebih cepat sehingga meningkatkan efisiensi waktu dan tenaga Hasil yang diperoleh dari analisis pengaruh kecepatan motor terhadap efisiensi perajangaan ketela dengan bantuan tuas pendorong, membantu mengatasi kesulitan yang dialami dengan mempertimbangkan aspek-aspek yang dapat membuat kerusakan alat, hasil perajangan dan kecelakaan kerj
PENGARUH VARIASI WAKTU DAN SUHU PEMANGGANGAN PREHEATING SEBELUM PROSES SANGRAI TERHADAP KARAKTERISTIK KACANG TANAH MENGGUNAKAN MESIN SANGRAI
Penelitian ini dapat mengetahui kualitas hasil dari suatu pengolahan kacang tanah dengan cara di sangrai. Kacang tanah merupakan komoditas pangan bergizi yang lazim dijadikan bahan dasar aneka kudapan di Indonesia. Salah satu teknik pengolahan yang banyak diterapkan adalah penyangraian, yaitu pemanasan bahan tanpa penambahan minyak atau air. Pada penelitian ini bertujuan untuk meneliti dan mengetahui pengaruh variasi waktu dan temperature terhadap karakteristik kacang tanah menggunakan mesin sangrai. Metode ini yaitu untuk melakukan pengamatan dalam mencari data sebab dan akibat dalam suatu proses melalui eksperimen sehingga dapat menentukan waktu dan temperature yang optimal. Dari hasil penelitian Kacang tanah yang disangrai selama waktu 15 menit pada suhu 50°C menghasilkan karakteristik sensoris terbaik, termasuk tekstur yang renyah dan rasa yang kompleks. Proses ini tidak hanya meningkatkan kualitas sensoris, tetapi juga memperpanjang umur simpan produk dengan mencegah pertumbuhan jamur
PENGELOMPOKAN PENERIMA BEASISWA KIP MENGGUNAKAN METODE K-MEANS CLUSTERING DAN BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (STUDI KASUS KABUPATEN SUMBA TENGAH)
Kemiskinan merupakan salah satu masalah pada negara berkembang, termasuk Indonesia. Bantuan sosial merupakan salah satu cara menanggulangi kemiskinan,baik dari pemerintah maupun dari swadaya masyarakat. Banyak program bantuansosial dari pemerintah maupun swadaya masyarakat yang benar-benar membantumasyarakat yang membutuhkan atau terdampak musibah. Metode K-Means,sebagai salah satu teknik pengelompokan dalam analisis data, menawarkan solusi yang efektif untuk mengidentifikasi karakteristik penerima KIP. Dengan menggunakan metode ini, data penerima KIP dapat dikelompokkan berdasarkan karakteristik tertentu seperti demografi, lokasi, dan tingkat kebutuhan. Hasil dari pengelompokan ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai sebaran KIP di Kabupaten Sumba Tengah, sehingga pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dapat merumuskan strategi yang lebih baik dalam penyaluran bantuan pendidikan
STUDI PENELITIAN FAKTOR AIR CEMENTITIOUS PADA BETON GEOPOLIMER BERBASIS FLY ASH (BATU BARA) BERDASARKAN KUAT TEKAN
Beton geopolimer berbasis fly ash (abu terbang) merupakan alternatif ramah lingkungan yang dapat menggantikan beton konvensional berbasis semen portland. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor air cementitious (W/C) terhadap kuat tekan beton geopolimer berbasis fly ash tipe C dari PLTU Paiton, serta menentukan korelasi antara faktor air cementitious dengan kuat tekan beton. Variasi faktor air cementitious yang digunakan adalah 0,35; 0,4; 0,45; 0,5; 0,55; 0,6; dan 0,65. Aktivator alkali yang digunakan terdiri dari potassium hidroksida (KOH) 8 M dan sodium silikat (Na2SiO3) dengan rasio 3:1. Benda uji berupa silinder beton (Ø15 cm × 30 cm) diuji pada umur 3 dan 7 hari dengan metode curing suhu ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kuat tekan beton geopolimer menurun seiring dengan peningkatan faktor air cementitious (W/C). Pada umur 3 hari, kuat tekan tertinggi sebesar 28,42 MPa dicapai pada W/C 0,35, sedangkan yang terendah sebesar 17,94 MPa pada W/C 0,65. Pada umur 7 hari, kuat tekan tertinggi mencapai 37,13 MPa (W/C 0,35) dan terendah 23,89 MPa (W/C 0,65). Nilai slump beton meningkat seiring dengan kenaikan W/C, dengan nilai tertinggi 18,4 cm pada W/C 0,65. Hasil pengujian diperoleh kesimpulan faktor air cementitious (W/C) 0,35; 0,4; 0,45; 0,5; 0,55; 0,6; dan 0,65 berpengaruh signifikan terhadap kuat tekan beton geopolimer, di mana semakin tinggi nilai faktor air cementitious (W/C), semakin rendah kuat tekannya
"PENGARUH PENAMBAHAN SERAT TALI BERBAHAN SYNTHETIC FIBER TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL PADA CAMPURAN ASPAL POROUS"
ABSTRAK
"PENGARUH PENAMBAHAN SERAT TALI BERBAHAN SYNTHETIC FIBER TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL PADA CAMPURAN ASPAL POROUS"
Oleh: Iswahyudi (21.21.016) Pembimbing I: Mohammad Erfan, ST.,MT. Pembimbing II: Annur Ma’ruf, ST., MT. Progam Studi Teknik Sipil S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Nasional Malang.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan serat tali berbahan synthetic fiber terhadap karakteristik Marshall pada campuran aspal porous. Aspal porous dikenal memiliki keunggulan dalam kemampuan drainase yang baik, namun kelemahannya terletak pada kekuatan struktural yang relatif rendah akibat tingginya rongga udara dalam campuran. Untuk mengatasi kelemahan ini, dilakukan inovasi dengan menambahkan serat sintetis ke dalam campuran, yang diharapkan mampu meningkatkan stabilitas serta kinerja mekanis tanpa mengurangi sifat drainase aspal porous. Dalam penelitian ini, kadar aspal optimum (KAO) ditetapkan berdasarkan hasil penelitian sebelumnya sebagai acuan utama. Campuran aspal porous kemudian dibuat dengan variasi kadar serat tali tampar sebesar 0%, 0,10%, 0,20%, 0,25%, 0,30%, 0,35%, dan 0,40%. Pengujian dilakukan menggunakan metode Marshall untuk mengukur parameter stabilitas, flow, VIM (Void in Mix), VMA (Void in Mineral Aggregate), VFA (Void Filled with Asphalt), Marshall Quotient, dan density, serta uji permeabilitas metode constant head untuk menilai kemampuan drainase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan serat tali pada kadar tertentu memberikan peningkatan signifikan pada nilai stabilitas Marshall dan memperbaiki parameter lain seperti VIM, VMA, VFA, dan Marshall Quotient, dengan tetap mempertahankan kemampuan drainase campuran. Peningkatan ini disebabkan oleh peran serat dalam mengikat agregat dan aspal sehingga mengurangi pergeseran partikel dan memperkuat struktur campuran. Kadar optimum serat tali tampar yang memberikan performa terbaik ditentukan melalui analisis hasil pengujian dan uji statistik, yang menunjukkan titik keseimbangan antara kekuatan mekanis dan kemampuan drainase.
Kata Kunci : porous, serat synthetic fiber, karakteristik Marshall, permeabilitas, Kadar Aspal Optimum
STUDI PERBANDINGAN PENGARUH VARIASI BENTUK LENGKUNG TERHADAP STABILITAS STRUKTUR JEMBATAN PELENGKUNG STUDI KASUS MODEL KOMPETISI JEMBATAN INDONESIA XIX TAHUN 2024
Jembatan pelengkung merupakan salah satu struktur yang populer karena efisiensi
dan estetikanya. Variasi bentuk lengkung, seperti lingkaran dan parabola, secara
signifikan memengaruhi stabilitas dan distribusi beban pada struktur. Penelitian ini
bertujuan untuk membandingkan pengaruh variasi bentuk lengkung lingkaran dan
parabola terhadap stabilitas struktur jembatan pelengkung. Studi kasus yang digunakan
adalah model Jembatan Pelengkung dari Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) XIX
Tahun 2024.
Metode yang digunakan adalah analisis struktur dengan software SAP2000 v.24
untuk memodelkan dua variasi jembatan: satu dengan lengkung lingkaran dan satu lagi
dengan lengkung parabola. Analisis ini mengacu pada Pedoman KJI XIX 2024 dan
SNI 1729:2020 untuk evaluasi. Parameter yang dianalisis meliputi gaya-gaya dalam
(aksial, geser, momen lentur), tegangan, regangan, lendutan, dan efisiensi material.
Hasil analisis menunjukkan bahwa model jembatan dengan lengkung parabola
memiliki performa yang lebih unggul. Meskipun gaya aksial maksimum pada
pelengkung utama (arch rib) dan kabel penggantung (hanger) lebih tinggi pada model
parabola, yaitu sebesar -1,674 kN dan 0,504 kN , model ini menunjukkan momen lentur
yang jauh lebih rendah pada pelengkung utama (45,36 kNmm) dan gelagar memanjang
(32,55 kNmm) dibandingkan dengan model lengkung lingkaran (86,51 kNmm dan
87,41 kNmm). Selain itu, lendutan maksimum pada model parabola (1,75 mm) lebih
kecil dibandingkan model lingkaran (2,21 mm). Dari segi material, model jembatan
lengkung parabola terbukti lebih efisien dengan total berat 19,19 kg, atau 51,9% lebih
ringan dari model jembatan lengkung lingkaran yang seberat 37 kg.
Kesimpulannya, bentuk lengkung parabola memberikan stabilitas struktur yang
lebih baik dan efisiensi material yang lebih tinggi untuk jembatan pelengkung dalam
studi kasus ini. Bentuk ini lebih efektif dalam menyalurkan beban menjadi gaya tekan
murni, sehingga mengurangi momen lentur dan deformasi secara keseluruhan
ANALISIS MANAJEMEN RISIKO PADA PERENCANAAN PENGGANTIAN JEMBATAN OESAPA BESAR DI KOTA KUPANG – NUSA TENGGARA TIMUR
ABSTRAK
Angeline Grace Allo, Program Studi Magister Teknik Sipil, Program Pascasarjana, Institut Teknologi Nasional Malang, Juli 2025, Analisis Manajemen Risiko Pada Perencanaan Penggantian Jembatan Oesapa Besar di Kota Kupang – Nusa Tenggara Timur, Tesis, Pembimbing: (1) Dr. Ir. Nusa Sebayang, MT, (II) Dr. Erni Yulianti, ST, MT.
Pembangunan Jembatan Oesapa Besar di Kota Kupang perlu dilaksanakan karena adanya penurunan kualitas struktur yang signifikan. Pada tahap perencanaan berpotensi menghadapi berbagai risiko yang berasal dari faktor teknis, keuangan, lingkungan, dan sosial. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi risiko yang mungkin muncul selama tahap perencanaan serta mengevaluasi efektivitas strategi mitigasi yang diusulkan untuk mengurangi tingkat risiko tersebut.
Penelitian ini menerapkan metode Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) untuk mengidentifikasi kegagalan potensial dan mengevaluasi risiko pada tahap perencanaan penggantian Jembatan Oesapa Besar di Kota Kupang. Data diperoleh dari kuesioner berisi 13 indikator risiko yang disebarkan kepada 35 responden ahli. Hasil penelitian menunjukkan seluruh variabel mengalami penurunan nilai Risk Priority Number (RPN) setelah strategi mitigasi diterapkan. Strategi yang dilakukan meliputi peningkatan akurasi estimasi biaya, optimalisasi efisiensi anggaran sesuai kebijakan, serta perbaikan rancangan teknis seperti penyediaan outlet saluran air yang memadai. Total RPN awal sebesar 2.394,63 turun menjadi 1.504,26, atau berkurang 37,18%. Penurunan signifikan terjadi pada risiko estimasi biaya, efisiensi anggaran, dan outlet saluran air. Namun, beberapa risiko eksternal tetap tinggi, khususnya terkait kebijakan, keterlibatan masyarakat, dan koordinasi antarinstansi. Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk mengembangkan strategi mitigasi yang lebih komprehensif pada aspek sosial dan kebijakan, serta memanfaatkan metode analisis risiko lain guna memperkuat hasil evaluasi.
Kata kunci: Manajemen Risiko, FMEA, RPN, Strategi Mitigasi
ABSTRACT
Angeline Grace Allo, Master Program in Civil Engineering, Graduate Program, Institut Teknologi Nasional Malang, July 2025. Risk Management Analysis in the Planning of the Oesapa Besar Bridge Replacement in Kupang City – East Nusa Tenggara. Thesis. Advisors: (1) Dr. Ir. Nusa Sebayang, MT, (2) Dr. Erni Yulianti, ST, MT.
The construction of the Oesapa Besar Bridge Replacement in Kupang City must be conducted due to a significant decline in structural quality. The planning stage is dealing with many risks stemming from technical, financial, environmental and social factors. Therefore, this study aims to analyze the potential risks which may arise during the planning stage and evaluate the effectiveness of the proposed mitigation strategies to reduce these risks.
This study applies the Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) method to identify potential failures and evaluate risks in the planning stage of the Oesapa Besar Bridge replacement project in Kupang City. Data were obtained through a questionnaire with 13 risk indicators distributed to 35 expert respondents. The results show that all risk variables experienced a reduction in their Risk Priority Number (RPN) after mitigation strategies were implemented. These strategies included improving cost estimate accuracy, optimizing budget efficiency in line with government policies, and enhancing technical design by providing more adequate drainage outlets. The total RPN decreased from 2,394.63 to 1,504.26, or 37.18%. Significant reductions occurred in risks related to cost estimation, budget efficiency, and drainage outlets. However, several risks remained relatively high, particularly those influenced by external factors such as policy changes, community involvement, and inter-agency coordination. Further research is recommended to develop more comprehensive mitigation approaches for social and policy-related risks and to apply alternative risk analysis methods to strengthen evaluation results.
Keywords: Risk Management, Failure Mode Effect Analysis, RPN, Mitigation Strategy
KAJIAN PEMANFAATAN DATA GOOGLE MAPS UNTUK PEMBUATAN UNSUR PETA DASAR TOPONIMI (Studi Kasus: Kota Malang, Jawa Timur dan Kota Lewoleba, Nusa Tenggara Timur )
Peta dasar memiliki peranan penting dalam mendukung kegiatan perencanaan tata
ruang, terutama dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Salah satu
unsur peta dasar yang sangat penting adalah toponimi, yang merepresentasikan nama-
nama geografis secara spasial. Tantangan utama dalam penyusunan unsur toponimi
adalah proses pengumpulan data di lapangan yang memerlukan waktu, tenaga, dan biaya
yang tidak sedikit, khususnya di daerah dengan keterbatasan sumber daya. Pada
penelitian ini mengkaji pemanfaatan data Google Maps sebagai alternatif yang lebih
cepat dan efisien dalam pembuatan unsur peta dasar toponimi. Studi dilakukan di dua
lokasi, yaitu Kota Malang, Jawa Timur, dan Kota Lewoleba, Nusa Tenggara Timur.
Metode yang digunakan mencakup ekstraksi data koordinat dari Google Maps, dan data
toponimi dari instansi terkait, serta validasi melalui survei lapangan. Analisis spasial
dilakukan menggunakan perangkat lunak ArcGIS 10.8, yang digunakan untuk
memetakan lokasi, mengukur jarak antar titik, dan melakukan overlay data untuk
membandingkan hasil ekstraksi Google Maps dengan hasil survei. Hasil menunjukkan
bahwa data Google Maps cukup representatif sebagai referensi awal, terutama di
wilayah dengan dokumentasi infrastruktur yang baik. Uji T-Student pada tingkat
kepercayaan (level of confiedence) 95% menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan
pada rata-rata koordinat X di Kota Lewoleba 0,738 m dan Kota Malang 0,393 m.
Namun, pada koordinat Y, perbedaan signifikan terjadi di Kota Lewoleba 0,944 m,
sedangkan di Kota Malang sangat kecil 0,003 m. Pergeseran jarak lebih besar terjadi di
Kota Lewoleba 11,853 m dibanding Kota Malang 7,675 m. Selisih data toponimi
Google Maps dan hasil survei mencapai 13% di Kota Lewoleba dan 1,75% di Kota
Malang. Selisih jarak koordinat toponimi sebesar 0,1185 m di Kota Lewoleba dan
0,0192 m di Kota Malang.Secara keseluruhan, data Google Maps dapat mempercepat
penyusunan peta dasar unsur toponimi skala 1:5.000, meskipun verifikasi lapangan tetap
diperlukan untuk memastikan akurasi
PEMBUATAN SISTEM BASIS DATA BERBASIS WEBGIS UNTUK INFORMASI DAERAH IRIGASI BERDASARKAN PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT (PUPR) NOMOR 27 TAHUN 2020 (Studi Kasus: Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur)
Sistem irigasi memiliki peran penting dalam mendukung sektor pertanian,
terutama di wilayah dengan curah hujan rendah seperti Kabupaten Sumba Tengah,
Nusa Tenggara Timur. Namun, keterbatasan infrastruktur dan kurangnya sistem
informasi yang efektif sering kali menghambat pengelolaan daerah irigasi secara
optimal. Tujuannya adalah untuk merancang dan membangun sistem basis data
berbasis WebGIS guna menyediakan informasi daerah irigasi sesuai dengan
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 27
Tahun 2020. Metode penelitian yang digunakan mencakup pengumpulan data
spasial dan non-spasial terkait irigasi, pemrosesan data menggunakan perangkat
lunak GIS, serta pengembangan sistem berbasis web dengan teknologi Laravel.
Hasil dari penelitian ini adalah sebuah sistem WebGIS yang dapat menampilkan
36 data daerah irigasi, 647 bangunan irigasi, dan 2.537 saluran irigasi yang
tersebar di Kabupaten Sumba Tengah. Sistem ini memiliki fitur peta interaktif,
pencarian data, klasifikasi saluran, dan visualisasi data irigasi. Sistem WebGIS ini
telah diuji melalui uji usability dengan hasil 88% yang dikategorikan sebagai
sangat layak. Dengan adanya sistem ini, proses monitoring, pengelolaan, dan
penyebaran informasi daerah irigasi menjadi lebih efisien, dan mudah diakses oleh
pengguna