Jurnal Kimia Terapan Indonesia (Indonesian Journal of Applied Chemistry)
Not a member yet
300 research outputs found
Sort by
PENGARUH LOKASI DAN PELARUT PENGEKSTRAKSI TERHADAP KANDUNGAN FITOKIMIA DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK PEGAGAN (Centella asiatica L. Urb)
Pegagan (Centella asiatica Linn Urb.) merupakan jenis tanaman yang biasa digunakan dalam industry farmasi dan kosmetik.Penelitian ini ditujukan untuk mengevaluasi pengaruh tiga lokasi asal sampel dan tiga jenis larutan pengekstraksi (methanol, etanol 96% (v/v), dan etanol 70% (v/v)) terhadap aktivitas antioksidan herbal pegagan (Centella asiaticaLinn Urb).Sampel pegagan yang digunakan pada peneltian ini berasal dari Lembang, Bandung, dan Solo. Pada ekstrak yang diperoleh dilakukan penentuan kadar fenol total, flavonoid total, dan triterpenoid total. Aktivitas antioksidan dari ekstrak dievaluasi berdasarkan metoda peredaman radikal bebas 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa simplisia pegagan asal Lembang yang diekstrak dengan etanol 70% mempunyai aktivitas antioksidan tertinggi serta kandungan fenol total dan flavonoid total tertinggi. Sedangkan simplisia pegagan asal Bandung yang diekstrak dengan pelarut metanol memiliki kandungan triterpenoid total tertinggi tetapi memiliki kandungan fenol total dan flavonoid total serta aktivitas antioksidan yang terendah. Hasil analisa statistik menunjukkan bahwa lokasi asal simplisia pegagan dan polaritas pelarut yang digunakan untuk ekstraksi secara signifikan (p<0,05) mempengaruhi kandungan fenol total, flavonoid total dan triterpenoid total serta aktivitas antioksidan dari ekstrak pegagan.Kata kunci: ekstrak pegagan, antioksidan, polaritas pelarut Pegagan (Centella asiatica Linn Urb.) is a plant species that commonly used in the pharmaceutical and cosmetic industry. Objective of this study is to evaluate the effect of different source location and solvent polarity for the extraction to the content of total phenolic, total flavonoid total triterpenoids as well as antioxidanti activity of pegagan ((Centella asiatica (Linn.) Urb.)extracts. Pegagan materials for this study are from three different locations: Bandung, Lembang and Solo. Based on polarity differences methanol, ethanol 96% and ethanol 70% were used as solvent for extraction. Antioxidant activity of the extract was evaluated based on the method of 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) free radical scavenging activity. Results showed that the highest total phenolic content and flavonoid content and antioxidant activity were from 70% ethanol extract from Lembang. Materials from Bandung extracted with methanol gave the highest content of total triterpenoid, however has the lowest content of total phenolic, total flavonoid and antioxidant activity. Statistic analysis showed that there is significant differences (p<0,05) of results of total phenolic, total flavonoid, total triterpenoid and antioxidant activity due to source location and solvent polarity. Keywords:Centella asiatica (Linn.) Urb extract, antioxidant, polarity solven
MELACAK PELAKU TERORISME MELALUI PENENTUAN KANDUNGAN KATION DAN ANION DALAM SAMPEL HASIL PENCUCIAN TELAPAK TANGAN PELAKU DENGAN TEKNIK KROMATOGRAFI ION
Telah dilakukan analisis kandungan kation (Na+, NH4+, K+, Mg2+ dan Ca2+) dan anion (NO2−,Cl−, ClO3−, NO3−, and SO42−)menggunakan instrumen kromatografi ion terhadap 80 sampel yang berasal dari hasil pencucian telapak tangan penjual petasan/kembang api dan hasil pencucian telapak tangan orang yang diketahui tidak memegang sampel petasan/kembang api sebelumnya. Petasan, kembang api dan korek api adalah 3 jenis bahan kimia yang berpotensi digunakan sebagai bahan peledak. sejumlah5 mM asam tartrate digunakan sebagai eluen untuk pemisahan kelima jenis kation menggunakan kolom penukar-ion kation dan 1 mM asam trimellitik digunakan sebagai eluen untuk pemisahan kelima jenis anion menggunakan kolom penukar-ion anion. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi beberapa kation (Na+, NH4+ dan K+) pada sampel hasil pencucian telapak tangan penjual petasan/kembang api meningkat 2–3x lipat dari sampel hasil pencucian telapak tangan yang tidak memegang sampel. Ion K+ adalah kation penyusun utama dalam ketiga sampel. Ion NO3− adalah anion penyusun utama untuk sampel petasan dan kembang api, dan ion ClO3− adalah anion penyusun utama korek api. Terlihat bahwa instrumen analisis kromatografi ion dapat menjadi alternatif utama dalam membantu dan menyiapkan data analisis kandungan kation dan anion dalam 3 jenis sampel di atas untuk maksud melacak pelaku terorisme.Kata kunci : Kromatografi ion, Pelaku teroris, Telapak tangan, Kation, Anion The analysis of cations (Na+, NH4+, K+, Mg2+ and Ca2+) and anion (NO2–, Cl–, ClO3–, NO3– and SO42–) have been done using ion chromatography method for 80 samples from palm washing of the seller of firecrackers/fireworks, the palm washing known that the person did not touch/hold the sample previously and potentially explosive simulation sample. Firecracker, fireworks, and matches are 3 types of chemicals used as simulation that could potentially be used as explosives. When 5 mM tartaric acid and 1 mM trimellitic acid were used as the eluents, 5 cations and 5 anions could be separated on the cation-exchange column and anion-exchange column, respectively. The analysis results showed that the concentrations of Na+, NH4+, and K+ ions in samples of hands washing from the sellers increased 2-3x comparedto those did not hold the samples previously. K+ ion is the main cation contained in the three types of samples. NO3–ion is the main anion contained in firecracker and fireworks while ClO3− ion is the main anion contained in matches sample. It was concluded that ion chromatography method as an analytical instrument may be a good alternative to prepare the initial data and content analysis of cations and anions in the above three types of samples for counterterrorism purposes. Keywords: Ion chromatography, Terrorist, Palm washing, Cations, Anion
PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DAN TANTANGAN DALAM RISET BIOETANOL DI INDONESIA
Bioetanol merupakan andalan untuk mengurangi penggunaan BBM non diesel untuk transportasi. Penelitian untuk mencari bahan baku dan proses yang ekonomis serta ramah lingkungan menjadi kegiatan riset di berbagai Negara, terutama sejak terjadinya krisis BBM akibat peningkatan konsumsi BBM diseluruh dunia diawal tahun 1970an.Berdasarkan bahan baku yang dipakai, bioetanol dikelompokkan menjadi bioetanol generasi pertama yang dibuat dari gula, atau pati, dan generasi kedua adalah yang dibuat dari lignoselulosa, disebut sebagai Etanol Selulosa. Generasi ketiga dibuat dari alga disebut sebagai Etanol Alga, dan generasi keempat dibuat dari bahan hasil modifikasi genetika atau bahan lainnya, disebut sebagai Advanced Bioethanol dalam kelompok Advanced Biofuels.Indonesia, sebagai Negara beriklim tropis, memiliki berbagai tanaman penghasil pati, lignoselulosa, alga dan berbagai limbah organik untuk pembuatan bioetanol.Industri bioetanol di Indonesia masih memanfaatkan komoditi pangan seperti ubi kayu dan molase tebu sebagai bahan baku, sedangkan lembaga litbang dan perguruan tinggi sudah melakukan penelitian membuat bioetanol generasi kedua maupun ketiga. Pemerintah Indonesia berupaya untuk meningkatkan penggunaan bioetanol sebagai campuran bahan bakar kendaraan non diesel sampai mencapai 15 % etanol dalam campuran (E-15) pada tahun 2025. Dibanyak Negara, pemanfaatan etanol untuk bahan bakar kendaraan sudah bervariasi dari campuran E-10 sampai dengan E-85.Tinjauan ini mengungkap perkembangan teknologi pada setiap generasi, dan mengindikasikan tantangan yang dihadapi lembaga litbang di dalam negeri dalam mengembangkan teknologi pembuatan bioetanol dari biomasa lokal. Area penelitian yang prospektif dalam bidang ini juga dikemukakan.Kata Kunci : bioetanol, molase tebu, generasi, perkembangan teknologi, tantangan riset. Bioethanol is a potential energy source to reduce gasoline utilization for transportation. Research activities to find out raw material and environmentally and economically process have been conducted in many countries especially after the oil crisis in early 1970s. Based on raw material processed, bioethanol is grouped into first, second, third and fourth generations. The first generation is derived from sugar or starch, the second generation is derived from lignocellulosic biomass, called as cellulosic ethanol. The third generation is produced from algae, called as Ethanol Algae, while the fourth generation is grouped as advanced biofuels.Indonesia, as a tropical country, posseses various kind of starchy plant, lignocellulosic materials, various species of algae, and organic wastes for ethanol production. Local bioethanol industries utilize food materials such as cassava and sugarcane molasse as feedstock, while universities and R&D institutions have conducted researches to produce the second or the third generations bioethanol. The government of Indonesia has planned to increase utilization of bioethanol in bioethanol-gasoline mixture for transportation up to 15 % (E-15) by 2025. In many countries, utilization of bioethanol for transportation vary in a range from E10 to E 85.This review shows technology development at each generations, and indicates challenges for local R&D institutions in order to develop technology for bioethanol production utilizing local biomass. Prospectives research areas in the field are also highlighted.Keywords :bioethanol, sugarcane molasses, generations, technology development, research challenges
ISOLASI SIKLOKOMUNOL DARI DAUN SUKUN Artocarpus altilis (PARKINSON) FOSBERG SERTA AKTIVITASNYA SEBAGAI ANTIKANKER
Daun sukun (Artocarpus altilis) sudah lama dijadikan sebagai obat tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit seperti liver cirrhosis, hipertensi, dan diabetes. Ekstrak etil asetat dari daun sukun juga berpotensi menghambat pertumbuhan sel kanker. Beberapa senyawa yang telah diketahui sebagai agen antikanker di dalam ekstrak etil asetat daun sukun adalah golongan geranil flavonoid. Akan tetapi, senyawa pyranoflavoid belum dilaporkan dapat ditemukan pada daun sukun. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi senyawa pyranoflavonoid dari ekstrak etil asetat daun sukun dan menguji aktivitasnya sebagai antikanker. Daun sukun diekstraksi dengan etanol 70% kemudian dilakukan partisi dengan petroleum eter dan etil asetat. Ekstrak etil asetat yang diperoleh difraksinasi dengan kromatografi kolom silica gel dengan gradient elusi heksan-etil asetat sehingga diperoleh senyawa kristal berwarna kuning, AA3. Senyawa AA3 kemudian diidentifikasi dengan spektrofotometer UV-Vis, LC-MS, 1H-NMR dan 13C-NMR dan diperoleh hasil bahwa senyawa AA3 tersebut adalah siklokomunol yang merupakan golongan pyranoflavonoid. Uji antikanker siklokomunol dengan MCF-7 dan T47D menunjukkan adanya aktivitas antikanker dengan nilai IC50 masing-masing adalah 75.46 µM dan 36.20 µM selama 48 jam.Kata kunci:Artocarpus altilis, siklokomunol, antikanker, MCF-7, T47D. Leaves of breadfruit Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg has long been used as traditional medicine to overcome a variety of diseases such as liver cirrhosis, hypertension, and diabetes. Ethyl acetate extract of the leaves of breadfruit also potentially inhibit the growth of cancer cells. Several compounds have been known as an anticancer agent in the ethyl acetate extract of leaves of breadfruit is belong to geranyl flavonoid group. However, the compound belong to pyranoflavoid group has not been reported can be found on the leaves of breadfruit. Therefore, this study aims to isolate the pyranoflavonoid compound from ethyl acetate extract of leaves of breadfruit and tested as an anticancer agent. Breadfruit leaves were extracted with 70% ethanol and then made a partition with petroleum ether and ethyl acetate. Ethyl acetate extract obtained was fractionated by silica gel column chromatography with gradient elution of hexane-ethyl acetate to obtain a yellow crystalline compound, AA3. AA3 compound was identified by UV-Vis spectrophotometer, LC-MS, 1H-NMR and 13C-NMR and obtained results that AA3 compound is siklokomunol which is belong to pyranoflavonoid group. Anticancer test of siklokomunol with MCF-7 and T47D showed anticancer activity with IC50 values of each are 75.46 µM and 36.20 µM, respectively, for 48 hours.Keywords: Artocarpus altilis, siklokomunol, anticancer, MCF-7, T47D
ISOLASI SENYAWA ANTIOKSIDAN DALAM EKSTRAK HEKSANA KULIT BATANG MANGGIS HUTAN (Garcinia bancana Miq.)
Antioksidan adalah suatu senyawa yang dapat menangkap radikal bebas. Salah satu sumber anti oksidan alami adalah dari tumbuh-tumbuhan. Dalam usaha pencarian antioksidan baru, telah dilakukan identifikasi senyawa antioksidan dari ekstrak n-heksana kulit batang Garcinia bancana Miq dengan metode 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH). Metode isolasi dilakukan dengan cara kombinasi kromatografi (Kromatografi kolom vacum, kromatografi kolom gravitasi, kromatografi lapis tipis sentrifugal dan kromatografi lempeng tipis) Penentuan struktur molekul berdasarkan analisis data spektroskopi UV-VIS, IR, LC-MS, NMR proton dan karbon. Dari hasil isolasi didapatkan suatu senyawa isoprenil bezofenon dengan bobot molekul 466,22 dan rumus molekul C28H34O6 dengan nama IUPAC 3-(3,4-dihidroksibenzoil)-4-hidroksi-8-8-dimetil-1,7-bis(3-metilbut-2enil) bisiklo (3.3.1) non-3-ene-2,9-dione atau disebut bacanone yang diduga senyawa baru. Dari proses isolasi juga ditemukan senyawa atsiri b- caryophyllene, α-humulene dan b-cadinene serta stigmasterol. Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak n-heksana dan hasil isolat murni menunjukkan IC50 berturut-turut 17,78 ppm dan 12,79 ppm dimana pembanding kuersetin adalah 9,90 ppm.Kata kunci: Garcinia bancana, antioksidan, DPPH, 3-(3,4-dihidroksibenzoil)-4-hidroksi-8-8-dimetil-1,7-bis(3-metilbut-2enil)bisiklo(3.3.1)no-3-ene-2,9-dione, bacanone. Antioxidants are compounds that can capture free radicals. One source of natural antioxidant is from plants. On searching for new antioxidant, identification of antioxidant compound of the n-hexane extract of the stem bark of Garciniabancana Miq was done by 1.1-diphenyl-2-pikrilhidrazil (DPPH) method. Isolation active compound were done by combination of chromatographic methods (Flash column chromatography, gravitation column chromatography, cetrifugal thin layer chromatography and thin layer chromatography) .Determination of molecular structure by analysis spectroscopic data of UV-VIS, IR, LC-MS, NMR proton and carbon.Isolation results were isophrenyl bezophenon with molecular weight 466.22 and the molecular formula is C28H34O6 IUPAC name 3 - (3,4-dihydroxybenzoil)-4-hydroxy-8-8-dimethyl-1,7-bis (3-methylbut-2enyl) bicyclo (3.3.1) non-3-ene-2,9-dione or named bacanone wich is suspected as a new compound. From the isolation were also found of known volatile compounds b - caryophyllene, α-humulene and b-cadinene and stigmasterol. The test results of antioxidant activity of n-hexane extract and pure compound showed IC50 respectively 17.78 ppm and 12.79 ppm which comparison with quercetin is 9.90 ppm. Key words : Garcinia bancana Miq., antioxidant, DPPH, 3-(3,4-dihydroxybenzoil)-4-hidroxy-8-8-dimethyl-1,7-bis (3-methylbut-2enil)bisiklo(3.3.1)no-3-ene-2,9-dione, bacanone
PENENTUAN LOGAM BESI DAN SENG TOTAL DALAM PRODUK PERIKANAN MENGGUNAKAN FLAME ATOMIC ABSORPTION SPECTROMETRY DAN PENGUKURAN NILAI KETIDAKPASTIANNYA
Besi (Fe) dan Seng (Zn) merupakan unsur yang berguna bagi manusia. Keberadaan logam Fe dan Zn dalam produk perikanan yang cukup kecil (trace), mudah tekontaminasi oleh kondisi lingkungan, dan metoda preparasinya yang komplek menyebabkan penentuan logam Fe dan Zn ini cukup sulit, sehingga perlu dicari suatu metoda uji yang valid dan akurat. Dalam penelitian ini dilakukan pengembangan metoda standar American of Analytical Chemistry (AOAC) tahun 2005 no. 999.10 dengan menggunakan bahan acuan bersertifikat DORM 3 (Fish Protein Certified Reference Material for Trace Metal) dari National Research Council of Canada (NRCC) untuk menguji keakuratan dan ketertelusuran hasil ke Standard Internasional (SI). Metoda ini sudah divalidasi berdasarkan parameter-parameter kimia analitik. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar Fe dan Zn dalam sampel perikanan sebesar 178 ± 14 mg.Kg-1 dan 59,8 ± 6,6 mg.Kg-1 (berat kering) dengan faktor cakupan 2 dan tingkat kepercayaan 95%, yang berada pada rentang yang ditentukan 183,5 ± 4,3 mg Kg-1 and 60 ± 1,1 mg Kg-1.Kata kunci : Fe, Zn, trace, CRM, perikanan Iron (Fe) and Zink (Zn) are essential elements for human being. Determination of this elements in fish products is quite difficult because of Fe and Zn content in trace level, easy to be contaminated by the environmental conditions, and, complex preparation methods so that it is needed to find a good and accurate method. In this paper, we have developed a standard method from American of Analytical Chemistry (AOAC), 2005, no. 999. using DORM 3 as Certified Reference Materials (CRMs) to check accuracy and traceability’s results to Standard International (SI). The method has been validated according to analytical parameters. The results showed that means of Fe and Zn concentration in the investigated fish product were 178 ± 14 mg.Kg-1 and 59.8 ± 6,6 mg.Kg-1 respectively with coverage factor 2 and 95% level of confident, and in range of expected mass were 183,5 ± 4,3 mg.Kg-1 and 60 ± 1,1 mg.Kg-1in dry basis.Keywords : Fe, Zn, trace, CRM, fishe
SIMULASI PROSES STERILISASI PADA GUDEG KALENG DENGAN MENGGUNAKAN COMPUTATIONAL FLUID DYNAMIC (CFD)
Telah dilakukan studi penggunaan computational fluid dynamic (CFD) pada proses sterilisasi gudeg kalengan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui phenomena pindah panas konduksi gudeg kalengan selama proses sterilisasi. Bahan gudeg kalengan terdiri dari beberapa komponen penyusun diantaranya gudeg nangka, telur, daging ayam, kacang dan krecek kulit. Setelah ditutup gudeg kaleng disterilkan dengan beberapa variasi suhu (111; 121 dan 131oC) dan beberapa waktu setrilisasi (10; 20 dan 30 menit). Riwayat suhu selama sterilisasi direkam dengan data logger. Simulasi menggunakan program COMSOL versi 4.1. Hasil simulasi didapatkan terjadi sedikit perubahan titik dingin (cold spot) gudeg kalengan karena komposisi gudeg kalengan terdiri dari beberapa macam komponen penyusun dengan sifat fisik bahan yang berbeda-beda. Difusivitas masing-masing penyusun adalah gudeg 1,73E-04 m2/s; daging ayam 9.219E-05 m2/s; kacang tolo 1,98E-04 m2/s; putih telur 2,34E-04 m2/s; dan kuning telur 1,86E-04 m2/s. Perbandingan data observasi dengan data prediksi cukup baik dengan nilai koefisien regresi antara 0,964 sampai 0,998.Kata kunci: Computational fluid dynamic, CFD, Sterilisasi, Pengalengan, Gudeg kaleng. Have done studies used of computational fluid dynamic (CFD) in the sterilization process of gudeg canned. The study aims to determine the conduction heat transfer phenomena gudeg canned during the sterilization process. The study used some material namely young jackfruit, eggs, chicken, tolo beans and krecek cowhide. After closed, gudeg canned sterilized with some variation in temperature (111; 121 and 131oC) and some time sterilization (10; 20 and 30 minutes). History temperature during sterilization recorded with the data logger. Simulation studies used COMSOL program version 4.1. The simulation results obtained there was little change point cold spots from gudeg canned caused composition of gudeg canned have different physical properties. Diffusivity of each constituent is gudeg 1,73 E - 04 m2/s; chicken 9.219E - 05 m2/s; tolo beans 1.98 E - 04 m2/s; egg whites 2,34 E - 04 m2/s; and egg yolks 1.86 E - 04 m2/s. Comparison of predictions data with observed data quite well with the regression coefficient 0,964 to 0,998.Keywords: Computational fluid dynamics, CFD, sterilization, canning, canned gude
SINTESIS, UJI AKTIVITAS SITOTOKSIK IN VITRO DAN MOLECULAR DOCKING SENYAWA 1-(4-KLOROBENZOIL)-1,3-DIMETILUREA
Senyawa 1-(4-klorobenzoil)-1,3-dimetilurea telah dirancang, disintesis, diidentifikasi struktur, dan diuji aktivitas sitotoksik secara in vitro. Simulasi docking dilakukan dengan memposisikan senyawa ke dalam sisi aktif reseptor Checkpoint kinase 1 (Chk1) untuk menentukan model pengikatan ligan reseptor. Sintesis 1-(4-klorobenzoil)-1,3-dimetilurea dilakukan lewat reaksi asilasi antara 1,3-dimetilurea dan 4-klorobenzoil klorida. Kemurnian produk hasil sintesis ditentukan dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT).Identifikasi struktur dilakukan dengan spektrofotometer UV, FT-IR dan spektrometer NMR. Hasil uji antiproliferatif menunjukkan bahwa senyawa 1-(4-klorobenzoil)-1,3-dimetilurea memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel HeLa yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol positif yaitu hidroksiurea. Senyawa 1-(4-klorobenzoil)-1,3-dimetilurea dengan potensi aktivitas sitotoksik ini dapat menjadi agen antikanker yang potensial. Kata kunci: 1-(4-klorobenzoil)-1,3-dimetilurea, molecular docking, sintesis, aktivitas sitotoksik, hidroksiurea A novel 1-(4-chlorobenzoyl)-1,3-dimethylurea has been designed, synthesized, structurally determined, and the in vitro cytotoxic activity was evaluated. Docking simulation was performed to position this compound into the Checkpoint kinase 1 (Chk1) active site to determine the probable binding model. Synthesis of 1-(4-chlorobenzoyl)-1,3-dimethylurea was completed by acylation reaction between 1,3-dimethylurea and 4-chlorobenzoyl chloride. The purity of synthesized product was determined by Thin Layer Chromatography. Structure identification was performed by UV spectrophotometer, FT-IR and NMR spectrometer. Antiproliferative assay result demonstrated that this compound possessed good cytotoxic activity against HeLa cells, which is comparable to the positive control, hydroxyurea. This compound with potent cytotoxic activity might be a potential anticancer agent. Keywords: 1-(4-chlorobenzoyl)-1,3-dimethylurea, molecular docking, synthesis, cytotoxic activit
KANDUNGAN INULIN DARI UMBI DAHLIASp YANG DITANAM PADA JENIS TANAH VERTISOL, INCEPTISOL DAN ANDISOL
Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan kandungan inulin dari umbi Dahlia sp yang ditanam didaerah sejuk seperti Cianjur, Lembang dan Sukabumi pada jenis tanah yang berbeda dalam rangka rencana produksi di Jawa Barat. Inulin adalah oligosacharida yang terjadi secara alami dengan komposisi gabungan fruktooligosacharida dari oligomer dengan derajat polimerisasi yang berbeda. Umbi dahlia dari bunga berwarna ungu, merah, kuning dan putih yang ditanam di tiga lokasi digunakan sebagai sumber inulin. Metode ekstraksi yang digunakan yaitu cara ekstraksi berdasarkan kelarutan inulin dalam air pada suhu 800 C dan pengendapan dilakukan dengan etanol 30%. Hasil penelitian menunjukkan kadar inulin dari umbi bunga warna merah yang ditanam pada tanah Inceptisols (Sukabumi) memiliki kadar inulin tertinggi yaitu sebesar 17,99%, gula total 19.13%, karbohidrat 8.02%, kadar abu 0,15% sementara kadar inulin terendah pada jenis tanah Vertisols (Cianjur) yaitu 14.90%, gula total 26.61%, karbohidrat 8.66% kadar abu 0.17% sementara jenis tanahAndisols (Lembang) menghasilkan inulin dengan kadar inulin 11.84%, gula total 12.48%, karbohidrat 9.38% dan kadar abu 0.09%. Kata kunci :Umbidahlia , inulin, vertisols inceptisols, andisols, karbohidrat The objectives of this research were to measure inulin content of Dahlia sp tubers widely planted in cool area such as Cianjur, Lembang and Sukabumi at different soil type in order to produce inulin in West Java. Inulin is a naturally occurring fructooligosaccharide composed of a mixture of oligomers of varying degrees of polymerization. Dahlia tuber of flower such as violet, red, yellow and white colour was planted on different location used as the source for inulin. The extraction methods was used base on inulin dissolve in water at 800 C and precipitation was carried out by using ethanol 30%.The results indicated that inulin powder of red flower was planted on inceptisols ( Sukabumi) has the highest level of inulin that was 17.99%, total glucose 19.13%, carbohydrate 8.02%, ash 0.15% .The lowest inulin content was detected in vertisols type ( Cianjur) as much as 14.90%, total glucose 26.61%, carbohydrate 8.66%, ash 0.17% meanwhile andisols type has inulin concentration 11.84%, total glucose 12.84%, carbohydrate 9.38% and ash 0.09%. Key words:Dahlia tuber, inulin, vertisols inceptisols, andisols, and carbohydra