Transformatika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya (the Journal of Linguistics, Literature, and Their Teaching)
Not a member yet
160 research outputs found
Sort by
The Use of Vocabulary-Games in Improving Children’s Vocabulary in English Language Learning
Kosa kata memainkan peranan penting dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Pembelajaran kosa kata dalam Bahasa Inggris merupakan hal yang tidak mudah terutama bagi para siswa sebagai pembelajar pemula. Selain itu, mereka memiliki karakteristik khusus yang sangat berbeda dari orang dewasa. Dengan menitikberatkan pada perbedaan karakteristik tersebut, dapat disimpulkan bahwa para guru yang mengajar pembelajar pemula memiliki tugas yang menantang untuk dapat memotivasi mereka dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini, para guru harus lebih kreatif dan menjauhkan siswa mereka dari rasa bosan saat pembelajaran kosa kata Bahasa Inggris. Mereka harus menyiapkan materi yang akan diberikan kepada para siswa dan juga memilih teknik yang sesuai untuk digunakan. Dengan melakukan hal-hal tersebut, mereka dapat membuat siswa memiliki ketertarikan yang besar dalam proses pembelajaran. Mereka harus mampu memilih dan menggunakan teknik-teknik pengajaran yang dapat membuat proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, menarik, dan menggembirakan bagi para siswa. Salah satu teknik tersebut adalah menggunakan permainan di dalam kelas. Menggunakan permainan dapat memberikan banyak keuntungan bagi para guru dan siswa. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa menggunakan permainan dalam pembelajaran kosa kata Bahasa Inggris sangatlah efektif, karena menggunakan permainan sangat menyenangkan dan cocok dengan karakteristik anak-anak sebagai pembelajar pemula. Key words: Vocabulary, Young Learner, Game
AUTHENTIC ASSESMENT IN WRITING
When talking about teaching and learning, assesment is also discussed to know how far the process achieves its goals. What kind of assesment teachers use will depend on the material they transfer to their students. There are several kinds of assesment. Since the paradigm in education is shifted, the way teachers asses their students’ performance is also shifted as well. Therefore nowadays authentic assesment is broadly introduced, learned, and applied in most teaching learning process.Since the paradigm in education has shifted, the way teachers assess the students’ writing is shifted as well following the new paradigm beyond constructivism. More and more rubrics are set to exactly show the real condition and processes of the writing itself.Authentic assessment in writing plays a very important role in its teaching since the impact will be huge to the students. The process of this assessment really show the students’ performance. Key words: authentic assessment, paradigm shift, writing
An Error Analysis of Experiential Meaning in Students’ Writing of Recount
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan dan mendeskripsikan analisa kesalahan dalam experiential meaning pada teks tulisan recount mahasiswa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis kesalahan dan analisis experiential meaning dalam ranah systemic functional linguistics. Data penelitian diambil dari 20 teks tulisan recount mahasiswa di kelas Writing 4 di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di Unissula. Unit analisa dalam penelitian ini adalah klausa. Hasil penelitian menunjukan bahwa omission, addition, misinformation, dan misordering ditemukan dalam analisa kesalahan dalam teks tulisan recount mahasiswa. Tingkat kesalahan tertinggi adalah misinformation yang mencapai 64,9 % atau 417 kesalahan tata bahasa. Elemen process dari experiential meaning merupakan elemen yang memiliki tingkat kesalahan tertinggi pada aspek kesalahan misinformation yang mencapai 40,5 % atau 260 kesalahan tata bahasa. Simpulan dari penelitian ini adalah kesalahan tata bahasa yang dominan ditemukan adalah misinformation dalam elemen processes dari experiential meaning. Berdasarkan hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa mahasiswa di program studi Pendidikan Bahasa Inggris masih memiliki masalah dalam menulis recount, oleh karena itu mahasiswa harus menguasai tata kebahasaan dalam menulis recount. Keywords: error analysis, experiential meaning, writing, recoun
APOLOGY: A STRATEGY TO RECOGNIZE SPEAKERS’ BEHAVIOUR (THE ANALYSIS OF APOLOGY FOUND IN “THE SOUND OF MUSIC” PLAY)
Tuturan permintaan maaf (apology) dapat digunakan untuk mengetahui perilaku penuturnya. Analisis tuturan permintaan maaf seseorang, dapat digunakan untuk mengetahui berbagai aspek perilaku orang tersebut, sopan santunnya, kepekaan sosialnya dan juga sifat dasarnya. Dalam kajian ini, analisis apology dilakukan dengan media transkrip drama “Sound of Music”. Sebuah drama tentang pola asuh anak dalam keluarga dengan single parent berlatarbelakang militer. Terdapat banyak sekali persinggungan karakter dalam drama ini sehingga apology nya dengan mudah dapat diketahui dan kemudian dianalisa. Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa apology yang dituturkan oleh seseorang dipengaruhi dengan kuat oleh kedudukan penutur dan pendengar, jenis kesalahan dan sifat penutur. Semakin peka dan halus sifatnya, maka semakin sopan pula tuturan apology nya. Keywords: Tuturan apology, perilaku penutur apology, pola tuturan apology
DEIXIS ANALYSIS THROUGH THE INTERACTION AMONG THE STUDENTS WITH DIFFERENT CULTURE
Setiap bahasa mempunyai deixis yang berbeda-beda, karena setiap bahasa mempunyai perbedaan aturan dan latar belakang budaya. Penggunaan dan aturan yang berbeda ini terkadang akan menyulitkan seseorang atau siswa yang bukan seorang native speaker untuk mempelajari bahasa baru, karena ia juga harus mempelajari tentang budaya dimana suatu bahasa itu ada. Jika ia tidak mempelajari itu, komunikasi menjadi tidak seimbang dan mungkin akan melakukan atau mengucapkan sesuatu yang tidak seharusnya. Jika hal ini terjadi, akan menimbulkan kecenderungan untuk terjadi kesalah pahaman. Jadi jika seseorang ingin mempelajari bahasa, harus mempelajari juga tentang aturan dan latar belakang budaya bahasa tersebut. Selain kita juga harus mengetahui aspek lainnya seperti karakter pembicara, tujuan, permasalahan dan situasi dalam pembicaraan. Kata Kunci : Deixis, pembelajar dan perbedaan buday
DEKONSTRUKSI KULTURAL TERHADAP FEMINISME DAN DEKONSTRUKSI FEMINIS TERHADAP KULTUR DALAM CERPEN MALAM PERTAMA SEORANG PENDETA
This paper focuses on analyzing short story entitled “Malam Pertama Calon Pendeta” using cultural feminist deconstructive approach. The purpose is to reveal the hidden meaning contained in the short story through deconstructive approach from feminist perspective about feminism in the scope of Balinese culture. The result shows that Krining a girl of non-Brahmana caste deconstructs feminism as an action of a feminist. Key words: deconstructive approach, feminism deconstruction, cultures
BASA-BASI DALAM PERCAKAPAN KOLOKIAL BERBAHASA JAWA SEBAGAI PENANDA KARAKTER SANTUN BERBAHASA
AbstractThe phatic communion is the standardized ritual repertoire in Indonesia culture, particularly in Javanese socioculture. The speech is a form of clichés which can be spoken by any Javanese speakers to the situation to start a conversation. The purposes of this research are to identify (1) the markers of phatic communion in colloquial Javanese language, (2) the types of phatic communion in colloquial Javanese language, (3) communicative functions of phatic communion (metalinguitics politeness) as the politeness markers in spoken language. In this study, I used pragmatic approach by analysing the language functions in which they are expressed in the form of speech acts. The data were colloquial Javanese language which had phatic communion. The subject of the study were standard Javanese speakers, Banyumas Javanese speakers, and East Java Javanese speakers. The data were collected by recording technique and note-taking technique. The data were analyzed by using Creswell’s steps. In this study, there were six categories of the phatic communion in colloquial Javanese language. They were congratulation, hope, humiliation, invitation, prohibition, and farewell. In their construction, the speakers used the phatic marker as the modifier and the markers of speech purposes. Thus, this form of communication showed the characters of polite language.Kata kunci: basa-basi, penanda fatis, bahasa Jawa, santun berbahas
GENRE-BASED APPROACH TO PROMOTE LEARNERS’ CRITICAL THINKING SKILLS
Untuk membuat siswa mempunyai pemikiran kritis dibutuhkan sebuah strategi yang dapat membuat siswa mampu mensintesis pengetahuan dan keterampilan di dalam konteks pengajaran bahasa Inggris. Artikel ini mendiskusikan implementasi pendekatan berbasis genre sebagai sebuah alternatif model pengajaran bahasa Inggris di level sekolah menengah atas. Beberapa isu yang menjadi pokok permasalahan di sini adalah konsep mengenai pemikiran kritis, pendekatan berbasis genre, dan implementasi pendekatan berbasis genre yang mempromosikan pemikiran kritis siswa di dalam kelas bahasa Inggris. Dengan menekankan pada paragraf argumentasi seperti eksposisi dan diskusi, guru sebaiknya mendorong pemikiran kritis siswa baik dalam bahasa tulis maupun lisan. Artikel ini juga memuat sebuah model pengajaran yang mengimplementasi pendekatan berbasis genre yang mengaktifkan pemikiran kritis di dalam kelas bahasa Inggris. Keywords: Genre Based Approach, Critical Thinking, argumentative texts, English Language Teachin
THE IMPORTANCE OF NON-NATIVE ENGLISH SPEAKER TEACHERS IN THE CONTEXT OF ENGLISH AS A FOREIGN LANGUAGE
Guru penutur asli Bahasa Inggris dan non-penutur asli Bahasa Inggris masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, bagi siswa yang mempelajari Bahasa Inggris sebagai Bahasa asing, guru non-penutur asli memiliki kelebihan. Setidaknya, ada empat faktor kelebihan yang hanya bisa di kuasai oleh guru non-penutur asli, yaitu pengetahuan dasar, komunikasi yang efektif, pemahaman kesulitan dan kebutuhan siswa, serta pengaruh multi-budaya dan keanekaragaman. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, bisa disimpulkan bahwa guru non-penutur asli memiliki peran yang lebih penting dalam meningkatkan kemampuan ber-Bahasa Inggris siswa.Keywords: NESTs, NNESTs, EFL, Learnin
VARIASI TINDAK TUTUR DALAM CERPEN “TERGODA” KARYA DEWI ANGGRAENI
Cerpen merupakan salah satu jenis karya sastra kreatif. Sebagi karya sastra kreatif, cerpen mengungkapkan hidup dan kehidupan manusia yang dikemas secara imajiner dan menggunakan bahasa yang indah. Peristiwa hidup dan kehidupan manusia yang ada dalam cerpen diungkapkan oleh tokoh. Keberadaan tokoh dalam sebuah cerpen sangatlah penting. Aneka peristiwa kehidupan yang terjadi pada tokoh dan atau antartokoh dapat diketahui melalui tindak tutur tokoh. Jalan cerita, jalinan cerita, peristiwa dalam cerita diketahui dan dinikmati oleh pembaca dari tindak tutur tokoh. Aneka macam tindak tutur tokoh yang ada dalam cerpen menunjukkan aneka peristiwa yang terjadi dalam cerpen. Salah satu daya pikat atau daya tarik cerpen adalah dari tindak tutur tokoh. Hal ini tercermin juga dalam cerpen “Tergoda” karya Dewi Anggraeni. Kata kunci: variasi, tindak tutur, cerpen, tergod