10023 research outputs found
Sort by
Pengembangan Modul Elektronik Pembelajaran bagi Anak Berkebutuhan Khusus Materi Penjumlahan dan Pengurangan SDLB Menggunakan Genially
Anak tunarungu memiliki keterbatasan auditori/audio, sehingga lebih mengandalkan penggunaan visual dalam kesehariannya oleh karena itu perlu adanya media yang mampu memvisualisasikan konsep atau materi matematika. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kevalidan dan kepraktisan modul elektronik yang telah dikembangkan.
Pengembangan media pembelajaran ini penulis menggunakan metode R&D (Research and Development). Pada metode pengembangan ini terdapat 5 tahap yang terdiri dari Analysis (Analisis), Desain, (perancangan), Development (pengembangan), Implementation (Implementasi), dan Evaluation (Evaluasi).penelitian ini menggunakan desain penelitian one-shot case study. Penilaian kevalidan media modul elektronik terdiri dari ahli media dan ahli materi berisi 9 butir pernyataan materi dan 11 butir pernyataan media. Penilaian kepraktisan media modul elektronik terdiri dari penialaian praktisi dan hasil respon peserta didik berisi 11 butir pernyataan praktisi dan butir pernyataan respon peserta didik. Subjek penelitian adalah siswa kelas V tunarungu SLB Negeri 02 Bantul yang berjumlah 7 orang.
Hasil validasi ahli materi yang menghasilkan rata-rata skor 4,2 dalam kategori “baik”, hasil validasi ahli media menghasilkan rata-rata skor 4,16 dalam kategori “baik”, hasil validasi praktisi menghasilkan rata-rata skor 4,38 dalam kategori “sangat baik”. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa modul elektronik secara keseluruhan valid. Berdasarkan hasil penelitian, modul elektronik ini dinyatakan valid dan praktis. Rata-rata skor respon siswa sebesar 4,33 yang tergolong sangat baik menunjukkan bahwa modul ini efektif digunakan dalam proses pembelajaran matematika
Efektivitas Pembelajaran Kosakata Bahasa Arab Menggunakan Metode Langsung Kelas VII di SMP Muhammadiyah 2 Gamping
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas penggunaan metode langsung dalam pembelajaran kosakata bahasa Arab pada siswa kelas 7 di SMP Muhammadiyah 2 Gamping. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi pada proses pembelajaran di kelas, wawancara mendalam dengan guru bahasa Arab dan siswa kelas 7, serta analisis dokumen seperti nilai rata-rata siswa pertahun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode langsung memberikan dampak positif terhadap proses dan hasil pembelajaran kosakata bahasa Arab. Siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran, termotivasi untuk belajar, dan mampu menggunakan kosakata baru dalam konteks yang relevan. Metode langsung juga menciptakan suasana pembelajaran yang lebih komunikatif dan interaktif, di mana siswa terlibat aktif dalam berbagai aktivitas berbahasa Arab, seperti membaca, mendengarkan, berbicara dan menulis. Penelitian ini merekomendasikan bagi guru bahasa Arab untuk mengoptimalkan penerapan metode langsung
Peran Influencer Marketing dalam Memoderasi Pengaruh Content Marketing terhadap Minat Beli Produk Maybelline
Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran influencer marketing dalam memoderasi pengaruh content marketing terhadap minat beli produk Maybelline. Jenis penelitian ini yaitu penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh konsumen pengguna produk Maybelline di Yogyakarta. Sampel yang digunakan dalam penelitian adalah non probability sampling dengan teknik purposive sampling sebanyak 95 responden. Penyebaran kuesioner ini menggunakan link Google Form yang disebarkan melalui media sosial. Skala pengukuran variabel dilakukan dengan menggunakan skala likert. Metode analisis yang digunakan adalah uji outer model, inner model, dan uji hipotesis. Analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan Partial Least Square (SMART PLS). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: Content Marketing (X) berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli (Y). Influencer Marketing (M) berpengaruh negatif signifikan dalam memoderasi pengaruh content marketing (X) terhadap minat beli (Y)
Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Pembentukan Karakter Disiplin Madrasah Aliyah Negeri 3 Bogor
Pendidikan karakter merupakan pendidikan wajib disekolah salah satunya karakter disiplin yang harus diajarkan di MAN 2 Bogor karena siswa yang memiliki karakter disiplin akan lebih mudah untuk mencapai tujuan pribadi mereka, seperti memiliki kemampuan mengatur waktu yang baik, mampu bekerja secara mandiri, serta dapat menyelesaikan tugas dengan tepat dan teratur. Disiplin juga membantu siswa untuk mengembangkan kebiasaan positif yang dapat mendukung pembentukan karakter yang lebih baik di masa depan. Tujuan penelitiannya untuk mengetahui peran guru PAI, bentuk-bentuk pelaksanaan PAI dan mengetahui adanya faktor pendukung dan penghambat dalam pembentukan karakter disiplin siswa.
Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dan pendekatannya dengan menggunakan pendekatan deskriptif karena data yang diperoleh seperti hasil pengamatan, wawancara, catatan lapangan dan tidak dituangkan dalam bentuk angka. Peneliti menggali tentang peran guru PAI dalam pembentukan karakter disiplin MAN 3 Bogor. Subjek penelitian ini adalah satu guru PAI, satu guru mata pelajaran umum, satu staff kesiswaan dan tiga puluh delapan siswa kelas IPA 2 MAN 3 Bogor. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data penelitian menggunakan model analisis yaitu mengumpulkan data, reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan.
Hasil penelitian dapat disimpulkan, pertama, peran guru PAI dalam membentuk karakter kedisiplinan bahwa guru PAI memiliki peran: guru sebagai pendidik, guru sebagai pengajar, guru sebagai sumber belajar, guru sebagai fasilitator, guru sebagai manajer, guru sebagai penggerak, guru sebagai motivator, guru sebagai evaluator, guru sebagai konselor, dan guru sebagai mediator; kedua, pelaksanaan pembelajaran PAI dalam membentuk karakter kedisiplinan (a) keteladanan, pembiasaan, pemberian nasihat, perhatian/pengawasan, reward dan punishment (b) cara penanaman kedisiplinan anak melalui disiplin waktu, tidak menunda pekerjaan; ketiga, faktor pendukung berupa konsistensi anak itu sendiri, sikap pendidik, adapun faktor penghambat, pengaruh teman sebaya, pergaulan yang tidak baik, diri anak sendiri yang tidak ada kemauan berdisipli
Peran Content Marketing, Influencer Marketing, dan Online Customer Review terhadap Keputusan Pembelian Facetology Triple Care Sunscreen di Daerah Istimewa Yogyakarta
Perkembangan teknologi dan meningkatnya penggunaan media online telah mengubah strategi pemasaran bisnis. Hal tersebut mengakibatkan persaingan bisnis menjadi semakin ketat, dengan begitu perusahaan harus lebih kreatif dalam membangun strategi pemasaran yang tepat agar dapat meningkatkan penjualan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh content marketing, influencer marketing, online customer review terhadap keputusan pembelian Facetology Triple Care Sunscreen di Daerah Istimewa Yogyakarta. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pengguna Facetology Triple Care Sunscreen di Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk sampel dalam penelitian ini yaitu sebagian pengguna Facetology Triplle Care Sunscreen di Daerah istimewa Yogyakarta yang berjumlah 124 responden. Teknik sampling pada penelitian ini menggunakan non-probability sampling yaitu purposive sampling. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer. Teknik pengumpulan data dengan cara menyebarkan kuesioner melalui google form. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Patrial Least Sqare (PLS) dengan program aplikasi SmartPLS versi 3.2.9 dan dievaluasi dengan outer model dan inner model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa content marketing (X1) berpengaruh signifikan dan positif terhadap keputusan pembelian (Y), influencer marketing (X2) tidak berpengaruh signifikan dan positif terhadap keputusan pembelian (Y), online customer review (X3) berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian (Y)
Analisis Risiko Kecelakaan Kerja pada Bagian Fabrikasi dengan Menggunakan Metode Hazard Identification Risk Assessment and Determining Control (HIRADC) Studi Kasus: PT. Industri Kereta Api (Persero) Madiun
Kecelakaan kerja adalah kejadian tidak terduga di tempat kerja yang dapat menyebabkan cedera, kerusakan, atau kehilangan nyawa. Studi pendahuluan di bagian fabrikasi PT. Industri Kereta Api (Persero) menemukan potensi bahaya tinggi, kurangnya kedisiplinan, dan minimnya penerapan aturan penggunaan APD. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi, menilai, dan memberikan rekomendasi pengendalian risiko kecelakaan kerja di bagian fabrikasi PT. Industri Kereta Api (Persero) Madiun, yang memiliki potensi bahaya tinggi, kurangnya kedisiplinan, dan minimnya penggunaan APD.
Penelitian ini menggunakan metode HIRADC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control) dengan pendekatan mixed methods. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk mengidentifikasi bahaya dan menilai tingkat risiko di area fabrikasi. Penilaian risiko dilakukan dengan menentukan nilai berdasarkan jenis risiko, seperti kemungkinan terjadinya (likelihood) dan tingkat keparahan (severity), serta dampaknya terhadap keselamatan kerja. Hasil penilaian digunakan untuk menentukan langkah pengendalian yang efektif, seperti perbaikan prosedur, peningkatan pelatihan, atau penggunaan alat pelindung diri (APD) yang lebih optimal.
Hasil penelitian menunjukkan 186 risiko di tiga unit fabrikasi: minor assembly (66 risiko, 20 high), sub assembly (71 risiko, 18 high, 1 extreme), dan carbody assembly (49 risiko, 14 high, 3 extreme). Risiko utama meliputi ketidaklengkapan APD dan ketidakpatuhan terhadap SOP. Penelitian ini menyimpulkan perlunya perbaikan manajemen dan pengendalian risiko untuk meningkatkan keselamatan kerja
Basic Training of Public Health (BTOPH) 2024 & IGTC UAD Belajar Sambil Beraksi, Berkembang Sambil Menginspirasi!
Improving student readiness for future professional activities: the Industry-Integrated Self-Design Project Learning (i-SDPL) model
Introduction. The Fourth Industrial Revolution has brought about significant changes in both the economy and education. This study introduces a tailored self-design training model specific to In- donesia’s industries for students. Aim. The present research aims to develop a learning model that is product-oriented and tailored to meet the needs of the industry. Additionally, it seeks to evaluate the model’s effectiveness in enhancing the readiness of vocational high school (VHS) students. Methodology and research methods. The study employed various testing methods, including interviews, questionnaires, and practical performance assessments. Results and scientific novelty. The developed Industry-Integrat- ed Self-Design Project Learning (i-SDPL) model integrates the learning experiences from VHSs with an industry component aimed at familiarising students with the professional environment of enterprises. This model emphasises student independence in the development and implementation of industry pro- jects. The integration with industry within the model offers students access to the latest technologies and practical knowledge that may not always be available in an academic setting. The advantages of this model include active student participation in enterprise operations, training based on real products, and a comprehensive enhancement of both technical competencies and soft skills compared to tradi- tional methods. The effectiveness of the i-SDPL model is evaluated based on three main competency aspects, each with clear indicators and criteria. The i-SDPL model has demonstrated its effectiveness in enhancing attitude, knowledge, and skills competency among 136 students across two trial imple- mentations. Scientific novelty. An original i-SDPL model has been developed to ensure the integration of vocational education programmes with the specific needs of various industries. Practical significance. The widespread adoption of the i-SDPL model will further enhance partnerships between vocational ed- ucation institutions and industry. The findings of this study are not only pertinent to the VHS system in Indonesia but can also serve as a valuable guide for vocational education institutions in other countries facing similar challenges
Enhancing Soybean Fertilization Optimization with Prioritized Experience Replay and Noisy Networks in Deep Q-Networks
This study focuses on the optimization of reinforcement learning in the Deep Q Network algorithm. This is achieved using the prioritized experience replay algorithm and Noisy Network optimization. The main goal is to optimize fertilization so that it can adapt to its environment and avoid over-fertilization. This study uses the prioritized experience replay algorithm and Noisy Network optimization to create an agent in RL that is able to explore and exploit optimally so that it can improve the precision of fertilization in soybeans. This methodology includes several steps, including data preparation, creating an environment that matches real-world conditions, and validating changes in soil nutrient conditions. The RL model was trained with PER and NN, with performance evaluated using cumulative reward, convergence speed, action distribution, and Mean Squared Error (MSE). The main results of the study show that DQN-PER NN achieves the highest cumulative reward, approaching 600,000 in 1000 episodes, outperforming standard DQN, A2C, and PPO. It also converges faster at episode 230, indicating superior adaptability. In addition, the results of this study indicate that the model that has been created is able to recommend a dose of SP36 fertilizer of 150 kg/ha, urea fertilizer of 100 kg/ha, and KCL fertilizer of 125 kg/ha. Compared with the A2C and PPO methods, the dose of urea fertilizer is reduced by 14%, KCL fertilizer is reduced by 33%, while for SP36 the difference is 23%. In Conclusion this model effectively distributes actions based on environmental conditions, which supports sustainable agriculture. In conclusion, the integration of PER and NN into DQN significantly improves exploration and decision making, and optimizes soybean fertilization. This model not only improves harvest efficiency but also encourages sustainable agricultural practices