10023 research outputs found
Sort by
Pelatihan kesehatan , intercultural skills dan academic improvement guna persiapan santri aqwamu qila beprestasi
Keterampilan lintas budaya (intercultural skills) penting bagi mahasiswa karena dunia semakin
terhubung melalui teknologi dan komunikasi. Mahasiswa harus siap berinteraksi dengan individu dari latar belakang budaya yang berbeda, baik dalam konteks akademis maupun profesional. Kemampuan untuk beradaptasi dan berkomunikasi dengan orang dari budaya yang berbeda sangat berharga dalam lingkungan global saat ini. Sementara itu keterampilan lintas budaya membantu mahasiswa mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang orangorang dari latar belakang budaya yang berbeda. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan akademik dan kemampuan interpersonal yang lebih kuat dan efektif agar
berprestasi di kancah internasional. Kegiatan yang telah dilakukan pada pengabdian ini adalah penyuluhan dan pelatihan Interculture Skills kepada semua santri Aqwamu Qila, pada tanggal 25 Januari 2024 . Pertemuan kedua dilakukan konsultasi akademik dan konsultasi pencarian beasiswa luar negeri. Pertemuan selanjutnya akan dilaksanakan pada 15 Februari 2024 mengenai kesehatan santri di bulan Ramadhan. Dampak kegiatan ini adalah meningkatnya pengetahuan dan keterampilan interkulture pada mahasiswa-mahasiswa santri Pesantren Aqwamu Qila serta peningkatan kemandirian, kepercayaan diri dan akademik mereka
'Aabidah Ummu 'Aziizah_Bukti Korespondensi Artikel Attitudes and Views of Universitas Ahmad Dahlan to the Transable Ideology: An AIK Learning and Local Wisdom Based Preventive Approach
Navigating Ethics and Empathy in Disaster Photojournalism in Indonesia
This study examines the ethical challenges within Indonesian media’s disaster reporting, particularly focusing on the depiction of disaster victims. It focused on several major disasters, including the 2004 Aceh Tsunami, the 2006 Yogyakarta and Central Java earthquake, the 2010 Mt. Merapi Eruption, and the 2015 Sumatra Forest fires. Through thematic analysis of interviews with six journalists and two media practitioners, and a critical examination of three graphic photographs of the 2010 Mt Merapi eruption, this research delves into the ethical challenges encountered by Indonesian photojournalists. The article highlights a pressing gap in the Indonesian Journalists’ Code of Ethics regarding the disaster coverage. This gap often leads to the recurrent publication of distressing images, emphasizing the need for clearer, more comprehensive ethical standards. Moreover, the study contrasts individual journalists’ ethical awareness with broader industry trends towards sensationalism. This research contributes to the discourse on disaster photojournalism ethics, suggesting the significant need for policy development, journalist training programs, and the revision of journalistic codes of ethics. This emphasises the significance of balancing journalistic ethics with empathetic representation of victims and promotes fostering media literacy among the public