10023 research outputs found
Sort by
Hubungan IMT dengan kadar gula darah puasa pada pasien prolanis diabetes di wilayah kerja Puskesmas Danurejan II Kota Yogyakarta
Latar Belakang : Diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit yang ditandai dengan resistensi insulin yang mana sel-sel tubuh tidak mampu merespon insulin secara penuh sehingga terjadi peningkatan kadar gula darah dalam tubuh. Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) menunjukkan jumlah angka kematian akibat diabetes melitus di seluruh dunia berdasarkan usia 20-79 tahun meningkat dari 4,2 juta pada tahun 2019 menjadi 6,7 juta pada tahun 2021. Diabetes Melitus tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikendalikan melalui kontrol kadar gula darah. Pemerintah melalui BPJS memberikan pelayanan untuk membantu menjaga stabilitas gula darah dengan membentuk Prolanis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan IMT dengan kadar gula darah puasa pada pasien Prolanis diabetes di wilayah Kerja Puskesmas Danurejan II Kota Yogyakarta.
Metode : Penelitian ini dengan cara cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien prolanis diabetes di Puskesmas Danurejan II Kota Yogyakarta berjumlah 448 orang. Sampel diambil secara accidental sampling dengan perhitungan rumus besar sampel dan didapatkan sampel sebanyak 59 orang.
Hasil : hasil penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan uji chi-square diperoleh nilai p=0,001 (p<0,05) sehingga dapat diketahui bahwa ada hubungan signifikan antara IMT dengan kadar gula darah puasa pada pasien Prolanis diabetes di wilayah kerja Puskesmas Danurejan II Kota Yogyakarta.
Kesimpulan : Kesimpulan dalam penelitian ini adalah ada hubungan IMT dengan kadar gula darah puasa pada pasien prolanis diabetes di Wilayah Kerja Puskesmas Danurejan II Kota Yogyakarta
Hubungan tingkat pengetahuan gizi dan jumlah uang saku dengan kejadian obesitas pada remaja di SMKN 7 Kota Yogyakarta
Latar Belakang : Obesitas atau overweight merupakan permasalahan kesehatan yang serius dan banyak terjadi di seluruh dunia. Kota Yogyakarta memiliki angka kejadian obesitas pada remaja usia >15 tahun tertinggi di DIY dengan prevalensi 26,9% atau di atas rata-rata nasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dan jumlah uang saku dengan kejadian obesitas pada remaja SMKN 7 di Kota Yogyakarta. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain studi Cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini yaitu siswa SMKN 7 Yogyakarta usia 14-18 tahun. Jumlah sampel adalah 101 siswa di SMKN 7 Yogyakarta ditentukan secara random. Data pengetahuan gizi dan jumlah uang saku dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner, sedangkan data obesitas menggunakan angka indeks masa tubuh dengan mengukur tinggi dan berat badan siswa. Hasil Penelitiain : Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dan jumlah uang saku dengan kejadian obesitas pada remaja di SMKN 7 Yogyakarta. Kesimpulan : Ada hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dan jumlah uang saku dengan kejadian obesitas pada remaja di SMKN 7 Yogyakarta
Efektivitas penggunaan obat antihipertensi pada pasien stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Yogyakarta
Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko yang berkaitan erat dengan stroke. Penelitian ini bertujuan guna mengetahui gambaran pemakaian obat dan efektivitas obat antihipertensi yang diberikan kepada pasien stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Yogyakarta.
Metode penelitian yang dipakai yaitu observasional deskriptif dengan pendekatan secara retrosprektif dari data rekam medis di RSUD Panembahan Senopati Yogyakarta. Populasi pada penelitian ini ialah seluruh rekam medis pasien stroke iskemik di rawat inap RSUD Panembahan Senopati Yogyakarta tahun 2023. Sampel dipilih berdasarkan kriteria inklusi.
Hasil penelitian didapatkan sebanyak 163 sampel berdasarkan jenis kelamin laki-laki berjumlah 88 pasien, perempuan 75 pasien, berdasarkan usia 45-55 tahun berjumlah 33 pasien, 55-65 tahun 62 pasien, 66-74 tahun 42 pasien, 75-90 24 pasien dan > 90 tahun 2 pasien. Pola penggunaan obat antihipertensi tunggal amlodipine 49 pasien, valsartan 9 pasien, candesartan 15 pasien, captopril 5 pasien, bisoprolol 9 pasien, furosemide 11 pasien. Pola pengggunaan obat antihipertensi kombinasi amlodipine+candesartan 27 psaien, amlodipine+furosemide 8 pasien dan amlodipine+valsartan 7 pasien. Rata-rata penurunan tekanan darah obat antihipertensi tunggal, ACEi 33/13 mmHg, ARB 30/7 mmHg, CCB 24/6 mmHg, Diuretik 32/10 mmHg, B-Blocker 18/6 mmHg. Penurunan tekanan darah kombinasi nicardipine + furosemide 93/30 mmHg, valsartan + furosemide + nicardipine 91/15 mmHg, amlodipine + captopril 49/18 mmHg.
Kesimpulan dari penelitian ini yaitu pada demografi jenis kelamin terbanyak pada laki-laki (usia 55 – 65 tahun). Penggunaan obat antihipertensi tunggal yang paling banyak adalah amlodipine dan obat antihipertensi kombinasi yang paling banyak adalah golongan amlodipine + candesartan. Efektivitas penggunaan obat antihipertensi pada pasien stroke iskemik mengalami penurunan dan mencapai target terapi yaitu <140/90 mmHg
Streptococcus agalactiae caused a Secondary Infection in Sexually Transmitted Infections: Case Report
Streptococcus agalactiae is a gram‑positive coccus bacterium that
is rarely reported to cause genital infections in males. This study
discusses the case of a young man with lesions on the genital as a
secondary infection caused by Streprococcus agalactiae. A 25‑
year‑old man came to the dermatology and venereology clinic of
Dr. Sardjito General Hospital, complaining of a wound on the penis
that had not healed in the last 3 months ago, the patient has a
history of having sex with men without using a condom and
frequently changing partners. The patient was known to be
infected with HIV (Human Immunodeficiency Virus) and the results
of the IgG HSV‑2 (Herpes Simplex Virus‑2) serological examination
were positive. The results of microbiological examination of the
wound bed swab sample showed the growth of Streptococcus
agalactiae. Previously the patient received antiretroviral therapy,
clindamycin oral, and erythromycin cream. The wound on the
penis got better, but before the wound completely recovered, the
patient did not visit anymore. Streptococcus agalactiae secondary
infection in cases of sexually transmitted infections is a rare case.
In this case, the finding of Streptococcus agalactiae can be
considered as a pathogen. In cases of sexually transmitted
infections with sores on the genital, a microbiological examination
is recommended to determine the causative microorganism, and
an antibiotic sensitivity test to determine the therapy