6024 research outputs found
Sort by
Implementasi Metode Eksperimen Pada Pembelajaran Sains Untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif Anak Kelas B2 Di Ra Al Hijrah Desa Hampalit Kecamatan Katingan Hilir Kabupaten Katingan
Kemampuan kognitif adalah kemampuan mental yang melibatkan proses pemikiran, pengolahan informasi, dan pemecahan masalah. Ini mencakup berbagai aspek seperti persepsi, ingatan, pemahaman, penalaran, dan kreativitas. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan tentang: 1) implementasi metode eksperimen pada pembelajaran sains di kelompok B2 RA Al-Hijrah Desa Hampalit Kecamatan Katingan Hilir Kabupaten Katingan. 2) kemampuan kognitif anak pada pembelajaran sains menggunakan metode eksperimen di kelompok B2 RA Al-Hijrah Desa Hampalit Kecamatan Katingan Hilir Kabupaten Katingan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindak kelas (PTK), dilakukan sebanyak 2 siklus. Satu siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Tempat penelitian dilaksanakan di RA Al-Hijrah Desa Hampalit Kecamatan Katingan Hilir Kabupaten Katingan. Subjek penelitian adalah anak kelompok B2 berusia 5-6 Tahun terdiri dari 9 anak perempuan dan 9 anak laki-laki. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Kriteria keberhasilan penelitian sebesar 75% sebagai dasar bahwa penelitian yang dilakukan berhasil atau tidak berhasil. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) implementasi metode eksperimen pada pembelajaran sains dengan menetapkan tujuan kegiatan dengan membuat RPPH, menetapkan kebutuhan eksperimen, mengadakan uji eksperimen, menyediakan kebutuhan eksperimen, mendiskusikan prosedur, membantu, membimbing mengawasi pembelajaran, membuat kesimpulan, mendiskusikan hambatan dan hasil eksperimen dan yang terakhir guru melakukan evaluasi dan penilaian kepada anak setelah melakukan kegiatan eksperimen. 2) kemampuan kognitif anak dalam aktivitas eksploratif dan menyelidik, dan mengenal sebab akibat belum berkembang secara optimal pada pra siklus dapat dilihat dari hasil rata-rata di peroleh 36,81% kriteria mulai berkembang (MB). Pada siklus I pertemuan pertama mengalami peningkatan sebesar 54,17% dan pertemuan kedua sebesar 60,42% diperoleh hasil rata-rata pada siklus I sebesar 64,27% dengan kriteria berkembang sesuai harapan (BSH) tetapi belum mencapai indikator keberhasilan sehingga dilanjutkan lagi pada siklus II. Pada pelaksanaan siklus II mengalami peningkatan yang sangat baik pada pertemuan pertama diperoleh hasil sebesar 84,03% dan pertemuan kedua sebesar 95,14% diperoleh hasil rata-rata pada siklus II sebesar 89,24% dengan kriteria berkembang sangat baik (BMB).
ABSTRACT
Cognitive ability is a mental ability that involves thought processes, information processing, and problem solving. It includes various aspects such as perception, memory, comprehension, reasoning, and creativity. The purpose of the study is to describe about: 1) the implementation of experimental methods in science learning in the B2 RA Al-Hijrah group, Hampalit Village, Katingan Hilir District, Katingan Regency. 2) children's cognitive abilities in science learning using experimental methods in the B2 RA Al-Hijrah group, Hampalit Village, Katingan Hilir District, Katingan Regency. This study uses the classroom action research method (PTK), carried out in 2 cycles. One cycle consists of 2 meetings. The research site was carried out at RA Al-Hijrah, Hampalit Village, Katingan Hilir District, Katingan Regency. The subject of the study was a group of B2 children aged 5-6 years consisting of 9 girls and 9 boys. The data collection technique uses observation, interviews and documentation. The research success criterion is 75% as the basis for whether the research carried out is successful or unsuccessful. The results of the study showed that: 1) the implementation of the experimental method in science learning by setting the objectives of the activity by making RPPH, setting the needs of the experiment, conducting experimental tests, providing experimental needs, discussing procedures, assisting, guiding and supervising learning, making conclusions, discussing obstacles and experimental results and finally the teacher evaluating and assessing the children after conducting experimental activities. 2) children's cognitive abilities in exploratory and investigative activities, and recognizing cause and effect have not developed optimally in the pre-cycle, which can be seen from the average results obtained by 36.81% of the criteria for starting to develop (MB). In the first cycle, the first meeting experienced an increase of 54.17% and the second meeting of 60.42%, the average result in the first cycle was 64.27% with the criteria of developing as expected (BSH) but did not reach the success indicator, so it was continued again in the second cycle. In the implementation of the second cycle, there was a very good increase in the first meeting with a result of 84.03% and the second meeting of 95.14% with an average result in the second cycle of 89.24% with the criteria of very good development (BMB)
The Correlation Between Students’ Reading Motivation And Their Reading Comprehension
The research aims to find out whether there is any significant correlation between students' motivation and their reading comprehension at tenth grade SMKN 2 Palangka Raya. This research used quantitative method with correlation approach, in this research used numerical data and statistical process to explain the result of the research. The data collection techniques used was questionnaires and tests. The informants in this research were class X MPLB 1 students at SMKN 2 Palangka Raya. Data was analyzed through stages data collection, test validity, test reliability, instrument analysis, test normality, test linearity, and hypothesis test. The students' reading motivation test used a questionnaire and the test was conducted for students' reading comprehension, which is calculated by Pearson product moment formulation was 0.564. It is classified into strong enough correlation. The results of the study can be interpreted that students' motivation has a moderate effect on learning achievement in reading comprehension. Students who have motivation towards English affect their willingness to read and their participation and commitment to study well because motivation is one of the factors that determine the success of failure in learning a second language which can affect the frequency of using learning strategies, willingness to learn, and persistence in learning.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada korelasi yang signifikan antara motivasi siswa dan pemahaman membaca mereka di kelas sepuluh SMKN 2 Palangka Raya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional, dalam penelitian ini menggunakan data numerik dan proses statistik untuk menjelaskan hasil penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket dan tes. Informan dalam penelitian ini adalah siswa kelas X MPLB 1 SMKN 2 Palangka Raya. Data dianalisis melalui tahapan pengumpulan data, uji validitas, uji reliabilitas, analisis instrumen, uji normalitas, uji linearitas, dan uji hipotesis. Tes motivasi membaca siswa menggunakan angket dan tes dilakukan pada pemahaman membaca siswa yang dihitung dengan rumus product moment Pearson adalah 0,564. Hal ini tergolong dalam korelasi yang cukup kuat. Hasil penelitian dapat diartikan bahwa motivasi siswa berpengaruh sedang terhadap prestasi belajar pemahaman membaca. Siswa yang memiliki motivasi terhadap bahasa Inggris mempengaruhi kemauannya untuk membaca dan partisipasi serta komitmennya untuk belajar dengan baik karena motivasi merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan kegagalan dalam belajar bahasa kedua yang dapat mempengaruhi frekuensi penggunaan strategi pembelajaran, kemauan untuk belajar, dan ketekunan dalam belajar
The Correlation Among Personality Traits, Reading Motivation, And Reading Achievement Of English Students In The Sixth Semester
Reading is an essential basic skill needed in various aspects, especially in education. The reading skill can be measured using reading achievement, and studies show that numerous factors can influence it. However, only a few studies have investigated the relationship between reading and personality traits toward achievement in a single study, especially in Central Kalimantan. This study aimed to check whether there is a relationship among personality traits, reading motivation, and reading achievement. Forty-nine students in the sixth semester of the English Department of the State Islamic Institute of Palangka Raya participated in this study. The participants are taken using a stratified random sampling technique. This study used a quantitative method with a multiple regression design. The researcher obtained the data through questionnaires and a test. The questionnaires are the motivation for the reading questionnaire (MRQ) adapted from Huang & Reynolds (2022) and the Big Five Inventory 2 (BFI-2) adapted from Soto & John (2017b), and the test adopted from Barons TOEFL IBT (2016). The data was analyzed using multiple linear regression on the software JASP. The analysis revealed that negative emotionality and intrinsic motivation correlated negatively and significantly with reading achievement. Both negative emotionality and intrinsic motivation contribute 15 percent to the variance of reading achievement simultaneously. Partially, negative emotionality was a significant predictor of reading achievement even intrinsic motivation was not a significant predictor for reading achievement.
ABSTRAK
Membaca merupakan sebuah kemampuan dasar penting yang diperlukan dalam berbagai aspek, terutama dalam pendidikan. Kemampuan membaca dapat ukur melalui prestasi membaca dan studi-studi menunjukan bahwa bermacam-macam factor dan mempengaruhinya. Akan tetapi, hanya sedikit studi yang menginvestigasi hubungan antara ciri-ciri kepribadian, motivasi membaca dan prestasi membaca dalam satu penelitian, terutama di Kalimantan Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengecek apakah ada hubungan antara antara ciri-ciri kepribadian, motivasi membaca dan prestasi membaca. Empat puluh Sembilan mahasiswa semester enam jurusan bahasa Inggris Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya berpartisipasi dalam penelitian ini. Partisipan dipilih menggunakan teknik sampling acak berstrata. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain regresi berganda. Peneliti mendapatkan data dengan angket dan tes. Angket yang digunakan adalah Motivation for reading questionnaire (MRQ) yang diadaptasi dari Huang & Reynolds (2022) dan Big Five Inventory 2 (BFI2) yang diadaptasi dari Soto & John (2017b), dan tes diadopsi dari TOEFL IBT Barron (2016). Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan regresi linear berganda pada perangkat lunak JASP. Hasil dari analisis memaparkan bahwa ciri-ciri kepribadian kenegatifan emosi dan motivasi intrinsik berkorelasi secara negative dan signifikan dengan prestasi membaca. Baik kenegatifan emosi dan motivasi intrinsic secara bersama-sama berkontribusi 15 persen terhadap varian prestasi membaca. Secara terpisah, Kenegatifan emosi merupakan prediktor yang signifikan pada prestasi membaca sedangkan motivasi intrinsik merupakan prediktor yang tidak signifikan terhadap prestasi membaca
Kreativitas Penghulu Dalam Pengabsahan Wali Pernikahan Studi Kasus Di Kua Kota Palangka Raya
Keberadaan wali dalam suatu pernikahan menurut agama Islam Sangat menentukan sah tidaknya akad nikah dan merupakan bagian dari rukun nikah yang harus ada. Akan tetapi penulis menemukan di KUA Bukit Batu adanya pasangan suami isteri yang menikah berwalikan ayah tiri, alasan penulis memilih penelitian ini karena merupakan suatu hal yang menarik untuk diteliti, sehingga dari penelitian ini didapati dua rumusan masalah, yakni Langkah-langkah petugas KUA dalam Menetapkan Wali Nikah dan Ijtihad Penghulu menindak lanjuti pernikahan yang berwalikan ayah tiri. Subjek penelitian ini berjumlah 5 orang. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini adalah: 1. Langkah-langkah petugas KUA dalam menetapkan wali nikah menurut penghulu kota palangka raya adalah: a) Pemeriksaan validasi data calon pengantin, b) Buku nikah orang tua sebagai syarat administrasi pernikahan bagi anak perempuan pertama, c) penasehatan dan cross cek wali nikah, d) Insting dalam komunikasi pada saat penasehatan wali/calon pengantin, e) Bimbingan pranikah calon pengantin (BIMWIN). 2.Ijtihad penghulu menindak lanjuti pernikahan yang berwalikan ayah tiri adalah: wajib melakukan tajdidun nikah dan wajib menggunakan mahar dalam pernikahan tersebut.
ABSTRACT
The presence of a guardian in a marriage according to Islam determines whether the marriage contract is valid or not and is part of the pillars of marriage that must exist. However, the author encountered a husband and wife couple who were married under the guardianship of a stepfather, the reason the author chose this research was because it was an interesting thing to research, so that from this research two problem formulations were found, namely the Steps of the KUA Officer in Determining the Marriage Guardian and the Penghulu's Ijtihad following up on a marriage under the guardianship of a stepfather. The subjects of this Empirical Juridical Sociological research were 5 people. The data that has been collected is then analyzed using a descriptive qualitative approach. The data collection techniques in this research are interviews, observation and documentation. The results of this research are: 1. The steps taken by the KUA officer in determining the marriage guardian according to the head of the city of Palangka Raya are: a). Checking the data validation of the prospective bride and groom, b) Parents' marriage book as a marriage administration requirement for the first daughter, c) counseling and cross checking the marriage guardian, d). Instinct in communication when advising the guardian/bride and groom, e). Pre-marital guidance for prospective brides and grooms (BIMWIN). 2. The prince's ijtihad following up on a marriage where the stepfather has the guardianship is: he is obliged to carry out tajdidun marriage and is obliged to use a dowry in the marriag
Efektivitas Model Konseling Kelompok Behavior Untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Mahasiswa Iain Palangka Raya Yang Berorganisasi
Kepercayaan diri adalah kualitas paling berharga dalam kehidupan sosial karena memungkinkan seseorang mencapai potensi maksimalnya. Jika seseorang dapat menerima dirinya sendiri dan merasa damai dengan dirinya, maka ia akan mampu lebih mengembangkan dan memanfaatkan potensi yang ada dalam dirinya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas model konseling kelompok Behavior untuk meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa IAIN Palangka Raya yang berorganisasi dan untuk mengetahui proses pelaksanaan model konseling kelompok Behavior untuk meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa IAIN Palangka Raya yang Berorganisasi.
Jenis penelitian ini adalah penelitian metode campuran atau mix method dan dianlisis menggungakan SPSS versi 24 for windows. Responden pada penlitian adalah mahasiswa IAIN Palangka Raya yang berorgoanisasi pada tahun 2023 dengan jumlah 318 yang jumlah sampelnya 40 mahasiswa untuk pelaksanaan konseling kelompok Behavior. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini berupa observasi, dokumentasi, dan angket yang digunakan merupakan hasil adopsi dari penelitian Muhammad Ramli Nur (2019) yang memiiki reabilitas alfa cronbach sebesar 0,922 dan Nuzulia Ulfa (2021) memiliki rebilitas alfa sebesar 0,786.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pelaksanaan model konseling kelompok Behavior dilakukan dalam tiga kali pertemuan. Pada setiap pertemuan para anggota menunjukkan dalam keparcayaan dirinya. Dilihat dari perubahan perilaku konseli sebelum dilakukannya konseling klien masih kaku dan terbata saat konseling berlangsung lalu setelah diterapkannya konseling kelompok Behavior meraka sudah mulai berani dalam menyampaikan pendapatnya Hasil penelitian pada efektifitas model konseling kelompok Behavior untuk meningkatakan kepercayaan diri mahasiswa sebelum diberikan konseling kelompok menunjukkan pada kategori sedang sebanyak 19 mahasiswa (95%), tinggi sebanyak 1 mahasiswa (5%), dan rendah sebanyak 0 mahasiswa. Setelah diberikan konseling kelompok Behavior terdapat peningkatan dimana kategori tinggi sebanyak 16 mahasiswa (80%), sedang sebanyak 4 mahasiswa (20%) dan rendah sebanyak 0 mahasiswa. Berdasarkan hasl pengujian statistik menunjukkan menggunakan uji T dengan nilai -Thitung < -Ttabel = -8,555 < -2,023. Dari hasil tersebut Hₒ diterima dan Hₐ ditolak, jadi dapat disimpulkan bahwa ada perubahan sebelum dan sesudah diberikan konseling kelompok Behavior untuk meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa IAIN Palangka Raya yang berorganisasi.
ABSTRACT
Self-confidence is the most valuable quality in social life because it allows a person to reach his or her maximum potential. If a person can accept himself and feel at peace with himself, then he will be able to further develop and utilize the potential that exists within him. The purpose of this study is to determine the effectiveness of the Behavior group counseling model to increase the confidence of IAIN Palangka Raya students who are organized and to find out the process of implementing the Behavior group counseling model to increase the confidence of IAIN Palangka Raya students who are organized.
This type of research is a mixed method research and analyzed using SPSS version 24 for windows. The respondents in the research were IAIN Palangka Raya students who were organized in 2023 with a total of 318 students with a sample of 40 students for the implementation of Behavior group counseling. The data collection techniques in this study in the form of observation, documentation, and questionnaires used are the results of the adoption of the research of Muhammad Ramli Nur (2019) which has an alpha cronbach reliability of 0.922 and Nuzulia Ulfa (2021) has an alpha reliability of 0.786.
The results of the study showed that the process of implementing the Behavior group counseling model was carried out in three meetings. At each meeting, the members showed themselves in their faith. Judging from the change in counseling behavior before the counseling is carried out, the client is still rigid and stumped during the counseling taking place, then after the implementation of the Behavior group counseling, they have begun to be brave in expressing their opinions. and as low as 0 students. After being given Behavior group counseling, there was an increase where the high category was 16 students (80%), medium as many as 4 students (20%) and low as many as 0 students. Based on hasl, statistical testing shows that using the T test with the value of -Count < -Table = -8.555 < -2.023. From these results, Hₒ was accepted and Hₐ rejected, so it can be concluded that there were changes before and after being given Behavior group counseling to increase the confidence of IAIN Palangka Raya students who are organized
Peran Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana Dalam Penanganan Kekerasan Terhadap Anak Di Kota Palangka Raya
Penelitian ini berbicara tentang fakta empirik yang terjadi dilapangan atas kasus kekerasan anak masih menjadi problem karena tidak ada tindakan dalam penanganannya yang dalam merupakan bagian dari peran Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana dalam penanganan kekerasan terhadap anak di Kota Palangka Raya. Fokus penelitian ini berbicara tentang (1) bagaimana penanganan kasus kekerasan terhadap anak oleh DP3APPKB Kota Palangka Raya, dan (2) kendala DP3APPKB Kota Palangka Raya dalam upaya penanganan kasus kekerasan terhadap anak. Jenis penelitian ini adalah penelitian hukum empiris dengan pendekatan sosiologis yuridis dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dianalisis dengan teori perlindungan pelayanan, teori perlindungan hukum, dan teori efektivitas hukum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; (1) DP3APPKB Kota Palangka Raya dalam menangani kasus kekerasan fisik terhadap anak yaitu meliputi upaya pencegahan dengan cara sosialisasi dan membentuk lembaga-lembaga terkait pencegahan bekerjasama dengan aparat desa dan Bhabinkamtibmas setempat. Penanganan kekerasan ketika adanya laporan kasus kekerasan bekerjasama dengan pihak Polres Kota Palangka Raya, PPA Provinsi sehingga tidak bergerak sendiri jika terdapat laporan kasus kekerasan. Serta pendampingan penanganan pasca terjadinya kekerasan bekerjasama dengan pisikolog (penanganan pisikolog klinis untuk para korban). (2) Pelaksanaan perlindungan hukum terhadap anak yang mengalami kekerasan oleh DP3APPKB Kota Palangka Raya pada dasarnya telah didukung oleh unsur substansi dan struktur aparat penegak hukum yang memadai, namun masih kurang dalam hal sarana prasarana karena masih belum adanya rumah aman bagi anak korban kekerasan, maupun budaya hukum masyarakat yang masih enggan untuk melapor ketika terjadinya kekerasan terhadap anak.
ABSTRACT
This research talks about the empirical facts that occur in the field of child abuse cases which are still a problem because there is no action in handling them which is part of the role of the Office of Women's Empowerment Child Protection Population Control and Family Planning in handling violence against children in Palangka Raya City. The focus of this research talks about (1) how the handling of cases of violence against children by DP3APPKB Kota Palangka Raya, and (2) the obstacles of DP3APPKB Kota Palangka Raya in efforts to handle cases of violence against children. This type of research is empirical legal research with a juridical sociological approach with data collection techniques through observation, interviews, and documentation analyzed with service protection theory, legal protection theory, and legal effectiveness theory. The results of this study indicate that; (1) DP3APPKB Kota Palangka Raya in handling cases of physical violence against children includes prevention efforts by means of socialization and forming institutions related to prevention in collaboration with village officials and local Bhabinkamtibmas. Handling violence when there are reports of cases of violence in collaboration with the Palangka Raya City Police, Provincial PPA so that they do not move alone if there are reports of cases of violence. As well as assistance in handling the aftermath of violence in collaboration with a psychologist (clinical psychologist handling for victims). (2) The implementation of legal protection of children who experience violence by DP3APPKB Palangka Raya City has basically been supported by adequate elements of substance and structure of law enforcement officials, but is still lacking in terms of infrastructure because there is still no safe house for child victims of violence, as well as the legal culture of the community who are still reluctant to report when violence against children occurs
Komodifikasi Islam Pada Bisnis Kuliner Di Kelurahan Panarung Kota Palangka Raya
Komodifikasi Islam dimaknai sebagai strategi yang dilakukan oleh pelaku industri dengan memanfaatkan Agama sebagai nilai jual untuk memperoleh perhatian dari konsumen. Pelaku industri berlomba-lomba untuk memperoleh label syariah atau halal dari suatu produk yang dihasilkan untuk mampu bersaing dengan kompetitornya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fenomena komodifikasi Islam pada bisnis kuliner di Kelurahan Panarung Kota palangka raya, dan untuk mengetahui motif serta praktik komodifikasi Islam pada bisnis kuliner di Kelurahan Panarung Kota Palangka Raya.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian etnografi dengan pendekatan kualitatif, lokasi yang diambil dalam penelitian ini adalah di Kelurahan Panarung , Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, dengan subjek penelitian sebanyak 4 orang pedagang pada bisnis kuliner di Kelurahan Panarung . Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. sedangkan teknik pengabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi sumber. Selanjutnya teknik analisis data dilakukan dengan empat tahap yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarik kesimpulan. Kemudian data yang dikumpulkan dianalisis.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat motif dan praktik komodifikasi Islam pada bisnis kuliner di Kelurahan Panarung yang dibuktikan dengan penggunaan simbol atau atribut Islam pada tempat usaha para pedagang di Kelurahan Panarung . Motif penggunaan simbol atau atribut Islam pada pedagang bisnis kuliner di Kelurahan Panarung merupakan suatu kebiasaan yang didasari oleh kuatnya kecintaan masyarakat Melayu Banjar kepada Tokoh Ulama. Praktik penggunaan simbol atau atribut Islam pada bisnis kuliner di Kelurahan Panarung merupakan bentuk komodifikasi yang berasal dari faktor internal yaitu motif agama dan budaya Maka dari itu terdapat bentuk komodifikasi Islam pada pedagang bisnis kuliner di Kelurahan Panarung .
ABSTRACT
Islamic commodification is interpreted as a strategy carried out by industry players by utilizing Religion as a selling point to gain attention from consumers. Industry players compete to obtain a sharia or halal label from a product produced to be able to compete with its competitors. This writing aims to determine the phenomenon of Islamic commodification in the culinary business in Panarung Village, Palangka Raya City, and to determine the motives and practices of Islamic commodification in the culinary business in Panarung Village, Palangka Raya City.
This research is a type of ethnographic research with a qualitative approach, the location taken in this study is in Panarung Village, Palangka Raya City, Central Kalimantan, with research subjects of 4 traders in the culinary business in Panarung Village. Data collection techniques use observation, interview and documentation techniques. while the data validation technique is carried out using source triangulation techniques. Furthermore, the data analysis technique is carried out in four stages, namely data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions.
The results of this study indicate that there are motives and practices of Islamic commodification in the culinary business in Panarung Village, as evidenced by the use of Islamic symbols or attributes in the business premises of traders in Panarung Village. The motive for using Islamic symbols or attributes in culinary business traders in Panarung Village is a habit based on the strong love of the Banjar Malay community for Ulama Figures. The practice of using Islamic symbols or attributes in culinary businesses in Panarung Village is a form of commodification that comes from internal factors, namely religious and cultural motives. Therefore, it can be seen that there is a form of Islamic commodification in culinary business traders in Panarung Village
Pengelolaan Koperasi Sinergi Amal Insani Palangka Raya
Koperasi Sinergi Amal Insani adalah koperasi kovensional yang berjalan dengan sistem syariah dalam pengelolaan usahanya. Koperasi Sinergi Amal Insani berbeda dengan koperasi pada umumnya karena dalam kegiatan usaha Koperasi Sinergi Amal Insani tidak ada simpan pinjam khusus simpanan dengan sistem bagi hasil.
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif dan jenis penelitian lapangan. Subjek dalam penelitian ini adalah pengelola Koperasi Sinergi Amal Insani Palangka Raya, dan 6 informan dalam penelitian adalah anggota Koperasi Sinergi Amal Insani dan Dinas Koperasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah berdasarkan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pengabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Teknik analisis menggunakan 4 komponen, yaitu data collection,data reduction, data display dan conclusions drawing.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Pengelolaan koperasi Sinergi Amal Insani dimulai dari perencanaan, yaitu kerja sama usaha dengan menghimpun dana, mendistribusikan modal ke unit usaha dengan prinsip bagi hasil. Kedua pengorganisasian yang dilakukan Koperasi Sinergi Amal Insani sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam rapat pendirian awal koperasi. Ketiga pengkoordinasian, Koperasi Sinergi Amal Insani sudah melakukan cukup baik namun perlu ditingkatkan lagi prosedur pengkoordinasian yang jelas. Keempat pengawasan yang dilakukan Koperasi Sinergi Amal Insani dilakukan oleh Dewan pengawas dan dinas koperasi dilakukan tiap bulan dan tribulan. (2) Latar belakang Koperasi Sinergi Amal Insani menggunakam sistem operasional berbasis syariah karena dinilai lebih sesuai dengan nilai-nilai Islam yaitu menghindari unsur-unsur yang dilarang dalam Islam, seperti riba, maysir, gharar, dan tadlis. Sistem operasional berbasis syariah dinilai lebih mudah dan sederhana dibandingkan dengan sistem operasional konvensional. Hal ini karena sistem operasional berbasis syariah tidak menggunakan bunga, melainkan menggunakan bagi hasil. (3) Apabila ditinjau dari perspektif ekonomi syariah berdasarkan fungsi-fungsi manajemen operasional koperasi syariah Koperasi Sinergi Amal Insani masih belum terpenuhi karena dalam menjalankan fungsi perencanaan Koperasi Sinergi Amal Insani hanya menggunakan akad dalam penyaluran dana dengan prinsip bagi hasil yaitu akad mudharabah muthlaqah, begitu juga dalam fungsi pengorganisasian, dan pengawasan Koperasi Sinergi Insani tidak ada Dewan Pengawas Syariah (DPS) sehingga tidak sesuai dengan fungsi-fungsi manajemen operasional syariah.
ABSTRACT
The Synergy Amal Insani Cooperative is a conventional cooperative that operates using a sharia system in managing its business. The Synergy Amal Insani Cooperative is different from cooperatives in general because in the business activities of the Synergy Amal Insani Cooperative there are no savings and loans specifically for savings with a profit sharing system.
This research uses a descriptive qualitative research approach and field research type. The subjects in this research were the managers of the Palangka Raya Amal Insani Synergy Cooperative, and the 6 informants in the research were members of the Insani Amal Synergy Cooperative and the Cooperative Service. The data collection technique used is based on observation, interviews and documentation. Data validation uses source triangulation. The analysis technique uses 4 components, namely data collection, data reduction, data display and conclusion drawing.
The results of this research show that: (1) Management of the Human Amal Synergy cooperative starts from planning, namely business cooperation by collecting funds, distributing capital to business units with the principle of profit sharing. The two organizations carried out by the Human Charity Synergy Cooperative were in accordance with what had been determined in the initial founding meeting of the cooperative. Thirdly, in coordination, the Human Charity Synergy Cooperative has done quite well, but clear coordination procedures need to be improved. The four supervisions carried out by the Synergy Amal Insani Cooperative are carried out by the supervisory board and cooperative services every month and quarterly. (2) Background: The Synergy Amal Insani Cooperative uses a sharia-based operational system because it is considered more in line with Islamic values, namely avoiding elements that are prohibited in Islam, such as usury, maysir, gharar and tadlis. Sharia-based operational systems are considered easier and simpler than conventional operational systems. This is because the sharia-based operational system does not use interest, but instead uses profit sharing. (3) When viewed from a sharia economic perspective, based on the operational management functions of sharia cooperatives, the Synergy Amal Insani Cooperative is still not fulfilled because in carrying out the planning function of the Sinergy Amal Insani Cooperative, it only uses contracts in distributing funds with the principle of profit sharing, namely mudharabah muthlaqah contracts, as well as In the organizing and supervising functions of the Sinergi Insani Cooperative there is no Sharia Supervisory Board (DPS) so it is not in accordance with the sharia operational management functions
Sistem Pembagian Kepemilikan Rumah Antara Pemilik Tanah Dan Pengembang Menurut Ekonomi Islam (Studi Kasus Terhadap Perumahan Griya Atma Mandiri)
Hadirnya bisnis di bidang perumahan ini karena seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk setiap tahunnya maka perkembangan dari sektor properti akan semakin pesat dan sangat beragam. Griya Atma Mandiri merupakan salah satu pengembang yang membangun perumahan di Jl. G.Obos 14. Griya Atma Mandiri menjalin kerja sama dengan pemilik tanah. Adapun tujuan peneliti adalah mengetahui bagaimana sistem kerja sama antara pemilik tanah dan pengembang, bagaimana akad kerja sama antara pemilik tanah dan pengembang dalam prespektif Ekonomi Syariah, dan bagaimana keadilan bagi hasil dalam kepemilikan rumah antara pemilik tanah dan pengembang.
Metode penelitian ini adalah kualitatif. Jenis penelitian adalah penelitian lapangan. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Sumber data di dapat dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis menggunakan penelitian Miles dan Huberman, yang membagi langkah langkah dalam analisis data, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa Griya Atma Mandiri dan pemilik tanah melakukan kerja sama berupa kepemilikan rumah, yaitu 7 unit rumah untuk pengembang dan 1 unit rumah untuk pemilik tanah. Akad yang digunakan dalam kerja sama ini yaitu menggunakan sistem bagi hasil mudharabah pada sistem kepemilikan rumah dengan presentase 80% : 20%. Hasil ini dilihat dari besaran modal yang dikeluarkan dan resiko yang ditanggung oleh kedua belah pihak, yaitu pengembang modal Rp 1.200.000.000 dengan keuntungan Rp 620.000.000. Sedangkan untuk pemilik tanah bermodalkan tanah dengan ukuran 1.600 m² dengan harga jual tanah sebesar Rp 240.000.000.000, mendapatkan keuntungan satu unit rumah seharga Rp 260.000.000, maka keuntungan yang diperoleh sebesar Rp 20.000.000. Keadilan yang digunakan adalah keadilan distributif, yang mana keadilan ini berkaiatan dengan pembagian hasil atau keuntungan secara adil diantara pihak-pihak yang terlibat. Baik pihak yang terlibat dalam sistem bagi hasil, yang meliputi pemilik modal, pekerja, mitra usaha, atau pihak lain yang terlibat dalam produksi atau usaha bersama.
ABSTRACT
The presence of this business in the housing sector is because because as the population increases every year, the development of the property sector will become more rapid and very diverse. Griya Atma Mandiri is one of the developers building housing on Jl. G. Obos 14. Griya Atma Mandiri collaborates with land owners. The purpose of the researcher is to understand how the cooperation system between landowners and developers works, how the cooperation agreement between landowners and developers is viewed from an Islamic economic prespective, and how the fairness of profit-sharing in homewnership between landowner and developers is maintained.
This research method is qualitative. The type of research is field research. The technique used in this research is purposive sampling. Data sources are obtained from observation, interviews and documentation. The analysis technique uses research by Miles and Huberman, which divides the steps in data analysis, namely data collection, data reduction, data presentation, as well as drawing conclusions and verification.
Based on the research, it is known that Griya Atma Mandiri and the landowner collaborate in terms of home ownership, specifically 7 units for the developer and 1 unit for the landowner. The agreement used in this cooperation employs a profit-sharing mudharabah system in the home ownership arrangment with an 80% : 20% ratio. This result is seen from the amount of capital spent and the risks borne by both parties, namely the developer's capital is IDR 1,200,000,000 with a profit of IDR 620,000,000. Meanwhile, for land owners with land capital measuring 1,600 m² with a land selling price of IDR 240,000,000,000, getting a profit from one house unit worth IDR 260,000,000, the profit obtained is IDR 20,000,000. And the justice used is distributive justice, which is related to the fair distribution of results or profits between the parties involved. Both parties involved in the profit sharing system, which include capital owners, workers, business partners, or other parties involved in production or joint ventures
Persepsi Anggota Arisan Online Terhadap Penambahan Pembayaran Dalam Perspektif Ekonomi Islam
Arisan online sedang populer diberbagai kalangan saat ini, dimana pada pelaksanaannya terdapat berbagai sistem dan metode hingga aturan yang telah dibuat dan disepakati oleh owner dan anggota arisan. Arisan S memiliki ketentuan penambahan pembayaran dari jumlah yang seharusnya didapatkan oleh anggota yang merupakan hak owner sebagai pelaksana arisan. Hal tersebut membuat peneliti ingin mengetahui dan menganalisis: 1) bagaimana praktik penambahan pembayaran pada arisan online, 2) bagaimana pendapat anggota arisan online tentang praktik penambahan pembayaran, 3) bagaimana perspektif ekonomi Islam mengenai penambahan pembayaran pada arisan online.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan metode kualitatif dan menggunakan pendekatan deskriptif. Adapun objek penelitian adalah praktik penambahan pembayaran pada arisan online, dengan tujuh orang subjek penelitian yaitu seorang owner arisan, lima orang anggota arisan, dan seorang ulama setempat. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik pengabsahan data menggunakan triangulasi metode dimana peneliti menggunakan lebih dari satu teknik pengumpulan data. Adapun teknik analisis data yang digunakan yaitu data collection, data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa praktik penambahan pembayaran pada arisan online ini yaitu anggota membayar lebih satu kali daripada yang seharusnya didapatkan. Persepsi anggota yang mengikuti arisan tentang penambahan pembayaran adalah menyetujui dan tidak keberatan dengan berbagai alasan, sebagai hadiah, biaya jasa/admin, nominal tidak terlalu besar, dan tidak memberatkan. Menurut perspektif ekonomi Islam dalam pendapat ulama setempat praktik penambahan pembayaran pada arisan online ini dapat dilihat sebagai kegiatan yang berdasar kepada tolong-menolong antar manusia karena pada pelaksanaan arisan tidak ada pihak yang merasa dirugikan.
ABSTRACT
Online arisan is currently popular in various circles, where in its implementation there are various systems and methods as well as rules that have been created and agreed upon by the owner and members of the arisan. Arisan S has provisions for additional payments from the amount that members should receive, which is the owner's right as the organizer of the arisan. This makes researchers want to know and analyze: 1) what is the practice of adding payments to online social gatherings, 2) what online arisan members think about the practice of adding payments, 3) what is the Islamic economic perspective regarding adding payments to online social gatherings.
This research is field research with qualitative methods and uses a descriptive approach. The object of the research is the practice of adding payments to online social gatherings, with seven research subjects, namely an arisan owner, five members of the social gathering, and a local cleric. Data collection techniques in this research are observation, interviews and documentation. The data validation technique uses a triangulation method where researchers use more than one data collection technique. The data analysis techniques used are data collection, data reduction, data display, and conclusion drawing/verification.
The results of this research show that the practice of adding payments to online social gatherings means that members pay more than they should have received. The perception of members who take part in the social gathering regarding additional payments is that they agree and do not object for various reasons, as a gift, service/admin fees, the nominal value is not too large, and it is not burdensome. According to an Islamic economic perspective, in the opinion of local scholars, the practice of adding payments to online social gatherings can be seen as an activity based on mutual assistance between people because in the implementation of the social gathering, no party feels disadvantaged