Diponegoro University

Diponegoro University Institutional Repository
Not a member yet
    71404 research outputs found

    VERBA DENGAN MAKNA “MELEPASKAN” DALAM BAHASA JEPANG 「Melepaskan」という意味を持っている日本語の動詞

    Get PDF
    ABSTRACT Prasidya, Wahyu Eko. 2020. “Verbs with the meaning of “Melepaskan or Release” in Japanese “. Thesis, Department of Japanese Language and Culture, Faculty of Humanities, Diponegoro University. The Advisor: S.I. Trahutami, S.S., M.Hum. The purpose of the research are: 1. To know the verbs in Japanese that include in the meaning of “melepaskan or release” in semantic fields. 2. Furthermore, to describe the characteristic meaning of every Japanese verbs that include in the meaning of “melepaskan or release”in semantic fields. The data in this research are attained from the digital articles in “www.ejje.weblio.jp”, “www.asahi.com” , “www.tsurihack.com” , and “www.yourei.jp”. The collecting data is done with the writing method. Method of data analysis used is agih method. The agih method has bagi unsur langsung technique as its basic technique. The results of research show that Japanese has 13 verbs that include in the meaning of “melepaskan or release” in sematic fields.That are “melepaskan or release” of something are trying to catch. “melepaskan or release” something catch, “melepaskan or release” for human objects. “melepaskan or release” for animal objects. Keywords : semantic fields, verba, melepaskan bahasa Jepang

    PERWUJUDAN KONSEP GIRI DAN NINJOU YANG TERGAMBAR PADA IZUKU MIDORIA DALAM MANGA BOKU NO HERO ACADEMIA 漫画僕のヒーロアカデミアの緑谷出久に見られる義理と人情の概念

    Get PDF
    ABSTRACT Jazmi Kusumajati, Aulia. “The Embodiment of The Concept of Giri and Ninjou Illustrated in Izuku Midoriya in The Manga Boku No Hero Academia”. A thesis of Japanese Department, Diponegoro University. Advisor: Zaki Ainul Fadli, M.Hum dan Arsi Widiandari, S.S, M.Si. The material object used in this study is a manga titled Boku No Hero Academia. While the formal object in this study is the embodiment of the concept of giri and ninjou. This research uses library research methods to obtain data that support this thesis. The theory supporting this research is the structural approach by Burhan Nurgiyantoro and several books on the concept of giri and ninjou by Ruth Benedict, Kiyohide Seki, and Takeo Doi. The purpose of this study is to describe the embodiment of the concept of giri and ninjou in the manga Boku No Hero Academia. Based on data that has been analyzed, there are two divisions in the giri, giri by type and giri by nature. Giri by type is divided into two, giri to the world and giri to one name. Then giri based on its nature, it’s also divided into two, atatakai giri and tsumetai giri. Furthermore, based on data that has been analyzed, there are several manifestations of ninjou contained in the Manga Boku No Hero Academia. Keywords: giri; ninjou; Boku No Hero Academia

    METAFOR MAUT DALAM PUISI “KURINDUKAN”, “KEHENDAK-MU”, DAN “BUNGA” KARYA SOEDJARWO (SEBUAH KAJIAN STILISTIKA)

    Get PDF
    The purpose of this study is to describe the structure of poem and to explaine the meaning of death metaphors in poem by Soedjarwo. Material objects are three poems by Soedjarwo viz “Kurindukan”, ”Kehendak-Mu”, and ”Bunga”. The formal object is in the form of an analysis of the death metaphor in the three poems by stylistic study. The method used is the library method. The theory used is Roman Ingarden structural theory to study structural poetry and stylistic theory to study the metaphor of poetry. The results of the structural analysis of poetry “Kurindukan”, ”Kehendak-Mu”, and ”Bunga” by Soedjarwo produce a kakofoni sound. Poem “Kurindukan“ has the meaning to miss God or death. Poem “Kehendak-Mu” has the meaning that destiny is difficult to read and is absolute. Poem “Bunga” gives the meaning of sadness because of death. The results of the metaphor analysis of poetry “Kurindukan”, ”Kehendak-Mu”, and ”Bunga” by Soedjarwo provides a different understanding of death. The metaphor in poem “Kurindukan” has the meaning of longing that is biased, longing for god or death. The metaphor in poem “Kehendak-Mu” has the meaning of unpreparedness to meet destiny. The metaphor in poem “Bunga” has the meaning of sadness when meeting death. Longing, doubt, and sadness due to death are conveyed by metaphor in simple language. The phrase that raises the quetion makes Soedjarwo’s poem seem to be doubly meaningful and deeper. Keywords: Poem, structural, stylistica, metaphora, deat

    RELASI MAKNA VERBA HIRAKU SEBAGAI POLISEMI DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG 日本語の動詞「開く」の多義語の意味関係

    Get PDF
    ABSTRACT Nabila, Alisa Rona. 2020. “Meaning Relation of Verb Hiraku as a Polysemy in Japanese Sentences. Thesis. Department of Japanese Language and Culture. Faculty of Humanities. Diponegoro University. The advisor: S.I Trahutami, S.S., M.Hum. This research aims to analyse the meaning of verb hiraku, including its basic and extended meaning. The data used in this research are from Japanese online articles. The data collecting is using observation method with writing technique. The meaning of verb hiraku analysis is using translational comparison method with other language as a determinant. The data analysis result presentation is using descriptive method. This research result shows that verb hiraku has basic meaning ‘open’ and extended meaning such as ‘being far’, ‘further’, ‘difference’, ‘being different’, ‘gap’, ‘start’, ‘manage’, ‘enter’, ‘establish’, ‘hold’, ‘be created’, ‘clean’, ‘search’, ‘give’, ‘get’, ‘cut’, ‘dissect’ and many more. Verb hiraku can be used for concrete things like object and abstract things like situation. Keywords: polysemy, verb, hiraku, meaning, basic meaning, extended meanin

    PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) PADA PENGEMBANGAN DESA WISATA NGLANGGERAN

    Get PDF
    Pariwisata perdesaan atau yang di Indonesia kerap disebut dengan istilah “desa wisata” merupakan salah satu model pengembangan pariwisata yang banyak diterapkan di negara berkembang, tidak terkecuali juga di Indonesia. Pengembangan desa wisata diketahui dapat digunakan sebagai alat pengembangan wilayah karena adanya manfaat ekonomi, sosial, maupun lingkungan yang dapat diberikannya. Salah satu desa wisata yang berkembang di Indonesia adalah Desa Wisata Nglanggeran di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi DIY. Desa Wisata Nglanggeran memiliki daya tarik utama berupa Gunung Api Purba yang berdasarkan sejarah geologisnya telah berumur tersier atau telah ada sejak 0,6 – 70 juta tahun yang lalu. Pengembangan Desa Wisata Nglanggeran kini sudah berkembang secara pesat akibat terwujudnya peran serta masyarakat yang diwujudkan melalui prinsip pengelolaan berbasis masyarakat (CBT) dan juga terjalinnya kemitraan baik dengan pemerintah, NGO, BUMN, maupun swasta

    PENERAPAN KEWIRAUSAHAAN SOSIAL LINGKUNGAN PADA PERTANIAN PADI ORGANIK DI DESA KETAPANG, KECAMATAN SUSUKAN, KABUPATEN SEMARANG

    Get PDF
    Dewasa ini pertanian organik semakin populer. Hal ini disebabkan dampak dari sistem pertanian modern/kimiawi yang tidak mendukung kelanjutan ekologi pertanian dalam jangka panjang. Pertanian padi organik dapat dijadikan sebagai bentuk kewirausahaan. Kewirausahaan yang diterapkan pada pertanian padi organik tentu tidak hanya melibatkan satu pihak melainkan perlu dilibatkannya banyak pihak pada daerah tersebut sehingga dapat menciptakan manfaat sosial dan ekonomi. Selain menciptakan manfaat sosial dan ekonomi, pertanian padi organik juga memberikan manfaat bagi lingkungan karena tidak menggunakan bahan-bahan kimia dalam proses produksinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana penerapan konsep kewirausahaan sosial lingkungan pada pertanian padi organik yang dilakukan oleh kelompok Al-Barokah di Kecamatan Susukan

    PENDAPAT PENGUNJUNG TERHADAP PENGEMBANGAN DESTINASI WISATA RELIGI DI KAWASAN MASJID AGUNG SEMARANG BERDASARKAN KOMPONEN PARIWISATA

    Get PDF
    Masjid Agung Semarang merupakan salah satu objek pariwisata di Kota Semarang yang menurut RTRW Kota Semarang tahun 2011-2031 merupakan kawasan strategis sosial budaya. Dalam mewujudkan Masjid Agung Semarang sebagai Kawasan Strategis Sosial Budaya diperlukan pengembangan destinasi wisata religi dengan pendekatan komponen pariwisata pada umumnya karena aspek-aspek yang ada pada destinasi wisata religi terdapat pada pengembangan pariwisata sehingga penelitian ini akan diteliti dengan komponen pariwisata yang terdiri dari atraksi, aksesibilitas, amenitas, aktivitas, ketersediaan paket pariwisata, dan fasilitas pendukung. Disamping itu, pelibatan pengunjung dalam memberikan penilaiain mengenai atribut pelayanan wisata yang ada pada Masjid Agung Semarang dirasa penting

    TINJAUAN SISTEM INOVASI DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH DALAM KEBIJAKAN PERENCANAAN DAN PEMBANGUNAN WILAYAH

    Get PDF
    Sejak munculnya revolusi industri 4.0, paradigma pengembangan wilayah bergeser pada konsep pengembangan yang dipimpin oleh ilmu pengetahuan (Frederick & McIlroy, 1999). Seiring pergeseran paradigma tersebut didukung oleh teori “knowledge economy” dan “learning region” yang bertujuan untuk pertumbuhan ekonomi dan peningkatan daya saing daerah dengan memanfaatkan iptek dan inovasi (Azman et al., 2014; Tkachenko & Bodrunov, 2014). Kedua teori ini mendasari munculnya konsep sistem inovasi daerah (SIDa). Menurut Fiore et al. (2011) faktor kunci peningkatan daya saing dalam pembangunan yaitu inovasi. Sementara di Indonesia, setiap kegiatan perencanaan dan pembangunan di Indonesia harus berdasarkan kebijakan. Sejalan dengan hal tersebut, menurut (Karlsen dan Larrea (2018); Tödtling dan Trippl (2005)) kebijakan merupakan tonggak utama keberhasilan implementasi SIDa

    GAMBARAN CARING ANTAR MAHASISWA S1 KEPERAWATAN ANGKATAN TAHUN KE II, III DAN IV UNIVERSITAS DIPONEGORO

    Get PDF
    Caring merupakan bagian paling penting dalam keperawatan. Caring dimulai dari caring terhadap diri sendiri lalu meluas caring terhadap seseorang yang paling terdekat seperti keluarga, sahabat dan teman lalu ke orang asing, meluas ke orang yang jaraknya jauh, dan caring terhadap seluruh ciptaan manusia dan Tuhan. Caring seorang perawat dapat dimulai sejak dini saat menjadi mahasiswa keperawatan. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan caring antar teman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui krakteristik dan tingkat caring antar mahasiswa keperawatan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survey. Sampel penelitian ini adalah 375 mahasiswa tahun angkatan ke II, III dan IV. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dan dihitung dengan perhitungan statistika deskriptif. Respon rate penelitian ini adalah 100% kembali dan dapat dianalisa. Hasil penelitian ini adalah mahasiswa memiliki usia rata-rata 20,01 dengan jumlah mahasiswa perempuan 351 dan laki-laki 24 mahasiswa. Jumlah mahasiswa angkatan tahun ke II 134 mahasiswa, tahun ke III 129 mahasiswa, dan tahun ke IV 112 mahasiswa. Caring mahasiswa terbanyak yang dimiliki oleh mahasiswa adalah caring sedang dengan jumlah 305 (81%) mahasiswa. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagian besar mahasiswa berjenis kelamin perempuan dengan rata-rata usia 20 tahun memiliki caring sedang dan kurangya caring pada action domain caring. Saran bagi mahasiswa adalah meningkatkan caring dalam action domain caring yang masih kurang di beberapa aspek

    65,209

    full texts

    71,404

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Diponegoro University Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇