71404 research outputs found
Sort by
TEKS MANĀSIKUL HAJJI SEBAGAI PENYAMBUT KITAB MANĀSIKUL HAJJI WAL UMRAH WA ADAB AZ-ZIARAH LI SAYYIDIL MURSALĪN KARYA KIAI SHOLEH DARAT ASSAMARANI (SUNTINGAN TEKS DISERTAI ANALISIS RESEPSI)
HUBUNGAN ANTARA REGULASI EMOSI DENGAN ASERTIVITAS SISWA SMP N 32 SEMARANG
HUBUNGAN ANTARA REGULASI EMOSI DENGAN ASERTIVITAS PADA SISWA SMP N 32 SEMARANG
Anisa Fitri Salsabila
15010116130140
Fakultas Psikologi
Universitas Diponegoro
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara regulasi emosi dan asertivitas siswa SMP Negeri 32 Semarang. Asertivitas adalah tingkat kemampuan mengkomunikasikan keinginan, perasaan, dan pikiran kepada orang lain tanpa rasa cemas sesuai dengan kondisi diri sendiri, dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain dan pertimbangan positif mengenai baik dan buruknya sikap yang akan dimunculkan. Regulasi emosi adalah tingkat kemampuan individu untuk mengenali, menilai, dan mengubah kondisi emosional dalam dirinya. Proses tersebut mempengaruhi reaksi fisiologis, cara berpikir, dan respon emosi. Populasi penelitian ini diberikan pada siswa kelas 7 SMP Negeri 32 Semarang berjumlah 288 siswa. Teknik pengambilan sampling yang digunakan adalah cluster random sampling. Alat ukur dalam penelitian ini adalah Skala Asertivitas (33 aitem, α = 81,9% ) dan Skala Regulasi Emosi (15 aitem, α = 66,7%). Analisis data menggunakan analisis regresi sederhana dengan hasil yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara regulasi emosi dan asertivitas sebesar rxy = 0,669 dan p = 0,000 (p<0,05). Hasil penelitian terdapat hubungan positif antara regulasi emosi dengan asertivitas pada siswa kelas 7 SMP Negeri 32 Semarang. Regulasi Emosi memberikan sumbangan efektif sebesar 44,7 % dalam memprediksi asertivitas, sisanya sebesar 55,3% dipengaruhi oleh faktor-faktor yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Kata kunci: Regulasi Emosi, Asertivitas, Siswa
KAJIAN UPAYA PENGURANGAN RISIKO BENCANA DALAM PERSPEKTIF PENGELOLAAN SUMBERDAYA AIR TERPADU DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) COMAL JAWA TENGAH
Frekuensi bencana alam yang terjadi cenderung meningkat. Hal ini disebabkan beberapa
faktor-faktor pendorong seperti pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang,
konversi lahan, dan minimnya upaya rehabilitasi lahan kritis terutama di kawasan ekologis
Daerah Aliran Sungai (DAS). Bencana yang umum terjadi di DAS antara lain banjir, tanah
longsor, dan kekeringan. Diperlukan sebuah sistem perencanaan dan pengelolaan DAS
yang terpadu untuk mengantisipasi peningkatan frekuensi bencana tersebut
Penilaian Tingkat Eco-Driving pada Trans Sarbagita Koridor II untuk Mendukung Konsep Transportasi Berkelanjutan di Provinsi Bali
Dewasa ini, lebih banyak masyarakat yang memilih untuk bermukim di kawasan perkotaan
karena alasan ekonomi, teknologi, sosiologi ataupun politik. Hal ini menjadi penyebab
meningkatnya jumlah penduduk dan kepadatan penduduk di perkotaan. Peningkatan jumlah
penduduk yang drastis dapat menimbulkan berbagai masalah. Salah satu masalah terpenting yang
dapat ditimbulkan yaitu kemacetan lalu lintas serta meningkatnya emisi CO2 yang dihasilkan.
Masyarakat perkotaan memiliki mobilitas yang sangat dinamis dan dalam bermobilitas mereka
lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi daripada angkutan umum yang ada. Kawasan Bali
Selatan atau lebih sering disebut dengan kawasan Sarbagita yang merupakan kawasan
metropolitan pusat pemerintahan sekaligus pariwisata di Provinsi Bali. Seiring dengan
kedatangan wisatawan yang semakin meningkat, tingkat kemacetan di Kawasan Sarbagita semakin
tinggi
STUDI KEMAUAN MEMBAYAR (WILLINGNESS TO PAY) MASYARAKAT PERMUKIMAN KUMUH DI KELURAHAN KEMIJEN UNTUK MENDAPATKAN AIR BERSIH
Ketersediaan air bersih yang setiap hari digunakan masyarakat untuk kegiatan sehari-hari
kini mulai menurun. Masyarakat mencoba memenuhi kebutuhan air bersihnya dengan berbagai cara
seperti menggunakan air sungai yang kotor, membeli air dalam jerigen, membeli air kemasan galon,
atau membangun sumur artesis. Masyarakat di permukiman kumuh terus berjuang untuk bertahan
hidup dengan menggunakan pendapatan mereka yang terbatas untuk mendapatkan air bersih.
Keterbatasan kondisi ekonomi dan beberapa faktor lain menyebabkan mereka mengakses air bersih
dengan cara-cara yang kurang tepat sehingga biaya yang dikeluarkan untuk mengkonsumsi air
bersih membengkak dan menurunkan daya beli untuk barang dan jasa yang lain
KARAKTERISTIK SAMPAH PESISIR KOTA SEMARANG, STUDI KASUS: TAWANGSARI, PUNGGUNGLOR, BANDARHARJO (Coastal Waste Characteristic Of North Semarang)
Marine Debris atau sampah laut adalah benda buatan manusia yang dibuang atau
ditinggalkan di lingkungan pesisir atau laut. Benda tersebut dapat langsung hilang atau dibuang
dari kapal atau secara tidak sengaja sampah tersebut tersapu ke laut melalui sungai atau ombak.
Saat ini Marine Debris telah menjadi isu global dimana efek tersebut telah dirasakan oleh
organisasi kelautan, proses ekologi, alam, ekonomi, dan aspek lainnya. Isu ini tentu saja menjadi
isu yang penting bagi negara Indonesia. Keberadaan Marine Debris, berdampak pada seluruh
ekosistem di lautan dari permukaan laut sampai dasar laut, dan yang paling terlihat adalah di
sepanjang garis pantai, hal tersebut menimbulkan ancaman bagi kehidupan laut dan kesehatan
manusia. Selain itu, berdampak juga pada kondisi kesehatan kota tersebut
INTEGRASI PERSPEKTIF MULTISPESIES KE DALAM TAHAPAN PERENCANAAN KOMPREHENSIF (STUDI KASUS: KOTA SEMARANG)
Manusia merupakan subjek utama dalam sebuah perencanaan, dimana hal ini menimbulkan paham
antroposentris dalam perencanaan. Akibat dari hal tersebut maka spesies non manusia semakin
terpinggirkan dalam perencanaan. Hal ini dapat dicegah dengan memasukkan perspektif multispesies
ke dalam perencanaan. Maka dari itu tujuan dari penelitian ini adalah mengintegrasikan perspektif
multispesies ke dalam tahapan perencanaan komprehensif. Penelitian ini menggunakan dua metode
yaitu metode penelitian kuantitatif dan metode penelitian kualitatif
PEMODELAN INFRASTRUKTUR HIDROGEN UNTUK APLIKASI FUEL CELLDAN DAMPAKNYA TERHADAP ERA EKONOMI HIDROGEN STUDI KASUS DI KOTA SEMARANG
The current global trend is a shift in the use of fossil energy to hydrogen, known as the "hydrogen economy". At present transportation (automotive) is looking for alternative fuels as a substitute for fuel oil. In addition to using electricity as a driving force, hydrogen fuel is used as one of the fuels which can also be considered an option. This study seeks to determine the profile of energy consumption in Semarang district starting from the transportation to a certain year. The output of this research is about hydrogen infrastructure and making possible steps for a decission by knowing the profile of energy consumption in Semarang. Finally it will be known the potential of hydrogen infrastructure development which can become a guideline in determining the right policy in carrying out hydrogen infrastructure development in Semarang. The capacity of hydrogen production in Semarang is approximately 1,000 m3 / hour. The production breakdown per day is : 550m3 / hour x 24 = 13,200m3. It can be maximized the production of hydrogen for 360 days per year is 4,752,000m3. The prediction of the hydrogen needs of 2020 in Semarang is 1,955,780 m3. Thus the production of hydrogen in Semarang can be fulfilled.
Key words : hydogen fuel, oil fuel, production, transportatio
STRATEGI MITIGASI GAS RUMAH KACA DI SEKTOR PETERNAKAN SAPI PERAH DI KECAMATAN BOYOLALI, KABUPATEN BOYOLALI
Pemanasan global menjadi satu isu penting akhir-akhir inidiseebabkan.peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK).Peternakan adalah salah satu sektor yang berkontribusi dalam peningkatan GRKyang berasal dari fermentasi enterik dan kotoran hewan.Tujuan dari penelitian ini mengkajibeban emisi gas metana dan dinitrogen oksida dan perkiraan jumlah yang dihasilkan dari aktivitas peternakan di Kecamatan Boyolali.Peternakan masih dikelola secara tradisionil dan populasi ternak di seriap peternakan umumnya rendah.Letak peternakan menyebar dengan jarak relatif jauh, Potensi emisi gas metana dari fermentasi enteriksapi perah di kecamatan Boyolali sebesar0,29Gg CH4 yr-1, dan dari kotoran ternak 0,15 Gg CH4 yr-1. Emisi N2O langsung dari pengelolaan kotoran ternak sebesar 153,5 kg N2O/tahun, emisi tidak langsung sebesar 23,02kg N2O/tahun. Strategi yang dapat dilakukan untuk mitigasi GRK dengan modifikasi pakan dengan kecernaan yang tinggi dan memanfaatkan kotoran ternak menjadi lebih bernilai ekonomis dan lebih ramah lingkungan.
Kata Kunci : Gas Rumah Kaca, Peternakan, Strategi, Mitigasi, Kecamatan Boyolali
Global warming has become an important issue lately caused. increased Greenhouse Gas (GHG) emissions. Livestock is one of the sectors that contribute to the increase in GHGs derived from enteric fermentation and animal waste. The purpose of this study is to examine the burden of methane and nitrous oxide emissions and an estimate of the amount generated from animal husbandry activities in Boyolali District. Farms are still traditionally managed and livestock populations on each farm are generally low. The location of livestock is spread with a relatively far distance, the potential emissions of methane gas from enteric fermentation of dairy cows in Boyolali sub-district amounted to 0.29 Gg CH4 yr-1, and from livestock manure 0.15 Gg CH4 yr-1. Direct N2O emissions from livestock manure management are 153.5 kg N2O / year, indirect emissions are 23.02 kg N2O / year. Strategies that can be taken to mitigate Greenhouse Gas by modifying feed with high digestibility and utilizing livestock manure are more economically valuable and more environmentally friendly.
The Key Words :Greenhouse Gas, Livestock, Strategy, Mitigation, Boyolali Distric