71404 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN KELELAHAN KERJA TERHADAP STRES KERJA PADA PERAWAT PASIEN COVID-19 DI RUMAH SAKIT X
Pandemi COVID-19 terus meningkat selama satu tahun terakhir di Indonesia, peningkatan kasus COVID-19 membuat perawat pasien COVID-19 mengalami kelelahan kerja sehingga memicu terjadinya stres kerja. Tujuan penelitian adalah menganalisis hubungan kelelahan kerja terhadap stres kerja perawat pasien COVID-19. Penelitian ini menggunakan metode penelitian analitik observasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional, dimana dilakukan pengukuran variabel bebas kelelahan kerja dan variabel terikat stres kerja dalam satu waktu. Variabel pengganggu Karakteristik pekerjaan (unit kerja) digunakan untuk menggambarkan stres kerja dan kelelahan kerja setiap unit kerja. Pengumpulan data dilakukan menggunakan angket The Work Place Stress Scale dan Industrial Fatigue Research Committee (IFRC). Uji statistik yang digunakan adalah uji univariat dan bivariat Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kelelahan kerja terhadap stres kerja (p=0,059).
Kata kunci : Pandemi COVID-19, stres kerja, kelelahan kerja, karakteristik pekerjaa
HUBUNGAN SIKAP KERJA BERDIRI, KARAKTERISTIK PEKERJA, DAN PENGGUNAAN HIGH HEELS TERHADAP TINGKAT KELELAHAN KERJA PADA SALES PROMOTION GIRL (SPG) DI SWALAYAN KOTA SEMARANG
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara sikap kerja berdiri, karakteristik pekerja, dan penggunaan sepatu hak tinggi terhadap kelelahan kerja yang dialami oleh Sales Promotion Girl (SPG) di Supermarket Kota Semarang. Latar belakang penelitian ini adalah seorang SPG yang bekerja dengan posisi kerja berdiri dengan sepatu hak tinggi akan mengalami kejadian kelelahan kerja. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan studi cross sectional. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner IFRC, penggaris, microtoise, timbangan badan, dan Lembar Metode REBA. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 150 orang. Penelitian ini menggunakan teknik Incidental Sampling dengan jumlah sampel 38 orang. Analisis data menggunakan uji korelasi rank spearman. Temuan penelitian menunjukkan bahwa di antara 38 SPG yang memiliki posisi kerja berdiri; 16 orang dengan risiko rendah dan 22 orang sangat rendah. Berdasarkan usia mereka, 9 orang berusia 30 tahun dan 29 orang berusia di bawah 30 tahun. Sedangkan untuk kategori waktu pelayanannya, sebanyak 24 orang memiliki masa kerja lama dan 14 orang dengan masa kerja singkat. Di antara mereka yang memakai sepatu hak tinggi, 21 orang dengan kategori risiko dan 17 orang tanpa kategori risiko. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara posisi kerja berdiri, pemakaian sepatu hak tinggi dengan kelelahan kerja. Selain itu, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik pekerja (Umur, Masa Kerja, Indeks Massa Tubuh) dengan kelelahan kerja pada SPG di Supermarket di Kota Semarang. SPG disarankan untuk menggunakan sepatu hak tinggi dengan tinggi maksimal 5 cm dan stretch sebelum bekerja sehingga dapat mengurangi timbulnya kelelahan kerja.
Kata Kunci : Sales Promotion Girl, Kelelahan Kerj
ANALISIS SPASIAL INDEKS HABITAT DAN KARAKTERISTIK TEMPAT PERINDUKAN LARVA Culex spp TERHADAP KEJADIAN FILARIASIS DI KECAMATAN BANYUBIRU KABUPATEN SEMARANG
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, kasus baru filariasis terjadi di Kecamatan Banyubiru pada tahun 2018 – 2019 di Desa Gedong, sedangkan kasus lama pada tahun 2016 terjadi di Desa Kebondowo. Karakteristik tempat perindukan di suatu daerah dapat mendukung keberadaan vektor filariasis salah satunya yaitu nyamuk Culex spp. Berdasarkan Permenkes No. 50 Tahun 2017 indeks habitatlarva Culex spp adalah <5 %, hal ini belum pernah dilaporkan ke pihak Puskesmas ataupun Desa. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis secara spasial indeks habitat larva Culex spp dan tempat perindukan serta karakteristiknya terhadap kejadian filariasis di Kecamatan Banyubiru. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan desain penelitian cross sectional dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis. Hasil penelitian menunjukan indeks habitat larva Culex spp di Desa Kebondowo dan Gedong adalah 17,85% dan 15,38%. Larva Culex spp ditemukan pada jenis habitat selokan, sawah, kolam dan genangan. Karakteristik tempat perindukan larva Culex spp di Desa Kebondowo mempunyai suhu 25 – 33,70C, kelembaban 65,6 – 85,2%, pH 7,5 – 8,1, ketinggian 460,66 – 478,04 mdpl. Sedangkan Desa Gedong mempunyai suhu 25,1 – 30,70C, kelembaban 72,2 – 80,2%, pH 7,5 – 7,6, ketinggian 544,85 – 581,22 mdpl. Keberadaan predator pada tempat perindukan larva Culex spp di Desa Kebondowo dan Gedong yaitu keong sawah, ikan nila dan tanaman air/vegetasi berupa padi dan lumut. Berdasarkan analisis buffer 200 meter dan 500 meter kasus filariasis di Desa Kebondowo dan Gedong masihditemukan tempat perindukan positif larva Culex spp berupa sawah dan selokan.
Kata Kunci : Analisis spasial, Indeks habitat larva, Culex spp, tempat perindukan, filariasi
ANALISIS KEPATUHAN PERAWAT DALAM PENERAPAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI) COVID-19 DI RSUP DR. SOERADJI TIRTONEGORO KABUPATEN KLATEN
Kasus infeksi COVID-19 di Indonesia semakin meningkat. Sejak bulan September hingga awal Desember 2020 telah terjadi lonjakan kasus COVID-19 pada perawat di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten sejumlah 42 orang. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis Kepatuhan Perawat dalam Penerapan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi COVID-19 di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Kabupaten Klaten. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam. Informan utama terdiri dari Kepala Ruang dan IPCLN. Informan triangulasi terdiri dari Ketua Komite PPIRS, IPCN dan pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar informan menyatakan selama ini praktik PPI memang dipengaruhi oleh pihak eksternal di rumah sakit. Perawat bisa menerima kebijakan dalam praktik PPI karena ada edukasi dan pelatihan yang diberikan. Secara umum aspek ketaatan sudah baik. Dokumentasi dan program yang diberikan kepada pasien sering terlambat. Lima momen kebersihan tangan belum dijalankan maksimal dan praktik menyuntik yang aman belum mencapai 100%. Prosedur mencuci tangan belum dilakukan secara berurutan dan penggunaan sarung tangan masih sering dikesampingkan. Tahapan dalam melepas alat pelindung diri sering terbalik.
Kata Kunci : COVID-19, Perawat, Pencegahan dan Pengendalian Infeks
HUBUNGAN KUALITAS UDARA DENGAN ANGKA KEJADIAN TB PARU DI KECAMATAN KEBON JERUK, JAKARTA BARAT
Jakarta merupakan ibu kota negara Indonesia dengan tingkat pencemaran udara
yang tinggi. Jakarta pernah menjadi kota dengan tingkat polusi udara terburuk di
dunia di mana Kota Jakarta Barat menduduki peringkat kedua dengan AQI 169.
Selain buruknya kualitas udara, Kota Jakarta Barat juga menjadi salah satu kota
di Indonesia dengan jumlah kasus TB paru tertinggi pada tahun 2019. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara kualitas (PM10, SO2, CO,
O3 dan NO2) dengan angka kejadian TB paru di Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta
Barat. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan
rancangan penelitian time trend study. Penelitian ini menggunakan data ISPU
yang terdapat pada SPKU DKI-5 Kebon Jeruk, Jakarta Barat tahun 2016-2020 dari
Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta serta data surveilans jumlah
penyakit TB paru tahun 2016-2020 oleh Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.
Rata – rata ISPU bulanan Tahun 2016-2020 untuk parameter PM10 = 43,78, SO2
= 17,07, CO = 25,07, O3 = 87,42, dan NO2 = 25,07. Hasil analisis multivariat
menunjukkan bahwa secara simultan terdapat hubungan antara kualitas udara
dengan kejadian TB paru di Kebon Jeruk, Jakarta Barat (p = 0,001), sedangkan
secara parsial parameter pencemar yang perhubungan dengan TB paru adalah
PM10 (p = 0,004), SO2 (p = 0,014), CO (p = 0,040), dan O3 (p = 0,009). Parameter
pencemar NO2 secara parsial tidak berpengaruh terhadap TB paru (p =
0,077).Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan
antara pencemaran udara ambien pada parameter PM10, SO2, CO, dan O3
terhadap kejadian TB paru di Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat
Kata kunci : pencemar udara, ISPU, TB par
ANALISIS SPASIAL TINGKAT MOBILITAS PENDUDUK, KEPADATAN PENDUDUK DAN FAKTOR LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN COVID-19 DI KOTA SEMARANG
Total kasus kumulatif COVID-19 di Kota Semarang pada tahun 2020 sebanyak 16565 kasus, dan selalu naik hampir setiap bulannya sejak Maret 2020. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran pengaruh tingkat moblitas penduduk, kepadatan penduduk, dan faktor lingkungan dengan kejadian COVID-19 di Kota Semarang tahun 2020. Jenis penelitian ini yaitu penelitian deskriptif kuantitatif dengan metodenya yaitu analisis data sekunder menggunakan analisis spasial. Penelitian ini menggunakan data sekunder tahun 2020 yang meliputi data mobilitas dan kepadatan penduduk, kasus COVID-19 serta faktor lingkungan yang meliputi suhu dan kelembaban udara rata-rata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar Kecamatan di Kota Semarang menunjukkan keterkaitan antara tingkat mobilitas penduduk dan kepadatan penduduk dengan kejadian COVID-19 di Kota Semarang tahun 2020. Kecamatan Tugu memiliki tingkat mobilitas penduduk, kepadatan penduduk, dan kasus COVID-19 terendah di Kota Semarang, masuk kelompok 1 pada ketiganya (mobilitas 1317, kepadatan 1033/km2, kasus COVID-19 348 kasus). Kecamatan Pedurungan memiliki tingkat mobilitas penduduk, kepadatan penduduk, dan kasus COVID-19 yang masuk pada kelompok 5 (mobilitas 8092, kepadatan 9322/km2, kasus COVID-19 2131 kasus). Kecamatan Genuk dengan kepadatan penduduk dan kasus positif pada kelompok 3 (4502/km2, COVID-19 883 kasus). Hanya pada Kecamatan Gunungpati, Mijen, dan Gayamsari tidak menunjukkan keterkaitan antara mobilitas penduduk dan kepadatan penduduk dengan kejadian COVID-19. Pada faktor lingkungan yang terdiri dari suhu dan kelembaban udara, menunjukkan hasil Kecamatan Semarang Barat dengan suhu yang lebih rendah (280C) dari Semarang Utara (290C) memiliki kasus COVID-19 yang lebih tinggi daripada Semarang Utara. Sedangkan Semarang Barat dengan kasus COVID-19 yang lebih tinggi dari Semarang Utara, justru memiliki kelembaban udara yang lebih tinggi (83%) dari Semarang Utara (76%). Perlu penelitian lebih lanjut lagi terkait pengaruh suhu dan kelembaban udara dengan penyebaran COVID-19 serta faktor jumlah penduduk dan test yang dilakukan dengan kejadian COVID-19.
Kata Kunci: Kasus COVID-19, Mobilitas Penduduk, Kepadatan Penduduk, Faktor
Lingkunga
ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM KESELAMATAN PASIEN DI PUSKESMAS BONANG 2 KABUPATEN DEMAK
Keselamatan pasien menjadi suatu hal yang wajib dilaksanakan bagi seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Dalam standar akreditasi puskesmas disebutkan bahwa puskesmas dapat menjalankan fungsinya secara optimal maka perlu dikelola dengan baik, maka diperlukan adanya upaya peningkatan mutu, manajemen risiko serta keselamatan pasien yang harus diterapkan dalam pengelolaan Puskesmas. Di Puskesmas Bonang 2 Kabupaten Demak masih ditemukan adanya insiden keselamatan pasien pada tahun 2019. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pelaksanaan program keselamatan pasien di Puskesmas Bonang 2 Kabupaten Demak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan keselamatan pasien di Puskesmas Bonang 2 Demak masih kurang optimal. Masih terjadi keterlambatan pelaporan, beberapa unit tidak melakukan pencatatan, Puskesmas Bonang 2 Demak belum memiliki struktur organisasi keselamatan pasien terbaru, kurangnya SDM menjadi salah satu faktor keterlambatan pelaporan karena petugas memiliki banyak kegiatan sedangkan jumlah SDM terbatas, dan pelaporan insiden hanya untuk internal puskesmas. Puskesmas Bonang 2 Demak telah melaksanakan pelatihan rutin keselamatan pasien namun dalam pemberian ilmunya para staf kurang terpapar sehingga pelaksanaannya pun kurang optimal.
Kata Kunci : Keselamatan Pasien, Puskesmas, Insiden Keselamatan Pasie
KANDUNGAN LOGAM BERAT TIMBAL (Pb) PADA IKAN BANDENG (Chanos chanos), AIR, DAN SEDIMEN DI PERAIRAN MANGUNHARJO, KECAMATAN TUGU, KOTA SEMARANG
Mangunharjo merupakan wilayah yang berada di pesisir Kota Semarang dan dimanfaatkan untuk perindustrian dan aktivitas kapal nelayan sehingga wilayah tersebut rawan tercemar oleh logam timbal. Dengan kondisi seperti itu logam timbal kemungkinan mencemari tambak budidaya bandeng. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan timbal dalam air, sedimen, dan bandeng. Jenis penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan metode grap sampling. Penelitian ini terdiri dari beberapa sampel air, sedimen, dan ikan bandeng yang diambil di tiga stasiun tambak yang berbeda dengan masing – masing dua titik pengambilan. Analisis kadar timbal dilakukan menggunakan metode AAS dan merujuk pada SNI 6989:8:2009. Diperoleh hasil kadar timbal dalam air sebesar 0,8535 mg/L yang berarti melebihi baku mutu berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 22 tahun 2021 dengan nilai ambang batas sebesar 0,008 mg/L, kadar Pb dalam sedimen sebesar 3,9155 mg/kg yang berarti di bawah baku mutu berdasarkan ANZECC/ARMACANS 2000, Kandungan timbal pada daging bandeng yaitu 2,655 mg/kg, organ dalam bandeng yaitu 8,6185 mg/kg bandeng melebihi ambang maksimum kandungan logam berat dalam pangan oleh Per BPOM no. 5 tahun 2018 tentang batas maksimum cemaran logam berat dalam pangan olahan dengan nilai batas aman kandungan timbal pada ikan sebesar 0,20 mg/kg. Sementara batas aman konsumsi harian ikan bandeng sebesar 0,067 kg/hari. Kesimpulannya adalah tambak di perairan Mangunharjo telah tercemari logam timbal
Kata kunci : Mangunharjo, pesisir, timbal, ikan bandeng, air tambak, sedimen tamba