71404 research outputs found
Sort by
PENGARUH KOMUNIKASI EFEKTIF PERAWAT TERHADAP KEMAMPUAN EDUKASI SPEAK UPPATIENT SAFETY DI RUMAH SAKIT EMANUEL KLAMPOK BANJARNEGARA
Pentingnya informasi dan edukasi pasien dan keluarga tentang keselamatan pasien telah mendorong berbagai organisasi internasional untuk mengembangkan model komunikasi yang efektif untuk pelayanan kesehatan yang melibatkan pasien dan keluarga dan lebih aman, yang salah satunya dengan metoda SPEAK-UP. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh perawat sebagai edukator adalah komunikasi efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komunikasi efektif perawat terhadap kemampuan edukasi speak up patient safety di Rumah Sakit Emanuel klampok Banjarnegara.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan penelitian quasi eksperimental dengan bentuk pretest-postest with control group design. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 74 pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Data observasi diambil melalui menggunakan lembar observasi komunikasi efektif perawat dan kemampuan edukasi speak up patient safetydan dianalisa menggunakan Wilcoxon Signed Rank dan menggunakan Mann-Whitney U.Hasil penelitian menunjukan bahwa kemampuan edukasi speak up patient safetypada kelompok intervensi sebelum mendapatkan perlakuan menunjukan median 8,00 dan median 13,00 setelah perlakuan dengan p value 0,0001 yang artinya ada peningkatan pada kemampuan edukasi speak up patient safety sesudah dilakukan intervensi. Kemampuan edukasi speak up patient safety pada kelompok kontrol menunjukan nilai median 8,00 menjadi 8,64. Komunikasi efektif perawat dapat meningkatkan kemampuan perawat dalam edukasi speak up patient safety
PENGALAMAN LANSIA JAWA YANG MENGALAMI STRES KARENA PENGABAIAN KELUARGA
The Experience of the Javanese Elderly in Facing Stress Due to Family Neglect
xix + 99 pages + 4 tables + 7 schemes + 14 appendixes
Neglect of the elderly is one of the global issues in health field which can cause stress as one of the negative impacts. Stress experience on the elderly since the neglect in a Javanese culture is a unique phenomenon because elder neglect was not suitable for the Javanese culture. The qualitative study aimed to describe the experiences of Javanese elderly facing stress caused of family neglect. Method of this study used descriptive phenomenological. The research sample was the elderly of Java facing stress and family neglect among 7 participants. Sample selection was purposive sampling. Collecting research data use semi structure interview and observation. The analyzed data research was used Colaizzi’s method. There were 7 themes as the research results: (1) The perception was they felt to be abandoned and treated like a household, (2) Some types of the elder neglect were physical, physiological, and financial neglect, (3) The perception about factors that causing the neglect were anger emotion of caregiver, unemployment of caregiver, and economic burden of caregiver, (4) The responses of those elderly were positive and negative responses, (5) Coping response of stress were positive and negative coping and happy feelings.(6) Support for elderly to solve their problem was loved by children, getting money and helping from their neighbors, (7) The expectation of Javanese elderly related to their relationship between parents and their children, they was happy if they had a harmonious family and children respected them. Based on the research, it could be concluded that neglect behaviour response among the elderly were difference each participants. Nevertheless, all of participants use the coping with Javanese values. This study suggested that it could be useful for community nursing to prevent the elderly neglect and perform stress management based on the Javanese culture.
Keywords: Neglect, Stress, Javanese Elderly
References: 135 (2007-2019
Peer Review - Dietary supplementatition of probiotics in poultry exposed to heat stress – a review.
HUBUNGAN ANTARA KUALITAS LINGKUNGAN FISIK RUMAH DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BAYI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANDARHARJO KOTA SEMARANG
Prevalensi pneumonia pada balita di Indonesi sebesar 2%. Kematian bayi yang disebabkan oleh pneumonia di Puskesmas Bandarharjo adalah 2 dari 11 kematian bayi di Kota Semarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara kualitas fisik rumah dengan kejadian pneumonia pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo Semarang. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah bayi yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo. Sampel dalam penelitian sebanyak 61 bayi. Sampel diambil dengan menggunakan teknik stratified random sampling. Data berasal dari hasil wawancara terkait karakteristik bayi dan orang tua, status merokok anggota keluarga serta penggunaan anti nyamuk bakar. Data PM10 , suhu, kelembaban dan intensitas cahaya diukur dengan menggunakan personal dust sampler, thermo-hygrometer dan lux meter sedangkan data kepadatan hunian kamar, jenis dinding, jenis lantai dan luas ventilasi melalui observasi. Data dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kedar debu terhirup sebesar 165µg/m3, suhu udara 30,3oC, kelembaban udara 69,3% dan intensitas cahaya 58,3 lux. Terdapat hubungan antara kadar debu terhirup (p=0,039), kelembaban udara (p=0,041), status merokok anggota keluarga (p=0,030)dan penggunaan anti nyamuk bakar (p=0,008)dengan kejadian pneumonia , sedangkan suhu udara (p=0,371, intensitas cahaya (p=0,295), kepadatan hunian kamar (p=1,000), jenis lantai (p=0,092, jenis dinding (p=0,424) dan luas ventilasi (p=1,000) tidak berhubungan dengan kejadian pneumonia . Kesimpuln dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara kualitas lingkungan fisik rumah dengan kejadian pneumonia pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang
Kata Kunci: pneumonia, bayi, debu terhirup, asap rokok, anti nyamuk baka
Peer Review – Intestinal microbial ecology and hematological parameters of broiler fed cassava waste pulp fermented with Acremonium charticola.
Peer Review – Intestinal microbial ecology and serum biochemistry of avian pathogenic Escherichia coli infected broiler fed multistrain probiotic preparation.
Peer Review – Total Bakteri Asam laktat dan Coliform pada ileum dan Sekum Ayam Broiler yang Diberi Spirulina platensis dengan Lama Pemberian Berbeda.
PENANGANAN KONFLIK LAUT CINA SELATAN TERKAIT DENGAN STABILITAS KEAMANAN REGIONAL MENURUT ASEAN POLITICALSECURITY COMMUNITY
Konflik Laut China Selatan merupakan salah satu bentuk konflik yang dapat
berpengaruh terhadap kestabilan keamanan di wilayah Asia Tenggara. ASEAN
membentuk ASEAN Political-Security Community untuk mempercepat kerjasama
politik dan keamanan di ASEAN dalam mewujudkan perdamaian di kawasan regional
dan global. ASEAN sebagai organisasi kerjasama regional yang solid diharapkan dapat
mewadahi kepentingan dan menyelesaikan konflik Laut Cina Selatan.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peran ASEAN Political – Security
Community di dalam mencegah dan menangani konflik Laut Cina Selatan dalam
menjaga stabilitas keamanan regional dan mekanisme upaya penanganan konflik Laut
Cina Selatan terkait dengan stabilitas keamanan regional menurut ASEAN Political –
Security Community (APSC).
Metode pendekatan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif. Penelitian ini
menggunakan spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Jenis data penulisan ini adalah
data sekunder yang diperoleh melalui studi bahan hukum primer, bahan hukum
sekunder dan bahan hukum tersier. Metode Analisis data kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian mengemukakan, ASEAN sebagai organisasi regional
berperan dalam menjaga kedamaian dan keamanan internasional khususnya di
wilayahnya sebagaimana terdapat dalam beberapa kerangka hukum ASEAN seperti
Deklarasi Bangkok, ZOPFAN, Piagam ASEAN dan Treaty of Amity and Cooperation.
ASEAN telah melakukan upaya untuk meredam konflik yang ada agar tidak menjadi
konflik terbuka yang dapat mengganggu perdamaian dan stabilitas regional. Upaya
tersebut antara lain dengan mengadakan pertemuan/forum seperti AMM, KTT
ASEAN, KTT ASEAN-China, ADMM serta penyelesaian sengketa secara damai
seperti yang diatur dalam dokumen-dokumen yang sebelumnya telah diterbitkan
ASEAN sebagai bentuk upaya lain.
Kata kunci : ASEAN, ASEAN Political-Security Community, Penanganan Konflik,
Laut Cina Selatan, Keamanan Regional
TINJAUAN YURIDIS PENYERANGAN TERHADAP STAF PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA (PBB) OLEH TALIBAN DI AFGHANISTAN
Organisasi internasional dalam menjalankan tugasnya melalui utusannya dilindungi oleh hak kekebalan dan keistimewaan yang diatur dalam Konvensi Wina 1975 dan Convention on the privilege and immunities of the United Nations 1946.Namun dalam praktiknya penerapan kekebalan dan keistimewaan belum dapat diterapkan secara maksimal. Sebagaimana yang terjadi dalam kasus penyerangan terhadap staf PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) oleh Taliban di Afghanistan yang menewaskan diantaranya 2 (dua) delegasi PBB yaitu Lydia Wonwenne dan Jossie Esto yang sedang bertugas mengawal pemilihan presiden di Afghanistan. Untuk itu perlu diketahui mengenai pelindungan terhadap staf PBB menurut ketentuan hukum internasional dan pertanggungjawaban Afghanistan sebagai negara penerima dalam hal terjadi pelanggaran terhadap kekebalan dan keistimewaan staf PBB.Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian hukum ini adalah yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian menggunakan deskriptif analitis.Data yang digunakan adalah data sekunder,yang kemudian dianalisis secara kualitatif.Pengaturan mengenai pelindungan terhadap staf PBB diatur dalam Pasal 58 Konvensi Wina 1975 dan Pasal 4 ayat (11) Convention on the privilege and immunities of the United Nations 1946. Afghanistan sebagai negara penerima dapat dikatakan melanggar Konvensi New York 1973 Pasal 1 ayat (1) huruf b yang mengatur mengenai orang-orang yang dilindungi secara internasional, Pasal 2 ayat (1) huruf a tentang tindakan yang termasuk dalam kategori kejahatan menurut konvensi ini, Pasal 4 huruf a tentang pencegahan yang harus dilakukan oleh negara penerima.Afghanistan sebagai negara penerima harus bertanggungjawab atas tewasnya 2 (dua) perwakilan PBB yang sedang bertugas dinegaranya dan mengusut tuntas kasus tersebut agar tidak terjadi lagi kasus seperti itu dikemudian hari