71404 research outputs found
Sort by
ANALISIS PENGARUH VARIASI DEBIT LARUTAN NaClO DALAM RUANG PENGENDALI ASAP TERHADAP KADAR NO3- PADA ALAT PEMBAKAR SAMPAH PORTABLE
Insinerasi telah banyak digunakan untuk pengolahan limbah, dan dalam beberapa tahun terakhir, jumlah sampah padat kota yang dibakar telah meningkat secara signifikan pada negara maju maupun berkembang. Namun, apapun teknologinya, maka dalam proses oksidasi (pembakaran) akan dihasilkan produk oksidasi, yang diantaranya berupa gas buang. Bila sistem tidak tercampur sempurna dan pembakaran menjadi tidak sempurna, maka aka akan dihasilkan gas-gas yang belum terbakar sempurna. Sistem pembakaran harus dilengkapi dengan sarana pengendali untuk mengurangi pembentukan gas pencemar. Udara beracun dapat muncul dari insinerator tersebut seperti CO, NOx, SOx. Salah satu emisi gas berbahaya dari alat proses atau pembakaran adalah NOx (NO, NO2) yang merupakan sumber polusi lingkungan terbesar dan dapat mengakibatkan pencemaran dan perusakan lingkungan. Selama beberapa dekade terakhir, wet scrubber menjadi lebih menarik karena dapat menghilangkan SOx, NOx, dan polutan lain secara bersamaan. Penghilangan NOx dapat dilakukan dengan menambahkan oksidan ke dalam absorbent, salah satunya adalah NaClO. Total NO yang diserap oleh larutan absorben NaClO berada dalam bentuk NO-NO2, HNO2, NO2-, HNO3, dan NO3- dimana NO3- merupakan spesies nitrogen yang paling banyak terdapat pada fase cair ini. Pada penelitian ini, diteliti kandungan nitrat pada air hasil kontak dengan asap. Selain itu, dilakukan penelitian pengaruh debit larutan NaClO dalam efektifitas wet scrubber. Debit yang digunakan adalah 75,00 ml/s; 72,5 ml/s; 70,00 ml/s; 62,5 ml/s dan 60 ml/s. Debit yang paling menghasilkan kadar nitrat paling banyak adalah debit pada saat 75,00 ml/s yaitu 6,091 mg/l.
Kata kunci: Pembakaran Sampah, Insinerator, Wet Scrubber, NOx, Absorbent, NaClO, NO3-, Debi
PSYCHOLOGICAL WELL-BEING TENTARA DI WILAYAH PERBATASAN REPUBLIK INDONESIA: STUDI FENOMENOLOGI
Psychological Well-Being among Soldiers in Border Regions of the Republic of Indonesia: A Phenomenological Study
xxi + 145 pages + 2 tables + 15 appendixes
Soldiers, in general, have unique psychological problems which are associated with the tradition of military service placement that they have at work. This tradition brings an impact that can reduce the psychological well-being of the soldiers such as stress, depression, PTSD and suicide. Previous studies showed that soldiers working at their home base are able to consider the home base as their own home; they also feel comfortable as they have low environmental pressures. This study aimed to explore the psychological well-being of the soldiers serving their military service at the border regions of the Republic of Indonesia. This study used a qualitative design with a phenomenological approach. The population was members of the army carrying out their military services on the border regions. The samples were ten participants recruited using a purposive sampling technique. The results revealed eight themes: (1) The meaning of psychological well-being, consisting of three sub-themes: (a) fulfillment of physical and financial needs, (b) Feeling of comfort, c) Being able to do the worship, (2) Feeling of pride and happiness in carrying out the duty, (3) Willingness to get closer to God, (4) Hopes during the duty including: (a) Emphasis on family happiness, and (b) Success in carrying out the duty, (5) Communication with colleagues and leaders, (6) Feelings of having another family as replacement, (7) Feeling overwhelmed with routine activities, and 8) Having an ability to manage the environment, consisting of (a) Being aware of the threat of disease and separatists, and (b) Learning the local language. The results of this study showed that soldiers with military service had the ability to maintain psychological well-being with the support of colleagues, leaders, and families while they were on duty. Nurses can play their roles as healthcare providers before the military service as primary prevention efforts such as stress management, during the military service by performing screening, and after the military service by managing the mental health problems.
Keywords: Psychological well-being, Indonesian soldiers at border regions
References: 145 (1994-2018
Gambaran Manajemen Nyeri Pada Pasien Kanker Payudara Yang Menjalani Kemoterapi Di RSUD Tugurejo Dan RSUD Moewardi
ABSTRACT
Breast cancer patients has pain at moderate to high levels. Effective pain management needs to be done so that the pain does not interfere with the activity and cause anxiety to the patient. The purpose of this study was to describe the management of pain strategies for breast cancer patients undergoing chemotherapy at Tugurejo General Hospital and Moewardi Regional Hospital. This type of research is quantitative with a descriptive survey approach. Sampling was done using accidental sampling with a total of 80 respondents in Tugurejo Hospital and 40 respondents in Moewardi Hospital who underwent chemotherapy from April to May 2017. The results of this study showed the highest patient pain scale on a scale of 4-7 and the lowest on a scale of 0- 3. 78 patients (65%) did their own pain management. Management that was often done by patients was dzikir / pray (190 patients, 91%), discuss with family and did all environmental management with 106 people (88.33%) prefer bright lighting. Meanwhile no patients used opioid or non-opioid drugs in pharmacological management. The implementation of pain management was carried out at home and in the hospital, except discussions with doctors and nurses were almost always done in the hospital. Reasons for choosing management based on customs (n = 118 people, 98.33%). The conclusion of the study was that the management of patient pain strategies is combining non-pharmacological, environmental and social management. Suggestions for research are that families are expected to continue to play a role in helping, assisting and motivating patients in pain management.
Keywords: pain management, breast cancer
References: 67 (2000-2018
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK BERAS ANALOG “GATOT KACA” DARI GATOT DAN KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L.) DENGAN VARIASI KONSENTRASI CMC (Carboxymethyl Cellulose)
Gatot merupakan singkong terfermentasi alami yang mengandung
antioksidan dan probiotik yang baik untuk saluran pencernaan. Kadar
karbohidratnya yang tinggi dan kadar lemak yang rendah menjadi peluang gatot
untuk dijadikan sebagai beras analog. Penambahan kacang merah yang kaya akan
protein dan rendah lemak akan menghasilkan beras analog yang secara fisik dan
kimia dapat menyerupai beras, dapat diterima oleh konsumen dan sebagai upaya
diversifikasi pangan pengganti beras. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh penambahan variasi konsentrasi CMC terhadap sifat fisikokimia dan sifat
organoleptik pada beras analog “Gatot Kaca”, serta untuk mengetahui konsentrasi
CMC yang tepat untuk menghasilkan beras analog yang sesuai dengan karakteristik
beras dan dapat diterima oleh konsumen. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan
Desember 2018 hingga Februari 2019 di Laboratorium Rekayasa Pangan dan Hasil
Pertanian dan Laboratorium Kimia dan Gizi Pangan, Fakultas Peternakan dan
Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang.
Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan
4 perlakuan dan 5 kali pengulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu perbedaan
konsentrasi penambahan CMC pada beras analog berbahan dasar gatot 80% dan
kacang merah 20%, yaitu (T1) penambahan CMC 0%, (T2) penambahan CMC 1%,
(T3) penambahan CMC 2% dan (T4) penambahan CMC 3%. Parameter yang di
analisis meliputi daya serap air, kadar air, kadar protein, kadar serat kasar dan
organoleptik. Data hasil pengujian dianalisis secara statistik dengan Analysis of
Varian (ANOVA) untuk mengetahui pengaruh perlakuan, jika terdapat pengaruh
dilanjutkan dengan uji Wilayah Berganda Duncan. Data hasil uji organoleptik
dianalisis dengan uji non-parametrik Kruskal Wallis Test, jika terdapat perbedaan
maka dilanjutkan menggunakan Mann Whitney U Test.
Hasil analisis statistik daya serap air, kadar air dan kadar serat kasar
menunjukkan perbedaan nyata dan mengalami peningkatan seiring dengan
konsentrasi CMC yang meningkat, nilai daya serap air 137,66% - 177,18 %; nilai
kadar air 3,02% - 3.51% dan nilai kadar serat kasar 4,60% - 7,41%. Hasil analisis
statistik pada kadar protein tidak menunjukkan adanya perbedaan nyata 5,35% -
5,40%. Penambahan CMC pada beras analog “Gatot Kaca” memberikan pengaruh
pada tekstur, tingkat kelengketan, tingkat kekenyalan, rasa, aftertaste pahit dan
overall kesukaan, tetapi tidak memberikan pengaruh (P>0,05) terhadap warna dan
aroma. Perlakuan terbaik adalah pada beras analog T2 dengan konsentrasi CMC
sebanyak 1% karena secara fisikokimia sudah sesuai dengan beras asli serta secara
organoleptik disukai panelis
KORELASI ANTARA FAKTOR USIA, JENIS KELAMIN, DAN IPK DENGAN PERSEPSI MAHASISWA MENGENAI LINGKUNGAN BELAJAR KLINIK DI KEPANITERAAN KLINIK ILMU THT-KL FK UNDIP
Latar Belakang : Pendidikan tahap profesi adalah bentuk pembelajaran klinik dan
komunitas (community experince) yang menggunakan bentuk dan tingkat
pelayanan kesehatan nyata yang memenuhi persyaratan sebagai tempat praktik
kedokteran. Hal - hal yang mendasari keberlangsungan pendidikan tahap profesi
antara lain kompetensi, kesempatan berlatih, banyaknya tempat untuk berlatih, dan
pembelajaran klinis. Program pendidikan tahap profesi di masing-masing
universitas kedokteran di Indonesia maupun luar negeri memiliki tahap
pembelajaran klinis yaitu kepaniteraan klinik atau rotasi klinik yang dimana
mahasiswa dapat secara langsung merasakan hubungan dari pendidikan teori
dengan praktik, serta mengenal dunia profesi kedokteran secara nyata melalui
kontak dengan pasien.
Tujuan : Mengetahui skor lingkungan belajar mahasiswa kepaniteraan klinik Ilmu
THT-KL FK Undip mengenai persepsi otonomi peran, pembelajaran, dan dukungan
sosial dan menganalisis hubungan faktor usia, jenis kelamin, dan IPK dengan
persepsi mahasiswa di kepaniteraan klinik ilmu THT – KL FK Undip
Metode : Desain penelitian ini adalah cross sectional. Pengambilan sampel dengan
cara mengumpulkan tiga puluh satu co-ass kepaniteraan klinik Ilmu THT-KL yang
memenuhi kriteria ekslusi dan inklusi pada periode September, Oktober, dan
November 2018. Pengumpulan sampel menggunakan kuesioner PHEEM. Analisis
data menggunakan uji spearman.
Hasil : Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara persepsi mahasiswa dengan
usia, jenis kelamin, dan IPK di kepaniteraan klinik Ilmu THT-KL. Pada usia
didapatkan hasil p=0,478, Jenis Kelamin didapatkan hasil p=0,455, dan IPK
didapatkan hasil p=0893, sehingga menunjukkan hasil tidak bermakna.
Kesimpulan : Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang
bermakna antara persepsi mahasiswa dengan usia, jenis kelamin, dan IPK di
kepaniteraan klinik Ilmu THT-KL berdasarkan analisis data yang didapatkan. Ada
banyak faktor yang dapat mempengaruhi persepsi mahasiswa mengenai lingkungan
belajar mahasiswa yaitu otonomi peran, sistem pembelajaran yang disesuaikan
dengan kompetensi mahasiswa, dan dukungan sosial.
Kata kunci : Persepsi mahasiswa, Kepaniteraan Klinik THT-KL, Jenis Kelamin,
Usia, IP
“MODIFIKASI LAS GTAW SEMI OTOMATIS DENGAN PENAMBAHAN FEEDER LAS GMAW”
ABSTRAK
MODIFIKASI LAS GTAW SEMI OTOMATIS DENGAN
PENAMBAHAN FEEDER LAS GMAW
Pengelasan merupakan salah satu bagian terpenting dalam industri
manufaktur. Penggunaan jenis sambungan las akan menambah efisiensi waktu
maupun ekonomi. Proses pengelasan membutuhkan kemampuan operator yang
baik untuk mendapat hasil las yang baik. Modifikasi las GTAW semi otomatis
dengan penambahan feeder las GMAW ini merupakan usaha mempermudah
proses pengelasan GTAW yang memiliki kualitas hasil las yang sangat baik,
dengan menambahkan kawat pengumpan secara semi otomatis. Proses modifikasi
dilakukan dengan metode reverse engineering dengan melakukan pengadaan alat
pengumpan terlebih dahulu kemudian dilakukan perhitungan torsi dan daya yang
dibutuhkan dan tersedia.Setelah diketahui alat yang ada memenuhi untuk dapat
mengumpankan kawat pengumpan, kemudian dilakukan modifikasi pada dudukan
torch untuk menempatkan torch yang digunakan untuk mengumpan kawat yang
dapat dilakukan pengaturan sudut untuk dapat mengumpan kawat menuju torch
pembakar las GTAW. Setelah proses modifikasi, mesin las diuji menggunakan
plat setebal 1,5 mm dengan beberapa variasi, yaitu besar kuat arus pengelasan,
jarak tungsten terhadap benda kerja las, kecepatan pengelasan dan putaran flasher
pengumpan kawat. Benda kerja hasil lasan kemudian dianalisis menggunakan uji
visual. Hasil las terbaik didapatkan dengan variasi kuat arus sebesar 60 A, jarak
tungsten ke benda kerja sebesar 0,5 mm, kecepatan pengelasan sebesar 0,5 mm/s
dan kecepatan feeder sebesar 2,4 m/menit.
Kata kunci: GTAW, GMAW, Modifikasi, Uji Visual, Feeder, Reverse
Engineering
ABSTRACT
SEMI AUTOMATIC GTAW MODIFICATION WITH THE
ADDITION OF GMAW FEEDER
Welding process is one of the most important in manufacturing industry.Weld
join wearing will bring some economy and time efficiency. Welding process needs
operator with excellent capabilities for a good welding results. This semi
automatic GTAW modification with the addition of GMAW feeder is an effort to
make it easy for a very good results of GTAW.Modification is done by reverse
engineering methods, starts with procurement of tools and then calculating
available and needed torque and power. After the tools is known to be able to feed
the wire, then make modification on torch stand to put the torch and make it able
to feed the wire into the GTAW torch. After modification, this machine is tested
with a 1,5 mm plate thickness with some variety, that is welding currents, tungsten
distance with welding plate, welding speed, and flasher feeder wrench. Welding
results then analize by visual inspection. The best results is getting by the
variation of 60 A welding currents, 0,5 mm distance of tungsten and welding
plate, 0,5 mm/s welding speed and 2,4 m/minutes speed of feeder.
Keywords: GTAW, GMAW, Modification, Visual Inspection, Feeder, Reverse
Engineerin
STRATEGI USAHA TERNAK SAPI PERAH DI DESA UMBULHARJO MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM
Perubahan iklim dan lingkungan dapat mempengaruhi kualitas susu sapi perah. Mayoritas peternak di Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman menjadikan sapi perah sebagai mata pencaharian utama. Penelitian ini bersudut pandang ilmu lingkungan bertujuan menganalisis faktor-faktor abiotik lingkungan antara lain variabel iklim, kerapatan vegetasi, dan suhu permukaan tanah. Faktor biotik yaitu sapi perah diteliti kualitas susunya, dan ditambahkan faktor sosial berupa persepsi, adaptasi, dan upaya mitigasi gas methan peternak sapi perah di Desa Umbulharjo. Hasil analisis faktor abiotik, biotik, dan sosial kemudian dijadikan dasar untuk merumuskan strategi adaptasi dan mitigasi peternakan sapi perah di Desa tersebut.Penelitian ini menemukan adanya perubahan beberapa variabel iklim, kualitas susu, kerapatan vegetasi, dan suhu permukaan lahan. Hasil regresi menyimpulkan kelembaban pagi berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap penurunan kadar lemak susu sapi perah di Desa Umbulharjo. Rumusan strategi adaptasi dan mitigasi dengan meningkatkan pengetahuan peternak tentang ancaman perubahan iklim, modifikasi kandang adaptif, pembuatan pakan lengkap secara mandiri, pengembangan pariwisata peternakan dan penguatan mitigasi gas methan
Kata kunci : perubahan iklim, strategi adaptasi dan mitigasi, kualitas susu sapi perah
Climate and environmental changes can affect the quality of milk for dairy cows. The majority of farmers in Umbulharjo Village, Cangkringan Subdistrict, Sleman Regency make dairy cows the main livelihood. This research is based on environmental science aimed at analyzing environmental abiotic factors including climate variables, vegetation density, and soil surface temperature. Biotic factors, namely dairy cows, were examined for their milk quality, and added social factors in the form of perceptions, adaptations, and mitigation efforts for methane gas in dairy farmers in Umbulharjo Village. The results of the analysis of abiotic, biotic, and social factors were then used as the basis for formulating dairy farming adaptation and mitigation strategies in the Village. This study found changes in several climate variables, milk quality, vegetation density, and land surface temperature. The regression results concluded that morning humidity had a significant effect (P <0.05) on the decrease in fat content of dairy milk in Umbulharjo Village. Formulation of adaptation and mitigation strategies by increasing farmers' knowledge about the threat of climate change, modifying adaptive cages, making complete feed independently, developing livestock tourism and improving mitigation of methane gas.
Keywords: climate change, adaptation and mitigation strategies, quality of milk for dairy co
PEMODELAN SPASIAL MANGROVE SEBAGAI LAYANAN EKOSISTEM KARBON BIRU PESISIR (COASTAL BLUE CARBON) DI TELUK SEMARANG
Teluk Semarang merupakan wilayah pesisir yang padat penduduk dan memiliki aktivitas yang kompleks. Permasalahan di Teluk Semarang akibat perkembangan yang pesat mendorong terjadinya konversi area ekosistem mangrove menjadi pemukiman, tambak, industri, dan pertanian. Konversi area ekosistem mangrove menyebabkan pantai rentan terhadap abrasi, kondisi tersebut diperparah dengan bangunan pantai yang menjorok ke laut serta penurunan tanah akibat pengambilan air tanah berlebih yang menciptakan rongga di bawah permukaan tanah hingga terjadi amblesan (land subsidance) turut meningkatkan permasalahan di Teluk Semarang. Layanan ekosistem merupakan kontribusi berbagai struktur dan fungsi ekologis yang saling terkait, ekosistem mangrove memberikan layanan sebagai bagian penting dalam siklus karbon. Mangrove memanfaatkan CO2 untuk fotosintesis dan menyimpannya dalam stok biomass dan sedimen. Perhitungan nilai layanan ekosistem mangrove baru sebatas valuasi ekonomi dan penggambaran secara deskriptif, pemodelan spasial belum banyak dilakukan, hal ini menyebabkan data layanan ekosistem secara luas dan temporal tidak diketahui. Batasan wilayah pada penelitian ini secara ekologi sel sedimen pesisir dan administratif yang mencakup Kabupaten Kendal, Kota Semarang dan Kabupaten Demak dimana batas wilayah pesisir nya mengacu pada Undang-undang No.27 Tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil juncto Undang-undang No.1 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang No. 27 Tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Pada penelitian ini digunakan batas wilayah pesisir di daratan berupa area kecamatan pesisir, pada penelitian ini tidak mengkaji wilayah pesisir di perairan laut yang meliputi 12 mil dari garis pantai. Pemodelan spasial Coastal Blue Carbon yang digunakan pada penelitian ini membutuhkan input data klasifikasi penggunaan lahan berdasarkan interpretasi citra satelit Landsat serta simpanan karbon global pada ekosistem mangrove sedangkan harga karbon berdasarkan Social Cost Carbon (SCC), Regional Greenhouse Gas Initiative (RGGI) dan International Voluntary Market Price (IVMP). Penelitian ini menghasilkan peta dinamika stok karbon, penyerapan, emisi, akumulasi dan net present value karbon. Luaran peta-peta tersebut diharapkan menjadi masukan untuk manajemen mangrove secara berkelanjutan, optimasi perencanaan wilayah pesisir dengan perlindungan ekosistem mangrove di Teluk Semarang
Kata kunci: Teluk Semarang, karbon biru pesisir, mangrove, spasial
Semarang Bay is a coastal area densely populated and have complex activities. Problems in the Semarang Bay due to rapid development led to the conversion of mangrove ecosystem areas into settlements, ponds, industry and agriculture. The conversion of the mangrove ecosystem area causes the beach to be prone to abrasion, this condition is exacerbated by coastal buildings jutting into the sea and land degradation due to excessive groundwater extraction which creates a subsurface cavity until land subsidies also increase problems in the Semarang Bay. The calculation of the service value of mangrove ecosystems is limited to economic valuation and descriptive description, spatial modeling has not been widely done, this causes data on ecosystem services widely and temporally unknown. The area boundary in this study is the ecology of coastal sediment cells and administrative which includes Kendal Regency, Semarang City and Demak Regency where the coastal boundary refers to Undang-undang No.27 of 2007 concerning the management of coastal areas and small islands juncto Undang-undang No.1 of 2014 concerning changes to Undang-undang No. 27 of 2007 concerning the management of coastal areas and small islands. In this study used coastal boundaries on land in the form of coastal sub-districts, in this study did not assess coastal areas in marine waters covering 12 miles of coastline. Coastal Blue Carbon spatial modeling used in this study requires input land use classification data based on interpretation of Landsat satellite images and global carbon deposits in mangrove ecosystems while carbon prices are based on Social Cost Carbon (SCC), Greenhouse Gas Initiative (RGGI) and International Voluntary Market Price (IVMP). This research produced a map of the dynamics of carbon stocks, absorption, emissions, accumulation and net present value of carbon. The output of these maps is expected to be an input for sustainable mangrove management, optimization of coastal area planning with the protection of mangrove ecosystems in Semarang Bay
Keywords: Semarang Bay, coastal blue carbon, mangrove, spatia
ANALISIS PENGARUH SIKAP PADA PERLUASAN MEREK TERHADAP MINAT BELI PRODUK SIKAT GIGI PEPSODENT DI KOTA SEMARANG
The competition in dental and oral care products industry is increasing over time. Therefore, companies must have new strategies in marketing their products, for example by brand extension. The purpose of this study is to determine the effect of attitudes towards brand extension towards buying interest in Pepsodent toothbrush products in Semarang.
The population in this study are Pepsodent consumers in Semarang who use toothbrush products and other products from Pepsodent. The number of samples used was 209 people who were selected using purposive sampling through a questionnaire. The data obtained is then analyzed using the AMOS program.
The results of the study showed that familiarity and perceived fit variables had a positive effect on attitudes toward brand extension. While the perception of quality and innovativeness variables have no effect on the attitude towards brand extension variable. And the dependent variable, attitude towards brand extension has an effect on purchase intention. The most influential process for increasing consumers purchase intention in Pepsodent toothbrush products is by increasing perceived fit that affect attitudes toward brand extension which will increase purchase intention