71404 research outputs found
Sort by
ANALISIS HUBUNGAN FREKUENSI PENERBANGAN DAN JENIS PESAWAT DENGAN INTENSITAS KEBISINGAN DI BANDARA INTERNASIONAL MINANGKABAU
Aktivitas penerbangan dapat menghasilkan intensitas kebisigan dan memberikan dampak bagi kesehatan manusia maupun kesehatan lingkungan. Bandara internasional Minangkabau merupakan bandara yang memiliki frekuensi penerbangan tinggi dengan rata rata jumlah penerbangan dalam satu hari sebanyak 60 penerbangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan frekuensi penerbangan dan jenis pesawat dengan intensitas kebisingan di Bandara Internasional Minangkabau. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan desain studi cross sectional. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 24 sampel yang diambil dengan metode sampling kuota. Pengumpulan data intensitas kebisingan dilakukan dengan menggunakan Sound Level Meter. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode Chi Square(α=5%). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata frekuensi penerbangan sebanyak 17 penerbangan dalam waktu 3 jam dengan intensitas kebisingan tertinggi yang terukur sebesar 90.4 dB(A) dan sebanyak 14 titik pengukuran intensitas kebisingan melebihi nilai ambang batas (NAB=85 DB(A)). Berdasarkan hasil uji Chi Square (p = 0.010) terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi penerbangan dengan intensitas kebisingan di Bandara Internasional Minangkabau. Terdapat 4 jenis pesawat yang beroperasi di Bandara Internasional Minangkabau yaitu Airbus, Boeing, ATR dan Cessna dengan masing-masing jenis pesawat menghasilkan intensitas kebisingan yang berbeda Dengan intensitas kebisingan tertinggi pada pesawat dengan jenis ATR sebesar 86.45 dB(A). kemudian pesawat dengan jenis Airbus 84.5 dB(A), Boeing 82.8 dB(A) dan Cessna sebesar 61.7 dB(A). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu intensitas kebisingan di Bandara Internasional Minangkabau melebihi nilai ambang batas dan terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi penerbangan dengan intensitas kebisingan di Bandara Internasional Minangkabau.
Kata Kunci : Intensitas kebisingan, Bandara, frekuensi Penerbanga
SISTEM ANTREAN PASIEN DI RUMAH SAKIT MENGGUNAKAN ALGORITMA PREDIKSI WAKTU PELAYANAN PASIEN
Algoritma Prediksi Waktu Pelayanan Pasien sangat penting untuk membangun sebuah sistem antrean pasien rawat jalan di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk membangun sistem antrean rawat jalan dengan prediksi waktu tunggu pasien rawat jalan. Algoritma Prediksi Waktu Pelayanan Pasien dihitung berdasarkan data historis atau rekam medis pasien di rumah sakit dengan 120 data pasien. Algoritma Prediksi Waktu Pelayanan Pasien dilatih dengan menggunakan algoritma Random Forest yang ditingkatkan untuk setiap layanan dan waktu tunggu untuk setiap layanan. Prediksi waktu tunggu untuk setiap layanan pasien diperoleh dengan menghitung lama waktu perawatan pasien berdasarkan karakteristik pasien. Waktu tunggu untuk setiap layanan yang ditentukan oleh Algoritma Prediksi Waktu Pelayanan Pasien merupakan total waktu tunggu pasien dalam antrean untuk setiap layanan. Penelitian ini menghasilkan sistem yang dapat menentukan waktu tunggu yang akan digunakan oleh pasien di setiap layanan yang tersedia. Lama waktu pasien di setiap layanan yang dihasilkan bervariasi sesuai dengan identitas pasien, antara lain jenis kelamin dan umur pasien. Penelitian ini memberikan manfaat dalam hal meningkatkan kinerja di rumah sakit dalam melayani pasien.
Kata kunci: Prediksi Waktu Pasien, Random Forest, Waktu Tunggu, Manajemen Antrean Pasien
Patient Treatment Time Prediction Algorithm was very important to build an outpatient queue system in a hospital. This study aims to build an outpatient queue system with prediction of waiting times for outpatients. Patient Treatment Time Prediction algorithm was calculated based on historical data or medical records of patients in the hospital with 120 patient data. Patient Treatment Time Prediction algorithms were trained using the Random Forest algorithm which is improved for each service and waiting time for each service. Prediction of waiting time for each patient service was obtained by calculating the length of patient care based on patient characteristics. The waiting time for each service determined by the Patient Treatment Time Prediction algorithm was the total patient waiting time in the queue for each service. This research produces a system that can determine the waiting time that will be used by patients in every service available. The length of time the patient in each service produced varies according to the patient's identity, including gender and age of the patient. This research provides benefits in terms of improving hospital performance in serving patients.
Keywords: Patient Time Prediction, Random Forest, Waiting Time, Patient Queue Managemen
PERBEDAAN KADAR PLUMBUM (Pb) DARAH DAN PROFIL DARAH PADA IBU MENYUSUI DI DAERAH PEGUNUNGAN (SUMOWONO) DAN PESISIR PANTAI (BANDARHARJO) SEMARANG
Latar Belakang: Timbal merupakan logam beracun yang berada dilingkungan dan sifat toksiknya mengganggu metabolisme tubuh yang dapat merusak kesehatan neonatal dan anak-anak. Ibu menyusui merupakan kelompok yang rentan terpapar oleh timbal.
Tujuan: Mengetahui perbedaan kadar Pb darah dan profil darah pada ibu menyusui di daerah pegunungan dan pesisir pantai.
Metode: Penelitian ini observasional analitik dengan pendekatan cross sectional, jumlah sampel 33 responden di pegunungan dan 22 responden dipesisir pantai. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dengan kuesioner, pemeriksaan laboratorium. Analisis data menggunakan uji Indpendent T-test.
Hasil: Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada beda kadar Pb darah, trombosit, MCV, MCH, dan MCHC (p0,05) pada ibu menyusui antara pegunungan dan pesisir pantai.
Saran: Bagi ibu menyusui perlu mempelajari asupan makanan yang aman dari logam berat sehingga dapat meminimalisir dampak buruk bagi anak-anak dan bagi petugas kesehatan sebaiknya melakukan penyuluhan secara rutin.
Kata kunci : Kadar Pb darah, Profil darah, Ibu menyusui
Background: Lead is a toxic metal in the environment and its toxic properties disrupt the body's metabolism which can damage the health of neonates and children. Nursing mothers are a group that is vulnerable to exposure to lead.
The purpose:Knowing the difference in blood Pb levels and blood profile in breastfeeding mothers in mountainous and coastal areas.
Method: This research was analytic observational with cross sectional approach, the number of samples was 33 respondents in the mountains and 22 respondents on the coast. Data collection is done through observation, interviews with questionnaires, laboratory examinations. Data analysis using Independent Test T-test..
Results: Statistical test results showed that there were different levels of blood Pb, platelets, MCV, MCH, and MCHC (p 0.05) in nursing mothers between mountains and coastal areas.
Suggestion: For breastfeeding mothers, it is necessary to study food intake that is safe from heavy metals so as to minimize adverse effects on children and for health workers should do regular counseling.
Keywords: Blood Pb Levels, Blood Profile, Breastfeeding Mother
KEPERCAYAAN ROKUYO (HARI BAIK DAN BURUK) YANG TERCERMIN DALAM NOVEL JISATSU YOTEI BI KARYA AKIYOSHI RIKAKO KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA 秋吉理香子の小説の『自殺予定日』に表現されている六曜
STRATEGI PENGELOLAAN DAERAH TANGKAPAN AIR BERDASARKAN BEBAN PENCEMAR DAN STATUS MUTU PERAIRAN WADUK LOGUNG
Waduk Logung sangat bermanfaat sebagai kebutuhan masyarakat Kabupaten Kudus. Waduk Logung direncanakan dapat memenuhi kebutuhan air irigasi untuk lahan potensial maksimal 5.296 ha yang terdiri dari luas irigasi eksisting 2.805 ha dan irigasi pengembangan 2.491 ha di wilayah Kabupaten Kudus serta peningkatan produktivitas tanaman, terutama tanaman padi. Waduk Logung dapat memenuhi air irigasi untuk kebutuhan lahan potensial maksimum sebanyak ± 2.180 Ha dan meningkatkan tanaman padi di Kabupaten Kudus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi kualitas air dan beban pencemaran sungai yang terjadi dalam upaya pengendalian pencemaran untuk mencegah terjadinya penurunan kualitas air.
Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi kualitas air dengan melakukan uji terhadap parameter-parameter pencemaran air yang dibandingkan dengan baku mutu air PP No. 82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air yang meliputi parameter kimia (suhu dan TSS); parameter kimia (pH, DO, BOD, COD, N, dan P); dan parameter mikrobiologi (klorofil a). Penentuan status mutu air dengan menggunakan metode storetyang dibandingkan dengan baku mutu air PP No. 82/2001, dimana metode ini terlampir dalam Kepmen LH No. 115/2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air. Strategi pengendalian pencemaran air dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT.
Hasil penelitian menujukan bahwa Kualitas perairan Daerah Tangkapan Air Waduk Logung berdasarkan uji parameter pencemaran air dari arah hulu ke arah hilir mengalami penurunan kualitas yang ditunjukkan adanya parameter (BOD dan Total P) yang melebihi baku mutu pada titik pengambilan semua sampelKeseluruhan status mutu perairan Daerah Tangkapan Air Waduk Logung dengan menggunakan metode STORET tergolong dalam kelas C atau tercemar sedang. Beban pencemaran perairan Daerah Tangkapan Air Waduk Logung dengan nilai tertinggi pada beban pencemaran point source dengan parameter Total N sebesar 296,73 kg/hari dan beban pencemaran non point source dengan parameter COD sebesar 225569,88 kg/hari
Agar sungai dapat bermanfaat secara berkelanjutan sesuai dengan peruntukkannya, perlu dilakukan upaya pengendalian pencemaran air sebagai salah satu segi pengelolaan lingkungan hidup. Strategi pengendalian pencemaran air dilakukan dengan meningkatkan inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar air, meningkatkan pengelolaan limbah, menetapkan daya tampung beban pencemaran, meningkatkan pengetahuan dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan limbah, meningkatkan pengawasan terhadap pembuangan air limbah dan meningkatkan pemantauan kualitas air sungai.
Kata Kunci : beban pencemaran, kualitas air,pengendalian pencemaran, Waduk Logung
Logung Reservoir is very useful for the needs of the people of Kudus Regency. Logung Reservoir is planned to meet the need for irrigation water for potential land with a maximum of 5,296 ha consisting of 2,805 ha of existing irrigation area and 2,491 ha of development irrigation in Kudus Regency as well as increasing crop productivity, especially rice. Logung Reservoir can meet irrigation water for a maximum potential land requirement of ± 2,180 Ha and increase rice crops in Kudus Regency. Therefore, the research aimed to find out the condition of the water quality and pollution load on the river in order to control pollution rate and to prevent water quality from degradation.
The research used test on parameters of water pollution compared with those required by Government Act No. 82/2001 on Water Quality Management and Storet Method, which includes physics parameters (temperature and TSS); chemical parameters (pH, DO, BOD, COD, N, and P); and microbiological parameters (klorofil a). The determination of water quality status was done by using STORET method compared with that being required by Government Act No. 82/2001 as well as notified in the Decree of the Minister of Environment No. 115/2003 on Water Quality Status Determination. Srategy used in controlling water pollution was done by performing a SWOT analysis.
The result of the study indicated that The quality of the waters of the Logung Catchment Area based on the test of water pollution parameters from upstream to downstream has decreased in quality which is indicated by the presence of parameters (BOD and Total P) that exceed the quality standard at the point of taking all samples. STORET method is classified in class C or moderate polluted. The water pollution load of the Logung Reservoir Catchment with the highest value is the point source pollution load with the Total N parameter of 296.73 kg / day and the non point source pollution load with COD parameters of 225569.88 kg / day.
In order to create a healthy, sustainable environment, the research recommended a control on water pollution by increasing the inventory and identification of sources of water pollutants, improving waste management, establish waste load capacity, increasing knowledge and public participation in waste management, increasing oversight of wastewater disposal and improving river water quality monitoring.
Keywords: Logung Reservoir, water quality, pollution control, pollution loa
ANALISIS KONSENTRASI PM10 HASIL PENGUKURAN STASIUN BMKG KEMAYORAN DI JAKARTA PUSAT
Kendaraan bermotor merupakan penyumbang terbesar hingga mencapai 85% dari pencemaran di udara perkotaan di Indonesia. Berdasarkan hasil studi Greenpeace dan IQ AirVisual tahun 2018, Jakarta menempati urutan pertama dan Hanoi di urutan kedua sebagai kota paling berpolusi di Asia Tenggara. Salah satu polutan adalah kadar PM10 di udara yang dapat menjadi parameter utama dalam pencemaran udara karena PM10 dapat berasosiasi dengan kadar zat pencemar lainnya. Berdasarkan hasil survei pendahuluan berupa pemantauan data SPKU BMKG Kemayoran diperoleh hasil pada tanggal 19 April 2020 konsentrasi PM10berada pada level melebihi ambang batas pedoman kualitas udara yang dikeluarkan WHO. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kualitas udara dengan parameter PM10 hasil pengukuran stasiun BMKG Kemayoran di Jakarta Pusat. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian time series dan dengan rancangan penelitian analisis data sekunder pada tanggal 5 Mei 2020 sampai 5 Juli 2020 dari hasil pengukuran konsentrasi PM10 Stasiun BMKG Kemayoran di Jakarta Pusat. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan konsentrasi PM10 pada setiap tahapan kegiatan aktivitas masyarakat yang mulai diberlakukan kembali sesuai aturan PSBB Transisi DKI Jakarta, dengan rata-rata harian konsentrasi tertinggi 99 µg/m3. Rata-rata per jam konsentrasi tertinggi PM 10, terjadi pada pukul 07.00 WIB. Berdasarkan pedoman kualitas udara WHO dengan baku mutu 50 µg/m3 , dari 50 hari pengamatan terdapat 34 hari melebihi baku mutu WHO. ISPU PM10 16 hari kategori baik dan 34 hari kategori sedang.Dapat disimpulkan konsentrasi PM10 meningkat pada saat Pembatasan Sosial Berskala Besar Transisi mulai diberlakukan, 34 hari konsentrasi PM10 melebihi baku mutu udara ambien WHO dan 34 hari ISPU PM10 berada dikategori sedang.
Kata Kunci : PM10, pencemaran udara, PSBB transis
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KINERJA TENAGA PELAKSANA ELIMINASI DALAM PELAKSANAAN PROGRAM PEMBERIAN OBAT PENCAGAHAN MASSAL (POPM) FILARIASIS (Studi di Wilayah Kerja Puskesmas Brebes Kabupaten Brebes)
Latar belakang:Puskesmas Brebes merupakan salah satu puskesmas di Kabupaten Brebes yang telah melaksanakan POPM sejak tahun 2017. Akan tetapi, cakupan POPM filariasis pada tahun 2019 tidak mencapai target cakupan minum obat pencegahan massal filariasis yang telah ditetapkan yaitu 72,21% dari jumlah penduduk sasaran dan 66,71% dari jumlah penduduk total.Tujuan: menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja tenaga pelaksana eliminasi dalam pelaksanaan POPM filariasis di wilayah kerja Puskesmas Brebes Kabupaten Brebes. Metode: penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain studi cross-sectional.Populasi dalam penelitian ini adalah tenaga pelaksana eliminasi di wilayah kerja Puskesmas Brebes tahun 2019. Besar sampel dalam penelitian ini sebanyak 120 responden. Hasil: faktor yang berhubungan dengan kinerja tenaga pelaksana eliminasi dalam pelaksanaan POPM filariasis adalah pelatihan(p-value=0,045), tingkat pengetahuan(p-value=0,000), status penyuluhan (p-value=0,000), ketersediaan sarana dan prasarana (p-value=0,005), dan persepsi insentif(p-value=0,046), sertafaktor yangtidak berhubungan dengan kinerja tenaga pelaksana eliminasi dalam pelaksanaan POPM filariasis adalah umur (p-value=0,993), tingkat pendidikan (p-value=0,128), status pekerjaan (p-value= 0,087), tingkat pendapatan (p-value=0,367), lama kerja (p-value=0,748), dan motivasi (p-value=0,591).Kesimpulan:pelatihan, tingkat pengetahuan, status penyuluhan, ketersediaan sarana dan prasarana, dan insentif merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja tenaga pelaksana eliminasi dalam pelaksanaan POPM filariasis di wilayah kerja Puskesmas Brebes serta umur, tingkat pendidikan, status pekerjaan, tingkat pendapatan, lama kerja, dan motivasi merupakan faktor-faktor yang tidak berhubungan dengan kinerja tenaga pelaksana eliminasi dalam pelaksanaan POPM filariasis di wilayah kerja Puskesmas Brebes Kabupaten Brebes.
Kata Kunci: Kinerja, Tenaga Pelaksana Eliminasi, POPM, Filariasi
ANALISIS FAKTOR LINGKUNGAN FISIK DALAM RUANG YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI NEGARA BERKEMBANG
Latar belakang: Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian Tuberkulosis adalah faktor lingkungan fisik. Penelitian mengenai faktor lingkungan fisik khususnya lingkungan dalam ruang seperti kepadatan, ventilasi, suhu, kelembaban menunjukkan bahwa terdapat hubungan dengan kejadian Tuberkulosis. Masih banyaknya permasalahan Tuberkulosis di negara berkembang dimungkinkan berkaitan dengan salah satu faktor yaitu faktor lingkungan, khususnya faktor lingkungan fisik. Systematic review ini bertujuan untuk menelaah kembali faktor lingkungan fisik dalam ruang yang berhubungan dengan kejadian Tuberkulosis khususnya di negara berkembang
Metode: Penelitian menggunakan metode systematic review dengan berpedoman pada PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis). Pencarian jurnal dilakukan pada beberapa database yaitu NCBI (MEDLINE/PubMed), Science Direct, Scopus, Springer Link, JSTOR. Sedangkan untuk jurnal berbahasa Indonesia dilakukan pencarian pada Portal SINTA dan Garuda Rujukan Digital.
Hasil: Berdasarkan 11 jurnal yang ditelaah, ditemukan 7 faktor lingkungan fisik yang berpengaruh dengan kejadian Tuberkulosis paru, yaitu kepadatan hunian, keberadaan ventilasi, struktur dan jenis bahan bangunan, suhu, pencahayaan, kelembaban, dan bahan bakar memasak. Kepadatan hunian dan keberadaan ventilasi menjadi faktor lingkungan fisik yang sering ditemukan.
Simpulan: Faktor lingkungan fisik dalam ruang yang ditemukan di beberapa negara berkembang berhubungan dengan tingkat pendapatan penduduk pada masing- masing negara tersebut dan kurangnya sumber daya yang mempengaruhi kualitas fasilitas penunjang kesehatan pada negara tersebut.
Kata kunci : Lingkungan fisik dalam ruang, Tuberkulosis, Negara Berkemban
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI STATUS KESEHATAN MENTAL IBU RUMAH TANGGA AKIBAT DARI KEBIJAKAN PEMBATASAN SOSIAL BESKALA BESAR DI KOTA JAKARTA TIMUR
Pemberlakuan Pembatasan Social Berskala Besar guna memutus mata rantai penularan COVID-19 yang dilakukan pemerintah mengakibatkan aktivitas diluar banyak yang dibatasi Kegiatan yang semula dilakukan di luar kini harus dilakukan didalam rumah. Pada pelaksanaannya membuat ibu rumah tangga mengalami gangguan kesehatan mental karena berusaha menyesuaikan perubahan situasi yang cepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi status kesehatan mental (tingkat depresi, tingkat gangguan kecemasan, tingkat stres) ibu rumah tangga akibat dari kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar di Kota Jakarta Timur. Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan metode kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu rumah tangga yang berada di Kota Jakarta Timur saat pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 100 orang. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara dukungan sosial dengan tingkat depresi (p=0,014) dan gangguan kecemasan (p=0,030), pekerjaan dengan tingkat depresi (p= 0,021) dan stress (p=0,012), keluarga dengan tingkat depresi (p=0,000), proses adaptasi dengan tingkat depresi (p=0,002), konsep diri dengan tingkat depresi (p=0,000) dan tingkat stres (p=0,002). Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan agar melibatkan kader kesehatan serta desa wisma dalam upaya kesehatan jiwa puskesmas, pembentukan peer group ibu rumah tangga yang tetap dalam pendampingan tenaga kesehatan jiwa puskesmas, memberikan edukasi dan informasi seputar kesehatan fisik dan mental, serta penguatan koordinasi dan jejaring antar bidang di puskesmas.
Kata Kunci: Pembatasan Sosial Berskala Besar, Kesehatan Menta
HUBUNGAN BEBERAPA FAKTOR DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN CORONAVIRUS DISEASE (COVID-19) PADA PEKERJA PELAKU MOBILITAS ULANG ALIK DI KOTA SEMARANG TAHUN 2020
Kota Semarang adalah daerah dengan kasus positif Covid-19 tertinggi di Jawa Tengah. Penyebaran penyakit COVID-19 lebih banyak dipengaruhi oleh faktor mobilitas penduduk. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan beberapa faktor dengan perilaku pencegahan Coronavirus disease (Covid-19) pada pekerja pelaku mobilitas ulang alik di Kota Semarang tahun 2020. Penelitian ini menggunakan metode explanatory research dengan jenis penelitian cross sectional study. Dengan menggunakan teknik quota sampling, sempel terpilih sebanyak 105 responden dan pengambilan data menggunakan aplikasi google form. Uji statistik meliputi univariat dan bivariat (Chi Square). Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berjenis kelamin laki laki (50,5%), berada pada kelompok usia 15-24 tahun (41,9%), batas wilayah administrasi yang dilewati untuk mobilitas ulang alik adalah kecamatan (61,0%), tingkat pendidikan tinggi (94,3%), pekerja formal (75,2%), tingkat pengetahuan baik (53,3%), sikap yang baik (89,5%), tersedia sarana dan prasarana (79,0%), orang sekitar mendukung (72,4%) dan perilaku pencegahan Covid-19 yang baik (81,0%). Tidak ada hubungan tingkat pendidikan, status pekerjaan, dan tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan Covid-19. Ada hubungan sikap (p-value=0,033), ketersediaan sarana dan prasarana (p-value=0,006) dan dukungan orang sekitar (p-value=0,006) dengan perilaku pencegahan Covid-19. Pengetahuan yang baik, sikap yang baik, tersedianya sarana prasarana dan dukungan orang sekitar dapat mendukung seseorang untuk melakukan perilaku pencegahan Covid-19.
Kata kunci: Covid-19, sikap, sarana, dukungan dan perilaku pencegaha