71404 research outputs found
Sort by
SOLIDARITAS MASYARAKATKAMPUNGTAJAKEMBANG (Dusun Kujang, Desa Cijeruk, Kec. Dayeuhluhur, Cilacap, Jawa Tengah)
Kampung Tajakembang adalah kampung yang terdiri dari 15 KK yang
memiliki kepercayaan Sunda Wiwitan dan falsafah kehidupan yaitu “silih asih,
silih asah dan silih asuh”. Kampung Tajakembang memiliki permasalahan di
bidang ekonomi dan kondisi geografis. Kedua Faktor tersebut yang
mengakibatkan Kampung Tajakembang tidak pernah lebih dari 15 KK. Warga
kampung memiliki cara tersendiri untuk menyelesaikan kedua permasalahan tadi
lewat solidaritas warga kampung.
Tujuan penelitian ini adalah memahami makna dibalik solidaritas
Kampung Tajakembang, dimulai dari menjelaskan proses solidaritas lewat
kegiatan ritual pertanian dan daur hidup kemudian menjelaskan bentuk solidaritas
yang ada di Kampung Tajakembang. Penelitian ini menggunakan teori solidaritas,
teori resiprositas dan teori antropologi lingkungan. Metode menggunakan metode
penelitian observasi partisipan, wawancara dan analisis data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa solidaritas yang ada di Kampung
Tajakembang sebagai wujud untuk mempertahankan kehidupan dan kebudayaan.
Hal ini ditunjukkan melalui beberapa wujud solidaritas, seperti kebutuhan
ekonomi, resiprositas umum, resiprositas sebanding, peduli terhadap alam dan
etika subsistensi ekonomi petani. Dari beberapa wujud tadi memperlihatkan
bahwa Kampung Tajakembang memiliki bentuk solidaritas mekanik.
Tajakembang village is a village consisting of 15 household that has
Sundanese Wiwitan beliefs and norms of life that are “silih asih, silih asah dan
silih asuh”. Tajakembang village has problems in the economic field and
geographical condition. The two factors that have been mentioned cause
Tajakembang Village is never be more than 15 household. Villagers have a
special solution to resolve the two problems through solidarity with the villagers.
The purpose of this research is to understand the meaning behind
solidarity in Tajakembang Village, starting from explaining the process of
solidarity through agricultural rituals and life cycle activities and then explaining
the form of solidarity in Tajakembang Village. This research uses solidarity
theory, reciprocity theory and environmental anthropology theory, and uses
participant observation, interview and data analysis methods.
The results showed that the solidarity that existed in Tajakembang Village
as a form of maintaining life and culture. This is demonstrated through several
forms of solidarity, such as economic needs, general reciprocity, comparable
reciprocity, care for nature and ethical subsistence of farmer's economy. From the
several forms mentioned earlier, Tajakembang Village has a form of mechanical
solidarity
FAKTOR RISIKO KEJADIAN LESI PRAKANKER SERVIKS PADA WUS YANG MELAKUKAN DETEKSI DINI METODE INSPEKSI VISUAL ASAM ASETAT (STUDI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SAPURAN KABUPATEN WONOSOBO)
Kanker serviks merupakan penyakit pada wanita usia subur yang disebabkan olehHuman Papiloma Virus. Tanda awal dari kanker ini adalah munculnya lesi. Salah satu cara mengetahui adanya lesi prakanker serviks adalah deteksi dini metode Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA). Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor risiko kejadian lesi prakanker serviks pada wanita usia subur yang melakukan deteksi dini metode IVA. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatancase control.Populasi adalah wanita usia subur yang melakukan tes IVA di Puskesmas Sapuran pada tahun 2018-Juni 2019. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling berjumlah 126yang terdiri dari 63 kasus dan 63 kontrol. Analisis data ini menggunakan uji univariat dan chi square dengan menampilkan risiko dengan Odds Ratio (OR) menggunakan hasil Confidence Interval (CI) sebesar 95%.Hasil penelitian menunjukkanvariabel yang merupakan faktor risiko adalah tingkat pendidikan (OR = 2,969; 95%CI= 1,88-7,422), usia hubungan seksual pertama kali1 (OR = 6,452; 95%CI= 1,368-6,542), usia hamil pertama kali1, usia hamil pertama kali <20 tahun, jumlah paritas ≥3, adanya paparan asap rokok dan riwayat kanker serviks di keluarga merupakan faktor risiko kejadian lesi prakanker serviks di wilayah kerja Puskesmas Sapuran Kabupaten Wonosobo.
Kata Kunci : Lesi Prakanker Serviks, Kanker Serviks, Wanita Usia Subur, IV
STUDI KUANTITATIF: HUBUNGAN WORK-LIFE BALANCE DAN LINGKUNGAN KERJA NON FISIK TERHADAP KEPUASAN KERJA PERAWAT DI RSUD DR. R. SOEDJATI KABUPATEN GROBOGAN
Kepuasan kerja penting untuk dilakukan karena adanya ketidakpuasan kerja dapat mengakibatkan dampak negatif bagi perawat dan Rumah Sakit. Selain itu terdapat faktor-faktor yang mendorong terciptanya kepuasan kerja, salah satunya work-life balance dan lingkungan kerja non fisik. Jadi kepuasan kerja sangat penting untuk mencegah ketidak hadiran perawat dan tidak maksimal dalam bekerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan work-life balance dan lingkungan kerja non fisik terhadap kepuasan kerja perawat di Rumah Sakit Umum Daerah DR. R. Soedjati Kabupaten Grobogan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian ini adala perawat bangsal gladiol dan bangsal lavender di Rumah Sakit Umum Daerah DR. R. Soedjati Kabupaten Grobogan sebanyak 40 responden dengan total sampling dan diuji menggunakan uji chi square. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara work-life balance (p value = 0,001; α = 0,05) dan lingkungan kerja non fisik (p value = 0,003; α = 0,05) terhadap kepuasan kerja kerja perawat di RSUD DR. R. Soedjati Kabupaten Grobogan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Rumah Sakit diharapkan mengadakan kegiatan outbound family yang terjadwal atau kegiatan rekreasi lainya dengan mengajak keluarga dari masing-masing perawat dan memperhatikan lingkungan kerja yang telah dimiliki saat ini agar dapat memaksimalkan kinerja perawat sehingga meningkatkan pelayanan terhadap pasien
Kata kunci : Work-life Balance, lingkungan kerja non fisik dan kepuasan kerj
HUBUNGAN KEBIASAAN KONSUMSI IKAN DENGAN SKOR-Z TB/U PADA ANAK USIA 2-5 TAHUN DI KABUPATEN TUBAN
Di pesisir pantai pada umunya masyarakat banyak mengkonsumsi makanan laut. Namun demikian prevalensi stunting di daerah pesisir masih tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kebiasaan konsumsi ikan dengan skor-z TB/U pada anak usia 2-5 tahun di Kabupaten Tuban. Jenis penelitian ini observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sebanyak 138 anak dalam satu populasi, 60 subjek dipilih secara purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur, food frequency dengan bantuan food pictures. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi rank spearman dan uji fisher exact. Hasil penelitian menunjukkan 40% subjek tergolong stunting. Frekuensi konsumsi ikannya tergolong tinggi, dengan rerata±SD 11,25±5,93 per minggu. Sumbangan protein dari ikan mencapai 92,84% dari protein total 133,9% dalam sehari. Rerata asupan zat gizi dari ikan, asupan proteinnya cukup (92,84±60,38)%, sedangkan asupan energi (7,33±4,46)% dan lemaknya (4,67±3,71)% kurang dari yang dianjurkan. Ada hubungan antara variabel perancu yaitu riwayat ASI eksklusif dengan skor-z TB/U. Tidak ada hubungan antara frekuensi konsumsi ikan, tingkat kecukupan energi, protein, lemak dari ikan dan dari makanan total, pendidikan ibu, pendapatan keluarga, riwayat penyakit infeksi diare dan ISPA dengan skor-z TB/U. Tidak ada hubungan antara kebiasaan konsumsi ikan dengan skor-z TB/U, dapat disebabkan karena asupan energi total yang rendah. Disarankan kepada puskesmas untuk lebih meningkatkan upaya dalam peningkatan konsumsi energi pada anak usia 2-5 tahun, serta memberikan edukasi terhadap ibu dalam pemenuhan asupan zat gizi anak.
Kata kunci : kebiasaan konsumsi ikan, asupan zat gizi, anak balita, stunting, daerah pesisi
FUNGSI RITUAL AGUNG BANYU PANGURIPAN DALAM MENJAGA KETERSEDIAAN AIR BAGI MASYARAKAT DI KECAMATAN PULOSARI KABUPATEN PEMALANG
Penelitian ini mengkaji permasalahan perubahan fungsi dalam ritual upacara Ritual Agung Banyu Panguripan sebagai ritual yang bertujuan untuk meminta kelimpahan air di Kecamatan Pulosari yang sudah dilaksanakan sangat lama. Ritual ini diwariskan dan dipertahankan secara turun temurun oleh masyarakat pendukungnya. Seiring berjalannya waktu Ritual Agung Banyu Panguripan bergabung dengan Festival Wong Gunung (FWG) dan mengalami pergeseran fungsi. Meskipun sudah dilaksanakan sangat lama ritual ini tidak terlalu berpengaruh dalam hal mendatangkan kelimpahan air di Kecamatan Pulosari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan menggunakan teori fungsionalisme Malinowski sebagai teori yang digunakan untuk menganalisis alasan mengapa masyarakat terus melaksanakan ritual yang hasilnya tidak terlalu berpengaruh dengan tujuan yang diinginkan.
Hasil dari penelitian ini adalah menunjukan bahwa pergeseran fungsi terjadi karena masyarakat mengalami perubahan atau perkembangan pola pikir yang menganggap bahwa ritual upacara tidak hanya dilakukan untuk tujuan meminta air semata, namun bisa menjadi seni pertunjukan. Selain itu perubahan juga terjadi karena munculnya kreativitas pemuda dan masyarakat yang ingin melestarikan Ritual Agung Banyu panguripan, kesenian daerah serta mengangkat potensi wisata di Kecamatan Pulosari. Sejalan dengan perubahan ritual upacara, pelaksanaan ritual juga mengalami perubahan. Sikap masyarakat ketika menyambut FWG maupun ritual pun mulai berubah, karena mereka melihat terdapat peluang ekonomi ketika acara dilaksanakan.
This research examines the issues of changes in function inside the ritual ceremony of Ritual Agung Banyu Panguripan as a ritual that aims to ask for an abundance of water in Pulosari districts which have been implemented in very long time. This ritual is inherited and is hereditary by the community supporters. As time passes by, the Ritual Agung Banyu Panguripan joined Festival Wong Gunung (FWG) and experienced a shift in function. Even after being carried out very long time, this ritual are less affected in the event brought an abundance of water in Pulosari districts. Methods used in this research is a qualitative methodology and use the theory of functionalism from Malinowski as a theory that used to analyze the reasons why some people continue to work a ritual that the results are less affected by a desired goal.
The result of this research is shifting the function occured because they undergo a change or development of mindset that ritual ceremonies conducted for the purpose of not only for the purpose of soliciting water, but could be performing arts. In addition, changes also occur due to the emergence of youth and community creativity who want to preserve the Ritual Agung Banyu Panguripan, local art and raised the tourism potential in Pulosari district. In line with changes in ceremonial rituals, ritual implementation also changed. The attitude of the community when welcoming FWG and ritual beg
ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT (STBM) 5 PILAR (Studi Kasus di Puskesmas Sumowono dan Puskesmas Tuntang) Di Kabupaten Semarang
STBM 5 Pilar merupakan salah satu program yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang mandiri dalam menentukan solusi bersama mengenai permasalahan lingkungan sekitar. Target pelaksanaan program STBM 5 Pilar dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 adalah 100% capaian desa/kelurahan yang melaksanakan STBM 5 Pilar di akhir tahun 2019. Puskesmas Sumowono merupakan puskesmas di Kabupaten Semarang dengan cakupan pendataan tertinggi pelaksanaan program hingga juni 2019 yaitu rata-rata sebesar 99,97%. Sedangkan Puskesmas Tuntang merupakan puskesmas dengan capaian terendah dengan rata-rata capaian sebesar 51,2%. Perbedaan atau gap capaian program STBM 5 Pilar antara Puskesmas Tuntang dan Puskesmas Sumowono yang sangat besar perlu seharusnya tidak terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisisperbedaanpelaksanaan program STBM 5 Pilar di Puskesmas Tuntang dan Sumowono.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitik. Data dikumpulkan dengan metode indepth interview yang dipilih berdasarkan teknik snowballing sampling. Subjek penelitian merupakan Sanitarian Puskesmas, Lurah desa, Kader desa, Masyarakat, Kepala Puskesmas, PJ Program kabupaten, dan Kasie. Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kab. Semarang, diwilayah kerja Puskesmas Tuntang dan Sumowono. Aspek yang diteliti adalah komunikasi, SDM, dana, sarana prasarana, informasi, disposisi, struktur birokrasidan proses pelaksanaan program .
Hasil Penelitian menunjukan pelaksanaan program STBM 5 Pilar di Puskesmas Sumowono lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Tuntang. Empat aspek penelitian masih mengalami hambatan di kedua puskesmas yakni tahap pemicuan variabel pelaksanaan, transmisi dan konsistensi variabel komunikasi, insentif dan reward variabel disposisi pelaksana dan penggunaan SOP variabel struktur birokrasi. Aspek penelitian yang dilakukan lebih baik oleh Puskesmas Sumowono dibanding Puskesmas Tuntang ialah variabel SDM, variabel sumber daya dana, variabel sumber daya sarana prasarana, variabel sumberdaya informasi, variabel disposisi pelaksana dan variabel struktur birokrasi pelaksana.
Kata Kunci : Program STBM 5 Pilar, Tahapan Pelaksanaan, Puskesmas, Pemberdayaan Masyaraka
IDENTIFIKASI KEBERADAAN COLIFORM DAN E. coli PADA AIR BERSIH DI PELABUHAN TANJUNG EMAS SEMARANG
Salah satu upaya pengolahan air bersih yaitu desinfeksi.Desinfeksi bertujuan membunuh mikroorganisme pathogen yang dapat menyebabkan masalah kesehatan bagi manusia.Salah satu desinfektan yang umum digunakan adalah kaporit karena kaporit mudah didapatkan dan harganya terjangkau.Penggunaan kaporit sebagai desinfektan harus memenuhi persyaratan dosis dan teknik yang sesuai.Desinfeksi yang telah dilakukan pada air di Reservoir Pelindo Pelabuhan Tanjung Emas Semarang menggunakan 250 gram kaporit dan diulang satu kali satu bulan pembubuhannya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi Total Coliform dan E. coli pada hari segera setelah pembubuhan, hari ke-7, 14, 21 dan 28 pada Reservoir Pelindo, Hidrant Dermaga Nusantara, Reservoir Terminal Penumpang, Hidrant Dermaga Samudera, Hidrant Dermaga TPKS dan Reservoir TPKS. Adapun metode penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Hasil penelitian menunjukkan kandungan Total Coliformmemenuhibaku mutu pada hari ke-0 di Hidrant Dermaga Samudera dan Hidrant Dermaga TPKS, serta hari ke-7 di Reservoir Terminal Penumpang dan Hidrant Dermaga TPKS. Kandungan E. colimemenuhi baku mutu pada hari ke-0 di Reservoir Terminal Penumpang, Hari ke-7 di Hidrant Dermaga TPKS, hari ke-14 di Reservoir Pelindo dan Hidrant Dermaga Nusantara. Efisiensi desinfeksi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu waktu kontak, konsentrasi desinfektan, jumlah mikroorganisme, suhu, pH dan adanya senyawa lain dalam air.Selain itu, juga dipengaruhi oleh kondisi reservoir/hidrant.
Kata Kunci :air, desinfeksi, reservoir, hidran
PERLAWANAN PEREMPUAN TERHADAP PENINDASAN DALAM FILM MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK DAN SERIAL NETFLIX 13 REASONS WHY SEASON 3; KAJIAN SASTRA BANDINGAN
Mayriska, Nadya Anggi. 2020. "Comparison of Women's Resistance To Oppression in Marlina the Killer in Four Acts Movie and 13 Reasons Why Seasons 3 Netflix Series: A Comparative Literature Study". Thesis. (S1) Faculty of Humanities Diponegoro University of Semarang.
The object of research that author use is the Marlina the Killer in Four Acts Movie and 13 Reasons Why Season 3 Netflix series. The purpose of this study is to describe (1) elements of the structure of narratology in Marlina The Killer in Four Acts movie (2) elements of the stucture of narratology 13 Reasons Why Season 3 Netflix series (3) comparison of women's resistance in Marlina The Killer in Four Acts movie and 13 Reasons Why Season 3 Netflix series. The research method that used is a comparative method with a structural approach.
Based on the research that has been done, it can be concluded that the structure of Marlina The Killer in Four Acts movie and 13 Reasons Why Season 3 Netflix series includes: (1) story and plot, (2) time sequence, (3) space, (4) characters and characterization, (5) objectives, (6) problems and conflicts, and (7) narrative structure patterns. There are similarities in women’s resistence, it is that two object are equally resistant because there is physical, psychological, and sexual violence experienced previously. The difference between these two objects is the support of the people around and the availability of facilities in women's resistance activities carried out.
Keywords: comparison, feminism, movi
KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA HARUNA NAGASHIMA DALAM FILM KOUKOU DEBYUU KARYA SUTRADARA TSUTOMU HANABUSA KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA 英勉の「長島ハルナ」における主人公の人格
ABSTRACT
Angkasaputri, Mutiara Arsita, 2020.”Kepribadian Tokoh Utama Haruna Nagashima dalam Film Koukou Debyuu Karya Tsutomu Hanabusa Kajian Psikologi Sastra”. Japanese Department Thesis, Diponegoro University. Advisor: Zaki Ainul Fadli, S.S, M.Hum.
This research aims to explain about the sctucture of Koukou Debyuu Movie and about the personality of the main character Haruna Nagashima in Koukou Debyuu Movie. The material object of this study is a movie called Koukou Debyuu (High School Debut. While the formal object of this study is the personality of the main character Haruna Nagashima.
The method which used in this research is to obtain data with literatures. The theory used in this research is the theory of personality according to Carl Gustav Jung and movie narrative structure according Himawan Pratista.
The result of the analysis shows that according to Carl Gustav Jung, the personality of the main character Haruna Nagashima on Koukou Debyuu, based on the consciousness that can be seen from the soul functionalityof Haruna type-sensed personality. While viewed from attitude of the soul, Haruna has an extroverted personality. Based on unconsciousness, Haruna has a thoughtful type personality.
Keywords: literary psychology, personality, Haruna, Koukou Debyu
NILAI-NILAI SOSIAL YANG TERCERMIN DALAM NOVEL KAZE NO UTA WO KIKE KARYA HARUKI MURAKAMI (KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA) 春木村上の『風の歌を聞け』の小説に反映する社会的な価値 『文学の社会学の研究』
ABSTRACT
Rudiansyah, Helmi Fergian. 2020. Social Values that Reflected in the novel entitled Kaze no Uta wo Kike by Haruki Murakami. Thesis, Department of Japanese Language and Culture, Diponegoro University, Semarang. First Advisor Yuliani Rahmah S.Pd, M.Hum and Second Advisor Dewi Saraswati Sakariah, SS, M.Si.
The purpose of this study is to describe some intrinsic substance and explain the Social Values that reflected in the novel entitled Kaze no Uta wo Kike. The data used for this study was obtained from the novel Kaze no Uta wo Kike by Japanese author, Haruki Murakami. The method used in this study is literature review by reading relevant references such as books, theses, and scientific journals. This study is a kind of qualitative research which uses sociological approach of literature to find out the social values that reflected in the novel entitled Kaze no Uta wo Kike.
This theory is to reveal social values, such as dominant value (the desire from “Aku”’s Parents to see their children heal and live normally) and ingrained value which according to Notonagoro is divided into material value, moral value, and spritual value (but in this studyonly focuses in vital value and spirtual value). The vital value that reflected in the novel Kaze no Uta wo Kike are psychiatrist, beer and raison d’etre. Meanwhile, spiritual value is divided into truth value (luck can’t be bought by money, human will die), beauty value (beautiful Saturday night, beautiful song), moral value (forgive others, returning the favor), religius value (People’s will die, funeral procession, heaven).
Keywords: novel, sociological, social value, Kaze no Uta wo Kik