Diponegoro University

Diponegoro University Institutional Repository
Not a member yet
    71404 research outputs found

    ANALISIS KESEDIAAN KONSUMEN UNTUK MEMBAYAR PRODUK TEMPE HYGIENE RUMAH KEDELAI GROBOGAN DI KABUPATEN GROBOGAN

    Get PDF
    Kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi produk pangan yang lebih higienis semakin meningkat, termasuk produk tempe. Kondisi tersebut mendorong Rumah kedelai Grobogan memproduksi tempe hygiene dengan menggunakan varietas Grobogan non Genetically Modified Organism (GMO), yang dianggap lebih berkualitas walaupun harus diikuti dengan harga lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik konsumen, menganalisis nilai rata-rata maksimum kesediaan konsumen membayar dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan membayar produk tempe hygiene. Penelitian ini dilaksanakan di 5 lokasi pemasaran tempe hygiene di Kabupaten Grobogan dengan 100 responden yang dipilih dengan menggunakan metode quota sampling. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif untuk mendeskripsikan karakteristik konsumen, analisis Contingent Valuation Methode (CVM) untuk menghitung nilai rata-rata Willingness To Pay (WTP) maksimum dan analisis regresi logistik untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi nilai WTP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas konsumen adalah perempuan, berusia 26-35 tahun, pendidikan terakhir SMA dan Strata 1, jumlah anggota keluarga 4-6 orang dan pendapatan > Rp 1.000.000 – Rp 3.000.000. Sebanyak 82% responden bersedia membayar lebih mahal dari harga normal (Rp 6.000/bungkus). Nilai WTP konsumen terhadap tempe hygiene adalah Rp 6.431,71 per bungkus (350gram). Faktor-faktor yang secara signifikan mempengaruhi nilai Willingness To Pay (WTP) konsumen adalah usia, pendapatan per bulan dan kualitas produk. Berdasarkan hasil analisis disimpulkan bahwa konsumen bersedia membayar lebih mahal untuk produk tempe hygiene dengan selisih harga rata-rata WTP sebesar 7,19% (Rp 6.431,71/bungkus) dari harga normal (Rp 6.000/bungkus). Kata Kunci: CVM, kesediaan membayar, regresi logistik, tempe hygien

    ANALISIS KESEDIAAN MEMBAYAR (WILLINGNESS TO PAY) TERHADAP PRODUK TELUR AYAM KAMPUNG DI PASAR SWALAYAN KOTA SEMARANG

    Get PDF
    Telur ayam kampung mempunyai kandungan gizi yang tinggi. Harga telur ayam kampung lebih mahal dari telur ayam biasa karena kandungan yang dimiliki. Konsumen yang semakin sadar akan kebutuhan gizi dan manfaat telur ayam kampung menginginkan manfaat tersebut sesuai dengan harga yang dikeluarkan untuk memperoleh telur ayam kampung. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi segmentasi pasar konsumen, menganalisis besarnya nilai rata-rata kesediaan membayar maksimum konsumen, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari – Maret 2020 di empat lokasi pasar swalayan Kota Semarang, dengan penentuan lokasi secara purposive. Responden diambil sebanyak 100 responden dengan menggunakan metode accidental sampling. Analisis data menggunakan analisis deskriptif untuk menggambarkan segmentasi pasar konsumen, analisis Contingent Valuation Method (CVM) untuk mengetahui nilai rata-rata WTP maksimum dan analisis regresi linier logistik untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi WTP konsumen. Hasil penelitian menunjukkan pada segmentasi pasar konsumen, segmentasi demografis cenderung memberi kontribusi besar terhadap penentuan nilai WTP. Sebanyak 87% responden bersedia membayar lebih dengan peningkatan 5 – 20% dari harga telur ayam kampung saat ini. Nilai rata-rata maksimum WTP konsumen telur ayam kampung untuk semua kemasan adalah Rp 23.453,-/6 butir. Faktor-faktor yang secara signifikan mempengaruhi WTP telur ayam kampung adalah tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan. Kata kunci ; CVM, kesediaan membayar, telur ayam kampun

    ASSESSMENT OF SPATIAL PLAN OF SEMARANG METROPOLITAN COASTAL AREA THROUGH OBIA-BASED SPATIAL PATTERN MODELING

    Get PDF
    The land dynamics has consequences to the area in the form of coastal ecological hazard. Hence, the regional spatial plan (Rencana Tata Ruang Wilayah/RTRW) exists to minimize the disadvantages from the land dynamics. The suitability of the regional spatial plan needs to be examined to determine the effectiveness of its implementation. The evaluation of the regional spatial plan’s effectiveness requires a method for analyzing satellite imagery to produce land cover models. However, the object-based image analysis method is rarely used in research on regional spatial plan assessment. Therefore, this research employs the OBIA method to add the number of research that employs this method in the regional spatial plan context. This research aims to analyze the land dynamics rate of the Semarang Metropolitan coastal area and to conduct assessment of the regional spatial plan through an OBIA method’s application. This research uses a Sentinel-2A satellite imagery (tile number T49MCN) for years 2015 and 2020 as its primary data (and 2019 data for cloud masking of 2020 data). Google Satellite Imagery and observation photographs are used as supporting data in preparing the train set and test set. The data is processed with QGIS 3.10.6 and QGIS 2.18.20 software, also in Orfeo ToolBox (OTB) 7.1.0 and MOLUSCE plugin. This research utilizes MNDWI-NDTI-NDVIre multi-index imagery and SVM RBF (Support Vector Machine with Radial Basis Function kernel type) learning algorithm to produce the land cover models in 2015 and 2020. Both land cover models then become the basis for land cover prediction in 2025 and 2030. Finally, the assessment of the spatial plan is analyzed to measure the discrepancy between the land cover trends and the spatial pattern plan. This research concludes that Semarang City is the most significant contributor to the rapid land dynamics in Semarang Metropolitan coastal area. The area surrounding the toll gates is predicted to trigger intensification and extensification of the built-up area. Meanwhile, the reclamation location is predicted to be partly converted as waterbody. There is no change in the multiple nuclei spatial structure and octopusshaped spatial pattern in the study area. The wide of the land cover in 2020, which is incompatible to the spatial pattern plan, is about 10,947.06 ha (or 28.97% of the study area). The incompatibility itself is predicted to increase by 1,241.81 ha (or 3.29% of the study area) within 2020-2030. Such an incompatibility is caused by the built-up and paddy field/bare land plan that are predicted to be converted to waterbody. An ineffective Semarang City’s spatial pattern plan is indicated by the decrease of paddy field/bare land that this contradicts the plan: the waterbody does not convert to paddy field/bare land, but it is converted to builtup in the reclamation area

    PERAN MASYARAKAT DALAM EKSISTENSI KAMPUNG KOTA (Studi Kasus: Kampung Pelangi Kota Semarang)

    Get PDF
    Kampung Wonosari merupakan salah satu kampung yang dalam sejarahnya diperuntukkan sebagai kawasan pemakaman. Namun, lokasi Kampung Wonosari yang berada di pusat kota yang dekat dengan pusat pemerintahan, Tugu Muda, Lawang Sewu, sarana kesehatan RSUD Kariadi, serta pusat perniagaan pandanaran, menyebabkan berubahnya peruntukan Kampung Wonosari. Lambat laun Kampung Wonosari berubah dari dominasi lahan pemakaman kini didominasi menjadi lahan permukiman yang tidak tertata. Ekistensi kampung kota sebagai tempat bermukim yang berkualitas bagi masyarakat perkotaan dapat dilakukan melalui penggalian potensi dari berbagai sektor, tentu saja hal ini tidak lepas kaitannya dengan peran masyarakat didalamnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat peran masyarakat dalam eksistensi Kampung Pelangi di Kota Semarang. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui kuisioner, observasi, dan wawancara sebagai pendukung. Teknik pengumpulan data melalui kuesioner dilakukan kepada masyarakat Kampung Pelangi yang berjumlah sebanyak 90 responden. Teknik analisis yang digunakan meliputi analisis statistik deskriptif yang digunakan untuk menggambarkan data-data terkait karakteristik sosial dan ekonomi. Selain itu juga menggunakan analisis skoring dan pembobotan dengan melibatkan responden untuk menentukan skor sendiri pada masing-masing kriteria yang sudah ditetapkan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pada analisis eksistensi Kampung Pelangi sebagai kampung kota tergolong dalam kriteria kuat. Hal ini dikarenakan Kampung Pelangi dapat memberikan identitas pada suatu kota dimana masih terlihat wajah asli kampung yaitu ditandai dengan adanya makam bersejarah yang masih dilestarikan serta ikatan-ikatan sosial dan adat istiadat yang masih terjalin dalam masyarakat Kampung Pelangi. Kondisi ini tentunya berpengaruh berhadap peran masyarakat yang sudah berkontribusi tinggi terlibat dalam pelaksanaan aktivitas dan pembangunan di Kampung Pelangi. Dalam program pembentukan Kampung Pelangi masyarakat tidak ikut terlibat dalam inisiasi pembentukan Kampung Pelangi, pemerintahlah yang berperan penting mulai dari inisiasi, implementasi, dan monitoring. Masyarakat hanya terlibat dalam pelaksanaan aktivitas pembangunan saja, sehingga inisiatif masyarakat masih hanya terbatas arahan pemerintah saja. Kondisi ini juga terkait dengan keberadaan organisasi lokal (pokdarwis) di Kampung Pelangi dimana peran pokdarwis untuk pengembangan Kampung Pelangi hanya jika ada arahan dari kelurahan saja atau pemerintah kota semarang dalam mewujudkan Kampung Pelangi menjadi destinasi yang menarik untuk dikunjungi yang memang pada dasarnya sudah menjadi program Pemerintah Kota Semarang. Meskipun begitu keberadaan pokdarwis cukup bermanfaat bagi masyarakat Kampung Pelangi yang berperan dalam pengadaan event-event kegiatan wisata. Sedangkan untuk penilaian kapasitas masyarakat sendiri berada pada kategori sedang. Kegiatan pengembangan kapasitas masyarakat di Kampung Pelangi belum sepenuhnya berhasil mengatasi permasalahan Kampung Pelangi karena belum adanya monitoring secara berkelanjutan terkait program kegiatan dalam peningkatan kapasitas masyarakat. Berdasarkan temuan studi penelitian maka perlu adanya pelibatan masyarakat dalam proses identifikasi permasalahan, analisis permasalahan hingga implementasi program sehingga masyarakat memiliki kemampuan dalam memahami potensi dan masalah kampungnya yang pada akhirnya mereka mampu berkontribusi secara maksimal dalam mengatasi segala permasalahan yang dihadapi sehingga eksistensi kampungnya mampu beradaptasi terhadap tekanan perkotaan

    FACTORS AFFECTING THE INCOME OF CRYSTAL COCONUT SUGAR IN SRIKANDI WOMEN'S FARMERS GROUP, CANDIMULYO DISTRICT, MAGELANG REGENCY

    Get PDF
    This study aims to analyze the income of palm sugar farmers in the Srikandi Women's Farmers Group and analyze the factors affecting the income of palm sugar farmers. The location was determined purposively based on the consideration that the farmer group became a pioneer producing palm sugar established since 2012 and Candimulyo District has the potential of One Village One Product-based palm sugar products in the area of Magelang Regency. The study was conducted from 17 November to 15 December 2019. The research method used was a case study. The number of respondents was 33 crafters of ant sugar. Data collection was carried out by interview, observation and literature study. Data were analyzed using multiple linear regression analysis with independent variables including the amount of additional material (X1), labor use (X2), production (X3) and fuel costs (X4) on the dependent variable namely income (Y). The results showed that the average income of ant sugar crafters was Rp. 14,942.27 / production / day. The results of the multiple linear regression analysis equation are the factors of the amount of additives, labor use, production and fuel costs simultaneously affecting the income of palm sugar farmers. Partially the use of labor, production and fuel costs affect income, while the factor of the amount of additional material has no effect. A coefficient of determination of 95.3% means that the amount of additives, labor use, production and fuel costs can explain income, while 4.7% is explained by other variables

    Analysis of Visitor Satisfaction on Quality of Service in Omah Salak Agrotourism, Turi District, Sleman Regency

    Get PDF
    Omah Salak Agrotourism is an example of a combination of the agricultural sector and the tourism sector. Omah Salak Agrotourism provides a variety of tour packages, culinary and souvenirs of salak processed products. Consumer satisfaction with the service is suspected as a factor that triggers fluctuations in the number of visitors. This study aims to analyze visitor satisfaction with service quality including tangibles, reliability, responsiveness, assurance and empathy, as well as analyzing the factors that influence the satisfaction of Omah Salak Agrotourism visitors. This research using the case study method, a sample of 100 respondents with purposive sampling technique. The measurement scale uses a likert scale. Data analysis methods use the customer satisfaction index (CSI), gap analysis, importance performance analysis (IPA) and multiple linear regression analysis. The results of the satisfaction analysis showed a CSI value of 77,44%, meaning that overall visitors were satisfied with the quality of Omah Salak Agro Tourism services. The value of performance < importance is 3,87 < 4,33, with an average gab of -0,46. Priority attributes to be improved are worship facilities, bathrooms, adequate parking, timely events, friendly and courteous company staff, and visitor safety guarantees. The results of the analysis of factors that influence visitor satisfaction indicate the dimensions of service quality simultaneously affect visitor satisfaction. Tangibles, reliability, and assurance variables are partially influential, whereas responsiveness and empathy variables partially do not affect visitor satisfaction

    A PHONOLOGICAL ANALYSIS OF PALATALIZATION IN THE OSING DIALECT OF JAVANESE, BANYUWANGI

    Get PDF
    This article observes the palatalization in one of the local dialects in Indonesia. Compared with other dialects of Javanese in different geographical areas in Indonesia, palatalization phenomena almost do not exist in some of the Javanese dialects. However, based on my close observation, there is one local dialect that has palatalization phenomena in its pronunciation. The dialect is called Osing dialect. Osing is one of the Javanese dialects used by Banyuwangi inhabitants. This research observes the environment of syllables in Osing dialect based on the sound distribution that triggers the palatalization and identifies the types of palatalization. The data were taken from interviewing the local people as the participants especially in Kemiren village that represent the speech community of Osing dialect. For the analysis, this research used phonetic articulatory to see how the participants use Osing dialect. This research finds that the palatalization in Osing dialect happens in 11 consonants and 2 vowels as the target and the trigger. The palatalization appears on the target sounds by certain rules. The target sounds are palatalized if they are followed by the trigger sound. Moreover, this research also shows that palatalization in Osing dialect indicates a secondary palatalization

    FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU DIET REMAJA AKHIR USIA 18-22 TAHUN PADA KONSUMEN HERBALIFE DI KOTA SEMARANG

    Get PDF
    Perkembangan fesyen mengenalkan masyarakat kepada bentuk tubuh ideal, tubuh sehat dan ideal bisa menunjang berbagai fungsi kehidupan. Tubuh ideal merupakan standar bagi semua orang termasuk remaja.Kurangnya pengetahuan pada remaja mengenai pengelolaan bentuk tubuh bisa menyebabkan remaja memiliki perilaku diet tidak sehat, seperti mengurangi secara drastis porsi makan harian, meminum jamu pelangsing, meminum obat pencahar, memuntahkan kembali makanan dengan sengaa, dan perilaku lainnya dalam usaha mendapat berat badan ideal. Produk Herbalife diklaim sebagai produk aman yang digunakan oleh semua umur.Namun, dalam kenyataan masih terdapat efek samping jika digunakan tidak sesuai anjuran.Tujuan dari penelitian ini mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku diet remaja akhir pada konsumen Herbalife di kota semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Metode pengambilan sampel menggunakan Proportional random sampling sebanyak 85 responden. Hasil penelitian sebanyak 78,8% perempuan, 76,5% responden berpendidikan tinggi, 55,3% memiliki pengetahuan baik, 55,3% memiliki sikap yang baik, 64,7% memiliki Riwayat penyakit yang berarti, 80% IMT baik, 50,6% tidak puas dengan tubuh yang dimiliki, 50,6% >7 bulan menggunakan produk, 55,3% memiliki pelayanan Kesehatan baik, 61,2% memiliki ketersediaan informasi baik, 67,1% memiliki dukunga keluarga baik, 56,5% memiliki dukungan teman baik, 78,8% memiliki dukungan tokoh panutan baik, 57,6% memiliki dukungan coach Herbalife baik. Pengujian dengan chi-square menunjukan ada hubungan variable Pengetahuan (p=0,000), sikap (0,007), IMT (p=0,000), ketidakpuasan tubuh (p=0,000), lama menggunakan produk (0,003), dukungan teman (0,001), dukungancoach (0,000) dengan perilau diet. Tidak ada hubungan antara variabel jenis kelamin, Pendidikan, Riwayat penyakit, pelayanan Kesehatan, ketersediaan informasi, dukungan keluarga, dan dukungan tokoh panutan dengan perilaku diet remaja konsumen Herbalife di kota semarang. Kata Kunci : Perilaku Diet, Remaja Akhi

    STRATEGI PENGELOLAAN LINGKUNGAN KAWASAN MANGROVE PADA SEMPADAN PANTAI KECAMATAN TAYU KABUPATEN PATI

    Get PDF
    Konversi lahan mangrove menjadi tambak telah mengubah kondisi lingkungan di sempadan pantai Kecamatan Tayu Kabupaten Pati Jawa Tengah. Perubahan tersebut juga mengurangi fungsi fisik mangrove sebagai pelindung pantai dari gelombang, sehingga pantai tersebut akan rentan terhadap gelombang dan tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai buffer. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi mangrove beserta lingkungan hidupnya, mengkaji kerentanan pesisir (CVI), mengetahui persepsi masyarakat serta merumuskan strategi pengelolaan mangrove di sempadan pantai. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus (case study), menggunakan analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Hasilnya menunjukkan bahwa luas lahan mangrove di Kecamatan Tayu Kabupaten Pati mengalami penambahan 20,17 hektar selama kurun waktu 5 tahun (2014-2019), hingga tahun 2019 luas lahan menjadi 54,35 hektar. Jenis mangrove yang ditemukan hanya 2 jenis yaitu Brayo (Avicennia marina) dan Bakau (Rhizophora mucronata) yang merupakan hasil replantasi. Jenis Avicennia marina mendominasi pada lahan mangrove dengan indeks nilai penting tertinggi pada semua kategori. Nilai Indeks keanekaragaman mangrove di kecamatan Tayu termasuk kategori rendah, dengan kondisi kerapatan mangrove pada tingkat pohon di desa Keboromo dan sebagian Dororejo kategori baik, sedangkan lainnya kategori jarang/rusak yaitu di desa Jepatkidul dan sebagian Dororejo. Kondisi mangrove pada tingkat anakan di semua lokasi kategori baik, sedangkan pada tingkat semai, mangrove kategori baik hanya di desa Dororejo, sedangkan lainnya kategori jarang/rusak. Parameter fisik lingkungan mangrove menunjukkan masih dalam kategori layak untuk pertumbuhan dan perkembangan mangrove. Rata-rata suhu pada kisaran 27,83 - 29,15°C. Derajat keasaman (pH) air pada kisaran 7,65–7,83, pH tanah berkisar antara 6,47–6,77. Salinitas air pada kisaran 34,33–35,53 ppt, dan Oksigen terlarut pada kisaran 5,07–5,42 mg/L. Nilai Indeks Kerentanan Pesisir (CVI) pada sepanjang pantai kecamatan Tayu, menghasilkan 2 kelas yaitu kelas tinggi dan rendah. CVI kelas tinggi ada di sekitar desa Jepatkidul, Sambiroto dan sebagian Dororejo. Sedangkan nilai indeks CVI kategori rendah ada di desa Kalikalong, Dororejo, Jepatlor, Keboromo, Tunggulsari dan sebagian Margomulyo. Persepsi stakeholders masyarakat berdasarkan kategori pendidikan maupun pekerjaan terhadap pengelolaan mangrove di Kecamatan Tayu Kabupaten Pati secara umum cukup, baik dari segi pemahaman keberadaan mangrove, pengetahuan adanya Perda, maupun perilaku keseharian dalam menjaga kelestarian mangrove. Berdasarkan analisis SWOT (0,095 ; 0,224) dengan kondisi berada di kuadran I, rumusan strategi pengelolaan lingkungan mangrove dengan nilai tertinggi adalah menjalin kerjasama dengan pelaku industri/ LSM untuk pengelolaan kawasan mangrove, dengan mengakses dana CSR (Corporate Social Responsibility). Kata kunci: Strategi Pengelolaan, Mangrove, Kecamatan Tayu, Pati The conversion of mangrove land into ponds has changed the environmental conditions on the coastline of Tayu District, Pati Regency, Central Java. These changes also reduce the physical function of mangroves as coastal protectors from waves, so that the beach will be vulnerable to waves and unable to function as a buffer. The purpose of this study was to determine the condition of mangroves and their living environment, assessing coastal vulnerability (CVI), knowing community perceptions and formulating mangrove management strategies on the coastline. This research is a case study, using descriptive analysis with qualitative and quantitative approaches. The results show that the area of mangrove land in the Tayu Subdistrict of Pati Regency has increased by 20.17 hectares over for 5 years (2014-2019) until 2019 the land area will be 54.35 hectares. Only 2 species of mangrove were found, namely Brayo (Avicennia marina) and Mangrove (Rhizophora mucronata) which were replanted. Avicennia marina types predominate in mangrove lands with the highest importance value index in all categories. The mangrove diversity index value in the Tayu subdistrict is in a low category, with the condition of the mangrove density at the tree level in Keboromo village and part of Dororejo in the good category, while others in the rare/damaged category are in Jepatkidul and part of Dororejo. The condition of mangroves at juvenile level in all locations was good, while at the seedling level, mangrove was good only in Dororejo village, while others were rare/damaged. The physical parameters of the mangrove environment show that it is still in the proper category for the growth and development of mangroves. The average temperature in the range 27.83-29.15 ° C. The degree of acidity (pH) of water in the range of 7.65-7.73, soil pH ranges from 6.47-6.77. The Salinity of water in the range of 34.33-35.53 ppt, and dissolved oxygen in the range of 5.07- 5.42 mg / L. The value of Coastal Vulnerability Index (CVI) along the coast of Tayu sub-district, produces 2 classes, namely high and low classes. High-clas CVI is around the villages of Jepatkidul, Sambiroto, and parts of Dororejo. While the CVI index value in the low category is in the villages of Kalikalong, Dororejo, Jepatlor, Keboromo, Tunggulsari, and parts of Margomulyo. Communit stakeholders' perceptions based on education and work categories on mangrove management in Tayu Subdistrict Pati, in general, are sufficient, both in terms of understanding the existence of mangroves, knowledge of the existence of local regulations, as well as daily behavior in maintaining mangrove conservation. Based on the SWOT analysis (0.095; 0.224) with the condition in quadrant I, the formulation of the mangrove environmental management strategy with the highest value is establishing cooperation with industry / NGOs to manage mangrove areas, by accessing CSR (Corporate Social Responsibility) funds. Keywords: Management Strategy, Mangrove, Tayu District, Pati Regenc

    PERBEDAAN PERILAKU PENGGUNAAN PESTISIDA PADA PETANI YANG TERPAPAR PESTISIDA DI KABUPATEN BIMA

    Get PDF
    Latar Belakang :Pertanian adalah salah satu sektor yang dinilai dapat memiliki berbagai macam risiko kesehatan. Hal tersebut dikarenakan pekerjaan petani masih belum memiliki standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)1.Pada sebuah studi kualitatif terhadap kader Pos UKK diperoleh informasi bahwa, untuk menciptakan perilaku aman dan sehat saat menggunakan pestisida maka petani perlu diberi informasi tentang bahaya pestisida2.Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dalam melakukan upaya kesehatan kerja pada sektor informal yaitu melalui penyelenggaraan Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK).Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan perilaku penggunaan pestisida pada petani yang tergabung dalam Pos UKK dan tidak tergabung dalam Pos UKK di Kabupaten Bima. Metode :Jenis penelitian ini adalah observasional analitic dengan desain cross sectional. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah Simple Random Sampling,. Hasil :Hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan perilaku penggunaan pestisida antara petani yang tergabung dalam Pos UKK (Desa Ngali) dan petani yang tidak tergabung dalam Pos UKK (Desa Monta),pengetahuan (p-value = 0,000),sikap (p-value = 0,000), dan tindakan (p-value = 0,000). Perilaku penggunaan pestisida (pengetahuan,sikap,tindakan) pada petani yang tergabung dalam Pos UKK lebih baik dari pada petani yang tidak tergabung dalam Pos UKK. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan penggunaan pestisida pada petani yang tergabung dalam Pos UKK lebih baik daripada petani yang tidak tergabung dalam Pos UKK, dan ada perbedaan pengetahuan, sikap dan tindakan penggunaan pestisida antara petani yang tergabung dalam Pos UKK dan petani yang tidak tergabung dengan Pos UKK. Kata kunci :Kata kunci: Perilaku penggunaan pestisida, keracunan pestisida, Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK

    65,209

    full texts

    71,404

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Diponegoro University Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇