71404 research outputs found
Sort by
STATUS KERENTANAN NYAMUK Aedes aegypti TERHADAP INSEKTISIDA SIPERMETRINDI PELABUHAN TANJUNG BALAI KARIMUNPROVINSI KEPULAUAN RIAU
Aedes aegypti merupakan vektor utama penyakit demam berdarah. Dalam rangka memutuskan mata rantai penyakit demam berdarah ini dilakukan pengendalian vektor menggunakan insektisida, baik itu oleh pemerintah atau insektisida yang digunakan dalam rumah tangga. Penggunaan insektisida dalam jumlah yang banyak dan waktu yang lama menyebabkan nyamuk akan rentan dan resisten terhadap insektisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kerentanan nyamuk Aedes aegypti terhadap insektisida sipermetrin di Pelabuhan Tanjung Balai Karimun. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif untuk menggambarkan dan mengetahui status kerentanan nyamuk Aedes aegyptiterhadap insektisida sipermetrin yang diujikan dengan metode uji susceptibility (WHO standar) dengan menggunakan impragnated paper yang mengandung 0.05% sipermetrin. Nyamuk dikontakkan selama 1 jam dan diholding selama 24 jam dan dihitung persentase kematiannya. Standar WHO persentase kematian nyamuk ≥ 98% adalah rentan, 90% ˂98% yaitu terduga resisten dan ˂90% adalah resisten. Nyamuk Aedes aegypti dari pelabuhan Tanjung Balai Karimun menunjukkan masih rentan terhadap insektisida sipermetrin 98.75% untuk perimeter area dan 100% untuk buffer area dan hasil uji penegasan dari biokimia masih rentan dengan AV < 0.165 serta pengujian Polymerase Chain Reactionsudah ada proses mekanisme menuju resisten dengan kondisi mutasi resisten homozigot.
Kata Kunci : Aedes aegypti, Pelabuhan Tanjung Balai Karimun, Status
Kerentana
INTEGRASI GENDER DALAM REHABILITASI RUMAH TIDAK LAYAK HUNI PROGRAM BSPS KECAMATAN SEMARANG UTARA
Kebijakan pembangunan perumahan yang diselenggarakan sebagai bagian dari upaya
pengentasan kemiskinan adalah kebijakan rehabilitasi rumah tidak layak huni. Program rehabilitasi
rumah tidak layak huni salah satunya Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) oleh
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Menurut data dari Bidang SNVT Kementerian
PUPR, program ini pertama kali dilaksanakan di Kota Semarang pada tahun 2019 dan Kecamatan
Semarang Utara masuk dalam kecamatan yang pertama kali melaksanakan program tersebut. Program
BSPS dinilai melalui sejauhmana penerapan integrasi gender sebagai upaya pemenuhan hak dan
mengurangi kesenjangan untuk mencapai efektivitas program sebagai upaya pengentasan kemiskinan.
Integrasi gender tersebut dilihat melalui empat aspek utama diantaranya akses, manfaat, kontrol dan
partisipasi. Maka dari itu, tujuan penelitian ini untuk menganalisis sejauhmana integrasi gender dalam
program BSPS di Kecamatan Semarang Utara khususnya pada Kelurahan Tanjungmas, Kelurahan
Kuningan dan Kelurahan Dadapsari mengingat program ini akan diterapkan di kecamatan lain yang
ada di Kota Semarang.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis skoring dan
pembobotan terhadap aspek akses, manfaat, kontrol dan partisipasi. Proses pengumpulan data
dilakukan dengan penyebaran kuesioner oleh peneliti mulai tanggal 24 Februari sampai dengan 5
Maret 2020. Penelitian ini melibatkan 33 responden rumah tangga penerima bantuan dan seorang
Koordinator Fasilitator. Data kuantitatif diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada 33 responden
rumah tangga penerima bantuan dan juga wawancara yang hasilnya berupa data kualitatif bersifat
validasi bagi penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan empat analisis.
Pertama, analisis kondisi sosial dan ekonomi rumah tangga penerima bantuan yang
menunjukkan bahwa karakteristik rumah tangga penerima bantuan seperti tingkat pendidikan dan
pendapatan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan yang dilakukan. Kedua, analisis kondisi
fisik hunian dan bentuk kegiatan menunjukkan adanya pengaruh antara kondisi rumah yang mengalami
kerusakan dengan bentuk perbaikan rumah yang dilakukan oleh rumah tangga penerima bantuan
seperti kerusakan umumnya terjadi pada dinding, lantai, dan atap sehingga bentuk perbaikan
didominasi pada bagian tersebut. Ketiga, analisis peran pemerintah dalam kegiatan menghasilkan
bahwa selain partisipasi masyarakat, peran tenaga fasilitator lapangan juga menjadi penentu
keberhasilan program yaitu dengan adanya pendekatan dalam pengambilan keputusan yang dilakukan
oleh tenaga fasilitator lapangan untuk meningkatkan kapasitas individu penerima bantuan. Terakhir,
analisis integrasi gender dalam program BSPS menunjukkan peran rumah tangga penerima bantuan
melalui empat aspek diantaranya akses, manfaat, kontrol dan partisipasi dalam kegiatan peningkatan
kualitas hunian. Hasil skoring menunjukkan aspek manfaat unggul sebesar 74,74% dengan adanya
relasi yang terjalin antar penerima bantuan di luar lingkungannya, selain itu aspek yang memberikan
pengaruh dominan yaitu kontrol rumah tangga penerima bantuan dalam program sebesar 67,17%
melalui kemampuan rumah tangga tersebut dalam memutuskan bagian rumah yang perlu diperbaiki.
Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan kapasitas dari rumah tangga penerima bantuan
sehingga mendorong perencanaan program pembangunan lain untuk memperhatikan manfaat apa
yang didapatkan oleh masyarakat dan dapat berpengaruh pada peningkatan kualitas hidup. Selain itu,
melalui penerapan integrasi gender ini dapat menjadi upaya untuk mewujudkan pembangunan yang
inklusif dan mempertimbangkan pengarusutamaan gender sebagai langkah guna mencapai tujuan
pembangunan yang berkelanjutan
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU SEKSUAL BERISIKO PENULARAN INFEKSI MENULAR SEKSUAL (STUDI DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS I SEMARANG)
Infeksi menular seksual (IMS) merupakan infeksi agen penyakit menular melalui hubungan seksual dengan manifestasi klinis berupa timbulnya kelainan terutama pada alat kelamin. Narapidana menjadi salah satu populasi yang berisiko karena memiliki insiden IMS tinggi dan seringkali tidak memiliki akses kesehatan yang layak. Akibatnya, narapidana cenderung memiliki IMS yang tidak diobati dan juga berisiko lebih besar untuk menularkan dan tertular IMS di dalam penjara dan setelah bebas. Narapidana di Indonesia diketahui memiliki prevalensi sifilis sebesar 5,1% pada laki-laki dan 8,5% pada perempuan, sedangkan prevalensi HIV sebesar 1,1% pada laki-laki dan 6,0% pada perempuan di tahun 2010. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual berisiko penularan infeksi menular seksual. Penelitian ini adalah studi observasional dengan desain studi potong lintang. Sampel sebanyak 100 narapidana laki-laki di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Semarang yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Rank-spearman. Gambaran karakteristik responden dalam penelitian ini antara lain mayoritas responden berumur kurang dari 40 tahun (70%), tingkat pendidikan responden paling banyak di tingkat SMA (42%), dan sebanyak 48% responden berstatus menikah. Faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual berisiko penularan IMS diantaranya umur (p=0,010), tingkat pendidikan (p=0,013), tingkat stress (p=0,006), dan riwayat perilaku seksual berisiko sebelum di penjara (p=0,018).
Kata kunci : Infeksi menular seksual, narapidana, faktor yang berhubunga
DAMPAK PEMBERIAN INFUSA HERBA TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH DAN KADAR MALONDIALDEHID (MDA) TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR SEBAGAI UPAYA PENGENDALIAN DIABETES MELITUS PADA MANUSIA
Lidah buaya, jahe, dan batang secang memiliki potensi antioksidan sebagai antidiabetes. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan pemberian infus herbal dari kombinasi lidah buaya, kayu sappan, dan jahe terhadap penurunan kadar glukosa darah dan kadar malondialdehyde (MDA) pada tikus galur wistar jantan dengan diabetes mellitus. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik eksperimental. Penelitian ini menggunakan studi pre post test randomized control group designdi mana sampel diambil dengan cara randomisasi. Sampel terdiri dari 40 tikus putih jantan yang diinduksi dengan dosis alloxan 120 mg/kgbb dan juga 5% glukosa. Pengambilan sampel dikelompokkan menjadi 5 kelompok: kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, kelompok yang beri perlakuan infusa herba dosis 1, dosis 2, dan dosis 3. Kadar glukosa darah masing-masing tikus diukur sebelum induksi aloksan dilakukan dan diperlakukan selama 14 hari dimana glukosa darah puasa diambil ketika 7 hari setelah perlakuan dan juga setelah 14 hari perlakuan. Kadar malondialdehid (MDA) serum diukur dengan menggunakan spektrofotometri UV-VIS dengan panjang gelombang 545 nm. Data dianalisis dengan ANOVA satu arah dengan tingkat uji 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar glukosa darah tikus antara kelompok perlakuan berbeda secara signifikan (p = 0,002). Pada kadar MDA terdapat perbedaan antara kadar MDA serum antar kelompok (p=0,031) dengan kadar serum MDA darah terendah terdapat pada kelompok tikus dengan dosis perlakuan 20,25 mg/150 gram berat badan tikus. Hal ini menunjukan bahwa infusa herba memiliki efek antidiabetes dan dapat menurunkan kadar MDA.
Kata kunci : Tikus wistar, Diabetes mellitus, infusa herbal (kombinasi secang, jahe, dan lidah buaya), glukosa darah puasa, malondialdehi
HUBUNGAN DURASI, FREKUENSI, GERAKAN REPETITIF DAN POSTUR PERGELANGAN TANGAN DENGAN CARPAL TUNNEL SYNDROME PADA VIOLINIS CHAMBERSTRING ORKESTRA
Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah kondisi terjadinya kompresi simtomatik pada neuropati tepatnya pada saraf median pergelangan tangan yang ditandai dengan rasa sakit, kesemutan dan mati rasa pada nervus median (ibu jari, jari telunjuk, jari tengah dan sisi radial jari manis). Posisi para pemain biola menuntut pada rotasi leher dan bahu, pengangkatan kedua lengan, dan supinasi maksimum pada lengan kiri yang dapat menyebabkan radang pada otot baik di bahu, lengan maupun pergelangan tangan yang berisiko terhadap kejadian CTS. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara durasi, frekuensi, gerakan repetitif, dan postur pergelangan tangan dengan kejadian Carpal Tunnel Syndrome pada Violinis Chamberstring Orkestra. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan desain studi cross-sectional. Instrumen penelitian ini menggunakan Phalen’s Test dan Tinel’s Sign untuk mengetahui kejadian CTS, kuesioner BCTQ untuk menggambarkan keluhan subjektif, dan RULA untuk mengukur postur pergelangan tangan. Populasi dan sampel pada penelitian ini yaitu 15 orang. Berdasarkan uji Fisher Exact didapatkan bahwa terdapat hubungan antara gerakan repetitif tangan kanan (p value = 0,009) dan tangan kiri (p value = 0,011 ) dengan kejadian CTS. Sedangkan tidak terdapat hubungan antara durasi normal (p value = 0,505), durasi saat WFH (p value = 1,000 ), frekuensi normal (p value = 0,229), frekuensi saat WFH (p value = 0,081 ), postur pergelangan tangan kanan (p value = 0,229) dan postur pergelangan tangan kiri (p value = 1,000) dengan kejadian CTS. Para violinis sebaiknya melakukan peregangan pada pergelangan tangan sebelum dan setelah bermain serta memperbaiki teknik bermain biolanya.
Kata Kunci : Carpal Tunnel Syndrome, Violinis, Gerakan Repetiti
EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM PENAMBAHAN JAM PELAYANAN DI PUSKESMAS PUDAKPAYUNG KOTA SEMARANG
Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan menyediakan akses kesehatan untuk individu dan kelompok. Salah satu inovasi Dinas Kesehatan Kota Semarang dalam memperluas akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan adalah Puskesmas “5G” yang salah satunya Pelayanan Gak Ribet dengan jam pelayanan puskesmas ditambah sehingga puskesmas buka sampai sore (Pukul 07.00-17.00 WIB). Penambahan jam pelayanan puskesmas di Puskesmas Pudakpayung dirasa kurang efektif karena pasien yang berkunjung saat penambahan jam pelayanan tidak mencapai 10 orang dan masih terdapat banyak kendala dalam pengelolaan SDM, pembiayaan, dan sistem operasional puskesmas Tujuan Penelitian ini untuk mengevaluasi pelaksanaan program penambahan jam pelayanan puskesmas di Puskesmas Pudakpayung dengan pendekatan 4 fungsi kesehatan dan 3 tujuan kesehatan yang didukung oleh 6 building blocks. Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan wawancara mendalam. Responden pada penelitian ini adalah Kepala Puskesmas, Manajer Keuangan dan Manajer Pelayanan Puskesmas Pudakpayung, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Semarang dan pasien. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat masalah pada sumber daya yang tidak memadai, dana yang tidak mencukupi, bentuk pelayanan yang diberikan tidak sama, belum adanya SOP khusus yang mengatur penambahan jam pelayanan puskesmas, dan monitoring evaluasi belum dilakukan oleh Puskesmas maupun DKK. Sosialisasi sudah dilakukan, namun jumlah pasien pagi tetap masih banyak dari pada jumlah pasien sore. Hal ini menjadi tantangan untuk Puskesmas supaya dapat menggeser pasien yang berkunjung pagi hari ke sore hari.
Kata kunci : Puskesmas, jam pelayanan, akses kesehata
PROSES TERBENTUKNYA MODAL SOSIAL DALAM PEMBANGUNAN DESA WISATA (Desa Surajaya, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang)
Pembangunan desa wisata pada saat ini telah menjadi tren dalam pengembangan pariwisata di Indonesia dengan menyuguhkan pengalaman kehidupan sehari-hari masyarakat pedesaan serta penggabungan potensi alam, kuliner lokal, penampilan seni dan budaya menjadi simpul yang saling berkaitan dalam menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke desa. Selain itu, modal sosial menjadi aspek penting yang ikut mempengaruhi dan menjadikannya sebagai sumber daya dalam pembangunan desa wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana modal sosial yang terbentuk, serta relasi antar aktor yang berperan ikut mempengaruhi pembangunan desa wisata dengan menggunakan metode penelitian etnografi serta beberapa teknik pengumpulan data seperti observasi partisipasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Lokasi penelitian adalah Desa Surajaya, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang.
Dari hasil penelitian yang didapat menunjukkan bahwa modal sosial yang terbentuk bisa menjadi sumber daya dalam proses pembangunan Desa Wisata Surajaya dengan potensi yang ikut membentuk modal sosial bersumber pada pola consummentory. Terdapat unsur-unsur yang ikut membentuk modal sosial seperti unsur trust (nilai kepercayaan) sebagai pegangan untuk melakukan hubungan sosial serta penguatan masyarakat terhadap pembangunan desa wisata Surajaya, unsur norma sosial sebagai dasar aturan yang disepakati dalam proses interaksi sosial mayarakat dalam pembangunan desa wisata Surajaya, dan unsur jaringan sosial dengan membangun interaksi yang saling menguntungkan dalam pembangunan desa wisata Surajaya. Bonding social capital menjadi pengikat antar aktor yang berperan dalam pembangunan desa wisata Surajaya karena faktor tempat tinggal, kekerabatan (kinship), etnis, agama, dan adat istiadat, yang mengikat individu lainnya.
The development of tourism villages nowadays has become a trend in tourism development in Indonesia by represent the experiences of daily life in rural communities and the incorporation of natural potential, local culinary, art and cultural performances has become an interconnected node in attracting tourists to visit the village. In addition, social capital is also an important aspect that influences and makes it as a resource in the development of tourism villages. This study aims to find out how social capital is formed, as well as the relations between actors who play a role in influencing the development of tourist villages, using ethnographic research methods and some data collection techniques such as participatory observation, interviews, documentation, and literature study. The research location was took place in Surajaya Village, Pemalang District, Pemalang Regency.
Based on the field studies, shows that the social capital that is formed can be a resource in the development process of Surajaya Tourism Village with the potential to help shaping the social capital based on the consummentory pattern. There are elements that formed social capital such as the element of trust (trust value) as a guideline for social relations and community strengthening towards the development of the Surajaya tourism village, the element of social norms as the basic rules agreed upon in the process of social interaction in the development of the Surajaya tourism village, and social networking elements by building mutual beneficial interactions in the construction of the Surajaya tourism village. Bonding social capital also becomes a binder among actors who play a role in the development of the Surajaya tourism village due to factors of residence, kinship, ethnicity, religion, and customs, which bind other individuals
STRATEGI BERTAHAN PEDAGANG ASONGAN PADA PAGUYUBAN KINANTI (Studi Deskriptif di Terminal Colo Desa Colo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi bertahan para pedagang asongan yang berada di Terminal Colo dalam menghadapi persaingan dagang yang cukup tinggi di area Obyek Wisata Colo Kabupaten Kudus. Pedagang asongan di Terminal Colo ini tergabung dalam sebuah wadah yang bernama Paguyuban Pedagang Asongan Kinanti dengan tujuan untuk menjaga keamanan, membangun solidaritas, dan mengkoordinir para pedagang asongan itu sendiri. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan beberepa teknik penelitian, yaitu observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pedagang asongan di Terminal Colo berasal dari masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Muria. Pada penelitian ini juga diketahui mengenai beberapa bentuk barang dagangan yang dijual pedagang asongan, faktor yang mendorong untuk menjadi pedagang asongan, dan peran sebagai pedagang asongan. Dapat disimpulkan bahwa pedagang asongan di Terminal Colo ini memiliki dua macam bentuk strategi yaitu strategi paguyuban dan strategi dari pedagang asongan itu sendiri. Strategi dari paguyuban dilakukan melalui kegiatan seperti pertemuan rutin, selametan, halal bihalal, refreshing, dan kerjasama dengan pihak luar sedangkan strategi dari pedagang dilakukan dengan cara menaati peraturan, menjaga sopan santun, komunikasi yang baik, memaksimalkan jam kerja, sikap pantang menyerah, dan memanfaatkan media sosial.
This research purposes to understand survival strategies of hawkers in the Colo Bus Station in dealing with the fairly high trade competitions in the Colo Tourism Object in Kudus Regency. The hawkers in the Colo Bus Station merged into a container that named Hawkers’ Association of Kinanti with a purpose to maintain securities, to build solidarities, and to coordinate the hawkers themselves. This research is a descriptive qualitative research with several research technique, namely observations, interviews, documentations, and literature studies. This research result reveal that the hawkers in the Colo Bus Station come from people living around Mount Muria. This research also indicates some forms of merchandise sold by the hawkers, factors that encourage to be hawkers, and the roles of hawkers. It can be concluded that the hawkers in the Colo Bus Station have two types of strategies called the association strategy and the strategy of the hawkers themselves. The strategies of the association are carried out through activities such as routine meetings, selametan, halal bihalal, refreshing, and cooperations with outsiders, while the strategies of the traders are carried out by obeying the rules, maintaining good manners, good communications, maximizing working hours, unyielding attitudes, and making use of social media
Pernikahan Beda Agama: Kajian Etnografi Terhadap Pernikahan Beda Agama di Perumahan Sendangmulyo Semarang
Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak kebudayaan, temasuk ras, agama, suku dan bahasa. Ditengah kemajemukan kebudayaan yang modern saat ini peluang serta interaksi masyarakat berkembang dengan cukup signifikan dengan adanya pernikahan beda agama yang cukup banyak di Kota Semarang. Perempuan dan laki-laki sudah tidak dibatasi dengan kebudayaan mana dan keyakinan apa yang mereka yakini, sehingga modernitas kehidupan saat ini membuka peluang besar bagi individu-individu untuk hidup berbaur dan berinteraksi dengan masyarakat lebih luas. Hal tersebut membuat kesempatan individu-individu mengenal satu sama lain untuk saling berinteraksi tanpa melihat perbedaan termasuk dalam keyakinan beragama, skripsi ini membahas tentang pernikahan beda agama dengan menggunakan teori dari Clifford Geertz yang mana pernikahan merupakan sebuah bagian dari simbol dan berkaitan dengan agama maupun kehidupan masyarakat Sendangmulyo, simbol ini menunjukkan bahwa agama yang berbeda dengan latar dan kebudayaan bisa hidup berdampingan bersama-sama yang kemudian membentuk sebuah kebudayaan baru. Meskipun begitu, pernikahan beda agama saat ini di Indonesia masih mengalami pro dan kontra dan menjadi masalah yang cukup krusial ditengah-tengah masyarakat karena adanya sudut pandang penyalahangunaan aturan dihukum agama maupun negara. Skripsi ini membahas lebih lanjut bagaimana pernikahan beda agama dapat hidup berdampingan dengan masyarakat meskipun didalamnya terdapat masyarakat yang plural dengan ditinjau melalui pendekatan etnografi dengan cara mengikuti kehidupan keseharian pasangan beda agama.
Hasilnya pernikahan beda agama menimbulkan dampak yang cukup positif terhadap anak-anak dan keluarga besar keduanya yaitu saling menghargai dan toleran terhadap agama satu sama lain, namun adapula dampak dimana pasangan beda agama ini rentan mengalami konflik karena adanya pemahaman yang berbeda. Namun hingga saat ini meskipun salah satu agama bisa melegalkan perniakahan melalui salah satu agama, nampaknya pernikahan beda agama hingga saat ini masih banyak mengalami hambatan legalisasi. Maka dari itu, banyak upaya yang akan terus diperjuangkan guna untuk melegalkan bentuk dari pernikahan beda agama itu sendiri dari segi negara maupun agama yang dimana menikah dan memiliki keturunan dan hidup bahagia merupakan salah satu bentuk dari hak asasi manusia yang telah diatur dengan jelas oleh Undang-undang dan masing-masing agama.
Indonesia is a country that has many cultures, including race, religion, ethnicity and language. In the midst of the diversity of today modern culture, the opportunities and interactions of the community are developing significantly with the presence of a number of interfaith marriages in Semarang. Men and women is no longer restricted by any cultures and faith they believe in, so that the modernity of life today opens up great opportunities for people to live together and interact with the wider society. It creates opportunity for people to know and interact with each other without see the differences including religious beliefs. This thesis discusses interfaith marriages using Clifford Geertz's theory where marriage is a part of symbols and related to the religion and life of Sendangmulyo society, the symbol shows that religions that are different from the background and culture can coexist together which then forms a new culture. However, today interfaith marriages in Indonesia are still had pros and cons and become a quite crucial problem in society because of the distorted point of view of the rules punished by either religion or the state. This thesis further discusses how interfaith marriages can coexist with the society even though there is a plural society in terms of ethnographic approaches by following the daily life of interfaith couples.
The result is that interfaith marriages have a positive impact on both children and extended families, that is mutual respect and tolerance of each other's religions, but there are other impacts where these interfaith couples are prone to conflict due to the different understandings. Yet until now, even though one religion can legalize marriage through one of the religions, it seems that interfaith marriages are still had many obstacles to legalization. Therefore, many efforts will continue to be fight to legalize the interfaith marriages in terms of the state and religion in which marriage, offspring and a happy life are human rights that clearly regulated by the law and each religion