2000 research outputs found
Sort by
ANALISIS ANCAMAN GERAKAN TANAH DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN PADA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR SHORTCUT
Penerapan regulasi tata ruang dan lingkungan hidup diharapkan untuk mengurangi kerusakan lingkungan dan kualitas tata ruang akibat pembangunan infrastruktur masih belum memenuhi harapan karena alasan ekonomi dan kenyamanan lebih utama daripada dampak kerusakan lingkungan yang akan terjadi. Pemotongan lereng pada pembangunan shortcut menyebabkan lereng menjadi tidak stabil sehingga berpotensi bencana seperti gerakan tanah dan kerusakan drainase alami, serta penyalahgunaan tata ruang yang awalnya kawasan lindung menjadi berpenghuni.
Kajian kerusakan lingkungan dengan pengamatan dan analisis daya dukung lingkungan pada daerah penelitian untuk mendapatkan dampak awal yang akan terjadi. Analisis kestabilan lereng dilakukan untuk menentukan faktor aman pada kondisi existing dan selanjutnya dengan pada saat pemotongan lereng dilakukan. Data bor selanjutnya dianalisis numerik dibantu dengan software Geostudio untuk mendapatkan angka aman, selanjutnya penentuan metode pencegahan yang cocok.
Kerusakan lingkungan nampak secara visual terutama kerusakan vegetasi dan topografi sehingga mempengaruhi kemampuan alami tanah dalam melakukan infiltrasi atau mendrainase air hujan, sehingga mempengaruhi kestabilan lereng. Analisis existing lereng menunjukkan angka aman 1,284, selanjutnya akibat pemotongan lereng angka aman menjadi 0,720. Penggunaan soil nailing menjadi metode pencegahan potensi gerakan tanah dengan jarak spasi vertikal sebesar 1.5m, dan jarak spasi horizontal sebesar 1.5m. dengan mutu baja Fy = 420 MPa, diameter 19mm dan panjang 26m, bearing plate persegi 200mm x 200mm
BALE SAKENEM Seluk-Beluk Arsitektur Tradisional Bali
Melalui buku ini, penulis ingin mencoba melestarikan Ar�sitektur Tradisional Bali. Selain menuliskan buku, penulis juga
telah melakukan beberapa penelitian yang tetap mengacu pada
semangat pelestarian Arsitektur Tradisional Bali. Memperha�tikan fenomena saat ini dengan berbagai alternatif arsitektur
yang modern dan mengglobal, eksistensi Arsitektur Tradisional
Bali seakan tergugar dari hati para arsitek. Oleh karena itu�lah, penulis merasa perlu berbuat sesuatu dan kemudian men�empatkan diri sebagai seorang pelestari Arsitektur Tradisional
Bali
The Effects of Processing Methods on the Quality of Arabica Kintamani Green Beans
The coffee of Arabica Kintamani is one of the most popular coffees in the world due to its specific
taste. The quality of coffee beans depends on the post-harvest and processing method. Dry processing
and wet processing are the most popular methods used and each process produces different quality
coffee beans. The objective of this research was to study and analyze various processing methods of
coffee beans and to determine the best processing method to apply by the farmers and processors.
This research consisted of three processing methods for the coffee namely dried processing (natural);
wet processing; and semi-wet processing (honey). The research used a randomized complete design
with one factor and five replications. The study showed that dry processing (natural) produced good
quality coffee beans compared with wet or semi-wet processing, with significantly higher polyphenols
content of 40.80 ± 0.053 mg GAE g−1
, approximately the same caffeine content (1.19 ± 0.016 %),
significantly higher antioxidant activity (% DPPH) 89.53 ± 0.229 % with an EC50 equal to 102.44 ±
0.130 mg L−1
, similar lightness 13.63 ± 8.281 and a significantly lower moisture content of 7.54 ± 0.474
%. This indicated that dry processing could be used as an alternative processing method by farmers
and processors due to it being easier, cheaper, with more efficient water use as well as giving a product
contained the highest levels of polyphenols and antioxidant activity that are good for human health
ANALISIS DEPTH-AREA-DURATION DENGAN HEC-RAS 2D DALAM PENENTUAN INFRASTRUKTUR PENGENDALIAN BANJIR DI BANJIR SUNGAI PEDOLO.
Kota Bima merupakan salah satu Kota Administratif yang merupakan Kota Pelabuhan cukup ramai yang dilewati 2 (dua) Sungai Utama, yaitu Sungai Padolo dan Sungai Melayu yang merupakan kewenangan Pemerintah Pusat. Sungai Padolo merupakan salah satu sungai besar yang terdapat di Kota Bima yang mengalir ke Utara melalui 21 desa dari 3 kecamatan dan bermuara di Teluk Bima (kota Bima). Pada tahun 2016, terjadi banjir besar yang menggenangi seluruh Kota Bima akibat meluapnya aliran Sungai Pedolo. Penelitian ini menganalisis infrastruktur pengendali banjir yang sesuai dengan melakukan simulasi HEC-RAS 2D. Hasil simulasi HEC-RAS 2D ini digunakan sebagai dasar dalam mensimulasikan efektifitas infrasruktur pengendali banjir yang ditinjau dari besarnya penurunan banjir dari tinggi genangan (depth), luas genangan (area) dan lama genangan (duration). Hasil simulasi DAD ini yang digunakan dalam menentukan keberhasilan rencana pengendalian banjir di Sungai Pedolo. Hasil simulasi HEC-RAS menunjukkan nilai MAB pada lokasi yang tercatat sebesar 16.14m, dan tinggi MAB tercatat adalah 16.87m. Nilai ini menunjukkan hasil simulasi HEC-RAS telah sesuai kondisi lapangan. Selanjutnya hasil simulasi yang telah diverifikasi digunakan untuk mensimulasikan rencana infrastruktur pengendali banjir. Alternatif pembangunan kolam retensi, normalisasi dan pembangunan tanggul menunjukkan terjadinya penurunan tinggi, area dan durasi genangan. Hasil simulasi menunjukkan terjadinya penurunan tinggi genangan dari 2.49m menjadi 0.32m, area genangan dari 11.50km2 menjadi 0.24 km2, dan durasi genangan dari 9.25 jam menjadi 2.50 jam. Hasil simulasi ini menunjukkan bahwa infrastruktur pengendali banjir yang direncanakan mampu menurunkan DAD banjir di Sungai Pedolo
The Assesment of Capital Flow and Technology Transfer in Asparagus Production
The industrial sector has marginalized the agribusiness sector. The tight competition in the industrial sector has led to efforts by businesses to develop the agribusiness sector. The agribusiness sector has a vital role as state revenue and food security of rural households. Asparagus is one of the agribusiness commodities. Management of investment capital flows and technology transfer is an obstacle in improving the quality and quantity of asparagus production. Asparagus as a food crop commodity is sought after by the world community as a counterweight to food needs. This study aims to identify and analyze the development of Asparagus cultivation, investment capital flows, and technology transfer in asparagus production. The analytical method used is the assessment of investment capital flows and comparative studies. The research findings show that asparagus production is influenced by integrated development, capital flows, investment value, and technology transfer. The results of the analysis and assessment of investment capital flows, technology transfer show net B/C 1.01-2.21, IRR 24-35.87%, payback period 3.7-4.0-month, maximum production life of 10 years. The maximum production value of 1 Ha of land is IDR 108,000,000 /year; costs are IDR 68,800,000/year. The research findings show that (1) the ability to supply asparagus and the fulfillment of market needs tend to be unbalanced; (2) asparagus producers have a comparative advantage due to production technology
The Effect of Pindang Frigate Mackarel Vacuum Packaging On Quality and Storage at 5oc and -18oc
Processing of fishery products have an important role in post-harvest activities considering that fishery products are perishable goods. The current vacuum packaging technique is a packaging technique that is currently well-known among the public. The purpose of this study was to determine the effect of pindang frigate mackarel vacuum packaging on the quality and shelf life at temperatures of 5oC and -18oC. This research is a comparative experimental study that compares the quality of vacuum frigate mackarel pindang at storage times of 0, 7, 14, 21, and 28 days at storage temperatures of 5oC and -18oC. Parameters evaluated include chemical, microbiological and organoleptic parameters. The results showed that the quality of vacuum frigate mackarel pindang stored at a temperature of 5oC with 18oC for up to 28 days still had decent quality and was not significantly different. This is because the vacuum packaging and storage temperature of 5oC and -18oC spoilage microbes are not able to grow and develop. There was a slight difference in quality degradation at 5oC and -18oC storage temperatures, especially in the number of bacteria and a slightly brownish appearance at 5oC vacuum frigate mackarel. However, until the end of the 28th day of storage, the vacuum frigate mackarel pindang product at storage temperatures of 5oC and 18oC still met the SNI requirement
Book Chapter_POLITIK HUKUM PARIWISATA BALI DAN DINAMIKA DESA ADAT DALAM MENGELOLA DESA WISATA PERSPEKTIF PERJANJIAN BUILD OPERATE AND TRANSFER (BOT)
Pelaksanaan Pembebanan Benda Bergerak Dengan Jaminan Fidusia Yang Tidak Terdaftar Melalui Klausula Perjanjian Kredit Koperasi
Kreditor pada umumnya secara tegas mensyaratkan kepada pihak Debitor untuk menyerahkan suatu barang (benda) sebagai objek jaminan utang. Jaminan utang yang ditawarkan oleh pihak peminjam umumnya akan dinilai oleh badan usaha tersebut sebelum diterima sebagai objek jaminan atas pinjaman yang diberikannya. Hasil penjualan jaminan kredit akan digunakan untuk melunasi utang pihak peminjam kepada bank sehingga diharapkan akan dapat meminimalkan kerugian bank, juga untuk memenuhi ketentuan yang berlaku di. Agar penjualan jaminan kredit dapat mencapai tujuan yang diinginkan kreditor, perlu dilakukan upaya pengamanan antara lain dengan mengikat objek jaminan kredit secara sempurna melalui ketentuan ketentuan hukum yang mengatur tentang lembaga jaminan, salah satunya dengan pembebanan benda bergerak melalui fidusia karena pada umumnya di masyarakat menengah ke bawah hanya memiliki benda bergerak motor atau mobil yang akan dijadikan sebagai benda jaminan pelunasan utang. Beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang lembaga jaminan menetapkan ketentuan-ketentuan pengikatan jaminan secara sempurna berdasarkan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, salah satunya dengan penerapan asas publisiteit atau asas publisitas yang mengharuskan semua benda yang dijadikan jaminan wajib didaftarkan. Namun dalam kenyataanya banyak praktek pemberian kredit dengan pembebanan benda bergerak sebagai jaminan utang dengan fidusia yang tidak terdaftar melalui klausula-klausula yang terdapat dalam perjanjian kredit koperasi