2000 research outputs found
Sort by
[Peer Review] Antimicrobial Susceptibility Pattern of Pathogens Isolated from Various Specimens in Denpasar-Bali: A Two Years Retrospective Study
Government Policy of Indonesia to Managing Demographic Bonus and Creating Indonesia Gold in 2045
Gold Indonesia in 2045 is a superior condition, developed to compete with other nations in the world in 2045. the aim of this paper are: 1) to determine the potential local economic resources to made Indonesia gold in 2045; 2) to assess the government's strategy to realize Indonesia Gold 2045; and 3) to determine the synergy between government strategies and local economic resources to realize Indonesia Gold 2045. The collection of data and information is done through the study of literature and documentation techniques. The results showed that Indonesia has the potential local economic resources which include natural resources, human resources, artificial resources, and social resources. The government's strategy to achieve Gold Indonesia 2045 is done through the development of infrastructure-manufacturing-services industr
The Complexity Of Relative Clause's Position In Fiction And Non-Fiction
Although relative clauses (RC) has been investigated across dozen of studies, how to identify the position of relative pronoun (RP) in several sources when it is undergoes movement leaving an empty space, still very limited. Thus, this study focuses on describing 4 positions (subject of verb, object of verb, object of preposition and possessive of the verb) of RC found in 4 novels as fiction text and compare it 64 articles as non- fiction text from social science and medical science articles.The corpus comprise 2.050.827 words derived from 4 novels and 2.165.636 words derived from 20 social science articles and 44 medical science. The results show that non-fiction text the most number of RC use in the sentences than in fiction sources (1.545 RC in non-fiction text and 1.519 RC in fiction text), but when we pair up it in the distribution of the position of RC in the sentences, we found that both of the text are almost equal (970/903 for subject of verb’s position, 451/567 for object of verb’s position, 82/59 for object of preposition’s position and 16/16 for possessive of the verb’s position). RP ‘that’ were the most frequent position in non-fiction text (1.067 RC), while RP ‘which’ became the most frequent position in fiction text (820 RC).The high frequency of the use of relative clauses in the sentences both in fiction and non-fiction sources can be related to the needs to refer to theories, concept, data and findings of the study
TEORI-TEORI HUKUM
Di akhir abad ke-20, literatur hukum tampaknya mulai secara luas mendiskusikan “Legal Theory”. Dalam pandangan Legal Theory, ilmu hukum terdiri atas tiga lapisan sebagaimana dikemukakan oleh Jan Gijssels dan Mark van Hocke, “De darde trap van de rechtswetenschap, boven de rechtsdogmatiek en de rechtsteorie, wordt bezetdoor de rechtsfilosofie, voor zover althan men aanvaardt dat filosofie wetenschap is”1 (Pada terap/lapis ketiga ilmu hukum, di atas dogmatika hukum dan teori hukum ditempati filsafat hukum). Ini menunjukkan bahwa, di dalam lapisan Ilmu Hukum, Filsafat Hukum menduduki peringkat “tertinggi”, kemudian diikuti Teori Hukum dan Dogmatika Hukum. Karena Filsafat Hukum merupakan basis atau “ibu” bagi disiplin hukum lainnya
PERANAN BEBAN KERJA DAN LINGKUNGAN KERJA NON FISIK TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA THE MANSION RESORT HOTEL & SPA
Sumber daya manusia dipandang semakin besar peranannya bagi kesuksesan suatu organisasi. Perbaikan kinerja baik untuk individu maupun kelompok menjadi pusat perhatian dalam upaya meningkatkan kinerja organisasi. Kinerja karyawan yang baik dapat dibentuk melalui motivasi, komunikasi, disiplin tetapi salah satu faktor yang harus di perhatikan untuk meningkatkan kinerja karyawan adalah memperhatikan kondisi lingkungan kerja non fisik. Dari uraian latar belakang, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: Bagaimana pengaruh beban kerja terhadap kinerja karyawan di The Mansion Resort Hotel & Spa, Bagaimana pengaruh lingkungan kerja non fisik terhadap kinerja karyawan di The Mansion Resort Hotel & Spa? Bagaimana pengaruh beban kerja dan lingkungan kerja non fisik terhadap kinerja karyawan di The Mansion Resort Hotel & Spa?. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 163 karyawan, teknik pengambilan sampel menggunakan teknik probability sampling teknik probability sampling yaitu proportionate stratified random sampling dengan menggunakan rumus slovin sehingga diperoleh jumlah sampel sebnayak 62 orang. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji asumsi klasik, regresi liner berganda, Uji F dan uji t. Dari hasil analisis data diperoleh hasil sebagai berikut: Beban kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Semakin baik beban kerja yang diciptakan, maka menimbulkan peningkatan pada kinerja karyawan pada The Mansion Resort Hotel & SPA dengan koefisien sebesar 0,463 dan signifikan pada alpha 5 persen (p-value 0,015 ≤ 0,05). Lingkungan kerja non fisik berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Karyawan yang memiliki kercerdasaan spiritual yang positif akan membuat kinerja karyawan di pada The Mansion Resort Hotel & SPA meningkatdengan koefisien sebesar 0,459 dan signifikan pada alpha 5 persen (p-value 0,029 ≤ 0,05). Beban kerja merupakan variabel yang berpengaruh dominan terhadap kinerja karyawan pada The Mansion Resort Hotel & SPA dengan nilai Koefisien regresi β1 (variabel beban kerja) sebesar 0,463 dan Koefisien regresi β2 (variabel lingkungan kerja non fisik) sebesar 0,459 dimana variabel beban kerja memiliki nilai yang lebih besar dari beban kerja dengan dilai koefisien regresi sebesar 0,463. Maka dapat disimpulkan bahwa beban kerja merupakan variabel yang memiliki pengaruh yang lebih dominan terhadap kinerja karyawan pada The Mansion Resort Hotel & SPA
PENGANTAR ILMU PETERNAKAN
Ilmu peternakan adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang bersangkutan dengan usaha manusia untuk beternak atau mengusahakan peternakan dari berbagai jenis hewan untuk memperoleh manfaat dari padanya. Dengan kata beternak yang di sini, digunakan dalam arti yang luas, mengandung maksud memelihara, merawat, mengatur kehidupan, perkawinan, kelahiran, penjagaan kesehatan serta pula penggunaannya dari hewan yang diusahakan. Sedangkan beternak dalam arti sempit (khusus) lebih menitik beratkan pada usaha untuk mengatur perkembang-biakan ternak, yaitu antara lain mengatur perkawinannya, memilih bibit ternak yang digunakan, penjagaan terhadap kemandulan dan terhadap ternak yang sedang bunting. Dari uraian tersebut diatas dapatlah dikatakan, bahwa memelihara hanya dengan memberikan tempat (kandang), makanandan minuman saja belum dapat dikatakan beternak, demikian pula memelihara ternak hanya dengan jalan melepaskan saja di padang pengembalaan
PENGARUH KINERJA TOKO LOKAL DI WILAYAH KOTA DENPASAR YANG DIUKUR DENGAN BUDAYA ORGANISASI DAN KEPUTUSAN PENDANAAN
Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs) are a very important sector as a buffer for the national economy in creating growth and employment. But the obstacles that are often faced by Small and Medium Enterprises including local stores are capital, human resources, competition, networking, technology and marketing. The many problems faced by SMEs result in disruption to improving business performance. Financial performance is influenced by various variables including funding decisions, in this case is the use of capital decisions that must be managed optimally. In addition to Funding Decisions, organizational culture influences decisions taken by management or company owners with the courage to use external funding sources which will ultimately affect Financial Performance. The purpose of this study was to determine the sustainability of the local store business projected with financial performance seen from funding decisions and organizational culture. The object of this research is 139 local stores located in Denpasar city with the criteria of SMEs, business owners from Bali and Hindus, the number of cashiers is no more than 1 unit. Data analysis is performed using partial least square (PLS). It was found that organizational culture had a positive and significant effect on business performance. Funding decisions have a positive and significant effect on business performance. Organizational culture and funding decisions have a positive and significant effect
KEBERLANGSUNGAN TOKO TRADISIONAL DI KOTA DENPASAR DILIAT DARI ORIENTASI PASAR DAN KEPUTUSAN PENDANAAN
In some parts of the world, the common problems faced by Small and Medium Enterprises (SMEs), including traditional stores, are lack of financial capital, lack of human resources, weak business networks and market penetration capabilities, unfavorable business atmosphere, lack of business media and infrastructure. Various problems faced by SMEs resulted in disruption to the increase in business continuity, the days of the decline in the number of traditional shops in the city of Denpasar. business continuity is measured by financial performance. Financial performance is influenced by various variables including funding decisions, in this case is the use of capital decisions that must be managed optimally. In addition to Funding Decisions, market orientation is a process and activity related to customer creation and satisfaction by continuously assessing the needs and desires of customers. Companies that want to be able to live and continue to grow always need capital to be able to finance the company's operations. The purpose of this study was to determine the sustainability of traditional shop business that is proxied by financial performance seen from funding decisions and market orientation. The object of this study is 139 traditional shops in Denpasar with the criteria classified as Small and Medium Enterprises, business owners from Bali and Hindus, the number of cashiers is no more than 1 unit. Data analysis is performed using partial least square (PLS). It was found that market orientation had a positive and not significant effect on business continuity. Funding decisions have a positive and significant effect on business continuity. Market orientation and funding decisions have a positive and significant effect
PETUNJUK PRAKTIKUM FISIOLOGI TERNAK
Petunjuk praktikum Fisiologi Ternak ini dibuat dengan harapan dapat membantu kelancaran pelaksanaan praktikum Fisiologi Ternak. Mahasiswa yang melaksanakan praktikum diharapkan akan lebih mudah dalam menguasai materi dan metode yang akan dilaksanakan
Pura Kahyangan Jagat Er Jeruk Desa Adat/Pakraman Sukawati, Gianyar
Pulau seribu pura merupakan salah satu sebutan yang diberikan oleh para wisatawan asing untuk pulau Bali. Ungkapan tersebut tidak berlebihan, karena ribuan pura menghiasi hampir di setiap jengkal tanah Bali. Dari areal palemahan keluarga (pura keluarga), areal palemahan dusun/ banjar (kahyangan dusun/ banjar), palemahan desa (kahyangan tiga), hingga pelemahan Bali (kahyangan jagat, dang kahyangan, sad kahyangan dan lain-lain). Kemudian diperkuat sumber yang diperoleh dari hasil update terakhir tanggal 06 Juli 2018 oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, khususnya ibadat bagi umat Hindu. Tercatat banyaknya pura di Bali, yaitu: sat kahyangan 13 buah; dang kahyangan 287 buah; kahyangan tiga 4.603 (BPS Provinsi Bali, 2017). Sedangkan jumlah paibon, panti dan dadya 17.883 buah (Dinas Kebudayaan Propinsi Daerah Tk I Bali, 1996/1997: 141) Sebutan lain yang berkaitan erat dengan pulau seribu pura adalah Bali pulau yadnya (kurban) dan Bali pulau dewata. Bila dianalogikan ketiga aspek tersebut (pura, yadnya, dan dewata), tidak ubahnya bagaikan senjata api; peluru; dan target (sasaran) yang hendak dicapai. Pura bagaikan senjata api; yadnya, bagaikan peluru; dan dewata adalah Beliau yang selalu dirindukan, diburu, dan dipuja oleh umat. Pemahaman terhadap ketiga aspek tersebut sangat penting untuk ditumbuhkan di dalam hati umat Hindu. Artinya, bagaimana membuat umat Hindu paham bahwa pura bukan
I
2
hanya bangunan pisik yang bisu, tetapi merupakan wujud nyata dari manifestasi Tuhan. Dengan menjadikan pura sebagai media berkomunikasi dengan-Nya disertai yadnya (kurban) sebagai sarana (piranti) untuk menuju Beliau, niscaya kedamaian dalam dunia ini dapat diwujudkan. Tentu sebagai landasan untuk mencapainya, dibutuhkan rasa tulus-ikhlas dan konsentrasi dalam beryadnya, agar tidak sia-sia berbagai pengorbanan yang telah dilakukan. Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk yang sulit untuk dibendung dan dapat berpengaruh terhadap adanya pengembangan tempat pemukiman baru dan jumlah bangunan pura pun diyakini akan bertambah. Namun penambahan jumlah pura tidak akan berpengaruh terhadap karakter dan fungsi yang diemban. Pura sebagai tempat suci pemujaan umat Hindu, bila dilihat dari aspek karakternya, dapat dibagi menjadi empat kelompok besar, yaitu: (1) Pura Umum, (2) Pura Teritorial, (3) Pura Fungsional atau Swagina, dan Pura Geneologis (I Gusti Gde Ardana, 1985/1986). Dengan adanya pengelompokkan terhadap pura tersebut, dapat mempermudah dalam mengetahui status dan fungsinya, termasuk pula pangemong (pengampu) dan panyungsung (pemuja)