2000 research outputs found
Sort by
Demokrasi Prosedural dan Semangat Kerakyatan Literasi Politik Era Reformasi
Ada adagium dalam Ilmu Sejarah yang menyatakan bahwa sejarah adalah politik di masa lalu, dan politik adalah sejarah yang sedang berlangsung. Bagi saya, pernyataan ini menemukan maknanya ketika membaca kembali percikan pemikiran yang dimuat beberapa media massa cetak. Pemikiran itu terekam dalam serial tulisan rubrik Orasi yang terbit setiap Jum’at di Harian Bali Post, sejumlah wawancara, berita, makalah dan juga esai lepas yang dimuat di beberapa media cetak. Setiap tulisan dalam antologi ini mesti dibaca dalam konteks masa, peristiwa, bahkan episode dalam proses sejarah yang sedang berlangsung saat itu. Hampir setiap tulisan dan materi wawancara dalam buku ini merupakan catatan, komentar, cetusan gagasan, bahkan sebagian bersifat forecast, prediksi atas bagian sebuah proses politik yang belum selesai. Karenanya kumpulan tulisan ini memiliki keunikan tersendiri. Ia dapat dibaca sebagai catatan kaki dari sejarah kontemporer republik ini, sebagai wakil dari suara cendekiawan politik yang jauh dari episentrum namun disemangati usaha mengedepankan kejernihan dalam meninjau berbagai peristiwa politik, termasuk di dalamnya isu-isu strategis di pentas nasional dan internasional. Pemikiran-pemikiran itu sebagian disampaikan lugas dalam bahasa yang mudah dipahami pembaca, dan untuk sebagian memperkenalkan konsep, pendekatan dan idiomidiom yang --bisa jadi-- baru bagi masyarakat awam. Untuk sebagian barangkali akan terasa sebagai representasi euphoria keterbukaan, mewakili pemahaman dan harapan rakyat, juga jembatan yang menghubungkan konstruksi nilai, norma dan prosedur demokrasi yang sedang dilembagakan vis a vis (saling berhadapan dengan-) pemahaman awam dan ekspresi semangat kerakyatan. Esai-esai dalam antologi ini terbangun sebagai dokumentasi literer pembelajaran politik melalui respon atas isu-isu politik aktual. Representasi era yang berubah cepat serupa itulah yang melatarbelakangi judul “Demokrasi Prosedural dan Semangat Kerakyatan: Literasi Politik Era Reformasi” ini. Banyak terjadi perubahan dalam dua dasawarsa setelah Reformasi bergulir di Indonesia. Semangat perubahan yang bergelora di awal Reformasi menemukan berbagai bentuk implementasi dalam dinamika sosial-politik, terutama dalam tataran peraturan perundang-undangan berhadapan dengan tataran praksis. Agenda pembaruan norma-norma yang mengatur jalannya suprastruktur politik dan infrastruktur politik terlaksana dalam wacana terbuka, tarik-menarik kepentingan yang massif dan dalam percepatan tinggi. Percaturan wacana di tataran akademik dan media massa menggambarkan bahwa meski tertatih, peranan intelektual berusaha didorong sekuat tenaga mengimbangi pertarungan kepentingan dalam perumusan tatanan baru kehidupan kenegaraan; Melampaui wacana, terjadi juga eskalasi riak-riak yang berkembang menjadi gelombang di daerah yang jauh dari pusat kekuasaan. Peristiwa politik lokal tidak jarang menjadi muara dari agenda elit politik dalam bentuk-bentuk konfigurasi peristiwa politik lokal yang ekstrem. Dalam ungkapan sinikal, gejala ini kerap digambarkan: “Elit partai yang minum tuak di Jakarta, massa partai mabuk di Bali”
KONDISI GEOLOGI DAN INFILTRASI TERHADAP ANCAMAN GERAKAN TANAH PADA BATUAN VULKANIK DI KALDERA GUNUNG BATUR
Pengaruh intensitas curah hujan dan durasi hujan menyebabkan parameter kuat geser tanah menurun serta terbentuknya bidang gelincir pada lapisan dasar yang berupa batuan vulkanik. Terkait kondisi tersebut dilakukan penelitian pengaruh kondisi geologi dan infiltrasi terhadap ancaman bencana tanah longsor dengan lokasi penelitian di sekitar kaldera Gunung Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Kawasan ini sering terjadi bencana tanah longsor terutama pada musim hujan karena di kelilingi oleh perbukitan dengan vegetasi rendah.
Penyelidikan potensi longsor diawali dengan pengambilan sampel di dua titik borhole pada lereng yang memberikan ancaman terbesar terhadap permukiman dan fasilitas umum. Analisis dengan interpretasi terhadap singkapan lereng dan analisis numerik dengan GeoStudio 2012 yang didalam terdapat SEEP/W untuk analisis infiltrasi air hujan selanjutnya dikaitkan dengan SLOPE/W, intensitas curah hujan 125 mm/hari dan durasi hujan 5 jam berdasarkan hasil kajian BMKG Bali pada tanggal 9 Februari 2017.
Batuan vulkanik berupa breksi vulkanik yang ditutupi pelapukan batuan yang telah menjadi lempung atau lanau berada pada ketinggian 500-2000 mdpl, kemiringan lereng 20%-40% memiliki risiko ancaman tinggi. Volume batuan vulkanik di atas 60% akibat adanya infiltrasi air hujan menimbulkan bidang gelincir. Pengaruh curah hujan terhadap infiltrasi faktor keamanannya <1 sudah terjadi pada hujan jam ke 2. Penurunan angka keamanan kritis terjadi antara 0,96 sampai 0,62. Penurunan angka keamanan cukup drastis terjadi pada hujan ke 4 menuju hujan jam ke 5. Kondisi ini akibat dari volume hujan konstan dan tinggi menyebabkan rembesan tinggi ke tanah yang menyebabkan tekanan air pori naik, tanah menjadi jenuh sehingga sudut gesek internal tanah menurun
Biochar Bamboo Application on Growth and Yield of Red Amaranth (Amaranthus tricolor L)
This study aims to obtain a proper dose of biochar for the growth and yield of red amaranth plants. This study used a complete randomized design of one factor with 4 replications. The tested treatment was bamboo biochar with 4 dose levels (0, 3, 6, 9, and 12 t ha-1). The results showed that biochar treatment gave significant effect to fresh weight of economic yield and oven dry weight of economic yield, but not significant to a variable of plant height and number of the leaf. Biochar as a soil enhancer has been able to improve soil physical properties, increase microbial activity, and improve soil fertility. With soil fertility improvements, it will enhance the ability of plants to absorb nutrients and water in the soil, and encourage the vegetative growth of plants and sunlight interception by leaves to produce photosynthesis. The highest fresh weight of amaranth yields was obtained at biochar 9 t ha-1 of 14.53 g which increased by 34.41% when compared with the fresh weight value of the lowest economic yield on biochar without 10.81 g
[Peer Review] Tumour necrosis factor-alpha level among travellers contracted with dengue virus in Bali
Dengue infection in international travellers visiting Bali, Indonesia
Background: Dengue, an acute febrile illness caused by infection with dengue virus (DENV), is endemic in Bali, Indonesia. As one of the world’s most popular tourist destinations, Bali is regularly visited by domestic and international travellers, who are prone to infection by endemic pathogens, including DENV. Currently, limited data are available on the characteristics of dengue in travellers visiting Bali. Information on the epidemiology and virological aspects of dengue in these tourists is important to gain a better understanding of the dengue disease in international travellers. Methods: We performed a prospective cross-sectional dengue study involving foreign travellers visiting Bali, Indonesia in the period of 2015–17. Patients presenting at Kasih Ibu Hospital with fever and clinical symptoms of dengue were asked to participate in the study. Clinical and laboratory assessments were performed and sera were collected for molecular analysis, which included DENV serotyping, genome sequencing and phylogenetic analysis. Results: Among the 201 patients recruited, dengue was confirmed in 133 (66.2%) of them, based on detection of NS1 antigen and/or viral RNA. Of these, 115 (86.5%) manifested dengue fever (DF) and 18 (13.5%) dengue haemorrhagic fever (DHF). The temporal predominance of infecting DENV serotype was DENV-2 (48.7%), followed by DENV-3 (36.1%), DENV-1 (9.2%) and DENV-4 (3.4%). Phylogenetic analysis of DENV based on envelope gene sequences revealed that the source of DENVs was local endemic viruses. Conclusion: Our study confirms that dengue is one of the causes of fever in travellers visiting Bali. Although it is a cause of significant morbidity, the majority of patients only experienced mild DF, with only a small proportion developing DHF. We revealed that DENVs isolated were autochthonous. Accurate diagnosis, preventive measures and continuous disease surveillance will be useful for better management of dengue infection in travellers