1360 research outputs found
Sort by
Hubungan antara obesitas dan tingkat kepercayaan diri pada remaja usia 17-25 tahun
LATAR BELAKANG Obesitas adalah suatu keadaan dimana terjadi
penumpukan lemak tubuh yang berlebih, sehingga berat badan seseorang jauh di
atas normal yang didasarkan pada nilai Indeks massa tubuh (IMT) dan dapat
membahayakan kesehatan. Pada kelompok remaja, obesitas akan berpengaruh
pula pada perkembangan psikososial termasuk kepercayaan diri. Apabila
seseorang tidak memiliki rasa percaya pada dirinya sendiri maka akan timbul
masalah karena kepercayaan diri merupakan aspek kepribadian dari seseorang
yang berfungsi mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara obesitas dan tingkat
kepercayaan diri pada remaja yang berusia 17-25 tahun.
METODE Penelitian menggunakan pendekatan analitik observasional dengan
desain potong lintang yang mengikutsertakan 35 responden di Fakultas Hukum
Universitas Trisakti di Jakarta Barat. Penelitian ini meliputi pengambilan data
obesitas dan tingkat kepercayaan diri dari kuesioner. Analisis data menggunakan
uji Spearman dalam Statistical Package for the Social Sciences dengan tingkat
kemaknaan <0,05.
HASIL Berdasarkan hasil analisis univariat terpadat yang lebih sering mengalami
obesitas yaitu pada usia 20 tahun (28,6%) dan lebih banyak terdapat pada laki-laki
(65,7%). Tingkat obesitas yang lebih banyak didapat yaitu obesitas I (71,4%)
dibandingkan dengan obesitas II (28,5%), serta dengan tingkat kepercayaan diri
yang rendah (0%), tingkat kepercayaan diri yang sedang (40%) dan tingkat
kepercayaan diri yang tinggi (60%). Berdasarkan hasil analisis bivariat dengan uji
Spearman, menunjukan tidak terdapat hubungan antara tingkat obesitas dan
tingkat kepercayaan diri pada taraf nyata 5% (p= 0,134)
KESIMPULAN Penelitian ini tidak menunjukan adanya hubungan antara
obesitas dan tingkat kepercayaan diri pada remaja usia 17-25 tahun
Hubungan antara tingkat stres dan faktor sosiodemografi terhadap fungsi memori pada usia 35-59 tahun
Pendahuluan: Mampu untuk mengingat segala sesuatu hal merupakan salah satu
aktivitas terpenting setiap manusia. Ingatan yang baik dapat berpengaruh terhadap
kualitas kerja, kewaspadaan, konsentrasi, dan seterusnya. Di RS Universitas
Freiburg Jerman, prevalensi terjadinya gangguan yang menyebabkan kualitas
fungsi memori berkurang adalah 39%. Kualitas fungsi memori yang buruk terkait
dengan berbagai faktor seperti stres, kecemasan, dan depresi yang dapat
mempengaruhi kualitas fungsi memori seseorang. Tujuan dari penelitian ini untuk
mengetahui adanya hubungan antara tingkat stres dengan kualitas fungsi memori
pada usia 35-59 tahun. Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik observasional
dengan desain penelitian yang digunakan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan
pada bulan September hingga November 2016 di Kampung Sarimulya Tangerang
Selatan. Sebanyak 102 data warga berhasil dikumpulkan secara simple random
sampling. Data yang dikumpulkan menggunakan kuesioner Perceived Stress Scale
10 (PSS-10) dan instrumen Rey Auditory Verbal Learning Test (RAVLT). Analisis
statistik yang digunakan adalah uji Chi-square dengan batas kemaknaan p<0,05.
Hasil: Berdasarkan karakteristik 102 responden penelitian, sebanyak 27,4% subyek
kelompok usia 35–42 tahun memiliki kualitas fungsi memori yang buruk. Pada
kelompok usia 43–59 tahun sebanyak 49,0% subyek memiliki kualitas fungsi
memori yang buruk. Pada kelompok tingkat stres didapatkan sebanyak 26,2%
subyek mengalami stres dengan kualitas fungsi memori yang buruk. Kesimpulan:
Terdapat hubungan antara tingkat stres dengan kualitas fungsi memori pada usia
35-59 tahun. (p = 0,036)
Hubungan lama menonton televisi dan penggunaan gadget dengan overweight anak Sekolah Dasar
LATAR BELAKANG
Prevalensi overweight dan obesitas di Indonesia terus meningkat, dimana DKI
Jakarta merupakan kota dengan angka yang paling tinggi. Dibandingkan
kelompok usia lain, prevalensi overweight pada anak usia 5-12 tahun menempati
urutan tertinggi. Seiring dengan perkembangan teknologi, terjadi pula perubahan
pola hidup masyarakat menjadi kurang gerak termasuk menonton televisi dan
penggunaan gadget berlebihan. Perilaku tersebut merupakan faktor yang dapat
menyebabkan terjadinya overweight dan obesitas pada anak.
METODE
Desain studi penelitian secara observasional analitik dengan pendekatan potong
lintang yang diikuti oleh 99 anak sekolah dasar di SDS Sumbangsih Grogol,
Jakarta Barat selama bulan Agustus hingga November 2016. Data diambil dengan
melakukan wawancara yang meliputi karakteristik subjek, pengisian kuesioner
Children’s Leisure Activities Study Survey untuk data lama menonton televisi dan
penggunaan gadget serta pengukuran data antropometri. Analisis data
menggunakan uji Chi-Square pada software SPSS for Windows version 21 dengan
dengan tingkat kemaknaan p<0,05.
HASIL
Sebanyak 53 subjek memiliki berat badan normal (53,5%) dan 46 subjek
overweight (46,5%). Rata-rata lama menonton televisi dan penggunaan gadget
adalah 3,6 jam. Hasil uji statistik menunjukan tidak terdapat hubungan yang
bermakna antara karakteristik subjek jenis kelamin (p=0,149), usia (p=0,804)
dengan overweight. Terdapat hubungan yang bermakna antara lama menonton
televisi dan penggunaan gadget dengan overweight pada anak sekolah dasar
dengan P = 0,011 (p<0,05).
KESIMPULAN
Terdapat hubungan antara lama menonton televisi dan penggunaan gadget dengan
overweight pada anak sekolah dasar
Hubungan antara tingkat stres dengan kinerja pada guru Sekolah Dasar
LATAR BELAKANG
Stres adalah suatu kondisi yang tidak mengenakkan bagi diri individu, karena itu
keadaan yang disebabkan oleh adanya tuntutan dari pekerjaan yang melebihi
kemampuan individu akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas kinerja individu
tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara
tingkat stres dengan kinerja pada guru sekolah dasar.
METODE
Penelitian ini menggunakan studi analitik observasional dengan desain potong
lintang pada guru Sekolah Dasar di Kecamatan Sumber Harta Kabupaten Musi
Rawas Provinsi Sumatera Selatan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi
penelitian. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner meliputi karakteristik
responden, tingkat stres, dan kualitas kinerja responden. Analisis menggunakan
SPSS versi 23.0 dan tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya 0,05.
HASIL
Analisis Uji Chi-Square antara tingkat stres dengan kinerja pada guru sekolah
dasar didapatkan p<0,05 yang artinya terdapat hubungan yang bermakna antara
tingkat stres dengan kinerja pada guru sekolah dasar. Jadi semakin tinggi tingkat
stres dapat menyebabkan semakin rendah kinerja guru sekolah dasar.
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara
tingkat stres dengan kinerja pada guru sekolah dasar
Hubungan sesak napas dan kualitas hidup dengan arus puncak ekspirasi pada penyakit paru obstruktif kronik
Peran fungsi kognitif dan aktivitas keseharian terhadap kualitas hidup lansia
LATAR BELAKANG
Ketergantungan merupakan masalah yang sering ditemukan pada lansia dan
berpengaruh terhadap penurunan kualitas hidup lansia. Penurunan fungsi kognitif
merupakan salah satu penyebab terjadinya ketergantungan pada lansia. Fungsi
kognitif dan aktivitas keseharian berhubungan dengan kualitas hidup lansia.
METODE
Desain penelitian yang dipilih adalah observasional analitik dengan pendekatan
studi potong silang yang diikuti 124 lansia pada tiga Pusaka Jakarta Pusat.
Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan pemeriksaan fisik. Kualitas
hidup dinilai dengan kuesioner SF-12. Fungsi kognitif dinilai menggunakan
Montreal Cognitive Asessment versi Indonesia (MoCa-Ina). Aktivitas keseharian
dinilai dengan kuesioner Physical Activity Scale for Elderly (PASE). Analisis data
menggunakan program SPSS versi 23 for Macintosh dengan tingkat kemaknaan
p<0,05.
HASIL
Hasil studi menemukan 43,5% lansia memiliki kualits hidup yang kurang.
Sebagian besar lansia kurang melakukan aktivitas (59,5%). Terdapat 83,8% lansia
yang mengalami penurunan fungsi kognitif. Sebagian (34,%) lansia yang
memiliki penurunan kualitas hidup, kurang terlibat dalam aktivitas keseharian
dibandingkan dengan lansia yang aktif (66%). Sebanyak 44,2% lansia dengan
penurunan fungsi kognitif memiliki kualitas hidup yang kurang dibandingkan
dengan lansia dengan fungsi kognitif normal (40%). Tidak ditemukan adanya
hubungan bermakna antara fungsi kognitif dan aktivitas keseharian dengan
kualitas hidup lansia (p>0,05).
KESIMPULAN
Aktivitas dalam kehidupan sehari-hari dapat mencegah terjadinya penurunan
fungsi kognitif pada lansia. Seiring dengan peningkatan aktivitas yang dilakukan
lansia, fungsi kognitif dari lansia tersebut juga akan meningkat, dan kedua faktor
ini berperan dalam mencegah terjadinya penurunan kualitas hidup lansia
Hubungan pengetahuan toilet training dan enuresis pada anak usia 2-5 tahun
LATAR BELAKANG
Enuresis adalah keluarnya urin yang disengaja atau tidak disengaja. Menurut
kriteria DSM-IV anak didiagnosis dengan enuresis fungsional yaitu anak berusia
dibawah 5 tahun dengan sekurang-kurangnya mengompol 2 kali dalam 1 minggu
pada 3 bulan terakhir tanpa kondisi fisiologis dari suatu zat atau kondisi kesehatan
medis umum. Prevalensi enuresis di Bali menurut penelitian I Gusti Ayu tahun
2008 sebesar 10,9%. Dengan banyaknya jumlah anak usia yang masih mengalami
kesulitan untuk buang air kecil dan angka prevalensi enuresis yang cukup tinggi,
maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan toilet
training dan enuresis pada anak usia 2-5 tahun.
METODE
Penelitian ini dilaksanakan pada 7 PAUD di tiap-tiap Kelurahan di Kecamatan
Palmerah, Jakarta Barat. Dimulai pada bulan Juni 2016 sampai Januari 2017.
Dengan desain observasional analitik dan pendekatan cross sectional.
Pengumpulan sampel dilakukan secara random sampling tipe cluster, pada 171
responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner.
Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square, dengan batas kemaknaan adalah
p<0,05.
HASIL
Penelitian ini menunjukkan sebagian besar orang tua memiliki pengetahuan toilet
training baik 114 (66,7%) dan lebih sedikit anak yang mengompol sebanyak 68
(39,8%). Hasil uji Chi-Square menyatakan tidak ada hubungan pengetahuan toilet
training dan enuresis (p= 0,269). Namun terdapat hubungan perilaku toilet
training dan enuresis (p= 0,013).
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan pengetahuan toilet training
dan enuresis pada anak usia 2-5 tahun. Dan terdapat hubungan perilaku toilet
training dan enuresis
Hubungan pemberian ASI eksklusif dengan penurunan berat badan pada ibu menyusui
LATAR BELAKANG
Prevalensi pemberian ASI eksklusif di provinsi Jawa Barat masih tergolong rendah. Padahal, pemberian ASI eksklusif memiliki banyak manfaat bagi anak maupun ibu. Salah satu manfaat pemberian ASI eksklusif bagi ibu adalah membantu penurunan berat badan setelah melahirkan. Beberapa penelitian menyatakan adanya hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan penurunan berat badan pada ibu menyusui. Namun, penelitian lain juga mengatakan tidak adanya hubungan yang signifikan antara pemberian ASI eksklusif dengan penurunan berat badan pada ibu menyusui. Berdasarkan perbedaan hasil penelitian tersebut, peneliti tertarik untuk mengkaji hubungan pemberian ASI eksklusif dengan penurunan berat badan pada ibu menyusui.
METODE
Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan studi kohort prospektif yang diikuti oleh 112 ibu menyusui di Posyandu Mawar, Kabupaten Bekasi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner pemberian ASI eksklusif, sedangkan pengukuran berat badan menggunakan timbangan injak digital. Analisis data menggunakan uji t-independent dengan tingkat kemaknaan p<0,05, program SPSS for Windows versi 20.0.
HASIL
Dari hasil penelitian dengan 112 responden, analisis t-independent menunjukkan adanya hubungan pemberian ASI eksklusif dengan penurunan berat badan pada ibu menyusui (p=0,000). Responden yang menyusui eksklusif mengalami rata-rata penurunan berat badan 0,48903841 kg, sedangkan responden yang menyusui tidak eksklusif mengalami rata-rata penurunan berat badan 0,1800,3988 kg.
KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa responden yang menyusui eksklusif mengalami rata-rata penurunan berat badan lebih besar daripada responden yang menyusui tidak eksklusif
Hubungan kepadatan penghuni kamar terhadap kejadian pedikulosis kapitis pada siswi di Pesantren X
LATAR BELAKANG Pedikulosis merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia pada anak.Faktor risiko yang mempengaruhi penyebaran pedikulosis kapitis antara lain faktor kepadatan hunian, kebersihan diri, tingkat pengetahuan, umur, jenis kelamin, status ekonomi sosial dan karakteristik rambut.Di Indonesia publikasi mengenai pedikulosis kapitis masih kurang mendapat perhatian, termasuk pencegahannya. METODE Penelitian megggunakan desain cross sectional dengan teknik simple random sampling yang mengikutsertakan 76 siswi di Pondok pesantren X. Data dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan SPSS for Windows versi 20.0 dengn tingkat kemaknaan 0.05 HASIL Enam puluh sembilan (90,8%) dari 76responden penelitian menderita pedikulosis kapitis dan 7 (9,2%) tidak menderita pedikulosis kapitis. Pedikulosis kapitis lebih banyak dialamai oleh siswi yang tinggal dengan jumlah orang dalam satu kamar >6, adanya teman dalam satu tempat tidur, kebersihan diri yang buruk dan siswi yang tinggal di kamar dengan luas >8m2.Terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah orang dalam satu kamar (p=0,000), terdapatnya teman satu tempat tidur (p=0,001) dan kebersihan diridengan pedikulosis kapitis (p=0,000). Namun tidak terdapat hubungan yang bermakna antara luas kamar dengan pedikulosis kapitis (p= 0,426). KESIMPULAN Variable jumlah orang dalam satu kamar, adanya teman satu tempat tidur dan kebersihan dirimemiliki hubungan yang bermakna dengan pedikulosis kapitis. Namun variabel luas kamar tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan pedikulosis kapitis
Hubungan akomodasi insufisiensi dan astenopia pada remaja pertengahan
LATAR BELAKANG
Astenopia adalah gangguan pada indera penglihatan berupa ketidaknyamanan seperti gangguan membaca, sensitif terhadap cahaya, penglihatan kabur, diplopia dan distorsi persepsi. Salah satu etiologi astenopia adalah akomodasi insufisiensi. Penderita akomodasi insufisiensi tidak dapat mempertahankan akomodasi saat melihat dekat seperti membaca dan menulis. Hal ini akan mempengaruhi perkembangan akademisnya. Sehingga pada penelitian ini ingin diketahui hubungan akomodasi insufisiensi dan astenopia.
METODE
Penelitian merupakan studi cross sectional dengan desain analitik observasional. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dilakukan pada 141 sampel yang didapatkan menggunakan consecutive sampling di SMAN 23 Jakarta Barat pada bulan Mei-Juni 2017. Pengukuran amplitudo akomodasi menggunakan Royal Air Force accommodation vergence measurement binocular Gauge. Analisis data menggunakan uji Fisher dengan tingkat kemaknaan p<0,05.
HASIL
Prevalensi astenopia pada usia 15-17 tahun sebesar 83,7% dengan sebagian besar etiologi yang belum diketahui dan 44,9% memiliki faktor risiko aktifitas melihat dekat. Prevalensi akomodasi insufisiensi sebesar 14,2%. Pada usia tersebut ditemukan 54,2% dengan amplitudo akomodasi 20D. Pada analisis dengan menggunakan uji Fisher menunjukkan tidak terdapat hubungan antara akomodasi insufisiensi dan astenopia (p=0,197).
KESIMPULAN
Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara akomodasi insufisiensi dan astenopia pada remaja pertengahan