1360 research outputs found
Sort by
Intelektual dan Kreativitas Desainer sebagai Peluang Meningkatkan Industri Kreatif
ABSTRACT
The era of Industry 4.0 and the rise of Society 5.0 concept has made a difference of the way of life and human’s work process. Human has an important role in information technology and industrial development nowadays. The creative industry is the motor of creative economy in Indonesia. Indonesia has a massive opportunity to enhance creative industry, because of the big number of creative human capital, the richness of natural resources, and the uniqueness and variety of cultural heritage. One of the subsector in creative indutry is design. Design is the first step of most of creative industry’s subsector in Indonesia. Design higher education can hopefully produce designers who can give solution of existing problems and human needs. Therefore, the designer’s intellectuality and creativity are highly needed. Through the Design Thinking method, this paper will elaborate cases from designers who are able to develop their intellectuality from design higher education and has succeeded of developing product and fashion design. Designers are ought to have sensitivity to social issues and creating solution by developing design which related to the needs of society
ABSTRAK
Era Industry 4.0 dan munculnya konsep Society 5.0 menyebabkan perubahan cara hidup dan proses kerja manusia. Manusia memiliki peran penting dalam arus lajunya perkembangan teknologi informasi dan industri saat ini. Industri kreatif merupakan penggerak laju ekonomi kreatif di Indonesia. Indonesia memi-liki peluang besar dalam mengembangkan industri kreatif, karena memiliki sumber daya manusia kreatif dalam jumlah besar, kaya dengan sumber daya alam yang berlimpah, dan sumber warisan budaya yang unik dan beragam. Salah satu subsektor di dalam industri kreatif adalah desain. Desain merupakan lang-kah awal dari sebagian besar subsektor industri kreatif di Indonesia. Pendidikan tinggi desain, diharapkan dapat menghasilkan desainer yang dapat memberikan solusi dalam permasalahan yang ada dan tentunya dapat memenuhi kebutuhan manusia. Untuk itu intelektualitas dan kreativitas desainer sangat dibutuhkan. Melalui metode Design Thinking, makalah ini memaparkan contoh kasus desainer-desainer yang mampu mengembangkan intelektualitasnya dari keilmuan yang didapat di pendidikan perguruan tinggi dan telah berhasil mengembangkan desain produk dan fashion. Desainer dituntut untuk peka terhadap masalah sosial di sekeliling dan selalu tergelitik untuk mencari solusinya, dengan mengembangkan produk yang menyentuh kebutuhan masyarakat banyak.Kata Kunci:desain, desainer, industry kreatif, intelektualitas, kreativita
Penggambaran Kepercayaan Sekala dan Niskala di Masyarakat Bali Pada Film “The Seen dan Unseen"
Pertanggungjawaban Perbuatan Administrasi Negara Oleh Institusi Publik (Studi Gugatan Perbuatan Melawan Hukum PT. Bumi Asih Jaya Terhadap Otoritas Jasa Keuangan Dalam Putusan Nomor 643/Pdt.6/2017 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
Kajian Fungsi dan Makna Relief Candi Sukuh di Jawa Tengah
Kerajaan Majapahit dipimpin oleh Hayam Wuruk ditandai dengan berhasilnya menguasai beberapa daerah seperti Sumatera, Borneo, Semenanjung Malaya, Bali dan hingga Philipina yang berada di luar Nusantara. Memberikan gambaran begitu luasnya daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit menjadikan kerajaan ini sebagai kerajaan yang paling besar dan kuat dalam sejarah kerajaan di Nusantara/Indonesia. Pada pemerintahan kerajaan Majapahit, semua unsur termasuk kebudayaan di dalam kehidupan masyarakatnya seperti seni pahat, seni sastra dan seni panggung. semua harus bernafaskan keagamaan. Salah satu peninggalan yang sangat unik dan spesifik dari peninggalan kerajaan Majapahit adalah Candi Sukuh yang berada di Jawa Tengah. Keunikan relief candi menggambarkan simbol alat reproduksi manusi
Pencerminan Kebutuhan Pada Fasad Bangunan dan Pengaruhnya pada “Imagibility” Kawasan Jalan Masjid Jamik - Pangkalpinang
Regenerasi warisan budaya lokal merupakan salah satu cara untuk memperkuat keunikan dan identitas
kota di era globalisasi, yang sering dianggap sebagai ancaman bagi eksistensi identitas kota. Hal ini
sangat relevan bagi ruang kota koridor Jalan Masjid Jamik, sebagai bagian dari kawasan pusat kota
bersejarah di kota Pangkalpinang. Oleh karenanya, tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami
fenomena transformasi karakter lokal ruang kota koridor Jalan Masjid Jamik tersebut, yang tidak
lepas dari dinamika kebutuhan penduduknya. Upaya pemenuhan kebutuhan penghuni yang tercermin
pada rancangan fasad bangunan di koridor Jalan Masjid Jamik, sangat mempengaruhi imagibility atau
keterbacaan karakter ruang kota tersebut. Dalam penelitian deskriptif ini, maka identifikasi dan
klasifikasi langgam arsitektur Komponen fasad dari sampel penelitian sebanyak 62 bangunan, dan
korelasinya kebutuhan pengguna bangunan, dilakukan baik secara obyektif oleh peneliti maupun
konfirmasi subyektif dari pemilik bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saat ini ruang kota
koridor Jalan Masjid Jamik masih memiliki identitas atau karakter lokal Melayu yang cukup kuat,
karena bangunan dengan rancangan fasad berlanggam aritektur lokal Melayu masih dominan. Terkait
dengan kemampuan rancangan fasad bangunan dalam memenuhi kebutuhan penghuninya, terdapat
empat komponen fasad bangunan yang masih bertahan dengan karakter lokalnya, yaitu serambi,
bahan bangunan, rancangan bukaan, dan rancangan dinding. Ke empat komponen fasad bangunan
tersebut dianggap masih dapat memenuhi kebutuhan penghuninya, terutama kebutuhan akan udara
alami, perlindungan dari ancaman cuaca, perlindungan dari ancaman manusia, kebutuhan status sosial
dan kebutuhan kreativitas. Selain itu dapat juga disimpulkan bahwa ke empat komponen fasad dengan
karakter lokalnya, dinilai mampu ber co-produksi dengan berbagai langgam arsitektur. Karakter lokal
ini tampil berdampingan dengan karakter global yang didominasi oleh langgam arsitektur Art Deco
dan Modern. Nampaknya skala usaha perdagangan dan jasa yang dijalankan merupakan salah satu
faktor yang mempengaruhi transformasi karakter lokal di kawasan studi. Hal ini tidak terlepas dari
kebutuhan aktualisasi diri penghuni atau pengguna bangunan dalam kaitannya dengan aktivitas
perdagangan dan jasa.
Kata Kunci: Kebutuhan, komponen fasad bangunan, imagibility, legibility, karakter lokal ruang kot
Sense Of Place Dynamics In Historic City Centre Of Tangerang
Concept the Sense of Place is rooted in subjective people’s experiences. The Sense of Place in Historic city is preserved by the authenticity
of an attribute of urban heritage significance. Subjective perception is the substance of sense of place and conscious feeling about the environment and
places. On the other side, industry 4.0 has a deep impact on a shift in perception that can cause loss of sense of place. By understanding of the daily
activities and symbols associated, transformation sense of place can be defined. This paper aims to define the dynamics factors that can change the
sense of place in a historic city. Through the mapping physical features transformation and activities, we explain that affect meaning changing based on
dimensions element of a sense of place. Through reviewing the literature and saturated interview data, this paper reaches a comprehensive change
factor of sense of place concept and then tries to compare it to find their transformation. Each dimension element can transform or loss through time, but
it can minimize by identified the dynamic factors that can affect the transformation sense of place. The findings of this field of study can be used as a
base for consideration of the management of the historic urban area