1360 research outputs found
Sort by
Hubungan antara preeklampsia dengan usia gestasi preterm dan apgar score
LATAR BELAKANG
Pada tahun 2013, rasio kematian ibu pada negara berkembang 230 per 100.000
kelahiran bayi hidup dibandingkan di negara maju 16 per 100.000 kelahiran bayi
hidup. Tahun 2014, WHO melaporkan angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia
mencapai 289.000 jiwa. Survei Demografi Kesehatan Ibu Indonesia (SDKI) tahun
2012, AKI mencapi 359 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi
mencapai 32 per 1000 kelahiran hidup. Preeklampsia adalah penyakit hipertensi
dalam kehamilan yang masih menyebabkan mortalitas dan morbiditas yang tinggi
di Indonesia, ditandai dengan hipertensi ≥ 140/90 mmHg, edema, dan peningkatan
kadar protein dalam urin dan biasanya terjadi pada kehamilan lebih dari 20
minggu. Preeklampsia dapat menyebabkan beberapa komplikasi, diantaranya
kelahiran preterm hingga kematian ibu dan bayi. Dinas Kesehatan Provinsi
Lampung tahun 2015 menyebutkan prevalensi data kematian maternal disebabkan
oleh hipertensi dalam kehamilan sebesar 23,49 % untuk provinsi Lampung.
Penyebab kematian perinatal tertinggi pada tahun 2015 di Provinsi Lampung yaitu
37% disebabkan oleh asfiksia neonatorum. Tujuan penelitian ini adalah untuk
meningkatkan status kesehatan ibu dan neonatus.
METODE
Jenis penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain
cross-sectional. Penelitian ini bersifat retrospektif dengan menggunakan data
sekunder dari rekam medis di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung.
Jumlah responden sebanyak 151 orang dimana analisis data dilakukan
menggunakan program statistic SPSS 21.0 uji Chi-square dan Kolmogorov-
Smirnov dengan tingkat kemaknaan 0,05.
HASIL
Pada penelitian ini dari 151 responden didapatkan usia gestasi preterm sebanyak
96 responden (83,5 %), usia gestasi aterm sebanyak 19 responden (16,5%), skor
APGAR didapatkan asfiksia sebanyak 61 responden (53 %) dan skor APGAR
normal sebanyak 54 responden (47 %). Terdapat hubungan yang bermakna antara
kejadian preeklampsia dengan skor APGAR (p = 0,023). Tidak terdapat hubungan
bermakna antara kejadian preeklampsia dengan usia gestasi preterm (p = 0,771).
KESIMPULAN
Dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan antara preeklampsia dengan usia
gestasi preterm, namun terdapat hubungan antara preeklampsia dengan skor
APGAR
Hubungan tingkat kemandirian dengan depresi pada lansia
LATAR BELAKANG
Tahap akhir kehidupan manusia adalah masa lanjut usia yang ditandai dengan berbagai perubahan fisik, psikis maupun sosial. Salah satu masalah yang dialami lansia adalah penurunan fungsi orang tubuh yang dapat menyebabkan ketergantungan dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-harinya. Penurunan fungsi juga menyebabkan lansia merasa sedih, cemas, dan tidak berharga, yang juga menjadi gejala depresi. Depresi adalah gangguan mental yang paling sering terjadi pada lansia. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa depresi menjadi alasan terbanyak lansia bunuh diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kemandirian dengan depresi pada lansia.
METODE
Penelitian ini dilaksanakan di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 2, Cengkareng, Jakarta Barat, pada bulan November 2016, dengan total 103 orang lansia yang terlibat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan potong silang (cross sectional). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: Katz Index untuk mengukur tingkat kemandirian dan kuesioner Geriatri Depression Scale. Data yang didapatkan dianalisis dengan uji korelasi Spearman.
HASIL
Penelitian ini menunjukan bahwa 58 responden (56,3%) mandiri, dan 55 responden (53,4%) mengalami depresi. Dan hasil uji korelasi Spearman menyatakan terdapat korelasi antara tingkat kemandirian dengan depresi pada lansia (r=-0,653)
KESIMPULAN
Terdapat korelasi yang kuat dengan arah korelasi negatif antara hubungan tingkat kemandirian dengan depresi pada lansia, yang menunjukan semakin tinggi kemandirian pada lansia, maka semakin rendah kemungkinannya untuk mengalami depresi
Hubungan insomnia terhadap tension type headache pada mahasiswa
Latar belakang
Tension Type Headache merupakan nyeri kepala yang paling sering ditemui di kehidupan sehari-hari.Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa insomnia merupakan salah satu faktor risiko dari Tension Type Headache.Sementara Insomnia didefinisikan sebagai suatu persepsi seseorang merasa tidak cukup tidur atau kualitas tidurnya buruk. Sehingga pada mahasiswa yang banyak mengalami insomnia Tension Type Headache termasuk penyakit yang insidennya banyak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara insomnia dengan Tension Type Headachepadamahasiswa.
Metode
Penelitian ini menggunakan studi analisis observasional dengan metode desain penelitian potong silang pada mahasiswa STMT Trisakti.Data dikumpulkan dengan wawancara dan kuesioner tentang insomnia dan Tension Type Headache dari para mahasiswa.Analisis data dengan menggunakan SPSS versi 21.0 dan tingkat kemaknaan 0,05.
Hasil
Dari hasil penelitian dengan 140 responden, analisis Chi-square menunjukkan tidak terdapat hubungan antara insomnia (p=0,322), stres (p=0,444), jenis kelamin (p=0,402) terhadap Tension Type Headache.
Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa pada mahasiswa yang memiliki insomnia dan dibawah stres tidak mengalami Tension Type Headache
Hubungan ketuban pecah dini dan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir
LATAR BELAKANG
Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, angka
kematian bayi (AKB) sebesar 32 kematian/1000 kelahiran hidup, yang berarti
terdapat 440 bayi yang meninggal setiap harinya. 33,6% dari kematian tersebut
disebabkan karena kejadian asfiksia, yang menempati urutan kedua penyebab
kematian bayi baru lahir di Indonesia setelah berat lahir rendah (35%). Faktor
risiko asfiksia neonatorum dapat terjadi pada saat antepartum, intrapartum,
ataupun postpartum. Ketuban pecah dini (KPD) merupakan salah satu faktor
risiko intrapartum dari kejadian asfiksia, karena persalinan KPD meningkatkan
risiko terjadinya korioamnionitis yang dapat menyebabkan terjadinya asfiksia
pada bayi baru lahir. Insiden KPD di Indonesia berkisar antara 4,5 sampai 7,6%
dari seluruh kehamilan. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan adakah
hubungan antara ketuban pecah dini dan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir.
METODE
Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan pendekatan potong
lintang yang mengikutsertakan 140 bayi baru lahir dengan asfiksia di RS X
Jakarta Timur pada bulan Januari – Desember 2015. Pengumpulan data
menggunakan rekam medik yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis
data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji Fisher’s Exact
menggunakan program SPSS versi 22.
HASIL
Uji Fisher’s Exact menunjukkan terdapat hubungan antara ketuban pecah dini dan
kejadian asfiksia (p = 0,007). Responden yang terlahir melalui persalinan KPD
mempunyai kecenderungan untuk mengalami asfiksia saat dilahirkan.
KESIMPULAN
Terdapat hubungan yang bermakna antara ketuban pecah dini dan kejadian
asfiksia pada bayi baru lahir di RS X Jakarta Timur
Hubungan kualitas tidur dengan atensi pada siswa Sekolah Menengah Atas
LATAR BELAKANG
Atensi adalah usaha pemusatan pikiran secara jelas dan sadar pada suatu objek untuk menghadapi objek tersebut. Bila terdapat gangguan pada atensi, maka seseorang akan sulit untuk mempelajari hal baru dan mengerjakan sesuatu yang membutuhkan atensi. Tidur merupakan keadaan yang sangat penting dalam kehidupan yang memainkan peran penting dalam perkembangan normal dan fungsi sehari-hari. Dari permasalahan tentang kualitas tidur dan atensi di atas, maka peneliti tertarik untuk mengetahui adanya hubungan kualitas tidur dengan atensi pada siswa Sekolah Menengah Atas.
METODE
Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan potong lintang. Responden didapat dengan teknik consecutive sampling. Pada responden yang memenuhi kriteria dilakukan pengisian kuesioner PSQI dan dilakukan Digit Span Test. Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan SPSS dengan analisis univariat dan bivariat.
HASIL
Didapatkan jumlah responden sebanyak 87 orang dengan 26% siswa dengan tingkat atensi baik dan 74% siswa dengan atensi buruk. Dari hasil analisis bivariat didapatkan tidak ada hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan atensi pada siswa Sekolah Menengah Atas (p = 0,938).
KESIMPULAN
Tidak ada hubungan antara kualitas tidur dan atensi pada siswa Sekolah Menengah Atas
Hubungan personal hygine saat menstruasi dan pruritus vulvae pada santriwati
LATAR BELAKANG
Santriwati adalah remaja putri yang tinggal di Pondok pesantren. Remaja
merupakan masa peralihan dari anak-anak menjadi dewasa. Perubahan pada
remaja dibagi dalam tiga tahap yaitu remaja awal, pertengahan, dan akhir.
Periode pertama perubahan yaitu remaja awal terjadi pada usia 12-14 tahun.
Pruritus vulvae adalah gangguan yang ditandai dengan sensasi gatal parah dari
alat kelamin eksternal perempuan. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa
personal hygiene menstruasi yang buruk merupakan salah satu faktor risiko
kejadian pruritus vulvae. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan
antara personal hygiene menstruasi dengan pruritus vulvae pada santriwati.
METODE
Penelitian ini menggunakan studi analisis observasional dengan desain penelitian
potong silang pada santriwati Pondok Pesantren Darunnajah.Data dikumpulkan
dengan melalui wawancara dan kuesioner tentang Personal hygiene menstruasi
dan Pruritus Vulvae. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS versi
22.0 dan tingkat kemaknaan 0,05.
HASIL
Dari hasil penelitian dengan 192 responden, analisis Chi-square menunjukkan
tidak terdapat hubungan antara pengetahuan personal hygiene menstruasi
(p=0,168), sikap personal hygiene menstruasi (p=0,619), praktik personal hygiene
menstruasi (p=0,908) terhadap pruritus Vulvae.
KESIMPULAN
Santriwati yang memiliki personal hygiene menstruasi yang baik tidak seluruhnya
terhindar dari pruritus vulvae karena terdapat faktor-faktor lain yang
mempengaruhi
Hubungan minum teh dan tekanan darah sesaat pada usia produktif
LATAR BELAKANG
Teh (Camellia sinensis) merupakan minuman kedua yang paling banyak dikonsumsi di dunia setelah air mineral. Teh memiliki manfaat sebagai antioksidan,memperbaiki sel-sel yang rusak,menghaluskan kulit,melangsingkan tubuh,mencegah kanker,mencegah penyakit jantung,mengurangi kolesterol dalam darah, dan melancarkan sirkulasi darah.Selain manfaat, teh juga mempunyai efek yang kurang baik bagi kesehatan seperti insomnia, gelisah, merangsang, delirium, takikardia, ekstrasistole, pernapasan meningkat, tremor otot, dan diuresis.
METODE
Penelitian eksperimental dengan desain pre experiment pretest-posttest pada bulan Juli-Agustus 2016 di Rt 06 kecamatan Lembor kabupaten Manggarai Barat NTT.
HASIL
Jumlah responden pada penelitian ini adalah 74 responden. Responden yang di jadikan sampel adalah yang berusia 15-64 tahun dan yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.
Jumlah responden laki-laki sebanyak 25 (33,8%) dan perempuan sebanyak 49 (66,2%). Jumlah responden yang berusia 15-50 tahun sebanyak 67 (90,5%) dan usia 51-64 sebanyak 7 (9,5%). Pada penelitian ini tidak terdapat perbedaan bermakna nilai tekanan darah sistolik sebelum dan sesudah minum teh (p= 0,566), tetapi terdapat perbedaan bermakna nilai tekanan darah diastolik sebelum dan sesudah minum teh (p= 0.047) dan terdapat perbedaan bermakna nilai frekuensi nadi sebelum dan sesudah minum teh (p= 0.000).
KESIMPULAN
Pada penelitian ini menunjukan terdapat perbedaan bermakna nilai tekanan darah diastolik sebelum dan sesudah minum teh dan perbedaan bermakna frekuensi nadi sebelum dan sesudah minum teh, tetapi tidak terdapat perbedaan bermakna nilai tekanan darah sistolik sebelum dan sesudah minum teh
Hubungan antara shift kerja dan tingkat kecemasan pada perawat
LATAR BELAKANG
Perawat adalah komponen yang penting dalam sistem kesehatan, dan paling banyak bersinggungan dengan pasien. Oleh sebab itu kinerja mereka pasti sangat mempengaruhi kualitas keseluruhan perawatan pasien. Namun demikian, beban kerja perawat kadangkala dinilai tidak sesuai dengan kondisi fisik, psikis, emosionalnya sehingga menimbulkan stres kerja yang meyebabkan penyimpangan pada fungsi psikologis, fisik, dan tingkah laku individu.Terdapat sejumlah penelitian yang menunjukkan hubungan antara shift kerja dengan tingkat kecemasan pada perawat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan hubungan antara shift kerja dan tingkat kecemasan pada perawat.
METODE
Desain penelitian ini adalah cross-sectional dan melibatkan 87 perawat di RSUD Brebes. Dalam penelitian ini digunakan kuesioner lembar observasi Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) dan wawancara untuk mengetahui tingkat kecemasan responden, setelah itu data dianalisis dengan uji bivariat menggunakan SPSS.
HASIL
Dari 87 responden, sebanyak 52 orang (59.8%) mengalami kecemasan. Dari hasil uji chi-square didapatkan hasil perawat dengan jumlah kerja shift malam lebih dari 86 malam lebih banyak mengalami kecemasan sebanyak 29 orang (63.0%) dibandingkan dengan perawat dengan jumlah shift kerja 1-85 malam sebanyak 23 orang (56.1%).
KESIMPULAN
Tidak terdapat hubungan antara shift kerja dengan tingkat kecemasa
Hubungan ASI eksklusif dengan anemia pada baduta di kelurahan-kelurahan Cengkareng Timur
LATAR BELAKANG
Anemia adalah penurunan konsentrasi eritrosit atau hemoglobin dalam darah yang berada di bawah normal dan hal ini terjadi saat adanya kehilangan darah (melalui perdarahan atau pemecahan) dan gangguan produksi sel darah merah. Air susu ibu (ASI) merupakan makanan terbaik yang dapat memenuhi kebutuhan bayi karena mengandung protein, lemak, vitamin, mineral, air dan enzim yang sangat dibutuhkan oleh bayi sehingga dapat mengurangi berbagai jenis risiko kekurangan gizi. Diharapkan dengan pemberian ASI dapat mengurangi resiko terkena anemia.
METODE
Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan studi cross sectional. Penelitian dilaksanakan di RW 03 Kelurahan Cengkareng Timur pada bulan Juni 2017. Pengambilan sampel secara consecutive sampling anak dibawah 2 tahun (baduta) di Kelurahan Cengkareng timur, Jakarta Barat. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner dan pengukukan anemia menggunakan point of care testing Hb. Analisis data menggunakan uji Chi Square dengan tingkat kemaknaan p<0,05.
HASIL
Pada hasil penelitian ini, didapatkan yang menndapat ASI Eksklusif sebanyak 29 anak (52,7%) dan resiko terkena anemia sebanyak 18 anak (32,7%). Pada analisis dengan menggunakan uji Chi Square didapatkan tingkat kemaknaan sebesar (p=0,368).
KESIMPULAN
Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara ASI eksklusif dengan anemia pada bayi dibawah 2 tahun (Baduta) di Kelurahan Cengkareng Timur
Hubungan riwayat pemakaian tabir surya dengan kejadian melasma pada wanita usia 25-45 tahun
LATAR BELAKANG
Melasma adalah hipermelanosis didapat berupa makula yang tidak merata berwarna coklat muda sampai coklat tua, bersifat kronis dan pengobatannya memerlukan waktu yang cukup lama. Etiologi melasma belum diketahui pasti, namun terdapat beberapa faktor resiko yang menyebabkan melasma salah satunya akibat paparan sinar matahari. Indonesia merupakan negara beriklim tropis dengan paparan sinar matahari yang tinggi dan sebagian besar penduduknya bekerja di luar ruangan sehingga memerluka suatu perlindungan kulit, salah satunya dengan tabir surya. Penelitian ini bertujuan untuk menilai ada tidaknya hubungan antara riwayat penggunaan tabir surya dengankejadian melasma pada wanita usia 25-45 tahun.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian dengan studi analitik observasional dan dengan desain cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di Rusun Bumi Cengkareng, Jakarta Barat pada bulan Januari - Maret 2017.Penelitian ini dilakukan dengan pengisian kuesioner dan wawancara terpimpin sedangkan untuk diagnosis Melasma digunakan foto yang di konsultasikan ke dokter spesialis kulit dan kelamin.Analisis data menggunakan uji statistik chi square dengan program SPSS.
HASIL
Penelitian inididapatkan wanita yang memiliki riwayat pemakaian tabir surya dan tidak melasma (31,4%) dan wanita yang memiliki riwayat pemakaian tabir surya dan melasma (8,6%), sedangkan yang tidak memiliki riwayat pemakaian tabir surya dan melasma (44,3%) dan yang tidak memiliki riwayat pemakaian tabir surya dan tidak melasma (15,7%). Pada analisis dengan menggunakan uji Chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat penggunaan tabir surya dangan kejadianmelasma pada wanita usia 25-45 tahun (p=0,000).
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat penggunaan tabir surya dangan kejadian melasma pada wanita usia 25-45 tahun. Wanita yang menggunakan tabir surya lebih sedikit yang mengalami melasma, dibandingkan dengan wanita yang tidak menggunakan tabir surya