1360 research outputs found
Sort by
ANALISIS KAPASITAS TERMINAL PENUMPANG BANDAR UDARA SENTANI DI JAYAPURA
Papua merupakan salah satu daerah yang menjadikan transportasi udara sebagai pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan mobilisasi. Seiring meningkatnya kegiatan pariwisata di Jayapura, maka meningkat pula jumlah pengunjung yang datang. Dengan adanya peningkatan jumlah penumpang di Bandar Udara Sentani, terminal penumpang terkadang mengalami penumpukan di beberapa area. Perlu di lakukan evaluasi terhadap kapasitas terminal penumpang yang ada saat ini dan analisa kebutuhan luas terminal penumpang dalam menampung sirkulasi pergerakan penumpang pada waktu sibuk, dengan memperhitungkan peningkatan penumpang dimasa mendatang, sehingga didapat kesesuaian antara kapasitas terminal penumpang dengan luas terminal penumpang saat ini. Hasil penelitian untuk terminal penumpang keberangkatan, luas aktual terminal mampu menampung sirkulasi pergerakan penumpang pada waktu sibuk yaitu sebesar 220 penumpang, sementara terminal kedatangan kurang mampu untuk menampung sirkulasi pergerakan penumpang kedatangan pada waktu sibuknya yaitu sebesar 232 penumpang. Untuk LOS sendiri berdasarkan standar IATA mendapatkan hasil yang memenuhi standar
UNLOADING CRATES SERVICE PERFORMANCE ANALYSIS AT THE PIER 08 PONTIANAK PORT, WEST KALIMANTAN
Pelabuhan Pontianak memiliki arus kapal dan arus peti kemas yang terus meningkat sehingga untuk mendapatkan arus kapal dan arus peti kemas harus memproyeksikan dengan metode eksponesial dengan perhitungan berth occupancy ratio (BOR) dan yard occupancy ratio (YOR). Hasil dari perhitungan BOR mendapatkan jumlah kapal pada tahun 2022 sebesar 120 kapal dan arus peti kemas sebesar 71.73% angka tersebut melebihi dari batas BOR >70% sehingga perlu adanya penambahan dermaga sebesar 114 meter. Dari hasil perhitungan YOR pada lapangan penumpukan kapasitas yang tersedia sebesar 94.31%<100% dari ketentuan, sehingga lapangan penumpukan yang dibutuhkan sangat efektif untuk kebutuhan peti kemas
PERANCANGAN BANGUNAN PUSAT PERBELANJAAN DAN RUANG SERBAGUNA DENGAN KONSTRUKSI BAJA DI DKI JAKARTA
Sehubungan dengan pertumbuhan usaha dan bisnis yang meningkat di Jakarta membuat
bertumbuhnya daya beli masyarakat kota Jakarta. Selain itu, kegiatan masyarakat kota Jakarta
yang beragam membuat kebutuhan bangunan yang mampu menyediakan berbagai fasilitas.
Menyikapi kedua faktor yang telah dijelaskan sebelumnya maka dibutuhkan bangunan pusat
perbelanjaan yang digabung dengan ruang serbaguna menggunakan konstruksi baja. Material
baja dipilih karena memiliki kekuatan yang tinggi serta beratnya ringan dibanding material
beton. Sehingga memungkinkan untuk membuat struktur dengan bentang lebar karena material
baja lebih ramping dan ringan dibanding material beton. Untuk itu dilakukan perancangan
dengan bantuan aplikasi ETABS dan analisis struktur menurut peraturan yang berlaku yaitu SNI
1729:2015
Faktor Arsitektur Regionalisme pada Fasad Rumah Sakit Kasih Ibu di Bali
Bali merupakan salah satu daerah yang kental akan arsitektur tradisionalnya yang dikenal hingga
mancanegara. Pemerintah bali mensyaratkan bangunan yang tidak memakai konsep tradisional bali
untuk memperhatikan unsur-unsur kedaerahannya. Dalam hal ini arsitektur regionalisme dapat
menjadi salah satu solusinya, karena pada dasarnya arsitektur regionalisme merupakan penyatuan
arsitektur massa lampau dan arsitektur massa kini. Makalah ini akan membahas faktor-faktor
arsitektur regionalisme yang terdapat di fasad rumah sakit Kasih Ibu. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu deduktif deskriptif dengan mengumpulkan berbagai data dan teori dari beberapa
jurnal, buku, serta media internet. Hasil penelitian ini yaitu penerapan arsitektur regionalisme pada
fasad rumah sakit
PENERAPAN ASPEK TEKNOLOGI SISTEM GALA TERHADAP EFISIENSI PENGGUNAAN RUANG DI PUSAT KONFENSI DAN EXPO
Convention Center dan Expo Center industri kegiatan acara – acara bertaraf internasional sudah
sangat di perlukan untuk menunjang beberapa aspek dalam kenegaraan yang di harapkan menjadi
sebuah batu loncatan memperkenalkan dan mengharumkan tanah air melalui hal ini. Dan pada saat
ini sangat di butuhkannya pengolahan lahan yang tepat untuk mengefisienkan lahan bangunan,
mengingat semakin dikitnya lahan tanah yang tersedia. Gala System adalah suatu teknologi yang
dapat membantu suatu bangunan untuk mengefisienkan penggunaan ruangnya menjadi lebih
maksimal melalui mekanisme perubahan tata letak kursi dan panggung yang dapat berubah – ubah
pada Convention dan Expo Center
PENERAPAN ARSITEKTUR RIVERFRONT PADA FASAD BANGUNAN REKREASI EDUKASI DI DAS SITU GINTUNG
Konsep Riverfront digunakan sebagai penekanan visual dalam menciptakan fasad bangunan Rekreasi Edukasi, hal ini dikarenakan keberadaan bantaran sungai Situ Gintung terletak berdampingan dengan area wisata rekreasi edukasi. Dalam hal ini, wisata rekreasi edukasi
berfokus pada informasi seputar Situ-situ secara umum maupun hal terkait Situ Gintung yang diwujudkan dalam bentuk Museum. Tujuan penulisan ilmiah ini adalah untuk menganalisis kesesuaian antara konsep pembentuk Riverfront dengan proyek yang diselenggarakan yaitu
Pemrograman Bangunan Rekreasi Edukasi di DAS Situ Gintung. Metode penulisan berfokus pada studi komparasi antara variabel yang ada pada elemen fasad dengan konsep Riverfront pada bangunan Museum dengan tema sejenis
Desain Fluid Viscous Damper Pada Bangunan Struktur Baja Enam Lantai
Seiring dengan perkembangan zaman dalam dunia teknik sipil , terdapat bangunan gedung yang
mengunakan sistem dinding geser (shear wall), braced frames, diafgrama, kerangka penahan momen dalam
mereduksi energi getaran gempa. Saat ini telah dikembangkan sistem baru yang dapat digunakan untuk
mereduksi energi getaran gempa yaitu damper. Damper memiliki beberapa jenis, salah satu jenis yang
dibahas studi kasus ini Fluid Viscous Damper (FVD).
Studi ini akan membahas perancangan bangunan struktur baja 6 lantai yang terpasang FVD dan
tanpa FVD dengan analisis gempa linear. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan aplikasi ETABS dan
mengunakan acuan SNI 1726 – 2012 dan ASCE 7 – 10. Hasil analisi yang diperoleh : (1) Terjadi penurunan
simpangan antar lantai, (2) mereduksi perpindahan bangunan, (3) Terjadi Penurunan gaya geser dasar pada
bangunan
Kritik Fotografi : Mendeskripsikan sebuah Foto dari Sisi Subjek, Bentuk, Media dan Gaya
Abstract
In the formal education of bachelor photography, the knowledge and ability to
criticize a photo is fundamental, this is what distinguishes bachelor photography from
photography courses, the ability to criticize a photo with the aim of defining photos,
interpreting photographs, explanations aesthetic or aesthetic argumentation. Referring
to Terry Barrett’s writing about photo criticism, there are several stages to criticizing
or interpreting a photo, namely: Describing photos, interpreting photos and evaluating
photos. As an initial step, it will be explained about describing a photo. How to start
describing a photo, what are the elements that can be described in a photo and how to
be able to describe a photo based on the actual facts. Descriptive information includes
statements about the subject matters of the photo, the media used, forms of design
elements, the surrounding environment, including information about the photographer
who made the photo, time of photo taking, issues and social phenomena that were
popular when taking photos. Describing a photo is the first approach that can be used
to analyze a photo.
Keywords: photography, criticize photo, describing photo
Abstrak
Dalam keilmuan formal fotografi jenjang strata-1, pengetahuan dan kemapuan
untuk mengkritik sebuah foto menjadi hal yang fundamental, hal ini yang
membedakan keilmuan fotografi strata-1 dengan kursus fotografi, yaitu
kemampuan untuk mengkritisi sebuah foto dengan tujuan untuk mendefinikan
foto, menginterpretasi foto, penjelasan estetik maupun argumentasi estetik.
Mengacu pada tulisan Terry Barret mengenai kritik foto, ada beberapa tahapan
untuk mengkritisi atau memaknai sebuah foto yaitu: Mendeskripsikan foto,
Menginterpretasi foto dan mengevaluasi foto. Sebagai tahap awal akan
dipaparkan mengenai mendeskripsikan sebuah foto. Bagaimana memulai
mendeskrisikan sebuah foto, apa saja elemen yang dapat dideskripsikan dalam
sebuah foto dab bagaimana caranya agar dapat mendeskrisikan foto sesuai
dengan fakta yang sebenarnya. Informasi deskriptif meliputi pernyataan
tentang subject matters foto tersebut, media yang digunakan, bentuk-bentuk
elemen design, lingkungan sekitar, termasuk informasi tentang fotografer yang
membuat foto tersebut, waktu pengambilan foto, issue dan gejala sosial yang
popular saat waktu pengambilan foto. Mendeskrisikan sebuah foto merupakan
pendekatan yang paling mudah yang dapat digunakan untuk menganalisa
sebuah foto.
Kata kunci: fotografi, kritik foto, deskripsi fot
PENERAPAN TEKNOLOGI PNEUMATIC WASTE AND LAUNDRY COLLECTION SYSTEM PADA BANGUNAN RUMAH SAKIT
Teknologi pneumatic waste and laundry collection system (PWLCS) membantu mengangkut
linen, limbah medis dan limbah non medis dengan cara yang lebih aman dan higienis dari berbagai
instalasi di rumah sakit menuju ke tempat pengolahan limbah maupun ke ruang laundry. Teknologi
ini juga dapat mungurangi risiko penyebaran penyakit, menghemat waktu dan mempermudah
pekerjaan staf rumah sakit. Dalam penerapan PWLCS membutuhkan ruang-ruang khusus dengan
standar besaran ruang yang ditentukan. Paper ini menjelaskan tentang kebutuhan ruang dan syarat
khusus ruang untuk penerapan teknologi pneumatic waste and laundry collection system (PWLCS)
di rumah sakit. Eksplorasi terhadap literatur dilakukan untuk menjelaskan penerapan sistem
tersebut. Elemen yang akan dibahas terdiri dari enam elemen. Keenam elemen tersebut, yaitu shaft
pipa, ruang servis, ruang pengumpulan limbah, ruang linen, ruang kontrol, dan recydables loading
station. Hasil menyatakan bahwa untuk menerapkan pneumatic waste and laundry collection
system di rumah sakit dibutuhkan ruang shaft dengan ukuran ruang 65 cm, 75 cm, atau 85 cm,
ruang pengumpulan limbah dengan besaran 3366 m², ruang servis dengan besaran 2574 m², ruang
linen dengan besaran 1287 m², ruang kontrol dengan besaran 256 m², dan ruang recydables
loading stations dengan besaran 52,8 m²
ANALISIS PEMILIHAN MATERIAL RAMAH LINGKUNGAN BERDASARKAN JEJAK KARBON
Pemilihan material ramah lingkungan didasarkan pada unsur 3 R dan jarak angkut yang nantinya akan mempengaruhi besar kecilnya emisi karbondioksida yang dihasilkan. Hasil penelitian ini adalah mendapatkan total emisi karbondioksida dari setiap penyuplai karpet sebelum dan setelah diasumsikan. Metode yang digunakan adalah pengumpulan data primer maupun data sekunder dari proyek maupun masing-masing penyuplai. Hasil dari perhitungan didapat bahwa pada kendaraan angkut oleh PT PCA mengalami peningkatan emisi karbon terbesar sebesar 40,67% dan mengalami penurunan emisi karbon sebesar 57,23%. PT TFI mengalami peningkatan emisi karbon terbesar sebesar 3,85% dan mengalami penurunan emisi karbon sebesar 39,19%