Repo Dosen ULM (Universitas Lambung Mangkurat)
Not a member yet
6336 research outputs found
Sort by
Plagiat Checker : STRUCTURE, CONDUCT, AND PERFORMANCE OF NUCLEUS ESTATE AND SMALLHOLDER (NES) SCHEME IN OIL PALM SECTOR IN SOUTH KALIMANTAN
Hubungan Kompetensi Kepribadian Guru PKN Dengan Sikap Demokratis Peserta Didik Di SMK Negeri 1 Banjarmasin
Personality of the teacher has been set in the Minister of National Education, 16 In 2007, in paragraph 2 of Article 3, while students in democratic attitudes set in the Law. 20 of 2003, Based on this fact can be stated that the personality of the teacher influenced democratic attitudes of learners. The porpuse of this study was detemnine relationship the completence of the teacher's personality Civic with democratic attitudes of students in SMK Negeri 1 Banjarmasin.
The method used in this study is a quantitative method, the data were analyze using product moment analysis techniques.
The results showed that ter commpetence of the teacher's personality Civics great influence on democratic attitudes of students in SMK Negeri 1 Banjarmasin. Competence personality Civics teacher at SMK Negeri 1 Banjarmasin enough, seen from the responses of students by 73% judged that sufficient competence Civics teacher's personality, and ther remaining 27% considered that the competence of the teacher's personality still not good. Competence personality Civics teacher at SMK Negeri 1 Banjarmasin enough, seen from the positive response from students of 73% assess that competence Civics teacher have good personalities, and the remaining 27% considered that the competence of the teacher's personality Civics still not good.
Teachers that need to further improve the competence of his personality that fits the criteria of personality competencies of teachers, so as to make the students behave democratically. Citizenship Education Study Program is expected to cultivate the seeds of future teachers and qualified teachers scored a success in the future.
Keywords: competence, personality, attitude, democrati
PENERAPAN PROGRAM LINIER PADA PERMAINAN NON-KOOPERATIF
Penelitian ini akan mengkaji tentang penerapan program linier pada permainan non-kooperatif. Dimulai dengan penerapan program linear pada permainan dari sudut pandang pemain I. Dengan cara yang sama permasalahan pemain II dapat dibawa ke dalam bentuk program linear. Persamaan yang diperoleh adalah bentuk dual program, hasil yang sama akan diperoleh yakni hasil maksimum yang didapat pemain I sama dengan hasil minimum yang dicari pemain II terhadap pemain I. Selanjutnya permainan akan diselesaikan dengan metode pivot, sehingga diperoleh strategi dan hasil dari permainan.
Kata Kunci: Permainan non-kooperatif, program linier, pivot
Analisis Beban Thermal Rancangan Mesin Es Puter Dengan Kompresor ½ PK Untuk Skala Industri Rumah Tangga
Industri makanan dan minuman dingin mempunyai peluang pasar yang cukup besar di negara Indonesia yang memiliki iklim tropis. Es puter adalah salah satu produk minuman dingin yang sudah dikenal masyarakat secara umum. Es puter termasuk jenis produk yang tergolong
jenis es dengan butiran halus (soft es cream). Walaupun sudah banyak beredar mesin es cream namun pembuatan es cream ini, sampai saat ini masih dilakukan dengan cara
konvensional. Perancangan mesin es puter dengan skala yang lebih kecil sangat dibutuhkan untuk dapat meningkatkan kapasitas produksi es puter yang dikategorikan sebagai industri rumah tangga. Kapasitas rancangan mesin es puter ini dipengaruhi oleh beban pendinginan dari mesin refrigerasi yang digunakan pada rancangan mesin tersebut. Dalam studi ini dilakukan analisis beban pendinginan yang terjadi pada setiap volume produksi dari mesin es puter yang dirancang. Kecepatan produksi es puter juga dipengaruhi oleh beban pendinginan pada mesin refrigerasi rancangan tersebut. Pada analasis pengujian beban pendinginan mesin
es puter ini dapat diketahui bahwa volume es puter yang dapat dihasilkan mesin ini adalah sekitar 3-4 liter dalam setiap 90 menit pengujian.
Kata Kunci: Es puter, beban pendinginan, refrigerasi, dan industri keci
Peer Review-Microfinance strategy and its impact on profitability and operating efficiency evidence from indonesia
Peer Review SIFAT FISIKA DAN NILAI KETEGUHAN REKAT KAYU KECAPI (Sandoricum koetjape Merr)
Foetal weight prediction models at a given gestational age in the absence of ultrasound facilities: application in Indonesia
Background: Birth weight is one of the most important indicators of neonatal survival. A reliable estimate of foetal weight at different stages of pregnancy would facilitate intervention plans for medical practitioners to prevent the risk of low birth weight delivery. This study has developed reliable models to more accurately predict estimated foetal weight at a given gestation age in the absence of ultrasound facilities.
Methods: A primary health care centre was involved in collecting retrospective non-identified Indonesian data. The best subset model selection criteria, coefficient of determination, standard deviation, variance inflation factor, Mallows Cp, and diagnostic tests of residuals were deployed to select the most significant independent variables. Simple and multivariate linear regressions were used to develop the proposed models. The efficacy of models for predicting foetal weight at a given gestational age was assessed using multi-prediction accuracy measures.
Results: Four weight prediction models based on fundal height and its combinations with gestational age (between 32 and 41 weeks) and ultrasonic estimates of foetal head circumference and foetal abdominal circumference have been developed. Multiple comparison criteria show that the proposed models were more accurate than the existing models (mean prediction errors between -0.2 and 2.4 g and median absolute percentage errors between 4.1 and 4.2%) in predicting foetal weight at a given gestational age (between 35 and 41 weeks).
Conclusions: This research has developed models to more accurately predict estimated foetal weight at a given gestational age in the absence of ultrasound machines and trained ultra-sonographers. The efficacy of the models was assessed using retrospective data. The results show that the proposed models produced less error than the existing clinical and ultrasonic models. This research has resulted in the development of models where ultrasound facilities do not exist, to predict the estimated foetal weight at varying gestational age. This would promote the development of foetal inter growth charts, which are currently unavailable in Indonesian primary health care systems. Consistent monitoring of foetal growth would alleviate the risk of having inter growth abnormalities, such as low birth weight that is the most leading factor of neonatal mortality.
Keywords: Fundal height, Gestational age, Estimated foetal head circumference, Estimated foetal abdominal circumference, Regression analysis, Foetal weight estimation, Absence of ultrasound facilities, Primary health care centre, Prediction accuracy, Indonesia
PENGARUH VARIASI KEMIRINGAN SUDUT TURBULATOR TERHADAP LAJU PERPINDAHAN PANAS PADA ALAT PENUKAR KALOR ALIRAN BERLAWANAN (COUNTER FLOW HEAT EXCHANGER)
Pengaruh turbulator yang berbentuk Louvered stripsterhadap laju perpindahan panasdan faktor
gesekan aliran turbulen pada double tube heat exchanger dapat memecah (partitioning) dan mengganggu (blockage) pola streamline dari fluida yang mengalir ke saluran pipa dalam (inner tube) sehinggamengakumulasi aliran turbulensi dan meningkatkan laju perpindahan kalor dalam
pipa. Turbulator Louvered stripsmemiliki variasi sudut serang ( = 15°, 25°, 30°) yang terpasang ditengah-tengah pipa bagian dalamdan searah aliran fluida masuk. Laju aliran fluida (air) panas di bagian pipa dalam diteliti dengan interval 400 lt/jam sampai 900 lt/jam dan laju aliran air dingin di bagian pipa luar konstan 900 lt/jam. Data hasil pengujian dari masing – masing sudut serang turbulator ini dibandingkan data tanpa turbulator (plain tube), secara keseluruhan terjadi peningkatan laju perpindahan kalor sebesar 26 % sampai 58 % dari pada tanpa turbulator serta menghasilkan faktor gesekan dari 25 % sampai 40 %. Dengan performance ratio rata –
ratatertinggi pada turbulator dengan sudut 30Osebesar 0,948.
Kata kunci: Turbulator, Heat Exchanger, Counter flow, turbulensi, faktor gesekan, turbulator,
efektifitas
Diagnosis Penerapan Standarisasi pada Industri UMKM Pengolahan Ikan menggunakan TQM-Radar Chart (Studi Kasus pada UMKM Pengolahan Ikan di Kalimantan)
Kalimantan Selatan merupakan salah satu wilayah di Kalimantan, memiliki garis pantai sepanjang 1.330 km, perairan umum 1.000.000 ha, kolam 2.400 ha, tambak 53.382 ha dan minapadi/sawah 3.752 ha. Produksi perikanan Kalimantan Selatan diperkirakan pada tahun 2013 mencapai 339.437,3 ton, yang terdiri dari perikanan tangkap mencapai 241.704,2 ton dan perikanan budidaya sebesar 97.733,1 ton. Produksi perikanan tangkap di laut memberikan kontribusi terbesar bagi pembangunan sektor perikanan dan kelautan. Untuk menjadi output lebih optimal perlu dilakukan proses mengacu standarisasi industri. Penerapan Standarisasi pada industri merupakan keharusan, baik pada industri besar,menengah ataupun industri kecil. Untuk UMKM sendiri memperhatikan penggolongan industri berdasarkan asset dan omset dikelompokkan pada usaha kecil,mikro dan menengah. Penelitian bertujuan mendiagnosis penerapan standarisasi pada industri khususnya UMKM pengolahan ikan dan supporting material dalam proses pengolahan menjadi produk industri. Metodelogi yang digunakan adalah survey, observasi lapangan dan FGD (focus group discusion) pada SDM yang terlibat dalam sistem. Dengan memperhatikan kriteria utama dan kriteria lainnya serta faktor dominan dari industri yang berkesesuaian dengan TQM-Handbook, selanjutnya dianalisis menggunakan TQM-Radar Chart. Studi kasus dilakukan pada 3 (tiga) Industri Pengolahan Hasil Laut di Kalimantan (A,B,C)dan 2 (dua)industri penunjang berupa industri pengolahan bahan tambahan alami untuk meningkatkan nilai tambah berupa gula aren asli (Industri D) dan industri pengolahan rempah dan fitopharmaka (Industri E). Berdasarkan hasil FGD memunculkan beberapa faktor penting dan mewakili bilamana hal tersebut dijadikan sebagai dasar analisis. Faktor-faktor tersebut adalah Visi, Misi, Culture (VMC); Perencanaan (P); Kepuasaan Pelanggan (KP); Standarisasi (S); Sanitasi/kebersihan (K); Inspeksi (I); Edukasi (E); Pemasaran (P) dan Dokumentasi (D). Skala numerik yang diberikan pada masing-masing faktor dari 1- 5, dimana 1 adalah kondisi ‘poor’ dan 5 adalah kondisi ‘excellent’. Hasil evaluasi mengacu tabel checklist yang sebelumnya sudah di verifikasi dan validasi, perolehan nilai numerik untuk Industri yang bergerak di bidang pengolahan ikan memiliki pencapaian rata-rata di atas 80%, sementara pada industri pengolahan bahan pendukung seperti gula aren,penerapan standarisasi masih rendah yaitu kurang dari 60%, sementara pada industri rempah dan fitofarmaka pencapaian sudah di atas 60%. Sesuai hasil kajian yang diperoleh yaitu dari 5 (lima) industri yang berbasis pemberdayaan produk industri unggulan daerah sesuai kriteria industri yang ditetapkan, 3 (tiga) UMKM sudah memberikan pencapaian hasil di atas 82%. Rekomendasi yang bisa diberikan bahwa penerapan standarisasi khususnya pada proses pengolahan komoditas ikan perlu disosialisasikan ke masyarakat secara berkelanjutan dalam program yang sinergi dengan HACCP Pangan