Repo Dosen ULM (Universitas Lambung Mangkurat)
Not a member yet
6336 research outputs found
Sort by
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRESTASI LARI IOO METER SISWA SMAN 2 BANJARBARU KALIMANTAN SELATAN
Penelitian ini adalah penelitian korelasional yang menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi lari sprint 100 meter. Populasi penelitian seluruh peserta didik laki-laki SMA Negeri 2 Banjarbaru yang berjumlah 345 orang sedangkan sampel adalah peserta didik yang mengikuti ekstrakurikuler atletik lari sprint l00 meter yang berlumlah 2l orarg yang ditetapkan dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian diperoleh simpulan, yaitu (a) terdapat pengaruh panjang tungkai terhadap prestasi lari 100 meter peserta didik SMA Negeri 2 Banjarbaru, (b) terdapat pengaruh power otot tungkai terhadap prestasi lari 100 meter peserta didik SMA Negeri 2 Banjarbaru, (c) terdapar pengaruh lingkar paha terhadap prestasi lari 100 meter peserta didik SMA Negeri 2 Banjarbaru dan (d) terdapat pengaruh panjang tungkai. Power otot tungkai dan lingkar paha secara bersama-sama dengan prestasi lari 100 meter peserta didik SMA Negeri 2 Banjarbaru. Disarankan: (a) Bagi pelatih ekstrakurikuler lari 100 meter peserta didik SMA Negeri 2 Banjarbaru, apabila menginginkan prestasi anak didiknya baik dalam lari 100 meter maka sebaiknya memilih anak didik yang memiliki tungkai yang panjang, melatih power otot tungkai dan menjaga kestabilan lingkar paha, dan (b) Bagi pelatih atletik nomor lari secara umum. Hendaknya menjadikan hasil penelitian sebagai masukan dalam melatih cabang olahraga atletik khususnya nomor lar
Perubahan Penggunaan Lahan di Delta Barito, Kalimantan
Delta Barito merupakan salah satu delta yang terdapat dibagian selatan Pulau Kalimantan. Delta ini merupakan delta yang potensial yang dijadikan sebagai areal pertanian. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Untuk mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan di Delta Barito selama periode 1862-2008, 2)Untuk menganalisis penyebab perubahan penggunaan lahan di Delta Barito selama periode 1862-2008.
Penelitian ini menggunakan peta topografi tahun 1862 dan tahun 1946. Selain itu, digunakan citra Landsat tahun 1985, tahun 1997, tahun 2004 dan tahun 2008. Peta dianalisis dengan menggunakan system informasi geografi (SIG) untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan di Delta Barito.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lahan yang dominan tahun 1862 adalah hutan. Pertanian mulai ada pada tahun 1946. Pertanian dan permukiman semakin luas tahun 1985, tahun 1997, tahun 2004, dan tahun 2008.
Kata kunci: Perubahan penggunaan lahan, Delta Barit
Penerapan Pengaturan Rencana Tata Ruang Wilayah di Provinsi Kalimantan Selatan.
Penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk
mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sisfem Negara Kesatuan Republik lndonesia telah memberikan kesempatan yang luas kepada Pemerintah Daerah Kalimantan
Selatan kewenangan untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan ditingkat
propinsi, terutama jika dikaitkan dengan pengembangan potensi di Provinsi Kalimantan Selatan, yang tentu saja harus selalu diharmonisasikan dengan Peraturan perundangundangan yang lebih tinggi seperii tJndang-undang tentang Kehutanan, Perkebunan dan Pertambangan, sehingga tujuan yang ingin dicapai yakni mensejahterakan rakyat tndonesia diharapkan tercapai
Studi Farmakognostik dan Uji Parameter Nonspesifik Ekstrak Metanol Kulit Batang Kasturi (Mangifera casturi Kosterm.)
Kasturi (Mangifera casturi Kosterm.) merupakan salah satu tumbuhan endemik
Kalimantan Selatan. Kulit batang M. casturi mengandung beberapa golongan senyawa
yang berpotensi sebagai obat. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan data hasil
analisis farmakognostik, batas-batas maksimal kandungan senyawa tertentu dan profil
kromatogram kandungan kimia ekstrak metanol kulit batang M. casturi. Analisis
farmakognostik terhadap tumbuhan meliputi morfologi, anatomi, dan identifikasi
kandungan kimia. Batasan maksimal kandungan senyawa tertentu berdasarkan
parameter non spesifik meliputi kadar air, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam,
total bakteri dan kapang, dan kadar Pb dalam ekstrak. Karakteristik tumbuhan M.
casturi yaitu memiliki batang berwarna coklat tua dengan permukaan kasar dan
bergetah, daun berwarna hijau, berbentuk lancet, kulit buah matang berwarna coklat
keunguan, daging buah berwarna kuning terang hingga jingga, berbau khas, berasa
manis agak asam dan banyak mengandung serabut. M. casturi mengandung senyawa
alkaloid, flavonoid, terpenoid, fenol dan saponin yang dibuktikan berdasarkan uji
identifikasi kimia dan analisis secara KLT. Pengujian parameter non spesifik ekstrak
metanol kulit batang M. casturi secara berturut-turut yaitu, kadar air 12,5±0,7%;
kadar abu total 1,0±0,5%; kadar abu tidak larut asam 0,67±0,28%; tidak terdeteksi
adanya pertumbuhan bakteri pada ekstrak kulit batang M. casturi; sedangkan total
kapang yaitu 250 koloni/g; dan kadar Pb yaitu 3 mg/kg.
Kata Kunci: Kasturi, analisis, farmakognostik, Mangifera casturi, parameter non
spesifi
Peer Review: Penggunaan Lahan untuk Pengendalian Risiko Banjir di SUB DAS Martapura Provinsi Kalimantan Selatan
Peer Educator Sebagai Upaya Peningkatan Pengetahuan Remaja tentang HIV/AIDS pada Siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Banjarbaru Tahun 2014
Tinjauan Etnomusikologi Musik Kuriding Suku Dayak Bakumpai Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan
Musik tradisional Indonesia adalah musik yang lahir dan dipelihara kelestariannya oleh masyarakat di Indonesia. Musik tradisional sangat banyak jenisnya karena masing-masing daerah di Indonesia memiliki musik tradisional yang beragam. Musik tradisional di pengaruhi oleh adat-istiadat, agama, dan struktur masyarakat masing-masing daerah.
Musik tradisional hidup dan berkembang di masyarakat secara turun-temurun dan dipertahankan sebagai sarana hiburan. Tiga komponen yang saling memengaruhi dalam melestarikan musik tradisi adalah seniman, karya musik itu sendiri dan masyarakat pendukung.
Kalimatan Selatan merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki beragam kesenian tradisional. Salah satu musik tradisi yang dimiliki Kalimantan Selatan, yaitu Kuriding. Kuriding adalah sebuah alat musik khas Kalimantan Selatan. Kuriding dimainkan oleh seniman dari etnis Bakumpai maupun Banjar. Kuriding dibuat dari enau atau kayu mirip ulin yang hanya ada di daerah Muara Teweh, Barito Utara. Cara memainkan Kuriding adalah tangan kiri memegang tali pendek melingkar yang menahan bilah kayu itu agar menempelkan di mulut. Tangan kanan menarik-narik tali panjang yang diikat pada ujung bilah sebelahnya. Terdengar seperti suara angin menderu-deru, diiringi bunyi menghentak-hentak berirama teratur. Deru angin itu muncul dari tiupan mulut pemain Kuriding, sedangkan bunyi menghentak-hentak dari tarikan tangan kanan.
Pada saat ini pemain Kuriding jumlahnya kian tahun kian berkurang dilihat dari perkembangannya pada beberapa puluh tahun yang lalu. Karena tingkat kesulitan menguasai alat ini cukup tinggi. Selain itu, konon Kuriding juga sulit dibuat dan memainkannya harus hati-hati karena bila sampai patah akan membahayakan pemainnya. Itu sebabnya ada sebuah ungkapan Banjar yang berbunyi "Kuriding Patah".
Bisa dikatakan pemain kuriding sekarang langka, dulu ada sekitar 50 orang yang bisa memainkannya tetapi saat ini hanya tinggal 3 orang yang tersisa. Hal itu dikarenakan tidak adanya regenerasi pemain musik Kuriding. Seiring perkembangan waktu bisa saja musik ini akan hilang karena tidak ada orang yang memainkannya. Sehingga dimungkinkan komponen kebudayaan Banjar terancam hilang karena salah satu keseniannya tidak dapat bertahan di antara persaingan teknologi dan perkembangan zaman
Pemanfaatan tumbuhan yang berkhasiat obat oleh masyarakat di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan
Traditional community in South Kalimantan especially who settled in shore area of Tanah Bumbu Regency nowadays are still take advantage of forest plant resources as traditional medicines. Traditional medication is one of the national herritage that can give advantage for health, so that it is considered to be important to do research and sustain them. The research aimed to learn technical know-how of important plants as medicine of certain disease or illness. This research applied explorative survey method. Respondents were chosen with purposive sampling. Data was collected through semi-structured interview to informans and field observation. From the 6 informants (Sandro), we obtained 40 plant species utilized as medicinal plants. Part of nineteen species used was leaf (47,5%), 2 bark (5%), 4 fruit/flower (10 %), 9 root (22,5 %), 3 rhizome (7,5%), 4 resin (10%) and 1 the whole plant (2,5%). There were few parts of plants consumed without any process, some of them also smoothed or smashed, before it finally consumed like drinking water, or put it on the pain area
Faktor-faktor yang berhubungan dengan Penggunaan Alat Pelindung Diri pada Bidan Saat Melakukan Pertolongan Persalinan Normal di Kabupaten Hulu Sungai Selatan
Alat pelindung diri merupakan komponen dari kewaspadaan standar dan juga merupakan metode pencegahan dan pengendalian infeksi yang harus rutin dilaksanakan terhadap semua pasien dan di semua fasilitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan observasi pendahuluan yang dilakukan pada 10 bidan praktik swasta diketahui bahwa pada 10 bidan praktik swasta tersebut tidak menggunakan alat pelindung diri secara lengkap pada saat melakukan pertolongan persalinan normal. Dari 10 bidan praktik swasta hanya 5 orang yang menggunakan masker, kacamata/pengaman mata dan alat pelindung kaki/sepatu tertutup pada saat melakukan pertolongan persalinan normal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan alat pelindung diri bidan praktik swasta pada saat pertolongan persalinan normal di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Penelitian ini menggunakan rancangan observasional analitik melalui pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 30 orang diambil menggunakan teknik sampling jenuh/total sampling. Hasil penelitian dengan uji fisher exact (α=0,05) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan ketersediaan APD dengan penggunaan APD dengan p-value masing-masing sebesar 0,003 dan 0,0001, namun tidak terdapat hubungan antara sikap dengan penggunaan APD (p-value=0,102). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dan ketersediaan APD dengan penggunaan APD pada bidan praktik swasta.
Kata-kata kunci: pengetahuan, sikap, ketersediaan APD, penggunaan APD, bida