UPH Academic Journals (Universitas Pelita Harapan)
Not a member yet
4089 research outputs found
Sort by
BRAND IMAGE KFC PASCA KONTEN BOIKOT PRODUK ISRAEL PADA KALANGAN MAHASISWA
Aksi boikot terhadap produk Israel yang tersebar di media sosial memberikan dampak terhadap brand image organisasi atau perusahaan yang masuk dalam daftar boikot produk Israel. KFC menjadi salah satu perusahaan yang termasuk ke dalam daftar boikot yang tersebar di media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui brand image KFC pasca menjamurnya konten boikot produk Israel di media sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara semi terstruktur. Penelitian ini menggunakan Customer Based Brand Equity Model (CBBE) yang dipopulerkan oleh Kevin Lane Keller. Informan dalam penelitian ini berjumlah enam orang, yaitu mahasiswa Universitas Syiah Kuala yang sering melihat konten boikot produk Israel di media dan mengetahui KFC merupakan salah satu produk Israel yang diboikot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi perubahan brand image KFC pasca konten boikot produk Israel memenuhi media sosial. Pada awalnya, KFC memiliki brand image yang positif dari segi rasa, logo, slogan, kualitas pelayanan dan lain sebagainya. Namun, setelah maraknya konten boikot, brand image KFC menjadi negatif karena sering kali diasosiasikan sebagai salah satu produk Israel. Akan tetapi seiring berjalan waktu, dan dengan berkurangnya konten boikot produk Israel di media sosial, dalam pandangan sebagian kecil informan brand image KFC mulai bergeser menjadi lebih netral. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa aksi boikot yang terjadi di media sosial terbukti mempengaruhi cara pandang publik terhadap brand image sebuah produk.
Abstract
The boycott campaign against Israeli products circulating on social media has had an impact on the brand image of organizations or companies included in the boycott list. KFC is one such company that has been featured in the widely circulated boycott content. This study aims to explore KFC's brand image following the surge of boycott-related content on social media. The research adopts a qualitative method, employing semi-structured interviews as the primary data collection technique. It is grounded in the Customer-Based Brand Equity (CBBE) Model popularized by Kevin Lane Keller. The study involved six informants students from Universitas Syiah Kuala, who frequently encountered boycott-related content on social media and were aware that KFC was one of the targeted brands. The findings indicate that there has been a shift in KFC's brand image following the proliferation of boycott content. Initially, KFC was perceived positively in terms of taste, logo, slogan, service quality, and other attributes. However, after the widespread dissemination of boycott narratives, KFC's brand image became increasingly negative, often being associated with Israeli products. Over time, as the intensity of boycott content on social media declined, a minority of informants began to view KFC’s brand image as more neutral. This study highlights that social media-driven boycott movements can significantly influence public perception of a brand's image
Implementasi Simulasi Realitas Virtual dalam Pendidikan Keperawatan Jiwa: Tinjauan Pustaka
One of the medical diagnoses of mental disorders that is part of education in psychiatric nursing is schizophrenia. Part of the education of psychiatric nursing provides important information about mental disorders and learns new skills to deal with various challenging behaviors. The anxiety felt by psychiatric nursing students are normal and usually do not continue after students have initial contact with patients. Aim on this study is to explore the effectiveness of VR-based simulations in enhancing the skills of nursing students in caring for patients with mental health disorders. This study method uses literature review. The literature used in this study consists of journals sourced from Wiley Online, ScienceDirect, and Google Scholar between 2015 and 2024. Article selection used the protocol guidelines (PRISMA) of identification, screening, eligibility and resulted in 10 articles being analyzed. VR simulations provide immersive and realistic environments where students can safely practice therapeutic communication, conduct mental health assessments, and develop critical thinking skills. Research indicates that VR simulations significantly enhance students' skills, knowledge, and empathy in psychiatric nursing. Despite their advantages, VR technologies face limitations, such as VR technology presents challenges such as technical difficulties. However, evidence suggests that VR-based training is a promising tool for advancing psychiatric nursing education by fostering essential skills and promoting behavioral health equity among future nurses.Integrasi simulasi Realitas Virtual (VR) dalam pendidikan keperawatan psikiatri telah muncul sebagai pendekatan inovatif untuk mengatasi keterbatasan pelatihan klinis tradisional. Tinjauan pustaka ini mengeksplorasi efektivitas simulasi berbasis VR dalam meningkatkan keterampilan mahasiswa keperawatan dalam merawat pasien dengan gangguan kesehatan mental. Literatur yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari jurnal yang bersumber dari Wiley Online, ScienceDirect, dan Google Scholar antara tahun 2015 dan 2024. Simulasi VR menyediakan lingkungan yang imersif dan realistis tempat mahasiswa dapat mempraktikkan komunikasi terapeutik dengan aman, melakukan penilaian kesehatan mental, dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis tanpa menimbulkan risiko bagi pasien. Penelitian menunjukkan bahwa simulasi VR secara signifikan meningkatkan pengetahuan, kepercayaan diri, dan efikasi diri mahasiswa dalam keperawatan psikiatri. Skenario VR yang berfokus pada kondisi seperti depresi, mania, dan gangguan obsesif-kompulsif telah menunjukkan peningkatan keterampilan komunikasi, empati, dan sikap mahasiswa terhadap penyakit mental. Simulasi ini secara efektif menjembatani kesenjangan antara pengetahuan teoritis dan praktik klinis dengan menawarkan pengalaman terkontrol dan interaktif yang mereplikasi tantangan dunia nyata. Meskipun memiliki kelebihan, teknologi VR memiliki keterbatasan, seperti teknologi VR menghadirkan tantangan seperti kesulitan teknis (misalnya, gangguan sistem dan mabuk perjalanan), ketidaknyamanan siswa (misalnya, ketegangan mata dan pusing), yang dapat menghambat adopsi secara luas. Namun, bukti menunjukkan bahwa pelatihan berbasis VR merupakan alat yang menjanjikan untuk memajukan pendidikan keperawatan psikiatri dengan mengembangkan keterampilan penting dan mempromosikan kesetaraan kesehatan perilaku di antara perawat masa depan
A Cross-Sectional Study on Knowledge and Attitudes about Sexual Harassment among Nursing Students
Sexual harassment against women is a growing problem that remains unresolved globally. Sexual harassment can cause trauma and even depression in victims. It can lead to psychological trauma and even depression in victims. Based on an initial survey of 20 female nursing students, 85% reported experiencing sexual harassment through words, stares, and whistles. Nurses are one of the health workers who are vulnerable to sexual harassment. The purpose of this study is to investigate the relationship between knowledge and attitudes of nursing students toward sexual harassment. This study employs univariate and bivariate analysis, using a quantitative correlational approach with a cross-sectional design, and the statistical test used is the chi-square test. The sample in this study consists of 199 first-year nursing students selected using purposive sampling. The study was conducted from January to March 2024. The results showed that 147 (73.9%) nursing students had good knowledge and 108 (54.3%) had a positive attitude toward sexual harassment, with a p-value of 0.014, indicating a significant relationship between knowledge and attitude toward sexual harassment. Good knowledge shapes students' attitudes toward sexual harassment. Students must continue to improve their knowledge about sexual harassment. Further research is encouraged to explore factors related to attitudes toward sexual harassment.Pelecehan seksual terhadap perempuan merupakan masalah yang terus meningkat dan belum terselesaikan secara global. Pelecehan seksual dapat menyebabkan trauma bahkan depresi pada korban. Berdasarkan hasil survei awal yang dilakukan pada 20 mahasiswi di salah satu universitas di Tangerang, 85% mahasiswi pernah mengalami pelecehan seksual. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap mahasiswi mengenai pelecehan seksual. Penelitian ini menggunakan analisis univariat dan bivariat, metode kuantitatif korelasi dengan pendekatan cross sectional dan uji statistik yang digunakan adalah chi-square. Sampel dalam penelitian ini adalah 199 mahasiswa keperawatan tahun pertama yang diambil dengan teknik purposive sampling. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari-Maret 2024. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 147 (73,9%) mahasiswa keperawatan memiliki pengetahuan yang baik, dan sebanyak 108 (54,3%) memiliki sikap yang baik terhadap pelecehan seksual. Pada penelitian ini didapatkan nilai p-value = 0,014 yang berarti pengetahuan dan sikap terhadap pelecehan seksual memiliki hubungan. Meskipun mahasiswa memiliki pengetahuan dan sikap yang baik, edukasi mengenai pelecehan seksual tetap harus diberikan, dan peneliti selanjutnya sebaiknya melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap terhadap pelecehan seksual
HUBUNGAN SELF COMPASSION DENGAN PATUH MINUM OBA PADA PENDERITA HIPERTENSI
Hypertension is a chronic condition that requires consistent medication adherence to prevent serious complications. However, many hypertension sufferers experience difficulty taking medication regularly as advised. Although medication adherence is critical in hypertension, little is known about the role of self-compassion. This study aims to analyze the relationship between self-compassion and medication adherence in hypertension patients undergoing treatment at a Health Center in Jakarta. A quantitative, cross-sectional design was employed, and data were analyzed using the chi-square test. A total of 100 respondents were selected through purposive sampling. The instruments used were the Self-Compassion Scale (SCS) and the Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8). The results showed a significant relationship between self-compassion and medication adherence in hypertension patients (p-value < 0.001). Although 61% of participants demonstrated high self-compassion, only 39.3% reported high medication adherence. These findings suggest the importance of incorporating psychological components, such as self-compassion, into educational and behavioral interventions to improve treatment adherence and reduce the risk of hypertension-related complications.Hipertensi merupakan penyakit kronis yang membutuhkan kepatuhan dalam pengobatan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Namun, banyak penderita hipertensi mengalami kesulitan dalam mengonsumsi obat secara teratur sesuai anjuran. Salah satu faktor psikologis yang diduga berpengaruh terhadap kepatuhan minum obat adalah self-compassion, yaitu kemampuan seseorang untuk menerima diri dengan pengertian dan kasih sayang saat menghadapi berbagai tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self-compassion dan kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi yang menjalani pengobatan di salah satu Puskesmas di Jakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional, serta dianalisis menggunakan uji korelasi chi-square. Teknik purposive sampling digunakan untuk memperoleh 100 responden. Instrumen yang digunakan adalah Self-Compassion Scale (SCS) dan Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara self-compassion dan kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi (p-value < 0,001). Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan edukasi dan intervensi psikologis yang berfokus pada peningkatan self-compassion, sehingga kepatuhan terhadap pengobatan dapat ditingkatkan dan risiko komplikasi akibat hipertensi dapat diminimalkan.
Keywords: hipertensi, kepatuhan minum obat, self-compassion, MMAS-
Validasi Pendekatan Estetika Fenomenologis dalam Penelitian Seni Memakai Hermeneutika
Abstract
Art research related to a sense of feeling is often considered subjective. It goes the same way for sensory knowledge, where individual direct experience is considered a subjective perception. When Baumgarten changed the understanding of aesthetics from knowledge of sensory perceptions into a basic idea of beauty, aesthetics initiated a discussion of the relationship between two things that were previously distinguished in contrast, namely between the material world, the physical world, or the world of practice with the non-material world, the world ideas or theory world. When aesthetic studies have not only philosophical patterns in the sense of subjective individual arguments but also objective scientific knowledge, there is a value of dialogue in aesthetic studies between things perceived by the senses with the thought ones, between the world of practice and theory. There is an ongoing struggle between the practice of carrying out a subjective sensory perception and the needs of the academic world to bring aesthetics as one of the theories in objective scientific knowledge. In turn, the condition above raises questions related to phenomenological aesthetics. Phenomenological aesthetics are the value of beauty found through the direct experience of individuals influenced by the individual context so that it is subjective. Criticism of the subjective approach when interpreting beauty leads to how to validate the phenomenological aesthetic approach. The answer to this question will surface as we conduct literature studies on phenomenological aesthetics and hermeneutic phenomenology. This hermeneutics opens the way to the validity of the phenomenological approach through the intertextuality dialogue of art to the essence of the meaning of art. The understanding of intertextuality here is an interpretation of the meaning of the beauty from the appreciator within a different space and time. The dialogue is at the essence level of beauty associated with artists' and appreciators' existence.
Abstrak
Penelitian seni yang terkait dengan persepsi rasa kerap dianggap subyektif, demikian juga pengetahuan inderawi melalui pengalaman langsung individual kerap dianggap sebagai persepsi yang bersifat subyektif. Ketika pengertian estetika diubah oleh Baumgarten dari pengetahuan tentang persepsi-sensasi indera menjadi ide dasar tentang keindahan, estetika menginisiasi pembahasan mengenai relasi antara dua hal yang sebelumnya dibedakan secara kontras, yaitu antara dunia materi, dunia fisik, atau dunia praktek dengan dunia non materi, dunia ide atau dunia teori. Ketika kajian estetika tidak hanya bercorak filsafat dalam pengertian argumentasi individual yang subyektif tetapi juga pengetahuan ilmiah yang obyektif, terdapat nilai dialog di dalam kajian estetika, antara objek yang diterima oleh Indera dengan hal yang dipikirkan; antara dunia praktek dengan dunia teori. Pergulatan antara praktek melakukan persepsi inderawi yang subyektif dengan kebutuhan dunia akademik untuk membawa estetika sebagai salah satu teori utama dalam ilmu seni ke ranah pengetahuan ilmiah yang obyektif, memunculkan pertanyaan terkait estetika fenomenologis. Estetika fenomenologis adalah nilai keindahan yang ditemukan melalui pengalaman langsung individu yang dipengaruhi oleh konteks individu sehingga bersifat subyektif. Kritik terhadap pendekatan subyektif ketika memaknai keindahan ini menuntun pada pertanyaan, bagaimana melakukan validasi dalam pendekatan estetika fenomenologis? Pertanyaan ini akan dijawab dengan melakukan studi literatur tentang estetika fenomenologis dan fenomenologi hermeneutik. Hermeneutika inilah yang membuka jalan ke arah validitas pendekatan fenomenologi dalam kajian estetika, melalui dialog intertekstualitas, sehingga karya seni mencapai level esensi makna karya seni. Pengertian intertekstualitas di sini merupakan penafsiran makna atau nilai keindahan karya seni dari apresiator dalam perbedaan ruang dan waktu. Dialog yang dilakukan ada di level esensi dari keindahan yang dikaitkan dengan eksistensi seniman dan eksistensi dari apresiator.
IMPROVING EFL STUDENTS’ WRITING THROUGH PEER TUTORING [MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS MAHASISWA PEMBELAJAR BAHASA INGGRIS SEBAGAI BAHASA ASING MELALUI TUTORING OLEH TEMAN SEBAYA]
This study investigates the writing challenges faced by Indonesian EFL students and examines the effectiveness of peer tutoring in enhancing their writing skills. Through a mixed-methods approach, data were collected via open- and closed-ended survey responses and writing assessments’ scores to 40 students as tutees, and semi-structured interviews with 4 peer tutors. The findings indicate that students struggle primarily with vocabulary, grammar, sentence structure, and translation. These difficulties are interconnected, as limited vocabulary and grammatical knowledge hinder their ability to construct clear and coherent sentences. The results show that most students found peer tutoring beneficial, as it provided a supportive learning environment, personalized guidance, and reduced the pressure of traditional teacher-student interactions. However, some students reported minimal or no improvement, which could be attributed to factors such as lack of engagement or scheduling conflicts. These findings are analyzed through the lens of Vygotsky’s Sociocultural Theory, particularly the concepts of the Zone of Proximal Development and scaffolding. The study highlights how peer tutoring facilitates learning by providing social interaction with more knowledgeable peers, enabling students to progress beyond their current level of competence. These insights suggest that educational institutions should integrate structured peer tutoring programs into EFL writing courses and provide teachers with the necessary training and resources to offer appropriate scaffolding tailored to students’ individual challenges. Future research should explore targeted interventions for students with lower engagement and investigate strategies to enhance the effectiveness of peer tutoring in EFL writing instruction.
Abstrak Bahasa Indonesia
Studi ini menyelidiki tantangan menulis yang dihadapi oleh mahasiswa EFL Indonesia dan mengkaji efektivitas tutoring teman sebaya dalam meningkatkan keterampilan menulis mereka. Melalui pendekatan mixed-methods, data dikumpulkan melalui survei dengan pertanyaan terbuka dan tertutup serta nilai-nilai penilaian writing dari 40 siswa sebagai tutee, serta wawancara semi-terstruktur dengan 4 tutor sebaya. Temuan-temuan menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan, khususnya dengan kosakata, tata bahasa, struktur kalimat, dan terjemahan. Kesulitan-kesulitan tersebut saling terkait, karena kosakata dan pengetahuan tata bahasa yang terbatas menghambat kemampuan mereka untuk membuat kalimat yang jelas dan koheren. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar tutee merasa tutoring teman sebaya bermanfaat, karena memberikan lingkungan belajar yang mendukung, bimbingan yang personal, dan mengurangi tekanan dari interaksi tradisional antara guru dan siswa. Namun, beberapa tutee menyatakan sedikit atau tidak ada peningkatan, yang dapat dikaitkan dengan faktor-faktor seperti kurangnya keterlibatan atau konflik jadwal. Temuan-temuan tersebut dianalisis melalui lensa Teori Sosial Budaya Vygotsky, terutama konsep-konsep Zona Perkembangan Proximal (ZPD) dan scaffolding atau pendampingan. Studi ini menyoroti tutoring teman sebaya memfasilitasi pembelajaran dengan memberikan interaksi sosial dengan teman sebaya yang lebih berpengetahuan, memungkinkan siswa untuk maju melampaui tingkat kompetensi mereka saat ini. Hal-hal itu menunjukkan bahwa institusi pendidikan harus mengintegrasikan program tutoring teman sebaya yang terstruktur ke dalam mata kuliah writing EFL dan memberikan pelatihan serta sumber daya yang diperlukan kepada guru untuk melakukan scaffolding yang sesuai dengan tantangan-tantangan yang dimiliki setiap siswa. Penelitian di masa depan harus mengeksplorasi intervensi terarah untuk siswa dengan keterlibatan yang lebih rendah dan menyelidiki strategi-strategi untuk meningkatkan efektivitas tutoring teman sebaya dalam pembelajaran menulis EFL.
MAPPING GENERATIVE AI'S ETHICAL ISSUES IN HIGHER EDUCATION: A FELT-GUIDED SYSTEMATIC REVIEW [PEMETAAN ISU ETIKA GENERATIVE AI DI PENDIDIKAN TINGGI: TINJAUAN SISTEMATIS BERPANDUAN FELT]
The pervasive integration of generative AI (GenAI) into higher education presents transformative opportunities alongside complex ethical challenges that necessitate urgent scholarly attention. This study conducts a systematic literature review (SLR) following the rigorous Kitchenham protocol, analyzing 27 peer-reviewed articles published between 2023 and 2025 to comprehensively identify these ethical issues and map them against the ALT Framework for Ethical Learning Technologies (FELT). The SLR revealed seven prominent ethical concerns: (1) academic integrity and plagiarism, highlighting issues of unauthorized assistance and false authorship; (2) bias and fairness, manifested through algorithmic and linguistic biases; (3) data privacy and security, concerning unauthorized access and re-identification risks; (4) impact on critical thinking and learning outcomes, fostering over-reliance; (5) authorship, intellectual property, and copyright ambiguities; (6) misinformation, hallucinations, and deepfakes, eroding trust; and (7) broader environmental and labor impacts. Crucially, the mapping to FELT demonstrated that these issues collectively challenge institutional accountability, necessitate responsible learning paradigms, demand greater transparency in AI operations, and underscore the imperative for care towards individuals and societal well-being. Findings indicate a nascent and fragmented institutional response globally, driven by varied stakeholder perspectives. This research recommends a multi-faceted approach: fostering comprehensive AI literacy, adopting human-centered design, developing robust and adaptive policies, ensuring system transparency and accountability, strengthening data governance, advocating for ethical AI design, and promoting interdisciplinary collaboration. This study equips higher education stakeholders to navigate GenAI's ethical landscape and uphold core educational values by synthesizing current ethical dilemmas and offering a FELT-guided framework for responsible integration.
Abstrak Bahasa Indonesia
Integrasi kecerdasan buatan generatif (GenAI) yang meluas ke pendidikan tinggi menghadirkan peluang transformatif sekaligus tantangan etika yang kompleks dan memerlukan perhatian akademis yang mendesak. Studi ini melakukan tinjauan literatur sistematis (SLR) mengikuti protokol Kitchenham yang ketat, menganalisis 27 artikel peer-reviewed yang diterbitkan antara tahun 2023 dan 2025 untuk secara komprehensif mengidentifikasi isu-isu etika ini dan memetakannya terhadap Kerangka Kerja ALT untuk Teknologi Pembelajaran Etis (FELT). SLR ini mengungkapkan tujuh kekhawatiran etika yang menonjol: (1) integritas akademik dan plagiarisme, menyoroti isu-isu bantuan tidak sah dan kepengarangan palsu; (2) bias dan keadilan, termanifestasi melalui bias algoritmik dan linguistik; (3) privasi dan keamanan data, menyangkut akses tidak sah dan risiko re-identifikasi; (4) dampak pada pemikiran kritis dan hasil pembelajaran, mendorong ketergantungan berlebihan; (5) ambiguitas kepengarangan, kekayaan intelektual, dan hak cipta; (6) misinformasi, halusinasi, dan deepfake, mengikis kepercayaan; dan (7) dampak lingkungan dan tenaga kerja yang lebih luas. Secara krusial, pemetaan ke FELT menunjukkan bahwa isu-isu ini secara kolektif menantang akuntabilitas institusional, menuntut paradigma pembelajaran yang bertanggung jawab, membutuhkan transparansi yang lebih besar dalam operasi AI, dan menggarisbawahi keharusan untuk peduli terhadap individu dan kesejahteraan masyarakat yang lebih luas. Temuan mengindikasikan respons institusional yang masih baru dan terfragmentasi secara global, didorong oleh beragam perspektif pemangku kepentingan. Penelitian ini merekomendasikan pendekatan multi-aspek: membina literasi AI yang komprehensif, mengadopsi desain yang berpusat pada manusia, mengembangkan kebijakan yang kuat dan adaptif, memastikan transparansi dan akuntabilitas sistem, memperkuat tata kelola data, mengadvokasi desain AI yang etis, dan mempromosikan kolaborasi interdisipliner. Dengan menyintesis dilema etika saat ini dan menawarkan kerangka kerja berbasis FELT untuk integrasi yang bertanggung jawab, studi ini membekali pemangku kepentingan pendidikan tinggi untuk menavigasi lanskap etika GenAI dan menjunjung tinggi nilai-nilai inti pendidikan.
UPAYA GERAKAN MILK TEA ALLIANCE DALAM MERESPON OTORITARIANISME DI INDONESIA DAN THAILAND
The phenomenon of democratic backsliding and the resurgence of authoritarianism has become a major concern in Southeast Asia, including in Indonesia and Thailand. This study aims to analyze how transnational civil society movements, particularly the Milk Tea Alliance (MTA), respond to and resist authoritarianism in these two countries. Using the theory of Transnational Advocacy Networks (TANs) by Keck and Sikkink, this study identifies the strategies of information politics, symbolic politics, leverage politics, and accountability politics employed by the MTA. The research adopts a qualitative-descriptive approach with literature study as the main method. The findings indicate that the MTA has succeeded in building cross-national solidarity that strengthens local advocacy, despite facing challenges such as state repression and nationalist resistance. These findings contribute to the understanding of the role of global civil networks in supporting democratization and civil liberties amidst the current wave of authoritarianism.Fenomena kemunduran demokrasi dan bangkitnya otoritarianisme telah menjadi perhatian utama di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia dan Thailand. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana gerakan masyarakat sipil transnasional, khususnya Milk Tea Alliance (MTA), merespons dan melawan otoritarianisme di kedua negara tersebut. Dengan menggunakan teori Jaringan Advokasi Transnasional (Transnational Advocacy Networks/TANs) dari Keck dan Sikkink, penelitian ini mengidentifikasi strategi politik informasi, politik simbolik, politik leverage, dan politik akuntabilitas yang digunakan oleh MTA. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif-deskriptif dengan studi literatur sebagai metode utama. Temuan menunjukkan bahwa MTA berhasil membangun solidaritas lintas negara yang memperkuat advokasi lokal, meskipun menghadapi tantangan seperti represi negara dan resistensi nasionalisme. Temuan ini memberikan kontribusi dalam pemahaman peran jaringan sipil global dalam mendukung demokratisasi dan kebebasan sipil di tengah gelombang otoritarianisme saat ini
Kerja Sama Selatan-Selatan: Strategi untuk Mengurangi Ketergantungan pada Bantuan Kemanusiaan
This study aims to explore South–South Cooperation (SSC) strategies in reducing the structural dependence of recipient countries on traditional donors in humanitarian aid, using the dependency theory framework as an analytical tool. The method used is descriptive qualitative, based on literature review, where data were collected through systematic searches in Scopus using the keywords “South–South Cooperation,” “dependency theory,” and “humanitarian aid dependency.” Analysis was conducted using content analysis techniques: data reduction, thematic presentation, and triangulation of sources to ensure validity. The results of the study reveal three main strategies of SSC, namely (1) demand-driven technology transfer tailored to local needs, (2) technical training and institutional capacity building, and (3) a horizontal approach among countries that eliminates political conditionalities. Empirically, regression analysis of 27 projects showed an average decrease in external supply dependency of 34% and an increase in the institutional resilience index of 41% over three years of implementation. The main contribution of this study is to expand theoretical understanding of counter-dependency mechanisms and provide practical recommendations for responsive foreign policy, including developing a standardized monitoring-evaluation framework and strengthening regional training centers.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi Kerjasama Selatan-Selatan (KSS) dalam mengurangi ketergantungan struktural negara penerima terhadap donor tradisional dalam bantuan kemanusiaan, dengan menggunakan kerangka teori ketergantungan sebagai alat analisis. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, berdasarkan tinjauan literatur, di mana data dikumpulkan melalui pencarian sistematis di Scopus menggunakan kata kunci “Kerjasama Selatan-Selatan,” “teori ketergantungan,” dan “ketergantungan dalam bantuan kemanusiaan.” Analisis dilakukan menggunakan teknik analisis konten: reduksi data, presentasi tematik, dan triangulasi sumber untuk memastikan validitas. Hasil penelitian mengungkapkan tiga strategi utama KSS, yaitu (1) transfer teknologi yang didorong oleh permintaan dan disesuaikan dengan kebutuhan lokal, (2) pelatihan teknis dan pembangunan kapasitas institusional, dan (3) pendekatan horizontal antar negara yang menghilangkan syarat-syarat politik. Secara empiris, analisis regresi terhadap 27 proyek menunjukkan penurunan rata-rata ketergantungan pasokan eksternal sebesar 34% dan peningkatan indeks ketahanan institusional sebesar 41% selama tiga tahun implementasi. Kontribusi utama studi ini adalah memperluas pemahaman teoretis tentang mekanisme kontra-ketergantungan dan memberikan rekomendasi praktis untuk kebijakan luar negeri yang responsif, termasuk pengembangan kerangka kerja pemantauan dan evaluasi yang standar serta penguatan pusat pelatihan regional
Cultural Rights: A Bridge to Cosmopolitan Culture
This paper examines the conceptual foundations of cultural rights by situating them within the evolving understanding of culture and the broader human rights discourse. Drawing from contemporary scholarship, the analysis demonstrates that culture has shifted from a static, group-bound notion toward a fluid, meaning-making process, a shift that significantly influences how cultural rights are theorized and justified. The paper identifies key strengths of cultural rights, including their ability to prevent human rights violations, protect minority communities from both forced assimilation and cultural oppression, preserve cultural diversity, and foster conditions for peaceful coexistence. At the same time, the paper highlights several conceptual limitations, such as the risks of cultural relativism, the instrumentalization of cultural rights by states, and the homogenizing pressures of globalization. By bringing these strengths and limitations into conversation with theories of cosmopolitanism, the paper argues that cultural rights have the potential to act as a bridge toward cosmopolitan culture—one characterized by mutual recognition, dialogue, and respect for diversity. Ultimately, this study suggests that while cultural rights are imperfect, their continued development and thoughtful implementation could meaningfully contribute to a more inclusive and globally connected cultural sphere.Tulisan ini menelaah fondasi konseptual hak budaya dengan menempatkannya dalam perkembangan pemahaman tentang budaya serta diskursus hak asasi manusia yang lebih luas. Dengan merujuk pada literatur kontemporer, analisis ini menunjukkan bahwa konsep budaya telah bergeser dari pengertian statis yang terikat pada kelompok menuju proses penciptaan makna yang dinamis, suatu perubahan yang berdampak signifikan terhadap cara hak budaya dipahami dan dibenarkan. Tulisan ini mengidentifikasi sejumlah kekuatan hak budaya, termasuk kemampuannya mencegah pelanggaran hak asasi, melindungi komunitas minoritas dari asimilasi paksa maupun penindasan budaya, menjaga keberagaman budaya, serta menciptakan kondisi bagi koeksistensi yang damai. Pada saat yang sama, tulisan ini menyoroti beberapa keterbatasan konseptual, seperti risiko relativisme budaya, penggunaan hak budaya secara instrumental oleh negara, dan tekanan homogenisasi akibat globalisasi. Dengan mempertemukan kekuatan dan keterbatasan ini dalam dialog dengan teori kosmopolitanisme, tulisan ini berargumen bahwa hak budaya memiliki potensi menjadi jembatan menuju budaya kosmopolitan—suatu budaya yang ditandai oleh pengakuan timbal balik, dialog, dan penghormatan terhadap keberagaman. Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan bahwa meskipun tidak sempurna, pengembangan dan penerapan hak budaya secara kritis dapat berkontribusi pada ruang budaya global yang lebih inklusif dan saling terhubung