Buletin Ilmu Kebidanan dan Keperawatan
Not a member yet
58 research outputs found
Sort by
Pengetahuan dan Kesiapan Ibu Pramenopause Menghadapi Gejala Vegetatif Masa Menopause
Pramenopause merupakan masa dimana tubuh mulai bertransisi menuju menopause. Masa ini bisa terjadi selama 28 tahun, dan ditambah 1 tahun di akhir menuju menopause. Masa pramenopause biasanya terjadi pada usia di atas 40 tahun, tetapi banyak juga yang mengalami perubahan ini saat usia masih di pertengahan 30 tahun. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan terdapat 32 ibu pramenopause dengan usia 40-50 tahun dan kurangnya kesiapan ibu dalam menghadapi menopause seperti ibu tidak memperhatikan gaya hidupnya, tidak berolahraga secara teratur, kurangnya makanan yang bergizi, ibu hanya makan dengan menu seadanya, dan ibu sering stres karena banyak fikiran. Tujuan penelitian ini menganalisis hubungan pengetahuan dengan kesiapan ibu pramenopause menghadapi gejala vegetatif masa menopause. Desain penelitian menggunakan analitik dengan pendekatan cross sectional. Variabel dependen tingkat penegtahuan. Variabel independen kesiapan menghadapi gejala vegetatif masa menopause. Populasi 32 responden, sampel 30 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan probability sampling dengan teknik Simple Random Sampling. Instrumen pengumpulan data menggunakan lembar kuesioner. Uji statistik menggunakan uji Spearman Rank dengan (a=0.05). Penelitian ini sudah di uji etik oleh tim KEPK STIKes Ngudia Ngudia Husada Madura. Hasil penelitian pengetahuan tentang menopouse sebagian besar menunjukan kurang. Kesiapan masa menopouse sebagian besar menunjukan tidak siap. Setelah dilakukan uji statistic Spearman Rank dengan hasil uji (p=0,000) < (a=0.05). Demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan pengetahuan tantang menopause kurang dengan kesiapan ibu pramenoapuase menghadapi gejala vegatatif masa menopause. Diharapkan kepada responden untuk dapat meningkatkan pengetahuan dengan baik dan benar supaya dapat meningkatkan kesiapan dalam menghadapi pramenoapuase dan gejala vegatatif masa menopause
Literature Review: Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita
Stunting (kerdil) adalah kondisi balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Pada tahun 2010 terjadi sedikit penurunan stunting menjadi 35,6%. Namun prevalensi stunting kembali meningkat pada tahun 2013, yaitu menjadi 37,2%. Menurut Kemenkes RI 2018, hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2015 prevalensi stunting di Indonesia adalah 29%. Angka ini mengalami penurunan pada tahun 2016 menjadi 27,5%, namun kembali meningkat menjadi 29,6% pada tahun 2017. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita. Penelitian ini merupakan penelitian sekunder dengan desain Literature Review dengan melakukan pencarian di Google Scholar melalui tahapan pemilihan sesuai kriteria inklusi sehingga mendapatkan 7 jurnal dari 7 jurnal yang berbeda yang berkaitan dengan topik pembahasan. Dari 7 jurnal yang didapat, terdapat variabel yang berhubungan yaitu BBLR, asi eksklusif, kelompok usia, tinggi badan ibu, CTPS, imunisasi dasar tidak lengkap, jenis kelamin, IMD, waktu pertama pemberian mp-asi yang terlalu dini, tingkat kecukupan zat besi dan seng, tingkat pendidikan ibu, pendapatan keluarga, pelaksanaan kadarzi dan phbs. Variabel yang tidak berhubungan yaitu : Jumlah anggota rumah tangga, asupan energi, asupan protein, status pekerjaan ibu. Dinas Kesehatan bekerjasama dengan Puskesmas dan Posyandu memberikan sarana dan prasarana yang dibutuhkan serta memberikan makanan tambahan untuk anak balita serta memberikan penyuluhan tentang pentingnya status gizi dan pemberian asupan zat gizi pada anak balita. Ibu/keluarga harus melakukan pemantauan peetumbuhan dan perkembangan pada balita secara rutin ke posyandu dan memberikan asupan nutrisi yang baik untuk balita agar tidak terjadi stunting
Knowledge, Attitudes and Behaviors of the Adolescent Reproductive Health Triad: Case Study at the Vocational High School
Puberty is experienced by every teenager which is characterized by the maturity of the reproductive organs thus triggering the sexual impulse. If the sexual drive in adolescents is not controlled then it is at risk to the Adolescent Reproductive Health Triad. The purpose of the study was to determine the relationship between knowledge and attitudes with the behavior of the Reproductive Health Triad at SMK Duta Pratama Indonesia Tasikmalaya City in 2021. This type of research is an analytical survey using a cross sectional design. The population and sample of this study are all students of SMK Duta Pratama Indonesia based on inclusion criteria. The instrument uses Gform and the data are analyzed univariately and bivariately. The results showed that the average knowledge score was 4.54, the average attitude score was 17.21, and the average behavior score was 5.51. There is no relationship between knowledge and behavior of the Adolescent Reproductive Health Triad p value = 0.135, and there is a relationship between attitudes and behavior of the Adolescent Reproductive Health Triad p value = 0.043. From the results of the study, it can be concluded that there is no relationship between knowledge and behavior of the Adolescent Reproductive Health Triad and there is a relationship between attitudes and behaviors of the Adolescent Reproductive Health Triad. It is hoped that the school can instill spiritual values and provide adolescent reproductive health education in preventing risky behaviors in students
Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Sikap Ibu Menghadapi Premenopause
remenopause adalah suatu kondisi fisiologi pada perempuan saat memasuki masa penuaan yang ditandai turunnya kadar hormon estrogen pada ovarium. Masa premenopause akan terjadi perubahan, yaitu mulai menurunnya fungsi reproduksi, perubahan hormon, perubahan fisik, maupun perubahan psikis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara tingkat pengetahuan dengan sikap ibu menghadapi premenopause di Desa Gulurejo Kecamatan Lendah Kulon Progo. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif korelasional dengan metode cross sectional. Penelitian dilakukan di Desa Gulurejo dengan populasi ibu premenopause di Desa Gulurejo yang berumur 40-50 tahun sebanyak 201 orang. Sampel penelitian sebanyak 74 responden yang diambil dengan teknik random sampling dan yang memenuhi kriteria inklusi, eksklusi. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan kuesioner, selanjutnya data yang telah dikumpulkan dianalisis menggunakan uji korelasi spearman rank. Hasil penelitian tingkat pengetahuan dan sikap cukup sebanyak 48 responden (64.9%), 51 responden (68.9%). Hasil uji statistic menggunakan uji korelasi spearman rank diperoleh nilai p-value = 0,002 (p<0,05) dengan hasil uji keeratan hubungan menunjukkan nilai r = 0,347 (0,200-0,399)
Faktor Risiko Kesehatan pada Anak Sekolah Dasar
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar bahwa 10 besar faktor risiko anak usia sekolah pada usia 10-14 tahun antara lain kurang konsumsi sayur dan buah sebesar 93,6%, tidak menggosok gigi setelah makan pagi sebesar 87,5 %, konsumsi makanan berpenyedap 75,7 %, tidak menggosok gigi sebelum tidur malam sebesar 71,3%, kurang aktivitas fisisk sebesar 66,9%, konsumsi makanan manis sebesar 63,1 %, perilaku BAB tidak benar sebesar 32,8%, konsumsi makanan asin sebesar 24,4%, dan pernah merokok sebesar 0,9%. Kajian ini betujuan untuk mengetahui gambaran faktor risiko kesehatan pada anak sekolah di SD N Cikadongdong Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2018. Penelitian ini adalah penelitian observasional kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua anak SD N Cikadongdong tahun ajaran 2017/2018. Sampel penelitian ini adalah anak SD N Cikadongdong kelas 3 sampai dengan kelas 6 dengan teknik pengambilan sampling secara simple random sampling berjumlah 50 anak SD. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat. Dari hasil kajian diketahui bahwa perilaku pada anak SD N Cikadongdong secara umum sudah baik. Faktor risiko kesehatan pada anak SD N Cikadongdong paling tinggi adalah tidak menggunakan masker pada saat batuk atau pilek (60%), sedangkan paling rendah adalah BAK di sembarang tempat/tidak di toilet (4%). 
Kemaknaan Lengkung Kurvatura dan Rib Hump pada Skrining Risiko Skoliosis
Indikator klinis pada skoliosis khususnya pada remaja (misalnya kelengkungan lateral; tulang rusuk (rib hump), pinggul dan asimetris bahu) biasanya muncul di awal masa remaja dan dapat menyebabkan deformitas fisik, penurunan harga diri rendah, tingkat depresi yang lebih tinggi dan kompromi paru. Kajian ini menjelaskan subjek skrining skoliosis di sekolah. Fokus kajian adalah dengan tinjauan literatur kemaknaan lengkung kurvatura dan rib hump pada pemeriksaan skrining risiko skoliosis di sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian tinjauan literatur. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa artikel yang relevan dari Scopus, PubMed, Science Direct, CINAHL, ProQuest dan Garuda. Dengan pelaksanaan skrining skoliosis terutama pada usia remaja adalah untuk menurunkan dan menghentikan progresifitas kurvatura skoliosis pada tulang belakang di usia pertumbuhan sebelum maturitas skeletal terbentuk sempurna, dengan harapan melalui deteksi dini dapat mempercepat penetapan diagnosis skoliosis sehingga tatalaksana yang sesuai dapat segera diberikan
Pengelolaan Well-being Lansia Melalui Program Integrasi Sekolah Lansia
Program Sekolah Lansia yang merupakan hasil kerjasama lembaga Indonesia Ramah Lansia (IRL) dan BKKBN Provinsi DIY yang ditumbuhkan untuk mengantisipasi peningkatan jumlah penduduk lanjut usia (lansia), salah satunya Bina Keluarga Lansia (BKL) Manunggal Asih Saptosari Gunungkidul. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran Program Integrasi Sekolah Lansia Dalam Bina Keluarga Lansia (ISL-BKL) pada tahapan masukan, proses dan keluarannya. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey untuk mengungkap aspek masukan, proses dan keluaran program. Dari hasil kajian, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan Program ISL-BKL sesuai dengan buku panduan. Beberapa perbedaan terletak pada metode, teknis pelaksanaan, durasi dan fasilitator. Perbedaan tersebut dikarenakan adanya penyesuaian kondisi pandemi Covid-19 saat ini
Afirmasi Positif pada Klien dengan Ketidakberdayaan di Palembang: Studi Kasus di Palembang
Ketidakberdayaan dapat terjadi pada orang yang menderita penyakit terminal dan dapat menimbulkan masalah fisik dan gangguan psikologis yang dapat mempengaruhi kondisi pasien. Masalah ketidakberdayaan i harus ditangani dengan baik karena jika tidak ditangani dapat berkembang menjadi risiko bunuh diri dan keputusasaan.Tujuan: Untuk mengetahui bagaimana pengaruh pemberian latihan afirmasi positif pada klien dengan ketidakberdayaan di Rumah Singgah Muratara Palembang. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif case study research (CSR) atau studi kasus dengan satu responden yang mengalami masalah ketidakberdayaan. Intervensi dilakukan selama 7 hari dan pengambilan data menggunakan observasi, wawancara dan instrumen LHS. Hasil : Berdasarkan hasil intervensi yang diberikan didapatkan bahwa skor ketidakberdayaan pada klien sebelum dilakukan intervensi latihan afirmasi positif yaitu 56 dan setelah dilakukan intervensi mengalami penurunan skor ketidaberdayaan yaitu 20. Kesimpulan : Latihan afirmasi positif mempunyai pengaruh terhadap penurunan tingkat ketidakberdayaan pada klien dengan ketidakberdayaan di Rumah Singgah Muratara Palembang karena afirmasi positif membantu klien untuk meningkatkan harga diri serta membebaskan diri dari pikiran negatif sehingga harapan hidup klien untuk menjadi lebih baik semakin meningkat