Unissula Repository
Not a member yet
32889 research outputs found
Sort by
AKTIVITAS AIR PERASAN DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) PADA BIOFILM BAKTERI PSEUDOMONAS AERUGINOSA
Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri berbentuk batang, bersifat gram negatif, memiliki kemampuan membentuk biofilm di dalam media biakan dan substrat yang dilekatinya. Daun pepaya diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti kaemferol dan myricetin (golongan flavonoid), terpenoid, papain, saponin, dan tanin yang berpotensi sebagai antibiofilm. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas air perasan daun pepaya (Carica papaya L.) terhadap degradasi biofilm bakteri Pseudomonas aeruginosa.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni, dengan desain posttest-only control grup design secara in vitro. Metode Microtiter Plate Biofilm Assay digunakan untuk mengukur degradasi biofilm Pseudomonas aeruginosa. Data berskala rasio, kemudian dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis, dan dilanjut dengan uji Mann Whitney menggunakan SPSS versi 25.
Hasil penelitian didapatkan bahwa nilai Optical Density kelompok 25% v/v (2,44±0,21) , kelompok 62,5% v/v (2,27±0,14), dan kelompok 100% v/v (1,32±0,70) berbeda secara signifikan (p<0,05).
Kesimpulan dari penelitian ini adalah air perasan daun pepaya dengan variasi konsentrasi 25% v/v, 62,5% v/v, dan 100% v/v mampu mendegradasi biofilm bakteri Pseudomonas aeruginosa.
Kata kunci: pseudomonas aeruginosa, biofilm, dan daun pepay
PERBEDAAN NILAI ANKLE BRACHIAL INDEX (ABI) ANTARA OBESITAS SENTRAL DAN NON OBESITAS SENTRAL Studi Observasional Analitik Pada Pasien Rawat Jalan di Puskesmas Genuk Semarang
Obesitas sentral menjadi faktor risiko PAP karena komplikasi aterosklerosis pada ekstremitas bawah. Penyakit Arteri Perifer (PAP) sering ditemukan di masyarakat namun sulit dideteksi di faskes primer, karena 50% kasus PAP tidak menimbulkan gejala apapun. Kurangnya deteksi dini PAP dapat memperburuk prognosis pasien. Ankle Brachial Index (ABI) dapat memonitor perkembangan aterosklerosis dan penanda prognostik meski tanpa manifestasi klinis PAP. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan nilai ABI antara obesitas sentral dan non obesitas sentral pada pasien rawat jalan di Puskesmas Genuk Semarang.
Penelitian ini merupakan studi observasional dengan desain cross sectional. Data diambil pada satu waktu tertentu dengan mengukur lingkar perut untuk dikategorikan sebagai data obesitas sentaral dan non obesitas sentral serta pengukuran tensi seluruh ekstremitas lalu dibagi antara sistolik tertinggi ankle dan brachial hingga didapatkan nilai ABI. Jumlah sampel sebanyak 38 responden dengan rentang usia 25-70 tahun, tidak sedang hamil, tidak mengkonsumsi kafein dan tidak berolahraga satu jam sebelum pemeriksaan. Data dianalisis menggunakan Uji Independent Sample T-Test.
Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik responden rata-rata memiliki usia 43 tahun, IMT sebesar 26,1 kg/m2, dan rerata lingkar perut 93 cm, sedangkan sebagian besar jenis kelamin responden adalah perempuan 26 responden (69,4%) dan obesitas sentral 29 responden (76,3%). Analisis bivariat menunjukan bahwa terdapat perbedaan nilai ABI yang signifikan antara obesitas sentral dan non obesitas sentral pada pasien rawat jalan Puskesmas Genuk Semarang (p– value=0,000). Rerata nilai ABI pada pasien obesitas sentral sebesar 0,91 lebih rendah dibandingkan pasien non obesitas sentral sebesar 1,01.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan nilai ABI yang signifikan antara obesitas sentral dan non obesitas sentral (p-value <0,05) pada pasien rawat jalan di Puskesmas Genuk Semarang.
Kata kunci: obesitas sentral; nilai Ankle Brachial Index; nilai AB
HUBUNGAN USIA IBU DAN PARITAS DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA KEHAMILAN Studi Observasional di RSI Sultan Agung Semarang
Anemia pada kehamilan adalah kondisi dimana kadar hemoglobin dalam darah kurang dari 11 gr/dL yang dapat membayakan ibu dan janin. Kejadian anemia pada kehamilan dapat dipengaruhi oleh faktor usia ibu, jumlah paritas, jarak kehamilan, pekerjaan, tingkat pendidikan, suplementasi zat besi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan usia ibu dan paritas dengan kejadian anemia pada kehamilan di RSI Sultan Agung Semarang.
Penelitian ini menggunakan desain cross sectional di RSI Sultan Agung Semarang periode tahun 2020 – 2023. Teknik pengambilan sampel yaitu dengan purposive sampling. Data dianalisis menggunakan uji Chi Square (X2) dan Uji Fisher Exact.
Sampel pada penelitian ini berjumlah 52 responden ibu hamil dengan anemia pada kehamilan yang dirawat di RSI Sultan Agung Semarang. Terdiri dari anemia ringan 27 responden (51,9%) dan anemia sedang – berat 25 responden (49,1%). Ibu dengan usia tidak beresiko 36 responden (69,2%) dan beresiko 16 responden (30,8%). Paritas tidak beresiko 50 responden (96,2%) dan beresiko 2 responden (3,8%). Hasil analisis data menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara anemia pada kehamilan dengan usia ibu (p value = 0,432) dan paritas (p value = 0,226).
Kesimpulan dari penelitian ini tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia ibu dan paritas dengan anemia pada kehamilan di RSI Sultan Agung Semarang. Hal ini dikarenakan mayoritas responden dalam penelitian ini adalah usia ibu tidak beresiko dan paritas tidak beresiko.
Kata kunci : Anemia pada kehamilan, usia ibu, parita
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU PERAWAT TERHADAP KESELAMATAN PASIEN Studi Observasional di Bangsal Rawat Inap Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang
Keselamatan pasien di bangsal rawat inap rumah sakit dipengaruhi oleh pengetahuan dan perilaku staf khususnya perawat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan perilaku perawat terhadap keselamatan pasien pada perawat diruang rawat inap di RSI Sultan Agung Semarang.
Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional menggunakan data primer. Pengambilan sampel 71 perawat bangsal rawat inap RSI Sultan Agung Semarang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi menggunakan teknik consequtive sampling pada bulan Januari 2023. Data pengetahuan dan perilaku perawat terhadap keselamatan pasien dinilai menggunakan kuesioner. Data berskala interval dan dianalisis dengan metode uji Spearman menggunakan SPSS versi 25.
Hasil uji Spearman didapatkan nilai p= 0,456. Analisis data menunjukkan skor pengetahuan perawat tertinggi 25, skor terendah 17 dan median 22. Skor tertinggi diperoleh pada definisi, tujuan, serta empat sasaran keselamatan pasien, sedangkan skor terendah diperoleh pada identifikasi pasien dan komunikasi efektif. Prosedur keselamatan pasien mendapatkan skor tertinggi 24, skor terendah 21 dan median 24. Secara keseluruhan prosedur keselamatan pasien sudah dilakukan oleh perawat bangsal rawat inap kecuali prosedur mengenai pengkajian ulang pasien berisiko jatuh belum dilakukan.
Kesimpulan penelitian ini tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku perawat terhadap keselamatan pasien di bangsal rawat inap RSI Sultan Agung Semarang.
Kata kunci : pengetahuan, perilaku, keselamatan pasien, perawa
PENGARUH KRIM EKSTRAK DAUN PEGAGAN (Centella asiatica) TERHADAP EKSPRESI INTERLEUKIN-1 α DAN SUNBURN SEL (Study Eksperimental invivo pada Mencit Jantan Balb-C Dipapar Sinar UVB Akut)
Latar belakang: Paparan UVB dapat dapat menginduksi kerusakan DNA pada sel-sel keratinosit sehingga meningkatkan kadar ROS yang dipicu akibat pelepasan sitokin proinflammasi IL-1α dan apoptosis (sunburn) sel keratinosit. Ekstrak daun pegagan mengandung berbagai metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin yang terbukti memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh pemberian krim ekstrak daun pegagan terhadap ekspresi IL-1α dan sunburn sel pada mencis balb-c yang diinduksi UVB akut.
Metode: Penelitian eksperimental dengan post test control group yang terdiri dari 4 kelompok yaitu kelompok kontrol normal, kontrol neagtif, kelompok ekstrak krim daun pegagan 10% (P1) dan krim ekstrak daun pegagan 20% (P2). Mencit masing-masing dipapar UVB dengan alat sinar UV-B light broadband dengan dosis 1 Minimal Eriteme Dose (MED) atau energi 360 mJ/cm² lama pemaparan 6 menit selama 5 hari dengan jarak 30 cm dari permukaaan kulit mencit, sedangkan pada kelompok normal tidak dipapar UVB. Pada P1 dan P2 diberi krim ekstrak daun pegagan 10% dan 20% setiap hari selama 5 hari, sedangkan kontrol negatif menerima base krim. Pada hari ke 6 dilakukan pengambilan sample jaringan dan dianalisis ekspresi IL-1α mengunakan IHC dan sunburn sel menggunakan H&E staining.
Hasil: Ekspresi IL-1α pada kelompok perlakuan mengalami penurunan seiring dengan peningkatan dosis pemberian, P2 memiliki ekspresi IL-1α (43,33±7,60), P1 (48,33±8,33), kontrol negatif (69,17±9,17), dan kontrol normal (50,00±1,91). Jumlah sunburn sel juga mengalami penurunan pada kelompok P1 (1,08±0,15) dan P2 (1,20±0,19) jika di bandingkan dengan kelompok kontrol negatif (1,48±0,17).
Kesimpulan: Pemberian krim ekstrak daun pegagan dapat menurunkan ekspresi gen IL-1α dan jumlah sunburn sel pada jaringan kulit mencit yang diinduksi sinar UVB akut.
Kata Kunci: Daun pegagan, IL-1α , sunburn sel, UVB akut
PENGARUH PEMBERIAN INJEKSI EXOSOME HYPOXIA MESENCHYMAL STEMCELLS TERHADAP KADAR GLUTATHIONE PEROXIDASE (GPx) DAN TUMOR NECROSIS FACTOR ALPHA (TNF-α) (Studi Eksperimental In vivo pada Tikus Wistar Model Collagen Loss yang Diinduksi Sinar Ultraviolet B)
Latar Belakang: Radiasi ultraviolet B (UVB) yang terus-menerus memapar kulit manusia dapat menyebabkan inflamasi kronis yang mengakibatkan penurunan kolagen dan berujung pada kehilangan kolagen. Tikus tanpa paparan UVB digunakan sebagai kelompok kontrol sehat (K1).
Metode: Tikus yang mengalami penurunan densitas kolagen pasca paparan UVB dikelompokkan sebagai tikus yang mengalami kehilangan kolagen dan dibagi menjadi 4 perlakuan: K2 (tikus terpapar UVB dan injeksi Sodium Chloride 0,9% 200uL secara subkutan), K3 (tikus terpapar UVB dan injeksi Hyaluronic Acid 200uL secara subkutan), K4 dan K5 (tikus terpapar UVB dan injeksi EH-MSC masing-masing 200uL dan 300uL secara subkutan).
Hasil: Analisis menunjukkan kelompok K1 memiliki kadar TNF-α terendah (72,08±18,30 pg/mL), diikuti oleh K5 (107,97±24,06 pg/mL), K4 (122,68±18,95 pg/mL), K2 (208,84±53,80 pg/mL), dan K3 dengan kadar TNF-α tertinggi (216,80±56,27 pg/mL). Injeksi EH-MSC secara subkutan pada K4 dan K5 menurunkan kadar TNF-α dibandingkan dengan K2. Kadar GPx tertinggi tercatat pada K5 (722,60±57,67 pg/mL), sedangkan K2 memiliki kadar GPx terendah (46,90±11,29 pg/mL). K1 memiliki kadar GPx rata-rata (52,13±37,73 pg/mL), diikuti K3 (145,04±26,57 pg/mL) dan K4 (313,90±101,39 pg/mL). Terdapat variasi signifikan dalam kadar GPx antara kelompok-kelompok tersebut.
Kesimpulan: Terdapat perbedaan kadar TNF-α dan GPx pada kelompok K4 dan K5 yang diinjeksi EH-MSC subkutan dosis 200uL dan 300uL dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Kata Kunci : EH-MSC, Collagen Loss, TNF alpha, GP
PENGARUH KRIM EKSTRAK TAPAK DARA (Catharanthus roseus) TERHADAP KADAR MATRIX METALLOPROTEINASE-1 (MMP-1) DAN INTERLEUKIN-6 (IL-6) (Studi Eksperimental in Vivo pada Tikus Jantan Galur Wistar yang Diinduksi Sinar UVB)
Latar Belakang : Paparan berkelanjutan terhadap UVB dapat merusak struktur kulit, memicu inflamasi dan penuaan. Penelitian menunjukkan ekstrak Tapak Dara dapat mengurangi inflamasi dan berpotensi mengatasi efek negatif paparan UVB pada kulit. Penelitian bertujuan mengkaji peran ekstrak krim Tapak Dara dosis 10% dan 20% terhadap kadar IL-6 dan MMP-1.
Metode Penelitian : Penelitian menggunakan 5 perlakuan, K1 (tikus sehat), K2 (tikus terpapar UVB dengan krim dasar, K3 (tikus terpapar UVB dengan krim vitamin E, K4 (tikus terpapar UVB dengan ekstrak Tapak Dara 10%) dan K5 (tikus terpapar UVB dengan ekstrak Tapak Dara 20%). Tikus dipapar UVB 1 MED selama 8 menit sebanyak 10 kali dalam 14 hari. Perlakuan diberikan setiap hari selama 14 hari dan tikus diterminasi 24 jam setelah perlakuan terakhir. Analisis kadar IL-6 dan MMP-1 dilakukan menggunakan metode ELISA.
Hasil : Kadar IL-6 pada K1(40,0±28,5 pg/mL), K2 (277,5±27,5 pg/mL), K3 (200,8±27,5 pg/mL), K4 (202,0±44,4 pg/mL), dan K5 (188,6±40,6 pg/mL). Analisa K4 dan K5 lebih rendah dibandingkan dengan K2 (p0,05). K4 dan K5 lebih tinggi secara signifikan dibanding K1 (p<0,05). Kadar MMP-1 pada K1 (353±67 pg/mL), K2 (3675±456 pg/mL), K3 (2756±177 pg/mL), K4 (2121±92 pg/mL), dan K5 (1611±344 pg/mL). Kadar MMP-1 perlakuan K4 dan K5 lebih rendah dibanding dengan K2 dan K3 secara signifikan (p<0,05) namun lebih tinggi secara signifikan dibanding K1 (p<0,05).
Kesimpulan : Terdapat perbedaan kadar IL-6 dan MMP-1 pada tikus model kehilangan kolagen setelah pemberian krim ekstrak Tapak Dara kadar 10 % dan 20%.
Kata Kunci : UVB, ekstrak Tapak Dara, MMP-1, IL-
PENGARUH PEMBERIAN EXOSOME MESENCHYMAL STEM CELLS TERHADAP EXPRESI SOD dan Nrf2 (Studi Eksperimental in Vivo Pada Tikus Wistar Jantan yang diinduksi sinar UV-B)
Latar Belakang : Paparan kronik sinar Ultraviolet B (UV-B) menimbulkan peningkatan kadar nitrit oksida (NO) dan reactive oxygen species (ROS) yang berdampak pada penurunan jumlah kolagen di kulit. Peningkatan kadar NO dan ROS dapat menginduksi menghambat fosforilasi protein kinase B (Akt) pathway sehingga menghambat pelepasan nuclear factor erythroid 2-related factor 2 (Nrf2). Nrf2 yang tidak terikat dengan Kaep1 menghambat produksi enzim antioksidan seperti superoxide dismuthase (SOD)
Tujuan : untuk mengetahui pengaruh pemberian exosome mesenchymal stem cells (E-MSCs) terhadap ekspresi gen SOD dan Nrf2 pada tikus model dipapar sinar UV-B.
Metode : Penelitian merupakan penelitian eksperimental in-vivo yang menggunakan rancangan penelitian berupa post test only control group dengan metode rancang acak lengkap. Subjek pada penelitian ini merupakan Tikus jantan Galur Wistar berusia 2-3 bulan dengan bobot badan 200-250 gram. Tikus putih jantan Galur Wistar dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok K1 (tikus sehat tanpa paparan UV-B), K2 (tikus dipapar UV-B tanpa perlakuan), K3 (tikus dipapar UV-B dengan perlakuan HA dosis 200uL secara subkutan), K4 (tikus dipapar UV-B dengan perlakuan E-MSCs dosis 200uL secara subkutan) dan K5 (tikus dipapar UV-B dengan perlakuan E-MSCs dosis 300uL secara subkutan).
Hasil : Rerata SOD (15,9083,395) dan Nrf2 (6,4862,195) tertinggi pada K5, diikuti dengan K4 SOD (8,8342,092) dan Nrf2 (4,0940,703), K3 SOD (5,2400,361) dan Nrf2 (3,1860,616), K2 SOD (4,5161,336) dan Nrf2 (2,4300,485), dan K1 SOD dan Nrf2 (1,0000,000). Uji Kruskall Wallis SOD dan Nrf2 menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap antar kelompok dengan nilai p=0,000.
Kesimpulan : Pemberian E-MSCs secara subkutan dengan dosis 300μl meningkatkan ekspresi SOD dan gen Nrf2 pada tikus model collagen loss yang dipapar sinar UV-B MSCs dibandingkan kontrol secara in vivo.
Kata Kunci : E-MSCs, SOD, Nrf2, dan Collagen Los
STUDI PENERAPAN BRANDING “KAMPUNG TEDUH” TERHADAP DAYA TARIK OBJEK WISATA PANTAI LAKOTA, DESA WAHA, PULAU TOMIA, KABUPATEN WAKATOBI
Desa Waha merupakan tujuan wisata di wilayah Kabupaten Wakatobi, yang di kenal sebagai Branding “Kampung Teduh. Desa waha memiliki tempat wisata salah satunya adalah Pantai Lakota, yang mana Pantai Lakota terse telah di Branding. Kampung Teduh adalah branding Pantai Lakota yang artinya kampung dengan ketenangan.Tujuan penelitian ini adalah Menganalisis Penerapan Branding “Kampung Teduh” Terhadap Daya Tarik Objek Wisata Pantai Lakota, Pulau Tomia, Kabupaten Wakatobi. Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ada metode Kualitatif Deduktif Rasionalistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Branding "Kampung Teduh" di Pantai Lakota, Desa Waha, telah dikenal luas oleh masyarakat dan wisatawan. Pantai Lakota menonjolkan keindahan view, kawasan pesisir, panorama laut, dan terumbu karangnya. Pembangunan Pantai Lakota memberikan dampak positif terhadap perekonomian, khususnya di Desa Waha, dengan partisipasi aktif pengelola pantai dan masyarakat dalam memperkenalkan Branding "Kampung Teduh" melalui berbagai kegiatan menarik. Upaya pelestarian lingkungan dilakukan dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan pembinaan di forum tata kelola wisata. Pemerintah dan masyarakat Desa Waha juga berperan aktif dalam mempromosikan Branding "Kampung Teduh" melalui interaksi langsung dengan wisatawan dan media sosial. Atraksi budaya seperti ritual safara menjadi daya tarik tambahan di kampung yang nyaman dan aman ini. Pantai Lakota, dengan lokasinya yang strategis dekat dengan pelabuhan, menarik banyak wisatawan untuk mengunjunginya, yang pada gilirannya membuka peluang lapangan pekerjaan bagi warga setempat.
Kata Kunci: Branding, Daya Tarik, Objek Wisat