Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Not a member yet
529 research outputs found
Sort by
Workshop Penulisan Artikel Publikasi Ilmiah Bagi Guru SMP Kabupaten Nganjuk Untuk Peningkatan Kualitas Publikasi Guru
Banyak guru di SMP Kabupaten Nganjuk yang mengalami kesulitan untuk kenaikan pangkat sebab ada persyaratan menulis artikel ilmiah. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya mensyaratkan untuk mendapat kenaikan pangkat harus memiliki artikel publikasi ilmiah. Pada praktiknya para guru di SMP Kabupaten Nganjuk masih mengalami kesulitan dan belum produktif untuk menulis karya dalam bentuk artikel ilmiah yang berkualitas. Gugus Kerjasama, Publikasi, dan Internasionalisasi (KPI) Pascasarjana Univeristas Negeri Surabaya menjadikan permasalahan tersebut sebagai dasar urgensi pelaksanaan Kegiatan Workshop Penulisan Artikel Publikasi Ilmiah. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan kontribusi positif dan nyata kepada guru SMP di Kabupaten Nganjuk. Kegiatan tersebut meliputi identifikasi masalah, penulisan artikel ilmiah, praktek mendeley, submit artikel pada jurnal online dan pengisian angket responden. Hasil kegiatan yang diselenggarakan menunjukkan bahwa respon peserta pelatihan selama mengikuti workshop penulisan artikel publikasi ilmiah menunjukkan reaksi yang positif. Penyajian materi oleh tim dalam workshop, kualitas narasumber, dan kualitas pelaksanaan pelatihan menunjukkan respon yang baik dari peserta pelatihan. Berdasarkan hasil kegiatan tersebut dapat disimpulkan bahwa pelatihan ini dapat meningkatkan kualitas publikasi guru. Perlu pelatihan berkelanjutan yang sejenis dalam rangka meningkatkan pemahaman guru tentang penulisan artikel ilmiah di masa mendatang.
Scientific Publication Article Writing Workshop for Nganjuk Middle School Teachers: To Improve the Quality of Teacher Publications
Many teachers at the Nganjuk Junior High School have difficulty getting promoted because there is a requirement to write scientific articles. Regulation of the Minister of State for the Empowerment of State Apparatus and Bureaucratic Reform No. 16 of 2009 concerning Teacher Functional Positions and Credit Scores requires that to get a promotion one must have scientific publication articles. In practice, teachers at SMP Nganjuk Regency still have difficulty and are not yet productive to write works in the form of quality scientific articles. The Postgraduate Cooperation, Publication, and Internationalization (KPI) Group at the State University of Surabaya made this problem the basis for the urgency of implementing the Scientific Publication Article Writing Workshop Activities. This activity aims to make a positive and tangible contribution to junior high school teachers in Nganjuk Regency. These activities include problem identification, scientific article writing, Mendeley practice, submitting articles to online journals and filling out respondent questionnaires. The results of the activities carried out showed that the response of the training participants during the workshop on writing scientific publication articles showed a positive reaction. The presentation of material by the team in the workshop, the quality of the resource persons, and the quality of the training implementation showed a good response from the training participants. Based on the results of these activities, it can be concluded that this training can improve the quality of teacher publications. Similar continuous training is needed in order to improve teachers' understanding of writing scientific articles in the future
Meningkatkan Keterampilan Guru SMAN 2 Sungai Penuh Dalam Mempublikasikan Artikel Ilmiah Ke Jurnal Bereputasi
Berdasarkan hasil survey, sebagian kalangan pendidik, dalam membuat dan mempublish sebuah artikel ilmiah yang bereputasi tidak mudah. Hal ini disebabkan karena masih terbatasnya pengetahuan para guru terkait teknik penulisan artikel yang baik dan benar serta kurangnya sumber informasi yang tersedia pada lingkungan pendidikan formal terutama dalam penelusuran dan trik dapat menembus jurnal-jurnal yang bereputasi. Melalui forum workshop, tim pengabdi berupaya memfasilitasi membantu kesulitan guru dalam mempublish sebuah jurnal. Peserta kegiatan pengabdian ini adalah para guru-guru bidang studi SMAN 2 Sungai Penuh sebanyak 18 peserta. Implementasi pelaksaanaan kegiatan menggunakan metode ceramah, diskusi, tanya jawab, praktek penyusunan dan pendampingan dengan teknik evaluasi penilaian selama proses kegiatan bersifat refleksi, responsif, feedback dan persepsi peserta. Sebelum kegiatan dilakukan, respon peserta mengenai pemahaman tentang menulis jurnal di kategorikan cukup baik, hal ini dikarenakan tidak semua peserta memiliki pengetahuan cara publikasi agar bisa tembus diskala nasional maupun internasional. Setelah diberi pebekalan, diakhir kegiatan para peserta diminta kembali responnya. Hasil menunjukkan rata-rata tingkat pemahaman peserta sudah pada kategori baik. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan guru telah memahami bagaimana membuat jurnal yang baik sehingga bisa publish, ini menunjukkan indikasi jika guru-guru sudah mampu dan siap menghasilkan sebuah jurnal.
Improving Highschool Teachers’ Academic Article Publishing Skills in SMAN 2 Sungai Penuh
Based on preliminary survey, some educators, in creating and publishing a reputable journal is not easy, this is due to the limited knowledge of teachers regarding good and correct methodological techniques for writing articles and the lack of available sources of information in the formal education environment, especially in tracing and tricks. can be acceptable in reputable journal. Through this workshop forum, the service team seeks to facilitate teachers' difficulties in publishing a journal. The participants of this community service are 18 teachers at SMAN 2 Sungai Penuh, Jambi. The implementation of the activity uses the lecture method, discussion, question and answer, practice of preparation and assistance with evaluation techniques during the activity process which is reflection, responsive, feedback and participant perception. Before the activity was carried out, the participants' responses regarding understanding about journal writing were categorized as quite good, this was because not all participants had knowledge of how to publish so that they could be published on a national or international scale. After being given supplies, at the end of the activity the participants were asked to return their responses. The results show that on average the participants are in the category of good level of understanding, it can be concluded that the teacher already understands how to make a good journal so that it can publish, this shows an indication if the teachers are able and ready to produce a journal
Pelatihan Jiwa Kewirausahaan Di SMA Negeri 1 Karas
Kurikulum di satuan pendidikan selalu berubah untuk kemajuan dunia pendidikan, salah satunya dengan subjek produk kreatif dan kewirausahaan yang harus dipelajari oleh siswa sekolah menengah atas (SMA) tentang kewirausahaan dan keterampilan sedangkan . Tidak ada sumber daya manusia di sekolah menengah, dan tidak ada kekurangan motivasi untuk siswa sekolah menengah. Tujuan pembelajaran PKWU di SMA adalah untuk memberikan gambaran kepada peserta didik tentang pentingnya berwirausaha. Semakin banyak waktu berkembang, semakin banyak Itu juga dibutuhkan sejumlah pekerja yang baik. Namun ketersediaan lapangan kerja yang sangat sedikit membuat banyak pengangguran di Indonesia. Oleh karena itu, diharapkan dengan adanya mata pelajaran PKWU di SMA akan menghasilkan jiwa kewirausahaan di kalangan Siswa. Sehingga kemungkinan munculnya benih-benih pengusaha akan meningkat pesat dan dapat menciptakan lapangan kerja baru di masa depan yang berdampak pada berkurangnya angka pengangguran. Pelaksanaan PKM membuat siswa SMA Negeri 1 Karas lebih memahami kewirausahaan. Dinyatakan dengan hasil evaluasi instrumen yang telah dibagikan bahwa 80% menyatakan bahwa mereka suka dan senang dengan materi perawatan kulit wajah tidak bermasalah secara manual. Hal ini mengindikasikan perlunya pelatihan ulang dengan mengajarkan anak-anak untuk mengembangkan bisnis home care.
Entrepreneurial Spirit Training at SMA Negeri 1 Karas
The curriculum in the education unit is always changing for the advancement of the world of education, wrong one with the subject of creative products and entrepreneurship that high school students (High School) should learn about entrepreneurship and skills whereas . There is no human resources in high school, and there is no lack of motivation for high school students. The purpose of learning PKWU in high school is to give an overview to learners about the importance of entrepreneurship. The more the times develop, the more It is also required a good number of workers. But very little job availability making a lot of unemployment in Indonesia. Therefore, it is expected with the existence of PKWU subjects in high school will produce entrepreneurial spirits among the Students. So that the possibility of the emergence of businessmen's seeds will increase a lot and can create new jobs in the future that have an impact on reduced unemployment rate. The implementation of PKM makes students of SMA Negeri 1 Karas better understand entrepreneurship. It is stated with the results of the evaluation of the instruments that have been shared that 80% stated that they like and are happy with the facial skin care material is not problematic manually. This indicates the need for retraining by teaching children to develop a home care busines
Sosialisasi dan Edukasi Pencegahan Dini Resiko Kebakaran Lahan Gambut di Musim Kemarau kepada Masyarakat Desa Kapur
Meningkatnya kebutuhan pangan dan perumahan telah menjadi pemicu pembukaan lahan gambut, karena membakar lahan merupakan salah satu usaha paling ekonomis dalam pembukaan lahan tersebut. Saat musim kemarau, budaya membuka lahan ini sangat beresiko terhadap terjadinya kebakaran lahan gambut yang luas serta sulit dipadamkan. Tujuan dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini adalah untuk mengedukasi dan mensosialisasikan usaha-usaha pencegahan dini kebakaran lahan serta tindakan-tindakan untuk mengurangi resiko atau bahaya yang disebabkan oleh kabut asap dari kebakaran lahan tersebut kepada kelompok masyarakat Desa Kapur Kubu Raya. Kegiatan ini dilakukan secara offline dengan tetap menggunakan protokol kesehatan untuk pencegahan Covid 19. Kegiatan ini diikuti oleh peserta sebanyak 20 orang merupakan perwakilan warga masyarakat, dengan menggunakan metode ceramah yang dilanjutkan dengan simulasi dan demonstrasi penanganan kebakaran. Dalam kegiatan itu juga dibagikan masker kesehatan dan handsanitizer kepada seluruh peserta yang hadir. Monitoring dan evaluasi kegiatan dilaksanakan sepanjang kegiatan melalui pengamatan aktivitas peserta dalam simulasi dan demonstrasi, sedangkan tingkat pemahaman dan kemampuan masyarakat dalam menangani kebakaran menunjukkan kemajuan, yang dilihat pada hasil kuisioner yang diberikan pada awal dan akhir kegiatan.
Socialization and Education on Early Prevention of the Risks of Peatland Fires in the Dry Season to the
Villagers of Kapur
The increasing need for food and housing has become a trigger for clearing peatlands, because burning land is one of the most economical ways to clear these lands. During the dry season, this culture of clearing land is very risky for large peatland fires that are difficult to extinguish. The purpose of this Community Service activity (PKM) is to educate and socialize early efforts to prevent land fires and actions to reduce the risk or danger caused by haze from land fires to the Kapur Kubu Raya Village community group. This activity was carried out offline while still using the health protocol for the prevention of Covid 19. This activity was attended by 20 participants who were representatives of community members, using the lecture method followed by simulations and demonstrations of handling fires. In this activity health masks and hand sanitizer were also distributed to all participants who attended. Monitoring and evaluation of activities is carried out throughout the activity through observing the activities of participants in simulations and demonstrations, while the level of understanding and ability of the community in dealing with fires shows progress, as seen in the results of the questionnaires given at the beginning and end of the activity
Implementasi Blue Economy Melalui Kegiatan Budi Daya Rumput Laut Eucheuma cottonii di Wilayah Pesisir Pulau Lemukutan
Blue Economy adalah usaha memanfaatkan potensi sumber daya laut berbasis lingkungan dalam menunjang pertumbuhan ekonomi masyarakat wilayah pesisir. Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) sebagai bagian dari program Kedaireka Matching Fund Direktorat Pendidikan Tinggi ini, dilakukan di wilayah Lemukutan untuk tujuan meningkatkan keterampilan dan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui kegiatan Implementasi Blue Economy Melalui Kegiatan Budi Daya Rumput Laut E. cottonii di Wilayah Pesisir . Budidaya E. cottonii dilaksanakan dengan menggunakan metode longline, melibatkan sebanyak 15 orang mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan Universitas Tanjungpura serta 10 orang masyarakat setempat, selama 4 bulan berkegiatan. Kesuksesan usaha budidaya rumput laut sangat tergantung pada pemilihan lahan dengan parameter lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan rumput laut, teknik serta metode budidaya yang sesuai. Kegiatan PKM ini menggunakan metode ceramah, simulasi di darat kemudian dilanjutkan dengan praktek langsung menanam rumput laut E. cottonii di wilayah perairan Lemukutan. Dari hasil kegiatan ini menunjukkan kemampuan masyarakat menggunakan metode long line dalam budidaya rumput laut E. cottonii sudah sangat memadai, dengan pengamatan selama 50 hari menunjukkan pertumbuhan relatifve sebesar 220,50%, dan pertumbuhan harian 3.36 %. Penanaman rumput laut harus memperhitungkan intensitas matahari untuk memaksimalkan berlangsungnya fotosintesis serta menghindari penanaman di masa menjelang ekstrim di mana terjadi curah hujan tinggi dan gelombang laut yang kuat.
Blue Economy Implementation Through Eucheuma cottonii Seaweed Cultivation Activities in the Coastal Area of ??Lemukutan Island
Blue Economy is an effort to exploit the potential of marine resources based on the environment in supporting the economic growth of coastal communities. Community Service (PKM) as part of the Directorate of Higher Education's Kedaireka Matching Fund program, is carried out in the Lemukutan area for the purpose of improving the skills and welfare of coastal communities through Blue Economy Implementation activities through E. cottonii Seaweed Cultivation Activities in the Coastal Area. The cultivation of E. cottonii was carried out using the longline method, involving as many as 15 students from various study programs at Tanjungpura University and 10 local people, for 4 months of activities. The success of seaweed farming is highly dependent on the selection of land with environmental parameters that support the growth and development of seaweed, appropriate cultivation techniques and methods. This PKM activity used the lecture method, simulations on land and then continued with direct practice of planting E. cottonii seaweed in the waters of Lemukutan. The results of this activity show that the community's ability to use the long line method in cultivating E. cottonii seaweed is very adequate, with observations for 50 days showing a relative growth of 220.50% and a daily growth of 3.36%. Seaweed planting must take into account the intensity of the sun to maximize photosynthesis and avoid planting at extreme times when there is high rainfall and strong sea waves
Peningkatan Kemampuan Literasi dan Numerasi Berbasis Tematik pada Siswa Kelas 2 Sekolah Dasar Negeri No 16 Pontianak Utara
Pembelajaran literasi numerasi saat ini menjadi perhatian utama pemerintah dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Kegiatan Kampus Mengajar (KM) sebagai bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), adalah salah satu upaya pemerintah untuk membantu percepatan peningkatan kemampuan literasi numerasi dan adaptasi teknologi di tingkat sekolah dasar dan menengah. Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dasar literasi numerasi siswa di kelas 2 Sekolah Dasar Negeri No 16 Pontianak Utara. Kegiatan dilakukan selama 4 bulan dengan beberapa tahapan yaitu persiapan model dan materi pembelajaran berdasarkan kurikulum tematik (Kurikulum 2013), berperan langsung membantu guru kelas dalam proses pembelajaran di kelas 2, dan mengevaluasi kegiatan berdasarkan capaian pembelajaran di akhir kegiatan. Dari serangkaian kegiatan proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh tim pelaksana PKM yaitu mahasiswa kampus mengajar 3 dan dosen pembimbing lapangan (DPL) menunjukkan bahwa kemampuan literasi numerasi dari peserta didik kelas 2 di SDN No 16 Pontianak Utara meningkat, yang diindikasikan dari kelancaran membaca dan berhitung serta menyimak pesan yang tertuang di dalam cerita yang dibaca.
Thematic-Based Literacy and Numeracy Skills in Grade 2 Students of Public Elementary School No 16 Pontianak Utara
Learning numeracy literacy is currently the government's main concern in efforts to improve the quality of education in Indonesia. Teaching Campus (KM) activities as part of the Independent Learning Campus Merdeka (MBKM) program, are one of the government's efforts to help accelerate the improvement of numeracy literacy skills and technology adaptation at the elementary and secondary school levels. This community service activity aims to improve the basic numeracy literacy skills of students in grade 2 of Public Elementary School No. 16 Pontianak Utara. The activity was carried out for 4 months with several stages, namely the preparation of learning models and materials based on the thematic curriculum (2013 Curriculum), playing a direct role in assisting class teachers in the learning process in grade 2, and evaluating activities based on learning outcomes at the end of the activity. From a series of learning process activities carried out by the PKM implementing team, namely teaching campus students 3 and field supervisors (DPL) it shows that the numeracy literacy skills of grade 2 students at SDN No. 16 Pontianak Utara have increased, which is indicated by fluency in reading and counting and listening message contained in the story read
Pelatihan Pengajaran Bahasa Inggris pada Anak Usia Dini Melalui Buku Cerita Tentang Lahan Basah Bagi Guru di TK Prumnas Kayu Tangi Banjarmasin
Visi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) adalah menjadi universitas terkemuka dan berdaya saing serta sebagai center of excellence di lingkungan lahan basah pada tahun 2027. Oleh karena itu, semua kegiatan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat harus terkait dengan lahan basah. Berkaitan dengan hal tersebut, pembelajar muda atau anak-anak yang merupakan generasi penerus Kalimantan Selatan khususnya, juga perlu mengenal lahan basah. Oleh karena itu, memperkenalkan lahan basah melalui Bahasa Inggris sangat diperlukan anak-anak karena mereka berada dalam masa keemasan perkembangan bahasa. Salah satu cara untuk memperkenalkan Bahasa Inggris dan lahan basah pada saat yang bersamaan adalah melalui buku cerita anak-anak dengan metode bercerita atau storytelling. Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang bagaimana Bahasa Inggris dan lahan basah diperkenalkan kepada anak TK melalui storytelling. Pengabdian ini dilaksanakan di TK Prumnas Kayu Tangi Banjarmasin dengan melibatkan para guru dan siswa di sekolah tersebut. Kegiatan yang dilakukan meliputi pemberian materi kepada guru mengenai teori mengajar Bahasa Inggris yang diperuntukan kepada anak-anak, pemberian contoh pengajaran, pembuatan media, dan refleksi akhir. Hasil dari kegiatan pengabdian ini dapat simpulkan bahwa guru memahami tentang pengajaran Bahasa Inggris kepada anak-anak meskipun terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaannya. Selain itu, 88% anak-anak menunjukkan minat yang tinggi terhadap Bahasa Inggris dan 70% dari mereka mampu mengingat beberapa kosakata yang berhubungan dengan lahan basah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa memperkenalkan Bahasa Inggris dan lahan basah melalui storytelling memungkinkan anak untuk belajar lebih baik dan lebih efektif.
Training on Teaching English to Young Learners through Storybooks about Wetlands for Kindergarten Teachers at Prumnas Kayu Tangi
The vision of Lambung Mangkurat University (ULM) is to become a leading and competitive university as well as a center of excellence in the wetland environment by 2027. Therefore, all teaching, research, and community service activities must be related to wetlands. In this regard, young learners, the next generation of South Kalimantan particularly, need to be familiar with wetlands. Therefore, introducing wetlands through English is very necessary for children since they are in the golden age of language development. One way to introduce English and wetlands simultaneously is through children's story books using storytelling. This community service aims to provide an overview of how English and wetlands are introduced to kindergarten children through storytelling. This service was carried out at Prumnas Kayu Tangi Kindergarten Banjarmasin by involving teachers and students at the school. The activities carried out include providing material to teachers regarding the theory of teaching English to children, providing teaching examples, making media, and final reflection. The results of this community service activity show that the teachers understand thow to teach English to children despite several obstacles in its implementation. In addition, 88% of children showed a high interest in English and 70% of them were able to remember some vocabulary related to wetlands. Therefore, it can be concluded that introducing English and wetlands through storytelling allows children to learn better and more effectively
Empowering Communities through Utilization of Coffee Skin Waste into Tea
Desa Karang Sidemen terletak di pinggir kawasan hutan di bawah naungan Balai Tahura Nuraksa dan Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan (BPKH) Pelangan Tastura. Masyarakat desa tersebut memiliki masalah yaitu proses pengolahan buah kopi menghasilkan limbah kulit kopi dalam jumlah yang besar. Limbah tersebut menimbulkan pencemaran udara dan menjadi sumber penyakit akibat ditumbuhi mikroba. Solusi untuk mengatasi permasalahan di atas adalah pelatihan pengolahan limbah kulit kopi menjadi teh. Tujuan program pengabdian kepada masyarakat ini adalah meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah limbah kulit kopi menjadi teh dan menambah jenis produk usaha sehingga berpengaruh terhadap peningkatan perekonomian masyarakat. Kegiatan dilaksanakan dengan metode Focus Group Discussion (FGD), ceramah, dan praktik. Tahap pelaksanaan kegiatan terdiri dari persiapan, pelatihan, dan evaluasi. Peserta kegiatan sebanyak 24 orang yang berasal dari 8 Kelompok Tani Hutan (KTH). Setelah kegiatan dilaksanakan terlihat adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam membuat teh kulit kopi dan adanya produk baru yang dapat dijadikan usaha masyarakat. Selain itu, masyarakat memberikan respon sangat baik pada semua indikator yaitu ketertarikan peserta, peningkatan pengetahuan peserta, kemudahan materi pelatihan, dan kebermanfaatan kegiatan.
Empowering Communities through Utilization of Coffee Skin Waste into Tea
Karang Sidemen Village is located on the edge of a forest area under the auspices of the Balai Tahura Nuraksa and the Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan (BPKH) Pelangan Tastura. The village community has a problem, namely the processing of coffee cherries produces large amounts of coffee skin waste. The waste causes air pollution and becomes a source of disease. The solution to overcome the problems above is training on processing coffee skin waste into tea. The purpose of this community service program is to improve community skills in processing coffee skin waste into tea and to increase the types of business products so that it affects the improvement of the community's economy. The activities were carried out using the Focus Group Discussion (FGD) method, lectures, and practices. The implementation phase of the activity consists of preparation, training, and evaluation. The participants of the activity were 24 people from 8 Forest Farmer Groups (FFG). After the activity was carried out, it was seen that there was an increase in community knowledge and skills in making coffee skin tea and the existence of new products that could be used as community businesses. In addition, the community responded very well to all indicators, namely participant interest, increased knowledge of participants, ease of training materials, and usefulness of activities
Pelatihan Budidaya Ikan Lele (Clarias sp.) dengan Sistem Bioflok pada Masyarakat Desa Mekar Baru Kubu Raya
Pandemi Covid-19 berdampak secara langsung terhadap penurunan daya beli masyarakat, serta krisis pemenuhan kebutuhan pangan khususnya sumber protein. Perlu adanya usaha nyata untuk meningkatkan keterampilan masyarakat, salah satunya dengan budidaya Ikan Lele sistem bioflok. Ikan Lele merupakan komoditas budidaya air tawar bernilai ekonomis tinggi, mengandung gizi lengkap, harga murah, serta banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan sosialisasi sistem budidaya yang praktis, ramah lingkungan, efisien, dan berkelanjutan. Selain itu, kegiatan pelatihan diharapkan dapat memberikan keterampilan bagi masyarakat dalam berwirausaha. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 19 September 2021. Mitra kegiatan yaitu warga Kompleks Perumahan Afifah Hilya Regency, Desa Mekar Baru, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Kegiatan dilakukan dengan metode ceramah, diskusi, dan praktek. Sebelum kegiatan, sebanyak 10% masyarakat telah mengetahui tentang budidaya sistem bioflok. Selain itu, semua peserta (100%) juga belum mengetahui tentang probiotik, komposisi, dan cara pembuatannya. Pada evaluasi yang dilakukan di akhir kegiatan menunjukkan bahwa 100% peserta telah memahami metode budidaya dengan sistem bioflok, serta pemanfaatan probiotik untuk meningkatkan imunitas tubuh ikan terhadap kemungkinan serangan penyakit.
Training on the Cultivation of Catfish (Clarias sp.) with the Biofloc System for the Community of Mekar Baru Kubu Raya
The global pandemic Covid-19 has a direct impact on the decline in public purchasing power, as well as the crisis in fulfillment of food needs, especially protein sources. There needs to be a real effort to improve community skills, one of which is by cultivating catfish with a biofloc system. Catfish is a freshwater aquaculture commodity with high economic value, complete nutrition, low price, and much consumed by the community. This activity aimed to disseminate practical, eco-friendly, efficient and sustainable cultivation systems. In addition, training activities were expected to provide skills for the community in entrepreneurship. This community service activity was carried out on 19th September 2021. The partners are residents of the Perumahan Afifah Hilya Regency, Mekar Baru Village, Sungai Raya District, Kubu Raya Regency, West Kalimantan. Activities were carried out using lecture, discussion, and practice methods. Prior to the activity, only as much as 10% of the community had known biofloc cultivation system. In addition, all participants (100%) did not comprehend as well about probiotics, their composition, and how to make them. The evaluation was carried out at the end of the activity, showed that 100% of the participants had understood the cultivation method with the biofloc system, as well as the use of probiotics to increase the fish immunity against possible disease attacks
Kolaborasi Yayasan Palung dan Pelajar SMPN 03 Segedong Dalam Edukasi dan Kreativitas Pengelolaan Sampah Plastik
Permasalahan sampah yang semakin meningkat menjadi isu bersama yang harus dihadapi dan perlu solusi bersama. Di wilayah Segedong, Kabupaten Mempawah ternyata masyarakat kurang memperhatikan permasalahan sampah termasuk pengelolaannya. Permasalahan sampah berdampak pada bencana alam dan penyakit. Tujuan pelaksanaan pengabdian kepada siswa SMPN 03 Segedong adalah memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada siswa mengenai sampah, dampak sampah pada lingkungan, mampu membedakan sampah organik dan non organik dan cara kreativitas mengolah sampah menjadi barang yang bernilai guna. Metode yang digunakan yaitu dengan memberikan sosialisasi, edukasi dan workshop pengelolaan sampah. Sasaran kegiatan ini adalah para pelajar karena agar pelajar mengerti sangat pentingnya pengelolaan sampah di lingkungan, serta membuat pelajar untuk dapat menanamkan kebiasaan mengelola sampah dengan baik. Hasil kegiatan berdasarkan hasil post-test adalah peningkatan pengetahuan siswa dalam menjaga lingkungan dan pengelolaan sampah plastik. Secara praktik para siswa berhasil membuat lima tempat sampah sesuai dengan pembagian lima kelompok dan tempat sampah ini digunakan untuk tempat pembuangan sampah di SMPN 03 Segedong.
Collaboration between the Palung Foundation and SMPN 03 Segedong Students in Plastic Waste Management Education and Creativity
The increasing waste problem is a common issue that must be faced and needs a joint solution. In the Segedong area, Mempawah Regency, it turns out that the community pays little attention to waste problems, including its management. The waste problem has an impact on natural disasters and diseases. The purpose of implementing community service for SMPN 03 Segedong students is to provide knowledge and understanding to students regarding waste, the impact of waste on the environment, being able to distinguish between organic and non-organic waste and how to be creative in processing waste into valuable goods. The method used is by providing outreach, education and waste management workshops. The target of this activity is students because students understand the importance of waste management in the environment, and make students able to instill the habit of managing waste properly. The results of the activities based on the post test are an increase in students' knowledge in protecting the environment and managing plastic waste. Practically the students succeeded in making five trash bins according to the distribution of the five groups and the trash bins were used for garbage disposal at SMPN 03 Segedong