Universitas 'Aisyiyah Surakarta Online Journals
Not a member yet
733 research outputs found
Sort by
FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN IBU-IBU MENGIKUTI PROGRAM KELOMPOK PENDUKUNG IBU DI WILAYAH PUSKESMAS PURWOSARI SURAKARTA GAGAL DALAM TINDAKAN ASI EKSKLUSIF
Dinas Kesehatan Kota Surakarta memiliki program Kelompok Pendukung Ibu (KP-Ibu) yang merupakan pendidikan interaktif dengan dukungan sosial yang bertujuan meningkatkan cakupan ASI eksklusif. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa program tersebut belum efektif sehingga diperlukan penelitian kualitatif untuk mendapatkan alasan kegagalan ibu-ibu yang sudah bergabung program tersebut dalam menjalankan ASI eksklsuif dan penyebab kegagalan program KP-Ibu untuk meningkatkan perilaku ibu-ibu menyusui. Jumlah responden yaitu delapan yang terdiri dari kader kesehatan, ibu-ibu anggota KP-Ibu yang gagal menjalankan ASI eksklusif dan bidan di wilayah Puskesmas Purwosari Surakarta. Hasil penelitian menunjukkan kesimpulan bahwa alasan ibu-ibu anggota KP-Ibu gagal dalam ASI eksklusif yaitu: 1) status bekerja, 2) tradisi, 3) kurangnya dukungan keluarga, 4) kurangnya produksi ASI, dan 5) kurang bagusnya teknik menyusui dan teknik menyimpan. Penyebab gagalnya program tersebut dalam meningkatkan perilaku ibu-ibu menyusui yaitu: 1) kurang aktifnya program tersebut, 2) kurangnya dana, 3) faktor budaya seperti kurangnya kebiasaan bertanya, dan 4) program yang belum matang. Kata Kunci: kelompok pendukung ibu, penyebab kegagala
GAMBARAN RESPONDEN DENGAN ROBEKAN PERINEUM DI RB PANJAWI SUKOHARJO
Latar Belakang: Sekitar 90% penyebab kematian ibu di Indonesia terjadi pada saat persalinan. Perdarahan post partum menyumbang sebesar 40 % sebagai penyebab utamanya. Perdarahan post partum antara lain terjadi karena adanya robekan jalan lahir atau perineum. Robekan jalan lahir merupakan penyebab kedua dari perdarahan post partum. Persalinan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain passage (jalan lahir), passenger (muatan), power (kekuatan ibu), psikologis dan penolong. Persalinan dapat berjalan normal apabila faktor-faktor tersebut bekerjasama dengan baik. Persalinan yang terlalu cepat juga akan mempermudah terjadinya robekan pada perineum karena otot-otot pada perineum di regang secara tiba-tiba tanpa persiapan secara hati-hati untuk melahirkan kepala, sehingga dalam Kala II atau saat pengeluaran kepala janin dibutuhkan kerja sama dan koordinasi yang baik oleh pasien agar persalinan dapat terkendali sesuai arah sumbu jalan lahir.Tujuan: Penelitian yang dilakukan di Rumah Bersalin Panjawi ini bertujuan untuk mengukur prevalensi robekan perineum pada ibu bersalin. Metode: Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional dengan jumlah responden 40 primipara.Hasil: Responden yang mengalami robekan perineum saat persalinan sebesar 60% responden.Simpulan: Mayoritas responden yang bersalin terjadi robekan perineum.Key word: robekan perineum, persalina
HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR DENGAN DERAJAT RUPTUR PERINEUM PADA PRIMIPARA DI BPS BENIS JAYANTO TAHUN 2012
Latar belakang : Perdarahan menjadi penyebab kedua penyumbang angka kematian ibu postpartum setelah hipertensi. Salah satu penyebab terjadinya perdarahan post partum adalah ruptur perineum. Banyak wanita yang mengalami ruptur perineum pada saat melahirkan anak pertamanya. Hal ini akan diperparah oleh berat bayi yang besar atau persalinan presipitatus yang tidak terkendali. Hasil dari studi pendahuluan yang telah dilakukan di BPS Benis Jayanto pada bulan Januari-Maret tahun 2012 angka kejadian ruptur perineum masih cukup tinggi yaitu 71,43% dari 28 persalinan pada primipara. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan berat badan lahir dengan derajat ruptur perineum pada primipara di BPS Benis Jayanto tahun 2012. Metode : Penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan waktu cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin primipara di BPS Benis Jayanto pada tahun 2012 sejumlah 112 responden. Jumlah sampel penelitian ini sejumlah 50 responden. Analisa data yang digunakan adalah dengan menggunakan uji statisika Chi Square. Hasil : Analisis data Chi Square diperoleh hasil nilai p 0,019, maka Ho ditolak Ha diterima dengan nilai kontingensi koefisien sebesar 0,438. Simpulan : Terdapat hubungan berat badan lahir dengan derajat ruptur perineum pada primipara dengan kekuatan hubungan antara kedua variabel adalah sedang. Kata kunci : Berat Badan Lahir, Derajat Ruptur Perineum, Primipar
HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG PORNOGRAFI DENGAN PERILAKU SEKS BEBAS PADA REMAJA DI SMK PENTI PAMARDI SIWI NGRAMBE KABUPATEN NGAWI
Latar belakang:Remaja yang mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan pengetahuan yang minim membuat remaja tidak bisa memilah-milih informasi mana yang baik dan mana yang buruk, sehingga pada akhirnya mereka akan terperangkap dalam perilaku seks bebas.Tujuan penelitian: mengetahui pengetahuan tentang pornografi dengan prilaku sek bebas pada remajaMetode penelitian: jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional . Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI yang berjumlah 157 responden.Sampel dalam penelitian ini diperoleh dengan teknik sampling simple random sampling. Analisa bivariate menggunakan chi-square. Hasil penelitian: secara statistik dengan menggunakan uji Chi-square didapatkan hasil bahwa pengetahuan tentang pornografi mempunyai hubungan dengan perilaku seks bebas dengan nilai ÷² hitung > ÷² tabel (10,061>5,991) maka Ho ditolak dan Ha diterima atau apabila nilai p-value=0,007 (p<0,05). Simpulan: Terdapat Hubungan antara pengetahuan tentang pornografi dengan prilaku seks bebas pada remaja SMK Panti Pamardi Siwi Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi.Kata Kunci: pornografi,seks bebas, remaj
INVASIVE PNEUMOCOCCAL DISEASE (IPD)
Pneumonia adalah infeksi akut jaringan (parenkim) paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing, ditandai dengan demam, batuk dan sesak nafas. Pada usia anak-anak, pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Golongan yang paling rentan adalah anak usia di bawah 2 tahun. Tanda-tanda Penumonia sangat bervariasi, tergantung golongan umur, mikroorganisme penyebab, kekebalan tubuh (imunologis) dan berat ringannya penyakit. Pemeriksaan penunjang: rontgen dada, pembiakan dahak, hitung jenis darah, dan gas darah arteri. Pneumonia bisa dicegah dengan vaksin pneumonia (pneumovax). Vaksin ini disebut Pneumococcal 7 valent conjugated vaccine (PCV7), yang memberikan solusi dalam pencegahan penyakit pneumokokus invasif pada anak. Vaksin ini mengandung ekstrak dari 7 tipe kuman Streptokokus. Vaksin ini akan memberikan kekebalan dari serangan penyakit meningitis, pneumonia dan otitis media. Jadwal pemberian vaksin dilakukan 4 kali: usia 2, 4, 6 bulan dan antara 12-15 bulan dengan kondisi yang telah dikonsultasikan dengan dokter spesialis anak.Kata kunci: pneumonia, batuk, vaksinas
PENGETAHUAN DALAM MELAKSANAKAN PIJAT PERINEUM OLEH BIDAN DI KOTA SURAKARTA
Robekan perineum yang terjadi saat persalinan mengakibatkan 40%-60% perdarahan pasca salin. Komplikasi yang terjadi akibat robekan perineum antara lain lama perawatan yang lebih panjang, penurunan kualitas hidup wanita, penggunaan obat-obatan serta analgetik dan incontinensia alvi. Metode yang dapat mengurangi terjadinya robekan pada perineum saat persalinan diantaranya adalah pijat perineum yang dilakukan ketika hamil. Tidak semua bidan melakukan pijat perineum ini dengan berbagai alasan. Tujuan: Penelitian ini untuk mengkaji pengetahuan bidan antara yang melakukan pijat perineum dan tidak melakukan. Metode: Rancangan penelitian ini adalah mixed method dengan observasional analitik pendekatan potong lintang terhadap 32 bidan yang melakukan pijat perineum dan 68 bidan yang tidak melakukan pijat perineum. Penelitian ini dilaksanakan di Surakarta pada bulan November-Desember 2012 dengan menggunakan kuesioner yang telah dilakukan uji reliabilitas dan validitas, sedangkan pengumpulan data kualitatif menggunakan wawancara mendalam. Analisis data kuantitatif menggunakan uji Mann-Whitney, sedangkan analisis data kualitatif melalui transkripsi, koding, kategori, dan membangun tema. Hasil: Median skor pengetahuan bidan yang melakukan pijat perineum 80, yang tidak melakukan pijat perineum 50 (ZM-W= 6,091, nilai p= 0,001). Berdasarkan analisis kualitatif faktor dominan yang menyebabkan bidan tidak melakukan pijat perineum yaitu faktor pengetahuan, sikap, pengalaman, motivasi dan budaya. Kata kunci: pengetahuan, pijat perineu
HUBUNGAN PENGETAHUAN SANTRIWATI TENTANG PENYAKIT SKABIES DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN PENYAKIT SKABIES DI PONDOK PESANTREN
Penyakit Skabies merupakan penyakit endemik pada masyarakat. Penyakit ini dapat mengenai semua golongan umur dan kelompok sosial di seluruh dunia. Lebih dari 300 juta kasus skabies terjadi di belahan dunia setiap tahunnya. Di Negara berkembang lebih dari seperempat populasi bisa terinfeksi penyakit skabies.Tujuan: Untuk mengidentifikasipengetahuandan pencegahan santriwati terhadap penyakit skabies di Pondok Pesantren Al-Muayyad serta menganalisis hubungan pengetahuan dan perilaku pecegahan santriwati terhadap penyakit skabies di Pondok Pesantren Al-Muayyad.Metode: Penelitiani ini menggunakan metode analitik menggunakan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan simple random sampling, dengan jumlah sampel penelitian 208 responden, sedangkan instrumen penelitian menggunakan kuesioner.Hasil:Santriwati memiliki pengetahuan yang baik yaitu sebanyak 155 (74,5%) yang didukung dengan perilaku pencegahan terhadap penyakit skabies yang baik pula yaitu sebanyak 167 (80,3%). Terdapat hubungan pengetahuan santriwati dengan perilaku pencegahan penyakit scabies di Pondok Pesantren Al Muayyad Surakarta. Hal ini terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai ÷2 hitung (61,165) >÷2 tabel (3,841). Simpulan: Dari hasil penelitian yang didapat ada hubungan pengetahuan santriwati tentang penyakit skabies dengan perilaku pencegahan penyakit skabies di pondok pesantren al-muayyad surakarta. Kata Kunci: santriwati, pengetahuan, perilaku pencegahan, skabie
TINGKAT KECEMASAN SUAMI SAAT ISTRI MENJALANI PERSALINAN NORMAL DI PONEK RSUD Dr. MOEWARDI
Persalinan merupakan sebuah peristiwa penting dalam kehidupan manusia dan merupakan satu rangkaian yang menyatu dalam kehamilan. Persalinan merupakan pengalaman yang penuh dengan kecemasan. Kecemasan ibu pada persalinan primipara cukup tinggi di bandingkan pada persalinan multipara. Kecemasan dan perubahan emosi tidak hanya di alami oleh ibu saja tetapi suami pun juga bisa merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh ibu. Tujuan; Untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan suami terhadap istri yang menjalani persalinan primipara dan multipara dengan persalinan normal di RSUD Dr.Moewardi. Metode; Penelitian analitik dengan rancangan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel penelitian 96 responden, sedangkan instrument penelitian menggunakan kuesioner. Analisa bivariat menggunakan uji-t tidak berpasangan. Hasil; Hasil uji bivariate dengan uji-t tidak berpasangan membuktikan bahwa ada perbedaan tingkat kecemasan suami terhadap isrti yang menjalani persalinan primipara dan multipara dengan persalinan normal dibuktikan dengan nilai p=0.000 dimana <0.05. Kesimpulan; Ada perbedaan tingkat kecemasan suami terhadap istri yang menjalani persalinan primipara dan multipara dengan persalinan normal di RSUD Dr.Moewardi. Kata Kunci ; tingkat kecemasan, suami, persalinan norma
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI (KIPI) CAMPAK DENGAN KECEMASAN IBU PASCA IMUNISASI DI PUSKESMAS SANGKRAH SURAKARTA
Pendahuluan: Pengetahuan ibu tentang program imunisasi dan efek sampingnya sangat diperlukan dalam pelaksanaan imunisasi, terlebih masih adanya 12 kasus campak yang terdapat pada wilayah kerja Puskesmas Sangkrah yang memerlukan kesadaran ibu untuk mengimunisasikan anaknya. Ibu harus tahu efek samping setelah pelaksanaan imunisasi campak yang dikenal dengan KIPI. Kebanyakan anak menderita demam setelah mendapat imunisasi campak dan seringkali ibu-ibu cemas dan khawatir. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu tentang KIPI campak dengan kecemasan ibu pasca imunisasi. Metode: Desain penelitian menggunakan jenis observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling menggunakan accidental sampling, berjumlah 67 responden. Hasil: Sebanyak 36 responden (53,7%) memiliki pengetahuan diatas rata-rata sehingga tergolong baik, dan sebanyak 37 responden (55%) memiliki skor dibawah rata-rata sehingga tidak mengalami kecemasan, Analisa korelasi pearson menghasilkan nilai rho 0,4393 dengan p-value<a (0,000<0,05), dengan arah korelasi negatif. Simpulan: Ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang KIPI campak dengan kecemasan ibu pasca imunisasi di Puskesmas Sangkrah Surakarta. Kata Kunci : Pengetahuan Ibu, KIPI campak, Kecemasa
PELAKSANAAN SISTEM RUJUKAN DI RSUD BANYUDONO
Latar belakang: Sistem rujukan merupakan permasalahan yang belum terselesaikan dalam sistem kesehatan kita. Salah satu kelemahan pelayanan kesehatan adalah pelaksanaan rujukan yang kurang cepat dan tepat. Hal ini merupakan permasalahan yang tidak saja merugikan secara finansial tetapi juga akan berdampak pada kualitas pelayanan kesehatan serta akan berpengaruh terhadap pencapaian kinerja dibidang kesehatan. Tujuan Penelitian: Mengetahui gambaran pelaksanaan sistem rujukan di RSUD Banyudono. Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif. Jumlah sampel sebanyak 59 responden dengan teknik pengambilan sampel jenuh. Instrumen dalam penelitian ini berupa kuesioner disertai dengan wawancara. Hasil: Analisa univariat menunjukkan bahwa sebanyak 31 responden (52,5%) melakukan rujukan sesuai prosedur sistem rujukan, sebanyak 40 responden (67,8%) melakukan rujukan sesuai mekanisme sistem rujukan, sebanyak 34 responden (57,6%) melakukan persiapan rujukan sesuai dengan pelaksanaan sistem rujukan, dan sebanyak 36 responden (61,0%) tidak menjumpai kendala selama pelaksanaan rujukan. Kesimpulan: Sebagian besar perawat di RSUD Banyudono sudah melakukan rujukan sesuai prosedur pelaksanaan sistem rujukan dengan baik, mekanisme sistem rujukan disana juga sudah dilaksanakan dengan baik, untuk persiapan perawat sebelum melakukan rujukan sudah sesuai standar operasional yang ada, dan kendala perawat dalam merujuk pasien tidak ada. Kata Kunci: Sistem Rujukan, Perawa