Puslit Penelitian Karet E-Journal System Portal
Not a member yet
    531 research outputs found

    TINGKAT PRODUKSI DAN PROFITABILITAS PENERAPAN SISTEM SADAP FREKUENSI RENDAH DI PERUSAHAAN PERKEBUNAN KARET SUMATRA UTARA

    Full text link
    Melemahnya harga karet alam dan kelangkaan penyadap merupakan masalah utama yang dihadapi perusahaan perkebunan karet dalam satu dasawarsa terakhir. Merebaknya penyakit gugur daun Pestalotiopsis membuat langkah-langkah peningkatan produktivitas menjadi sulit dicapai. Upaya efisiensi biaya adalah strategi yang harus dilakukan untuk mempertahankan performa perusahaan perkebunan karet saat ini. Sistem sadap frekuensi rendah atau low frequency tapping (LFT) systems adalah salah satu langkah yang ditempuh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III (Persero) sebagai barometer perusahaan perkebunan nasional untuk merespon situasi tersebut. Penelitian bertujuan menganalisis keragaan penerapan sistem sadap LFT di PTPN III (Persero), menganalisis profitabilitas penerapan sistem sadap LFT, serta membandingkan performanya dengan sistem sadap konvensional. Unit Kebun Tanah Raja dan Gunung Para merupakan lokasi yang dipilih secara sengaja dalam penelitian ini karena dianggap unit percobaan yang mewakili kebun-kebun lingkup PTPN III (Persero). Analisis dilakukan melalui metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan pendekatan analisis anggaran parsial berupa revenue and cost ratio (R/C ratio). Hasil penelitian menunjukkan bahwa profitabilitas penerapan sistem sadap LFT d4, d5, dan d6 masing-masing dengan nilai sebesar 1,20; 1,08; dan 0,90 belum mampu menandingi profitabilitas penerapan sistem sadap konvensional d3 dengan nilai sebesar 1,39. Sistem sadap LFT d4, d5, dan d6 memiliki keunggulan dalam merespon langkah efisiensi dengan kemampuan menurunkan biaya sebesar 22%, 35%, hingga 43% dibandingkan sistem sadap konvensional d3. Rendahnya kebutuhan hari sadap efektif dalam penerapan sistem sadap LFT juga mengindikasikan kemampuannya dalam menanggulangi masalah kelangkaan tenaga kerja penyadap

    PENTINGNYA APLIKASI MARKER-ASSISTED SELECTION DALAM SELEKSI KLON KARET TOLERAN KEKERINGAN

    Full text link
    Seleksi klon karet toleran kekeringan sangat mendesak untuk dilakukan karena pada masa yang akan datang diperkirakan kejadian fenomena kekeringan sebagai dampak pemanasan global akan lebih sering terjadi. Untuk melaksanakan hal ini, terdapat satu masalah, yaitu kegiatan pemuliaan tanaman karet dengan metode yang konvensional membutuhkan waktu sekitar 35 hingga 40 tahun karena tanaman karet adalah tanaman tahunan. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan memanfaatkan metode Marker-Assisted Selection (MAS). MAS adalah metode seleksi tanaman yang memanfaatkan marka DNA yang bertautan dengan lokus target sebagai alat untuk menduga fenotipe tanaman yang diinginkan oleh pemulia tanaman. Untuk melaksanakan metode ini diperlukan penentuan QTL dan menganalisis gen-gen dalam QTL yang terasosiasi dengan parameter-parameter toleransi kekeringan pada tanaman karet, misalnya kandungan ROS (Reactive Oxygen Species), aktifitas enzim SOD (Superoksida Dismutase), POD (Peroksidase), CAT (Catalase), kandungan asam absisat (ABA), asam askorbat, tekanan turgor sel, kandungan prolin, laju transpirasi, bukaan stomata, electrolyte leakage, tekanan osmosis sel daun, kadar air daun relatif, dan DFI (Drought Factor Index). Apabila marker yang diperlukan dalam metode MAS sudah selesai diidentifikasi dan divalidasi, diharapkan metode MAS ini dapat diadopsi untuk memangkas durasi waktu pemuliaan tanaman karet konvensional yang memerlukan waktu antara 35-40 tahun menjadi kurang dari satu tahun. Tulisan ini bertujuan untuk mengulas parameter fisiologis tanaman yang terasosiasi dengan sifat toleransi kekeringan serta pentingnya metode MAS dalam seleksi klon karet toleran kekeringan

    PENGEMBANGAN LEMBAGA UNIT PENGOLAHAN DAN PEMASARAN BAHAN OLAH KARET DI SUMATRA SELATAN

    Full text link
    Keberadaan Unit Pengolahan dan Pemasaran Bahan olah karet rakyat (UPPB) di wilayah sentra produksi karet rakyat akan sangat mendukung peningkatan mutu bahan olah karet rakyat (bokar) di tingkat petani dan memberikan posisi tawar harga yang tinggi kepada petani. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi respons petani karet terhadap empat komponen lembaga (sistem norma, personel, peralatan fisik, dan kelakuan berpola), mengetahui komponen kelembagaan yang memengaruhi pelembagaan sistem norma UPPB, dan menganalisis dinamika kelembagaan terkait perkembangan UPPB di kalangan petani karet. Kajian ini menggunakan paradigma konstruktivisme untuk mengungkap realitas sosial masyarakat yang diteliti. Teknik pengumpulan data meliputi observasi kegiatan UPPB, wawancara mendalam dengan petani karet rakyat dan para stakeholder dengan cara purposive sampling, diskusi terfokus, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teknik pengolahan data kualitatif, triangulasi, dan analisis induktif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa petani karet tidak memberikan respons positif terhadap keberadaan UPPB, komponen personel lebih berpengaruh terhadap respons pelembagaan, dan pengembangan UPPB mengalami kegagalan. Pengembangan UPPB membutuhkan komitmen para pihak untuk menjamin peningkatan kapasitas sumber daya petani karet dan stabilitas bagian harga tinggi yang diterima UPPB melalui kolaborasi pemangku kepentingan yang berkelanjutan

    REVIEW BIJI KARET SEBAGAI BAHAN BAKU ALTERNATIF BIODIESEL

    No full text
    Penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan gas alam, telah menjadi sumber utama energi global selama bertahun-tahun. Namun, ketergantungan yang tinggi terhadap sumber daya ini dan dampak negatifnya terhadap lingkungan telah memicu penelitian dan pengembangan untuk mencari solusi alternatif yang lebih berkelanjutan. Pada tahun 2022, sebanyak 93,45% kebutuhan energi primer nasional disuplai oleh energi fosil. Namun jumlah pasokan energi fosil terus berkurang karena eksplorasi secara terus-menerus. Sejak tahun 2019 produksi minyak bumi menurun dari 781.000 menjadi 644.000 barel per hari. Oleh sebab itu diperlukan diversifikasi energi alternatif untuk menjaga ketahanan energi nasional. Salah satu energi alternatif yang menjanjikan adalah pengembangan bioenergi yakni biodiesel yang dihasilkan dari sumber-sumber alami, seperti tanaman dan mikroorganisme. Salah satu tanaman yang potensial untuk dijadikan bioenergi adalah biji karet (Hevea brasiliensis). Biji karet memiliki kandungan minyak nabati yang dapat dikonversi menjadi biodiesel. Ada beberapa opsi teknologi dalam proses konversi minyak nabati menjadi biodiesel. Proses trans-esterifikasi menjadi pilihan yang paling umum digunakan dalam proses produksi biodiesel karena kesederhanaan proses dan ester asam lemak yang diperoleh memilki karakteristik yang mirip dengan petrodiesel. Selain itu juga, reaksi ini menghasilkan produk samping gliserol yang memiliki nilai tambah produk dari proses ini

    APLIKASI TEKNIK PLASMA SOLUSI PADA PRODUKSI KARET ALAM TERDEPROTEINASI (DPNR)

    Full text link
    Karet alam terdeproteinasi (DPNR) diproduksi untuk memenuhi kebutuhan persyaratan produk untuk gangguan alergi protein dan proses modifikasi partikel karet alam. DPNR dibuat dengan teknik plasma solusi dengan pengaplikasian beberapa nilai voltase yaitu 1, 5, dan 10 kV untuk mengamati degradasi tertinggi bagian non-karet di DPNR. DPNR yang dihasilkan melalui plasma solusi dengan voltase tegangan 1, 5, dan 10 kV selanjutnya disebut DPNR 1 kV, DPNR 5 kV, dan DPNR 10 kV. Degradasi bagian non-karet ditentukan menggunakan Fourier Transform Infra-Red (FT-IR), pengujian kadar nitrogen, kandungan gel, dan viskositas. DPNR 10 kV memiliki nilai rasio puncak protein dan kadar nitrogen terendah sebesar 65,9% protein karet terdegradasi. Hasil ini menunjukkan bahwa voltase 10 kV merupakan kondisi optimum untuk mendegradasi protein dengan teknik plasma solusi

    STUDI PENGARUH PENGGUNAAN PLASTICIZER DARI MINYAK JELANTAH EPOKSI TERHADAP KINETIKA VULKANISASI KARET

    No full text
    Limbah minyak jelantah yang tidak dikelola dengan baik berdampak negatif terhadap lingkungan. Minyak jelantah yang mengandung asam lemak tak jenuh dapat dijadikan bahan baku pembuatan minyak epoksi dan berpotensi sebagai plasticizer kompon karet. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kinetika vulkanisasi karet menggunakan plasticizer minyak jelantah epoksi. Sintesis minyak epoksi dilakukan dengan metode refluks skala batch pada suhu 60°C dan variasi waktu 4, 6, dan 8 jam. Minyak epoksi yang terbentuk digunakan sebagai plasticizier pada kompon karet. Kinetika vulkanisasi karet dipelajari menggunakan pendekatan model reaksi orde 1, orde 2, dan Deng-Isayev. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model Deng-Isayev dapat memberikan pendekatan yang paling baik terhadap kinetika vulkanisasi karet menggunakan minyak jelantah epoksi, dibandingkan dengan kedua model yang lain. Energi aktivasi karet dengan plasticizer minyak jelantah epoksi (158-200 kJ/mol) lebih tinggi dibanding menggunakan plasticizer komersial (63–87 kJ/mol), seperti epoxidized soybean oil (ESO) dan paraffinic oil (PO). Namun, kompon dengan plasticizer minyak jelantah yang diepoksidasi selama 6 jam (MJE 6) menghasilkan nilai torsi dan k tertinggi (MH = 18,39 kg.cm dan k = 1,51 x 10-5 s-1) dibandingkan formulasi lainnya. Bahan pemvulkanisasi dapat terdistribusi di dalam kompon karet dengan lebih baik, ikatan silang yang terbentuk cukup banyak dan kecepatan vulkanisasi tinggi karena memiliki bilangan oksiran yang lebih besar, sehingga kompon lebih reaktif

    PERBANDINGAN KARAKTERISTIK FISIK DAN VIABILITAS BENIH KARET KLON PB 260 DARI DUA UMUR TANAMAN BERBEDA YANG MENGALAMI GUGUR DAUN BERKEPANJANGAN

    Full text link
    Tanaman karet di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan pada beberapa tahun terakhir mengalami gugur daun berkepanjangan. Kesulitan mencari benih untuk batang bawah memunculkan pertanyaan apakah benih dari tanaman muda layak digunakan untuk batang bawah dimana pada kondisi normal tidak dianjurkan. Penelitian ini membandingkan karakteristik fisik, tingkat kesegaran benih, dan daya kecambah dari tanaman muda berumur sembilan tahun dan tanaman dewasa berumur 17 tahun dari klon PB 260 yang mengalami gugur daun berkepanjangan. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Unit Riset Sungei Putih, Pusat Penelitian Karet, Deli Serdang, Sumatra Utara pada bulan Februari sampai Maret 2023. Parameter fisik yang diamati meliputi panjang, lebar, rasio panjang/lebar, dan bobot benih. Uji kesegaran menggunakan 25 sampel benih. Daya kecambah diamati sampai dengan tiga minggu setelah semai. Hasil pengamatan menunjukkan perbedaan nyata antara benih tanaman muda dan dewasa untuk parameter panjang (24,07 + 2,31 mm berbanding 25,58 + 1,74 mm), lebar (22,16 + 2,32 mm berbanding 23,05 + 1,82 mm), dan bobot benih (3,83 + 0,58 g berbanding 4,16 + 0,59 g), sedangkan rasio panjang/lebar tidak berbeda antara kedua umur tanaman (masing-masing 1,09 + 0,06 dan 1,09 + 0,07). Kesegaran benih tidak berbeda nyata antara tanaman muda (33,3 + 7,54%) dan dewasa (41,3 + 4,99%). Perlakuan perendaman satu malam tidak meningkatkan kesegaran benih secara nyata. Daya kecambah tidak berbeda nyata antara benih dari tanaman muda (7,23 + 2,96%) dan tanaman dewasa (21,96 + 13,51%). Penelitian ini menunjukkan bahwa pada tanaman yang mengalami gugur daun berkepanjangan, bentuk benih relatif sama namun ukuran benih tanaman muda lebih kecil. Nilai kesegaran benih dan daya kecambah tidak berbeda nyata antara tanaman muda dan dewasa, keduanya menunjukkan nilai di bawah standar benih normal. Namun demikian, rata-rata daya kecambah benih dari tanaman muda tidak sampai setengah dari nilai daya kecambah benih tanaman dewasa, sehingga penelitian ini mendukung rekomendasi bahwa benih tanaman muda (< 10 tahun) tidak dianjurkan digunakan untuk batang bawah

    FISIBILITAS PEMANFAATAN KOAGULAN ALAMI TERHADAP KARAKTERISTIK KARET PADA PRODUKSI SIR 20

    Full text link
    Tujuan penelitian ini adalah memahami pengaruh koagulan alami pada karakteristik karet SIR 20. Koagulan alami yang digunakan yaitu mangga kweni, asam gelugur, manggis, ciplukan, dan rambutan, karena bersifat asam dan banyak ketersediaannya. Koagulan alami diekstrak dan selanjutnya langsung digunakan sebagai koagulan, namun ekstrak ini juga dilakukan sentrifugasi untuk mendapatkan ekstrak yang lebih bersih. Koagulan kimia yang digunakan sebagai pembanding adalah asam formiat dengan konsentrasi 2%. Volume koagulan sentrifugasi dan tanpa sentrifugasi yang digunakan adalah 75 ml dicampur dengan 150 ml lateks, sehingga terjadinya proses koagulasi dan menghasilkan koagulum. Koagulum dikarakterisasi sesuai mutu SIR 20 dalam SNI 1993:2017 meliputi parameter Po, PRI, viskositas mooney, kadar abu, kadar pengotor, kadar zat menguap, dan kadar nitrogen. Pengaruh karakteristik karet dengan koagulan alami tanpa sentrifugasi menghasilkan nilai Po tertinggi dari ciplukan sebesar 44, PRI tertinggi dari manggis sebesar 75%, viskositas mooney tertinggi dari manggis, ciplukan, dan rambutan sebesar 81 MU, kadar zat menguap terendah dari mangga kweni sebesar 0,31% dan kadar nitrogen dari ciplukan sebesar 0,02%. Sedangkan kadar abu dan kadar kotoran terendah dihasilkan dari koagulan alami sentrifugasi dengan kadar abu terendah dari rambutan sebesar 0,192% dan kadar kotoran terendah pada mangga kweni sebesar 0,20%. Penggunaan koagulan alami sebagai koagulan lateks menghasilkan mutu karet yang lebih baik dibandingkan dengan koagulan kimia asam formiat 2%, tetapi penggunaan koagulan alami menghasilkan kandungan nitrogen yang tinggi. Koagulan alami dengan sentrifugasi dan tanpa sentrifugasi pada asam gelugur, ciplukan, rambutan yang digunakan telah memenuhi persyaratan SNI 06-1903-2017 SIR 20

    KAJIAN STIMULAN ETEFON ANTIOKSIDAN KONSENTRASI RENDAH TERHADAP PRODUKSI KARET (Hevea brasiliensis) SAAT GUGUR DAUN SEKUNDER

    Full text link
    Aplikasi stimulan dengan bahan aktif etefon pada tanaman karet umumnya digunakan untuk meningkatkan produksi lateks. Namun demikian, penggunaannya juga mengakibatkan kerugian baik dari aspek fisiologis tanaman maupun stabilitas margin keuntungan. Sejak tahun 2017, sebagian besar tanaman karet di Indonesia terserang penyakit gugur daun berkelanjutan yang menyebabkan sedikit daun hampir sepanjang tahun dan berimplikasi pada perubahan pola produksi. Hal tersebut perlu diantisipasi dengan aplikasi stimulan yang tepat agar produksi optimal tercapai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aplikasi stimulan etefon konsentrasi rendah yang diperkaya dengan senyawa antioksidan pada produksi tanaman karet. Penelitian ini dilakukan selama September 2021-Mei 2022 menggunakan tanaman karet berumur 8 dan 13 tahun. Rancangan percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan perlakuan stimulan konsentrasi etefon 1% diperkaya senyawa antioksidan (etefon plus siap pakai) dan etefon 2,5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan etefon plus pada B0-2 memiliki produksi yang tidak berbeda nyata dibanding perlakuan stimulan konsentrasi 2,5%. Sementara, produksi pada panel B0-1 perlakuan stimulasn plus nyata lebih tinggi 46,05% dibandingkan stimulan konsentrasi 2,5%. Posisi panel sangat menentukan respon tanaman terhadap penggunaan stimulan. Secara umum, penggunaan stimulan etefon plus konsentrasi 1% cukup efisien dalam meningkatkan produksi karena produksinya setara dengan konsentrasi 2,5% pada kondisi terserang penyakit gugur daun sekunder. Berdasarkan sisi ekonomis, nilai R/C ratio dari aplikasi stimulan konsentrasi 1% sebesar 1,21 dengan harga pokok produksi Rp 16.476 dan 0,89 pada konsentrasi stimulan 2,5%. Hal tersebut menandakan bahwa penggunaan stimulan etefon plus konsentrasi 1% dapat menjadi alternatif stimulan konsentrasi rendah saat kondisi tanaman terserang gugur daun sekunder

    UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS LAHAN HIATEN PADA TANAMAN KARET MENGHASILKAN DENGAN TANAMAN JAGUNG

    Full text link
    Tanaman karet merupakan tanaman tahunan (± 25 tahun) dengan populasi 500-600 pohon per ha. Fase pertumbuhan tanaman karet dibagi dua yaitu tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM). Populasi tanaman karet mengalami pengurangan setiap tahun akibat serangan penyakit jamur akar putih dan tumbang akibat angin. Areal terbuka akibat tanaman mati di areal TM karet disebut hiaten dan dijumpai pada areal TM umur ≥ 15 tahun. Areal hiaten dapat ditanami jagung sekitar 35-50% per hektar. Tujuan penelitian untuk mengetahui potensi areal hiaten di lahan TM karet tahun tanam 2007 di kebun Percobaan Unit Riset Sungei Putih. Jarak tanam jagung 60 x 20 x 20 cm. Menggunakan varietas Pioneer P32, umur panen ±100 hari setelah tanam (HST). Rata-rata biaya, penerimaan dan pendapatan usahatani jagung di areal hiaten TM karet dianalisis dengan metode deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya budidaya jagung di areal hiaten adalah Rp. 14.640.000,- per hektar. Biaya tenaga kerja pengolahan lahan sampai panen sebesar Rp. 6.570.000,-. Biaya pembelian bibit, herbisida, pupuk dan perangsang buah sebesar Rp. 8.070.000,-. Jagung dipanen dalam bentuk tongkol basah dan dijual di lapangan. Biaya panen menjadi beban biaya pedagang pengumpul. Produksi jagung di hiaten 7.500 kg, harga jual Rp. 2.800,-/kg. Keuntungan yang diperoleh dari usahatani jagung di areal hiaten TM karet sebesar Rp. 6.360.000,- per hektar dengan nilai R/C 1,43. Hal ini menunjukkan bahwa usahatani jagung di areal hiaten sangat menguntungkan dan dapat dijadikan alternatif untuk meningkatkan pendapatan petani sebagai tanaman tumpang sari

    365

    full texts

    531

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Puslit Penelitian Karet E-Journal System Portal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇