Journal of Educational Technology Studies and Applied Research
Journal of Educational Technology Studies and Applied ResearchNot a member yet
26 research outputs found
Sort by
Training Curriculum Management Analysis Educourse.id
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen kurikulum pelatihan educourse.id. Hasil yang menunjukkan bahwa nilai rata-rata pebelajar sebagai tenaga kerja berada di atas Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Hal ini mengindikasikan bahwa kurikulum yang digunakan efektif dalam meningkatkan kompetensi pebelajar. Pelatihan dilakukan melalui kombinasi metode daring dan luring dengan pengawasan sistematis dan evaluasi berkala. Selain itu, penerapan Training Need Analysis (TNA) dilakukan untuk menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan pebelajar. Penelitian ini menyarankan pentingnya soal-soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) dalam uji pemahaman serta penyesuaian kurikulum berdasarkan analisis kebutuhan dan perkembangan zaman.Selain itu, peningkatan kualitas uji soal, penciptaan lingkingan belajar yang kondusif, peningkatan komunikasi dan kolaborasi, serta monitoring dan penjaminan mutu yang berkelanjutan. Implikasi penelitian ini dapat membantu perusahaan dalam meningkatkan kualitas program pelatihan dan daya saing nasional dan internasionalThis research aims to analyze the curriculum management of educourse.id training. The results show that the average score of learners as a workforce is above the Minimum Completion Criteria (KKM). This indicates that the curriculum used is effective in improving learners\u27 competencies. The training is conducted through a combination of online and offline methods with systematic supervision and periodic evaluation. In addition, Training Need Analysis (TNA) is applied to adjust the curriculum to the learners\u27 needs. This research suggests the importance of Higher Order Thinking Skills (HOTS) questions in comprehension tests as well as curriculum adjustments based on needs analysis and current developments. In addition, improving the quality of test questions, creating a conducive learning environment, improving communication and collaboration, and continuous monitoring and quality assurance. The implications of this research can help companies in improving the quality of training programs and national and international competitiveness.
The Success of Cultural Podcasts on YouTube LPP RRI Malang as a Medium for Learning Contemporary Local Wisdom for Generation Z
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi Generasi Z terhadap program Podcast obrolan budaya di YouTube LPP RRI Malang dalam menanamkan nilai-nilai kearifan lokal. Generasi Z, sebagai generasi digital native, memiliki karakteristik unik yang perlu diperhatikan dalam upaya pelestarian budaya. Melalui program ini, diharapkan dapat memberikan alternatif belajar budaya yang relevan dan menarik bagi generasi muda. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dirancang khusus untuk mengetahui keberhasilan program obrolan budaya sebagai media belajar berbasis kearifan lokal kekinian. Untuk mengetahui keberhasilan program dalam penelitian ini menggunakan empat aspek yaitu aspek pemahaman program, aspek ketepatan sasaran, aspek ketepatan waktu, dan aspek tercapainya tujuan. Hasil penelitian dari aspek pemahaman program, responden memahami program yang disiarkan, dan juga menangkap esensi program sebagai media belajar pelestarian budaya kearifan lokal. Responden juga memahami materi yang disajikan dan menemukan berbagai aspek budaya yang dibahas dalam program. Hasil penelitian dari aspek ketepatan sasaran, generasi Z lebih menyukai belajar menggunakan cara yang modern seperti Program Obrolan Budaya LPP RRI Malang yang disajikan dan dikemas lebih modern, yaitu melalui podcast. Hasil penelitian dari aspek ketepatan waktu, durasi penyiaran yang dilakukan oleh RRI sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, serta kesesuaian waktu siaran dengan waktu luang pendengar. Hasil aspek tercapainya tujuan, penyiar radio membawakan materi dengan baik sehingga dapat diterima oleh pendengar, selain itu ada perubahan nyata pada pendengar setelah mendengarkan Program Obrolan Budaya.This study aims to describe Generation Z\u27s perception of the cultural chat podcast programme on YouTube LPP RRI Malang in instilling local wisdom values. Generation Z, as a digital native generation, has unique characteristics that need to be considered in cultural preservation efforts. Through this programme, it is expected to provide an alternative to learning culture that is relevant and interesting for the younger generation. The research method used was descriptive quantitative. Data were collected through a questionnaire specifically designed to determine the success of the cultural chat programme as a learning media based on contemporary local wisdom. To determine the success of the programme in this study using four aspects, namely aspects of programme understanding, aspects of target accuracy, aspects of timeliness, and aspects of achieving goals. The results of the research from the aspect of understanding the programme, respondents understood the programme broadcast, and also captured the essence of the programme as a learning medium for preserving local wisdom culture. Respondents also understood the material presented and found various cultural aspects discussed in the programme. Research results from the aspect of target accuracy, generation Z prefers to learn using modern methods such as the LPP RRI Malang Cultural Chat Programme which is presented and packaged more modern, namely through podcasts. Research results from the aspect of timeliness, the duration of broadcasting carried out by RRI in accordance with a predetermined schedule, as well as the suitability of broadcast time with listeners\u27 free time. The results of the aspect of achieving goals, radio announcers present the material well so that it can be accepted by listeners, besides that there are real changes in listeners after listening to the Cultural Chat Programme
Students Cognitive Load in Learning Based onPrimary School Merdeka Curriculum
Cognitive Load is a theory that describes the amount of mental resources a person uses to complete a learning task. Mental resources are a person\u27s cognitive abilities including mind, attention, memory and problem solving skills. Cognitive load in learning that occurs in the classroom describes the condition of students in dealing with learning tasks. The independent curriculum is the curriculum currently used at all levels of education including primary education. However, the curriculum faces problems both in terms of teachers and learners. The purpose of this study was to describe the condition of intrinsic, extrinsic and germane cognitive load of students during learning when using an independent curriculum. This research uses a descriptive qualitative approach. The data collection technique used purposive sampling as many as 6 informants consisting of 2 teachers and 4 students. The results of this study are the intrinsic cognitive load of students found in IPAS, PPKN, Mathematics, English and Javanese subjects. In addition, the intrinsic cognitive load is triggered by giving assignments and motivation or interest in learning from the students themselves. Extrinsic cognitive load was triggered by the lecture learning method used by the instructor or teacher due to the use of high vocabulary. Extrinsic cognitive load is also triggered by the condition of the learning environment, namely the noisy or crowded atmosphere inside and outside the classroom. The germane cognitive load is triggered when the teacher or lecturer presents the subject matter.Beban Kognitif adalah teori yang memaparkan tentang jumlah sumber daya mental seseorang yang digunakan untuk menyelesaikan suatu tugas pembelajaran. Sumber daya mental merupakan kemampuan kognitif seseorang termasuk pikiran, perhatian, memori dan kemampuan pemecahan masalah. Beban kognitif dalam pembelajaran yang terjadi didalam kelas menggambarkan kondisi siswa dalam menghadapi tugas-tugas pembelejaran. Kurikulum merdeka menjadi kurikulum yang saat ini digunakan di segala jenjang pendidikan termasuk jenjang pendidikan dasar. Akan tetapi, kurikulum tersebut menghadapi permasalahan baik dari sisi pengajar serta pebelajar. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan kondisi beban kognitif intrinsik, esktrinsik dan germane siswa pada saat pembelajaran saat menggunakan kurikulum merdeka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan purposive sampling sebanyak 6 informan yang terdiri dari 2 guru dan 4 siswa. Hasil dari penelitian ini yakni beban kognitif intrinsik siswa didapati pada mata pelajaran IPAS, PPKN, Matematika, Bahasa Inggris dan Bahasa Jawa. Selain itu, beban kognitif intrinsik dipicu oleh pemberian penugasan dan motivasi atau minat belajar dari siswa sendiri. Beban kognitif ekstrinsik dipicu oleh metode pembelajaran ceramah yang digunakan oleh pengajar atau guru karena penggunaan kosa kata yang tinggi. Beban kognitif ekstrinsik juga dipicu oleh kondisi lingkungan belajar yakni suasana gaduh atau ramai didalam maupun diluar kelas. Beban kognitif germane dipicu ketika guru atau pengajar memaparkan materi pelajaran
Behavioral Engagement Pada Gamifikasi Perkuliahan Daring Pemrograman Visual
oai:ojs2.journal.teknologipendidikan.or.id:article/2Visual programming is one of the courses offered in the bachelor\u27s degree in educational technology. Based on a survey in the field, almost 85% of educational technology students do not have a background in learning programming. To provide motivation in learning visual programming, gamification is required in implementation. Usually the gamification principle is held offline. This study aims to determine the behavioral engagement of students during lectures by implementing online gamification. The method used was a survey of 98 students who were taking classes at the 8th meeting. The results showed that empirically the level of student behavioral engagement in visual programming courses was good in the high and medium categories, although some were categorized as low. Hypothetically, students are taking lectures at high and moderate levels. The overall results are discussed in the discussion section of the article.Pemrograman Visual adalah salah satu mata kuliah yang ditawarkan pada program studi sarjana S1 teknologi pendidikan. Berdasarkan survei di lapangan hampir 85% mahasiswa teknologi pendidikan tidak memiliki latar belakang belajar pemrograman. Untuk memberikan motivasi dalam pembelajaran pemrograman visual, maka gamifikasi diperlukan dalam pelaksanaan. Biasanya prinsip gamifikasi diselenggarakan secara luring. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui behavioral engagement mahasiswa saat perkuliahan berlangsung dengan menerapkan gamifikasi secara daring. Metode yang digunakan adalah survei kepada 98 mahasiswa yang sedang mengikuti perkuliahan di pertemuan ke 8. Hasil menunjukkan bahwa secara empirik tingkat behavioral engagement mahasiswa dalam perkuliahan pemrograman visual sudah baik dalam kategori tinggi dan sedang, meskipun ada yang berkatagori rendah. Secara hipotetik mahasiswa dalam menempuh perkuliahan pada tingkat yang tinggi dan sedang. Hasil secara keseluruhan didiskusikan pada bagian pembahasan dari artikel
Systematic Literature Review: The Role of the Inclusive School Environment in Enhancing the Development of Gifted Children
Manusia diciptakan dengan perbedaan yang signifikan satu dengan yang lainnya. Perbedaan tersebut dapat berupa bentuk tubuh, kepribadian, minat serta bakat, sampai kesehatan jasmani dan rohaninya. Setiap anak yang mempunyai bakat secara alamiah memiliki ciri khasnya sendiri dan cenderung berbeda dengan orang lain. Anak berbakat adalah seorang manusia yang dianugerahi oleh Tuhan karena mempunyai kemampuan yang lebih unggul dari anak normal pada umumnya. Gifted and Talented Children mengacu pada individu yang menunjukkan potensi atau kecakapan yang luar biasa di atas rata-rata dalam berbagai bidang seperti kecerdasan intelektual, kreativitas, seni, kepemimpinan, atau prestasi akademis. Gifted and talented juga merupakan individu yang terbilang unik, salah satu keunikannya terdapat pada sosial emosionalnya. Sosial emosional anak-anak berbakat dan berprestasi tinggi (gifted and talented children) mencakup berbagai aspek yang terkait dengan kehidupan sosial dan keadaan emosional mereka. Kecerdasan emosional diartikan sebagai kesadaran diri, pengendalian impuls, ketekunan dalam menghadapi kesulitan, empati, dan kompetensi sosial. Faktor yang dapat mempengaruhi seseorang dapat dikatakan anak berbakat yaitu faktor genetik, biologis serta lingkungan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana peranan lingkungan sekolah yang merupakan faktor eksternal untuk mengoptimalkan anak berbakat agar dapat menyesuaikan kemampuannya di sekolah dengan anak lainnya. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu studi literatur. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa faktor eksternal yaitu lingkungan sekolah sangat membantu untuk perkembangan anak berbakat. Karena sekolah inklusi dapat menyesuaikan secara baik antara anak berbakat dengan anak normal lainnya. Hal ini dapat membantu perkembangan sosial maupun emosional anak berbakat agar dapat beradaptasi dengan anak lainnya.Humans are created with significant differences from one another. These differences can be in the form of body shape, personality, interests and talents, to physical and spiritual health. Every child who has talent naturally has its own characteristics and tends to be different from others. A gifted child is a human being who is blessed by God for having abilities that are superior to normal children in general. Gifted and talented children refer to individuals who demonstrate exceptional above-average potential or aptitude in areas such as intellectual intelligence, creativity, art, leadership, or academic achievement. Gifted and talented are also fairly unique individuals, one of the uniqueness is in their social-emotional behaviour. The social-emotional behaviour ofgifted and talented children includes various aspects related to their social life and emotional state. Emotional intelligence is defined as self-awareness, impulse control, perseverance in the face of adversity, empathy, and social competence. Factors that can affect a person can be said to be a gifted child, namely genetic, biological and environmental factors. The purpose of this research is to find out how the role of the school environment which is an external factor to optimise gifted children so that they can adjust their abilities at school with other children. The method used in this research is literature study. The results of this study indicate that external factors, namely the school environment, are very helpful for the development of gifted children. Because inclusive schools can adjust well between gifted children and other normal children. This can help the social and emotional development of gifted children so that they can adapt to other children
Pengaruh Model 7E Learning Cycle Dan Keterampilan Berpikir Kreatif Terhadap Hasil Belajar Mahasiswa
Integrasi pembelajaran yang interaktif dan mendalam merupakan hal penting pada pengembangan kemampuan abad-21. Mengintegrasikan siklus pembelajaran 7E, pebelajar diberdayakan untuk terlibat, mengeksplorasi, menjelaskan, menguraikan, mengevaluasi, dan memperluas pemahaman mereka, sehingga mendorong tingkat retensi pengetahuan yang lebih dalam. Selain itu, pengembangan keterampilan berpikir kreatif dalam portofolio ini memperkuat pemikiran kreatif dan kemampuan pemecahan masalah, mempersiapkan pebelajar menghadapi tantangan dunia nyata. Saat kita menggali manfaat dan hasil dari kerangka pembelajaran transformatif ini, menjadi jelas bahwa kursus media pembelajaran audio dan video dapat benar-benar berkembang jika dilengkapi dengan siklus pembelajaran 7E dan keterampilan berpikir kreatif. Penelitian menggunakan desain eksperimen semu. Subjek penelitian melibatkan dua kelas yakni kelas A sebagai kelompok eksperimen sejumlah 40 mahasiswa dengan pembelajaran siklus 7E dan kelas B sebagai kelompok kontrol sejumlah 40 mahasiswa dengan pembelajaran konvensional. Data yang telah terkumpul kemudian di Analisa untuk mendapatkan hasil menyeluruh tentang pengaruh antara siklus pembelajaran 7E dan keterampilan berpikir kreatif terhadap hasil portofolio mahasiswa serta interaksi dari kedua faktor tersebut yang diujikan dengan tes ANOVA dua jalur. Hasil penelitian ditemukan : (1) Terdapat perbedaan hasil belajar antara mahasiswa yang menggunakan 7E Learning Cycle dan konvensional. (2)Terdapat perbedaan hasil portofolio mahasiswa yang memiliki keterampilan berpikir kreatif tinggi dan rendah. (3) Terdapat interaksi antara 7E learning cycle dengan keterampilan berpikir kreatif terhadap hasil portofolio