JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Not a member yet
    670 research outputs found

    Optimasi Kecepatan dan Waktu Pencampuran dalam Pembuatan Emulgel Ekstrak Teh Hijau

    No full text
    The aims of the research are to determine the Significant effect factor among mixmg rate, mixing time and their interaction on the physical properties and stability of green tea emulgel and to determine the optimum composition area which can produce good emulgel. In our previous investigation was determined the optimum composition between emulsifying agent (Tween 80 and Span 80) and gelling agent (Carbopol) This research determined the optimum mixing process, particularly on mixing rate and mixing time usig the factorial design with two factors (mixing rate and mixing time) and two levels (high level and low level). The physical properties and stability parameter investigated were including viscosity, spreading ability and viscosity shift atter storage at predetermined temperature and humidity for a month. The results showed that mixing rate Significantly influence on the viscosity and spreading ability and the mixing time significantly influence on the Viscosity shift. The optimum composttion area was not produced because the factorial design equation for viscosity respond and viscosity shin were not significant so can not be used to predict responds.Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh kecepatan dan waktu pencampuran maupun interaksinya, serta menentukan area komposisi optimum yang dapat menghasilkan emulgel teh hijau dengan sifat dan stabilitas fisik yang baik. Penelitian yang pemah dilakukan sebelumnya menitikberatkan pada studi optimasi komposisi emulsifying agent (Tween 80 dan Span 80) dan gelling agent (Carbopol). Dalam penelitian ini akan dilakukan optimasi proses pencampuran dengan kajian dari faktor kecepatan dan waktu pencampuran menggunakan desain faktorial dengan dua faktor (yaitu kecepatan dan waktu pencampuran) dan dua level (level tinggi dan rendah). Parameter kualitas dan stabilitas fisik emulgel antara lain viskositas. daya sebar. pergeseran viskositas yang diamati setelah penyimpanan selama satu bulan pada suhu dan kelembaban tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kecepatan pencampuran berpengaruh Signifikan terhadap respon viskositas dan daya sebar, sedangkan faktor waktu pencampuran berpengaruh Signifikan terhadap respon pergeseran viskositas. Tidak ditemukan adanya area optimum proses pencampuran karena persamaan desain faktorial untuk respon viskositas dan pergeseran viskositas dinyatakan tidak signifikan sehingga tidak dapat digunakan untuk memprediksi respon

    Aktivitas Anti Agregasi Platelet dan Aktivitas Antitrombosis Ekstrak Etanol Daun Cinco (Cyclea barbata Miers.)

    No full text
    The research about anti aggregation platelet and antithrornbotic activity of ethanol extract of Cinco (Cyclea barbata Miers.) (Cb) leaves in mice has been conducted. The background of the research has been reported in vitro anti aggregation platelet and antithrombotic activity of Cb extract. The purpose of this research to know the effect of Cb extract in anti aggregation platelet, antithrombotic activity, prolonged the tail bleeding and coagulation time. The results of the present study indicate that the extract of Cb leaves significantly inhibit platelet aggregation in mice, prolonged tail bleeding time, coagulation time in mice, and thrombotic forming (acute). All of the above measurement have been analyzed significantly using One Way ANOVA programme. Cyclea barbata Miers. significantly prevented death due to thrombus protection whereas as in dose dependent manner. Cyclea barbata Miers. showed significant prolongation of the mice tail bleeding time compared to the control in low dose (150 mg/kg BW). Cyclea barbata Miers. significantly prolonged coagulation time compared to the control in dose dependent manner. The experiment on in vivo anti platelet aggregation showed that Cb (150 mg/kg BW and 300 mg/kg BW) could significantly inhibit aggregation which induced by ADP compared with control. The conclusion of this research is that the extract of Cb leaves has an anti aggregation platelet activity and antithrombotic activity in dose 150. mg/kg BW and 300 rug/kg BW.Dilakukan penelitian aktivitas anti agregasi platelet dan anti trombosis ekstrak etanol daun Cinco (Cyclea barbata Miers.) (Cb) secara in vivo pada mencit. Latar belakang dari penelitian ini karena telah dilaporkan sebelumnya bahwa Cinco mempunyai aktivitas anti agregasi secara in vitro. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek inhibisi ekstrak etanol daun Cb terhadap agregasi platelet serta aktivitas anti trombosis, dan juga memperpanjang waktu pendarahan dan waktu koagulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun Cb secara signifikan dapat menghambat agregasi platelet, memperpanjang waktu pendarahan, memperpanjang waktu koagulasi, dan menghambat pembentukan trombus secara akut. Selain itu ekstrak etanol daun Cb juga memberikan perlindungan pada thrombus secara signifikan dengan efek menyeluruh yang tergantung pada dosis. Semua pengukuran diatas dianalisa kebermaknaannya dengan menggunakan program ANOVA Satu Arah. Ekstrak etanol daun Cb dengan dosis rendah (150 mg/kg) memperlihatkan perpanjangan waktu pendarahan yang signiiikan pada ekor mencit dibandingkan kontrol dengan efek tergantung pada dosis. Ekstrak etanol daun Cb secara signiiikan memperpanjang waktu koagulasi dibandingkan terhadap kontrol dengan efek tergantung pada dosis. Ekstrak etanol daun Cb pada dosis 150 mg/kg bb dan 300 mg/kg BB signiiikan menghambat agregasi dibandingkan dengan kontrol. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun Cb mempunyai aktivitas anti agregasi platelet dan antitrornbosis pada dosis 150 dan 300 mg/kg BB

    Efek Hipoglikemik Kombinasi Infus D

    No full text
    Talok (Muntingia calabura L.) leaf is a traditional medicinal plant which empirically used to treat diabetes mellitus. This research aimed to know hypoglycemic effect of combination dose of talak leaves infuse-metformin and glibenclamide on Na2EDTA induced-diabetic rats. Diabetic animal model were conducted by induction of Na2EDTA dose of 70 mg kg bw for 3 days. The test groups divided into six groups which were treated with: 50 mg kg bw CMC-Na suspension (negative control 1st group), 0.9 mg kg bw glibenclamide (2nd group), metformin 90 mg kg bb (3rd group), 900 mg kg bw talok leaves infuse (4th group), combination of talok leaves infuse-glibenclamide (450 mg : 0.45 mg/kg bw) (5th group), combination of talok leaves infuse-metformin (450 mg : 45 mg kg bw) (6th group). The levels of blood glucose were examined in all 6 experimental groups on day 0, 4th and 7th. The data obtained were analyzed by one way ANOVA (p < 0.05). The results showed that all of combination could decrease the blood glucose levels significantly. The combination treatment of talok leaves infuse-glibenclamide showed a higher hypoglycemic effect than either drug alone, while combination treatment of talok leaves infuse-metformin showed a similar hypoglycemic effect to either drug alone.Daun talok (Muntingia calabura L.) merupakan tanaman obat tradisional yang mengandung flavonoid, saponin, polifenol dan tanin yang secara empiris telah digunakan untuk terapi diabetes mellitus. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari efek hipoglikemik kombinasi infus daun talok dengan metformin dan dengan glibenklamid pada tikus diabetes yang diinduksi Na2EDTA. Kondisi diabetes pada hewan uji diinduksi dengan Na2EDTA dosis 70 mg kg bb selama 3 hari. Kelompok kontrol negatif diberikan suspensi CMC-Na 50 mg/kg bb, kelompok kedua diberi glibenklamid 0,9 mg kg bb, kelompok ketiga diberikan metformin 90 mg kg bb, kelompok keempat diberikan 900 mg kg bb infus daun talok, kelompok kelima diberikan kombinasi infus daun dengan glibenklamid (450 mg : 0,45 mg kg bb), kelompok keenam diberikan kombinasi infus daun talok-metformin (450 mg : 45 mg/kg bb). Kadar gula darah diukur pada hari ke-O, ke-4 dan ke-7. Data yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA satu arah (p < 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua kombinasi dapat menurunkan kadar glukosa darah secara signiiikan. Perlakuan dengan kombinasi infus daun talok dan glibenklamid menunjukkan efek hipoglikemik lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok lain yang diberi perlakuan dengan obat tunggalnya, sedangkan perlakuan dengan kombinasi infus daun talok dan metformin menunjukkan efek hipoglikemik yang setara dengan kelompok perlakuan obat tunggalnya

    Pengaruh Perlakuan PGV-1, PGV-0 dan Kurkumin terhadap Protein yang Terlibat dalam Siklus Sel Fase G2-M dan Apoptosis pada Sel Kanker Payudara T 47D

    No full text
    Previous experiments showed that curcumin analogue (PGV-1) inhibited breast cancer cell (T47D) growth at G2-M phase and induced cell apoptosis. This experiment was conducted to investigate the molecular effect of another curcumin analogue, PGV-0 and curcumin on the cell cycle progression and apoptosis as compared to the PGV-1. F lowcytometric method was conducted to analyze the effect of PGV-1 (2,5 µM), PGV-0 (5,0 µM) and curcumin (10,0 µM) on the cell distribution of various phase of T47D cell cycle. Western blot was also conducted to observe the effect of those compounds on proteins that involved in cell cycle (i.e. p21 and Cdc-Z) and apoptosis (Caspase-3/7/9). The results showed that PGV-1, PGV-0 and curcumin induced hyperploidy phenomenon on T47D cell. PGV-1 inhibited the cell cycle specifically on G2-M phase. Molecular observation showed that PGV-1 and PGV-0 were able to increase the expression of p21 protein and the Cdc-2 proteins, whilst curcumin was able to activate the Cdc-2 protein. The compounds have ability to induce apoptosis on T47D cell via Caspase3/7 activation. In conclusion, PGV-1, PGV-0 and curcumin inhibited the T47D cell cycle progression and induced cell apoptosis.Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa analog kurkumin PGV-1 dapat menghambat pertumbuhan sel kanker payudara pada fase G2-M dan menginduksi terjadinya apoptosis. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan pengaruh molekuler analog kurkumin PGV-0 dan kurkumin dengan PGV-l pada siklus sel dan apoptosis. Metode flowcytometry dilakukan dengan menganalisis pengaruh perlakuan PGV-1 (2,5 µM), PGV-0 (5,0 µM) dan kurkumin (10,0 µM) terhadap distribusi sel pada berbagai fase siklus sel T47D. Metode Western blot dilakukan untuk mengamati pengamh perlakuan senyawa uji terhadap protein yang terlibat pada siklus sel (p21 dan Cdc-2) dan apoptosis (Caspase-3/7/9). Hasil pengamatan pada perlakuan dengan PGV-1, PGV-0 dan kurkumin menunjukkan fenomena hiperploidi. Perlakuan dengan PGV-l secara spesifik menunjukkan fenomena penghambatan pada fase G2-M. Pengamatan molekuler menunjukkan PGV-1 dan PGV-0 mampu mempengaruhi ekspresi protein p21 dan Cdc-2 sedangkan kurkumin hanya mempengaruhi aktivasi Cdc-2. Ketiga senyawa uji terbukti mampu menginduksi apoptosis pada sel T47D melalui aktivasi Caspase-3/7. Secara keseluruhan, perlakuan ketiga senyawa uji mampu mempengaruhi siklus sel dan dapat menginduksi terjadinya apoptosis pada sel T47

    Evaluasi Ketaatan Penggunaan Antihipertensi di Apotek X _ Yogyakarta Periode Tahun 2009 Berdasarkan Parameter Medication Possession Ratio

    No full text
    World Health Organization reported that hypertension was in the top rank as global causes of death in 2009. Adherence to the antihypertensive medication reduced risks of various cardiovascular diseases. A cross-sectional study has been carried out to observe profile of the use of antihypertensive and to evaluate patient’s compliance based on Medication Possession Ratio (MPR) at X-Pharmacy Yogyakarta in 2009. Study subjects were the prescription of antihypertensive for patient regularly visits at least 3 times. The MPR was calculated as the ratio of the sum of the days supply of the prescription filled, excluding the latest prescription, divided by number of days filled. Results showed that the class and type of the most commonly prescribed antihypertensives based on the number of units and the highest mean units per prescription was the ACEI (captopril 25mg) and based on the frequency of prescribing was CCB (amlodipin 5mg). The use of generic drugs versus branded medicines 5.6 times in the units, 3.2 times more in the frequency of prescribing, and 1.7 times more generic drugs in mean units per prescription. There was no significant difference between the adherence of patients based on sex, with or without costsharing; as well as single or combination antihypertensive based on MPR (p > 0.05); mean MPR was 0.78 ± 0.15 (range 0.41-1.00); and as many as 50.00 0 had MPR > 0.8 and considered as adherent patients.World Health Organization melaporkan hipertensi sebagai global health risk nomor satu pada tahun 2009. Ketaatan penggunaan obat antihipertensi akan menurunkan berbagai risiko penyakit kardiovaskuler. Telah dilakukan penelitian cross-sectional untuk mengamati profil penggunaan antihipertensi dan mengevaluasi ketaatan pasien berdasarkan jenis kelamin, program bantuan pembiayaan, dan tunggal atau kombinasi, serta profil ketaatan pasien berupa Medication Possession Ratio (MPR) di Apotek X Yogyakarta tahun 2009. Objek yang diteliti adalah peresepan antihipertensi dari pasien langgangan dengan peresepan antihipertensi minimal 3 kali kunjungan. Parameter MPR dihitung sebagai rasio jumlah hari pasien mendapat obat sampai resep terakhir dengan jumlah total hari pasien harusnya mendapat obat sampai resep terakhir yang ditebus. Dari hasil penelitian diperoleh golongan dan jenis obat antihipertensi yang paling sering diresepkan berdasarkan jumlah unit dan paling banyak rerata (mean) unit obat per resep, yaitu ACEI (captopril 25 mg), dan berdasarkan frekuensi peresepan adalah CCB (amlodipin 5mg). Penggunaan obat generik dalam unit, 5.6 kali dibandingkan obat bermerk, dalam frekuensi peresepan 3.2 kali lipat, dan dalam rerata unit per resep 1.7 kali lipat. Tidak ada perbedaan bermakna antara ketaatan pasien berdasarkan jenis kelamin, program bantuan pembiayaan, maupun antihipertensi tunggal atau kombinasi berdasarkan parameter MPR (p > 0.05); mean MPR adalah 0.78 ± 0.15 (0.41-1.00); dan sebanyak 50.000 memiliki MPR > 0.8

    Isolasi dan Identifikasi Senyawa Bioaktif Ekstrak Aseton Daun Garcinia lateriflora Blume

    Get PDF
    Preliminary studies have been carried out phytochemical test acetone leaf extract Garcinialateriflora Blume., and toxicity test against shrimp larvae (Artemia salina Leach) and murine cell lineP388. Isolates which showed the highest mortality are proceeded further for fractionation, isolation andpurification. The structure identification of active campound carriedout by analyzing the spectrum of IR ,GC-MS (Gas chromatography mass spectrometer) and proton nuclear magnetic resonance spectrometer(1H-NMR ) and (13C-NMR ). The results showed that the most active against the larval shrimp Artemiasalina L. with LC50 value of 18.03 ug/mL is b-asaron, IC50 of test results on cell line murine P-388 is 47.0ug/mL. This compound was isolated first time from the plant Garcinia lateriflora BL.Studi pendahuluan mencakup skrining fitokimia, uji toksisitas terhadap larva udang (Artemiasalina Leach) dan sel lestari murine P388 telah dilakukan terhadap ekstrak aseton daun Garcinialateriflora Blume. Isolat yang menunjukkan effek mortalitas paling tinggi dilakukan fraksinasi, isolasidan pemurnian. Penentuan struktur kimia senyawa aktif dilakukan dengan menganalisis spektrum IR , GCMS(Gas Chromatography mass spectrometer) dan spektrometer resonansi magnetik inti proton (1H-RMI )dan inti kabon (13C-RMI ). Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat paling aktif terhadap larvaudang Artemia salina L. dengan nilai LC50 18.03 ug/mL adalah b-asaron, IC50 hasil uji terhadap sel lestarimurine P-388 adalah 47.0 ug/mL. Senyawa ini pertama kali diisolasi dari tumbuhan Garcinia laterifloraBL

    Profil Protein Klebsiella pneumoniae K3 Pasca Inaktivasi Sinar Gamma dan Pemanasan Suhu 65 C

    No full text
    Klebsiella pneumoniae is one of coliform bacteria which causes human and mammalian diseases. The bacteria dominate in dairy cow milk which has been infected by mastitis and has resistent on antibiotic. Vaccination is one of aims to prevent the diseases. Nuclear technique could be used to have a vaccine candidate.This research was conducted to get inactivated K. pneumoniae by gamma irradiation and heat inactivated as vaccine candidate. The experiments were done by determination of inactivated doses, protein content, and protein profile. analysis. K. pneumoniae could be inactivated using gamma rays by doses higher than 600 Gy. Neither irradiation nor heat (65 oC) influenced the K. pneumoniae total protein content The intensity of protein profile in gamma ray inactivated was higher than heat inactivated. There were 35, 36, and 60 kDa protein which were diagnosed as antigen protein. It could be concluded that inactivated by gamma irradiation K. pneumoniae could be chosen as a vaccine candidate and as a model for other bacterial vaccine.Klebsiella pneumoniae merupakan salah satu bakteri koliform yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau hewan. Bakteri ini mendominasi sampel susu sapi perah yang terinfeksi masititis dan memiliki tingkat resistensi terhadap antibiotik. Vaksinasi merupakan salah satu cara untuk mencegah timbulnya penyakit tersebut. Teknik nuklir dapat digunakan untuk memperoleh bahan vaksin. Tujuan dari penelitian ini ,adalah untuk mendapatkan bahan vaksin K. pneumoniae hasil inaktivasi dengan iradiasi gamma. Sebagai pembanding dilakukan pula inaktivasi sel K. pneumoniae dengan pemanasan suhu 65 °C. Tahapan percobaan terdiri dari penentuan dosis inaktivasi, pengukuran kandungan protein, analisis profil protein, dan uji in viva dengan hewan percobaan mencit. Hasil percobaan menunjukkan bahwa dosis yang diperlukan untuk menginaktivasi sel bakteri K. pneumoniae dengan iradiasi gamma adalah ≥ 600 Gy dan dengan pemanasan suhu 65 °C adalah ≥ 30 menit. Iradiasi gamma dan pemanasan suhu 65 °C tidak mempengaruhi kadar protein total K. pneumoniae. Dari dua perlakuan tersebut, terdeteksi pula pita pada berat molekul sekitar 35, 36, dan 60 kDa yang diduga merupakan protein antigen. Tetapi, karena profil protein antigen iradiasi gamma memiliki intensitas yang lebih tinggi, dapat disimpulkan bahwa metode iradiasi gamma memiliki intensitas yang lebih tinggi, dapat disimpulkan bahwa metode iradiasi gamma lebih baik untuk pembuatan bahan vaksin dari bakteri

    Rasio Senyawa Enansiomer sesamin di dalam kulit batang Pentaspadon motleyi (Anacardiaceae)

    Get PDF
    The barks of Pentaspadon motleyi Hook. f. (Anacardiaceae) were collected from the Poso district in Central Sulawesi, Indonesia, in 1992 which it has been used traditionally as a remedy for malaria and tuberculosis in the local area. It was found that a mixture of (+)-sesamin (1) and (-)-sesamin (2) in a ratio of 100:86 were present together with lupeol in the bark of Pentaspadon motleyi. This was the first evidence of sesamin being isolated in almost equivalent amounts of (+)- and (-)-forms from a single plant species, and indicates that the biosynthetic pathway of sesamin in the plant is not enantioselective or fuzzy.Kulit batang Pentaspadon motleyi Hook. F (Anacardiaceae ) yang dikoleksi dari daerah Poso (Sulawesi Tengah), Indonesia tahun 1992 dan secara tradisional digunakan untuk pengobatan malaria dan tuberkolosis. Senyawa kimia dalam bentuk campuran (+)-sesamin (1) dan (-)-sesamin (2) dengan perbandingan 100:86 bersama dengan senyawa lupeol telah ditemukan dari kulit batang Pentaspadon motleyi. Ini adalah laporan yang pertama kali bahwa sesamin yang diisolasi yang mempunyai jumlah hampir sama antara (+)-sesamin dan (-)-sesamin dari satu spesies tanaman ini, dan ini menunjukkan bahwa jalan biosíntesis sesamin dalam tanaman tersebut tidak enansioselektif atau tidak begitu jelas

    Stabilitas Sabun Cair Wajah yang Mengandung Susu Kambing dengan Variasi Kokamide DEA

    No full text
    Goat milk containing many amino acids and fatty acids that can be used as an emollient and humectant in skin liquid soap. The aim of this study is to investigate the effect of variation in cocamide DEA concentration on a face liquid soap stability. Face liquid soap formulae containing 10% goat milk and different concentration of cocamide DEA (3%, 4%, 5%, and 6%) were made by dissolving and mixing methods. The goat milk liquid soap products were evaluated and tested for their stability. Stability were justified from the colour, smell, viscosity, pH, density, and homogenity. The result showed that higher cocamide DEA concentration would produce better soap stability consecutively. The goat milk liquid soap containing 6% of cocamide DEA is the best formula investigated.Susu kambing banyak mengandung asam amino dan asam lemak yang dapat digunakan sebagai emolien dan humektan pada kulit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi kokamide DEA terhadap stabilitas sabun cair wajah mengandung susu kambing. Sediaan sabun cair wajah yang mengandung susu kambing 10% dengaan 5 variasi konsentrasi kokamide DEA antara 3%-6% dibuat denganmetode pelarutan dan pencampuran. Sediaan yang dihasilkan dievaluasi dan ditentukan stabilitasnya. Hasilnya menunjukkan bahwa konsentrasi kokamide DEA berpengaruh terhadap stabilitas sabun cair wajah, semakin tinggi konsentrasi yang digunakan stabilitas semakin baik. Formula terbaik ditunjukkan oleh formula yang mengandung kokamide DEA 6%

    Aktivitas Antioksidan Senyawa Flavonoid Terprenilasi dari Ekstrak Diklorometana Daun Artocarpus communis

    Get PDF
    This research investigated the antioxidant activity of prenylated flavonoid compound from the ichloromethane extract of Artocarpus communis leaves on 1,1-diphenyl-2-picryl hydrazyl free radicals scavenging assay. The dichoromethane extract of Artocarpus communis leaves was fractionated by column chromatography techniques on silica gel, and each fraction was assayed for its activity. The active compound, 1-(2,4-dihydroxyphenyl)-3-[8-hydroxy-2-methyl-2-(4-methyl-3-pentenyl)-2H-1-benzopyran-5-yl] 1-propanone, showed moderate antioxidant activity with IC50 54.6 μg mL-1.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan senyawa flavonoid terprenilasi dari ekstrak diklorometana daun Artocarpus communis dengan menggunakan uji penangkapan radikal bebas1,1-difenil-2-pikril hidrazil. Ekstrak diklorometana daun Artocarpus communis difraksinasi dengan teknik kromatografi kolom pada silika gel, dan setiap fraksi diuji aktivitasnya. Senyawa aktif, 1-(2,4-dihidroksifenil)-3-[8-hidroksi-2-metil-2-(4-metil-3-pentenil)-2H-1-benzopiran-5-il]1-propanon, menunjukkan aktivitas antioksidan yang moderat dengan IC50 54.6 μg mL-1

    461

    full texts

    670

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇