JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Not a member yet
670 research outputs found
Sort by
Efek Antioksidan Larutan Kosolven Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) pada Tikus dengan Parameter MDA dan SOD
Mangosteen (Garcinia mangostana L.) rinds extract in capsule form has been marketed. a-mangostin, the active compound of G. mangostana had been known has low solubility in water. This study was aimed to measure and compare antioxidant effect of a-mangostin as cosolvent solution to extracts suspentions. 25 rats were divided into 5 groups: negative (I) and positive (II) control, cosolvent solution (III), extract (IV) and extract® (V). Treatment were given for 14 days, free radicals were induced by CCl . MDA were analyzed using thiobarbituric acid method while SOD by using adenochrome assay. Results showed MDA level were: 1.0±0.19; 0.3±0.05; 0.4±0.04; 0.6±0.04 and 0.5±0.00 nmol/mL, whereas SOD activity were: 17±0.0; 123±25.3; 107±19.0; 73±18.9 and 97±27.0 U/mL for group I, II, III, IV and V, respectively. Kruskal Wallis test showed a significant difference in MDA between group III with IV and V (p>0.05), showing cosolvent has higher ability to decrease MDA than the extracts suspension. There were significant differences of SOD between group III and IV (p>0.05), meaning cosolvent has higher ability to increase SOD activity compare to the extracts. Research showed cosolvent has a higher antioxidant effect with potential to inhibit MDA formation by 70% and increase SOD activity by 623%. Ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dalam bentuk kapsul telah dipasarkan. Telah diketahui bahwa a-mangostin, senyawa aktif dari G. mangostana memiliki kelarutan dalam air yang sangat rendah. Tujuan penelitian ini adalah mengukur dan membandingkan efek antioksidan a-mangostin dalam bentuk sediaan larutan kosolven terhadap bentuk sediaan ekstrak. 25 ekor tikus dibagi ke dalam 5 kelompok: kontrol negatif (I), kontrol positif (II), larutan kosolven (III), ekstrak (IV) dan ekstrak® (V). Sediaan uji diberikan selama 14 hari dan diinduksi menggunakan CCl . MDA dianalisis menggunakan metode thiobarbituric acid, sedangkan SOD dianalisis menggunakan adenochrome assay. Didapatkan kadar MDA 1,0±0,19; 0,3±0,05; 0,4±0,04; 0,6±0,04 dan 0,5±0,00 nmol/μL sedangkan aktivitas SOD 17±0,0; 123±25,3; 107±19,0; 73±18,9 dan 97±27,0 U/mL untuk kelompok I, II, III, IV dan V . Hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan adanya perbedaan kadar MDA yang bermakna antara kelompok III dengan IV dan V (P>0,05), menunjukkan kemampuan penurunan MDA kosolven lebih tinggi dibandingkan kedua kelompok ekstrak. Terdapat perbedaan SOD yang bermakna antara kelompok III dan IV (p>0,05) menunjukkan peningkatan SOD kosolven lebih tinggi dibandingkan ekstrak. Penelitian menunjukkan kosolven memiliki efek antioksidan yang lebih tinggi dengan potensi penghambatan pembentukan MDA sebesar 70% dan potensi peningkatan aktivitas SOD sebesar 623%
Pengembangan Instrumen Pengukuran Kepuasan Pasien atas Layanan Pharmaceutical Care
Development and validation of the instrument to assess patient satisfaction to pharmaceutical care is important to be conducted. It will provide a reliable tool so that research to measure patient satisfaction regarding to pharmaceutical care could be further developed. First, content of the questionnaire was developed based on the literature review and focus group discussion of the panel. Then, the draft was tested to 5 respondents as a readability measurement. After received input from readability test’s respondents and made some changes, panel re-tested the questionnaire as content validity analysis. Finally, the questionnaire was distributed to other 30 respondents to get data for factor analysis, construct validity test and reliability test. Thirteen items was found as important factors that inuence patient satisfaction to pharmaceutical care based on literature review and focus group discussion activity. The questionnaire was further tested on 30 respondents. In the factor analysis assessment, categorization of items could not be made. Validation test using Pearson correlation and reliability test using Cronbach’s Alpha toward each item on the questionnaire showed that all items were valid and reliable, except one item in the “hope” section. Further study with greater number of respondents is required to re-validate this questionnaire. Salah satu cara untuk menilai kualitas pharmaceutical care adalah dengan mengukur kepuasan pasien. Pengembangan dan validasi instrumen kepuasan pasien terkait dengan pharmaceutical care penting dilakukan untuk tersedianya instrumen yang komprehensif, valid dan reliabel sehingga penelitian untuk mengukur kepuasan pasien terhadap pharmaceutical care dapat dikembangkan. Kuesioner dibangun berdasarkan studi literatur dan diskusi mendalam dengan stakeholders. Selanjutnya, dilakukan uji readability terhadap responden/ pasien, untuk kemudian diuji ulang validitas isinya oleh panel akademisi dan praktisi.Validasi kemudian dilakukan dengan jumlah responden yang lebih besar dengan metode cross-sectional analysis. Hasil isian kuesioner digunakan untuk analisis faktor, uji validitas dan uji reliabilitas kuesioner. Hasil focus group discussion antara peneliti dengan praktisi apoteker didapatkan 13 faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di apotek. Validitas kuesioner selanjutnya diuji pada 30 responden. Pada analisis faktor, tidak diperoleh dimensi yang dapat mengelompokkan pernyataan/ faktor yang ada. Uji validasi dengan menggunakan Pearson correlation dan uji reliabilitas dengan menggunakan nilai Cronbach’s Alpha terhadap masing-masing 13 pernyataan pada kuesioner harapan dan kenyataan diperoleh pernyataan yang valid dan reliabel pada semua pernyataan, kecuali satu pernyataan pada bagian harapan. Penelitian lebih lanjut dengan jumlah responden yang lebih banyak diperlukan untuk memvalidasi ulang kuesioner ini
Pemanfaatan Kitosan Tersambung Silang dengan Tripolifosfat sebagai Eksipien Gel Ikan Haruan (Channa Striatus)
Meat of snakehead fish (Channa striatus) has been reported can be used for wound healing because contains proteins, essential amino acids, lipid and fatty acids that inuenced wound healing process. The present study was performed in order to formulate gels contain meat powders of snakehead fish for wound healing. The formulas were used 1 g (formula 1) and 2 g (formula 2) meat powder of snakehead fish as an active ingredient. Meat powder of snakehead fish have been made nanosuspension use ionic gelation method with chitosan and sodium tripolyphosphate and formulated to gel form using HPMC as gelling agent. Suspenses have been physicochemical charactheried. The results showed that suspenses (formula 1 and formula 2) have particle sie in range of 41.665.5 nm and 41.2.1 nm respectively polidispersity inde of 0.512 and 0.456 respectively eta potential ()2.15 m and ()2.35 m respectively both of formulas have spherical particles.Daging ikan haruan (Channa striatus) dipercaya dapat digunakan untuk menyembuhkan luka karena mengandung protein, asam amino esensial, lemak dan asam lemak yang berperan dalam proses penyembuhan luka. Tujuan dari penelitian ini ialah membuat gel yang mengandung serbuk daging ikan haruan sebagai penyembuh luka. Pada penelitian ini digunakan serbuk daging ikan haruan sebagai at aktif sebanyak 1 g pada formula 1 dan 2 g pada formula 2. Serbuk daging ikan haruan dibuat suspensi dengan ukuran partikel nanometer dengan metode gelasi ionik menggunakan kitosan dan natrium tripolifosfat, kemudian dibuat menjadi bentuk sedian gel dengan menggunakan gelling agent HPMC. Terhadap suspensi yang dihasilkan, dilakukan karakterisasi fisika dan kimia. Hasil karakterisasi suspensi formula 1 dan formula 2 adalah sebagai berikut: ukuran partikel berturut-turut 491,8-665,5 nm, dan 41,2,1 nm indeks polidispersitas 0,512 dan 0,456 nilai potensial eta ()2,15 m dan ()2,35 m kedua formula mempunyai partikel berbentuk sferi
Mikroenkapsulasi Ketoprofen dengan Metode Koaservasi dan Semprot Kering Menggunakan Pragelatinisasi Pati Singkong Ftalat sebagai Eksipien Penyalut
This study was purposed to prepare microcapsules of ketoprofen by coacervation and spray drying methods and to characterize the resulting microcapsules. The microcapsules were prepared using pregelatinized cassava starch (PCS) and pregelatinized cassava starch phthalate (PCSPh) as a coating material. The obtained microcapsules were then characterized, including its recovery, shape and morphology, drug-loading efficiency, particle size distribution, swelling index, functional Groupanalysis, and drug release profile.The used PCSPh had a substitution degree of 0.0541 and soluble in basic aqueous medium. Microcapsules prepared by coacervation method had an irregular shape and a hollow surface and the entrapment efficiency of 20.27% ± 1.82.Whereas, the spray dried microcapsules showed a nearly-spherical-shape with a biconcave surface and the entrapment efficiency was 80.22% ± 9.18. The release study results showed that within 8 hours ketoprofen released from the coacervation microcapsulesat pH 1.2 and pH 7.4 were 8% and 18%, respectively. In addition, ketoprofen released from spray-dried microcapsules within 8 hours at pH 1.2 and pH 7.4 were 5% and 25%, respectively. In conclusion, the microcapsules prepared by both methods could extent the drug released, thus it could be possible to be used for a sustained release device.Penelitian ini bertujuan untuk membuat dan mengkarakterisasi mikrokapsul ketoprofen dengan menggunakan metode koaservasi dan metode semprot kering. Bahan penyalut yang digunakan untuk metode koaservasi adalah pragelatinisasi pati singkong (PPS) dan bahan penyalut yang digunakan untuk metode semprot kering adalah pragelatinisasi pati singkong ftalat (PPSFt).Mikrokapsul yang diperoleh dikarakterisasi meliputi rendemen proses, bentuk dan morfologi, efisiensi penjerapan, distribusi ukuran partikel, indeks mengembang, analisis gugus fungsi dan profil pelepasan obat. PPSFt yang digunakan memiliki derajat subsitusi sebesar 0,0541 dan larut dalam medium basa. Mikrokapsul yang dibuat dengan metode koaservasi memiliki bentuk yang tidak sferis dan berongga dengan efisiensi penjerapannya sebesar 20,27% ± 1,82. Sementara itu, mikrokapsul yang dibuat dengan metode semprot kering memiliki bentuk yang hampir sferis dengan permukaan cekung dan memiliki efisiensi penjerapannya sebesar 80,22% ± 9,18. Hasil pelepasan obat menunjukkan bahwa selama 8 jam sebesar 8% ketoprofen dilepaskan dalam pH 1,2 dan sebesar 18% dilepaskan dalam pH 7.4 dari mikrokapsul yang dibuat dengan metode koaservasi. Sementara itu, ketoprofen dilepaskan selama 8 jam sebesar 5% dalam pH 1,2 dan 25% dilepaskan dalam pH 7.4 dari mikrokapsul yang dibuat dengan metode semprot kering. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa mikrokapsul yang dibuat dengan kedua metode tersebut dapat menahan pelepasan obat sehingga berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sediaan lepas lambat
Pengaruh Kitosan Iradiasi dalam Menurunkan Kadar Gula Darah Mencit Jantan Swiss Webster dengan Metode Tes Toleransi Glukosa Oral
Chitosan is a dietary iber that has been used as an antihyperglycemia agent. Irradiation of chitosan resulted in 1,4-β glycosidic chain termination which shortened the chitosan chains, lower its molecular weight, and minimize steric effects. This is a preliminary experimental study to ind the effective irradiation dose and chitosan type in lowering blood sugar levels. Fifty two mice were used in this research and divided into various treatment groups which included: normal control, negative control, positive control (Acarbose), non-irradiated chitosan and irradiated chitosan. Chitosan solution were given for 15 days and then oral glucose tolerance test were conducted using 1.5 g/kg bw of glucose. Blood sugar levels were monitored at minute 0, 30, 90, 120, and 150; and Area Under the Curves (AUC) were calculated. The results showed that the irradiation of chitosan can lower blood sugar levels greater than the non-irradiated chitosan; and chitosan irradiation of 100 kGy dose I and II can lower blood sugar levels better than irradiated chitosan and positive control. It was concluded that although the 100 kGy irradiated chitosan appears to have greater ability than the positive control group in lowering blood sugar levels. But after LSD test towards the AUC value, it appears that both groups have the same effectivity.Kitosan merupakan dietary iber yang memiliki khasiat sebagai antihiperglikemia. Iradiasi kitosan mengakibatkan pemutusan rantai pada 1,4-β glikosidik sehingga akan memperpendek rantai kitosan, menurunkan bobot molekulnya dan memperkecil efek sterik. Penelitian ini merupakan penelitian pendahuluan yang bersifat eksperimental untuk menemukan dosis iradiasi dan jenis kitosan yang efektif dalam menurunkan kadar gula darah mencit hiperglikemia. Telah digunakan 52 mencit yang dibagi ke dalam beberapa kelompok perlakuan yaitu kelompok kontrol normal, kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif (Acarbose), kelompok kitosan iradiasi dan kelompok kitosan non iradiasi. Mencit diberi larutan kitosan selama 15 hari. Selanjutnya dilakukan tes TTGO menggunakan glukosa 1,5 g/kg bb. Data kadar gula darah mencit diukur pada menit ke-0, 30, 90, 120 dan 150; begitu pula nilai Area Under Curves (AUC). Hasil penelitian ditemukan bahwa kitosan iradiasi dapat menurunkan kadar gula darah lebih besar dibandingkan dengan kitosan non iradiasi. Kitosan iradiasi 100 kGy dosis I dan dosis II dapat menurunkan kadar gula darah lebih baik daripada kitosan iradiasi lainnya maupun kontrol positifnya. Disimpulkan bahwa walaupun kitosan iradiasi 100 kGy memiliki kemampuan yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol positif dalam menurunkan kadar gula darah, namun setelah diuji BNTnya ternyata kedua kelompok ini memiliki efektivitas yang sama
(Karakterisasi Listeria monocytogenes yang Diisolasi dari Pabrik Makanan Segar
Listeria monocytogenes is a Gram positive rod-shape bacteria. Other foodborne pathogens, mostly, may cause typical symptoms of gastroenteritis. Unlike these microorganisms, Listeria monocytogenes infection may result in more serious symptoms, usually take in the form of meningitis or septicaemia. People with vulnerable immune system are in a bigger risk of being exposed. Furthermore, the bacterium is also severer than any other bacteria found in the food, with more resistant to heat, drying, or salty environment. This research was purposed to identify and characterize a sample named LM 25722248, which was isolated from fresh food factory in a city of United Kingdom. The isolate was characterized as a Gram positive bacterium, showed tumbling motility, and gave positive result for catalase test and haemolysin assay. Moreover, benefiting from molecular technology, it was possible to reveal that the isolate was Listeria monocytogenes.Listeria monocytogenes adalah bakteri Gram positif berbentuk batang. Patogen penyebab penyakit yang dibawa oleh makanan umumnya menimbulkan gejala khas gatroenteritis. Hal ini berbeda dengan Listeria monocytogenes yang dapat menyebabkan gejala yang lebih serius seperti meningitis atau septikemia. Dengan demikian orang yang memiliki sistem imun lemah akan lebih rentan terpapar cemaran bakteri tersebut. Listeria monocytogenes juga lebih sulit dihilangkan dibanding bakteri lain yang ditemukan dalam makanan, karena lebih resisten terhadap pemanasan, pengeringan, atau lingkungan yang mengandung garam. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi dan karakterisasi sampel bakteri yang diisolasi dari pabrik makanan segar yang berlokasi di salah satu kota di United Kingdom. Dengan metode biokimia, sampel yang disebut dengan LM 25722248 tersebut merupakan bakteri Gram positif, bersifat motil (tumbling motility), dan memberikan hasil positif terhadap uji katalase dan uji hemolisin. Lebih jauh lagi, dengan memanfaatkan teknologi molekuler maka dapat dinyatakan bahwa isolat LM 25722248 adalah Listeria monocytogenes
Peningkatan Kelarutan Andrografolid dalam Fraksi Etil Asetat Herba Sambiloto (Andrographis paniculata Nees) Melalui Mikroenkapsulasi dengan Metode Semprot Kering
Sambiloto (Andrographis paniculata Nees) is one of a medicinal plants containing andrographolide as its primary bioactive component, which is able to inhibit breast cancer cell proliferation. Andrographolide is a diterpene lacton that is sparingly soluble in water. The aim of this study is to improve the solubility of andrographolide in A. paniculata herbs ethyl acetate fraction by microencapsulation method prepared using spray drying. The ethyl acetate fraction of A.paniculata herbs was microencapsulated using PVP K30 and HPMC as the coating polymer in different ratios of ethyl acetat fraction and polymer (1:5; 1:7,5 and 1:10). Microspheres containing ethyl acetate fraction of A.paniculata herbs were evaluated their saturation solubility and in vitro dissolution in aquadest, pH 6.8 phosphate and pH 1.2 chloride medium. The result showed that the microencapsulation could increase the saturation solubility and dissolution rate of andrographolide as compared to the ethyl acetate fraction and andrographolide standard. Compared to the solubility of andrographolide from A. paniculata ethyl acetate fraction, the solubility of andrographolide on ethyl acetate fraction microspheres in aquadest, pH 6.8 phosphate and pH 1.2 chloride medium were increased approximately 23.42-39.34, 19.92-34.83 and 24.56-38.25 folds respectively. Moreover, compared to the solubility of andrographolide standard, the solubility of andrographolide on ethyl acetate fraction microspheres in aquadest, pH 6.8 phosphate and pH 1.2 chloride medium were increased approximately 16.99-28.53, 19.76-34.54 and 17.26-26.87 folds respectively.Sambiloto (Andrographis paniculata Nees) merupakan salah satu tanaman obat yang mempunyai aktivitas sebagai antikanker dengan komponen bioaktif utama andrografolid. Andrografolid merupakan seyawa diterpen lakton yang sukar larut dalam air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kelarutan andrografolid pada fraksi etil asetat herba sambiloto melalui mikroenkapsulasi dengan metode semprot kering. Mikroenkapsulasi fraksi etil asetat herba sambiloto dibuat menggunakan polimer PVP K30 dan HPMC sebagai bahan penyalut dengan perbedaan rasio fraksi etil asetat herba sambiloto dan polimer 1:5; 1:7,5 dan 1:10. Mikrosfer yang mengandung fraksi etil asetat herba sambiloto kemudian dievaluasi terhadap kelarutan dan uji disolusi secara in vitro pada medium air suling, fosfat pH 6,8 dan klorida pH 1,2. Hasil evaluasi menujukkan bahwa mikroenkapsulasi fraksi etil asetat herba sambiloto dengan metode semprot kering dapat meningkatkan kelarutan dan laju disolusi andrografolid dibandingkan dengan fraksi etil asetat herba sambiloto dan andrografolid standard. Dibandingkan dengan kelarutan andrografolid dari fraksi etil asetat herba sambiloto, peningkatan kelarutan andrografolid dalam mikrosfer fraksi etil asetat herba sambiloto dalam medium air suling; fosfat pH 6,8 dan klorida pH 1,2 berturut adalah 23,42-39,34; 19,92-34,83 dan 24,56-38,25 kali. Selain itu, dibandingkan dengan kelarutan andrografolid standard, peningkatan kelarutan andrografolid dalam mikrosfer fraksi etil asetat herba sambiloto dalam medium air suling, fosfat pH 6,8 dan klorida pH 1,2 berturut-turut adalah 16,99-28,53; 19,76-34,54 dan 17,26-26,87 kali
Uji Molecular Docking Annomuricin E dan Muricapentocin pada Aktivitas Antiproliferas
Various natural compounds have been reported to be used as anticancer, however their modes of action have not been clearly defined. One of the plant compounds is acetogenin which can induce apoptosis in in vitro study. Two new acetogenins discovered in Annona muricata are annomuricin E and muricapentocin. Molecular docking is one of in silico model to screen coumponds based on their mechanism to protein. Therefore, the two compounds were docked using PLANTS 1.1 to see the affinity to proliferation protein, Protein Kinase C. The RMSD calculations of the best predicting binding site gave 1.3906 Å. The molecular docking results of native ligand (07u), annomuricin E, and muricapentocin are -71.161; -127.739; and -116.868. It showed that annomuricin E has the best in silico affinity to Protein Kinase C, and has better ability to inhibit proliferation as compared to the native ligand and muricapentocin.Berbagai senyawa alam telah dilaporkan dapat digunakan sebagai antikanker namun demikian mekanisme aksinya belum dapat ditentukan secara jelas. Salah satu senyawa dalam tanaman adalah acetogenin yang dapat menginduksi apoptosis dalam studi in vitro. Dua acetogenin terbaru yang ditemukan dalam Annona muricata adalah annomuricin E dan muricapentocin. Molecular docking merupakan salah satu model in silico untuk skrining senyawa berdasarkan mekanismenya terhadap protein. Oleh karena itu, kedua senyawa ini didocking menggunakan PLANTS 1.1 untuk melihat afinitasnya dengan protein proliferasi, yaitu Protein Kinase C. Perhitungan RMSD terhadap letak ikatan prediksi terbaik memberikan nilai sebesar 1,3906 Å. Hasil molecular docking dari senyawa referens (07u), annomuricin E dan muricapentocin menunjukkan skor kestabilan interaksi masing-masing sebesar -71,161; -127,739; dan -116,868. Hal ini menunjukkan annomuricin E memiliki afinitas terbaik terhadap Protein Kinase C dan dapat menghambat proliferasi lebih baik dibandingkan senyawa referens dan muricapentocin
Aktivitas Isolat Actinomycetes dari Rumput Laut (Eucheuma cottonii) sebagai Penghasil Antibiotik terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli
Actinomycetes are microbial group of the most widely produced bioactive compound as antibiotics.This study was intended to isolate Actinomycetes from seaweed Eucheuma cottonii and to identify the activity of isolated Actinomycetes as antibiotic producer against Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Furthermore, the research was aimed to know the spots on thin-layer chromatography(TLC) which has antibacterial activity against S. aureus and E. coli. Isolation of Actinomycetes from E. cottonii was carried out with a spread plate method. The activity test of Actinomycetes as antibiotic producer against S. aureus and E. coli was performed by cup plate method. TLC bioautography was done with stationary phaseof silica gel GF254 and mobile phase of n-hexane : ethylacetate (2:3). The results showed that RL 6 and RL 12 isolate produced antibiotic against S. aureus and E. coli.The TLC bioautography result of ethyl acetate extracts of RL 6 and RL 12 cultures against S. aureus and E. coli showed a inhibition zone at Rf 0.05 and 0.22, respectively.Actinomycetes merupakan kelompok mikrob yang paling banyak menghasilkan senyawa bioaktif sebagai antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi Actinomycetes dari rumput laut Eucheuma cottonii dan mengidentifikasi aktivitas Actinomycetes hasil isolasi sebagai penghasil antibiotik terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Selanjutnya, penelitian ini bertujuan mengetahui bercak kromatografi lapis tipis (KLT) yang menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap S.aureus dan E. coli. Isolasi Actinomycetes dari E.cottonii dilakukan dengan metode cawan sebar. Uji aktivitas isolat Actinomycetes sebagai penghasil antibiotik terhadap S.aureus dan E.coli dilakukan dengan metode sumuran.KLT bioautografi dilakukan dengan silika gel GF254 dan fase gerak n-heksan : etil asetat (2:3). Hasil menunjukkan bahwa isolat RL 6 dan RL 12 menghasilkan antibiotik terhadap S.aureus dan E.coli. Hasil KLT bioautografi ekstrak etil asetat dari kultur RL 6 dan RL12 terhadap S.aureus dan E.coli menunjukkan zona hambat masing-masing pada Rf 0,05 dan 0,22
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper crocatum) Hasil Optimasi Pelarut Etanol-Air
Red bettle (Piper crocatum) is one of the plants which is extensively explored and has many biological activity. In this research, it is done the optimization of 96% ethanol and water composition as solvents in the process of extraction of red bettle leaves in percentage ratio of 100:0 (P1), 75:25 (P2), 50:50 (P3), 25:75 (P4), and 0:100 (P5) using Simplex Lattice Design (SLD). The aim of this research were to find the optimum composition of solvent which can obtain extract with the highest antioxidant activity. The antioxidant activity of red bettle leaves extract was measured by radical scavenging method using DPPH (diphenylpicryl hydrazyl), and assessed using parameter of EC50. The result showed that red bettle leaves extract which produced with ethanol-water as a solvent in percentage (%) of 75:25 (P2) has the higest antioxidant activity, with the smallest EC50’s value of 301,10 μg/ml.Sirih merah (Piper crocatum), adalah salah satu tanaman yang telah banyak diteliti dan terbukti memiliki beragam aktivitas biologis. Dalam pemanfaatannya, biasanya daun sirih merah mengalami proses ekstraksi terlebih dahulu untuk mendapatkan zat berkhasiat. Dalam penelitian ini dilakukan optimasi komposisi campuran pelarut antara etanol (digunakan etanol murni 96%) dan air dalam proses ekstraksi daun sirih merah dengan persentase (%) perbandingan 100:0 (P1), 75:25 (P2), 50:50 (P3), 25:75 (P4), dan 0:100 (P5). Desain percobaan dalam penelitian ini menggunakan Simplex Lattice Design (SLD). Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari komposisi optimum cairan penyari yang menghasilkan ekstrak dengan aktivitas antioksidan yang paling besar. Aktivitas antioksidan ekstrak yang dihasilkan ditetapkan dengan metode penangkapan radikal bebas menggunakan DPPH (diphenylpicryl hydrazyl) dan dilihat berdasarkan parameter EC50. Hasil percobaan menunjukkan bahwa ekstrak yang dihasilkan dari campuran pelarut pada komposisi etanol:air dengan prosentase (%) 75:25 (P2) mempunyai aktivitas antioksidan yang paling besar, dibuktikan dengan nilai EC50 yang paling kecil, yaitu 301,10 μg/m