Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences
Not a member yet
420 research outputs found
Sort by
Pola Pengobatan pada Pasien Congestive Heart Failure (CHF) Di Instalasi Rawat Inap RSUD Abdul Wahab Sjahranie Kota Samarinda
Congestive Heart Failure adalah suatu keadaan dimana jantung tidak dapat memompa darah yang mencukupi untuk kebutuhan tubuh. Pasien CHF pada umum nya harus diberikan sedikitnya empat jenis pengobatan yakni ACE Inhibitor,Diuretik, Beta bloker dan memerlukan obat tambahan untuk penyakit penyerta sehinggga harus diberikan beberapa jenis pengobatan. Penelitan ini bertujuan untuk melihat karakteristik dan mengetahui pola pengobatan yang digunakan . Kriteria inklusi pada penelitian ini yaitu pasien dewasa yang menderita CHF dan dirawat di Instalasi Rawat Inap RSUD Adul Wahab Sjahranie Samarinda. Penelitian bersifat observasional dengan pengambilan data dilakukan secara prospektif dan dianalisis secara deskriptif. Data diambil pada periode agustus-Oktober 2018 melalui rekam medik. Data tersebut selanjutnya dianalisis karakteristik pasien dan pola pengobatan pasien CHF. Pravalensi terbanyak pada usia 45-59 sebesar (56.66%), jenis kelamin perempuan sebesar (53.33%), pendidikan terakhir SD (56.66%) dan berkerja sebagai Wiraswasta sebesar (56.66%). Pola pengobatan CHF yang paling banyak terdapat yaitu golongan Nitrat, Spironolakton, Diuretik, Anti Platelet dan ARB sebesar (43.33%)
Formulasi Self-Nanoemulsifying Drug Delivery System (SNEDDS) Ekstrak Biji Ramania (Bouea macrophylla Griff) dengan Asam Oleat (Oleic Acid) sebagai Minyak Pembawa
Ekstrak biji B.macrophylla memiliki aktivitas antioksidan yang kuat namun memiliki kelarutan dan bioavailabilitas yang rendah. Meningkatkan efektivitas ekstrak biji B.macrophylla dilakukan dengan memformulasikan ke dalam sistem SNEDDS menggunakan Asam Oleat sebagai minyak pembawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi formula SNEDDS ekstrak biji B.macrophylla yang paling optimal terdiri dari kombinasi tween 20 : propilenglikol : asam oleat (0,5 : 3 : 1,5 dan 0,5 : 3,38 : 1,12) dalam 5 mL yang memiliki emulsification time dengan rerata waktu 19,03 detik dan 15,2 detik; nilai transmitansi 92,8% dan 94,2%; ukuran tetesan 176,8 nm dan 161,1 nm; polidisperse index 0,357 dan 0,364; serta nilai nilai IC50 ektrak biji B.macrophylla 1,757 ?g/mL
Pengaruh Pemberian Leaflet terhadap Pengetahuan Mahasiswa Universitas Mulawarman Terkait Penyakit HIV/AIDS
HIV/AIDS saat ini merupakan penyakit mematikan dan belum ditemukan obatnya. Pemahaman mengenai penyakit ini menjadi penting untuk meningkatkan pencegahan terhadap resiko tertular. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan Mahasiswa Universitas Mulawarman tentang HIV/AIDS dengan metode quasi ekperimental menggunakan kuisioner pre test and post test. Data diambil pada bulan Agustus hingga September2018 bertempat di Universitas Mulawarman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya peningkatan pengetahuan tentang HIV/AIDS setelah pemberian leaflet pada Fakultas A (pre test 76,50%; post test 87,26%), Fakultas B (pre test 89,40%; post test 90,9%), dan pada Fakultas C (pre test 77,9%; post test 87,31%). Dari penelitian ini diperoleh bahwa adanya peningkatan terhadap pengetahuan tentang HIV/AIDS sebelum dan sesusah diberikan leaflet
Efek Perubahan Tekanan Darah Pada Manusia Dengan Pemberian Aroma dari Tanaman Kemangi (Ocimum basilicum L.)
Tanaman kemangi (Ocimum basilicum L.) mengandung minyak atsiri yang dapat menghasilkan aroma khas. Aroma khas pada tanaman dapat mempengaruhi perubahan tekanan darah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perubahan tekanan darah pada manusia dengan pemberian aroma dari tanaman kemangi (Ocimum basilicum L.) Metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian quasi eksperiment dengan rancangan one group pretest-posttest dengan jumlah sampel 5 orang. Hasil penelitian ini diketahui ada pengaruh pemberian aroma dari tanaman kemangi terhadap tekanan darah sistolik sebelum intervensi yaitu dengan rata-rata sebesar 112,4 mmHg dan setelah intervensi menjadi 107,26 mmHg, tekanan darah diastolik sebelum intervensi sebesar 74,46 mmHg dan setelah intervensi menjadi 76,13 mmHg, serta denyut jantung sebelum intervensi sebesar 83,53 kali/menit dan setelah intervensi menjadi 77,26 kali/menit. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aroma tanaman kemangi terbukti dapat mempengaruhi perubahan tekanan darah yaitu menurunkan tekanan darah sistolik
Analisis Prescribing Error di Beberapa Apotek Wilayah Samarinda Ulu
Medication error (kesalahan pengobatan) merupakan kejadian yang tidak hanya merugikan pasien, tetapi juga dapat membahayakan keselamatan pasien yang dilakukan oleh petugas kesehatan, khususnya dalam hal pengobatan pasien. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui adanya kejadian prescribing error, mengetahui profil prescribing error, dan mengetahui persentase kejadian prescribing error dibeberapa Apotek wilayah Samarinda Ulu. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif semikuantitatif dengan pengambilan data secara retrospektif yang didasarkan pada data resep obat pasien di beberapa Apotek wilayah Samarinda Ulu periode bulan Januari-Juni 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa medication error berupa prescribing error pada kajian administratif yaitu tidak ada nama pasien sebesar 0,39%, tidak ada usia pasien sebesar 16,77%, tidak ada jenis kelamin pasien sebesar 56,46%, tidak ada berat badan pasien sebesar 94,42%, tidak ada nama dokter sebesar 10,99%, tidak ada SIP dokter sebesar 15,23%, tidak ada alamat dokter sebesar 22,74%, tidak ada alamat pasien sebesar 52,03%, tidak ada nomor telepon dokter sebesar 52,61%, tidak ada paraf dokter sebesar 90,75% dan tidak ada tanggal penulisan resep sebesar 0,58%. Pada bagian farmasetik meliputi tidak ada bentuk sediaan sebesar 61,47%, tidak ada kekuatan sediaan sebesar 72,26%. Pada bagian klinis meliputi tidak ada aturan pakai sebesar 4,82%, tidak tepat dosis sediaan sebesar 12,71%, ada duplikasi obat sebesar 3,08% dan ada interaksi obat sebesar 17,73% (interaksi minor 5,39%; interaksi moderat 9,45% dan interaksi mayor 2,89%). Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa medication error berupa prescribing error di beberapa Apotek wilayah Samarinda Ulu periode bulan Januari-Juni 2017 masih terjad
Eksplorasi Jenis Pisang Sebagai Penurun Keasaman Lambung Secara In Vitro
Pisang (Musa sp.) merupakan buah tropis yang memiliki manfaat dalam mengurangi iritasi lambung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai perlakuan dan jenis buah pisang terhadap tingkat keasaman cairan lambung. Penelitian dilakukan dengan membandingkan 4 jenis pisang yaitu Mauli, Raja, Kepok, dan Ambon, dimana perlakuan uji divariasikan terhadap daging buah segar, rebusan, dan daging buah yang digunakan bersama dengan beberapa obat golongan antasida dalam bentuk sediaan tablet, serbuk, dan suspensi. Penurunan keasaman lambung dilakukan secara in vitro dengan alat uji disolusi menggunakan media cairan lambung buatan sebanyak 300 ml, dimana pH diukur setiap 15 menit selama 2 jam. Dari penelitian ini diperoleh bahwa rebusan pisang menghasilkan pH yang lebih rendah dibandingkan buah segar pada cairan lambung. Daging buah pisang raja menghasilkan kemampuan menaikkan pH cairan lambung tertinggi pada pemberian tunggal. Adapun penggunaan pisang ambon bersama gerusan tablet antasida terbukti memiliki kapasitas penurun keasaman lambung terbaik dibanding antasida tunggal, dimana dalam waktu 15 menit telah mampu mengubah pH cairan lambung buatan dari 1,3 menjadi 3,5
Identifikasi Metabolit Sekunder Serta Uji Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri Daun Nona Makan Sirih (Clerodendrum thomsoniae)
Tanaman nona makan sirih merupakan perdu yang tumbuh merambat dan memiliki kandungan metabolit sekunder yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan fenolik, dimana kandungan metabolit sekunder dapat memiliki aktivitas sebagai antioksidan dan antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan aktivitas antibakteri daun nona makan sirih (Clerodendrum thomsoniae), serta mengidentifikasi metabolit sekunder yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan dan antibakteri. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan melihat kemampuan ekstrak dalam menekan radikal bebas DPPH, sedangkan pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode disc diffusion dan KLT bioautografi. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas antioksidan ekstrak etanol, fraksi n-heksana, dan fraksi etil asetat dengan nilai IC50 berturut-turut adalah 76,53 ppm, 196,20 ppm, dan 63,83 ppm. Metabolit sekunder yang diduga memiliki aktivitas antioksidan pada fraksi etil asetat dengan menggunakan eluen kloroform : metanol (7:3) adalah flavonoid dan kumarin. Ekstrak etanol dan fraksi etil asetat memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus, dan metabolit sekunder yang diduga memiliki aktivitas antibakteri pada fraksi etil asetat dengan menggunakan eluen kloroform : metanol (9:1) adalah fenolik dan flavonoid
UJI AKTIVITAS EKSTRAK DAUN SEPAT (Mitragyna speciosa) TERHADAPPENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH MENCIT (Mus Musculus)
Tumbuhan sepat merupakan tumbuhan dari famili rubiceae, yang biasa digunakan sebagai obat tradisional dalam menurunkan kadar glukosa darah. Daun sepat memiliki kandungan kimia alkaloid yang diduga memiliki efek dalam menurunkan kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak daun sepat, mengetahui dosis terbaik dan mengetahui potensinya dalam menurunkan kadar glukosa darah mencit (Mus musculus). Metode penelitian yang digunakan adalah secara in vivo dengan menggunakan hewan coba mencit jantan yang diberikan beban sukrosa 50 % secara oral. Hewan coba dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok 1 (diberi suspensi Na CMC 0,5 %), kelompok 2 (glibenklamid), kelompok 3 (ekstrak dosis 100 mg/kg bb), kelompok 4 (ekstrak dosis 200 mg/kg bb), kelompok 5 (ekstrak dosis 400 mg/kg bb). Kadar glukosa darah mencit didapatkan dari pengukuran menggunakan alat glukometer. Dari hasil pengujian diketahui bahwa ekstrak daun sepat memiliki aktivitas dalam menurunkan kadar glukosa darah mencit. Dosis efektif ekstrak daun sepat dalam menurunkan kadar glukosa darah yaitu dosis 200 mg/kg bb
Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Rimpang Temu Kunci (Boesenbergia pandurata) Secara In-Vitro
Inflamasi merupakan suatu respon terhadap rangsangan kimia, mekanik maupun infeksi mikroorganisme. Temu kunci (Boesenbergia pandurata) tersebar luas di Indonesia salah satunya di Kalimantan Timur yang telah dimanfaatkan khasiatnya untuk pengobatan tradisional dan digunakan sebagai salah satu pelengkap bumbu masakan. Kandungan metabolit sekunder utama rimpang temu kunci adalah senyawa golongan flavonoid dan turunannya. Dimana senyawa flavonoid memiliki aktivitas biologi diantaranya sebagai antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antiinflamasi dan potensi ekstrak etanol rimpang temu kunci (Boesenbergia pandurata) terhadap natrium diklofenak 100 g/mL secara in vitro menggunakan metode stabilisasi membran sel darah merah manusia (HRBC stabilization). Data pengukuran ekstrak etanol rimpang temu kunci (Boesenbergia pandurata) menunjukkan aktivitas antiinflamasi pada konsentrasi (50, 75, 100, 125 dan 150) g/mL masing-masing sebesar 67,39; 78,26; 28,26; 54,35 dan 73,9% dimana natrium diklofenak mempunyai aktivitas sebesar 76,08 %
Kajian Kesesuaian dan Efek Samping Penggunaan Kontrasepsi pada Akseptor Kontrasepsi: Studi Kasus di Klinik Harmoni Kota Samarinda
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang membentuk program Keluarga Berencana (KB) untuk mengatasi masalah laju pertumbuhan penduduk. Program ini dilaksanakan dengan menggunakan kontrasepsi sebagai alat atau upaya untuk mencegah kehamilan. Keberhasilan program KB ditunjukkan dari durasi penggunaan kontrasepsi, yaitu dengan melihat perilaku penggantian alat kontrasepsi (kesesuaian penggunaan kontrasepsi). Salah satu faktor yang mempengaruhi kesesuaian kontrasepsi yaitu efek samping. Penelitian ini dilakukan untuk melihat kesesuaian dan efek samping penggunaan kontrasepsi di klinik Harmoni kota Samarinda dengan metode cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 84. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 93% akseptor KB pernah berpindah metode kontrasepsi dan sebanyak 90% menyatakan alasan perpindahan tersebut akibat efek samping yang mengganggu. Alasan lainnya termasuk penggunaan yang sulit (8%), metode gagal (1%), dan harga (1%). Efek samping seperti kenaikkan berat badan paling banyak dirasakan oleh akseptor kontrasepsi pil (47 %), amenorrhea paling banyak dirasakan oleh akseptor kontrasepsi suntik 3 bulan (53 %), jerawat paling banyak dirasakan oleh akseptor pil (43 %), sakit kepala paling banyak dirasakan oleh akseptor pil (40 %), mual-muntah paling banyak dirasakan oleh akseptor suntik 1 bulan (35 %), dan perdarahan paling banyak dirasakan oleh akseptor implan (67%)