Jurnal Sains dan Kesehatan
Not a member yet
609 research outputs found
Sort by
Diagnosis Penyakit Menggunakan Artificial Intelligence (AI):Konsep, Bukti Ilmiah, dan Implikasi Klinis: Disease Diagnosis Using Artificial Intelligence (AI): Concepts, Scientific Evidence, and Clinical Implications
Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah berkembang menjadi teknologi transformatif dalam bidang diagnostik medis, terutama melalui kemampuannya menganalisis data klinis yang kompleks secara otomatis untuk mendukung deteksi penyakit, klasifikasi diagnosis, dan stratifikasi risiko. Kemajuan pesat dalam machine learning (ML) dan deep learning (DL) telah mendorong terobosan signifikan pada berbagai modalitas diagnostik, termasuk pencitraan medis, biosinyal, patologi, genomik, serta electronic health records (EHR). Artikel tinjauan ini mengkaji secara kritis peran AI dalam mendiagnosis masalah kesehatan dan penyakit, dengan fokus pada landasan metodologis, aplikasi klinis, evaluasi kinerja, serta tantangan translasi ke praktik klinik. Berbagai bukti dari studi-studi penting menunjukkan bahwa sistem AI mampu mencapai tingkat akurasi diagnostik yang sebanding atau bahkan melampaui tenaga kesehatan profesional pada tugas-tugas spesifik dan terdefinisi dengan baik, seperti skrining retinopati diabetik, deteksi kanker payudara, klasifikasi aritmia, dan skrining kanker paru. Namun demikian, meskipun hasil awal tampak menjanjikan, adopsi klinis secara luas masih menghadapi berbagai hambatan, antara lain bias dataset, keterbatasan validasi eksternal, kurangnya uji klinis prospektif, isu keterjelasan atau explainability model, serta ketidakpastian regulasi. Artikel ini mensintesis bukti ilmiah terkini, menyoroti standar metodologis dalam evaluasi AI diagnostik, serta membahas implikasi etis, hukum, dan klinis dari penerapan teknologi ini. AI sebaiknya dipahami bukan sebagai pengganti klinisi, melainkan sebagai alat pendukung keputusan yang dapat meningkatkan akurasi, konsistensi, dan efisiensi diagnosis apabila diintegrasikan secara bertanggung jawab ke dalam sistem pelayanan kesehatan.
Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Obat Kategori Over the Counter pada Mahasiswa UNSIKA: Factors Affecting the Use of Over the Counter Drug Categories In UNSIKA Students
Survei Badan Pusat Statistik tahun 2020 tentang pengobatan mandiri menunjukkan 88,28% masyarakat Jawa Barat melakukan swamedikasi salah satunya dengan obat kategori over the counter. Tingginya penggunaan obat kategori Over The Counter (OTC) ini meningkatkan kemungkinan terjadinya penyalahgunaan dalam hal penggunaan obat. Tujuan penelitian ini adalah identifikasi faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penggunaan obat kategori OTC dan membuktikan faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan obat kategori OTC pada mahasiswa Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA). Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai Maret 2022 menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode accidental sampling dengan sampel terdiri dari 392 mahasiswa UNSIKA yang masuk ke dalam kriteria inklusi. Hasil analisis univariat mayoritas responden berpengetahuan baik, dipengaruhi efektivitas dan efisiensi produk dengan baik, memiliki ketersediaan informasi yang memadai, percaya terhadap produsen, dipengaruhi preferensi pemakaian, dan menggunakan obat dengan baik. Hasil analisis bivariat menggunakan metode chi square terdapat hubungan antara pengetahuan, kepercayaan terhadap produsen, dan preferensi pemakaian terhadap penggunaan obat kategori OTC dengan nilai signifikansi 0,001 (p <0,05) dan tidak terdapat hubungan antara efektivitas dan efisiensi produk serta ketersediaan informasi terhadap penggunaan obat kategori over the counter dengan nilai signifikansi berturut-turut sebesar 0,911 dan 0,973 (p > 0,05)
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etil Asetat Terong Ungu (Solanum melongena L.) terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis ATCC 12228: Antibacterial Activity Test of Purple Eggplant (Solanum Melongena L.) Ethyl Acetate Extract Against Staphylococcus Epidermidis ATCC 12228 Bacteria
Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri yang paling sering menyebabkan infeksi di rumah sakit (Health care Associated Infections) dan sering ditemukan resisten terhadap antibiotik sehingga sulit untuk diterapi. Salah satu bahan alam yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan oleh masyarakat dan diketahui memiliki efek antibakteri adalah terong ungu (Solanum melongena L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak etil asetat terong ungu sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis ATCC 12228. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan metode mikrodilusi untuk menentukan konsentrasi hambat minimum (KHM) dan metode spread plate untuk menentukan konsentrasi bunuh minimum (KBM) dari ekstrak etil asetat terong ungu terhadap S. epidermidis ATCC 12228. Konsentrasi ekstrak yang digunakan adalah 5mg/mL, 10mg/mL, 20 mg/mL, 40mg/mL, kontrol negatif, kontrol DMSO 10%, serta kontrol media. Hasil penelitian didapatkan nilai KHM ekstrak etil asetat terong ungu terhadap S. epidermidis ATCC 12228 sebesar 10mg/mL dan nilai KBM sebesar 20mg/mL. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak etil asetat terong ungu, semakin besar persentase penghambatannya. Ekstrak etil asetat terong ungu mempunyai potensi sebagai antibakteri terhadap S. Epidermidis ATCC 12228
The Impact of Covid-19 Pandemic on the Livestock Subsector
The Covid-19 pandemic had an impact on human activities and all sectors globally. This study aims to review the impact of the pandemic on livestock products. Furthermore, data were collected from several literature, websites, national, and international news, relevant to current policies and conditions. The impact on the livestock sub-sector is not measured and includes a decrease in purchasing power and demand for livestock products such as meat, milk, and eggs, decreased profitability, hampered distribution of production inputs such as feed and medicine affect the increasing production costs, veterinary services limitation, hinder the livestock animal and product distribution, disruption on marketing and business downturn. Meanwhile, the positive impact is that farmers created an online-based digital innovation, known as e-commerce, involving product marketing, business, and product diversification. The Government also plays a vital role in demand and price stabilization, which ensures the supply chain sustainability of the products. Therefore, the livestock business can keep running sustainably, especially during the pandemic
Formulasi dan Evaluasi Serum Gigi Ekstrak Etanol Siwak (Salvadora persica L.): Formulation and Evaluation of Dental Serum from Siwak Ethanolic Extract (Salvadora persica L.)
Masalah kesehatan gigi merupakan masalah yang umum terjadi di masyarakat. Secara tradisional siwak digunakan untuk mencegah gigi berdarah dan memilliki efek antibakteri. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan serum gigi dari ekstrak etanol siwak dan dilakukan evaluasi sediaan serta pengujian efek antibakteri. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode eksperimental dan dibuat tiga formulasi dengan konsentrasi ekstrak etanol siwak yang berbeda yaitu formulasi 1 (21%), formulasi 2 (42%), dan formulasi 3 (63%%). Hasil evaluasi sediaan menunjukkan, ketiga formulasi tidak berbeda secara signifikan dibandingkan dengan kontrol berdasarkan uji organoleptik, viskositas, pH, dispersi dan uji stabilitas. Uji efek antimikroba menunjukkan bahwa ketiga formulasi dapat menghambat streptococcus mutans. Setelah dilakukan penelitian, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah ketiga formulasi serum gigi ekstrak ethanol siwak stabil secara farmaseutika dan formulasi 3 menunjukkan efek antibakteri terbaik
Pemanfaatan Tanaman Andong Merah (Cordyline Fruticosa Linn.) dalam Formulasi Hydrogel Berbasis Starch-Gelatin Sebagai Kombinasi Polimer Alami Alternatif untuk Bentuk Sediaan Jamu: Utilization of Cordyline Fruticosa Linn. In Starch-Gelatin Hidrogel-Based Formulation as an Alternative Natural Polymer Combination for Jamu Dosage Form
Salah satu inovasi untuk meningkatkan minat terhadap jamu adalah pengembangan sediaan yang memanfaatkan tanaman seperti Cordyline fruticosa atau Andong Merah (AM). AM memiliki kandungan polifenol dan senyawa bioaktif lainnya yang melimpah. Pada penelitian ini, AM disilangkan dengan kombinasi polimer alami, yaitu pati dari kentang dan gelatin dari ikan, menggunakan strategi enkapsulasi. AM meningkatkan fungsi agen pembentuk dalam hidrogel dan meningkatkan sifat pembengkakan. Telah dilakukan proses ekstraksi senyawa bioaktif dari AM, evaluasi skrining fitokimia, aktivitas antioksidan, dan formulasi hidrogel pati-gelatin-AM menggunakan metode freeze-thaw. Dari proses ekstraksi, rendemen senyawa bioaktif dari daun sebesar 2,21% dan batang sebesar 2,20%. Evaluasi skrining fitokimia membuktikan bahwa AM memiliki senyawa bioaktif seperti polifenol, alkaloid, flavonoid, saponin steroid, dll. Penentuan antioksidan dengan aktivitas penangkal radikal DPPH, AM disimpulkan memiliki aktivitas antioksidan yang kuat. Evaluasi karakteristik fisik menunjukkan hidrogel pati-gelatin-AM bersifat homogen dan memiliki tekstur jeli padat dengan warna kecoklatan. AM memiliki pH asam lemah dan menurunkan nilai pH pati-gelatin yang semula senilai 8,42 menjadi 6,0 yang merupakan kisaran pH bentuk sediaan topikal. Namun, indeks pembengkakannya tidak lebih baik daripada formula tanpa AM. Di masa mendatang, perlu dilakukan evaluasi morfologi porositas hidrogel pati-gelatin-AM untuk menentukan jenis struktur pori hidrogel ini dan memprediksi indeks pembengkakannya
Potensi Daun Bandotan (Ageratum conyzoides L.) Terhadap Biofilm Streptococcus pyogenes: Potential of Bandotan (Ageratum conyzoides L.) Leaves Against Streptococcus pyogenes ATCC 19615 Biofilm
Biofilm merupakan suatu kumpulan mikroorganisme yang melekat pada suatu permukaan dan membentuk matriks Extracellular Polymeric Substances (EPS) yang menyebabkan bakteri dapat bertahan dari suatu kondisi lingkungan. Daun bandotan memiliki aktivitas antibakteri yang kuat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui aktivitas penghambatan biofilm ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides) terhadap bakteri Streptococcus pyogenes. Sampel dimaserasi dengan etanol 96% kemudian dipekatkan menggunakan rotary evaporator. Selanjutnya uji skrining fitokimia dan uji aktivitas antibiofilm metode microtiter plate menggunakan ELISA reader. Hasil penelitian ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides) mengandung senyawa metabolit sekunder alkaloid, flavanoid, fenolik, tanin, terpenoid dan saponin. Berdasarkan uji aktivitas antibiofilm terhadap bakteri Streptococcus pyogenes dengan konsentrasi 6,25%, 12,5%, dan 25% menunjukkan %penghambatan pembentukan biofilm pada konsentrasi berturut-turut sebesar 53,68%, 71,57% dan 78,70%; dan mendegradasi biofilm yang telah terbentuk pada konsentrasi yang sama berturut-turut sebesar 55,06%, 73,54%, 78,80%. Sehingga disimpulkan ekstrak daun bandotan dapat menghambat pertumbuhan dan mendegradasi biofilm yang telah terbentuk pada bakteri Streptococcus pyogenes
Aktivitas Anti-Inflamasi Ekstrak Etanol Daun Mekai (Albertisia papuana Becc.) Pada Kaki Tikus Wistar Jantan Yang Diinduksi Karagenan: Anti-Inflammatory Activity of Mekai Leaves (Albertisia papuana Becc.) Ethanol Extract of Carrageenan-Induced Paw Edema In Male Wistar Rats
Inflamasi merupakan tanda kerusakan jaringan yang dapat disebabkan oleh patogen ataupun trauma. Metabolit sekunder Albertisi papuana terbukti memiliki aktivitas antibakteri, antifungi dan antiplasmodial. Daun ini juga diduga memiliki antioksidan yang mampu berperan sebagai antiinflamasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antiinflamsi ekstrak etanol A. papuana. Tikus wistar dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok N, C, C+SDc, APE125 dan APE500. Telapak kaki kiri tikus diinduksi karagenan 1% sebagi agen induksi inflamasi. Volume udem awal (V0) dan pemberian ekstrak dilakukan 1 jam sebelum induksi karagenan. Perubahan volume udem diukur setiap 1 jam selama 6 jam. Setelah itu hewan didislokasi, kaki dipotong dan ditimbang beratnya. Hasil pengujian ANOVA menunjukkan peningkatan berat kaki pada kelompok kontrol (P<0.018). Persentase inhibisi inflamasi kelompok kontrol C+SDc 46.43%, kelompok APE125 39.33% dan kelompok APE500 20.44%. Senyawa flavonoid dan fenolik diduga berperan dalam penurunan volume udem dan peningkatan persentase inhibisi inflamasi pada hewan uji
Optimasi Xanthan Gum dan Hydroxypropyl Methylcellulose dalam Masker Gel Peel-Off Antioksidan Ekstrak Kulit Buah Kakao (Theobroma cacao L.): Optimization of Xanthan Gum and Hydroxypropyl Methylcellulose in Antioxidant Peel-Off Gel Mask from Cocoa Pod Husk Extract (Theobroma cacao L.)AuthorsLiananta Fawzia Wulandari
Antioksidan dapat mencegah penuaan dini yang disebabkan radikal bebas. Ekstrak kulit buah kakao dapat dimanfaatkan sebagai antioksidan dengan pembawa berupa masker gel peel-off. Masker gel peel-off akan membentuk lapisan film tipis yang bersifat oklusif sehingga membantu penyerapan antioksidan dalam waktu singkat. Konsentrasi gelling agent yang optimum diperlukan untuk membuat masker gel peel-off yang baik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui konsentrasi optimum gelling agent xanthan gum dan HPMC dalam masker gel peel-off ekstrak kulit buah kakao. Optimasi dilakukan dengan metode Simplex Lattice Design (SLD) menggunakan dua faktor, yaitu konsentrasi xanthan gum dan HPMC, formula optimum diuji aktivitas antioksidannya menggunakan metode DPPH. Hasil analisis SLD menunjukkan penggunaan xanthan gum dan HPMC berpengaruh terhadap perubahan viskositas, pH, daya lekat, dan peeling time sediaan. Formula optimum yang terpilih terdiri dari 0,945% xanthan gum dan 0,555% HPMC. Prediksi nilai respon viskositas sebesar 62,754 dPa.s, pH sebesar 5,091, daya lekat sebesar 165,922 detik, dan peeling time sebesar 1765,391 detik. Hasil uji antioksidan menunjukkan aktivitas yang tergolong sedang dengan nilai IC50 sebesar 143,664 ppm ± 1,348
Karakterisasi Ekstrak Sambiloto (Andrographis panicullata Burn (f) Ness) dan Pegagan (Centella asiatica (l) Urban): Characterization Extract Sambiloto (Andrographis panicullata Burn (f) Ness) and Pegagan (Centella asiatica (l) Urban)
Sambiloto (Andrographis panicullata Burn (f) Ness) dan Pegagan (Centella asiatica (l) Urban) merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat. Secara tradisional tanaman ini digunakan sebagai obat diantaranya gigitan serangga dan ular berbisa, disentri, kencing manis, penyakit kelamin, radang usus buntu, darah kotor, eksema, radang tonsil, borok dan keracunan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisasi dari ekstrak sambiloto dan pegagan yang diperoleh dari Desa Girimulyo, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo yang meliputi rendemen, susut penegringan, profil KLT, kadar senyawa aktif, dan kadar flavonoid total. Metode karakterisasi ekstrak mengikuti panduan yang tertulis dalam famakope herbal Indonesia (FHI). Hasil penelitian menunjukan ekstrak sambiloto dan pegagan diperoleh data sebagai berikut: nilai rendemen ekstrak sambiloto 18,9 % dan pegagan 21,7%, pemeriksaan organoleptik data yang diperoleh sesuai dengan standar FHI, nilai susut pengeringan sambiloto 7,85±0,60% dan pegagan 15,15±0,42%, analisis kualitatif ekstrak sambiloto dan pegagan memiliki nilai rf yang sama dengan senyawa penanda yakni andrografolid untuk sambiloto dan asiaticosida untuk pegagan, pengukuran kadar andrografolid pada ekstrak sambiloto menunjukan nilai 32,56±4,56% dan kadar asiaticosida pada ekstrak pegagan menunjukan nilai 15,01±1,69%. Hasil tersebut menunjukan bahwa ekstrak sambiloto dan pegagan yang diambil dari Desa Girimulyo, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo sesuai dengan standar yang tertulis dalam farmakope herbal Indonesia (FHI)