Jurnal Sains dan Kesehatan
Not a member yet
609 research outputs found
Sort by
Detection of Flavonoid Compounds of Daruju Root Extract (Acanthus ilicifolius Linn) using Thin Layer Chromatography and UV-Vis Spectrophotometry
The isolation and detection of flavonoids in the extract of Daruju root has been carried out. extract obtained from maceration modification using 96% ethanol, ethanol extract The extraction result is concentrated with a rotary evaporator and then evaporated above water bath until a thick extract is obtained. The resulting extract was further separated using a separating funnel and diethyl ether and n-butanol as solvents. Then the thick extract was tested for plavonoid preliminaries by reacting the thick extract with H2SO4 and Mg the results obtained were a change in color to yellow, it proved that the extract was positive for plavonoid. After that, TLC was carried out to purify the extract which would later detect plavonoid using a UV-Vis spectrophotometer. TLC results show an Rf value of 0.6-0.8. UV-Vis spectrophotometer results at a wavelength of 200-800 nm give results in fraction A with a maximum wavelength at 291 nm which is suspected to have detected flavonoids
Diseksi Spontan Arteri Koroner: Diagnosis dan Manajemen: Coronary Artery Spontaneous Dissection: Diagnosis and Management
Diseksi spontan arteri koroner (Spontaneous Coronary Artery Dissection: SCAD) salah satu penyebab kasus SKA yang jarang tetapi meningkat insidensi pada wanita muda dengan penilaian risiko kardivaskular rendah. Selain itu SCAD memiliki faktor risiko terhadap kehamilan, dan penyakit fibromuscular dysplasia. Penegakan diagnosis SCAD dengan angiografi koroner menjadi tantangan dikarenakan karakteristik SCAD yang mirip dengan penyebab ACS lainnya dan sering kali terlewat. Diharapkan SCAD dapat menjadi perhatian penelitiaan untuk mendukung penegakan diagnosis dan manajemen guna menghasilkan keluaran lebih baik
Identifikasi Senyawa Aktif Pala (Myristica fragrans) sebagai Terapi Komplementer Antihipertensi melalui Penghambatan Reseptor ACE: Sebuah Studi Penambatan Molekuler: Identification of Acrive Compounds from Nutmeg (Myristica fragrans) as Complementary Antihypertensive Therapies Through ACE receptor Inhibition: A Molecular Docking Study
Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar yang menjadi penyebab utama kematian di seluruh dunia. Angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE-I) sebagai obat antihipertensi yang umum diketahui memiliki efek samping yang sering dikeluhkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa potensial yang berasal dari pala (Myristica fragrans) sebagai antihipertensi dengan menggunakan studi penambatan molekular. Dua puluh tiga senyawa pala bersama dengan captopril digunakan dalam penelitian ini melalui pencarian literatur dan penyaringan daring. Senyawa dan obat pembanding diunduh melalui PubChem sementara reseptor target pada pada RCSB. Swiss ADME, ProTox-II, dan admetLab digunakan untuk mengevaluasi senyawa mirip obat dan memprediksi toksisitas senyawa. Senyawa dan captopril dilakukan penambatan molekular pada reseptor target ACE menggunakan Autodock tools 1.5.6 dan Autodock Vina serta visualisasi interaksi molekul dengan aplikasi Discovery Studio v16. Hasil penelitian menunjukkan seluruh senyawa memenuhi kriteria sebagai obat dan memiliki afinitas terhadap ACE. Catechin, beta-caryophyllene, dan alpha-bergamoten tidak toksik dan menunjukkan interaksi molekul yang kuat pada ACE dibanding dengan captopril dan senyawa lain dengan energi ikatan masing-masing -8,2, -7,3, -7,2 kkal/mol. Catechin, beta-caryophyllene, dan alpha-bergamoten berpotensi untuk dikembangkan sebagai ACE-I. Penelitian in vitro dan in vivo lebih lanjut diperlukan agar dapat dilakukan uji klinis
Hand Sanitizer Ekstrak Etanol Daun Simpur (Dillenia suffruticosa) sebagai Antiseptik Bakteri Escherechia coli dan Staphilococcus aureus
Penyakit infeksi menempati urutan ketiga dari sepuluh penyakit penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Cuci tangan menggunakan hand sanitizer merupakan teknik dasar yang paling penting dalam pencegahan dan pengontrolan penularan penyakit infeksi. Penelitian tentang Hand sanitizer ekstrak etanol daun simpur (Dillenia suffruticosa) sebagai antiseptik terhadap bakteri Eschericia coli dan Staphylococcus aureus telah dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan senyawa fitokimia, aktivitas, dan stabilitas sediaan gel hand sanitizer ekstrak etanol daun simpur. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa daun simpur positif mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, terpenoid, fenol, dan saponin. Pengujian antibakteri ekstrak etanol daun simpur menggunakan metode difusi kertas cakram menggunakan media Muller Hinon Agar (MHA) dengan 3 replikasi menunjukkan hasil yang baik pada tiga konsentrasi yaitu F1 (5%); F2 (7,5%); dan F3 (10%). Zona hambat terbesar terdapat pada gel hand sanitizer yang mengandung konsentrasi ekstrak terbesar yaitu pada F3 (10%) menghasilkan rata-rata zona hambat sebesar 9,87 mm pada E. coli dan 7,15 mm pada S. aureus. Ekstrak daun simpur sebagai bahan aktif terbukti efektif sebagai antiseptik untuk menghambat atau membunuh bakteri. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa hand sanitizer dari ekstrak etanol daun simpur berpotensi digunakan sebagai antiseptik
Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Metanol Kulit Batang Sengkuang pada Tikus Wistar yang Diinduksi CFA (Complete Freund’s Adjuvant): Anti-Inflammatory Activity Test of Methanolic Extract of Sengkuang Bark (Dracontomelon Dao) on Wistar Complete Freund’s Adjuvant (CFA) Induced Rats
Salah satu tumbuhan yang ditemukan di Kalimantan Timur adalah tumbuhan Drancotomelon dao (sengkuang). Uji sebelumnya menunjukkan adanya aktivitas antiinflamasi ekstrak daun D. Dao melalui penurunan mediator proinflamasi seperti TNF-?, IL-1?, dan IL-6 yang diinduksi oleh bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antiinflamasi ekstrak metanol kulit batang tanaman Sengkuang pada tikus model artritis rematoid yang diinduksi complete freund’s adjuvant (CFA) untuk mengetahui potensi antiinflamasi dari bagian lain tanaman sengkuang ini. Pada uji ini, Tikus model rematoid arthritis diinduksi menggunakan CFA dibuat menjadi 4 kelompok perlakuan: kelompok negatif (NaCMC), kelompok positif (metil prednisolone), kelompok uji 1 (ekstrak sengkuang 50 mg/KgBB/hari), kelompok uji 2 (ekstrak sengkuang 200 mg/KgBB/hari). Observasi efek antiinflamasinya diamati selama 14 hari. Analisis data penelitian ini menggunakan ANOVA satu arah dengan variabel terikat tebal sendi dan variabel bebas dosis sengkuang. Ekstrak sengkuang baik dosis 50 dan 200 mg/KgBB/hari dapat menurunkan tebal sendi pada hewan yang diinduksi dengan CFA. Aktivitas penurunan tebal sendi menunjukkan signifikansi pada ekstrak sengkuang dengan dosis 50 mg/KgBB/hari pada hari ke-14. Ekstrak methanol sengkuang memiliki aktivitas antiinflamasi pada tikus model rheumatoid artritis yang diinduksi CFA dengan dosis optimal 200mg/KgBB/hari, memiliki efek anti inflamasi yang cukup baik untuk menurunkan volume edema pada tikus model arthritis
Formulasi dan Uji Aktivitas Antioksidan Sediaan Face Mist Ekstrak Etanol Kulit Apel Hijau (Pyrus malus L.) dengan Metode DPPH: Formulation and Antioxidant Activity Face Mist Preparation Ethanol Extract Green Apple Peel (Pyrus malus L.) with DPPH Methods
Kulit apel hijau (Pyrus malus L.) merupakan buah yang kaya akan kandungan gizi, terutama bahan kimia antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekstrak etanol kulit apel hijau (Pyrus malus L.) dapat dibuat dalam sediaan face mist dan mengetahui nilai IC50 sediaan face mist dari ekstrak etanol kulit apel hijau (Pyrus malus L.) dapat memberikan aktivitas antioksidan. Penelitian ini menggunakan metode dan membuat sediaan face mist menggunakan variasi konsentrasi ekstrak pada formula 1 0,1%, formula 2 0,3% dan formula 3 0,5% dan menguji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Ekstrak kulit apel hijau dapat dibuat sediaan face mist, berdasarkan hasil uji cycling test ketiga formula sediaan face mist ekstrak etanol kulit apel hijau (Pyrus malus L.) memiliki stabilitas fisik face mist yang baik. Hasil IC50 yang diperoleh berturut-turut terhadap formula 1 (0,1%), yaitu 18,83 ppm memiliki aktivitas antioksidan yang kuat, formula 2 (0,3%) yaitu 9,19 ppm memiliki nilai antioksidan yang sangat kuat, dan formula 3 (0,5%) yaitu 6,51 ppm memiliki nilai antioksidan yang sangat kuat dapat disimpulkan bahwa ekstrak kulit apel hijau (Pyrus malus L.) dapat diformulasi menjadi sediaan face mist stabil sebelum dan sesudah cycling test dan nilai IC50 formula 3 (0,5%) yaitu 6,51 ppm yang memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat
Uji Efektivitas Antiseptik Obat Kumur Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper betle L.) Terhadap Bakteri Isolat Mulut: Effectiveness Test of Mouthwash Antiseptic Green Betel Leaf Extract (Piper betle L.) Against Oral Isolate Bacteria
Karies gigi disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans, penanganan menggunakan obat kumur dinilai efektif karena dapat membersihkan mulut sampai ke sela-sela gigi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh obat kumur ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L.) sebagai antiseptik terhadap isolat mulut. Uji aktivitas antiseptik menggunakan metode koefisien fenol dengan konsentrasi ekstrak 10%, 20%, dan klorheksidin 0,2% sebagai kontrol positif. Isolat mulut dibudidayakan selama 24 jam pada media agar darah menggunakan metode streak plate. Penentuan nilai koefisien fenol dilakukan dengan melihat kekeruhan pada media nutrient broth. Hasil penelitian obat kumur ekstrak etanol daun sirih hijau meenunjukkan aktivitas antiseptik terhadap bakteri isolat mulut. Terdapat perbedaan rerata nilai koefisien fenol Obat kumur ekstrak daun sirih hijau konsentrasi 10% (0,887 ± 0,273), 20% (1,760 ± 0,730), dan klorheksidin 0,2% (1,360 ± 0,446). Hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan efektivitas antiseptik obat berdasarkan uji koefisien fenol. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa formula obat kumur memiliki efektivitas membunuh isolat mulut
Formulasi dan Uji Efektivitas Shampo Antiketombe Minyak Atsiri Seledri (Apium graveolens) terhadap Jamur Candida albicans: Formulation and Effectiveness Test of Anti-dandruff Shampoo Essential Oil of Celery (Apium graveolens) against Candida albicans Fungus
Celery plants contain limonene which belongs to the terpen group which has the potential as antifungal. This study aims to determinethe formulation of celer essential oil anti-dandruff gel shampoo that meets the physical quality requirements with a concentration 0f 1%, 5%, 10%, and to test the effectiveness of celery essential oil anti- dandruff gel shampoo against the fungus Candida albicans that causes dandruff. The research method was carried out experimentally by making an anti-dandruff gel shampoo formula containing celery (Apium graveolens) essential oil and testing its effectiveness against the fungus Candida albicans that causes dandruff using the well method. This study tested the antifungal effectiveness of essential oil anti-dandruff gel shampoo from formula 0 without celery essential oil (blank) as a negative control, formula 1 with 1% celery essential oil concentration, formula 2 with 5% celery essential oil concentration, formula 3 with 10% celery essential oil concentration, and dandruff shampoo containing 2% ketoconazole as a positive control. The result showed that 1. Celery essential oil can be formulated into anti-dandruff gel shampoo preparations that meet the physical quality requirement. 2. The antifungal effect of celery essential oil anti-dandruff gel shampoo on Candida albicans fungus is very strong with an average inhibitor zone diameter of 20,36 mm in formula 1 21,40 mm in formula 2, 21,60 mm in formula 3. There were differences in the inhibitor vale of each concentration of celery essential oil gel shampoo (p<0,05). Concentration of 5% has provided an optimal effect in inhibiting the growth of the fungus Candida albicans
Analisis Efektivitas Cefazoline dan Ceftriaxone sebagai Antibiotik Profilaksis Bedah Sesar di RSIA Trisna Medika Tulungagung Periode Oktober–Desember 2021: Effectiveness Analysis of Cefazoline and Ceftriaxone as Cesarean Section Prophylactic Antibiotics at RSIA Trisna Medika Tulungagung Oktober-Desember 2021
Cesareans antibiotic prophylaxis aims to prevent the clinical manifestations of SSI expected to occur. Theoretically, Cefazoline is considered more advantageous as a cesarean prophylactic antibiotic than Ceftriaxone. This study aims to compare the effectiveness of Cefazoline and Ceftriaxone as cesarean prophylactic antibiotics at RSIA Trisna Medika Tulungagung from October–December 2021. The study used a cross-sectional research design using 214 medical records data of patients with preoperative prophylactic antibiotics Cefazoline and Ceftriaxone (1:1). Data analysis includes antibiotic use profiles and therapeutic effectiveness data. Statistical analysis used the Mann-Whitney U Test. Research results showed that Cefazoline and Ceftriaxone have the same effectiveness as cesarean prophylactic antibiotics at RSIA Trisna Medika Tulungagung October – December 2021 based on pulse frequency, breath frequency, 10d post-op wound pain, purulent, dry wound, SSI, and LOS
Aktivitas Hemaglutinasi dan Identifikasi Ekstrak Berbasis Green Solvent dari Akar Tapak Dara (Vinca rosea) dan Daun Kadamba (Mitragyna speciosa Korth. Havil) Menggunakan FTIR-Kemometrik: Hemagglutination Activity and Authentication of Extracts-Based Green Solvent from Vinca rosea and Mitragyna speciosa using FTIR - Chemometrics
Proteksi terhadap infeksi seperti pandemik virus dapat dihasilkan dengan meningkatkan imunitas tubuh. Tanaman obat yang diolah dan digunakan dengan baik mampu berpotensi meningkatkan imunitas tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas hemaglutinasi dan karakteristik ekstrak berbasis natural deep eutectic solvents (NADES) atau lebih dikenal dengan istilah green solvent dari akar Tapak Dara (Vinca rosea) dan daun Kadamba (Mitragyna speciosa Korth. Havil) untuk melihat aktivitas ekstrak tersebut dalam mempengaruhi kerja sistem imun dalam melawan antigen yang masuk kedalam tubuh. Proses ekstraksi dilakukan menggunakan metode ekstraksi non-konvensional NADES based microwave-assisted extraction (NADES-MAE) dengan kondisi ekstraksi yang sesuai. Uji hemaglutinasi dilakukan pada hewan coba mencit yang telah diinduksi sel darah merah kambing (SDMK) 1%, yang diukur berdasarkan jumlah titer. Karakterisasi ekstrak dilakukan menggunakan analisis ATR-FTIR dan kemometrik. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak Ekstrak Tapak Dara berbasis NADES memiliki aktivitas hemaglutinasi, sehingga berpotensi meningkatkan sistem imun tubuh. Ekstrak NADES tersebut dapat digunakan sebagai kandidat obat berbasis bahan alam sebagai preventif ataupun supportif dari inveksi virus SARS-CoV2 dan mengurangi gejala setelah terinfeksi. Selain itu, hasil identifikasi ekstrak berbasis NADES menggunakan ATR-FTIR dan kemometrik menunjukkan spesifisitas masing-masing ekstrak yang dihasilkan berdasarkan berbagai komposisi NADES yang digunakan pada kedua tanaman tersebu