Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Eksakta
Not a member yet
82 research outputs found
Sort by
Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah Secara Elektronik di Indonesia Era Industri 4.0
Pemilihan kepala daerah atau pilkada merupakan pesta demokrasi di tingkat lokal untuk memilih pemimpinnya secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil, serta bersih bebas dari kecurangan. Namun dalam pelaksanaannya seringkali menimbulkan permasalahan terutama masalah data pemilih dan kecurangan pada saat rekapitulasi suara baik di tingkat TPS, tingkat Kecamatan dan Kabupaten/Kota, serta Provinsi. Selain itu, membutuhkan anggaran yang cukup besar untuk sumberdaya penyelenggaraan pilkada seperti biaya pembuatan TPS, kertas, tinta, kotak suara dan lain sebagainya. Seperi halnya kotak suara yang setiap pilkada mengalami perubahan dan menelan anggaran yang sangat besar. Permasalahan ini tentunya dapat diminimalisir melalui penggunaan teknologi seiring kemajuan dan perkembangan teknologi di era Industri 4.0. Sebagai alternatif adalah diterapkannya pilkada elektronik atau e-pilkada. Melalui penggunaan e-pilkada tersebut diharapkan terwujudnya pilkada yang jujur, adil dan bersih, serta efisien, efektif dan akuntabel sebagai pesta demokrasi di tingkat daera
Membangun Kemandirian Masyarakat Pesisir melalui Teknologi Lokal: Eksplorasi Bagan Jaring Apung di Desa Air Bini
Transformasi teknologi di program pemberdayaan masyarakat berupa bagan jaring apung di masyarakat Desa Air Bini menjadi tonggak kontribusi perekonomian pesisir. Melalui penelitian kualitatif dengan metode etnografi serta pengumpulan data primer yang didapatkan dari observasi partisipatif, in-depth interview, dan catatan lapangan maupun dokumen sekunder relevan yang mendukung riset. Artikel bertujuan untuk menganalisis penerapan teknologi bagan jaring apung mulai dari sisi historis, bahan konstruksi, sistem operasional, dan dampaknya. Hasil penelitian menunjukkan teknologi yang telah berkembang selama satu dekade terakhir bukan hanya sebatas alat tangkap, melainkan pemantik kesadaran kemandirian usaha, menciptakan lapangan kerja, dan peningkatan keterampilan. Meskipun masih mempertahankan kayu dalam konstruksinya dan pengolahan cumi yang tradisional, masyarakat telah menggeser dengan mengadopsi lampu LED dan mesin Go untuk penarik tali jaring. Temuan lain juga mengungkap keluhan masyarakat terhadap berkurangnya hasil tangkapan cumi dan terbatasnya diversifikasi olahan produk laut. Riset ini mengharapkan adanya evaluasi antar pemangku kepentingan dan menyusun roadmap pengembangan teknologi tangkap beserta olahannya untuk menjaga keberlanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Air Bin
Postkolonialisme dalam Puisi “Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini” Karya Taufik Ismail
Pendekatan postklonialisme pada puisi Kita adalan Pemilik Sah Negeri Ini karya Taufik Ismail bertujuan untuk mengidentifikasi unsur-unsur yang muncul pada kondisi sosial bangsa Indonesia. Karya puisi yang terbit pada tahun 1966 bersamaan dengan kondisi pergantian rezim di Indonesia pada tersebut. Tujuan penelitian ini adalah unutuk mendeskripsikan aspek postkolonalisme yang terdapat pada puisi Taufik Ismail yang berjudul Kita adalah Pemilik Sah Negeri Ini. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik penyajian data naratif terhadap puisi Taufik Ismail ini. Data pada penelitian ini adalah puisi Kita adalan Pemilik Sah Negeri Ini karya Taufik Ismail. Teknik analisis data yaitu dengan analisis pemaknaan pada diksi dan bait dalam puisi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aspek postkolonialisme tampak dalam puisi Kita adalan Pemilik Sah Negeri Ini. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan adanya aspek kesenjangan sosial, degradasi psikologis masyarakat Indonesia, dan ambivalensi. Kritik sosial oleh Taufik Ismail berkaitan dengan aspek postkolonialism
Pemilu dan Partai Politik: Menuju Demokrasi yang Berkualitas
Pemilihan umum (pemilu dan partai politik sebagai elemen utama dalam sistem demokrasi, berfungsi sebagai mekanisme untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dan menciptakan pemerintahan yang representatif. Namun, tantangan politik uang, rendahnya partisipasi politik yang berkualitas, dan lemahnya pengawasan pemilu kerap mencederai prinsip-prinsip demokrasi. Penelitian ini untuk mengkaji hubungan antara pemilu, partai politik, dan upaya menuju demokrasi yang berkualitas di Indonesia, dengan fokus pada kasus praktik politik uang di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Studi ini menggunakan metode kualitatif dengan analitis, Integrasi data primer dari laporan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan data sekunder dari literatur yang relevan, survei lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa politik uang tidak hanya merusak integritas pemilu, tetapi juga menghambat terciptanya kepemimpinan yang bertanggung jawab dan mewakili aspirasi masyarakat di sisi lain, rendahnya literasi politik masyarakat dan lemahnya penegakan hukum menjadi faktor utama yang memperparah situasi ini. Untuk menuju demokrasi berkualitas, diperlukan langkah-langkah strategis, penguatan lembaga pengawas pemilu, reformasi budaya politik, dan peningkatan literasi politik masyarakat. Penggunaan teknologi digital untuk transparansi dan pelibatan aktif sipil dapat menjadi solusi inovatif dalam mengatasi tantangan yang ada. Dengan demikian, pemilu dapat menjadi instrumen efektif untuk mewujudkan demokrasi yang tidak hanya bersifat prosedural, tetapi juga substantif, berlandaskan keadilan, partisipasi, dan akuntabilitas
Komunikasi Interpersonal mendukung efektivitas Pelayanan Pemungutan pajak dan Retribusi Daerah di Provinsi Sulawesi Tenggara
Pajak Kendaraan Bermotor merupakan salah satu sumber PAD namun faktanya belum optimal,dan perlunya pendekatan berbasis komunikasi efektif dalam pelayanan kepadamasyarkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas Komunikasi Interpersonal dalam Penyelenggaraan Kebijakan Pemungutan Pajak dan Retribusi Daerah di Provinsi Sulawesi Tenggara. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pemilihan informan yang digunakan adalah purposive sampling yaitu pejabat dan petugas pemungut pajak daerah di Bapenda Provinsi Sulawesi Tenggara dan masyarakat wajib pajak. Hasil penelitian menemukan bahwa Pengelolaan administrasi pemungutan pajak dan retribusi daerah yang dilakukan oleh Bapenda Provinsi Sulawesi Tenggara sudah berjalan dengan optimal dilihat dari Teori komunikasi interpersonal yang efektif dijalankan oleh setiap petuga
Potensi Pertumbuhan dan Hasil Tujuh Varietas Bawang Merah Asal Jawa Timur Di Lahan Kering Dataran Rendah
Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan komoditas hortikultura strategis yang produktivitasnya sangat dipengaruhi oleh kesesuaian varietas dengan kondisi lingkungan. Lahan kering dataran rendah memiliki potensi pengembangan, namun menghadapi kendala suhu tinggi dan ketersediaan air terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pertumbuhan dan hasil tujuh varietas bawang merah asal Jawa Timur pada kondisi lahan kering dataran rendah. Penelitian dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jember pada Maret–Juni 2024 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor, terdiri dari tujuh varietas dan tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, panjang daun, jumlah daun, diameter umbi, jumlah umbi per rumpun, bobot kering umbi, dan umur panen. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi nyata antar varietas. Rubaru (V3) dan Manjung (V4) unggul pada pertumbuhan vegetatif, sedangkan Superphilip (V5) dan Batu Ijo (V7) menghasilkan diameter dan bobot umbi lebih besar. Rubaru (V3) dan Biru Lancor (V6) menghasilkan jumlah umbi lebih banyak per rumpun, sementara Bauji (V1) dan Manjung (V4) memiliki umur panen lebih singkat. Kesimpulannya, pemilihan varietas bawang merah di lahan kering dataran rendah perlu disesuaikan dengan tujuan budidaya, baik untuk produktivitas tinggi per umbi, jumlah umbi lebih banyak, maupun panen lebih cepa
Analisis komparatif Komunikasi Digital Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024 : Studi Kasus pada Akun Youtube Ketiga Calon Presiden
Komunikasi politik menjadi salah satu strategi pemenangan Pilpres, setiap calon presiden berkompetisi memenangkan suara rakyat salah satunya melalui sosial media Youtube. Pada pemilu 2024 ketiga calon presiden juga turut memanfaatkan media tersebut untuk berkampanye. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis strategi komunikasi politik digital melalui platform YouTube dalam kampanye 2024 dan membandingkan pendekatan komunikasi politik digital yang dilakukan. Fokus kajian diarahkan pada pola komunikasi, strategi framing, dan pembentukan citra politik digital yang dilakukan ketiga kandidat selama masa kampanye. Metode yang digunakan kualitatif dengan pendekatan etnografi digital. Hasil dari penelitian ini menunjukkan perbedaan ketiga capres menggunakan platform Youtube untuk melakukan kampanye digital 1. Anies Baswedan membuat pendekatan dengan unggahan konten Youtube blusukan di berbagai lapisan masyarakat, pidato, serta konten yang mencerminkan latar belakang akademisnya, komunikasi yang dilakukan menggambarkan sosok yang berempati dan melibatkan emosional sehingga masyarakat merasa percaya dan terwakili, sementara 2. Prabowo Subianto melakukan pendekatan dengan konten track record pada saat menjadi prajurit TNI serta menjabat sebagai Menhan, pendekatan ini menggambarkan Prabowo pemimpin yang tegas dan berwibawa sehingga audiensi merasa aman dan percaya, 3. Ganjar Pranowo mengunggah konten kampanye secara terus menerus, gaya komunikasi santai dan membumi yang dilakukan Ganjar melalui konten Youtube nya menggambarkan Ganjar Pranowo sosok yang akrab dengan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap calon menggunakan pendekatan komunikasi yang berbeda sesuai dengan citra diri dan segmentasi khalayaknya. Dengan demikian, strategi komunikasi politik digital di YouTube terbukti menjadi sarana efektif untuk membangun citra, kedekatan emosional, serta memperkuat kepercayaan publik sesuai karakteristik masing-masing calon preside
Linking Faith Based Culture and Managerial Skills to Fi-nancial Performance: Evidence from Islamic Banks
The growth of Islamic banking in Indonesia reflects the increasing demand for financial systems that align with faith-based values and ethical management practices. Within this context, the success of Islamic banks depends not only on financial instruments but also on how Islamic culture and managerial capability shape employee motivation and performance. This study aims to examine the influence of Islamic organizational culture and managerial capability on financial performance, with work motivation as a mediating variable. A quantitative method was employed using primary data collected from 80 employees of Bank Syariah Indonesia (BSI). The data were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) to test direct and indirect relationships among the variables.The results reveal that Islamic organizational culture and managerial capability significantly enhance employee motivation, improving performance and strengthening the bank’s financial outcomes. Work motivation partially mediates the relationships between Islamic values, managerial competence, and financial performance.This study emphasizes the need for Islamic banks to integrate faith-based culture with managerial excellence to build motivated, ethical, and high-performing employees. The findings contribute to Islamic finance scholarship by demonstrating that spiritual and behavioral dimensions within organizations can yield
Dinamika Adaptasi Sosial pada Mahasiswa yang Bekerja Paruh Waktu
Fenomena mahasiswa yang bekerja paruh waktu semakin meningkat sebagai respons terhadap kebutuhan ekonomi, kondisi ekonomi keluarga, keinginan hidup mandiri, dan pengembangan diri. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dinamika adaptasi sosial mahasiswa yang bekerja paruh waktu dalam menjalankan peran ganda sebagai mahasiswa dan pekerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, berfokus pada pengalaman subjektif mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung yang bekerja paruh waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa melewati tahapan adaptasi mulai dari antusiasme pada pengalaman kerja, menghadapi tekanan akademik dan pekerjaan, hingga menemukan pola manajemen waktu untuk menyeimbangkan kedua peran. Faktor pendorong adaptasi meliputi motivasi internal, manajemen waktu dan skala prioritas, dan dukungan sosial, sedangkan faktor penghambat berupa keterbatasan waktu, kelelahan fisik, beban akademik yang menumpuk, dan perbedaan budaya dan norma. Penelitian ini juga menemukan dugaan kecenderungan workaholism pada mahasiswa pekerja, yang berdampak pada penurunan fokus akademik dan kesehatan jika tidak diimbangi dengan pengelolaan diri yang baik. Temuan ini menegaskan pentingnya kemampuan adaptasi sosial mahasiswa agar dapat menjaga keseimbangan antara studi dan pekerjaan sehingga kedua peran dapat dijalankan dengan baik
Algocracy and Capillaries of Power: A Critical Analysis of Hidden Power in Artificial Intelligence-Based Decision Making in the Public Sector
Public-sector AI is often framed as a technical upgrade to governance, yet its design and deployment are saturated with power. This article develops an operational lens—the “capillaries of power”—to analyze how code, data, and algorithmic architectures shape public accountability. Using a critical thematic synthesis of recent scholarship (2022–2025), we map four recurring modalities through which power is enacted in AI governance: displacement of responsibility, epistemic opacity, embedded bias, and algorithmic surveillance. We detail the analytic workflow (from corpus selection and initial coding to inductive–deductive theme building and argumentative validation) and translate insights into actionable counter-power protocols: meaningful participation, public auditability, human oversight at decisive junctures, and risk-proportionate constraints on high-risk applications. Illustrative policy implications are drawn for Indonesia, including human-in-final-loop arrangements in social assistance targeting, public scorecards for fiscal analytics, ex-ante bias testing for AI-assisted recruitment, and moratorium-by-design for biometric surveillance in “smart city” systems. The study’s contribution is twofold: conceptually, it operationalizes a power-analytic vocabulary for AI governance; practically, it offers a minimal checklist that policy makers in developing countries can use to ensure that AI adoption strengthens—rather than weakens—democratic accountability and social justice