352 research outputs found
Sort by
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOTIVASI BELAJAR MAHASISWA: STUDI KASUS PADA FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS BUNDA MULIA
Penelitian bertujuan mengetahui karakteristik motivasi belajar mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Bunda Mulia, perbedaan motivasi belajar diantara mahasiswa yang berbeda gender, jurusan dan tahun angkatan, serta hubungan antara motivasi belajar mahasiswa dengan faktor intrinsik dalam dirinya dan faktor-faktor ekstrinsik (lingkungan belajarnya), seperti kualitas dosen, materi kuliah, metode perkuliahan, kondisi dan suasana ruang kuliah, dan fasilitas perpustakaan. Sampel penelitian dipilih dari mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Bunda Mulia dengan pertama-tama mengelompokkan mereka dalam jurusan Akuntansi dan Manajemen, kemudian dari tiap jurusan tersebut dipilih sampel secara berjenjang dari angkatan tahun 2003, 2004 dan 2005. \ud
\ud
Data dan informasi yang dikumpulkan dari sampel penelitian kemudian dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif untuk mengetahui karakteristik motivasi belajar mahasiswa, dan metode induktif untuk menguji hipotesis mengenai perbedaan motivasi belajar diantara mahasiswa yang berbeda gender, jurusan dan tahun angkatan, serta hipotesis mengenai hubungan motivasi belajar mahasiswa dengan faktor intrinsik dan faktor-faktor ekstrinsiknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Bunda Mulia masih perlu ditingkatkan. Motivasi belajar tersebut sama (merata) diantara mahasiswa yang berbeda gender, jurusan dan tahun angkatan. \ud
\ud
Sementara, dari hasil pengujian terhadap faktor-faktor yang diduga memiliki hubungan dengan motivasi belajar mahasiswa, empat diantaranya, yaitu faktor intrinsik dalam diri mahasiswa, kualitas dosen, bobot materi kuliah, dan metode perkuliahan, terbukti memiliki hubungan yang signifikan dengan motivasi belajar mahasiswa. Sedangkan hubungan motivasi belajar mahasiswa dengan dua faktor lainnya, yaitu kondisi dan suasana ruang kuliah dan fasilitas perpustakaan, ternyata tidak signifikan.\u
ANALISIS LAPORAN KEUANGAN SEBAGAI ALAT PREDIKSI KEMUNGKINAN KEBANGKRUTAN DENGAN MODEL DISKRIMINAN ALTMAN PADA SEPULUH PERUSAHAAN PROPERTI DI BURSA EFEK JAKARTA
Abstrak: Suatu perusahaan didirikan bukan untuk mengalami kebangkrutan, untuk itu diperlukan suatu alat yang dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini. Salah satu alat tersebut adalah model Z-Score altman yang berguna untuk memprediksi kinerja keuangan perusahaan, kinerja keuangan yang buruk dapat memicu kebangkrutan. Populasi penelitian ini adalah sepuluh perusahaan properti di Indonesia yang tercatat di Bursa Efek Jakarta (BEJ), dengan menggunakan simple random sampling sebagai teknik pengambilan sampel. Dipilihlah PT. Lippo karawaci Tbk., PT. Summarecon Serpong agung Tbk., PT. Ciputra surya Tbk., PT. Roda Panggon harapan Tbk., PT. Bintang Mitra Semestaraya Tbk., PT. Cipto kontrindoreksa Tbk., PT. Duta Anggada Realty Tbk., PT. Duta Pertiwi Tbk., PT. Kridaperdana Indahgraha Tbk. Dan PT. Lamicitra Nusantara Tbk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diketahui secara teoritis ada 5 perusahaan berada pada kategori bangkrut, ada 2 perusahaan berada di gray area dan 3 perusahaan berada pada kategori sehat. Untuk perusahaan yang sudah berada pada kategori sehat dapat mempertahankan sistem manajemen yang sudah ada, untuk perusahaan yang berada di gray area perusahaan diindikasikan mengalami masalah keuangan yang harus ditangani dengan penanganan manajemen yang tepat dan untuk perusahaan yang masuk kategori bangkrut, manajemen harus secepatnya melakukan penanganan yang tepat jika tidak perusahaan akan mengalami kebangkrutan
ANALISIS TINGKAT KEPUASAN PENGGUNA LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG TERHADAP APLIKASI SUATU SISTEM INFORMASI
Information system is becoming much more important for a company to gain competitive advantage compared to their competitors. A company with good information systems will acquired better opportunity .The purpose of this study is to understand the satisfaction level of an information system application and factors that influenced the user satisfaction. Factors that have been tested are system speed, system security, system accuracy, effectiveness and efficiency, IT Support and user friendliness. This study was taken place in PT X that uses an IS application to support company business. The result shows that users are satisfied to the current application. There are three factors that significantly influence user satisfaction: system accuracy, system speed, and IT support. On the contrary, factors that have not significantly influencing user satisfaction of information system are system security, effectiveness and efficiency, and user friendly. Some actions must be taken such as repairing system speed from hardware site, software development, and networking reliability.Next module to be developed is Fixed Asset Module, based on the readiness of accounting division
\ud KIPRAH UMKM DITENGAH KRISIS EKONOMI,\ud PERANNYA BESAR, MINIM PERHATIAN PEMERINTAH\ud
Unit usaha mikro kecil dan menengah di Indonesia (Depkeu : 2005) diperkirakan 42,39 juta meliputi: usaha mikro 41,1 juta unit (97,0 %), usaha kecil 1,2 juta unit (2,85 %), usaha menengah 63.500 unit (0,15 %) dan usaha besar 4.200 unit (0,61 %). Dari 99,9 persen unit usaha adalah usaha mikro dan kecil. Tingkat penyediaan tenaga kerjanya 99,5 persen dan kontribusi terhadap GDP (Gross Domestic Product) 57 %. Sayangnya partisipasi UMKM terhadap perdagangan global baru 19 % dari total ekspor nasional
STRATEGI PEMASARAN UNTUK MEMPERTAHANKAN MARKET LEADERSHIP\ud
The increasing construction projects of office buildings that look very significant in Indonesia especially in Jakarta have made office furniture industry become more interesting. This case certainly become a gold opportunity for office furniture companies such as “X”, but on the other hand, local companies also faced with bold competition from foreign countries, especially from China. “X” is one of the oldest player in office furniture industry and also a market leader in the industry. It’s also faced by a very tight competition both from local and abroad. It is very important for “X” to expand its market share. The purpose of this study is to analyze the suitable marketing mix strategy to obtain market leadership in furniture business
TRAINING RETURN-ON-INVESTMENT: SUATU PERSPEKTIF DALAM MENGEVALUASI KEEFEKTIFAN PROGRAM PELATIHAN\ud
Every year new challenges emerge in the field of training and development, for example, competency development, outsourcing, e-learning, and knowledge management. The purpose of this study is to conceptualize the different dimensions of access to employee development. The concept of Kirkpatrick’s Four-Level Framework can be used to choose which levels are appropriate in evaluating a training program. Lilly’s Four Steps of Computing ROI training can also be adapted to the ROI calculation process. The main issue, in the pursuit of profitability and competitive advantage, top management is looking at all functions for a return-on-investment. The main question is, “is it really the training program itself that affects the employee performance?” This research uses ‘time series with comparison group’ technique as a tool to isolate the effects of training. Once the isolation is completed, the ROI calculation can be analyzed then
KUALITAS PELAYANAN TERKAIT DENGAN KEPUASAN KONSUMEN DALAM INDUSTRI JASA
Dengan semakin berkembangnya dunia bisnis menyebabkan kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang kompetitif semakin tinggi. Komitmen akan kualitas pelayanan yang berorientasi pada konsumen merupakan prasyarat utama dalam menunjang keberhasilan usaha, terutama pada usaha di bidang jasa. Kualitas jasa sangat tergantung dari siapa dan bagaimana jasa tersebut diberikan. Konsumen jasa dalam hal ini terlibat langsung dalam proses produksi jasa itu sendiri. Oleh karenanya perlu sekali untuk memperhatikan kepuasan konsumen karena keberhasilan dari industri jasa sangat tergantung dari penilaian konsumen
ANALISIS HUBUNGAN STRUKTUR MODAL BERDASARKAN STATIC TRADE OFF THEORY DAN PECKING ORDER THEORY PADA PERUSAHAAN PUBLIK DI BEJ \ud PERIODE TAHUN 2002 - 2004\ud
Struktur modal adalah jumlah modal permanen perusahaan yang bersumber dari utang jangka panjang dan modal sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keadaan struktur modal dan hubungan struktur modal yang didukung bukti empiris pada perusahaan publik yang ada di BEJ berdasarkan Static Trade Off Theory dan Pecking Order Theory pada tahun 2002 – 2004.\ud
\ud
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode statistik dan pengujian hipotesis dengan korelasi parametrik (Pearson two tailed test) dengan menggunakan dua variabel penting yaitu nilai rasio hutang (DER) dan nilai rasio return on assets (ROA). Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah memperoleh data-data sekunder yang diambil dari fact book di Pusat Referensi Pasar Modal Indonesia dengan populasi seluruh perusahaan yang ada di BEJ pada tahun 2002 sebanyak 336 perusahaan, tahun 2003 sebanyak 341 perusahaan dan tahun 2004 sebanyak 335 perusahaan.\ud
\ud
Dari hasil penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan: hipotesis menyatakan bahwa seluruh perusahaan yang diteliti pada tahun 2002 dan 2003 tidak mempunyai hubungan (korelasi) antara besarnya nilai rasio DER dan ROA. Sedangkan pada tahun 2004 mempunyai hubungan (korelasi) antara besarnya nilai rasio DER dan ROA dan adanya hubungan yang negatif membuktikan bahwa berlakunya pecking order theory pada perusahaan go-public di Indonesia.\u
PERANAN ILMU PENGETAHUAN DAN INVESTASI SUMBER DAYA MANUSIA \ud DALAM MEMACU PERTUMBUHAN EKONOMI\ud
Entering the year of 1990s, the world economic growth was marked by the economic growth of Eastern Asian Countries reaching 7 percent per year on the average. Despite the economic crisis at the end of 1990s, these countries managed to grow. In reference the Classic Theory, the growth factors included supply side (production) whereas the Neo Classic Theory as its the follower introduced the role of human capital as the trigger of the economic growth i.e. New Growth Theory. Furthermore, several Neo Classic followers added that research and development were also the trigger of the economic growth
COMPETENCY: DEVELOPMENT, INTEGRATION, AND APPLICATION
Many companies and organizations are increasingly focusing on human capital as a competitive advantage in a rapidly changing environment. To achieve business success, companies are expecting their employees to perform at higher levels, to be more customer-responsive, more process-oriented, more involved in shared leadership and more responsible for creating the knowledge that adds value to an organization’s distinguishing capabilities. When embarking on the path of selecting and defining competencies, an organization needs to pause for an introspective review. Linking competencies to the organization’s purpose, goals and values is the key to positively affect the organization’s direction and bottom line. Competencies can be categorized into one of four groups, organization-based, individual-based, technical and behavioral. From a strategic direction approach, the organization that knows and understands its core competencies and capabilities can use them to attain a strategic advantage. In addition, the organization understands that there is a diverse cross section of organizational competencies that are necessary for fulfilling its mission. Successful application of competencies lies in how they are defined. Simplicity and measurability are keys for competencies to be accepted and measured throughout an organization