352 research outputs found
Sort by
Analisa Faktor Ekonomi, Faktor Komitmen Dan Faktor Budaya Perusahaan Yang Mempengaruhi Loyalitas Kerja Karyawan Pt. Xyz Indonesia Bank. Tbk Pada Kcu Gading Serpong
PT. XYZ Indonesia Bank, Tbk yang merupakan bank swasta nasional di indonesia yang didirikan pada tahun 1971 dan menjadi bank pertama yang terdaftar sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta pada tahun 1982. Pada salah satu KCU di Jabodetabekser dalam kurun waktu 5 bulan (Desember 2011 – April 2012) terdapat 21 orang karyawan yang berhenti bekerja baik dikarenakan persaingan antar bank untuk mendapatkan tenaga yang terampil dan handal atau karena keinginan karyawan sendiri. \ud
Berkaitan dengan keputusan tentang tujuan penelitian, maka penelitian melakukan uji hipotesis dengan menguraikan faktor ekonomi (X1), komitmen (X2) dan budaya perusahaan (X3), yang diperkirakan akan memengaruhi loyalitas karyawan (Y). Pengukuran pada penelitian ini dilakukan pada populasi karyawan dengan menggunakan penskalaan, yaitu dengan cara skala Likert. Pengujian hipotesis yang akan dilakukan pada penelitian ini, melalui pengujian hipotesis dalam hubungan linear beberapa variabel (analisis regresi linear berganda) dimana X1, X2, X3 mempengaruhi Y. \ud
Faktor ekonomi, komitmen dan budaya perusahaan yang diuji pada penelitian ini secara sendiri-sendiri tidak memberikan pengaruh yang signifikan kepada loyalitas kerja. Pada saat seluruh faktor dilakukan pengujian, faktor ekonomi berkorelasi dengan faktor komitmen sehingga kedua faktor tersebut meningkatkan loyalitas kerja. \ud
Faktor ekonomi dapat meningkatkan faktor komitmen karyawan, dengan demikian besar kemungkinan bahwa tingkat turnover yang tinggi disebabkan oleh faktor ekonomi. \u
”Konflik dalam Team Work”\ud Tinjauan Terhadap Budaya Organisasi dan Hubungannya Dengan\ud Kinerja Organisasi dalam Perspektif Keagenan\ud (Sebuah studi literatur pada organisasi perbankan)\ud
This article aims to provide an overview and description of the cooperation model that can minimize the agency problem or conflict between individuals and between groups in the banking industry that the organization has the capability to achieve its objectives.\ud
In living activities, humans can not work alone without others, but must interact either in a group or in an organization of formal and non formal. In the process of interaction between the subsystems on a banking business, there is no guarantee that there will always be the suitability or compatibility and have same perspective of the individual or executive management as well as.\ud
The concept of cooperation by synergistic principle is a cooperation that involving several individuals of various types to facilitate the achievement of goals. Cooperation and networking functions in the banking industry is to provide wider access to the operations, repair and technical services, increased activity in a variety of resources, minimize errors and creates an effective and efficient service.\ud
This article provides recommendations for a resolution of the conflict in addressing differences and tensions, in order to give effect to moderate the positive relationship between organizational culture on organizational performance measurement system in a way that better conflict management within an organization. Value creation of solidarity among members of the group is very effective to minimize any differences between individuals and groups in the organization. Therefore, the synergistic verbal communication and inter individual and inter symmetric department and between supervisor with subordinates or supervisor with other supervisor should always be developed.\u
Pengaruh Kualitas Layanan terhadap Kepuasan Pelanggan\ud Studi Kasus : Alfa Resort di Puncak- Bogor\ud
Peningkatan tingkat hunian hotel di seluruh provinsi yang tersebar di Indonesia diiringi dengan perkembangan industri perhotelan yang berkembang pesat. Begitupun halnya dengan pertumbuhan jumlah akomodasi di Provinsi Jawa Barat yang melebihi jumlah akomodasi provinsi-provinsi lainnya di Pulau Jawa.\ud
Saat ini, konsep kualitas pelayanan telah menjadi suatu credo universal dan telah menjadi faktor yang dominan terhadap keberhasilan suatu organisasi. Service quality tidak hanya diadopsi oleh lembaga penyelenggara jasa – jasa komersial, tetapi juga telah merembes ke lembaga – lembaga pemerintahan, yang selama ini resisten terhadap tuntutan kualitas pelayanan publik yang prima (Sulistyani,2001).\ud
Para pemasar tahu bahwa “having customer, not merely acquiring customers “ merupakan hal terpenting bagi perusahaan (Keaveney, 1995). Oleh karena itu tidak mengherankan jika kepuasan pelanggan total (total customer satisfaction) menjadi tujuan utama (dominan goal) dari perusahaan – perusahaan yang inovatif. Bahkan seringkali sebagai raison d’etre setiap kegiatan bisnis (Cespedes,1995).\ud
Parasuraman et al., (1985, 1988, 1991) mengembangkan cara untuk mengukur kualitas layanan melalui SERVQUAL, dengan cara ini, kualitas layanan diukur berdasarkan lima dimensi yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty. Ladhari (2008) menyatakan jumlah dan latar dimensi SERVQUAL bervariasi tergantung pada konteks layanan, bahkan dimensi SERVQUAL bervariasi dalam industri layanan yang sama.\ud
Oleh karena itu, peneliti ingin meneliti mengenai lima dimensi pada Kualitas Pelayanan pada Alfa Resort di Puncak- Bogor. Apakah kelima dimensi tersebut memiliki hubungan positif dengan kepuasan Pelanggan.\u
Perancangan Sistem Informasi Berita Acara Perkuliahan (BAP) melalui Web Portal Universitas Bunda Mulia
Perkuliahan merupakan salah satu jadwal wajib bagi setiap institusi pendidikan tinggi. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam setiap pertemuan perkuliahan, dibutuhkan suatu acuan agar materi yang diajarkan lebih terstruktur yang lebih dikenal Satuan Acara Perkuliahan. Setiap dosen memiliki BAP yang sesuai dengan mata kuliah yang diajarkan pada tiap semesternya.\ud
Sistem SAP yang berjalan di Universitas Bunda Mulia telah memanfaatkan perkembangan teknologi. Sedangkan system BAP yang berjalan masih bersifat tertulis manual. Hal tersebut menyebabkan adanya kesenjangan antara pengajaran materi yang diberikan dikelas tidak sesuai dengan pengisian yang tertulis pada BAP. Melihat dari permasalahan tersebut maka dilakukan Perancangan Sistem Informasi Berita Acara Perkuliahan (BAP) melalui Web Portal Universitas Bunda Mulia. \u
Visible Watermarking Using Image Watermark Grayscale Values
Visible watermarking adalah proses pengolahan citra untuk menambahkan citra watermark pada cita utama. Salah satu tujuannya adalah untuk menandai kepemilikan hak cipta citra dengan menampilkan citra watermark yang tampak pada citra utama. Proses dasar dari visible watermarking adalah menggabungkan dua atau lebih citra. Citra terdiri dari sebuah citra utama dan satu atau lebih citra watermark. Pada penelitian ini akan dilakukan ujicoba terhadap kemungkinan proses watermarking citra dengan menjadikan skala keabuan citra watermark sebagai nilai pengurang atau penambah nilai intensitas masing-masing channel warna RGB. Skala keabuan pada citra watermark mempunyai nilai terendah dan nilai tertinggi, serta mempunyai variasi nilai keabuan yang akan mempengaruhi penambahan atau pengurangan intensitas pada masing-masing channel RGB citra utama tergantung pada nilai konstanta yang ditentukan
MODERASI WORK-LIFE BALANCE DALAM MODEL PENGEMBANGAN KESESUAIAN PERENCANAAN KARIR INDIVIDU DAN ORGANISASI SERTA KONSEKUENSINYA PADA WANITA KARIR
This research examines influence of work-life balance in individual and organizational career model. Respondents are female workers that consists of some professions like bank employee, service provider, lecturer, consultant, police, doctor, nurse, pers and insurance employee (n =230). Research found that work-life balance have no moderating effect at the relationship between available of career information toward participation management career program both with flexi time female workers and non flexi time. Meanwhile, work-life balance was confirmed as mediating variable at the influence of life complexity and dynamic toward management career program. Implications of this finding are presented
Menciptakan Wirausaha Andal Untuk Membangun Bangsa Indonesia\ud Melalui Pendidikan Kewirausahaan\ud
Kementerian Perekonomian mendorong agar pelajar dan mahasiswa menjadi bibit wirausaha. Sebab, para generasi muda ini memiliki nilai dan posisi yang strategis untuk membangun pertumbuhan ekonomi Indonesia.Makalah ini bertujuan untuk memperlihatkan bahwa strategi menciptakan wirausaha andal bisa dilakukan melalui pendidikan kewirausahaan di Perguruan Tinggi dengan 4 (empat) pilar utama yaitu dengan melalui: pusat pengembangan pembelajaran untuk menghantarkan aktivitas pendidikan ke suatu inspirasi, membentuk ketrampilan, dan menanamkan jiwa kewirausaahan. (Entrepreneurship Education), pusat pembentukan dan pengembangan bisnis yang mandiri. (Venture Accelerator Program), pusat pengembangan kerjasama yang menjembatani lingkungan akademis dan lingkungan bisnis. (Business Alliances & Research), pusat komunitas bisnis untuk membentuk budaya berwirausaha. (Business Community-Venture Information Network). Ke empat pilar tersebut direalisasikan melalui kurikulum (mata kuliah), seminar & workshop, konsultasi bisnis, kompetisi bisnis, kerjasama dengan industri bisnis, serta laboratorium manajemen bisnis. Makalah ini juga meliputi penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan penguasaan materi mata kuliah Entrepreneurship dengan jiwa entrepreneur yang sukses pada mahasiswa
Pemilihan Strategi Kebijakan Pembinaan UMKM Di Dinas KUMKM dan Perdagangan Provinsi DKI Jakarta Dengan Metode AHP dan TOPSIS
Penelitian ini menggunakan metode AHP dan TOPSIS untuk mencari strategi perencanaan terbaik atau kebijakan dalam pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). AHP digunakan untuk menstrukturisasi permasalahan keputusan menjadi bentuk hirarki dan menghitung bobot dari masing-masing faktor dan aktor, sedangkan TOPSIS digunakan untuk menghitung ranking dari solusi alternatif pada AHP, yaitu dengan memilih solusi alternatif terbaik berdasarkan jarak terdekat dari solusi ideal. Berdasarkan perhitungan data menggunakan metode AHP, menunjukkan faktor dengan nilai bobot tertinggi adalah demografis/kependudukan = 0,413, sedangkan aktor yaitu pengusaha = 0,312, dan nilai tertinggi untuk alternatif kebijakan permodalan = 0,303. Sementara itu, perhitungan TOPSIS menunjukkan bahwa solusi alternatif terbaik berdasarkan jarak terpendek untuk mencapai solusi ideal adalah kebijakan permodalan dengan jumlah nilai 0,929. Berdasarkan dua metode tersebut, hasilnya mengindikasikan bahwa kebijakan permodalan adalah strategi terbaik untuk diterapkan dalam mengembangkan kebijakan usaha mikro, kecil dan menengah. Selain itu, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi dan kontribusi yang berguna untuk institusi sebagai bahan pertimbangan khususnya bagi koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah (KUMKM)
RESEARCH ON SPREAD OF CHINESE LANGUAGE AND CULTURE BY CONFUCIUS INSTITUTE AT UNIVERSITIES IN INDONESIA WITH MULTI-RELIGIOUS CONTEXT
Indonesia is the world's largest Islamic country with multi-religious and cultural coexistence. As the representative of China's cultural soft power, Confucius Institute was set up in Jakarta, Indonesia for the first time in 2007, and currently in operation at six universities distributing in the three major islands of Indonesia, during which experienced a series of ups and downs. This paper focuses on one or two representatives of the Confucius Institutes through field investigation, interviews, combined with the author's personal experience, illustrates the hard bid process of the Confucius Institute in Indonesia, specific efforts and effectiveness in the spread of Chinese language and culture since establishment, and the current problem to be solved. This paper also puts forward some reference suggestions and recommendations for Confucius Institute in Indonesia to upgrade related efforts which will further enhance China's cultural soft power
PENGARUH PEMULIHAN LAYANAN DAN KEADILAN DISTRIBUTIF TERHADAP LOYALITAS PELANGGAN
The goal of service recovery is to identify customers with issues and then to address those issues to the customers' satisfaction to promote customer retention. However, service recovery doesn't just happen. It is a systematic business process that must be designed properly and implemented in an organization. Perhaps more importantly, the organizational culture must be supportive of idea that customers are important and their voice has value. Research has shown that customers who have had a service failure resolved quickly and properly are more loyal to a company than are customers who have never had a service failure -- significantly more loyal. Service Recovery and Perceived Justice practices are a critical element in a Customer Loyalty.\ud
The sample used for this study consist of 262 respondents from different restaurants which had a network of customers. Confirmatory factor analyses provided evidence of adequate model fit, convergent and discriminant validity for the underlying variables, and respective factors in the model. The conceptual model and the hypothesized are tested using Structural Equation Modeling.\ud
Support was found for the causal relationship between variables in the models that perceived justice and service recovery by simultan directly had positive contribution on customer loyalty; and distributive justice, procedural justice and interactional justice had contribution on perceived justice.\ud
This research indicated that the perceived justice and service recovery are necessary resources to strengthen strategic competitive advantage of the restaurants. Professionals in the restaurant are endeavoring to improve relationship marketing and to integrate these service recovery activities in the strategy will increase customer loyalty.\ud
Key words: perceived justice, service recovery, customer loy